Data observasi jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine.max) setelah aplikasi limbah Brassicaceae dan Mikoriza. Data observasi jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) setelah aplikasi limbah Brassicaceae dan Mikoriza. Data pengamatan volume akar (ml) tanaman kedelai (Glycine.max) setelah aplikasi limbah Brassicaceae dan Mikoriza.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Perumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- HipotesisPenelitian
- Manfaat Penelitian
Pupuk anorganik merupakan pupuk sintetik yang dibuat oleh industri atau pabrik, sedangkan pupuk organik berasal dari bahan alam yaitu sisa tanaman atau sisa hewan (Mayasari, 2012). Sampah kota yang berasal dari bahan organik dapat diolah menjadi pupuk organik sampah kota. Limbah Brassicaceae memiliki kandungan organik 1,7 g protein, 0,2 g lemak, dan 5,3 g karbohidrat sehingga berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan kompos (Suprihatin, 2010).
Selain itu, untuk meningkatkan produktivitas tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman diperlukan input berupa pupuk anorganik yang sebaiknya dibarengi dengan pupuk organik. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti melakukan penelitian tentang penerapan limbah brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine max). Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah aplikasi limbah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine max).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan residu Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikular dalam pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine max). Pemberian dosis residu brassicaceae dan cendawan mikoriza arbuskula vesikuler yang berbeda dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine max).
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Tanaman Kedelai
- Batang
- Daun
- Buah
- Biji
Pada akar dahan banyak terdapat bintil akar yang mengandung bakteri Rhizobium japonicum yang mempunyai kemampuan mengikat zat lemah bebas (N2) dari udara yang kemudian digunakan untuk menyuburkan tanah (Andrianto, 2004). Jenis pertumbuhan batang tertentu ditandai dengan batang yang tidak tumbuh kembali pada saat tanaman mulai berbunga. Sedangkan tipe pertumbuhan batang tak tentu ditandai dengan bagian atas batang tanaman masih mampu mengeluarkan daun meskipun tanaman sudah mulai berbunga.
Selain itu, terdapat varietas hasil persilangan yang mempunyai tipe batang yang mirip dengan keduanya, sehingga dikategorikan semi determinate atau semi indeterminate (Kanisus, 1989). Pada umumnya daerah dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi sangat cocok untuk ditanami varietas kedelai yang mempunyai daun yang lebar. Pada umumnya daerah yang mempunyai tingkat kesuburan tanah yang tinggi sangat cocok untuk ditanami varietas kedelai yang mempunyai daun yang lebar.
Bila masak, warna polong coklat, coklat tua, coklat muda, kuning jerami, coklat kekuningan, coklat keputihan dan putih kehitaman. Jika polong sudah matang, ada yang mudah pecah, ada pula yang tidak, tergantung varietasnya.
Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai
- Iklim
- Tanah
Pupuk organik adalah bahan yang berasal dari sisa tumbuhan dan hewan, seperti pupuk kandang, kompos, pupuk hijau, jerami dan bahan lain yang dapat berperan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung unsur karbon dan nitrogen dalam jumlah yang sangat bervariasi, dan keseimbangan unsur-unsur tersebut sangat penting untuk menjaga atau meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang terbaik dan alami dibandingkan dengan pupuk buatan/sintetis.
Secara umum pupuk organik rendah unsur hara makro N, P dan K, namun mengandung unsur hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Penambahan pupuk organik dapat mengurangi dampak negatif pupuk kimia sekaligus memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah (Wahyono, 2011). Kandungan unsur hara rendah, kandungan unsur hara pada pupuk organik umumnya rendah, namun bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya.
Dengan penyediaan unsur hara dalam jumlah terbatas, maka penyediaan unsur hara dari pupuk organik dalam jumlah besar biasanya terbatas dan tidak mencukupi untuk menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Sutanto, 2002). Pemberian pupuk organik limbah Brassicaceae berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada dan perlakuan air sebanyak 20 ml/liter merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman selada (Novriani, 2014).
Tempat dan Waktu Penelitian
Bahan dan Alat
Metode Penelitian
Jumlah tanaman per petak = 15 tanaman Jumlah tanaman sampel = 3 tanaman Jumlah sampel = 144 tanaman Jumlah tanaman = 720 tanaman.
Metode Analisa
Pelaksanaan Penelitian
- Pengolahan Lahan
- Penanaman Benih Kedelai
- Penyiangan Gulma
- Penyiraman
- Pengendalian Hama dan Penyakit
- Pemanenan
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul tanah yang telah ditentukan, membentuk bedengan konvensional berukuran 120 x 125 cm pada 48 petak, membuat lubang tanam dengan jarak 40 cm x 25 cm, jarak antar petak 50 cm dan jarak antar ulangan 100 cm. cm. Benih kedelai ditanam dengan sistem seret dengan kedalaman 1,5-2 cm dan lubang tanam diisi sebanyak 2 bibit/lubang tanam. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir benih yang tidak tumbuh, jika kedua benih tersebut tumbuh maka salah satu harus dipotong.
Pemberian pupuk organik cair Brassicaceae dilakukan dengan cara disebar secara merata pada petak penelitian sesuai perlakuan yang telah ditentukan. Jamur mikoriza diperoleh dari dosen Fakultas Pertanian Universitas Medan Area Ibu Dr.Ir.Suswati, MP. Penerapan cendawan mikoriza dilakukan pada saat tanaman kedelai berumur 1 minggu setelah tanam (MST). Penyiangan tanaman dilakukan secara manual dan rutin setiap minggunya yaitu mencabut langsung dan menghilangkan gulma, hal ini dilakukan untuk mengurangi persaingan dalam penyerapan unsur hara ke dalam tanah.
Untuk menjaga status air pada tanaman kedelai, perlu dilakukan penyiraman pada pagi hari WIB dan sore hari WIB dengan menggunakan gembor. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara preventif yaitu dengan menjaga tanah dari gulma yang dapat menjadi inang hama tanaman kedelai. Hama yang menyerang tanaman kedelai adalah hama pengeriting daun (Lamprosema indiva F.). Hama pengeriting daun menyerang dan merusak tanaman. daun tanaman kedelai, hama. Hal ini terdapat pada daun yang menggulung, kemudian akan memakan daun dan tulang daun sehingga menyebabkan kerusakan pada daun. Teknik pengendalian hama preventif dilakukan dengan teknik pengendalian mekanis atau manual yaitu pengumpulan hama secara langsung pada tanaman, namun apabila hama berada pada ambang pertumbuhan ekonomi maka pengendaliannya dilakukan dengan penyemprotan insektisida Regent 50 SC dengan dosis yang dianjurkan.
Ciri-ciri tanaman kedelai yang siap dipanen adalah warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan warna polong berubah dari hijau menjadi kecoklatan. Kriteria panennya adalah daun sudah berguguran, biasanya polong kedelai mudah patah dan siap disemai.
Parameter Pengamatan
- Tinggi Tanaman (cm)
- Jumlah Daun (helai)
- Jumlah Cabang (cabang)
- Umur Berbunga (hari)
- Jumlah Polong per Tanaman Sampel (polong)
- Bobot 100 Bijiper Tanaman Sampel (g)
- Volume Akar (ml)
Berat 100 bibit tanaman diukur dengan menimbang 100 bibit kedelai dan dilakukan pada akhir penelitian untuk setiap plot. Pengukuran dilakukan setelah pemanenan, akar tanaman sampel dibersihkan terlebih dahulu dari tanah yang menempel pada akar kemudian dipisahkan dari bagian atas tanaman kemudian akar dimasukkan ke dalam gelas kimia berukuran 250 ml yang telah diisi dengan air. 100 ml air. Ardiningtyas, R.T 2013. Pengaruh penggunaan mikroorganisme efektif 4 (EM4) dan molase terhadap kualitas kompos pada pengomposan sampah organik di RSUD R.
2002. Potensi pupuk hayati dalam meningkatkan produktivitas kacang tanah dan kedelai di tanah seri Kandanglimun. Bengkulu. JIP4(1). Pengaruh Tingkat Kematangan Benih dan Cara Penyimpanan Terhadap Vigor dan Vigor Benih Kacang Jogo (Phaseolus vulgaris L.). Pengaruh pemberian pupuk organik cair yang dihasilkan dari residu sawi putih (Brassica chinensis L.) terhadap pertumbuhan tanaman jagung manis (Zea mays L.
Pengaruh Jenis Tanah dan Dosis Pemberian Jamur Mikoriza Arbuskula Pada Tanaman Kedelai (Glycinemax L. Merrill) Terhadap Sifat Kimia Tanah. Jurnal Agrista 17 (3). Pengaruh pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays sacharataL.). 2012. Penggunaan jamur mikoriza vesikuler arbuskula spesifik lokasi untuk efisiensi pemupukan pada tanaman jagung di lahan gambut tropis. Jurnal Agrovigor Vol.
Optimalisasi Pemanfaatan Mikoriza Arbuskular Vesikular Dalam Rehabilitasi Tanah Kritis. Prosiding Workshop Mikoriza untuk Pertanian Organik dan Rehabilitasi Tanah Kritis. Meningkatkan produktivitas, mutu dan efisiensi sistem produksi kacang-kacangan dan umbi-umbian menuju ketahanan pangan dan agribisnis. Potensi Jamur Mikoriza Arbuskula Vesikular Unggul dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Kesehatan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) Ilmu Pertanian.
Pengaruh cendawan lateks dan mikoriza terhadap P total, P tersedia dan pH tanah Ultisol. Jurnal Ilmiah Budaya Pertanian Vol.
Data pengamatan tinggi tanaman (cm) tanaman kedelai (Glicine max) Setelah aplikasi residu Brassicaceae dan Mikoriza Arbuskular Vesikular pada umur 2 tahun MST. Data pengamatan tinggi tanaman (cm) tanaman kedelai (Glicine max) Setelah aplikasi residu Brassicaceae dan Mikoriza Arbuskular Vesikular pada umur 3 tahun MST. Data pengamatan tinggi tanaman (cm) tanaman kedelai (Glicine max) Setelah aplikasi residu Brassicaceae dan Mikoriza Arbuskular Vesikular pada 4 MST.
Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Tanaman Kedelai (Glycine max) Setelah Aplikasi Limbah Brassicaceae dan Mikoriza Arbuskular Vesikular Umur 5 MST. Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Tanaman Kedelai (Glycine max) Setelah Aplikasi Limbah Brassicaceae dan Mikoriza Arbuskular Vesikular Pada 6 MST. Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Tanaman Kedelai (Glycine max) Setelah Aplikasi Limbah Brassicaceae dan Mikoriza Arbuskular Vesikular Umur 7 MST.
Data pengamatan jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikular umur 2 tahun MST. Data pengamatan jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikular umur 3 tahun MST. Data pengamatan jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikular umur 4 tahun MST.
Data pengamatan jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) Setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler pada umur 5 MST. Data pengamatan jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) Setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler pada umur 6 MST. Data pengamatan jumlah daun (helai) tanaman kedelai (Glycine max) Setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler pada umur 7 MST.
Data pengamatan jumlah cabang tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler pada umur 3 tahun MST. Data pengamatan jumlah cabang (ranting) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler pada umur 4 tahun MST. Data pengamatan jumlah cabang (ranting) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikuler pada umur 5 tahun MST.
Data pengamatan jumlah cabang (ranting) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikular umur 6 tahun WAP. Data pengamatan jumlah cabang (ranting) tanaman kedelai (Glycine max) setelah pemberian serasah Brassicaceae dan mikoriza arbuskula vesikular umur 7 tahun WAP.