Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana implementasi jaminan kesehatan bagi karyawan pada PT Mulia Centralindo Perkasa di Kabupaten Tualang berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan? . Apa saja kendala dalam pelaksanaan jaminan kesehatan bagi karyawan PT Mulia Centralindo Perkasa di Kabupaten Tualang berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. Dan bagaimana upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan jaminan kesehatan bagi karyawan pada PT Mulia Centralindo Perkasa di Kabupaten Tualang berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
Dari hasil wawancara di lapangan diketahui bahwa pekerja PT Mulya Centralindo Perkasa belum terdaftar menjadi peserta BPJS kesehatan sedangkan pada Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. MULIA CENTRALINDO PERKASA KABUPATEN TUALANG BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 111 TAHUN 213 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NO. 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN. Bagaimana penerapan jaminan kesehatan karyawan pada PT Mulia Centralindo Perkasa di Kabupaten Tualang berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
Apa saja kendala penerapan jaminan kesehatan bagi pekerja di PT Mulia Centralindo Perkasa di Kabupaten Tualang berdasarkan Keputusan Presiden No. 111 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang jaminan kesehatan. Bagaimana upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan jaminan kesehatan pekerja pada PT Mulia Centralindo Perkasa di kabupaten tersebut. 8 Tualang berdasarkan Keputusan Presiden No. 111 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang jaminan kesehatan.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Kegunaan penelitian
Bagi peneliti untuk menambah pemahaman dan pengetahuan hukum mengenai pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
Kerangka Teori
Penegakan Hukum
Menurut Satjipto Raharjo, penegakan hukum pada hakikatnya adalah penegakan gagasan atau konsep tentang keadilan, kebenaran, kemaslahatan sosial, dan sebagainya. Pada hakikatnya penegakan hukum mewujudkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang mencakup keadilan dan kebenaran. Penegakan hukum bukan hanya tugas aparat penegak hukum yang dikenal secara konvensional, melainkan tugas semua orang. Penegakan hukum dalam arti luas meliputi nilai-nilai keadilan yang meliputi bunyi aturan-aturan formal, dan nilai-nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
Dalam praktik penerapan hukum di bidang ini, ada kalanya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Sebab, konsepsi keadilan merupakan rumusan yang abstrak. 11 Kepastian hukum merupakan suatu prosedur yang ditentukan secara normatif. Padahal, kebijakan atau tindakan yang tidak sepenuhnya berdasarkan undang-undang adalah sesuatu yang bisa dibenarkan sepanjang kebijakan atau tindakan tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang. Jadi pada hakikatnya penegakan hukum tidak hanya mencakup penegakan hukum, tetapi juga pemeliharaan perdamaian, karena penegakan hukum sebenarnya adalah proses harmonisasi nilai-nilai aturan dan pola perilaku nyata, dengan tujuan untuk mencapai perdamaian.
Fungsi hukum, mentalitas atau kepribadian aparat penegak hukum memegang peranan penting: kalau regulasinya bagus, tapi kualitas aparatnya kurang bagus, maka ada masalah. Oleh karena itu, salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah pola pikir atau kepribadian aparat penegak hukum. Sarana atau fasilitas pendukung meliputi perangkat lunak dan perangkat keras; contoh perangkat lunak adalah pendidikan.
Lembaga penegak hukum berasal dari masyarakat dan berupaya menghadirkan perdamaian di masyarakat. Setiap anggota masyarakat atau kelompok sedikit banyak mempunyai kesadaran hukum. Permasalahan yang muncul adalah tingkat kepatuhan hukum yaitu tinggi, sedang atau rendahnya kepatuhan hukum. Derajat kesesuaian peraturan perundang-undangan Masyarakat dengan undang-undang merupakan salah satu indikator berfungsinya undang-undang yang bersangkutan. Menurut Soerjono Soekanto, kebudayaan mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia dan masyarakat, yaitu mengatur agar manusia dapat memahami bagaimana seharusnya ia bertindak, bersikap dan menentukan hubungannya ketika berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, budaya merupakan landasan perilaku yang menetapkan aturan tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang.
Norma merupakan pernyataan yang menekankan pada aspek “seharusnya” atau “seharusnya” dalam berperilaku, termasuk beberapa peraturan tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Norma adalah produk dan tindakan manusia yang dapat diperdebatkan. Hukum yang memuat aturan-aturan umum berfungsi sebagai pedoman berperilaku individu. . 13 dalam masyarakat, baik dalam hubungan dengan orang lain maupun dalam hubungan dengan masyarakat. Aturan-aturan ini menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebankan atau mengambil tindakan terhadap individu. Adanya aturan-aturan tersebut dan penerapan aturan-aturan tersebut menimbulkan kepastian hukum. 7.
Efektifitas Hukum
Jika kita ingin mengetahui sejauh mana efektivitas undang-undang tersebut, pertama-tama kita harus bisa mengukur sejauh mana undang-undang tersebut dipatuhi oleh sebagian besar target yang ditaati. Kami akan mengatakan bahwa aturan hukum yang dimaksud adalah efektif. Namun kalaupun aturan-aturan yang dipatuhi dikatakan efektif, kita masih bisa mempertanyakan tingkat efektivitasnya, karena patuh atau tidaknya seseorang terhadap suatu aturan hukum tergantung pada kepentingannya.9 Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, terdapat kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda. , termasuk yang bersifat kepatuhan, identifikasi dan internalisasi. Jika undang-undang yang dimaksud adalah peraturan perundang-undangan, maka peraturan tersebut seharusnya bersifat larangan, bukan wajib, karena undang-undang yang melarang (prohibitor) lebih mudah dilaksanakan dibandingkan undang-undang yang mengharuskan (mandatory).
Sanksi yang diancam oleh peraturan hukum harus proporsional dengan sifat peraturan hukum yang dilanggar. Kemungkinan bagi aparat penegak hukum untuk memproses jika terjadi pelanggaran terhadap aturan hukum tersebut memang dimungkinkan, karena tindakan yang diatur dan diancam sanksi memang merupakan tindakan nyata, dilihat dan dicermati, sehingga sewaktu-waktu dapat diambil. untuk menangani. tahapan (penyidikan, penyidikan, penuntutan) dan pemidanaan). Aturan hukum yang mengandung norma moral berupa larangan akan relatif lebih efektif dibandingkan aturan hukum yang bertentangan dengan nilai moral masyarakat yang menjadi sasaran pemberlakuan aturan tersebut.
Efektif atau tidaknya suatu negara hukum secara umum juga tergantung pada optimal dan profesionalnya aparat penegak hukum dalam menerapkan negara hukum tersebut. Efektif atau tidaknya suatu negara hukum pada umumnya juga memerlukan adanya standar hidup minimum sosial ekonomi dalam masyarakat. Mumnres berpendapat, yang harus dikaji bukanlah kepatuhan terhadap hukum secara umum, melainkan hanya kepatuhan terhadap kaidah hukum tertentu.
Dengan demikian, Achmad Ali berpendapat bahwa secara umum faktor yang mempengaruhi efektivitas peraturan perundang-undangan adalah profesionalisme dan optimalisasi pelaksanaan peran, wewenang, dan fungsi lembaga penegak hukum, baik dalam penafsiran tugas yang diberikan kepadanya maupun dalam penegakan hukum. peraturan perundang-undangan. 12. Mentalitas atau kepribadian petugas polisi memainkan peranan penting dalam berfungsinya hukum. Kalau regulasinya bagus, tapi kualitas aparat kepolisiannya kurang bagus, berarti ada masalah. Hingga saat ini masih terdapat kecenderungan yang kuat di kalangan masyarakat untuk memaknai hukum dalam pengertian pejabat atau aparat kepolisian, yang berarti bahwa hukum disamakan dengan perilaku sebenarnya dari aparat kepolisian atau aparat penegak hukum. sering timbul karena sikap atau tindakan yang dinilai melampaui kewenangan atau perbuatan lain yang dianggap mencoreng nama baik dan wibawa aparat penegak hukum akibat rendahnya kualitas aparat kepolisian. Sarana atau fasilitas pendukungnya meliputi software dan hardware, namun menurut Soerjono Soekanto, aparat penegak hukum tidak.
Tanpa sumber daya atau kemampuan tersebut, lembaga penegak hukum tidak akan mampu menyelaraskan peran mereka yang sebenarnya dengan peran mereka yang sebenarnya. Lembaga penegak hukum berasal dari masyarakat dan berupaya menghadirkan perdamaian di masyarakat. Setiap anggota masyarakat atau kelompok sedikit banyak mempunyai kesadaran hukum. Permasalahan yang muncul adalah tingkat kepatuhan hukum yaitu tinggi, sedang atau rendahnya kepatuhan hukum. Derajat kesesuaian peraturan perundang-undangan Masyarakat dengan undang-undang merupakan salah satu indikator berfungsinya undang-undang yang bersangkutan. Kebudayaan pada hakikatnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum-hukum yang sah, nilai-nilai merupakan gagasan-gagasan abstrak tentang apa yang dianggap baik (sehingga dipatuhi) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari).
Sebab, undang-undang dibuat oleh aparat penegak hukum, pelaksanaannya dilakukan oleh aparat penegak hukum dan aparat penegak hukum itu sendiri juga menjadi teladan bagi masyarakat luas.
BPJS Kesehatan
21 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan menunjuk PT Askes (Persero) sebagai penyelenggara program jaminan sosial bidang kesehatan, sehingga PT Askes (Persero) diubah menjadi BPJS Kesehatan. Melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, negara berada di antara kita untuk memastikan seluruh penduduk Indonesia terlindungi oleh jaminan kesehatan yang komprehensif, adil dan merata. Dasar pemikirannya adalah asuransi kesehatan merupakan salah satu dari lima (lima) jaminan sosial sebagaimana diatur dalam UU No.
Jaminan kesehatan ini disebut Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagaimana diamanatkan UU No. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 69 Tahun 2013 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. HK/Menkes/31/I/2014 tentang Penerapan Standar Tarif Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
HK/Menkes/32/I/2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Dasar dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjutan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Jaminan kesehatan merupakan suatu jaminan berupa perlindungan kesehatan, sehingga pesertanya memperoleh manfaat pelayanan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada semua yang telah membayar iuran atau yang iurannya dibayar oleh pemerintah. 23 Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disingkat BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang didirikan untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan.
Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Merupakan bagian dari populasi yang akan dijadikan objek penelitian, adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Data diperoleh langsung dari sumber yang berhubungan dengan permasalahan yang ada. sesuai dengan sistem peninjauan kembali. Data tersebut diperoleh dari kamus, ensiklopedia dan sejenisnya yang berfungsi sebagai pendukung data primer dan sekunder.
27 Metode pengumpulan data dalam metode ini memerlukan peran aktif peneliti dalam mengumpulkan literatur yang mempunyai korelasi dengan masalah yang diteliti. Analisis kualitatif bersifat deskriptif mendeskripsikan data yang diperoleh 18 Dalam menarik kesimpulan, penulis menggunakan metode berpikir deduktif.
Buku-Buku
Jurnal/ Makalah / Internet
Humas BPJS Kesehatan, Kisah Perjalanan Jaminan Sosial di Indonesia (online), https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/pages/detail/2013/4, diakses 10 September 2019 .
Perundang-Undangan