PEMBAGIAN KERJA PADA PETANI GAMBIR
(Studi Kasus : di Jorong II Sungai Lolo Kenagarian Muaro Sungai Lolo Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman)
ARTIKEL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk MemperolehGelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
Oleh:
ASPET
12070138
HALAMAN PERSETUJUAN ARTIKEL
PembagianKerjaPadaPetaniGambir Di Jorong II Sungai Lolo KenagarianMuaro Sungai Lolo KecamtanMapatTunggul Selatan
KabupatenPasamanProvinsi Sumatera Barat
Nama :Aspet
NPM :12070138
Program Studi :pendidikanSosiologi
Institusi :SekolahTinggiKeguruandanIlmuPendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat
Padang, Agustus 2016
Disetujuioleh,
Pembimbing I Pembimbing II
Isnaini, S.Sos, M.Si InokiUlama Tiara, S.Sos, M.Pd
Aspet (NPM: 12070138). Work divisions of gambier farmer in Jorong II Sungai Lolo Muaro Sungai Lolo Village South Mapat Tunggul Sub District Pasaman District West Sumatera.
Thesis. Sociology Department Collage of Teacher Training and Edication STKIP PGRI West Sumatera, Padang, 2016.
Oleh :
Aspet1, Isnaini2, Inoki Ulma Tiara3
*The Sosiology Education Student of STKIP PGRI West Sumatera.
** The Sosiology Staff of Sosiology education of STKIP PGRI West Sumatera.
ABSTRACT
Motivated by the backgroud of this research was the complict between gambier farmer, because of there is no work divisions there based on pre observation on Februari 2016, the reseacher found that most of the gambier fermers are less consistent on working end its couse the problems between the gambier frmers. To avoid the problems, it is necessary to do work dividon on gambier farmers in order to avoid the negative problems between gambier farmers. The aim of this research is to know work division of gambier farmers in Jorong II Sungai Lolo Muaro Sungai Lolo Village South Mapat Tunggul Subdistrict Pasaman District West Sumatera.
The ory of this research is social construction from Berger. This research is qualitative with districtive tipe. The informan of this research are fifteen of gambier farmers which consist of three peoples that often used as Nodo, nine peoples that of ten used as Anak Kewi, and three farners as the farm keepers. This research is used purposive sampling in choosing the informan.
Kinds the data are primari data and secondary data. Method of data collection are by observation, deep interview and document analisys. The unit ananlisys is group. In analisys the data is used four models analisys stages, the are: (1) Data collecting, (2) data reduction, (3) data presentation (4) conclusion. The findings of this research shows that work divisions on gambier farmer consist by three kinds of work divisions, the are : first, procession, the weeding of the gambier farm, and supervision gambier garden.
Key words: Work Division, Gambier
1
ABSTRAK
Aspet (NPM:12070138). Pembagian Kerja Pada Petani Gambir di Jorong II Sungai Lolo Kenagarian Muaro Sungai Lolo Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Skripsi. Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang, 2016.
Penelitian ini di latar belakangi oleh adanya
konflikantarapetanigambirkarenatidakadanyapembagiankerjapadapetanigambirtersebut.
Berdasarkan observasi awal bulan Februari 2016 lalu, peneliti menemukan data dilapangan bahwa kurang konsistennya para petani gambir dalam bekerja sehingga sering menimbulkan permasalahan-permasalahan diantara mereka.Untuk menghindari terjadinya permasalahan tersebut maka perlu adanya pembagian kerja pada petani gambir agar tidak terjadinya permasalahan- permasalahan yang bersifat negatif di antara petani gambir tesebut.Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipembagiankerjapadapetanigambir di Jorong II Sungai Lolo KenagarianMuaro Sungai Lolo KecamatanMapatTunggul Selatan KabupatenPasaman
Teori yang digunakan adalah teori KonstruksiSosial menurut Berger. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dangan tipe deskriptif. Informan pada penelitian ini 15 orangpetanigambir.Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Unit analisinya kelompok. Analisis data digunakan dengan model analisis data yang mencakup dalam tahapan, yaitu (1) pengumpulan data (2) tahap reduksi data (3) tahap penyajian data (4) penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa, pembagian kerja pada petani gambir yaitu terdiri dari tiga macam yaitu Mengolah, Penyiangan dan Mengawasi kebun gambir
Kata Kunci: Pembagaian Kerja, Gambir
2
PENDAHULUAN Indonesia
merupakannegaraberkembangdengansektorp ertaniansebagaisumbermatapencahariandari mayoritaspenduduknya.Dengandemikianseb agianbesarpenduduknyamenggantungkanhid upnyapadasektorpertanian.Sebagianbesarpen ggunaanlahan di wilayah Indonesia diperuntukkansebagailahanpertanianhampir
50% dari total
angkatankerjamasihbergantungnasibnyabeke rjadisektor pertanian (Dillon, 2004 :25).
Realitassosialkehidupanekonomipetani di Indonesia
hendaknyaperludipikirkansebagaiwacanadal ammewujudkansuatupolapembangunan yang berkeadilandanbertanggungjawab.
Variasitipedansistempertanian yang
ada di Indonesia
secaralebihkhususjugadapatdilihatlewattipol
ogipertanian yang
dikemukakanolehMubyarto (dalamRahardjo, 1999 : 136). Denganmelihatkenyataan yang
ada di Indonesia
Mubyartomembedakantipepertanianrakyatda nperusahaanpertanian.Pertanianrakyatdiusah akansebagaipertaniankeluarga, baik yang
subsistemmaupun yang
setengahsubsistem.Perusahaan
pertanianadalahusaha yang
sepenuhnyabersifatkomersial, sepertidalamperkebunan
modern.Pertanianrakyat yang ciriutamanyaberskalakecildanuntukkepentin gankeluargatersebut,
mencakupkegiatanpertanianpangan
(sepertipadidanpalawija) danjugaholtikultura (sayur-sayurdanbuahbuahan).
Masyarakat pedesaan pada umumnya bekerja di sektor pertanian untuk melangsungkan hidupnya baik itu dalam sektor pertanian kering maupun sektor pertanian basah. Petani disektor pertanian kering seperti, kebun coklat, nilam, gambir, karet dan lain-lain. Sedangkan pertanian disektor pertanian basah seperti sawah, kolam ikan dan lain-lain (Koentjaraningrat,
atau 34 % total produksi gambir di Kabupaten 50 kota (BPS Sumatera Barat, 2005). Walaupun demikian, harga gambir yang dinikmati petani jauh lebih kecil dari harga pasaran internasional. Kondisi ini disebabkan rendahnya produktifitas dan mutu produk, akibat dari cara budidaya dan proses pasca panen atau pengolahan belum optimal dan minimnya dukungan teknologi.
Proses produksi tersebut umumnya masih sederhana dan dilakukan turun temurun (tradisional). Kondisi proses ekstraksi (pengempaan) yang sangat tradisional dalam upaya menghasilkan gambir pada saat ini, menyebabkan mutu produk tidak dapat dikontrol dengan baik.
Mutu gambir yang dipasarkan harus memenuhi kriteria mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga dapat diperkirakan bahwa tanaman gambir mempunyai prospek masa depan yang cerah, namun penguasaannya menemui kendala-kendala, diantaranya terjadi kendala dalam proses pemasaran dalam negeri sebelum menjadi komoditas ekspor. Belum ada rantai distribusi yang jelas dari petani sampai industri berbahan baku gambir. Sementara itu, hasil panennya hanya di tampung oleh pedagang perantara saja yang nantinya akan memperdagangkan gambir keluar wilayah (hasil pengamatan lapangan, 10/2/2016).
Gambir dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian 200-800 m di atas permukaan laut, mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya gambir ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Budidaya gambir biasanya semi intensif, jarang diberi pupuk tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan (Eco, 2016 : 114-118).
Di Sumatera Barat tanaman ini tidak menyebar pada seluruh wilayah, akan tetapi terpusat pada Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pesisir Selatan. Tanaman gambir yang ada di Pesisir Selatan pun berasal dari Lima Puluh Kota, dibawa oleh pedagang
3
Potensi gambir sangat mungkin dikembangkan karena gambir juga terdapat di wilayah Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman. Gambir bisa tumbuh dilahan kritis dan tidak perlu perawatan khusus meski tidak berarti bisa dibiarkan. Gambir hanya memerlukan pupuk kandang atau urea bagi daunnya yang akan diambil sebagai bahan baku cat, pewarna pakaian dan obat sakit perut (diare).
Pengolahan gambir dilakukan setiap hari kecuali hari Jum’at. Gambir dijual dalam bentuk kering dari endapan daun gambir yang dimasak seharga Rp 18.000 perkilogram dijual ke toke atau pengepul sementara di dalam wilayah Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman itu sendiri sebagai pengepul sementara sebelum dijual ke pabrik. Sayangnya hasil belum maksimal, banyak petani masih menanam, memelihara dan mengolah hasil pertanian secara tradisional (hasil Pengamatan lapangan, 10/2/2016).
Bagian gambir yang dipanen adalah daun dan ranting yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan ekstrak gambir yang bernilai ekonomis. Panen dan pemangkasan daun dilakukan setelah tanaman berumur 1,5 tahun. Pemangkasan dilakukan 2-3 kali setahun dengan selang 4-6 bulan. Pangkasan daun dan ranting harus segera diolah, karena jika pengolahan ditunda lebih dari 24 jam, getahnya akan berkurang. Secara garis besarnya ada beberapa tahapan pengolahan yag harus dilalui, setelah membawa bahan yang telah dipanen ke tempat kempa dan dilakukan penimbangan bahan (http://id.wikipedia.org).
Tahapan pengolahan gambir terdiri dari : (1) pengambilan bahan, bahan yang diambil adalah daun dan ranting, kemudian dimasukkan dalam keranjang terbuat dari rotan (ambuang). (2) Bahan yang sudah diambil dimasukkan dalam drum yang dibentuk seperti tabung dengan ukurannya 100 cm (kopuak) kemudian direbus dalam wadah (koanca) yang telah berisi air mendidih. (3) Pengempaan bahan yang sudah direbus selama 45-60 menit.
Kemudian bahan yang sudah masak dikempa dengan melilit bahan dengan tali sehingga bahan berbentuk bulat dan padat.
Setelah itu ditiriskan getahnya dengan menggunakan dongkrak 32 ton untuk mengeluarkan getahnya. (4) Getah yang
sudah ditiriskan dimasukkan ke dalam wadah lobang tanah sebelum dimasukkan ke wadah pengendapan (piaku) selama sehari semalam. (5) Proses pencetakan, alat pencetak yang dibuat dari tabung farpum (cupak) yang dipotong atas bawahnya sehingga berbentuk tabung dan diisi kayu bulat didalamnya. Ukuran cetakan getah gambir yaitu 5 cm yang diletakkan dan disusun dengan rapi di atas wadah yang terbuat dari bambu (silayan). (6) Proses pengeringan dengan menjemur dengan cahaya matahari atau diatas tungku (koghan). Proses pengeringan ini dilakukan selama 3-4 hari, atau tergantung cuaca jika dijemur dengan cahaya matahari (hasil pengamatan lapangan, 10/2/2016).
Pengambilan bahan dan memasukkan bahan kedalam kopuak ini adalah pekerjaan anak kewi secara bergantian. Sedangkan pekerjaan seperti memasak, pengempaan, pemerasan, pengendapan dilakukan oleh nodo dan semua pekerjaan dirumah kempaan dikerjakan oleh nodo kecuali pekerjaan mencetak (moncupak) getah gambir yang telah di endapkan selama sehari semalam, dan pekerjaan menjemur hasil getah gambir yang telah dicetak (dicupak) dilakukan secara bersamama, yaitu dilakukan oleh nodo dan anak kewi setiap jam sebelum masuk pekerjaan seperti mengambil bahan oleh anak kewi dan memasak bahan oleh nodo dan pada saat jam istirahat sekitar jam 12 sampai jam 1 siang.
Berdasarkan observasi awal di Jorong II Sungai Lolo dan di Jorong I Muaro Kenagaraian Muaro Sungai Lolo Kecamtan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman bulan Februari 2016 lalu, peneliti banyak menemukan banyak petani gambir yang mengatakan sering terjdinya hal-hal yang tidak diinginkan pada petani gambir di antaranya yaitu kurang konsistennya para petani gambir dalam bekerja sehingga sering menimbulkan permasalahan-permasalahan di antara mereka, petani gambir sering mogok kerja karena ketidak serasian antara rekan kerja dan pernah juga terjadi perkelahian. Permasalahan seperti ini pernah terjadi pada tahun 2015 yang lalu.
Sejak terjadinya permasalahan tersebut, petani gambir dan pemilik kebun mengadakan musyawarah untuk membuat sebuah kesepakatan tentang pembagian kerja
4
yang berisi norma dan peraturan dalam bekerja pada petani gambir dan bagi yang melanggar norma dan aturan yang telah di sepakati tersebut maka pemilik gambir akan memberikan sangsi yang tegas kepada petani yang melanggar norma dan aturan yang telah di sepakati tersebut. Adapun fungsi dari adanya kesepakatan pembagian kerja tersebut ialah untuk menghindari terjadinya permasalahan yang bersifat negatif dan permaslahan yang memicu konflik di antara petani gambir.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang
digunakandalampenelitianiniadalahpendekat ankualitatif.jenispenelitiankualitatif, dengantujuanmembuatdeskripsi,
gambaran/lukisantentangsuatukeadaanbagai manaadanya.
Penelitianinimenggunakanpendekatankualita tifdengantipedeskriptifanalitismembangunpa ndanganmereka yang diteliti yang rinci,
dibentukdengan kata-kata,
gambaranholistikdanrumit.Definisiinilebihm elihatperspektifemikdalampenelitianyaitume mandangsesuatuupayamembangunpandanga nsubjekpenelitian yang rinci,
dibentukdengan kata-kata,
gambaranholistikdanrumit (Moleong, 2013:6.Alasanpenelitimemilihpendekatanku alitatifyaitudianggapmampumenggambarkan suatukenyataanataufenomena yang adadilapangandanbisamenjelaskanmasalah yang akanditelitisecaramendalamtentang Pembagian kerja pada petani gambir.
Tipedeskriptifmerupakan data yang dikumpulkandalampenelitianadalahberupa kata-kata, gambardanbukanangka-angka, halini
disebabkanadanyapenerapankualitatifdanlap oranpenelitianakanberisikutipan-kutipan data
untukmemberigsmbaranpenyajianlaporan
(Moleong, 2010:11).
Menggunakantipedeskriptifinipenelitiinginm endeskripsikantentangpembagiankerjapadap etanigambir di Jorong II Sungai LoloKenagarianMuaro Sungai Lolo
menjadiinformansesuaidengankriteriaterpilih yang
relevandenganmasalahpenelitiantertentu (Bungin, 2011:107).Jadiinforman ditetapkansengajaolehpenelitiberdasarkanata skriteriaataupertimbangantertentu.
MenurutSugiono (2011), menyebutkanbahwasampelpenelitiankualitati f
diambildarinarasumber/informanpenelitiany
aitu orang yang
dianggapbenyakmengetahuiinformasimenge naitemuanpenelitian. Informanadalahorang dimanfaatkanuntukmemberikaninformasitent angsituasidankondisilatarpenelitain. Adapun kriteriainforman yang digunakan dalampenelitian iniadalah pemilik kebun gambir, pekerja gambirdi Jorong II Sungai LoloKenagarianMuaro Sungai Lolo KecamatanMapatTunggul Selatan KabupatenPasaman. Dimanamasyarakat petani gambir dianggapbisamemberikan informasitentangbagaimanabentukdan sistem
pembagiankerjapadapetanigambiritusendiri.
Menggunakan mekanisme sengaja atau Purposive Sampling, peneliti menetapkan kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh orang yang di jadikan sumber informasi. Teknik Purposive Sampling di gunakan untuk mencari data awal mengenai informasi petani yang terlibat konflik. Alasan peneliti memilih mekanisme Purposive Sampling karna penelitian yang di lakukan lebih dahulu menentukan kriteria tertentu. Adapun kriteria tertentu dalam penelitian ini yaitu:
1. Pemilik kebun gambir 2. Petani yang mengolah gambir 3. Petani penyiang kebun gambir informan yang di ambil dalm penelitian ini yaitu orang-orang yang pernah mengolah gambir (mengampo) dan mempunyai pengalaman dalam bidangnya sendiri. Jumlah informan yang di pakai dalam penelitian ini sebanyak 15 orang.
A. Gambaran Umum Tentang Petani Gambir Di Kejorongan II Sungai Lolo
5
5
gambir setelah selesai mengolah (mengampo)-nya. Sedangkan jarak tempuh dari kampung ke kebun/ladang gambir sejauh 2-5 kilo meter.
B. Pembagian Kerja Pada Petani Gambir 1. Mengolah
a. Nodo
Nodo yaitu julukan kepada petani gambir dalam mengolah (ngampo) yang bertugas menyelasaikan pekerjaan dirumah kampan. Nodo dalam melakukan pengolahan gambir hanya satu orang saja. Adapun kriteria yang dijadikan sebagai Nodo yaitu mempunyai keahlian dan disiplin dalam melakukan pengolahan (mengampo) dan bisa meningkatkan hasil getah gambir yang diperoleh. Adapun rincian pekerjaan yang dilakukan oleh nodo yaitu.
Menghidupkan api di tungku memasak gambir, memasak bahan dengan sempurna, melilit bahan yang sudah masak, mendongkrak ke-2, menjemur hasil, membuang ampas, mengambil air, mencetak (moncupak), menimba air dari dalam waduk penirisan, menyaring sampah, membersihkan tali rajut(ajuik) dan waduk tempat bahan mentah gambir(kopuak) yang akan diisi selanjutnya.
b. Anak Kewi
Anak Kewi yaitu julukan kepada petani gambir yang melakukan pekerjaan di luar rumah kampan dan pekerjaan di tengah kebun atau ladang gambi tersebut.
Anak Kewi yang dibutuhkan dalam mengolah satu bidang kebun atau ladang gambir yaitu dua orang. Anak Kewi harus mempunyai skil, bekerja cepat dan di simplin dalam melakukan semua tugas yang telah di tetapkan sebagai pekerjaan untuk anak Kewi tersebut. Adapun rincian pekerjaan yang dilakukan oleh anak Kewi yaitu, mengambil bahan (moate), mengisi kopuak, mendongkarak pertama,menumbuk
(monumbuak),meniriskan(monirih).
c. Menyiang Kebun Gambir
Menyiangi kebun gambir yaitu membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman gambir.
Pekerjaan menyiangi kebun gambir
dilakukan setiap kali setelah selesai mengolah gambir jika gambir tersebut sudah bisa di olah. Di Jorong II Sungai Lolo yang melakukan pekerjaan menyiangi Kebun gambir ini biasanya dilakukan oleh perempuan dan ada juga laki-laki dengan upah yang diberikan kepada pekerja yaitu Rp 70.000/hari-nya.
Menyiang kebun gambir ini dilakukan setiap hari setelah gambir tersebut selesai diolah (dikampo) dan pekerjaan menyiang kebun gambir ini dilakukan sekali dalm empat bulan (hasil obsevasi lapangan 11 Juli 2016).
d. MengawasiKebun Gambir
Tugas pemilik kebun jika mereka tidak ikut mengolah, mereka akan pergi keladang atau ke kebun gambir untuk mengawasi pekerja dan mengantarkan kebutuhan pekerja. Kegiatan seperti ini di lakukan oleh pemilik gambir dua kali dalam seminggu
KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dari informan tentang pembagian kerja pada petani gambir di Kenagarian Muaro Sungai Lolo Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman Privinsi Sumatera Barat dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga jenis pembagian kerja padapetani gambirtersebut.(1) Mengolah (mengampo), (2) Menyiang kebungambir (3) mengawasi kebun gambir
b. SARAN
1. Kepada petani gambir, dengan adanya pembagian kerja pada petani gambir ini hendaknya tidak pernah lagi terjadi konflik maupun hal-hal yang bersifat negatif
2. Kepada pemilik kebun gambir diharapkan lebih memperhatikan apa saja kebutuhan yang diperlukan oleh pekerja jika pemilik kebut tidak ikut dalam mengolahnya
3. Bagi peneliti, setelah mengetahui gambaran tentang pembagian kerja pada petani gambiar di Kenagarian Muaro Sungai Lolo Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat, maka bagi peneliti yang
6
7
6
berminat penelitian ini perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk lebih dapat mengetahui dampak dari adanya pembagian kerja pata petani gambir.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik. Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Dalam Angka.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasaman
Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif.
Jakarta: Kencana.
Bungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa:Kekuatan Pengaruh Media Massa,Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, (Jakarta:
Kencana,), 14-15.
Badan Pusat Statistik. Kecamatan Mapat Tunggul Selatan Dalam
Angka.
Badan Pusat Statistik Kabupaten PasamanBungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif.
Jakarta: Kencana.
Pedon, Eko. 2016. Jurnal Budidaya Tanaman Gambir. UNAND Profi Nagari. 2016. Kenagari Muaro Sungai
Lolo. Profil Nagari Muaro Sungai Lolo
Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan Dan Pertanian.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Soekanto Soerjono, 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:Rajawali Pers