Membebankan resiko kerugian usaha pada kerjasama bagi hasil antara nelayan dan pemilik kapal sesuai perspektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif Ekonomi Islam terhadap risiko kerugian usaha pada kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan.
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Tinjauan Hukum Islam tentang Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal (Studi pada Masyarakat Nelayan Kabupaten Takalar). Kerjasama pemilik kapal dan nelayan di desa Pasar Palik termasuk dalam kerjasama mudharabah.
Kegunaan Penelitian
Penelitian Terdahulu
Berikut perbandingan beban risiko antara pemilik perahu dan nelayan di Desa Pasar Palik, Benggala Utara. Majalah ini membahas tentang sistem bagi hasil antara pemilik kapal dan nelayan menurut hukum Islam.
Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Subjek Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Analisis Data
Sistematika Penulisan
Akad (Perjanjian)
Orang yang berakad adakalanya orang yang mempunyai hak (aqid ashli) dan kadangkala menjadi wakil orang yang mempunyai hak. Akad itu dibolehkan oleh syara’, dilakukan oleh orang yang berhak melakukannya, walaupun dia bukan “aqid yang memiliki barang tersebut.
Pengertian Akad mudharabah
Dalam kontrak yang mengikat, suatu kontrak dapat dianggap batal jika tujuan kontrak tercapai dengan sempurna. Mengenai hal ini, para ulama fiqh mengatakan bahwa tidak semua kontrak otomatis berakhir dengan meninggalnya salah satu pihak dalam kontrak. Nampaknya dapat dipahami bahwa mudharabah atau kirai adalah suatu perjanjian antara pemilik modal (harta) dan pengelola modal tersebut dengan syarat kedua belah pihak memperoleh penghasilan sesuai dengan jumlah yang disepakati.
Sebagian ulama berpendapat bahwa rukun mudharabah ada tiga, yaitu dua orang yang melaksanakan akad (al-aqidani), modal (ma'qud alaih) dan shighat (ijab dan qabul). lebih menerima lima pilar yaitu modal, kerja, keuntungan, shigat, dan dua orang yang setuju.41. Hal ini merupakan pengurangan karena pemilik harta mengurangi sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan mendapat bagian keuntungan. Orang Irak menyebut qiradh mudharabah karena setiap orang dalam kontrak memperdagangkan modal untuk mendapatkan keuntungan.43.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mudharabah adalah perjanjian kerjasama antara pemilik modal (shahibul mal) dan pengusaha (mudarib), dimana pemilik modal mengalihkan modalnya kepada mudharib untuk menjadi produktif.
Landasan hukum
Antara hadis yang berkaitan dengan mudharabah ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah daripada Shuhaib bahawa Rasulullah SAW. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Thabrani daripada Ibn Abbas Ibn Abdul Muthalib jika dia memberi harta untuk mudharabah, dia mewajibkan ahli perniagaan itu supaya tidak menyeberangi laut, turun ke jurang dan membeli hati yang lemah. Di antara ijma' dalam mudharabah terdapat riwayat yang mengatakan bahawa jamaah para sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah.
Rukun Mudharabah
Syarat Sah Mudharabah
Yang membuat akad, yaitu pemilik modal dan pengusaha, disyaratkan ahli dalam perwakilan atau perwakilan, karena mudharib beroperasi atas dana pemilik modal, yaitu perwakilan. Modalnya harus dalam bentuk uang, misalnya dinar, dirham, atau sejenisnya, yaitu berapa pun yang dimungkinkan dalam persekutuan (asy-syirkah). Ulama Hanafi berpendapat, jika pemilik modal mengharuskan kerugian ditanggung kedua belah pihak, maka akadnya rusak, namun mudharabahnya tetap sah.
Sedangkan pemilik modal menuntut agar keuntungan itu diberikan kepadanya semua, dia tidak dikatakan mudharabah, tetapi seorang peniaga. Sebaliknya, jika pengusaha itu menetapkan bahawa dia harus diberi keuntungan, ini termasuk dalam qaradh menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, dan menurut ulama Syafi'yah termasuk mudharabah yang rosak. Pembahagian keuntungan mestilah mengikut syarat-syarat umum, seperti perjanjian antara pihak yang mengikat kontrak bahawa separuh daripada keuntungan pergi kepada pemilik modal dan separuh lagi kepada pengusaha.
Namun tidak diperbolehkan menetapkan suatu jumlah tertentu kepada pihak lain, misalnya menetapkan suatu jumlah tertentu untuk satu pihak dan sisanya untuk pihak lain, misalnya menetapkan keuntungan sebesar 1.000 untuk negara pemilik modal dan sisanya diserahkan kepada pengusaha. .
Ketentuan Mudharabah
Persentase bagi hasil kerjasama antara pemilik perahu dan nelayan di Desa Pasar Palik berbeda-beda tergantung kesepakatan awal saat perjanjian kerjasama tersebut dibuat. Dalam sistem kerja sama antara pemilik perahu dan nelayan di Desa Pasar Palik, risiko kerugian setiap perahu berbeda-beda. Penugasan risiko yang dilakukan di desa Pasar Palik mempunyai 2 sistem koperasi dimana risiko kerugian sepenuhnya ditanggung oleh pemilik kapal.
Berdasarkan penelitian di lapangan, praktik koperasi yang dilakukan oleh pemilik kapal dan nelayan di Desa Pasar Palik termasuk dalam kerjasama mudharabah. Sistem kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan hanya sebatas bekerja dan mencapai hasil. Dalam kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan di Desa Pasar Palik, alokasi risiko tiap kapal berbeda-beda.
Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti di Desa Pasar Palik dengan 3 orang pemilik perahu dan 3 orang nelayan.
Jenis Mudharabah
Nisbah Mudharabah
- Risiko Kerugian dalam Mudharabah
Revisi Hukum Islam Tentang Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal di Pelabuhan Tamperan Kabupaten Pacitan. Tinjauan Hukum Islam tentang Sistem Pembebanan Resiko Kerugian Usaha pada Kerja Sama Bagi Hasil antara Nelayan dan Pemilik Kapal (Studi Kasus di Desa Penimbangjaya Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang). Berdasarkan hasil observasi pertama di Desa Pasar Palik, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara, terdapat aksi partisipasi antara pemilik perahu dan nelayan.
Dari ketiga bagi hasil yang diterapkan, masing-masing sama-sama memberikan manfaat bagi pemilik kapal dan nelayan. Praktek pembebanan risiko kerugian usaha kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal di Desa Pasar Palik Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara. Dari ketiga bagi hasil yang diterapkan, masing-masing sama-sama memberikan manfaat bagi pemilik kapal dan nelayan.
Alokasi risiko yang dilakukan di Desa Pasar Palik terdapat 2 sistem kerjasama dimana alokasi risiko sepenuhnya ditanggung oleh pemilik kapal.
Hal-hal Membatalkan Mudharabah
Berakhirnya Mudharabah
Namun apabila pengusaha tidak mengetahui bahwa mudharabahnya batal, maka pengusaha (mudharib) boleh tetap menggarapnya. Menurut mayoritas ulama, jika pemilik modal meninggal dunia maka akadnya batal, karena akad mudharabah sama dengan akad wakalah (perwakilan) yang berakhir karena meninggalnya orang yang mewakilinya. Namun para ulama Malikiyah berpendapat bahwa jika salah satu orang yang mengadakan akad meninggal dunia, maka akad tersebut tidak dinyatakan batal, melainkan dilanjutkan oleh ahli warisnya, karena menurut mereka akad mudharabah dapat diwariskan.
Salah seorang yang mempunyai kontrak hilang keupayaan untuk bertindak secara sah, seperti orang gila, kerana orang gila tidak lagi tahu bagaimana untuk bertindak secara sah. Jika pemilik modal murtad (meninggalkan Islam), menurut Imam Abu Hanifah, akad mudharabah terbatal. Begitu juga mudharabah terbatal apabila modal dibelanjakan oleh pemilik modal sehingga tidak ada apa-apa lagi untuk diuruskan oleh pekerja (pengurus).
GAMBARAN OBJEK PENELITIAN
Potensi Sumber Daya Alam
Luas wilayah desa Pasar Palik adalah 760 ha, dimana 65% merupakan lahan datar dan berbukit, dan 35% lahan digunakan sebagai lahan pertanian untuk persawahan dan perkebunan tadah hujan. Iklim Desa Pasar Palik sama seperti desa lainnya di Indonesia yang beriklim kering dan hujan, hal ini berdampak langsung terhadap pola tanam pada lahan pertanian di Desa Pasar Palik Kecamatan Air Napal.
Potensi Sumber Daya Manusia
76 Sutarwi, Tesis : “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sistem Pemungutan Resiko Kerugian Usaha Dalam Kerjasama Bagi Hasil Antara Nelayan dan Pemilik Kapal (Studi Kasus Di Desa Penimbangjaya Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang)” (Banten: UIN SMH Banten , 2021 ), Halaman. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti di Desa Pasar Palik yang terdiri dari 3 orang pemilik kapal dan 3 orang nelayan, terdapat 2 sistem kerjasama dimana resiko kerugian sepenuhnya ditanggung oleh pemilik kapal. 78 Sutarwi, Tesis: “Tinjauan Hukum Islam tentang Sistem Pembebanan Risiko Kerugian Usaha pada Kerjasama Bagi Hasil antara Nelayan dan Pemilik Kapal (Studi Kasus di Desa Penimbangjaya Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang)” (Banten: UIN SMH Banten , 2021 ), Halaman.
Sistem bagi hasil dalam perspektif hukum Islam antara pemilik kapal nelayan dan awak kapal di desa Paloh Paciran Lamongan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang sistem bagi hasil antara pemilik kapal dan nelayan. Subyek dalam penelitian ini adalah 3 orang pemilik perahu dan 3 orang nelayan yang bekerja sama di Desa Pasar Palik, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai beban risiko pada pemilik kapal dan nelayan. Majalah Busrah berjudul: Penerapan Akad Musyarakah antara Punggawa Pappalele, Pemilik Kapal dan Nelayan Ditinjau dari Hukum Islam. Perjanjian kerjasama antara pemilik perahu dengan nelayan di Desa Pasar Palik diwujudkan dalam struktur lisan, tidak ada perjanjian tertulis, hanya atas dasar kepercayaan kedua belah pihak.
PENUTUP
Saran
Sebab dalam akad mudharabah kerugian dianggap sebagai bagian modal yang rusak dan hanya ditanggung oleh pemilik modal atau pemilik kapal. Atas dasar itulah penulis berencana mengangkat permasalahan ini sebagai objek kajian dengan judul “Praktik Akad Mudharabah antara Pemilik Kapal dan Nelayan di Pasar Palik Bengkulu Utara”. Jurnal Zainul Musthofa, Siti Aminah berjudul: Sistem bagi hasil dalam perspektif hukum Islam antara pemilik kapal nelayan dan anak buah kapal di Desa Paloh Paciran.
Kedua, metode wawancara yang digunakan bertujuan untuk memperoleh informasi dari pemilik kapal dan nelayan tentang akad mudharabah antara pemilik kapal dan nelayan. Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan peneliti terhadap perjanjian bagi hasil antara pemilik kapal dan nelayan di Desa Pasar Palik, kerjasama ini dilakukan secara lisan pada saat nelayan ingin melaut sedangkan pemilik kapal nelayan hanya perlu datang. ke pelabuhan. . Perjanjian antara pemilik kapal dengan nelayan di Desa Pasar Palik sesuai dengan syariat Islam karena memenuhi rukun dan syarat-syarat akad.
Adanya perjanjian dan qabul antara pemilik perahu dan nelayan secara lisan, dan yang menyelesaikan akad adalah orang yang telah mencapai umur (tamyiz), berakal sehat (aqil) dan bebas dari tekanan (mukhtar). Dari proporsi bagi hasil yang digunakan oleh pemilik kapal di Desa Pasar Palik, proporsi bagi hasil yang paling menguntungkan bagi nelayan adalah proporsi 30% : 70% mengingat nelayan dapat menangkap ikan lebih banyak dari jumlah anggota yang lebih banyak dan jumlah anggota yang lebih banyak. lamanya mereka melaut. . Jadi berdasarkan persyaratan alokasi risiko yang diterapkan pemilik kapal kepada nelayan, syaratnya tidak sah, tetapi kontraknya sah.