Chapter 6:
Pembuktian Teori Hilary Putnam
Eko Wahyudi (22202011017)
Pengantar
Dapatkah pertumbuhan pengetahuan dipelajari tanpa mempelajari
pengetahuan non-ilmiah?
Hilary Putnam adalah seorang filsuf dari Amerika.
Karl Popper adalah seorang filsuf dari
Eropa.
Kritik Hilary Putnam kepada Karl Popper
Asumsi dari
Hilary Putnam
Dalam pandangan metode ilmiah Putnam, untuk mengkritik asumsi bahwa Popper memiliki kesamaan dengan filsafat sains daripada
asumsi khas Popper sendiri.
Menurut Putnam, terdapat asumsi- asumsi umum yang merupakan
cara yang salah dalam memandang
sains.
Pandangan Karl Popper terhadap
Induksi
Istilah induksi digunakan Popper untuk
merujuk metode verifikasi yang mana hukum umum yang benar ialah berdasarkan data observasional.
Ilmu empiris tidak bertumpu pada prinsip- prinsip yang tidak mampu mengarah pada pembenaran.
Observasional menjadi metode di mana
Popper tidak menyangkal para ilmuwan yang
menyatakan untuk menguji hukum umum.
Kritik Singkat terhadap
Pandangan Popper
Dalam pandangan Popper penerapan. hukum teori ilmiah merupakan ujian lain dari hukum teori ilmiah itu sendiri
Menurut Popper, semua hukum teori ilmiah hanya dugaan sementara yang belum bisa terbantahkan.
Namun, Popper menganggap teori merupakan sebuah tujuan. Sementara ia
mengesampingkan praktiknya di lapangan.
Sementara pengetahuan dan dugaan
merupakan hal yang perlu dibuktikan
kebenarannya
Pandangan
Popper tentang Pembuktian
Eliminasi dianjurkan secara induktivis untuk menetapkan sekuat mungkin teori yang masih dipakai dan belum terbukti kebenarannya.
Mengurangi dengan mengeliminasi jumlah teori tidak sejatinya benar karena jumlah ini tetap dan selalu tak terhingga.
Sehingga teori yang masih dipakai semakin
kuat kemungkinan kebenarannya.
Metode Ilmiah –
Skema yang Diterima
Teori yang menyiratkan prediksi (kalimat dasar/kalimat observasi) tentang teori-teori ilmiah ->
standar induktivis
Jika prediksi salah -> teori bisa palsu.
Banyak prediksi yang benar -> teori dikonfirmasi.
Skema dari Popper:
Jika prediksi salah -> teori bisa palsu
Banyak prediksi yang benar dan kondisi tertentu lebih lanjut terpenuhi -> teori sangat dikuatkan.
Tanggapan Putnam, dalam banyak kasus, teori ilmiah tidak
menyiratkan prediksi sama sekali. Melainkan berlandaskan
pada kebenaran yang ada di lapangan.
Teori
Gravitasi Universal
Teori ini terdiri dari hukum yang setiap gaya a mengerahkan pada setiap gaya b berkekuatan Fab yang arahnya menuju a dan yang besarnya adalah konstanta universal g kali MaMb/d2.
Kekurangan teori ini:
Tidak tersirat kalimat dasar/kalimat observasi.
Teori tersebut tidak menjelaskan apa-apa selain gravitasi.
Gaya Fab tidak dapat mengukur secara
langsung -> tidak terdapat suatu prediksi yang
bisa menyimpulkan teori ini.
Pertanyaan
Asumsi Pernyataan Tambahan (A.S.) untuk memperkuat teori Gravitasi Universal (U.G.)
(I) Tidak ada benda yang ada kecuali matahari dan bumi.
(II) Matahari dan bumi ada dalam ruang hampa yang keras.
(III) Matahari dan bumi tidak tunduk pada kekuatan, kecuali saling diinduksi oleh gaya gravitasi.
Dari ditambahkannya asums A.S. -> terdapat prediksi tertentu.
Hukum Kepler (A.S.) dengan membuat (I), (II), (III) lebih realistis -> kita akan memperoleh prediksi yang lebih baik.
Kritik:
Prediksi ini tidak berasal dari teori saja, melainkan dari konjungsi teori A.S. (para ilmuwan menyebutnya menggunakan istilah teori). Pernyataan A.S. bukan bagian/berdasarkan dari teori gravitasi.
Apakah Poin itu Terminologis?
Menurut Putnam, para ilmuwan tidak menggunakan istilah teori untuk merujuk pada konjungsi U.G. dengan A.S., karena penggunaan tersebut akan mengaburkan masalah metodologis yang mendalam.
Sebuah teori adalah seperangkat hukum, karena hukum adalah pernyataan yang diharapkan benar oleh sifat dari hal-hal, bukan karena pernyataan yang secara tidak disengaja.
Jika mengaburkan perbedaan antara U.G. dan A.S., berarti mengaburkan perbedaan antara hukum dan pernyataan yang tidak disengaja
Sementara di anatra ilmuwan menetapkan sebagai benar dan
pernyataan yang sudah diketahui salah.
Uranus,
Merkurius,
‘Sahabat Gelap’
Prediksi tentang orbit Uranus dibuat berdasarkan teori
Gravitasi Universal (U.G.) dan asumsi bahwa planet-planet lain yang diketahui tidak ada yang benar.
Dalam fakta di luar teori U.G., terdapat planet lain ditemukan;
Neptunus.
Seandainya modifikasi U.G. dan A.S. tidak berhasil, maka untuk mengetahui keberadaan planet digunakan media melalui planet- planet yang bergerak daripada mengendalikan kekuatan non- gravitasi secara signifikan.
Ketika planet-planet tidak terlihat melalui teleskop, maka disiratkan asumsi bahwa bintang-bintang memiliki sahabat
gelap. Namun, banyak asumsi yang dibuat dalam ilmu pengetahuan
tidak dapat diuji secara langsung.
Uranus,
Merkurius,
‘Sahabat Gelap’
Ditemukan fakta bahwa Merkurius tidak ditemukan dengan teori U.G.
Lalu kenapa Merkurius tidak cukup berhasil dijelaskan oleh teori Newton?
Apakah teori Newton salah?
Fakta penting bahwa salah satu pernyataan A.S. mungkin salah.
Namun, keberhasilan hukum U.G. yang berkontribusi dalam banyak kasus, maka dengan adanya satu atau dua anomali bukanlah alasan untuk menolaknya.
Katakan saja bahwa A.S. salah daripada menyebut teori U.G.
itu salah, setidaknya ada teori lain yang bisa menjelaskan di luar
teori tersebut.
Dampaknya pada
Doktrin Popper
Dampak dari fakta yang telah dijelaskan -> hukum Gravitasi Universal (U.G.) tidak dapat dipalsukan , tapi sebagai paradigma dari sebuah teori ilmiah.
Bantahan kepada pandangan Popper yang menyebutkan apa yang dilakukan ilmuwan adalah mengemukakan teori yang dapat dipalsukan, memperoleh prediksi dari mereka, dan kemudian mencoba memalsukan teori dengan memalsukan prediksi.
Akan tetapi, ini tidak membantah pandangan standar di mana para ilmuwan mencoba mengkonfirmasi U.G. dan A.S. untuk mendapatkan prediksi kemudian
memverifikasi prediksi tersebut.
Pandangan Kuhn
terhadap Sains
Kuhn -> gagasan sebuah paradigma
Menurut Kuhn, paradigma yang menyusun suatu bidang yang dapat membuat kebal terhadap pemalsuan.
Teori yang paradigmatik tidak kalah karena hasil observasional dan eksperimental.
Akan kalah karena tersedia teori yang lebih
baik.
Pandangan
Kuhn terhadap Sains
Setelah paradigma didirikan dan bidang ilmiah telah berkembang di sekitar paradigma, kita mendapat interval dari apa yang Kuhn sebut dengan “ilmu normal”.
Kuhn menunjukkan kecenderungan yang sama yang membuat Popper menyebut
permasalahan sifat pengetahuan sebagai
‘teka-teki’.
Pernyataan Kuhn berkaitan dengan proses di
mana paradigma yang baru menggantikan
paradigma yang lebih lama.
Skema Untuk Persoalan Ilmiah
SKEMA I ---
TEORI
PERNYATAAN TAMBAHAN ---
Pertimbangkan skema berikut:
SKEMA II ---
TEORI
??????
FAKTA YANG HARUS DIJELASKAN --- SKEMA III
--- TEORI
PERNYATAAN TAMBAHAN ---
??????
Fakta yang Hilary jelaskan akan menghilangkan AS, tetapi jika dapat
dengan AS maka akan menjadi kebenaran dan harus disatukan dengan
teori untuk penjelasan fakta.
Skema 2 menjelaskan sejumlah fakta. Kegagalan tidak
memalsukan teori karena
kegagalan bukanlah prediksi yang salah dengan fakta yang diketahui dan terpercaya.
Kuhn vs.
Popper
Kuhn menekankan cara di mana teori ilmiah mungkin kebal dari pemalsuan, sedangkan Popper menekankan
pemalsuan sebagai sine qua non
(tindakan) atau bagian dari teori ilmiah.
Popper mengakui bahwa derivasi prediksi dari suatu teori mungkin memerlukan
penggunaan asumsi tambahan. Popper
menganggap ini sebagai bagian dari
sistem yang sedang diuji.
Perubahan Paradigma
Menurut pandangan Popper, dalam menerima suatu paradigma, teori menjadi dikuatkan dengan lulus uji berat
Artinya, prediksi harus berasal dari teori dan kebenaran atau kepalsuan prediksi harus dipastikan.
Sebuah teori tidak diterima kecuali memiliki keberhasilan penjelasan yang nyata.
Dalam kasus yang telah dijelaskan, teori dapat sah dan dipertahankan oleh perubahan di A.S., dengan catatan
keberhasilannya harus tidak Ad Hoc. (dimaksudkan untuk satu tujuan).
Teori hanya akan diterima jika teori tersebut memiliki keberhasilan substansial, non-Ad Hoc, dan penjelasan.
Dalam
Praktiknya
Kesalahan Popper adalah tidak melihat praktik sebagai yang utama.
Popper menganggap ide (teori) sebagai penentu kebenaran.
Kurangnya pengalaman tentang fenomena mengurangi kemungkinan ide yang benar.
Pengalaman yang luas meningkatkan kemungkinan ide yang benar, atau sebagian benar.
Metode pengujian ide dalam praktik yang mengandalkan ide terbukti berhasil tidak dapat dibenarkan.
Metode tidak memiliki ‘pembenaran’ jika dengan pembenaran
dimaksudkan sebagai bukti dari prinsip-prinsip formal yang membenarkan memiliki ketergantungan pada metode ini.