2.4 Pemeriksaan Forensik
1. Pemeriksaan Forensik pada Bayi
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, dengan sendirinya bayi tersebut harus dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu (separate existence). Bila bayi lahir mati kemudian dilakukan tindakan membunuh, maka hal ini bukanlah pembunuhan anak sendiri ataupun pembunuhan. Dokter yang melakukan pemeriksaan terhadap mayat bayi, diharapkan dapat menjawab pertanyaan mengenai identitas bayi, bayi dilahirkan mati atau hidup, bayi cukup bulan atau belum cukup bulan, bayi viabel atau non viabel, perkiraan umur bayi intra dan ekstrauterin, tanda-tanda trauma/patologi, cacat bawaan pada tubuh bayi, dan apakah bayi sudah mendapatkan perawatan serta perkiraan sebab kematian bayi.1
Pada pemeriksaan forensik pada bayi perlu dibedakan kondisi bayi mati dalam kandungan, lahir mati atau lahir hidup. Bayi yang mati dalam kandungan ( dead birth) adalah bayi yang telah mati di dalam rahim sebelum proses persalinan dimulai dan dapat dilihat adanya rigor mortis, maserasi atau mumifikasi. Bayi dikatakan lahir mati (still birth) jika setelah 28 minggu kehamilan dan telah dilahirkan oleh ibunya tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda- tanda kehidupan lainnya. Kebanyakan kasus bayi lahir mati (still birth) meninggal dalam kandungan atau selama tahap awal persalinan. Kematian janin sebelum durasi kehamilan yang ditentukan secara hukum didefinisikan sebagai keguguran atau abortus. Bayi lahir mati dapat disebabkan oleh adanya faktor fetus, faktor ibu, dan faktor keduanya.1,2
Bayi dikatakan lahir hidup (live birth) apabila ia mencapai usia kehamilan 24 minggu, bernapas, dan menunjukkan tanda-tanda kehidupan lainnya seperti menangis kencang, meskipun ia belum keluar sepenuhnya dari jalan lahir ibunya.
Sedangkan bayi dengan 'keberadaan terpisah' (separate existance) yaitu bayi yang telah keluar dari ibunya terlepas dari usia kehamilannya, dan bernapas atau menunjukkan tanda-tanda kehidupan lainnya setelah dikeluarkan sepenuhnya dari jalan lahir ibunya.2
Untuk menentukan apakah jasad bayi termasuk PAS atau tidak adalah dengan menentukan viabilitas bayi. Viabilitas adalah kemampuan bayi untuk
yang dikatakan viable setelah usia kehamilan lebih dari 28 minggu, panjang di atas 35 cm, dan berat badan di atas 1500 gram. Penentuan umur janin dalam kandungan dapat dilakukan menurut rumus De Haas : “5 bulan ke bawah = panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi (bulan). Selanjutnya panjang kepala-tumit (cm) = umur gestasi (bulan) x5”.2,3
Umur Panjang badan (kepala-tumit)
1 bulan 1 x 1= 1cm
2 bulan 2 x 2= 4cm
3 bulan 3 x 3 = 9cm
4 bulan 4 x 4 = 16cm
5 bulan 5 x 5 = 25cm
6 bulan 6 x 5 = 30cm
7 bulan 7 x 5 = 35cm
8 bulan 8 x 5 = 40cm
9 bulan 9 x 5 = 45cm
Tabel 2.1 Penentuan umur bayi4
Pada kasus-kasus kriminal, tanda bayi lahir hidup (live birth) harus didemonstrasikan melalui pemeriksaan autopsi pada anak. Berikut adalah temuan-temuan dari pemeriksaan luar dan dalam pada bayi lahir hidup (live birth ) yang dapat dibedakan dari kondisi bayi lahir mati (still birth).4
A. Pemeriksaan Luar
a) Perubahan pada Dada
Bayi lahir hidup akan bernapas dan menyebabkan adanya perubahan tertentu pada dada bayi yang membedakannya dengan bayi yang tidak bernapas.
Ciri Bernapas (live birth) Tidak bernapas (still birth)
Diameter Peningkatan diameter
anteroposterior Tidak ada perubahan
Lingkar dada
1-2 cm lebih besar dari pada lingkar perut tepat di
umbilikus
1-2 cm lebih kecil dari pada lingkar perut tepat
di umbilikus
Sela iga Melebar Sempit
Bentuk dada Melengkung atau berbentuk
drum Datar
Tabel 2.2 Perbedaan dada antara bayi lahir hidup dan lahir mati4
b) Perubahan pada Kulit
Setelah bayi lahir hidup, kulit berwarna merah muda dan menjadi lebih gelap setelah 2 sampai 3 hari. Warna kulit permanen terlihat setelah 7 hari bayi lahir. Deskuamasi kulit terlihat pada hari kedua dan seterusnya. Dan jaundice fisiologis muncul pada hari kedua.4
Apabila bayi tersebut sudah pernah bernapas atau lahir hidup, maka untuk mengetahui sudah berapa lama bayi tersebut hidup sebelum dibunuh salah satunya dengan memperhatikan kulit mayat tersebut. 4 c) Perubahan pada Umbilikus dan Tali Pusat
Terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada umbilikus dan tali pusat mulai dari bayi lahir hingga penyembuhan sempurna dari umbilikus. Hal ini juga dapat menjadi penentu umur bayi hidup sebelum dibunuh.4
Tabel 2.3 Perubahan pada umbilikus dan tali pusat4
d) Tanda Perawatan
Tanda-tanda bayi belum dirawat adalah sebagai berikut:3
1. Tubuh korban masih berlumuran darah dan belum dibersihkan ataupun diberikan pakaian untuk menghangatan tubuh bayi
2. Plasenta masih melekat pada tali pusat dan terhubung dengan umbilikus
3. Plasenta sudah dipotong dengan ujung potongan yang tidak wajar dan tidak beraturan
4. Tubuh korban masih terlihat vernix caseosa yaitu lapisan lemak yang melindungi kulit bayi saat masih di dalam rahim, yang terlihat pada s ekujur tubuh dan lipatan tubuh
Perubahan Waktu
Penyusutan lumen pembuluh darah Baru lahir Batas potongan tali pusat mengering dengan
gumpalan darah 2 jam
Kontraksi arteri umbilikalis 10 jam
Tali pusat kering 24 jam (1 hari)
Garis inflamasi (red ring) di pangkal tali pusat 48 jam (2 hari)
Tali pusat mengkerut 2-3 hari
Obliterasi pada vena umbilikalis 4-5 hari Tali pusat mengkerut, kering dan terlepas 5-6 hari
Penyembuhan sempurna umbilikus 7-10 hari
5. Pada mulut dan lambung bayi tidak terdapat ASI yang diberikan oleh ibunya
Gambar 2.1 Bayi tanpa tanda perawatan3
Gambar 2.2 Tali pusar menunjukkan tepi yang tidak beraturan akibat pemotongan dengan alat yang tidak tajam.5
Adanya tanda-tanda perawatan menunjukkan telah ada kasih sayang dari si ibu dan bila dibunuhnya tidak lagi termasuk kasus PAS, tetapi termasuk kasus pembunuhan biasa
e) Tanda perlukaan
Cara atau metode yang banyak dijumpai untuk melakukan tindaka n pembunuhan anak adalah cara atau metode yang menimbulkan keadaan mati lemas (asfiksia), seperti penjeratan, pencekikan, pembekapan serta m embenamkan ke dalam air. Adapun cara atau metode yang lain seperti me nusuk atau memotong serta melakukan kekerasan dengan benda tumpul.
Hal-hal yang harus diperhatikan, sebagui berikut;5
Adanya tanda-tanda mati lemas: sianosis pada bibir dan ujung- ujung jari, bintik-bintik perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak mata serta jaringan longgar lainnya, lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa halus bewarna putih atau putih kemerahan yang keluar dari lubang hidung dan atau mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat-alat dalam, 5
Keadaan mulut dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan di bibir atau sekitarnya yang tidak jarang berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gusi, serta adanya benda-benda asing seperti gumpalan kertas atau kain yang mengisi rongga mulut.
Keadaan di daerah leher dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan yang melingkari sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai akibat tekanan yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang dipergunakan, adanya luka-luka lecet kecil-kecil yang seringkali berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh tekanan dari ujung kuku si pencekik, adanya luka-luka lecet dan memar yang tidak beraturan yang dapat terjadi akibat tekanan yang ditimbulkan oleh ujung-ujung jari si pencekik, 5
Adanya luka-luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau bagian tubuh lainnya, dimana menurut literatur ada satu metode yang dapat dikatakan khas yaitu tusukan benda tajam pada langit langit sampai menermbus ke rongga tengkorak yang dikenal dengan nama “tusukan bidadari". 5
Adanya tanda-tanda terendam seperti: tubuh yang basah dan berlumpur, telapak tangan dan telapak kaki yang pucat dan keriput (washer woman's hand), kulit yang berbintil- bintil seperti kulit angsa, serta adanya benda-benda asing terutama di dalam saluran pernafasan (trakea) yang dapat berbentuk pasir, lumpur, tumbuhan air atau binatang air.5
DAFTAR PUSTAKA
1. Bruce L, Lewis CS, Mercurio MR. Infanticide and Infant Abandonment: New Direc tions in US Law and Policy. Pediatrics. 2025 Feb 14;155(3):e2024068991. doi: 10.1 542/peds.2024-068991. PMID: 39947230.
2. Munawwarah S, Suryadi T. Pembunuhan Anak Sendiri (Infanticide). Banda Aceh:
Bagian/SMF Ilmu Kedokteran dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Unsyiah/RSUD dr. Zainoel Abidin.2021
3. Shenjaya S. Proporsi dan Distribusi Kasus Infanticide di Wilayah Yogyakarta yang Diotopsi di Rumah Sakit Sardjito pada Tahun 2000- 2018. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 2020. 15-19 pp.
4. Aldila BA, Alit, IBP. “Studi Deskriptif terhadap Ciri-Ciri Korban Infantisida di Bali, Tahun 2012 sampai 2014.” Jurnal Harian Regional, 2021,
https://jurnal.harianregional.com/eum/full-13834. Accessed 5 Mar. 2025.
5. Atmoko WD, Mahila NAD. Infanticide: A case report. Jurnal Ilmiah Kohesi. 2023;
7(1):61–65.