UPAYA MENINGKATKAN EKSISTENSI WISATA DI DESA NGEBEL MELALUI WEBSITE “DOLAN NGEBEL”
Ekapti Wahjuni Djuwitaningsih1, Alvina Eka Rahmawati2, Siska Putri Willians Prawita3, Fadila Muajaba Kanasah4, Guszali Setiyoko5, Nugroho Kartiko Priyo Utomo6
ABSTRACT
Tourism is a travel activity carried out by a person or group of people by visiting certain places for recreational purposes, personal development, or studying the uniqueness of tourist attractions visited for a temporary period. Ponorogo Regency is one of the regencies that has a lot of tourism potential, one of which is Ngebel Village. One of the district government's efforts to improve the existence of tourism is by creating a "Dolan Ngebel" website. The purpose of this study is to find out how effective the “Dolan Ngebel” website is in promoting tourism in Ngebel Village. This study uses a qualitative descriptive method, namely data collection through interviews supported by reliable literature. The results of this study are to find out how big the impact of the "Dolan Ngebel" website on the existence of tourism in Ngebel Village.
Keywords: tourism; existence; naughty village
ABSTRAK
Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya Tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak potensi wisata, salah satunya Desa Ngebel. Salah satu upaya pemerintah kabupaten untuk meningkatkan eksistensi wisatanya dengan cara membuat website “Dolan Ngebel”. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa efektif website “Dolan Ngebel” dalam mempromosikan wisata di Desa Ngebel. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu pengumpulan data melalui wawancara yang didukung oleh literatur yang terpercaya. Hasil dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar dampak dari adanya website “Dolan Ngebel” terhadap eksistensi wisata yang ada di Desa Ngebel.
Kata kunci: wisata; eksistensi; desa ngebel
PENDAHULUAN
Kabupaten Ponorogo berada di wilayah teritorial Provinsi Jawa Timur, dan secara geografis Kabupaten Ponorogo mempunyai sumber daya alam yang berlimpah, dikarenakan dari berbagai faktor, misalnya perikanan, pertanian, dan perkebunan. Sarana pendukung aktifitas pertanian, perkebunan, perkebunan, masyarakatnya direalisasikan melalui pembuatan bangunan air yang terbentuk karena gejala alam maupun yang dibuat manusia, seperti bendungan, waduk, telaga, dan danau, dengan tujuan untuk menyimpan air yang bisa dipakai ketika musim kemarau, di wilayah Kabupaten Ponorogo ada satu telaga alami yang bernama “Ngebel”, keberadaannya berguna sebagai sumber air masyarakat di daerah sekitar, selain itu bangunan air ini menjadi ekosistem berbagai flora dan fauna yang hidup disekitar telaga tersebut. Telaga Ngebel juga telah lama dikenalkan sebagai obyek wisata, yang menawarkan berbagai destinasi wisata untuk kebutuhan hiburan dan edukasi bagi para wisatawan (Istijabatul Aliyah, 2016). Obyek wisata Telaga Ngebel ini terbentuk secara alamiah. Telaga Ngebel sendiri letaknya ada dikaki gunung Wilis atau posisi tepatnya berada di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo yang jaraknya sekitar 30 km dari pusat Kota Ponorogo. Obyek wisata ini adalah salah satu wisata unggulan daerah Ponorogo, yang posisinya berada di 750 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara yang berkisar antara 20-22 derajat celcius sehingga membuat wilayah itu dingin dan sejuk. Telaga Ngebel dalam perkembangannya merupakan salah satu destinasi yang paling banyak diminati oleh wisatawan pada tahun 2015 dikunjungi oleh wisatawan sebanyak 76.464 orang (Inka Fistana, Yusuf Adam Hilman, 2020b). Di Telaga Ngebel tersebut juga dapat menikmati durian Ngebel, sunset di 10 atas telaga, dan pelarungan dan pawai obor. Selain Telaga Ngebel ada beberapa wisata air terjun seperti Air Terjun Peletuk, Air Terjun Coban Lawe, dan Air Terjun Sunggah yang memberikan keindahan air terjun. Adapun dalam meningkatkan peran pemerintah daerah untuk mewujudkan pariwisata yang tercermin pada Pesona Ponorogo yang memberikan ruang kepada pemerintah agar mengawasi, mendukung, serta mewadahi semua hal untuk menunjang peningkatan pembangunan dan pengelolaan pariwisata di Kabupaten Ponorogo.
Partisipasi masyarakat begitu penting untuk proses pengembangan pariwisata.
Masyarakat perlu diajak untuk berperan dalam proses pengembangan potensi pariwisata di daerahnya. Masyarakat dianggap mengetahui tentang permasalahan dan kepentingan atau kebutuhan akan permasalahan pariwisata beserta dampak yang ditimbulkan. Wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara bisa dikenalkan terhadap potensi pariwisata yang banyak dimiliki oleh Provinsi Jawa Timur. Salah satunya di Kabupaten Ponorogo yang
memiliki beragam jenis pariwisata. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo memberikan perhatian untuk pembangunan sektor pariwisata Kabupaten Ponorogo. Hal tersebut bisa dilihat di salah satu misi Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo yakni terkelolanya semua sumber daya daerah menjadi lebih berdayaguna, unggul, produktif, berkelanjutan serta bermanfaat luas secara ekonomi dan sosial. Kabupaten Ponorogo memiliki banyak potensi pariwisata di berbagai bidang pariwisata. Salah satunya merupakan wisata alam Telaga Ngebel yang berada di Kecamatan Ngebel. Wisata alam Telaga Ngebel mulai diketahui banyak orang dengan adanya partisipasi masyarakat pada pengembangan kawasan pariwisata tersebut. Masyarakat mendukung terhadap adanya obyek wisata Telaga Ngebel karena memiliki nilai dan fungsi yang berdampak positif pada masyarakat sekitar. Selain itu wisata alam tersebut memiliki nilai mitos yang memberikan kesan mistis tentang obyek wisata Telaga Ngebel yang sudah dikenal masyarakat luas. Keindahan alam obyek wisata Telaga Ngebel mulai dikenal wisatawan sebab mempunyai panorama alam yang indah. Hal ini menjadi daya tarik untuk wisatawan berpariwisata ke obyek wisata Telaga Ngebel (SAPUTRO, 2019).
Pemerintah daerah berkomitmen untuk menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Selain itu, visi Pemerintah Kabupaten Ponorogo dianggap memiliki basis dukungan kuat terhadap sektor pariwisata. Kabupaten Ponorogo, mendukung sektor pariwisata dengan kebijakan anggaran.
Porsi anggaran sektor pariwisata dalam APBD pada tahun 2016, 2017 dan 2018 cukup tinggi.
Pemerintah daerah juga memberikan bantuan berupa alat kesenian kepada desa-desa wisata dan paguyuban-paguyuban kesenian. Adapun b entuk perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo terhadap pembangunan sektor pariwisata dapat dilihat dari salah satu misi Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo yakni terkelolanya seluruh sumber daya daerah menjadi lebih berdayaguna, unggul, produktif, berkelanjutan serta bermanfaat luas secara ekonomi dan sosial. Hal ini juga dapat dilihat dari RT/RW Kabupaten Ponorogo Tahun 2012- 2032, yang bertujuan penataan ruang Kabupaten Ponorogo untuk mewujudkan ruang wilayah yang produktif berbasis pertanian dan pariwisata unggulan agar berwawasan lingkungan hidup di Jawa Timur. Adapun kebijakan dalam penataan ruang yang berkaitan dengan pariwisata yaitu peningkatan potensi alam dan sejarah dalam mewujudkan pengembangan pariwisata unggulan serta pengembangan kawasan dan event wisata unggulan. Keberadaan Wisata Ngebel sebagai wisata andalan, seharusnya Dinas Parisiwata Kabupaten Ponorogo gencar mengembangkan potensi wisata dan peningkatan pelayanan. Penelitian ini yang
bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan dan pengemasan daya tarik wisata pada kepuasan wisatawan di kawasan wisata Telaga Ngebel (Kholiq, 2020).
Perkembangan pariwisata yang begitu pesat ini merupakan salah satu aspek penopang dalam pertumbuhan perekonomian di Ponorogo. Pertumbuhan pada sektor pariwisata tidak terlepas dari penyediaan jasa akomodasi, dan promosi melalui sektor informasi dan komunikasi. Perkembangan sektor pariwisata di Ponorogo tidak hanya berpengaruh terhadap terkenalnya nama Ponorogo, tetapi hal ini berpengaruh terhadap perekonomian di daerah wisata tersebut. Pengunjung wisata yang meningkat dapat memberikan dampak yang baik yakni meningkatnya permintaan produk-produk yang ada di sekitar daerah Ponorogo, baik produk barang maupun jasa.
STUDI PUSTAKA
Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kabupaten yang terletak di sebelah barat Provinsi Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Ponorogo memiliki kawasan yang cukup luas. Dari luasnya wilayah Kabupaten Ponorogo ini, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menyesuaikan kebutuhan jiwa dan raga. Kabupaten Ponorogo mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sarana dan Prasarana dalam sektor wisata, edukasi dan ruang terbuka hijau senantiasa ditingkatkan. Telaga Ngebel merupakan destinasi wisata yang diunggulkan dari Kabupaten Ponorogo. Karena, terbatasnya destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Ponorogo. Sehingga, pemerintah Kabupaten Ponorogo terus berupaya untuk mengembangkan potensi wisata di Telaga Ngebel. Sarana dan prasarana yang ada di Telaga Ngebel mulai dibenahi oleh pemerintah guna menarik minat wisatawan. Penghargaan Anugerah Wisata Jawa Timur pada tahun 2018 diraih oleh Kabupaten Ponorogo, membuat pemerintah daerah untuk terus berbenah dan berkomitmen untuk membangun sektor pariwisata.
Obyek telaga ngebel terbentuk secara alamiah. Telaga Ngebel sendiri terletak di kaki gunung Wilis, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Telaga Ngebel menjadi destinasi wisata yang paling banyak diminati wisatawan pada tahun 2015. Selain Telaga Ngebel, di Desa Ngebel atau disekitar destinasi Telaga Ngebel terdapat banyak destinasi lain seperti air terjun dan wisata alam mlokosewu. Obyek wisata Telaga Ngebel memiliki wilayah sebagian perbukitan dan daerah hijau serta memiliki topografi yang memperlihatkan dari daerah pegunungan. Obyek wisata ini memiliki jalan yang berkelok-kelok dan menanjak apabila wisatawan akan menuju ke lokasi obyek wisata tersebut. Ciri khas cuaca yang dimiliki di obyek wisatawan Telaga Ngebel yang dingin dan sejuk, menjadikan salah satu upaya untuk
menarik wisatawan. Adapun adat didaerah Telaga Ngebel yaitu Larung sesaji yang memiliki tujuan untuk melestarikan adat budaya masyarakat Kecamatan Ngebel dalam menyambut datangnya bulan Muharram. Selain hal tersebut, tujuan lain dari pelaksanaan kegiatan larung sesaji di Telaga Ngebel yakni agar ramai dan banyak wisatawan khususnya sekitar Kecamatan Ngebel. Kegiatan tersebut di wilayah Telaga Ngebel menjadikan tempat ini dapat dikenal oleh banyak orang. Adapun strategi dalam mengembangkan sarana dan prasarananya yaitu:
Kebijakan Umum Implikasi Kebijakan Meningkatkan Aksestabilitas
serta Trasportasi
a. Memperbaiki serta melebarkan jalan b. Menyediakan kendaraan akomodasi c. Menyediakan lahan parkir terpusat d. Memenuhi penerangan jalan
Melengkapi Fasilitas Pariwisata a. Membangun kantor pengelola pada destinasi wisata b. Membangun pusat sarana informasi pariwisata c. Membuat gazebo
d. Membangun pusat oleh-oleh souvenir
e. Membangun fasilitas pendukung seperti kamar mandi, musholla, penginapan dan lain sebagainya
Meningkatkan Kebersihan Lingkungan Sekitar
a. Memperbanyak tempat sampah serta papan informasi tentang himbauan kebersihan
Strategi mengembangkan produk wisata di Ngebel adalah diantaranya : Kebijakan Umum Implikasi Kebijakan
Membuat Wahana Hiburan a. Membangun wisata air
b. Mengelola kebun binatang berskala kecil c. Membangun wisata lain
d. Mengadakan event seni budaya Membangun Produk Wisata
Baru
a. Membuat argo wisata b. Membuat paket wisata
Meningkatkan Promosi a. Menjalin kerja sama dengan biro wisata serta media elektronik
b. Membuat pelatihan pemandu wisata atau tour guide
Strategi pengembangan ekonomi lokal, meliputi:
Kebijakan Umum Implikasi Kebijakan
Meningkatkan SDM Masyarakat a. Membuat pelatihan mengenai pengolahan makanan
b. Membuat pelatihan tentang pembuatan kerajinan tangan
Mengembangkan Organisasi Masyarakat a. Membentuk paguyuban PKL dan manajemen penginapan secara formal
b.Membuat pembinaan kelompok PKL dan manajemen penginapan
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Di mana penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ponorogo, dengan menitik beratkan penelitian ini di Desa Ngebel, Ponorogo. Informasi yang dikumpulkan berasal dari sosial media dan dari informan. Sumber dari media sosial tersebut diambil dari sumber-sumber yang terpercaya dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dalam hal ini, informan berasal dari penggagas website “Dolan Ngebel” dan beberapa masyarakat yang mengetahui tentang website tersebut.
HASIL PENELITIAN
Kabupaten Ponorogo secara administratif berada di wilayah teritorial Provinsi Jawa Timur, sedangkan secara geografis Kabupaten Ponorogo memiliki sumber daya alam yang berlimpah, dihasilkan dari berbagai faktor, seperti perikanan, pertanian, dan juga perkebunan.
Kabupaten Ponorogo juga memiliki beberapa wisata alam, salah satunya adalah Telaga Ngebel. Telaga Ngebel juga telah lama dikembangkan sebagai obyek wisata, yang menawarkan berbagai destinasi wisata untuk kebutuhan hiburan dan edukasi bagi para pengunjung (Istijabatul Aliyah, 2016). Obyek wisata ini merupakan salah satu destinasi unggulan daerah Ponorogo, yang posisinya berada di 750 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara yang berkisar antara 20-22 derajat celcius yang membuat wilayah itu dingin dan sejuk (Inka Fistana, Yusuf Adam Hilman, 2020). Dalam mempromosikan wisata tersebut, maka terciptalah ide untuk membuat website yaitu “Dolan Ngebel”.
Menurut sejarah terbentuknya awal mula digagas website “Dolan Ngebel” ini berawal dari sebuah riset oleh Ibu Dian Suluh Kusuma Dewi dan Bapak Jusuf Harsono yang merupakan dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Pembahasannya terkait E-Government, dan melakukan kerjasama dengan Bapak Insyira Yusdiawan Azhar juga merupakan dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Dalam pembuatan website “Dolan Ngebel” ini Bapak Insyira bekerja sama dengan partnernya yaitu Bapak Habib yang berutugas untuk merancang beberapa fitur dalam website tersebut, seperti sistem, konsep, dan hal-hal yang dibutuhkan lainnya.
Karena website tersebut berbentuk E-Government maka terdapat bentuk pelayanan dan konsep promosi. Selain itu juga menyertakan beberapa foto, video, dan deskripsi sebagai pendukung website “Dolan Ngebel”. Pada bagian pelayanan, dalam website tersebut meyediakan pelayanan hotel, restoran, dan tempat wisata untuk orang dewasa maupun anak- anak.
Dalam proses perancangan sistem tersebut, maka pihak yang bersangkutan juga melibatkan tokoh yang ada di Desa Ngebel yaitu bapak camat. Terbentuknya kerja sama ini bertujuan untuk mengevaluasi dari kinerja sistem di dalam website tersebut dan membandingkan dengan beberapa website wisata di tempat lainnya, seperti Jogja, Bali, Papua, dan kota-kota besar lainnya yang memiliki banyak potensi wisata. Dari banyaknya saran yang diperoleh bisa menjadi pertimbangan untuk memperbaiki beberapa kelemahan yang masih ada di dalam website “Dolan Ngebel” ini agar semakin berkembang. Website
“Dolan Ngebel” ini dibuat pada tanggal 17 Juli 2021 dan diluncurkan pada bulan Desember 2021 dimana membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk persiapan pembuatannya, dana yang dikeluarkan untuk membuat website ini sekitar 20–25 juta. Untuk mengembangkan beberapa fitur dalam website tersebut maka mereka menerjunkan beberapa tim dari mahasiswa dan dosen untuk mencari tahu mengenai potensi wisata yang ada di Desa Ngebel.
Kami melakukan wawancara dengan narasumber yang bersangkutan, akan tetapi beliau mengatakan bahwa masih banyak orang yang belum mengetahui tentang website “Dolan Ngebel” ini. Agar website tersebut naik, kita harus memainkan google dengan berusaha menaikkan reting website “Dolan Ngebel”. Dengan adanya website “Dolan Ngebel” ini cukup efektif untuk mendongkrak eksistensi wisata di Desa Ngebel. Terkait dengan kenyamanan orang dalam mengunjungi website ini digunakan dengan uji aksebilitas dan hasilnya sangat memuaskan.
Pada tanggal 30 Juli 2022, harga tiket masuk Telaga Ngebel mengalami kenaikan menjadi Rp. 15.000 dari yang sebelumnya Rp. 8.000. Menurut Disbudparpora, kenaikan tersebut sebanding dengan fasilitas yang diterima oleh masyarakat (Sakti, 2022). Bapak Insyira Yusdiawan Azhar menyatakan bahwa kenaikan harga tiket masuk telaga ngebel bukan disebabkan karena website “Dolan Ngebel” dan juga tidak berdampak signifikan terhadap website tersebut. Tetapi dampak dari kenaikan tersebut dirasakan oleh pelaku usaha di sekitar Ngebel. Hal tersebut bukanlah sebuah hambatan atau permasalahan untuk website tersebut. Yang menjadi hambatan bagi website “Dolan Ngebel” adalah:
1. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dimaksud adalah pada sisi websitenya. Dimana orang- orang yang menjalankan website tersebut adalah mahasiswa dan dosen. Sehingga, untuk memaksimalkan website tersebut, tidak dapat dilakukan sewaktu-waktu. Hanya dapat dilakukan ketika mahasiswa dan dosen yang tidak memiliki kesibukan belajar dan mengajar. Karena, padatnya kegiatan mahasiswa dan dosen tersebut membuat mereka sulit untuk membagi waktu. Selain itu dalam menjalankan dan memaksimalkan website tersebut diperlukan banyak survey, pengambilan gambar dan koordinasi dengan pihak- pihak terkait yang ada pada Telaga Ngebel.
2. Masyarakat Sekitar
Hambatan yang dirasakan selanjutnya adalah datang dari masyarakat yang ada di sekitar Telaga Ngebel. Masyarakat lebih memiliki cara konvensional dari pada masuk dan membiasakan diri dengan digitalisasi. Hal yang sama juga terjadi tidak pada satu (1) atau dua (2) tempat yang sama. Banyak permasalahan serupa yang dirasakan pada saat
mencoba mendigitalisasikan suatu pelayanan. Hal ini menjadi tugas bagi tim website
“Dolan Ngebel” untuk terus berupaya dan membiasakan masyarakat sekitar dengan digitalisasi tersebut.
3. Promosi
Permasalahan yang dihadapi adalah masalah promosi. Kurangnya dukungan dari berbagai pihak, membuat website ini masih kurang dikenal oleh khalayak ramai. Karena website ini adalah program yang dibiayai oleh Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN), maka dukungan dari pemerintah setempat juga tidak begitu dirasakan oleh para tim website.
4. Biaya
Permasalahan yang selanjutnya adalah permasalahan yang banyak terjadi di situasi yang berbeda. Menurut Bapak Insyira, biaya yang terbatas menjadi hambatan untuk mengembangkan website ini. Karena untuk membeli websitenya saja, harganya sudah sangat mahal. Harga website ada di kisaran Rp. 25.000.000. Belum lagi untuk mengembangkan fitur-fitur dan lain sebagainya. Karena dana yang masuk hanya dari BRIN saja.
Tujuan dari website ini adalah untuk mempromosikan wisata yang terdapat di wilayah Ngebel pada khususnya. Karena selama ini, Ponorogo kurang dikenal oleh masyarakat di sektor wisatanya. Melainkan yang terkenal dari Ponorogo adalah budaya Reog Ponorogonya. Maka dari itu, website ini dibangun untuk memperkenalkan lebih dalam tentang pariwisata yang ada di sekitar Ngebel dan Kabupaten Ponorogo. Karena disekitar Telaga Ngebel, sangat banyak destinasi wisata dan potensi wisata yang dapat menjadi tempat yang dapat dijadikan pilihan lain untuk berwisata selain Telaga Ngebel antara lain yaitu Mloko sewu, Pemandian air hangat, dan juga Kampung durian terkenal dengan duriannya yang lezat. Menurut Bapak Insyira, di tahun ke-3 berdirinya website “Dolan Ngebel”, tim dari website tersebut akan mengadakan training atau pelatihan yang sasarannya adalah pemuda yang ada di sekitar Ngebel untuk dilatih dan dikembangkan lagi pengetahuan Sumber Daya Manusianya supaya dapat mengelola website “Dolan Ngebel”.
Sasaran dari website “Dolan Ngebel” adalah masyarakat luas. Tidak hanya untuk masyarakat di Ponorogo. Namun permasalahan promosi kembali menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh tim “Dolan Ngebel”. Karena website ini belum banyak diketahui oleh banyak orang, namun setiap bulan pasti ada pengunjung yang mengunjungi website “Dolan Ngebel”.
Padahal, Bapak Insyira mengklaim bahwa website ini adalah website yang baik dan memiliki fitur yang sangat lengkap dibandingkan dengan website-website yang ada di wilayah lain. Karena beliau menyatakan bahwa beliau membeli website dengan fitur-fitur yang terbaik untuk hasil yang maksimal.
KESIMPULAN
Ponorogo adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki wisata alam sangat banyak, salah satunya adalah Telaga Ngebel yang berada di Desa Ngebel.
Keberadaannya berfungsi sebagai sumber air masyarakat di daerah sekitar, selain itu bangunan air ini menjadi ekosistem berbagai flora dan fauna yang hidup disekitar telaga.
Maka tak heran jika destinasi wisata Telaga Ngebel ini menjadi referensi liburan masyarakat Ponorogo maupun luar Ponorogo saat akhir pekan. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan sektor wisata di Kabupaten Ponorogo yang dibuktikan dari anggaran untuk sektor pariwisata dalam APBD tahun 2016, 2017, dan 2018 cukup tinggi. Untuk mengenalkan dan meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke wisata sekitar Desa Ngebel terutama Telaga Ngebel khususnya maka diperlukan promosi yang luas, karena hal tersebut tergagaslah sebuah ide untuk menciptakan website bernama “Dolan Ngebel” yang bertujuan untuk memperkenalkan wisata di wilayah Ngebel dan Ponorogo. Website ini sendiri memiliki fitur pelayanan dan konsep promosi yang menyertakan beberapa foto, video, dan deskripsi sebagai pendukung. Tetapi dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa hambatan, yaitu sumber daya manusia, masyarakat sekitar, masalah dalam promosi, dan yang paling umum adalah masalah biaya.
DAFTAR PUSTAKA
Inka Fistana, Yusuf Adam Hilman, B. T. (2020a). INVENTARISASI POTENSI WISATA DIKECAMATAN NGEBEL SEBAGAI PUSAT WISATA KABUPATEN PONOROGO. Jurnal Tata Sejuta, 6(1), 1–13. http://ejurnalstiamataram.ac.id
Inka Fistana, Yusuf Adam Hilman, B. T. (2020b). INVENTARISASI POTENSI WISATA DIKECAMATAN NGEBEL SEBAGAI PUSAT WISATAKABUPATEN PONOROGO. Jurnal Tata Sejuta, 6(1), 446–457.
Istijabatul Aliyah, R. S. (2016). PENGEMBANGAN KAWASAN KHUSUS TERPADU DI KABUPATEN PONOROGO. Cakra Wisata, 17(2), 52–68.
Kholiq, K. A. P. dan A. (2020). PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN PENGEMASAN DAYA TARIK WISATA TERHADAP KEPUASAN WISATAWAN DI NGEBEL PONOROGO. Jurnal Sosiologi Reflektif, 14(2), 407–423.
Sakti, S. A. (2022, Agustus 8). https://jatim.tribunnews.com/. From Tribun Madiun:
https://jatim.tribunnews.com/2022/08/08/harga-tiket-telaga-ngebel-ponorogo-naik- jadi-rp-15-ribu-disbudparpora-sebanding-dengan-fasilitas
SAPUTRO, A. W. (2019). WISATA TELAGA NGEBEL KABUPATEN PONOROGO TAHUN 1993-2000. Jurnal Pendidikan Sejarah, 7(2), 1–13.