• Tidak ada hasil yang ditemukan

pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN PENCEGAHAN PEMBAKARAN LAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009

TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI KECAMATAN MARPOYAN

DAMAI KOTA PEKANBARU

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum

Universitas Lancang Kuning Pekanbaru

Disusun Oleh:

YOGI ANDELA 1474201202

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU

2020

(2)
(3)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul tentang “Pelaksanaan Pencegahan Pembakaran Lahan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru” yang dilatar belakangi oleh adanya fenomena kebakaran lahan pada Tahun 2019 di wilayah hukum Polresta Pekanbaru masih terjadi. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 69 huruf (a) ditegaskan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup”.

Kemudian pada huruf (h) ditegaskan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Untuk menjelaskan hambatan pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Untuk menjelaskan upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian hukum Sosiologis. Sampel dalam penelitian ini adalah Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru ditetapkan dengan metode sensus. Ketua WaLHi Provinsi Riau ditetapkan dengan metode sensus. Kepala Seksi Pencemaran Udara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru ditetapkan dengan metode sensus. Tokoh Masyarakat Kota Pekanbaru ditetapkan dengan metode random.

Pelaku Pembakaran Lahan di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru Tahun 2019 ditetapkan dengan metode random. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara Observasi, Wawancara dan Kajian Kepustakaan. Dalam menganalisis data ditetapkan metode kualitatif, sedangkan dalam menarik kesimpulannya ditentukan dengan metode induktif. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru belom berjalan dengan maksimal. Hambatannya adalah sulitnya pembuktian dan tata cara pengumpulan bukti awal akibat kebakaran hutan dan lahan. Terbatasnya sarana dan anggaran biaya yang tidak mencukupi, jumlah personil Kepolisian yang terbatas. Upayanya adalah melakukan tindakan seperti aspek pencegahan, aspek penanggulangan dan aspek pemantauan, meningkatkan koordinasi antar instansi penegak hukum, mengembangkan system dan jenis pelatihan, pencegahan, dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Kata Kunci : Pencegahan, Pembakaran, Lahan, Marpoyan Damai.

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.1 Hutan bukan hanya sebagai sumber daya alam yang menunjang pembangunan ekonomi, tetapi juga sebagai sumberdaya alam yang menunjang pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup. Kebijakan pembangunan kehutanan yang bersifat sentralistik, tanpa ada mekanisme bagi masyarakat untuk memberikan umpan balik, selama ini tidak berhasil dengan baik, untuk hutannya sendiri ataupun masyarakat yang hidup di dalamnya. Pemerintah tidak cukup mempunyai informasi mengenai karakteristik lokal sumberdaya hutan dan lingkungannya sebagai landasan pengambilan keputusan dan kontrol. Akibat kemampuan pemerintah yang terbatas di satu sisi, serta lemahnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa ekosistem hutan di Indonesia telah mengalami kerusakan yang cukup mengkhawatirkan.2

Salah satu kegagalan dalam pengelolaan kehutanan adalah kebakaran hutan. Penyebab kebakaran hutan sejak tahun 1997 sampai pada saat sekarang ini yang berakibat pada pencemaran asap dan meningkatnya emisi karbon disebabkan oleh kebakaran yang dilakukan secara sengaja dari rambatan api di kawasan/lahan

1 Pasal 1 ayat (2) Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

2 Nana Suparna, Pengusahaan Hutan di Era Otonomi Daerah, Analisis OSIS, Tahun XXX/2001 No.2, (Jakarta: Centre for Strategic and International Studies, 2001), hlm. 160.

(5)

2 gambut dengan total luas hutan dan lahan yang terbakar. Hutan di Riau sebenarnya masuk dalam kategori hutan hujan basah yang sebenarnya kecil kemungkinan terjadi kebakaran dengan sendirinya atau yang disebabkan karena faktor alam. Faktanya, kawasan yang terbakar adalah kawasan yang telah dibersihkan melalui proses pembersihan lahan sebagai salah satu persiapan pembangunan kawasan perkebunan. Artinya, kebakaran hutan secara nyata dipicu oleh api yang sengaja dimunculkan oleh pelaku-pelaku yang akan membuka lahan perkebunan.3

Penyebab lain dari meningkatnya tingkat pembakaran hutan dan lahan setidaknya juga dipengaruhi oleh adanya pembangunan industri kayu yang tidak dibarengi dengan pembangunan hutan tanaman sebagai bahan baku. Besarnya peluang investasi perkebunan yang diberikan Pemerintah kepada pengusaha berpeluang untuk melakukan konversi lahan menjadi perkebunan monokultur skala besar seperti perkebunan sawit dan perkebunan kayu Hutan Tanaman Industri (HTI). Sementara penegakan hukum yang lamban tentu merespon tindakan konversi dan pembakaran yang dilakukan pengusaha dengan alasan meningkatkan kadar PH tanah. Padahal, instrumen hukumnya sendiri telah melarang hal tersebut.4

Kebakaran hutan dan lahan umumnya disebabkan oleh faktor manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaiannya, sedangkan sebagian kecil karena faktor alam seperti karena petir, larva gunung berapi, penyebab kebakaran oleh manusia dapat dirinci sebagai berikut :

3 FWI dan GFW. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Edisi ke-3, Forest Watch Indonesia dan Washington DC, (Bogor: Global Forest Watch. 2011). hlm. 34

4 Ibid.

(6)

3 a. Konversi lahan : Kebakaran yang terjadi disebabkan oleh api yang berasal dari kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, industri, pembuatan jalan, jembatan dll.

b. Pembakaran Vegetasi : disebabkan oleh api yang berasal dari pembakaran vegetasi yang sengaja namun tidak terkendali sehingga terjadi api lompat misalnya pembukaan areal HTI, Perkebunan, Penyiapan lahan oleh Masyarakat.

c. Aktivitas dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam : disebabkan oleh aktivitas selama pemanfaatan sumber daya alam seperti memasak dihutan yang lagi menebang kayu, mencari ikan tidak memadamkan kembali.

d. Pembuatan kanal-kanal/saluran-saluran dilahan gambut untuk sarana transportasi kayu hasil tebangan. saluran yang tidak memakai pintu control akan menyebabkan lepasnya air dari lapisan gambut sehingga gambut menjadi kering dan mudah terbakar.

e. Penguasaan lahan : api sering digunakan masyarakat lokal untuk memperoleh kembali hak-hak mereka atas lahan, bahkan menjarah lahan yang terletak didekatnya.5

Maraknya pembakaran lahan dan perusakan hutan selalu tidak diimbangi oleh adanya penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan terutama untuk mendorong proses penegakan hukum. Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan

5 Alam Setia Zain, Aspek pembinaan Kawasan Hutan dan Ratikasi Hutan Rakyat, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 72.

(7)

4 hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan.

Hadirnya instrumen hukum nasional dalam kasus kebakaran hutan dan lahan yang bisa dijadikan landasan, antara lain Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 69 huruf (a) ditegaskan bahwa:

“Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup”.

Kemudian dalam undang-undang yang sama pada huruf (h) ditegaskan bahwa:

“melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar”.

Gambaran latar belakang masalah diatas menunjukkan bahwa fenomena kebakaran lahan dan perusakan hutan sampai pada Tahun 2019 di Wilayah hukum Polresta Pekanbaru masih saja tetap terjadi, namun penegakan hukumnya sendiri masih belum maksimal, karena pelaku yang tertangkap masih belum tepat sasaran artinya pelaku pembakar lahan merupakan orang-orang pemilik lahan yang kecil.

Berdasarkan permasalahan ini maka penulis tertarik untuk menelaah dan mengkaji penelitian tugas akhir dengan judul “Pelaksanaan Pencegahan Pembakaran Lahan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru”.

(8)

5 B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru?

2. Bagaimanakah hambatan terhadap pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru?

3. Bagaimanakah upaya mengatasi hambatan terhadap pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk menjelaskan pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru.

b. Untuk menjelaskan hambatan pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang

(9)

6 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru.

c. Untuk menjelaskan upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru.

2. Kegunaan Penelitian

a. Bagi Penulis, untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

b. Untuk Perguruan Tinggi, dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penelitian dan menjadi referensi bagi peneliti berikutnya.

c. Untuk Instansai Terkait, dapat menjadi bahan masukan bagi instansi terkait dalam mengambil kebijakan.

D. Kerangka Teori

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dalam Pasal 1 butir (1) memberikan definisi bahwa Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Maka dapat disimpulkan bahwa Lingkungan

(10)

7 Hidup adalah satu kesatuan, dan mahkluk hidup termasuk di dalamnya manusia serta mahkluk lainnya.

Menurut Abdurahman, Definisi dari “Lingkungan adalah semua benda dan kondisi termasuk didalamnya manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang dimana manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia”.6

Penegakan hukum lingkungan hidup adalah satu elemen penting dalam upaya mencapai tujuan Negara Indonesia lahir. Tujuan Negara yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 Alenia ke 4 Amandemen ke IV, tujuan itu adalah :

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;

2. Memajukan kesejahteraan umum;

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa;

4. Ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Batang tubuh UUD 1945 setelah Amandemen, penegakan hukum lingkungan hidup diletakan dalam Pasal yang berkaitan dengan hak asasi manusia.

Seperti yang tertuang dalam Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang 1945 Amandemen ke IV, menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat”

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 1 butir (2), menyatakan “Perlindungan dan

6 Abdurahman, Pengantar Hukum Lingkungan Indonesia, cetakan VII (Bandung:

Alumni, 2014), hlm.67

(11)

8 pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, dan penegakan hukum”.

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyatakan “Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan:

1. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

2. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;

3. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem;

4. Menjaga kelesatarian fungsi lingkungan hidup;

5. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup;

6. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan;

7. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hakatas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia;

8. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;

9. Mewujudkan pembagunan berkelanjutan; dan 10. Mengantisipasi isu lingkungan global.”

Pembakaran lahan disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 69

(12)

9 ditegaskan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup”.

Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan merupakan permasalahan yang serius yang harus dihadapi setiap tahun pada musim kemarau. Persepsi dan pendapat masyarakat yang berkembang tentang peristiwa kebakaran yang sering terjadi belakangan ini adalah bahwa kebakaran tersebut terjadinya didalam hutan semata, padahal sesungguhnya peristiwa tersebut dapat saja terjadi diluar kawasan hutan. Kebakaran hutan terjadi tidak hanya dilahan kering tetapi juga bisa dilahan basah seperti lahan Gambut, terutama pada musim kemarau dimana lahan gambut tersebut mengalami kekeringan.

Kebakaran hutan dan lahan di antaranya disebabkan aktivitas perusahaan yang membakar untuk keperluan perkebunan, perladangan maupun pertanian.

Kebakaran hutan dan lahan juga disebabkan oleh adanya aktivitas sekelompok masyarakat di dalam kawasan hutan atau yang berbatasan kawasan hutan dengan tujuan membersihkan lahan untuk keperluan pertanian, perladangan dan sebagainya. Kebakaran hutan dan lahan bisa juga disebabkan oleh unsur ketidaksengajaan seperti faktor alam. Di antaranya gesekan ranting dan dahan yang menimbulkan percikan api dan merembet ke kawasan di sekitarnya.

Sejak lama kebakaran hutan telah diidentifikasi sebagai satu faktor penyebab kerusakan hutan tropis di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1982/1983 di Kalimantan Timur dan pada 1997/1998 di hampir semua propinsi di Indonesia merupakan dua kasus kebakaran hutan tropis terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Diperkirakan kebakaran hutan dan lahan pada tahun

(13)

10 1982/1983 mencakup areal seluas 3,5 juta ha yang terdiri dari 800 ribu ha hutan primer dataran rendah, 550 ribu ha hutan rawa gambut, 1,4 juta ha hutan bekas pembalakan, dan 750 ribu ha hutan sekunder, areal perladangan berpindah dan pemukiman.7

Kebakaran hutan dan lahan umumnya disebabkan oleh faktor manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaiannya, sedangkan sebagian kecil karena faktor alam seperti karena petir, larva gunung berapi, penyebab kebakaran oleh manusia dapat dirinci sebagai berikut :

a. Konversi lahan : Kebakaran yang terjadi disebabkan oleh api yang berasal dari kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, industri, pembuatan jalan, jembatan dll.

b. Pembakaran Vegetasi : disebabkan oleh api yang berasal dari pembakaran vegetasi yang sengaja namun tidak terkendali sehingga terjadi api lompat misalnya pembukaan areal HTI, Perkebunan, Penyiapan lahan oleh Masyarakat.

c. Aktivitas dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam : disebabkan oleh aktivitas selama pemanfaatan sumber daya alam seperti memasak dihutan yang lagi menebang kayu, mencari ikan tidak memadamkan kembali.

d. Pembuatan kanal-kanal/ saluran-saluran dilahan gambut untuk sarana transportasi kayu hasil tebangan. saluran yang tidak memakai pintu

7 Wilstra Danny. Sistem Deteksi Dini Dan Peringatan Dini Dalam Pengendalian Kebakaran Hutan. Departemen Kehutanan, 2012. hlm. 1.

(14)

11 control akan menyebabkan lepasnya air dari lapisan gambut sehingga gambut menjadi kering dan mudah terbakar.

e. Penguasaan lahan : api sering digunakan masyarakat lokal untuk memperoleh kembali hak-hak mereka atas lahan, bahkan menjarah lahan yang terletak didekatnya.

Kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan baik dari aspek financial maupun nonfinansial tidak sedikit. Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan banyak areal hutan dan lahan yang musnah. Belum lagi dampak negatif lainnya berupa gangguan kesehatan dan gangguan penerbangan, serta transportasi lain.

Kasus pencemaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan itu ditaksir menimbulkan penderitaan bagi Indonesia baik langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, telah memusnahkan sejumlah flora dan fauna yang tergolong langka dan "mengganggu" hubungan Indonesia dengan negara tetangga.

Kebakaran hutan kerap terjadi dan dampak pencemaran asapnya sudah menimbulkan kerugian moril dan materiil yang besar, sampai mencoreng muka Indonesia di mata dunia, kenyataannya hingga kini biang kerok dari peristiwa itu tidak tersentuh hukum, bahkan masih bebas melakukan aksinya. Selama ini ada masalah spesifik yang dihadapi aparat penegak hukum, khususnya soal pembuktian kasus pembakaran hutan dan lahan. Tempat kejadian perkara (TKP) sangat jauh, bahkan ada TKP yang tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Hambatan lain yang ada selama ini adalah belum dimilikinya alat untuk mengambil sampling udara sebagai dasar untuk mengetahui kualitas udara di lokasi dari waktu tertentu.

(15)

12 Gugatan perdata tempat pelaku penyebab kebakaran hutan dapat diajukan baik oleh individu maupun badan hukum yang dirugikan. Selain itu, Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memberikan kemungkinan lembaga swadaya masyarakat mengajukan gugatan perdata. Undang-undang ini juga memberi hak kepada instansi pemerintah (Departemen Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanian) melakukan penanggulangan kebakaran hutan.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian hukum ini adalah jenis penelitian hukum sosiologis, yang membahas tentang berlakunya hukum positif terhadap pelaksanaan pencegahan pembakaran lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di wilayah hukum Polresta Pekanbaru.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di wilayah hukum Polresta Pekanbaru.

Alasan penulis melakukan penelitian tersebut disebabkan karena fenomena kebakaran lahan dan perusakan hutan sampai pada Tahun 2019 di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru masih saja tetap terjadi bahkan sampai pada bulan september ini keadaan asap akibat pembakaran lahan semakin pekat, namun penegakan hukumnya sendiri masih belum maksimal, karena pelaku yang

(16)

13 tertangkap masih belum tepat sasaran artinya pelaku pembakar lahan merupakan orang-orang pemilik lahan yang kecil.

3. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi adalah sekumpulan objek yang hendak diteliti berdasarkan lokasi penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk tercapainya maksud dan tujuan penelitian ini, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah:

1. Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru berjumlah 1 orang.

2. Ketua WaLHi Provinsi Riau berjumlah 1 orang.

3. Kepala Seksi Pencemaran Udara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru berjumlah 1 orang.

4. Tokoh Masyarakat Kota Pekanbaru berjumlah 12 orang.

5. Pelaku Pembakaran Lahan di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru Tahun 2019 berjumlah 7 orang.

b. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat mewakili keseluruhan objek penelitian. Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah:

1. Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru berjumlah 1 orang ditetapkan dengan metode sensus.

2. Ketua WaLHi Provinsi Riau berjumlah 1 orang ditetapkan dengan metode sensus.

(17)

14 3. Kepala Seksi Pencemaran Udara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru berjumlah 1 orang ditetapkan dengan metode sensus.

4. Tokoh Masyarakat Kota Pekanbaru berjumlah 2 orang ditetapkan dengan metode random.

5. Pelaku Pembakaran Lahan di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru Tahun 2019 berjumlah 2 orang ditetapkan dengan metode random.

Tabel 1

Populasi dan Sampel

No Jenis Populasi Jumlah

Populasi

Jumlah

Sampel Persentase

1 Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru 1 1 100%

2 Ketua WaLHi Provinsi Riau 1 1 100%

3 Kepala Seksi Pencemaran Udara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru

1 1 100%

4 Tokoh Masyarakat Kota Pekanbaru 2 2 100%

5 Pelaku Pembakaran Lahan di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru Tahun 2019.

7 2 28.5%

Jumlah 12 7 58.3%

Sumber: Data Olahan Tahun 2019 4. Sumber Data

Data yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah data primer, data sekunder, dan data Tertier. Adapun uraian data tersebut sebagai berikut:

a. Data Primer, yaitu data yang penulis peroleh secara langsung di lapangan yang bersumber dari Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Ketua WaLHi Provinsi Riau, Kepala Seksi Pencemaran Udara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru dan Pelaku Pembakaran Lahan di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru.

(18)

15 b. Data Sekunder, yaitu data yang mendukung data primer seperti buku-

buku kepustakaan dan peraturan perundang-undangan.

c. Data Tertier, yaitu data yang mendukung data primer dan data sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia, media cetak dan sejenisnya.

5. Teknik Pengumpulan Data

Untuk sebagai kelengkapan data primer maka alat pengumpulan datanya dengan cara :

a. Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsung di tempat penelitian.

b. Wawancara yaitu metode pengumpulan data dengan wawancara langsung melalui tanyajawab dengan responden

c. Kajian Kepustakaan yaitu metode pengumpulan data melalui literature yang ada pada kajian kepustakaan yang ada korelasinya dengan permasalahan yang diteliti.

6. Analisis Data

Dalam menganalisis data, data dianalisis secara kualitatif artinya data dianalisis dengan tidak menggunakan statistik atau matematika ataupun yang sejenisnya namun cukup dengan menguraikan secara deskriptif dari data yang diperoleh. Sedangkan untuk menarik kesimpulan, penulis menerapkan metode berpikir induktif yaitu cara berpikir yang menarik suatu kesimpulan dari suatu pernyataan atau dalil yang bersifat khusus menjadi suatu pernyataan atau kasus yang bersifat umum.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Alam Setia Zain, Aspek pembinaan Kawasan Hutan dan Ratikasi Hutan Rakyat, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010)

Abdurahman, Pengantar Hukum Lingkungan Indonesia, cetakan VII (Bandung:

Alumni, 2014)

Andi Hamzah, 2005. Penegakan Hukum Lingkungan, cetakan pertama, Jakarta: Sinar Grafika.

Hadi Setia Tunggal, 2007. Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Kehutanan, (Jakarta, Harvarindo).

IGM Nurdjana, 2005, Teguh Prasetyo, Sukardi, Korupsi Dan Illegal Logging Dalam Sistem Desentralisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Iskandar, U. 1999, Dialog Kehutanan Dalam Wacana Global. Cet ke-1. Yogyakarta:

Bigraf Publishing

Marpaung, L., 1995. Tindak Pidana Terhadap Hutan, Hasil Hutan, Dan Satwa, Cet.

1, Jakarta, Erlangga.

Nana Suparna, Pengusahaan Hutan di Era Otonomi Daerah, Analisis OSIS, Tahun XXX/2001 No.2, Centre for Strategic and International Studies, (Jakarta, 2001)

FWI dan GFW. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Edisi ke-3, Forest Watch Indonesia dan Washington DC, (Bogor: Global Forest Watch. 2011)

Melly Febrida, 2007. Pembalakan Liar di Hutan Nasional Tak Tersentuh. Bandung:

Angkasa.

Raymond Atje dkk. 2001, Hutan Sebagai Aset Strategis, CSIS, Jakarta.

Salim, 2004. Dasar-Dasar Hukum Kehutanan, Jakarta: Sinar Grafika.

Salim, 2004. Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Siti Kotijah, 2010, Kawasan Hutan Lindung Pasca Terbitnya PP Nomor 3 Tahun 2008.

(20)

Soedaryo Soimin, 2004, Himpunan Dasar Illegal Logging, Jakarta: Sinar Grafika.

Soerjono Soekanto, 2004, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Sulaiman N Sembiring, 2006. Penegakan Hukum Kehutanan Kurang Efektif, Jambi:

IHSA.

Titik Triwulan, 2006, Pengantar I1mu Hukum, Prestasi Raya, Jakarta. Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 Tentang Kehutanan

Wilstra Danny. Sistem Deteksi Dini Dan Peringatan Dini Dalam Pengendalian Kebakaran Hutan. Departemen Kehutanan, 2012.

Peraturan Perundang-Undangan:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Website:

http://www.diskopumkm.inhukab.go.id/p/informasi-umum-secara-geografis.html Kompas., Penerbit Buku (2001-<2005>). Profil daerah kabupaten dan kota (edisi ke-

Cet.1). Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 9797090094. OCLC 50024929

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa perlindungan dan pengelolaan

Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

www.google.com, M. Karliansyah, Presentasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan &amp; Pengelolaan Lingkungan Hidup, 27 Mei 2010.. hidup bisa tercapai dengan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 5 diamanahkan bahwa Pemerintah Daerah perlu membuat

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Kota Tanjungpinang membuat sebuah Peraturan Daerah untuk

Dalam pengelolaannya lebih diatur lagi dalam Undang Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan pengelolaan Liingkungan Hidup, Undang-undang 32 tahun 2009 ini

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dijelaskan bahwa pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan

Peraturan Perundang-undangan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup