PENDAHULUAN
Pertanyaan Penelitian
Bagaimana pelaksanaan bagi hasil Syirkah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan petambak udang (Desa Bumi Dipasena Jaya Kecamatan Rawajitu Timur). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian lapangan untuk mengetahui implementasi bagi hasil Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Syirkah dengan petambak udang di desa Bumi Dipasena Jaya Kecamatan Rawajitu Timur. Pelaksanaan bagi hasil antara petambak udang dengan KUBE diawali dengan kesepakatan untuk bergabung menjadi anggota kelompok usaha bersama.
Pelaksanaan Syirkah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) 6 Alpha dan Infra Bagi Hasil Bersama Petambak Alpha dan Infra dengan Petambak Udang. Analisis Pelaksanaan Syirkah Bagi Hasil Kelompok Usaha Bersama (Kube) Dengan Petambak Udang Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus (Kube) Dengan Petambak Udang Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Desa Bumi Dipasena Jaya Kecamatan Rawajitu Timur). dua kubus bekerja sama dalam bidang usaha Budidaya udang dilakukan bersama petambak dengan prinsip bagi hasil.
Dalam pelaksanaan syirkah bersama kelompok usaha bagi hasil (KUBE) dengan petambak udang di Kube 6 Alpa dan 6 Infra memiliki kesamaan dan juga memiliki perbedaan.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian Relevan
Untuk itu pada bagian ini harus dilakukan tinjauan kritis terhadap hasil penelitian terdahulu, sehingga dapat ditentukan dimana letak penelitian yang akan dilakukan. Dalam konteks penelitian yang relevan dapat dikembangkan penelitian yang berkaitan dengan penelitian terdahulu yaitu peneliti yang melihat dan melakukan kajian untuk mendapatkan judul yang menghimpun dana mudharabah yaitu; “CV Sistem Kemitraan Plasma Ayam (Syirkah). Dalam skripsi ini, Nanin Sunarni menjelaskan bahwa terdapat kecurangan yang terjadi dalam perjanjian yang dilakukan oleh CV.
Dalam tesis ini dapat disimpulkan bahwa syirkah yang dilakukan oleh kedua belah pihak tidak sesuai dengan perspektif ekonomi Islam karena adanya kecurangan salah satu pihak. Berdasarkan beberapa penelitian yang peneliti uraikan di atas, terdapat beberapa kesamaan yaitu sama-sama menggambarkan pembiayaan syirkah, namun perbedaan tersebut dengan tesis sebelumnya, jika kita melihat penelitian yang dilakukan oleh Nanin Sunarni yang mengemukakan bahwa keuntungan pembagian yang disepakati pada awal kerugian tetap menjadi beban pemilik modal, dimana pemilik modal adalah BMT Barokah. Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Kartika Soetopo, dkk menunjukkan bahwa akad mudharabah dan musyarakah menggunakan bagi hasil.
Tegasnya, masalah yang akan dibahas berbeda dengan penelitian sebelumnya dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang menekankan pada mekanisme pembagian hasil syirkah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan petambak udang (Desa Bumi Dipasena Jaya Kecamatan Rawajitu Timur). .
LANDASAN TEORI
- Dasar Hukum Syirkah
- Rukun dan syarat Syirkah
- Macam-macam Syirkah
- Bagi Hasil
- Faktor Yang Mempengaruhi Bagi Hasil
- Nisbah Bagi Hasil
- Jenis dan Sifat Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Merupakan kerjasama antara dua orang atau lebih sehubungan dengan modal, keahlian atau kepercayaan pada suatu perusahaan tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan hubungan yang disepakati oleh pihak-pihak yang berserikat. Penting untuk mengetahui hukum-hukum syirkah atau kerjasama karena ada banyak metode kerjasama dalam model ini. Penggalan ayat tersebut diartikan bahwa kebanyakan orang yang bekerja sama selalu ingin merugikan rekan bisnisnya kecuali.
Transaksi syirkah (shirkatul uqud) adalah kerjasama antara dua orang yang bermitra dalam modal dan keuntungan. Bentuk kerjasama ini membutuhkan pembagian hasil yang jelas untuk disepakati pada saat pertama kali kesepakatan dibuat. Merupakan suatu bentuk kerjasama bisnis antara dua pihak atau lebih, dimana keduanya adalah pemilik modal dan sekaligus pekerja.
Dalam kerjasama jenis ini, hasil yang dicapai dibagi menurut nisbah yang disepakati bersama, tetapi kerugian yang diderita harus dibagi menurut bagian investasi yang dilakukan oleh masing-masing pihak. Mereka yang terlibat dalam kerjasama ini mencapai hasil sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama. Bagi hasil atau profit sharing merupakan ciri utama lembaga keuangan Islam.19 Bagi hasil menurut terminologi asing (Inggris) dikenal dengan bagi hasil dalam kamus ekonomi yang diartikan sebagai bagi hasil. 20.
Faktor langsung terdiri dari tingkat investasi, jumlah dana yang tersedia dan rasio bagi hasil. Nisbah bagi hasil adalah persentase keuntungan yang akan diperoleh shahibul maal dan mudharib yang ditentukan berdasarkan kesepakatan antara keduanya. Angka nisbah bagi hasil muncul sebagai hasil tawar menawar berdasarkan kesepakatan pihak shahibul maal dan mudharib.
Artinya, dalam penelitian ini hanya berupa deskripsi dan pernyataan mengenai pelaksanaan bagi hasil kelompok usaha bersama (KUBE) syirkah dengan petambak udang di Desa Bumi Dipasena Jaya Kecamatan Rawajitu Timur. Indonesia, Hendi Suhendi Fiqh Muamalah, Muhamad Profit Sharing and Pricing Techniques in Islamic Banks, Research Papers, Journals, News Media, Data Dokumentasi dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Peneliti menyiapkan pertanyaan untuk diajukan kepada dua orang anggota pengurus Kelompok Usaha Gabungan 6 Alfa (KUBE) yaitu Bapak Umam Al Huda dan Bapak Yudo bersama tiga orang pembudidaya ikan yaitu Bapak Buang Wahyudi, Bapak Agus, Bapak Hendrik ( petambak) dan dua orang pengurus Kelompok Usaha Bersama 6 Infra (KUBE) Bpk. Sujito dan Mr. Angga bersama tiga petani tambak yaitu Bpk. Misno, Pak. Soleh dan Bpk. Suyitno terkait penerapan bagi hasil.
Berdasarkan informasi di atas, dalam menganalisis data, peneliti menggunakan data yang diperoleh dari wawancara dan dokumentasi dalam bentuk deskripsi kemudian menganalisisnya dengan cara berpikir induktif, dengan asumsi fakta spesifik di lapangan mengenai mekanisme Gabungan Kelompok Usaha ( KUBE) syirkah bagi hasil dengan petambak udang di Desa Bumi Dipasena Jaya Kecamatan Rawajitu Timur, setelah itu diambil kesimpulan secara umum.
PEMBAHASAN
Pelaksanaan Bagi Hasil Syirkah Kelompok Usaha Bersama
Pelaksanaan syirkah bagi hasil di Kube 6 alpa yang dilakukan sejak Kube berdiri memiliki perhitungan persentase 70/30. Modal terjamin full cover anakan, para petambak disini harus memiliki kolam atau tambak pribadi yang harus layak pakai sebagai media budidaya udang. Proses bagi hasil dilakukan pada saat panen sudah selesai sehingga kedua belah pihak dapat menentukan berapa total pendapatan.
Dari total hasil penjualan, modal yang disediakan oleh Kube dipotong terlebih dahulu, kemudian Kube 6 Alpha memberikan tambahan diskon 5% yang harus digunakan sebagai infak. Permasalahan yang sering terjadi adalah akibat para petambak seperti mudharib kurang maksimal atau lalai dalam menjalankan usaha. Petambak udang memilih mitra untuk bekerjasama dengan menggunakan perhitungan bagi hasil yang berbeda-beda, tergantung dari kemampuan petambak dalam mengelola dan kemampuan kubus untuk memenuhi jumlah modal yang diminta untuk digunakan sesuai kebutuhan petambak.
Ketika hasil dari proses budidaya udang tidak sesuai dengan yang diharapkan, para petambak melihat apa penyebabnya. Jika karena faktor alam, petambak udang biasanya beralih ke budidaya ikan atau mengosongkan tambaknya selama satu atau dua periode. Pelaksanaan syirkah kube bagi hasil dengan petambak udang dilakukan pada saat proses kerjasama berakhir sesuai kesepakatan dimana kedua KUBE memiliki persentase bagi hasil yang berbeda.
Sedangkan untuk Kube 6 Infra, dalam memberikan modal kepada petambak tidak diberikan batasan modal dalam hal kebutuhan kerjasama usaha. Permasalahan yang sering muncul dalam kelompok gabungan adalah komitmen para pembudidaya karena melakukan kecurangan dengan meninggalkan dan menjual hasil tambak sendiri sebelum dan sesudah panen, akibat gagal panen juga bisa karena kelalaian para pembudidaya yang merawat. dan pengelolaan peralatan budidaya, seperti roda dan pompa air, kemudian faktor alam lainnya yang tidak dapat ditanggung oleh petambak dan kelompok korporasi. Secara umum penggunaan dana dari 6 Alpha dan Infra Kube sama, namun terdapat sedikit perbedaan.
Perbedaannya adalah pembagian infak pada 6 Alpha yang tidak pada 6 Infra sebesar 5%, dan pada pembagian keuntungan dimana kubus 6 Alpha menggunakan bagi hasil sebesar 70,30% sedangkan kubus 6 Infra sebesar 60,40%. Analisis Pelaksanaan Bagi Hasil Kelompok Usaha Bersama Syirkah (Qube) Dengan Petambak Udang Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus.
Analisis Pelaksanaan Bagi Hasil Syirkah Kelompok Usaha
Selisih persentasenya adalah 10%, dimana kube 6 Alpa menerapkan bagi hasil 70% untuk petambak dan 30% untuk kube, sedangkan kube 6 Infra menerapkan bagi hasil 60% untuk petambak dan 40% untuk kube. Selisih persentase antara kedua kubus tersebut sama-sama diterima dan diminati oleh petambak udang. Dilihat dari prosentase bagi hasil, banyak petambak udang yang memilih untuk bekerja sama dengan Kube 6 Alpa yang mendapatkan bagi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan Kube 6 Infra.
Karena modal yang ditawarkan 6 Infra lebih besar, para petambak lebih memilih bermitra dengan Kube 6 Infra daripada Kube 6 Alpa. Dimana kube 6 Infra memberikan modal berapapun yang diinginkan petambak udang untuk memenuhi kebutuhan budidayanya dengan harapan mencapai hasil yang besar juga. Sedangkan Kube 6 Alpa memberikan permodalan kepada petambak sesuai dengan kualitas lahan dan kemampuan petambak dalam mengelola usaha tambak udang serta mengatur kondisi keuangan sesuai dengan besarnya modal yang dapat diberikan Kube kepada petambak. mitra yang ingin bekerjasama.
Pelaksanaan syirkah bagi hasil yang dijalankan oleh dua kubes memiliki strategi tersendiri dalam memperoleh mitra. Dalam hal ini, keduanya memiliki keunggulannya masing-masing, dimana cube 6 Alfa meminimalkan resiko kerugian besar dengan membatasi modal, dan cube 6 Infra memberikan kepercayaan kepada mitranya bahwa keduanya mencapai hasil yang bagus. Implementasi bagi hasil yang digunakan oleh kedua kubus tersebut memang memiliki persentase yang berbeda, namun hal ini tidak menjadi masalah dalam teori nisbah bagi hasil.
Selain perhitungan bagi hasil yang diterapkan, pembagian kerugian jika terjadi selama menjalankan bisnis merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. Dari uraian hasil wawancara dengan Kube sebagai shahibul bungkil dan petambak udang sebagai mudharib, mereka memiliki pernyataan yang sama mengenai penerapan syirkah bagi hasil yang diterapkan oleh Kube. Adanya kelalaian dan kecurangan dalam proses budidaya udang oleh para petambak itu sendiri berdampak negatif terhadap perolehan keuntungan.
Dua kubus yaitu kubus Alfa 6 dan kubus Infra menerapkan hasil syirkah dengan baik. Pelaksanaan syirkah bagi hasil oleh kedua kubes tersebut memiliki strategi tersendiri dalam mendapatkan mitra kerjasama.
PENUTUP
SARAN
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009 Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier 2 edisi revisi, Surabaya: PT Bina Ilmu,.