• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemodelan Matematika HIV Type SITA

N/A
N/A
Eka Nurhayati

Academic year: 2025

Membagikan "Pemodelan Matematika HIV Type SITA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Judul : Pemodelan Matematika dan Analisis Kestabilan Model Pada Penyebaran HIV/AIDS Tipe SITA (Susceptible, Infected, Treatment, AIDS)

Permasalahan :

Penyakit HIV/AIDS masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian serius. Penyebarannya yang lambat namun progresif menyebabkan beban sosial dan ekonomi yang tinggi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika penyebaran penyakit ini agar strategi penanganan dan pengobatan bisa lebih efektif.

Untuk memahami dan menganalisis penyebaran HIV/AIDS serta pengaruh pengobatan terhadap dinamika penyakit ini dalam suatu populasi, pendekatan matematika diperlukan. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan model penyebaran HIV/AIDS dengan tipe SITA, yang terdiri dari empat kompartemen populasi: Susceptible (S), Infected (I), Treatment (T), dan AIDS (A).

Asumsi :

Pemodelan dilakukan dengan sejumlah asumsi sebagai berikut:

1. Populasi bersifat tertutup, artinya tidak ada migrasi masuk atau keluar dari populasi;

perubahan jumlah penduduk hanya dipengaruhi oleh kelahiran dan kematian.

2. Penularan HIV terjadi melalui kontak antara individu dalam subpopulasi Susceptible (S) dengan individu Infected (I) dan individu AIDS (A).

3. Treatment (pengobatan) hanya diberikan kepada individu dalam subpopulasi Infected (I).

4. Individu yang telah menerima treatment (T) masih memiliki kemungkinan untuk bertransisi ke fase AIDS (A) setelah jangka waktu tertentu.

Model Matematika :

S(t)=¿ Populasi rentan tertular HIV dS

dt=Λβ . S . Iω . S . Aμ . S I(t)=¿ Populasi terinfeksi HIV

dI

dt=β . S . I+ω . S . Aμ . Iδ . I T(t)=¿ Populasi terinfeksi yang sedang menjalani terapi

dT

dt =θ . Iα .Tμ .T A(t)=¿ Populasi penderita AIDS

dA

dt =δ . Iα .Tμ . Aγ . A

(2)

Keterangan :

S=¿ jumlah individu pada subpopulasi Susceptible I=¿ jumlah individu pada subpopulasi Infected T=¿ jumlah individu pada subpopulasi Treatment

A=¿ jumlah individu pada subpopulasi AIDS Λ=¿ Laju kelahiran alami

β=¿ Laju penularan dari individu Infected ke Susceptible ω=¿ Laju penularan dari individu AIDS ke Susceptible μ=¿ Laju kematian alami

δ=¿ Laju penjangkitan dari Infected ke AIDS α=¿ Laju transisi dari Treatment ke AIDS γ=¿ Laju kematian karena AIDS

θ=¿ Laju treatment yang diberikan kepada Infected Titik Equilibrium :

Titik equilibrium pada model merupakan solusi dari sistem pada model yang tidak mengalami perubahan populasi terhadap waktu. Dengan demikian titik equilibrium pada model matematika diperoleh ketika,

dS

dt =0,dI

dt=0,dT

dt =0,dA dt =0 sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut,

dS

dt=Λβ . S . Iω . S . Aμ . S=0 dI

dt=β . S . I+ω . S . Aμ . Iδ . I=0 dT

dt =θ . Iα .Tμ .T=0 dA

dt =δ . Iα .Tμ . Aγ . A=0

Solusi dari sistem persamaan tersebut diperoleh dua titik equilibrium yaitu titik equilibrium bebas penyakit (disease free equilibrium) dan titik equilibrium endemik. Titik equilibrium bebas penyakit diekspresikan sebagai E1=(S , I ,T , A)=

(

Λμ ,0,0,0

)

sedangkan titik equilibrium endemik diekspresikan sebagai E2=(S¿, I¿,T¿, A¿) dimana :

(3)

S¿= (γ+μ)(μ+δ+θ)(α+μ)

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

I¿= R0−1

((μ+δ+θ)(αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω)

T¿= θ(R0−1)

((μ+δ+θ)((α+μ)

(

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

)

) A¿= (αδ+αθ+δμ)(R0−1)

((μ+δ+θ)((α+μ)

(

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

)

) Dengan,

R0=Λ

(

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

)

μ(μ+δ+θ)((α+μ) (γ+μ))

R0 (Basic Reproductive Ratio) atau Angka Reproduksi Dasar adalah jumlah rata-rata orang yang dapat tertular penyakit dari satu orang yang terinfeksi dalam populasi yang sepenuhnya rentan (belum ada imunitas atau perlindungan).

R0 mempunyai nilai ambang batas 1, artinya jika R0 > 1 maka akan terjadi endemik yang ditandai dengan meningkatnya populasi yang terinfeksi. Namun jika R0 < 1 maka tidak terjadi endemik.

Pada model matematika terdapat empat kompartemen yang terlibat dalam penyebaran HIV/AIDS tipe SITA yaitu Susceptible, Infected, Treatment dan AIDS sehingga bisa ditulis,

x=(S , I ,T , A)

˙

x=(FV)x dimana,

F=¿ Matriks transmisi nonlinear V=¿ Matriks transmisi linear

x˙=¿ Kompartemen yang terlibat infeksi

R0 ditentukan oleh radius spectral dari Next Generation Matriks (NGM) yang

merupakan matriks F V−1. Misalkan 𝐹 adalah vektor untuk infeksi baru dan 𝑉 adalah vektor untuk perpindahan antar kompartemen, maka

F=

(

β . S00 000 ω . S00

)

,V=

(

μ+δδθ+θ αα+0μ γ+00μ

)

sehingga,

(4)

F .V−1=

(

μ(μβ Λ+δ+θ)+μ(μω Λ+00δ+(αδθ)(+ααθ+μ+)(δμγ)+μ) μ(α+ω Λ αμ00)(γ+μ) μ(ω Λγ00+μ)

)

Akan ditentukan R0 yang merupakan nilai eigen terbesari dari matriks F .V−1. Polinomial karakteristik dari matriks F .V−1 sebagai berikut,

λ3=

(

Λ

(

αβγ+αβμ+μ(μ+αδωδ+θ+)(αδθ+(α+μβγμ+) (γ+μμ))2β+δμω

) )

λ2

dengan demikian diperoleh,

R0=Λ

(

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

)

μ(μ+δ+θ)((α+μ) (γ+μ)) Linearisasi disekitar Titik Equilibrium:

Model matematika diatas merupakan sistem persamaan diferensial non linear sehingga untuk menyelidiki kestabilan di sekitar titik equilibrium diperlukan linearisasi terlebih dahulu dengan menggunakan matriks Jacobi.

Selanjutnya, subtitusikan nilai E1=(S , I ,T , A)=

(

Λμ ,0,0,0

)

ke matriks Jac sehingga diperoleh

Dari matriks Jacobian diperoleh nilai karakteristik yaitu, λ1=−μ

Sedangkan λ2, λ3, λ4 adalah akar-akar dari persamaan karakteristik sebagai berikut,

μ λ3+a2λ2+a1λ+a0=0 Dengan,

a2=Λ βαμδμγμ−3μ2μθ

(5)

a1=Λ αβ+αβγ+2Λ βμ+δ Λ ωαδμαγμ−2α μ2αμθγδμ−2δ μ2−2γ μ2γμθ−3μ3−2μ2θ a0=Λ

(

αβγ+αβμ+αδω+αωθ+βγμ+μ2β+δμω

)

μ(μ+δ+θ)((α+μ) (γ+μ))

Analisis Kestabilan :

Karena tiap parameter bernilai positif maka a2 dan a1 bernilai negatif. Selanjutnya agar a0 bernilai negatif maka,

Λ

(

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

)

μ(μ+δ+θ)((α+μ) (γ+μ)) <1 sehingga titik equilibrium bebas penyakit bersifat stabil ketika,

R0=Λ

(

αβγ+αβμ+αδω+αδθ+βγμ+μ2β+δμω

)

μ(μ+δ+θ)((α+μ) (γ+μ)) <1 Simulasi :

Simulasi numerik ini dilakukan dengan memberikan nilai-nilai parameter yang sesuai dengan kondisi R0. Untuk keperluan simulasi ini maka ditetapkan nilai-nilai parameter yang disajikan pada tabel 1 berikut,

Adapun populasi awal dari tiap kompartemen dipilih nilai-nilai yang secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut,

S(0)=200, I(0)=55,T(0)=30, A(0)=25

Untuk memvisualisasikan kondisi pada saat titik equilibrium bebas penyakit dan endemik dilakukan dua simulasi dengan menetapkan nilai parameter 𝜃 yang berbeda. Simulasi pertama dilakukan untuk menvisualisasikan kondisi titik equilibrium bebas penyakit dengan menetapkan nilai parameter 𝜃 = 0,75 sehingga diperoleh nilai R0 = 0,934821 < 1. Di mana titik kesetimbangan bebas penyakit adalah:

(S , I ,T , A)=

(

Λμ ,0,0,0

)

=(55,0,0,0)

Adapun hasil simulasinya dapat dilihat pada gambar berikut,

(6)

Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa grafik dari masing-masing yakni subpopulasi Susceptible (𝑆), subpopulasi Infected (𝐼), subpopulasi Treatment (𝑇) dan subpopulasi AIDS (𝐴). Pada subpopulasi Susceptible (𝑆) kondisi awal berjumlah 200 individu, kemudian menurun karena mengalami kontak dengan subpopulasi Infected (𝐼) dan naik kembali hingga menuju titik equilibrium di angka 55. Pada subpopulasi Infected (𝐼) kondisi awal berjumlah 55 individu kemudian menurun karena mengalami perpindahan ke subpopulasi Treatment (𝑇). Hal ini terjadi karena laju treatment yang diberikan kepada subpopulasi Infected (𝐼) cukup besar. Selanjutnya seiring berjalannya waktu subpopulasi Infected terus menurun hingga menuju titik equilibrium di angka 0.

Pada gambar 1 juga terlihat jelas bahwa subpopulasi Treatment (𝑇) dengan kondisi awal berjumlah 30 individu mengalami kenaikan akibat banyaknya perpidahan dari subpopulasi Infected (𝐼) yang mendapatkan treatment. Namun seiring berjalannya waktu jumlah individu pada subpopulasi ini menurun hingga akhirnya mencapai titik equilibrium di angka 0.

Terakhir pada subpopulasi AIDS (𝐴) dari kondisi awal berjumlah 25 individu mengalami penurunan hingga mencapai titik equilibrium di 0. Hal ini disebabkan karena adanya kematian alami dan juga kematian karena AIDS yang dialami oleh individu pada subpopulasi ini. Ini berarti, untuk jangka waktu tertentu penyakit HIV/AIDS akan menghilang dalam populasi, atau dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa titik ekuilibrium bebas penyakit stabil pada saat R0 = 0,934821 < 1.

Sn+1=Snβ .Sn. In

Nv . Sn In+1=In+β .Sn. In

Nγ . In Rn+1=Rn+γ . In+v . Sn

(7)

Dengan N=Sn+In+Rn

Sn

In

Rn

N β γ v

Sn+1=Sn=S¿, In+1=In=I¿, Rn+1=Rn=R¿

0=−β .S¿. I¿

Nv . S¿S¿

(

β IN¿+v

)

=0

S¿=0

0=β .0.I¿

Nγ . I¿γ . I¿=0⇒I¿=0 I¿=0

S¿+I¿+R¿=N⇒0+0+R¿=N⇒R¿=N (S¿, I¿, R¿)=(0,0, N)

(8)

J=

[

∂ S∂ I∂ S∂ Sn+1n+1nn ∂ S∂ I∂ I∂ In+1n+1nn

]

∂ Sn+1

∂ Sn =1−β .In Nv

∂ Sn+1

∂ In =−β .Sn N

∂ In+1

∂ Sn =β .In N

∂ In+1

∂ In =1+β .Sn Nγ

Sn=0, In=0

J(0,0)=

[

1−v0 10γ

]

λ J det(JλI)=0

JλI=

[

(1−v0)−λ (1−γ0)−λ

]

det(JλI)=

[

(1−v)λ

]

.

[

(1−γ)λ

] [

(1−v)λ

]

.

[

(1−γ)λ

]

=0

λ1=1−v , λ2=1−γ

|

λi

|

<1

0<v<1 0<γ<1

|1v|<1,|1γ|<1

(9)

N=1000 S0=990

I0=10 R0=0

β=0.3 γ=0.1 v=0.05

n=100

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pemodelan matematika pada sistem redaman meriam, bagaimana menentukan solusi dari sistem redaman

Guru matematika sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar siswa harus dapat merancang sebuah kegiatan pembelajaran yang menuntun siswa untuk melakukan suatu pemodelan

maka pemodelan menggunakan regresi poisson bivariat bisa digunakan. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendapatkan model jumlah kasus HIV dan AIDS dengan menggunakan

Laporan ini berisi ten tang uraian hasil penelitian terapan mengenai &#34; Pemodelan Matematika Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Utara

maka pemodelan menggunakan regresi poisson bivariat bisa digunakan. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendapatkan model jumlah kasus HIV dan AIDS dengan menggunakan

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan pemodelan matematika mahasiswa baru

Pemodelan sistem pakar deteksi dini resiko HIV/AIDS menggunakan metode Dempster-Shafer ini dapat mengetahui keputusan dari pakar dengan cara menghitung nilai

Salah satu permasalahan yang menggunakan penerapan ilmu pemodelan matematika adalah aliran fluida Pembangunan model matematika aliran fluida didasarkan pada penurunan hukum konservasi