KESULITAN-KESULITAN GURU IPS
DALAM PELAKSANAAN PENILAIAN AUTENTIK BERDASARKAN KURIKULUM 2013 DI SMP NEGERI 2 SAWAHLUNTO
JURNAL
Diajukan Sebagai untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Strata 1 (S1)
Wilda Yulia Sari NPM. 12020051
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATRA BARAT
PADANG
2016
1
KESULITAN-KESULITAN GURU IPS
DALAM PELAKSANAAN PENILAIAN AUTENTIK BERDASARKAN KURIKULUM 2013 DI SMP NEGERI 2 SAWAHLUNTO
¹Wilda Yulia Sari
² Ranti Nazmi
³ Fifi Yasmi
¹
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatra Barat²Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatra Barat
³ Dosen STKIP PGRI Sumatra Barat Email : [email protected]
ABSTRACT
Wilda Yulia Sari (NPM: 12020051), The Social Studies Teacher’s Difficulties in Authentic Assessment Based on Curriculum 2013 in SMP Negeri 2 Sawahlunto, Thesis, Department of History Education STKIP PGRI West Sumatra, Padang, 2016.
Curriculum 2013 is a new curiculum which oblige a teacher assessment authentically. But social studies teacher at SMP Negeri 2 Sawahlunto experiencing the difficulties in making the implementation of authentic assessment based on the curriculum 2013. According to that problem, this research focuses on the difficulties of social studies teachers in the implementation of authentic assessment based on curriculum 2013 in SMP Negeri 2 Sawahlunto. The purpose of this study to 1) describe the difficulties of social studies teachers in the implemetation of authentic assessment based Curriculum 2013 in SMP Negeri 2 Sawahlunto. 2) describe the solutions do by the social studies teachers in SMP Negeri 2 Sawahlunto toward the implementation of authentic assessment based on Curriculum 2013. This research is classified as qualitative research. The study was conducted in SMP Negeri 2 Sawahlunto in the second semester 2015/2016. The participant of this research is social studies teachers, and representatives of the curriculum.
Technique of data collection is observation, interviews, and documentation. The data analysis used the first process collecting the data, data reduction, data presentation and conclusion.
The results showed there are the difficulties of teachers in the implementation of authentic assessment based on the curriculum of 2013. Based on the observation found; 1) the social studies teacher’s difficulties in: a) the difficulty of teachers in the implementation of attitude assessment, b) difficulties in the implementation of teachers 'knowledge, c) difficulties in the implementation of teachers' skills assessment. 2) solutions that done by social studies teacher at SMP Negeri 2 Sawahlunto to the implementation of authentic assessment. a) Disclosure of teachers in the assessment, b) complete the appraisal formats and bring when the learning process, c) make a journal and filling journals for students who stand out to overcome the difficulties in the assessment of skills and attitude. d) conduct consultations on a matter of judgment during teacher meetings.
Key words : Pelaksanaan , Penilaian Autentik, Kurikulum 2013
KESULITAN-KESULITAN GURU IPS
DALAM PELAKSANAAN PENILAIAN AUTENTIK BERDASARKAN KURIKULUM 2013 DI SMP NEGERI 2 SAWAHLUNTO
¹Wilda Yulia Sari
² Ranti Nazmi
³ Fifi Yasmi
¹
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatra Barat²Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatra Barat
³ Dosen STKIP PGRI Sumatra Barat Email : [email protected]
ABTRAK
Wilda Yulia Sari (NIP:12020051), Kesulitan-Kesulitan Guru IPS dalam Pelaksanaan Penilaian Autentik Berdasarkan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto, Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang, 2016
Kurikulum 2013 merupakan kurukulum baru yang mewajibkan sorang guru melakukan penilaian secara autentik. Tetapi guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto mengalami kesulitan- kesulitan dalam melakukan pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013. Atas dasar masalah tersebut penelitian ini berfokus pada kesulitan-kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan kesulitan-kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto. 2) mendekripsikan solusi yang dilakukan guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto terhadap pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013. Jenis penelitian ini tergolong penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Sawahlunto pada semester genap 2015/2016. Informan penelitian guru IPS, dan wakil kurikulum. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan proses pertama penggumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesulitan-kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013. Berdasarkan temuan lapangan bahwa; 1) kesulitan-kesulitan Guru IPS itu terletak pada: a) kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian sikap, b) kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian pengetahuan, c) kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian keterampilan. 2) solusi yang dilakukan guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto terhadap pelaksanaan penilaian autentik. a) Keterbukaan guru dalam penilaian ,b) melengkapi format- format penilaian dan dibawa setiap akan PBM, c) membuat jurnal dan mengisi jurnal bagi siswa yang menonjol untuk mengatasi kesulitan dalam penilaian keterampilan dan penilaian sikap. d) melakukan konsultasi tentang masalah penilaian pada saat rapat guru.
Key words : Difficulties , authentic assessment, curriculum 2013
3
PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia menerapkan kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi siswa dari sisi pengetahuan, keterampilan dan sikap secara utuh. Penekanan penilaian dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik.
Penilaian autentik adalah suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabikitas publik (Abdul dan Aep, 2014: 61).
Dasar hukum penilaian autentik mengacu pada Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Berdasarkan Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 menjelaskan bahwa standar penilaian pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian autentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional dan ujian sekolah/madrasah.
Kurikulum yang digunakan di SMP Negeri 2 Sawahlunto adalah Kurikulum 2013. Penerapan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto bukan sekedar pergantian kurikulum tetapi menuntut perubahan paradigma dalam pembelajaran karena dengan penerapan Kurikulum 2013 tidak hanya menyebabkan perubahan konsep, metode, penilaian hasil belajar dan strategi guru dalam mengajar, tetapi juga pola pikir, filosofis, komitmen guru, sekolah dan pihak yang terkait dalam pendidikan.
Berdasarkan observasi di SMP Negeri 2 Sawahlunto, peneliti menemukan kesulitan- kesulitan yang dihadapi guru dalam penilaian autentik. Sedangkan dalam kurikulum 2013 seorang guru diwajibkan melakukan penilaian secara autentik.
melakukan pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013.
Rumuskan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah kesulitan-kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto ?
2. Solusi apa sajakah yang dilakukan guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto terhadap pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013 ?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan kesulitan-kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto.
2. Mendekripsikan solusi yang dilakukan guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto terhadap pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013.
Menurut Tim Pengembangan MKDP (2011: 2).Kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latin “curir” yang artinya pelari dan
“currere” yang artinya tempat berlari.
Pengertian awal kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis start sampai garis finish.
Demikian, istilah awal kurikulum diadopsi dari bidang olahraga pada zaman romawi kuno di Yunani, baru kemudian diadopsi ke dalam dunia pendidikan (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pembelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
Menurut Mulyasa (2014: 7) Kurikulum 2013 merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan berbasis sains yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan dengan tujuan untuk mempersiapkan lahirnya generasi emas bangsa Indonesia, dengan sistem siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Tujuan mata pelajaran IPS SMP/MTs menurut Sapriya (2014: 201) adalah :
1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkomunikasi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.
Menurut Black dan William (Abdul Majid, 2014: 35) penilaian adalah seluruh kegiatan yang dilakukan oleh guru dan para siswanya dalam menilai diri sendiri, yang kemudian digunakan sebagai informasi yang dapat digunakan sebagai umpan balik untuk mengubah, membuat modifikasi kegiatan pembelajaran.
Sunarti (2014: 27) penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai atau dicapai.
Kunandar (2014: 52) menyatakan bahwa penilaian autentik siswa mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendapat para ahli tersebut diperkuat dengan adanya Salinan Lampiran Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah bahwa ruang lingkup dalam penilaian autentik mencakup kompetensi sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan. Ruang lingkup penilaian autentik dapat dijelaskan sebagai berikut.
Kurikulum 2013 menerapkan penilaian autentik untuk menilai kemajuan belajar siswa yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Teknik dan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan adalah sebagai berikut.
1. Teknik penilaian kompetensi sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Menurut
Kunandar (2014: 119) menyatakan bahwa guru dapat melakukan penilaian kompetensi sikap siswa dengan menggunakan berbagai cara, antara lain melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sejawat, penilaian jurnal.
2. Teknik penilaian kompetensi pengetahuan
Tteknik penilaian kompetensi pengetahuan yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu teknik penilaian melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
3. Teknik penilaian kompetensi keterampilan
Kunandar (2013: 257) menyatakan bahwa guru dapat melakukan penilaian kompetensi keterampilan siswa dengan menggunakan berbagai cara, antara lain melalui penilaian kinerja dengan menggunakan instrumen lembar pengamatan, penilaian proyek dengan menggunakan instrumen lembar penilaian dokumen laporan proyek, penilaian portofolio dengan menggunakan instrumen lembar penilaian dokumen portofolio, dan penilaian produk dengan mengguankan instrumen lembar penilaian produk.
METODOLOGI
Berdasarkan masalah yang diteliti, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, karena peneliti berusaha mendeskripsikan kesulitan-kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan Kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto.
Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 2 Sawahlunto. Waktu penelitian ini di laksanakan pada semester genap 2015/2016.
Upaya untuk mendeskripsikan data atau informasi yang relevan dengan masalah, maka dalam pemilihan informan yakni orang-orang yang memiliki kriteria dan dianggap paling tahu tentang topik penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah guru IPS SMP Negeri 2 Sawahlunto dan wakil kurikulum SMP negeri 2 Sawahlunto.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2014: 246)
5
mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kesulitan-Kesulitan Guru IPS dalam Pelaksanaan Penilaian Autentik Pengetahuan tentang pelaksanaan penilaian autentik diperoleh peneliti dengan teknik wawancara yang dilakukan kepada guru, dan wakil kurikulum. Berdasarkan ketarangan guru, dan wakil kurikulum terdapat kesulitan-kesulitan dalam melakukan penilaian. Hal itu terletak pada ketiga ruang lingkup penilaian autentik, yaitu:
penilaian sikap, penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan.
a. Kesulitan Guru dalam Penilaian Sikap
Guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto menggunakan teknik observasi dan jurnal dalam menilai kompetensi sikap siswa karena dipandang sebagai teknik yang paling praktis. Kepraktisan merujuk pada proses penilaian dan pembuatan instrumen praktis dibandingkan dengan penilaian diri dan penilaian antar teman. Melakukan observasi guru dapat melakukannya kapanpun tanpa harus melakukan koordinasi dengan siswa. Selain itu guru juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk mencetak instrumen yang dibagikan ke siswa. Akan tetapi dilapangan masih ada di temukan kesulitan yang dialami oleh guru.
Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kesulitan-kesulitan guru IPS dalam penilaian sikap sebagai berikut: Pertama, waktu dalam menilai yang relatif kurang dan adanya guru yang belum menyiapkan format penilaian secara lengkap. Ke-dua Banyaknya jurnal yang diiisi sebanyak siswa sehingga di dalam kelas kadang- kala guru asik mengisi jurnal dan kadang-kala guru lalai dalam menilai
karena asik mengajar. Ke-tiga Guru kesulitan dalam menilai sikap siswa, terutama pada saat di luar PBM dan di luar lingkungan sekolah.
b. Kesulitan Guru dalam Penilaian Pengetahuan
Berdasarkan observasi peneliti kesulitan yang dialami oleh guru dalam penilaian pengetahuan terletak pada remedialnya. Berdasarkan teorinya siswa yang belum tuntas harus diremidi hingga tuntas. Namun di lapangan konsep tersebut tidak dapat dilaksanakan karena keterbatasan waktu. Tidak adanya waktu luang untuk melakukan remedial hal itu dikarnkan guru menggejar materi pelajaran yang tertinggal. Serta kesulitan lainnya ialah adanya siswa yang mengulur-ulur waktu remedial sehingga guru sulit memberikan penilaian pengetahuan kepada siswa.
c. Kesulitan Guru dalam Penilaian Keterampilan
Berdasarkan hasil penelitian bahwa guru IPS dalam menilai aspek keterampilan mengalami kesulitan.
Pertama, keterbatasan waktu dalam menilai keterampilan siswa. Ke-dua, karena siswa SMP masih : (1) kreativitas kurang, (2) masih banyak bermain, (3) waktu tidak efisen, dan (4) malas membaca. Ke-tiga, Siswa kurang kreatif membuat suatu keterampilan dan hasilnya kurang memuaskan. Ke- empat, berdasarkan pengamatan peneliti bahawa kesulitan lainnya ialah karena pembelajaran IPS sulit untuk memberikan penilaian produk. Hal lain disebabkan oleh siswa SMP yang kreatifitasnya masih kurang dan sulit memberikan produk pada pembelajaran IPS.
Berdasarkan observasi peneliti guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto dalam menilai keterampilan ialah melalui penilaian kinerja, proyek dan portofolio. Penialain tersebut dilakukan melalui pemberian tugas portofolio yang dikerjakan perindividu. Penilaian kinerja, dan penilaian proyek melalui diskusi kelompok, dan melalui diskusi kelompok guru menilai keterampilan bertanyanya dan mengomunikasikan hasil kerja kelompoknya.
2. Solusi Guru IPS untuk Menggatasi Kesulitan-Kesulitan dalam Penilaian Autentik
Berdasarkan observasi dan hasil wawancara dapat peneliti temukan solusi yang dilakukan oleh guru-guru dalam mengatasi kesulitannya, yaitu:
a. Keterbukaan Guru dalam Penilaian Adanya komunikasi guru dalam melakukan penilaian agar siswa mengerti bagaimana sistem penilain yang akan dilakukan seorang guru. Serta keuntungan keterbukaan guru dalam menilai, anak akan merubah sikapnya yang jelek menjadi baik sehingga dalam pembelajaran berrikutnya siswa mengalami perubahan ke arah lebih baik tidak hanya dari segi sikap, pengetahuan dan keterampilan juga bisa berubah.
b. Melengkapi Format-Format Penilaian dan Dibawa Setiap akan PBM
Guru IPS harus menyiapkan format- format dalam penilaian siswa dan RPP didalam PMB dibawa setiap masuk lokal. Mempersiapkan format-format dalam menilai siswa dan RPP didalam PMB tentu membuat seorang guru lebuh lancar dalam mengajar dan menilai siswa di dalam lokal.
c. Membuat Jurnal dan Mengisi Jurnal Bagi Siswa yang Menonjol untuk Mengatasi Kesulitan dalam Penilaian Sikap dan Keterampilan d. Melakukan Konsultasi Tentang
Masalah Penilaian pada Saat Rapat Guru
Hasil penelitian yang dibahas dalam penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan guru IPS dalam penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto.
1. Kesulitan-kesulitan guru IPS dalam penilaian autentik
a. Kesulitan Guru dalam Penilaian Sikap
Berdasarkan hasil observasi peneliti guru di SMP Negeri 2 Sawahlunto ditemukan adanya kesulitan yang di alami oleh guru dalam penilaian sikap.
Hal tersebut dikarenakan keterbatasan waktu dalam menilai siswa. Di SMP Negeri 2 Sawahlunto disarankan untuk memilih teknik penilaian sikap. Guru IPS SMP Negeri 2 Sawahlunto menerapkan teknik obsevasi dan jurnal karena dinanggap lebih praktis dibanding dengan penilaian diri dan penilaian teman sebaya. Hal ini berbeda dengan pendapat Abdul dan Aep (2014:179) penilaian sikap dapat dilakaukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi, penilaian diri, penilaian antar teman dan jurnal
.
b. Kesulitan Guru dalam Penilaian Pengetahuan
Berdasarkan teori yang dipakai menurut Kunandar (2013: 167) guru menilai kompetensi pengetahuan melalui: (1) tes tertulis dengan menggunakan butir soal, (2) tes lisan dengan bertanya langsung terhadap peserta didik menggunakan daftar pertanyaan, dan (3) penugasan atau proyek dengan lembar kerja tertentu yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan pendapat Kunandar tentang cara seorang guru menilai kompetensi pengetahuan dapat dikatakan guru IPS SMP Negeri 2 Sawahlunto melaksanakan penilaian pengetahuan sesuai dengan teori
c. Kesulitan Guru dalam Penilaian Keterampilan
Menurut Kunandar (2013: 257) menyatakan bahwa guru dapat melakukan penilaian kompetensi keterampilan siswa dengan penilaian dokumen laporan proyek, penilaian portofolio dengan menggunakan instrumen lembar penilaian dokumen portofolio, dan penilaian produk dengan mengguankan instrumen lembar penilaian produk.
SMP Negeri 2 sawahlunto melakukan penilaian kompetensi keterampilan siswa dengan menggunakan cara penilaian kinerja, projek dan portofolio. Penilaian kinerja dan penilaian projek guru IPS SMP Negeri 2 Sawahlunto memberikan suatu tugas yang harus diselesaikan siswa baik secara individu atau kelompok dalam waktu atau periode tertentu. Serta menggunakan instrumen lembar pengamatan pada saat diskusi
7
kelompok. Guru IPS dalam menilai aspek keterampilan tidak menggunakan penilaian produk karena dalam pembelajaran IPS sulit untuk menentukan produk yang akan di buat.
Serta kesulitan laiannya. keterbatasan waktu dalam menilai, siswa SMP masih : kreativitas kurang, masih banyak bermain, waktu tidak efisen, dan malas membaca. Berdasarkan observasi peneliti guru IPS di SMP Negeri 2 Sawahlunto dalam menilai keterampilan ialah melalui diskusi kelompok, dan melalui diskusi kelompok guru menilai keterampilan bertanyanya dan mengomunikasikan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di SMP Negeri 2 Sawahlunto tentang kesulitan- kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik berdasarkan kurikulum, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kesulitan-Kesulitan guru IPS dalam pelaksanaan penilaian autentik
a. Kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian sikap
b. Kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian pengetahuan
c. Kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian keterampilan
2. Solusi yang dilakuakn guru IPS dalam mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, yaitu:
a. Keterbukaan guru dalam penilaian maksudnya ialah guru harus bersifat transparan dalam menilai.
b. Melengkapi format-format penilaian dan dibawa kesetiap akan pbm
c. Membuat jurnal dan mengisi jurnal bagi siswa yang menonjol untuk mengatasi kesulitan dalam penilaian ketarampilan dan penilaian sikap.
d. Melakukan konsultasi tentang masalah penilaian pada saat rapat guru.
Dapat disimpulkan bahwa guru IPS mengalami kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan penilaian autentik di SMP Negeri 2 Sawahlunto. Pelaksanaan penilian autentik tetap berjalan dengan baik walaupun terdapat beberapa kesulitan yang
mengganggu dalam peroses penilaian secara autentik dalam pembelajaran IPS.
SARAN
Berdasarkan beberapa uraian diatas, peneliti menyarankan:
1. Diharapkan pihak sekolah memperhatikan penerapan kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Sawahlunto.
2. Diharapkan sekolah untuk mengadakan pelatihan dengan guru untuk membicarakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan penilain autentik berdasarkan kurikulum 2013.
3. Diharapkan kepada guru untuk menambah wawasan tentang penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013.
4. Diharapkan kepada siswa untuk meningkatkan hasil belajaranya supaya jangan mengikuti remedial.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Majid dan Aep S. Firdaus. 2014.
Penilaian Autentik Proses dan Hasil Belajar. Bandung: Interes Media.
Abdul, Majid. 2014. Penilaian Autentik Proses dan Hasil Belajar. Bandung:
Rosda Karya.
Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada.
Mulyasa.H.E.2014.Pengembangan
Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Sapriya. 2014. Pendidikan IPS. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:Alfabeta Sunarti. 2014.Penilaian Dalam Kurikulum
2013. Yogyakarta: ANDI
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. . 2011. Kurkulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.