• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Sampah Berdasarkan Jenisnya

N/A
N/A
zee

Academic year: 2024

Membagikan "Pemanfaatan Sampah Berdasarkan Jenisnya"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Pemanfaatan Sampah Berdasarkan Jenisnya

DI SUSUN OLEH :

FARAH SABILA SYADZA ( 1512000163)

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1745 SURABAYA FAKULTAS PSIKOLOGI

2020/2021

(2)

Kata Pengantar

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Pentingnya Memulai Sistem Memilah Sampah Berdasarkan Jenisnya” dapat tersusun sampai dengan selesai.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen yang telah berkontribusi dengan memberikan materi umum mengenai materi yang akan saya bahas pada makalah ini.

Saya berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan saya berharap lebih jauh lagi agar karya tulis ilmiah ini dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Perumusan Masalah 1.3. Tujuan

1.4. Manfaat

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Sampah Beserta Sumber Dan Jenisnya 2.2. Penanganan Sampah

2.3. Penanganan Bank Sampah III. METODELOGI

3.1 Pendekatan

3.2 Metode Pelaksanaan Kegiatan 3.2.1 Tempat dan Waktu 3.2.1 Bahan dan Alat 3.2.3 Metode Pelaksanaan

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk merupakan faktor utama dalam permasalahan sampah dan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Masalah persampahan tersebut sulit terselesaikan karena minimnya pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah. Sampah yang dihasilkan langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu. Sarana dan prasarana juga belum mendukung penanggulangan permasalahan sampah pada saat ini.

Biasanya limbah padat dari pertanian dan peternakan juga membutuhkan konsentrasi khusus, karena sebagian besar warganya masih membuang limbah tersebut tanpa diolah terlebih dahulu, dan lama kelamaan akan menumpuk di lingkungan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan terkait pengelolaan sampah dan penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di wilayah tersebut.

Menurut WHO sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2006). Sampah rumahtangga adalah sampah yang dihasilkan dalam kegiatan rumahtangga sehari-hari dan terdiri dari beberapa macam jenis sampah. Jumlahnya tergantung dari banyak atau sedikitnya tingkat konsumsi dari masing-masing rumahtangga tersebut dan semuanya berkaitan dengan pola hidup dari masing-masing keluarga. Di sisi lain tidak semua sampah yang dibuang akan mudah hancur butuh waktu berbulan-bulan dan bahkan ada yang berpuluh-puluh tahun baru bisa

(5)

hancur. Akibatnya jika volume sampah yang dihasilkan warga banyak, maka akan dibutuhkan lahan yang luas untuk TPA. Jika sampah dibakar, masalah yang ditimbulkan tidak kalah serius, Karena sampah yang dibakar akan menghasilkan zat atau gas yang dapat gangguan kesehatan dan sebagai pemicu kanker (karsinogenik), bahkan kematian.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 pasal 1 tentang sampah disebutkan bahwa sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik, bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan.

Pemanfaatan sampah harus diprioritaskan sebelum terjadinya pencemaran lingkungan yang mengganggu kesehatan masyarakat. Maka perlu adanya pengelolaan sampah yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Dalam Undang-Undang RI Tahun 2008 Nomer 18 tentang pengelolaan sampah disebutkan bahwa pengelolaan sampah bertujuan agar menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Masyarakat harus dibiasakan untuk memilah sampah kemudian memilihnya lalu mengubah sampah menjadi barang yang lebih berharga sehingga dapat membantu mengurangi limbah sampah yang sulit terurai.

Pengetahuan, sikap, dan keterampilan warga mengelola sampah rumah tangga untuk melakukan daur ulang juga menjadi hal penting dalam pengelolaan sampah sehingga ekonomi masyarakat bisa lebih maju dengan mengembangkan kerajinan layak jual dari limbah sampah.

Pemilahan sampah merupakan hal pertama dalam penanganan sampah yang berarti menjadi hal pokok yang perlu diperhatikan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah

(6)

melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri dari sampah yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), sampah yang mudah terurai, sampah yang dapat digunakan kembali, sampah yang dapat didaur ulang, dan sampah lainnya. Sedangkan menurut Sucipto (2012), dalam pemilahan sampah dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3.

Sampah organik merupakan sampah yang dapat membusuk atau dapat terurai kembali dengan bantuan bakteri lain. Sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos dan biogas. Sampah organik termasuk sampah yang mudah untuk dimanfaatkan kembali dan tidak berbahaya bagi bumi. Namun sampah organik yang tidak dirawat juga dapat menyebabkan gangguan lingkungan berupa munculnya bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar dan menyebabkan lingkungan terlihat kumuh. Oleh karena itu, meskipun dapat terurai dengan mudah, sampah organik juga perlu diperhatikan dengan baik. Sampah yang tidak bisa terurai oleh tanah biasa disebut sampah anorganik atau sampah non organik. Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sisa manusia yang yang sulit untuk diurai oleh bakteri, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama (hingga ratusan tahun) untuk dapat diuraikan. Sifat sampah anorganik yang susah terurai tersebut menyebabkan berbagai masalah karena beberapa sampah akan terurai dalam jangka waktu ratusan tahun sedangkan jumlah sampah tersebut semakin bertambah setiap harinya.Untuk sampah organik dapat diolah menjadi beberapa produk lain yang lebih bermanfaat seperti kompos organik dan pengganti gas LPG untuk memasak. Selain itu, beberapa sampah organik dapat dimanfaatkan tanpa perlu diolah.

Misalnya pemanfaatan sisa sayuran untuk pakan ternak seperti kambing ataupun hewan peliharaan seperti kelinci.

(7)

Sampah anorganik dapat diatasi dengan metode 3R (reduce, reuse, recycle) dan Bank Sampah. Berdasarkan tujuan inilah, maka pemerintah berupaya untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih menggunakan sistem kumpul-angkut-buang sebagi solusi pengurangan sampah. Pola pikir masyarakat diarahkan pada kegiatan pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemprosesan akhir. Sosialisasi terkait kegiatan pengurangan dan penanganan sampah telah banyak dilakukan yaitu dengan kegiatan pelatihan pengelolaan sampah melalui sekolah, pemerintah, daerah dan organisasi-organisasi berbasis lingkungan lainnya, salah satunya adalah melalui pembentukan Bank Sampah.

Dalam kegiatan Bank Sampah memiliki tujuan dibidang ekonomi dan bidang kesehatan, dibidang ekonomi sampah bisa ditabung di Bank Sampah dan dijadikan kerajinan yang memiliki nilai jual.

Pengelolaan sampah dibidang kesehatan memiliki tujuan yaitu lingkungan menjadi bersih, sehat, indah dan nyaman. Kegiatan Bank Sampah bersifat social engineering yang mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah serta menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah secara bijak dan pada gilirannya akan mengurangi sampah yang diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Pembangunan bank sampah merupakan momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk memulai memilah, mendaur ulang, dan memanfaatkan sampah karena sampah mempunyai nilai jual yang cukup baik, sehingga pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan menjadi budaya baru Indonesia. Tujuan kegiatan Bank Sampah akan tercapai apabila semua seluruh warga sekitar ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan sampah. Tetapi kurangnya kesadaran masyarakat

(8)

untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah merupakan masalah yang harus diselesaikan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari karya ilmiah ini :

1. Apakah pemilahan sampah organik dan anorganik itu bermanfaat bagi kita?

2. Bagaimana solusinya agar kita sebagai masyarakat dapat mulai belajar dalam memilah sampah organik dan anorganik?

3. Bagaimana cara membuang sampah berdasarkan jenisnya dengan baik dan benar?

4. Bagaimana Bank Sampah dapat membantu pengelolaan sampah masyarakat?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah :

1. Untuk memudahkan proses daur ulang pengelolaan sampah dengan maksimal

2. Untuk lebih menjaga kesehatan masyarakat 3. Untuk meningkatkan kebersihan lingkungan 4. Untuk menjaga kesehatan makhluk hidup lainnya 5. Untuk membantu dalam bidang perekonomian 6. Untuk menjaga kesejahteraan masyarakat

7. Untuk mengetahui pengaruh sampah dalam kehidupan sehari hari

8. Untuk membangkitkan kesaadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah berdasarkan jenisnya

(9)

1.4 Manfaat

Penulisan karya ilmiah ini mempunyai manfaat : a. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, yaitu pentingnya membuang sampah berdasarkan jenisnya. Agar mampu untuk lebih memahami cara cara memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Juga manfaat yang bisa didapat dalam mengelola sampah di berbagai bidang.

b. Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai informasi tentang pengolahan sampah terkait dengan keikutsertaan masyarakat dalam melakukan program Bank Sampah, penelitian ini nantinya semoga dapat bermanfaat sebagai referensi kajian untuk observasi lainnya dengan tema yang relevan.

c. Bagi Pemerintah

Untuk memberi masukan bagi pemerintahan setempat tentang pengelolaan sampah serta penerapan pemilahan sampah organik dan anorganik. Manfaat yang didapat dalam kegiatan pengelolaan sampah bagi pemerintah salah satunya adalah dalam bidang ekonomi yaitu dengan program Bank Sampah. Tidak hanya berkonribusi terhadap pengurangan sampah sebesar 1,7%, Bank Sampah ternyata juga menghasilkan pendapatan rata rata Rp1.484.669.825 per tahun.

Pengelolaan sampah juga memberikan dampak positif ke lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Jadi sangat membantu pemerintah dalam membasmi sampah di Indonesia.

(10)

d. Bagi Masyarakat

Agar para warga dapat memahami dalam rangka peningkatan kesadaran dalam pelaksanaan pengelolaan sampah. Manfaat pemilahan sampah organik dan anorganik ini juga memiliki banyak manfaat dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang ekonomi. Di dalam bidang ekonomi ini pengolahan sampah dapat diolah menjadi kompos dan pupuk. Sampah organik yang berbentuk dedaunan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti kambing, sapi dan hewan herbivora lainnya. Selain itu, dapat juga dibuat menjadi pelet untuk makanan ayam dan ikan. Dapat juga dijadikan produk yang memiliki nilai jual, seperti enceng gondok yang sudah dikeringkan dan dibakar dapat diolah kembali menjadi tas. Batok kelapa yang umumnya hanya digunakan sebagai bahan bakar, dapat juga dijadikan sebagai peralatan masak seperti centong, cangkir, dll. Di dalam bidang kesehatan tentunya ya agar kita dapat mengurangi limbah menumpuk dengan membantu proses daur ulang sampah. Manfaat lainnya juga dapat memperbaiki kesejahteraan rakyat Contohnya sampah sachet kopi instan yang dapat disulap menjadi tas belanja atau dompet cantik. Masyarakat yang melakukan proses daur ulang ini secara langsung akan memperoleh keuntungan dari pengelolaan sampah yang baik hingga proses daur ulang yang mudah dilakukan.

e. Bagi Lingkungan

Pengelolaan sampah juga bermanfaat untuk mengurangi jumlah sampah di laut. Tujuan lainnya adalah untuk membebaskan laut kita dari tumpukan sampah yang membahayakan makhluk hidup dan merusak laut merupakan hasil dari pemilahan atau pengelolaan sampah yang sembarangan. Juga agar dapat mengubah hidup dan lingkungan menjadi

(11)

lebih sehat karena hidup dengan lingkungan yang bersih dan sehat merupakan hal yang pentingdan utama. Pengelolaan sampah yang tepat dengan mengetahui setiap jenis sampah dan bagaimana cara memilah dan membuangnya dapat memberikan kontribusi yang positif untuk lingkungan sekitar. Lingkungan yang bersih nantinya akan menjauhkan kita dari segala jenis penyakit berbahaya, sehingga hidup menjadi lebih sehat dan terjaga kualitasnya. Jadi tidak hanya bermanfaat bagi manusia saja akan tetapi juga sangat bermanfaat bagi lingkungan seperti hewan darat, hewan laut, serta tumbuhan sekitar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sampah Beserta Sumber Dan Jenisnya

Sampah

Secara umum sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai atau sesuatu yang harus dibuang. Pada umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), yang bukan biologis (karena kotoran manusia tidak termasuk di dalamnya) dan umumnya bersifat padat (karena air bekas tidak termasuk di dalamnya).

Menurut UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan, baik karena telah diambil bagian utamanya, karena pengolahan maupun karena sudah tidak memberikan manfaat

(12)

dari segi sosial ekonomi serta dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup (Hadiwiyoto, 1983).

Menurut definisi World Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak diapakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2006).

Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya.

Berdasarkan SK SNI tahun 1990, sampah adalah limbah yang bersifat padat yang terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan dan melindungi infestasi pembangunan (Subekti, 2009).

Sejati (2009) menyebutkan bahwa sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang; merupakan hasil aktivitas manusia maupun alam yang sudah tidak digunakan lagi skarena sudah diambil unsur atau fungsi utamanya.

Dari urainan diatas, dapat dilihat bahwa ada persamaan dalam mendefinisikan sampah, yakni sampah merupakan sisa-sisa aktivitas manusia maupun alam yang berbentuk padat, serta sampah adalah benda yang telah dibuang dan dianggap tidak berguna lagi.

Sumber - Sumber Sampah

Menurut Gelbert dkk, sumber-sumber sampah adalah sebagai berikut :

(13)

a) Sampah permukiman, yaitu sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun/ halaman, dan lain-lain.

b) Sampah pertanian dan perkebunan, sampah kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk sampah bahan kimia seperti pestisida dan pupuk buatan perlu perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan.

Sampah pertanian lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan yang berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan gulma, namun plastik ini bisa di daur ulang.

c) Sampah dari sisa bangunan dan konstruksi gedung. Sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung ini bisa berupa bahan organik maupun anorganik. Sampah organik, misalnya:

kayu, bambu, triplek. Sampah anorganik, misalnya: semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca dan kaleng.

d) Sampah dari perdagangan dan perkantoran. Sampah yang berasal dari daerah perdagangan seperti: toko, pasar tradisional, warung, pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus, kertas, dan bahan organik termasuk sampah makanan dan restoran. Sampah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor pemerintah dan swasta biasanya terdiri dari kertas, alat tulis menulis (bolpoint, pensil, spidol dan lain-lain), toner foto copy, pita printer, kotak printer, baterai, bahan kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain.

Baterai bekas dan limbah bahan kimia haurs dikumpulkan secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena berbahaya dan beracun.

(14)

e) Sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari seluruh rangkaian proses produksi berupa bahan-bahan kimia serpihan atau potongan bahan, serta perlakuan dan pengemasan produk berupa kertas, kayu, plastik, atau lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan.

Notoatmodjo (2003) menggolongkan sampah berdasarkan dapat atau tidaknya terbakar. Sampah yang mudah terbakar (rubbish), misalnya : kertas, karet, kayu, plastik, kain bekas dan sebagainya.

Sampah yang tidak dapat terbakar, misalnya: kaleng-kaleng bekas, besi/logam bekas, pecahan gelas, kaca, dan sebagainya.

Sedangkan menurut Surakusumah (2008) menyebutkan beberapa sumber sampah. Sampah pemukiman (household refuse) adalah sampah campuran yang berasal dari daerah perumahan. Sampah pertanian merupakan sampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Sampah industri (industrial waste), terdiri dari sampah padat yang berasal dari industri pengolahan hasil bumi, tumbuh-tumbuhan dan industri lainnya.

Sampah hasil penghancuran gedung/bangunan (demolotion waste), yaitu sampah dari daerah pembangunan merupakan sampah yang berasal dari sisa pembangunan gedung, perbaikan dan pembaharuan gedung.

Sampah dari daerah ini mengandung tanah batu-batuan, potongan kayu, alat perekat, kertas dan lain-lain. Sampah industri, merupakan sampah dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan-bahan kimia serpihan/potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain/lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan).

Sampah industri berupa bahan kimia yang seringkali beracun memerlukan perlakuan khusus sebelum dibuang

(15)

Sampah Organik

Menurut Suprihatin et al., (1996) sampah organik atau sampah basah adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau yang dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, dan lain sebagainya. Sampah ini dapat terurai dengan mudah dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar adalah sampah organik. Contoh sampah organik adalah sampah dari dapur, sayuran, kulit buah, dan daun

Menurut Wikiedia sampah organik adalah barang yang sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik atau pemakai sebelumnya.

Sampah organik masih bisa dipakai jika dikelola dengan prosedur yang benar. Sampah organik dapat mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos). Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti dedaunan, jerami, alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis. Proses pelapukannya sampah organik dapat dipercepat oleh bantuan manusia.

Sebesar 95 persen sampah organik dapat dihasilkan dari pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan. Selain dari pasar khusus, 75 persen sampah organik berasal dari daerah pemukiman masyarakat. Sampah organik berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Berdasarkan jenisnya, sampah organik dapat dibagi menjadi dua, yaitu sampah organik basah dan sampah organik kering. Sampah organik basah ialah sampah yang memiliki kandungan air yang cukup tinggi yaitu buangan sisa makanan

(16)

anorganik adalah: potongan-potongan/ pelat-pelat dari logam, berbagai jenis batu-batuan, pecahan-pecahan gelas, tulang,belulang, dan lain-lain.

Sampah jenis ini, melihat fisiknya keras maka baik untuk peninggian tanah rendah atau dapat pula untuk memperluas jalan setapak. Tetapi bila rajin mengusahakannya sampah dari logam dapat kembali dilebur untuk dijadikan barang yang berguna, batu-batuan untuk mengurung tanah yang rendah atau memperkeras jalan setapak, pecahan gelas dapat dilebur kembali dan dijadikan barangbarang berguna, dan tulang- belulang bila dihaluskan (dan diproses) dapat untuk pupuk dan lain-lain.

Sampah Anorganik

Menurut Wikipedia arti dari sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non-hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang.

Yang dihasilkan dari bahan-bahan non hayati baik berupa produk sinterik maupun hasil proses teknologi pengelolahan bahan tambang atau sumber daya alam dan tidak dapat diuraikan oleh alam, Sampah anorganik adalah limbah yang tidak mudah membusuk, dan umumnya bukan berasal dari tumbuhan dan hewan, seperti kaleng, botol kaca, plastik, kertas, maupun pembungkus makanan. Berbeda dari limbah organik yang bisa diurai oleh alam, sebagian besar limbah anorganik tidak bisa diurai secara alami. Kalaupun ada yang bisa diurai alami, sampah tersebut membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan yang organik. Jika dibiarkan menumpuk, limbah anorganik bisa memicu berbagai penyakit berbahaya, seperti diare dan kolera. Selain itu, pencemaran lingkungan seperti pencemaran air dan tanah juga bisa terjadi. Sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit

(17)

terurai secara biologis. Proses penghancurannya membutuhkan penanganan yang lebih lanjut di tempat khusus. Sampah jenis ini disebut sampah kering.

Menurut Suprihatin et al., (1996) sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak terbarui, seperti mineral dan sisa-sisa hasil produksi. Secara keseluruhan, sebagian dari zat anorganik tidak dapat diuraikan oleh alam. Sedangkan sebagian lainnya lagi dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Contoh sampah anorganik adalah botol gelas, kaleng, dan logam.

2.2 Penanganan Sampah

Penanganan Sampah Organik

Sampah organik mengandung berbagai macam zat seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan sebagainya. Secara alami, zat-zat tersebut mudah ter-dekomposisi oleh pengaruh fisik, kimia, enzim yang dikandung oleh sampah itu sendiri dan enzim yang dikeluarkan oleh organisme yang hidup di dalam sampah. Menurut Literasi Publik, jenis-jenis teknologi penanganan sampah cukup banyak.

Contoh dari teknologi penanganan sampah yang umum dipakai antara lain sanitary landfill, incinerator, pengkomposan dan pakan ternak.

1. Sanitary landfill merupakan istilah dari bahasa inggris yang berarti pembuangan akhir sampah di suatu area terbuka skala besar secara “sehat” atau saniter. Yang dimaksud secara sehat

(18)

disini adalah bahwa tempat pembuangan itu dirancang untuk sedapat mungkin tidak mencemari lingkungan, misalnya dengan memberi lapisan kedap air pada dasar landfill, membuat saluran air lindi, pemipaan gas dan penutupan dengan lapisan tanah secara regular. Dengan sistem itu diharapkan masalah bau, lalat, polusi air atau tanah dapat direduksi atau dihilangkan. Adanya proses dekomposisi sampah di dalam sanitary landfill menghasilkan gasbio yang dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Dari literatur diperoleh gambaran bahwa produksi biogas dari sanitary landfill sebesar 20 – 25 ml/kg kering sampah/hari (Damanhuri, 2001). Sanitary landfill adalah ujung terakhir dari pembuangan sampah atau kita kenal sebagai tempat pembuangan akhir (TPA). Sistem ini akan menjadi sulit dilakukan terutama di kota-kota besar karena lahan yang tersedia sulit dicari.

2. Incinerasi adalah proses pembakaran sampah yang terkendali menjadi gas dan abu. Alat incinerasi disebut incinerator. Gas yang dihasilkan adalah karbondiokasida dan gas-gas yang lain yang kemudian dilepaskan ke udara. Sedangkan abunya dibuang ke TPA atau dicampur dengan bahan lainnya sehingga menjadi produk berguna. Untuk mendapatkan operasi incinerasi yang optimum dan efisien, proses pembakaran harus dikontrol sehingga residu yang dihasilkan sekecil mungkin dan emisi gas berbahaya dapat dicegah. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi proses pembakaran antara lain adalah karakteristik sampah, kontrol pembakaran (waktu, turbulensi, dan temperatur), suplai udara (oksigen), bahan bakar yang ditambahkan dan kontrol emisi gas (Pavoni et.al. 1975). Desain incinerator yang tidak sempurna akan menyebabkan terjadinya

(19)

polusi udara oleh gas buangnya dan polusi tanah dan air oleh pembuangan residunya. Adanya potensi pencemaran tersebut mempengaruhi masyarakat untuk berhatihati dalam menerima teknologi incinerator. Berdasarkan material sampah yang akan dibakar, incinerator terbagi atas berbagai jenis seperti incinerator di pusat pembuangan sampah (skala TPA), incinerator untuk kawasan terbatas (skala TPS untuk pemukiman), incinerator untuk bulky material (seperti ban bekas, perabotan rumah tangga bekas, sampah kayu, dsb), incinerator untuk sampah berbahaya (seperti sampah rumah sakit, sampah radioaktif, dsb), dan incinerator untuk lumpur (seperti lumpur dari saluran pembuangan sampah cair).

3. Pengkomposan adalah proses biologi yang dilakukan oleh mikroorganisme untuk mengubah limbah padat organik menjadi produk yang stabil menyerupai humus. Proses pengkomposan pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kriteria yakni berdasarkan penggunaan oksigen, suhu dan pendekatan teknik.

Jika penggunaan oksigen sebagai dasar, maka pembagiannya adalah aerobik (kondisi dengan menggunakan oksigen) dan anaerobik (kondisi tanpa oksigen). Proses pembuatan kompos secara aerob memanfaatkan jasad renik aerob dan ketersediaan oksigen selama proses berlangsung. Sedangkan proses anaerob, dekomposisinya dilakukan oleh jasad renik anaerob, dimana oksigen (udara) tidak diperlukan lagi. Ciri-ciri dari dekomposisi anaerob adalah suhu rendah (kecuali digunakan panas dari sumber luar), menghasilkan produk yang agak berbau serta prosesnya biasanya lebih lambat bila dibandingkan dengan pengkomposan secara aerob. Pengkomposan sampah organik

(20)

skala kawasan dan skala besar (centralised composting).

Pengkomposan skala rumah tangga dapat menggunakan komposter yang terbuat dari tong atau kotak bekas, sistem timbun di dalam tanah dan vermicomposting (pengkomposan dengan budidaya cacing). Pengkomposan skala kawasan dapat menggunakan sisten open windrow, bak aerasi, atau sistem cetak. Sedangkan pengkomposan skala besar biasanya menggunakan sistem open windrow.

4. Pelet pakan ternak yang dapat dibuat dari sisa-sisa makanan di warung makan atau restoran dapat dimanfaatkan menjadi pelet.

Teknologi ini sudah dipakai di Jepang. Pertama-tama, sisa makanan dicacah dan diblender menjadi bubur setengah padat.

Kemudian padatan tersebut masuk ke dalam screw press sehingga kadar airnya berkurang dan selanjutnya masuk ke peletizer. Padatan yang sudah menjadi pelet kemudian dikeringkan dan dikemas, siap menjadi pakan ternak.

Penanganan Sampah Anorganik

Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti botol kaca, botol plastic, bungkus makanan ringan, kantong plastic, kaleng, kertas, kain, keramik, logam, detergen. Sampah anorganik dapat diatasi dengan metode 3R (reduce, reuse, recycle).

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

1. Contoh kegiatan reuse :

(21)

 Pilihlah wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan beberapa kali atau berulang-ulang.

Misalnya, pergunakan serbet dari kain dari pada menggunakan tissu, menggunakan baterai yang dapat di charge kembali.

 Gunakan kembali wadah atau kemasan yang telah kosong untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya.

Misalnya botol bekas minuman digunakan kembali menjadi tempat minyak goreng.

 Gunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.

 Gunakan sisi kertas yang masih kosong untuk menulis.

 Gunakan email (surat elektronik) untuk berkirim surat.

 Jual atau berikan sampah yang terpilah kepada pihak yang memerlukan

2. Contoh kegiatan reduce :

 Pilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang.

 Hindari memakai dan membeli produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

 Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill).

Misalnya alat tulis yang bisa diisi ulang kembali).

 Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.

(22)

 Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi.

 Hindari membeli dan memakai barang-barang yang kurang perlu.

3. Contoh kegiatan recycle :

 Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai.

 Olah sampah kertas menjadi kertas atau karton kembali.

 Lakukan pengolahan sampah organic menjadi kompos.

 Lakukan pengolahan sampah non organic menjadi barang yang bermanfaat.

2.3 Penanganan Bank Sampah

Pengertian

Menurut Wikipedia, bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah.

Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah. Bank sampah dikelola menggunakan sistem seperti perbankkan yang dilakukan oleh petugas sukarelawan. Penyetor adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi bank serta mendapat buku tabungan seperti menabung di bank.

Bank sampah adalah tempat menabung sampah yang telah terpilah menurut jenis sampah. Sampah yang ditabung pada bank

(23)

sampah adalah sampah yang mempunyai nilai ekonomis. Cara kerja bank sampah pada umumnya hampir sama dengan bank lainnya, ada nasabah, pencatatan pembukuan dan manajemen pengelolaannya, apabila dalam bank yang biasa kita kenal yang disetorkan nasabah adalah uang akan tetapi dalam bank sampah yang disetorkan adalah sampah yang mempunyai nilai ekonomis, sedangkan pengelola bank sampah harus orang yang kreatif dan inovatif serta memiliki jiwa kewirausahaan agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Sistem kerja bank sampah pengelolaan sampahnya berbasis rumah tangga, dengan memberikan penghargaan kepada yang berhasil memilah dan menyetorkan sejumlah sampah. Konsep bank sampah mengadopsi menajemen bank pada umumnya. Selain bisa sebagai sarana untuk melakukan gerakan penghijauan, pengelolaan sampah juga bisa menjadi sarana pendidikan gemar menabung untuk masyarakat dan anak-anak.

Metode bank sampah juga berfungsi untuk memberdayakan masyarakat agar peduli terhadap kebersihan (Novianty, 2012).

Sistem Kerja

Sistem bank sampah ini bertujuan untuk menciptakan rekayasa sosial agar dapat mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan menguntungkan masyarakat serta lingkungan (Yayasan Unilever Indonesia, n.d.). Bank sampah memiliki sistem manajerial operasional yang sama dengan bank konvesional. Kegiatan operasional bank sampah dilakukan dan dikelola oleh masyarakat. Adapun mekanisme kerja bank sampah menurut Buku Panduan Sistem Bank Sampah adalah :

(24)

1. Pemilahan Sampah Rumah Tangga. Nasabah harus memilah sampah sebelum disetorkan ke Bank Sampah. Pemilahan sampah tergantung pada kesepakatan saat pembentukan bank sampah.

Misalnya, berdasarkan kategori sampah organik dan anorganik.

Biasanya, sampah anorganik kemudian dipisahkan lagi berdasarkan jenis bahan : plastik, kertas, kaca, dan lain- lain. Pengelompokkan sampah akan memudahkan proses penyaluran sampah. Apakah akan disampaikan ke tempat pembuatan kompos, pabrik plastik atau industri rumah tangga. Dengan sistem bank sampah, masyarakat secara tilak langsung telah membantu mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir. Sebab, sebagian besar sampah yang telah dipilah dan dikirimkan ke bank akan dimanfaatkan kembali, sehingga yang tersisa dan dibuang menuju TPA, hanya sampah yang tidak dapal bernilai ekonomi dan sampah B3.

2. Penyetoran Sampah ke Bank. Waktu penyetoran sampah biasanya telah disepakati sebelumnya. Misalnya, dua hari dalam sepekan setiap Rabu dan Sabtu, Penjadwalan ini maksudnya untuk menyamakan waktu nasabah menyetor dan pengangkutan ke pengepul. Hal ini agar sampah tidak bertumpuk di lokasi bank sampah.

3. Penimbangan Sampah, Sampah yang sudah disetor ke bank kemudian ditimbang. Berat sampah yang bisa disetorkan sudah ditentukan pada kesepakatan sebelumnya, misalnya minimal harus satu kilogram.

(25)

4. Pencatatan. Petugas akan mencatat jenis dan bobot sampah setelah penimbangan. Hasil pengukuran tersebut lalu dikonversi ke dalam nilai rupiah yang kemudian ditulis di buku tabungan. Pada sistem bank sampah, tabungan biasanya bisa diambil setiap tiga bulan sekali. Tabungan bank sampah bisa dimodifikasi menjadi beberapa jenis : tabungan hari raya, tabungan pendidikan dan tabungan yang bersifat sosial untuk disalurkan melalui lembaga kemasyarakatan.

Pada tahapan ini, nasabah akan merasakan keuntungan sistem bank sampah. Dengan menyisihkan sedikit tenaga untuk memilah sampah, masyarakat akan mendapat keuntungan berupa uang tabungan. Dengan sistem pengelolaan sampah yang

"konvensional", masyarakat justru harus mengeluarkan uang, membayar petugas kebersihan untuk mengelola sampahnya.

5. Pengangkutan sampah. Bank sampah sudah bekerjasama dengan pengepul yang sudah ditunjuk dan disepakati. Sehingga setelah sampah terkumpul, ditimbang dan dicatat langsung diangkut ke tempat pengolahan sampah berikutnya. Jadi, sampah tidak menumpuk di lokasi bank sampah. Bank sampah bisa berkembang menjadi sumber bahan baku untuk industri rumah tangga di sekitar lokasi bank. Jadi, pengolahan sampah bisa dilakukan oleh masyarakat yang juga menjadi nasabah bank. Sehingga, masyarakat bisa mendapat keuntungan ganda dari sistem bank sampah yaitu tabungan dan laba dari hasil penjualan produk dari bahan daur ulang.

Manfaat

(26)

Menurut Wikipedia, Bank sampah memiliki beberapa manfaat bagi banyak orang dan juga lingkungan hidup, seperti membuat lingkungan lebih bersih, menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan, dan membuat sampah menjadi barang ekonomis. Manfaat bank sampah untuk masyarakat adalah dapat menambah penghasilan masyarakat karena saat mereka menukarkan sampah mereka akan mendapatkan imbalan berupa uang yang dikumpulkan dalam rekening yang mereka miliki.

Masyarakat dapat sewaktu-waktu mengambil uang pada tabungannya saat tabungannya sudah terkumpul banyak. Imbalan yang diberikan kepada penabung tidak hanya berupa uang, tetapi ada pula yang berupa bahan makanan pokok seperti gula, sabun, minyak dan beras. Bank sampah juga bermanfaat bagi siswa yang kurang beruntung dalam hal finansial, beberapa sekolah telah menerapkan pembayaran uang sekolah menggunakan sampah.

Seorang dokter bernama Gamal Albinsaid menggagas sebuah asuransi kesehatan yang membayarnya dengan sampah. Asuransi kesehatan "sampah" ini dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus membayar dengan uang melainkan dengan sampah. Dokter Gamal bersama dengan rekannya juga membuat sebuah klinik kesehatan.

Masyarakat akan mendapatkan layanan kesehatan di klinik yang sudah tersedia dengan biaya dari asuransi ksehatan "sampah" yang mereka miliki. Setiap satu bulan sekali masyarakat akan menyetorkan sampah berupa botol plastik, kardus, dan sampah organik senilai sepuluh ribu rupiah sebagai premi asuransi. Layanan kesehatan yang di peroleh oleh masyarakat adalah layanan kesehatan dasar termasuk cek

(27)

gula darah dan cek kolesterol. Klinik asuransi "sampah" sudah berkembang menjadi lima klinik yang berada di Kota Malang.

BAB III METODOLOGI

3.1 Pendekatan

Pendekatan yang dilakukan adalah menginventarisasi sampah yang termasuk dalam sampah organik dan anorganik sehingga akan mudah untuk dipilah dan diolah lebih lanjut. Selanjutnya mencari solusi penanganan yang tepat sesuai dengan jenis sampah.

3.2 Metode pelaksanaan kegiatan 3.2.1 Tempat dan Waktu

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juni - Agustus 2021. Kegiatan memilah sampah berdasarkan jenisnya akan dilakukan di rumah Taman Kusuma Malang

3.2.2 Bahan dan alat

Bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah sampah organik, sampah anorganik, bakteri EM4, air, dan tetes tebu

Alat yang digunakan diantaranya bak sampah, sarung tangan, gunting, kantong plastik dan gelas ukur.

3.2.3 Metode Pelaksanaan

A. Pemilahan sampah berdasarkan jenisnya

(28)

Kegiatan pemilahan sampah diawali dengan pengumpulan sampah- sampah rumahtangga di lokasi sekitar Perumahan Taman Kusuma 1, Malang.

Sampah-sampah selanjutnya dipisahkan berdasarkan jenisnya. Sampah organik adalah sampah-sampah yang berasal dari bahan-bahan organik (bahan alami) seperti bahan makanan yang kita konsumsi, sampah sisa sayuran, buah, cangkang telur, tulang ikan, tulang ayam, sampah kertas dan sebagainya.

Sedangkan Sampah anorganik adalah sampah-sampah berupa bahan sintetis seperti plastik, kaleng, baterai maupun botol-botol hingga barang elektronik.

Sampah-sampah tersebut ditempatkan dalam kantong plastik yang terpisah.

B. Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos

Pembuatan kompos rumah tangga dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dimasukkan dalam galian tanah atau ditumpuk dalam sebuah gundukan

B.1 Pengomposan dalam galian tanah

Pembuatan kompos rumah tangga dapat dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut ;

1. Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah sampah organik berupa sisa daun- daunan, sisa sayuran, atau sampah dapur. Mikroorganisme pengurai sebagai aktivator yaitu EM4, air rendaman beras dan tetes tebu. Selain itu ditambahkan pula pupuk kandang atau pupuk buatan.

2. Sampah dicacah untuk mempercepat proses pengomposan. Sampah ditumpuk menjadi satu berupa gundukan, dimasukkan dalam galian tanah, lalu dipadatkan dan disiram air untuk mempertahankankan kelembaban kompos.

Stater bakteri EM4 disiramkan diatas gundukan sampah hingga merata.

Gundukan sampah diperlakukan dengan diaduk-aduk sekali seminggu dengan memindah-mindahkan sampah dengan membalik-balik.

(29)

3. Gundukan sampah dapat pula ditambahkan pupuk kandang yang diletakkan berupa lapisan-lapisan seperti di atas dibuat terus sampai ketinggian sekitar 1,5 meter, akhirnya ditutup dengan plastik untuk mencegah penguapan air.

4. Seminggu sekali dilakukan pembalikan kompos dengan cara memindahkannya ke galian yang disebelahnya yang telah disiapkan sebelumnya dengan susunan seperti semula, akan tetapi tidak perlu ditambah mikroorganisme pengurai/stater lagi, akhirnya tutup dengan plastik.

5. Sampah ini akan menjadi kompos setelah 4-6 minggu dan pada saat tersebut bau kompos hilang, pH-nya sekitar 5,5 dan sudah dapat digunakan sebagai pupuk tanaman

B.2 Pengomposan dalam gundukan yang ditutup plastik

Bahan organik yang dicoba untuk pupuk organik yaitu sampah organik dan kotoran sapi. Cara pembuatan kompos sebagai berikut :

a. Sampah organik dan kotoran sapi disiram larutan dekomposer EM4 (1 ml dekomposer + 1 ml molase + 1 l air) dengan dosis rekomendasi aplikasi adalah 1 liter untuk 1 ton bahan organik segar.

b. Bahan baku dicampur sesuai perlakuan dan diaduk sampai rata hingga terbentuk campuran dengan kadar air 30-40%.

c. Adonan digundukkan di atas ubin yang kering dengan ketinggian <50 cm, kemudian ditutup dengan karung goni.

d. Selama proses fermentasi, Suhu gundukan dipertahankan <50 oC dengan cara membuka karung goni dan diaduk sampai merata.

e. Kadar air adonan dipertahankan sekitar 30-40%. Jika kadar air kurang dari 30%

(terlalu kering) segera disemprot dengan air dan diaduk sampai merata.

f. Setelah kompos matang dan siap diaplikasikan, diantara tandanya adalah suhu stabil dan mengikuti standar SNI: 19-7030-2004.

Rancangan Respon

(30)

Pengamatan sebelum percobaan adalah analisa kimia sampel bahan dasar pembuatan kompos (Limbah daun tebu, bagas, blotong, kotoran sapi, dan abu ketel) meliputi pH, N, P, K, C, C/N, dan BO. Pengamatan suhu gundukan dilakukan pada jam 7.00 dilakukan setiap hari. Pengamatan derajat keasaman (pH) gundukan dilakukan 5 kali yaitu pada awal proses, pada saat suhu meningkat pada pertengahan, pada saat suhu tertinggi (puncak), pada saat suhu menurun pertengahan dan pada saat suhu stabil (kompos sudah jadi).

B.3 Teknik pembuatan kompos menggunakan Keranjang Takakura

Cara pembuatan kompos dengan menggunakan keranjang takakura sebagai berikut:

1. Isi keranjang kompos

a. Dua buah bantal berisi sekam b. Karton sebagai dinding

c. Mikroorganisma pengurai sebagai aktivator/Stater : air leri/air beras, jus tape, EM4

d. Sampah organik terutama daun/sisa sayuran e. Kain gelap sebagai penutup

2. Cara Penggunaan

a. Keranjang dilapisi dengan karton dengan diikat menggunakan bendrat/kawat sebagai dinding.

b. Bagian bawah/dasar bantal sekam/sabut.

c. Sampah organik dicacah/dipotong 2 – 4cm, dicampur mikroorganisma pengurai sebagai aktivator/Stater kemudian dimasukkan kedalam keranjang.

d. Setelah hampir penuh ditutup dengan bantal sekam/sabut dan ditutup dengan kain gelap kemudian keranjang ditutup kembali.

3. Cara Perawatan

Cara perawatan pembuatan kompos dengan menggunakan keranjang antara lain:

(31)

a. Hindarkan dari terik sinar matahari langsung b. Hindari dari air hujan/ditaruh ditempat yang teduh

c. 4-5 hari sekali keranjang dilihat apakah komposnya sudah kering. Kalau sudah kering dibasahi lagi dengan air lakukan terus sampai seluruh sampah menjadi hitam, hancur.

4. Cara Memanen

Cara memanen kompos dari keranjang takakura sebagai berikut:

a. Kalau sudah menjadi seperti tanah dipanaskan/dijemur sebentar kemudian diayak

b. Kemudian dipak dalam plasik sesuai dengan kebutuhan c. Ditempatkan di tempat yang teduh

d. Bisa digunakan sebagai stater awal pembuatan kompos

C. Pengolahan sampah anorganik menjadi olahan yang lebih bermanfaat C.1 Pembuatan Bubur Kertas

Bahan dan alat yang digunakan adalah baskom, blender dan gelas ukur.

lem kanji, PVA (lem putih), koran bekas, air secukupnya 2. Cara Membuat

a. Timbanglah kertas dengan perbandingan berat kertas dan lem 2 : 1.

Jadi jika kita menggunakan lem (lem kanji 50% dan PVA 50%) 600 gr, kita harus merendam kertas seberat 1.200 gr. Apabila menginginkan adonan lebih banyak atau lebih sedikit, tetap dengan perbandingan 2 : 1.

b. Rendam kertas yang sudah disobek-sobek dalam ember yang berisi air selama sehari semalam (lebih lama dari itu juga tidak apa-apa).

c. Hancurkan kertas dengan blender, sebaiknya dengan air yang banyak agar blender tidak cepat panas atau berhenti karena tidak kuat.

d. Pisahkan ampas kertas dari airnya menggunakan kain katun dengan cara memerasnya.

(32)

e. Letakkan ampas yang tertinggal di kain katun ke dalam baskom.

Campur dengan lem kanji/PVA (lem putih).

f. Aduk rata dengan tangan. Bantu sedikit dengan air agar lebih mudah mengaduknya. Aduk terus sampai ‘kalis’ atau lemnya tidak lengket- lengket di tangan

 Aneka Kerajinan dari Bubur Kertas 1. Celengan

Alat dan Bahan a. Toples bekas b. Cat air / acrylic c. Kuas

d. Solder e. Cetakan kue f. Bubur kertas Cara Membuat

a. Bubur kertas kemudian sedikit demi sedikit ditempelkan ke toples secara merata.

b. Lubang toples sementara ditutup dengan kertas karton supaya lubang tidak tertutup dengan bubur kertas (lihat gambar).

c. Bentuk tempelan dapat disesuaikan dengan permukaan.

d. Tambah dengan motif bintang ataupun bulatan sesuai kreasi kita yang dicetak menggunakan cetakan kue.

e. Setelah itu, toples yang sudah ditempel bubur kertas diangin-anginkan supaya kering. Waktu pengeringan agak lama bisa sampai 2 hari baru kering dan sebaiknya tidak dijemur langsung ke sinar matahari karena bubur kertas dapat retakretak dan kelihatan tidak rapih.

(33)

f. Setelah kering baru diwarnai dengan cat air dengan warna-warni sesuai dengan keinginan kita. Bubur kertas yang tidak terpakai ternyata masih cukup banyak dan bisa dibuat hiasan seperti bintang, kucing, dan bola. Prosesnya sama yaitu dibentuk sesuai pola yang diinginkan kemudian diangin-anginkan. Pada waktu masih basah warna agak gelap dan bila telah kering warna akan menjadi putih. Setelah kering kita beri warna

2. Bros/Pin Alat dan Bahan a. Peniti untuk bros b. Lem tembak c. Cat air/acrylic d. Kuas

e. Palet

f. Cetakan kue g. Sendok, garpu h. Bubur kerta Cara Membuat

a. Bentuk bubur kertas dengan menggunakan cetakan kue atau sesuai dengan selera. Bisa menggunakan sendok dan garpu untuk membuat bentuk bunga

b. Jemur hasil cetakan selama dua hari.

c. Hias hasil cetakan menggunakan cat air.

d. Setelah hiasan kering tempelkan peniti bros dengan lem tembak

3. Gantungan Kunci Alat dan Bahan

(34)

b. Cat air/acrylic c. Kuas

d. Palet

e. Cetakan kue/puding f. Bubur kertas

Cara Membuat

a. Siapkan cetakan kue, atau buat cetakan sendiri dengan bentuk sesuai dengan keinginan.

b. Cetak bubur kertas ke dalam cetakan.

c. Lepaskan bubur kertas dari cetakan, lalu beri gantungan. Gantungan dapat berupa tali atau kawat halus.

d. Angin-anginkan gantungan kunci dari bubur kertas hingga kering.

Hindari menjemur gantungan kunci di bawah sinar matahari langsung karena bubur kertas dapat retak-retak.

e. Setelah kering, amplaslah agar permukaannya halus.

f. Agar gantungan kunci makin cantik, warnailah dengan cat air/acrylic.

DAFTAR PUSTAKA

Agung Suprihatin, Dwi Prihanto, Michel Gelbert. 1996. Pengolahan Sampah.

Chandra B. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta. 2006

Damanhuri, E. (2001). Diktat Pengelolaan Sampah. Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB). Bandung

Gelbert M. dkk. Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup dan “Wall Chart”.

Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup. Malang : PPPGT/VEDC. 1996.

Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu.

Jakarta

Kuncoro Sejati. 2009. Pengolahan Sampah Terpadu. Yogyakarta: Kanisius

(35)

Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta:

PT. Rineka Cipta

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81, 2012. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Pavoni, J L, Heer, Jr, J E, and Hagerty, D J. 1075. Handbook of solid waste

disposal: materials and energy recovery. [Composting, sanitary landfill, innovations in disposal, materials recovery, energy recovery, European solid waste management, and selection of solid waste management techniques]. United States: N. p., 1975. Web.

Subekti, Sri. 2009. “Pengelolaan sampah rumah tangga 3R berbasis masyarakat

Pendahuluan.”Available at:

http://www.scribd.com/doc/19229978/tulisanbektihadini

Sucipto, Cecep Dani.2012. ”Teknologi Pengelolahan Daur Ulang Sampah”.

Yogyakarta: Gosyen Publishing. Hal 10

Surakusumah W. 2008. Permasalahan Sampah Kota Bandung Dan Alternatif Solusinya. [ Skripsi ] Jurusan Biologi. Universitas Pendidikan Indonesia.

Undang –Undang Republik Indonesia No. 18 Pasal 1, 2008. Pengelolaan Sampah.

Undang –Undang Republik Indonesia No. 18, 2008. Pengelolaan Sampah.

Wikipedia Indonesia, 2021. https://id.wikipedia.org/wiki/Bank_sampah

Yayasan Unilever Indonesia, Buku Panduan Sistem Bank Sampah 10 Kisah Sukses. https://www.unilever.co.id/id/Images/buku-panduan- sistem-bank-sampah-10-kisah-sukses-ina-id_tcm1310-

514974_id.pdf

Referensi

Dokumen terkait

 Informasi kompetensi yang akan dicapai tentang sumber daya alam non hayati dengan cara guru menanyakan pada siswa apa contoh-contoh sum- ber daya alam non hayati yang ada

Upaya pemanfaatan tailing dari hasil pengolahan tambang bijih menjadi bahan dasar industri bangunan merupakan suatu alternatif untuk mengurangi eksploitasi sumber daya

2000, Teknik Dasar Laboratorium dalam Penelitian Senyawa Bahan Alam Hayati, Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Bidang Kimia Organik Bahan Alam Hayati, FMIPA

Sebagai unit pelaksana teknis konservasi sumber daya alam, tugas pokok Balai Konservasi Sumber Daya Alam adalah penyelenggaran konservasi sumber daya alam hayati dan

· sumberdaya alam non hayati / abiotik adalah sumberdaya yang berasal dari benda mati seperti; bahan tambang, air, udara, batuan, dan lain-lain Sumberdaya

Teknik Dasar Laboratorium Dalam Penelitian Senyawa Bahan Alam Hayati, Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Bidang Kimia Organik Bahan Alam Hayati, FMIPA

Sumber Daya Alam dan Poin Penting Dalam Pengelolaanya Sumber daya alam adalah berbagai material bumi yang berguna seperti natubara, minyak bumi, gas alam, bahan tambang dan

proses pembelajaran dengan memberikan pertanyaan tentang materi pembelajaran berkaitan potensi sumber daya alam di Indonesia berupa sumber daya hutan, barang tambang, ikan,