• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATALAKSANAAN GIZI ANAK PADA KASUS FEBRIS RUANG RAWAT INAP MUTIARA BARAT KAMAR 528 RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

N/A
N/A
Salsabila Faraz

Academic year: 2023

Membagikan "PENATALAKSANAAN GIZI ANAK PADA KASUS FEBRIS RUANG RAWAT INAP MUTIARA BARAT KAMAR 528 RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM

PENATALAKSANAAN GIZI ANAK PADA KASUS FEBRIS RUANG RAWAT INAP MUTIARA BARAT KAMAR 528

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

Disusun Oleh:

Salsabila 2010714009

PROGRAM STUDI GIZI PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2023

(2)

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Terapi gizi merupakan bagian dari perawatan penyakit dan kondisi klinis yang harus diperhatikan agar pemberian diet pasien harus sesuai dengan fungsi organ, kemudian harus dievaluasi. Gizi mempengaruhi penyembuhan penyakit pada pasien di rumah sakit.

Malnutrisi berdampak pada lamanya perawatan, terjadinya komplikasi penyakit, meningkatnya biaya pengobatan dan kematian. Kondisi tersebut disebabkan karena ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi.

Pelayanan asuhan gizi rawat inap merupakan pelayanan gizi yang dimulai dari proses Asesmen gizi (pengkajian gizi), Diagnosis gizi, Intervensi gizi, Monitoring dan Evaluasi gizi, yang sering disingkat ADIME (Asesmen, Diagnosa, Intervensi, Monitoring &

Evaluasi). Sebelum dilakukan asesmen gizi (pengkajian gizi), diperlukan skrining gizi untuk mengetahui risiko penurunan status gizi. Jika hasil skrining menyatakan pasien berisiko terjadi penurunan status gizi, maka dilakukan dukungan gizi melalui Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) atau Nutrition Care Process (NCP). Pada saat ini pelayanan gizi dituntut untuk berkualitas sesuai dengan standar nasional dan internasional.

Stunting adalah masalah kesehatan yang banyak ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia (UNICEF, 2017). Stunting atau pendek merupakan masalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya (KEMENKES RI, 2018).

Keadaan pendek (stunting) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang standar artropometri penilaian status gizi anak adalah suatu keadaan dimana hasil pengukuran Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) berada di antara -3 SD sampai -2 SD. Jika hasil pengukuran PB/U atau TB/U berada dibawah -3 SD disebut sangat pendek (severe stunting) (KEMENKES RI, 2011)

Demam atau febris merupakan suatu kondisi dimana suhu tubuh mengalami peningkatan di atas normal. Seseorang dapat dikatakan demam jika suhu tubuhnya mencapai lebih dari 37,5 C. demam merupakan penyakit yang paling sering muncul pada penyakit anak-anak. Sebagian besar demam pada anak di sebabkan oleh infeksi, peradangan dan gangguan metabolic. Hal ini menyebabkan perubahan pada pusat panas (termoregulasi) di hipotalamus. Jika demam tidak segera diatasi dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada anak yaitu dapat menyebabkan dehidrasi, kejang demam sampai kematian. (Sodikin, 2012).

I.2 Tujuan

I.2.1 Tujuan Umum

Mengetahui perencanaan dan penatalaksanaan diet pada pasien anak Febris dan Stunted

(3)

I.2.2 Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan skrining gizi pada pasien baru rawat inap dengan stunted dan febris

b. Mahasiswa mampu mengkaji sesuai NCP (Nutrition Care Process).

c. Mahasiswa mampu menghitung kebutuhan gizi pasien sesuai penyakit.

d. Mahasiwa mampu menentukan diagnosis gizi pasien.

e. Mahasiswa mampu melakukan intervensi gizi meliputi tujuan diet, syarat diet dan preskripsi diet.

f. Mahasiswa mampu menyusun diet sesuai kebutuhan yang direncanakan g. Mahasiswa mampu melakukan monitoring dan evaluasi kepada pasien.

h. Mahasiswa mampu melakukan food weighing sisa makanan pasien.

i. Mahasiswa mampu menghitung asupan gizi pada pasien selama 3 hari.

I.3 Manfaat

I.3.1 Bagi Mahasiswa

Menambah dan meningkatkan pengetahuan serta kemampuan mahasiswa sebagai calon ahli gizi dalam menerapkan ilmu penatalaksanaan diet pada pasien anak dengan febris dan stunted yang telah didapatkan selama perkuliahan.

I.3.2 Bagi Instalasi Gizi dan Rumah Sakit

Dapat memberikan gambaran informasi mengenai keadaan penyakit febris dan stunted berdasarkan studi literatur.

I.3.3 Bagi UPN Veteran Jakarta

a. Menjalin Kerjasama antara pihak Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih dan pihak Universitas.

b. Peningkatan dan penjagaan mutu mahasiswa sehingga dapat berkompeten dengan mahasiswa lain.

c. Membantu dunia pendidikan agar dapat menciptakan mahasiswa yang professional, berkualitas dan berdisiplin tinggi.

I.4 Waktu dan Tempat

a. Waktu = 2 November 2023 – 5 November 2023

b. Tempat = Lantai 5 Mutiara Barat Kamar 508 Kelas III RSUD Budhi Asih.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Stunting

Stunting adalah kondisi balita yang memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada Indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita pendek adalah balita dengan status gizi berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umur bila dibandingkan dengan standar baku WHO, nilai Zscorenya kurang dari -2 SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai Zscorenya kurang dari -3 SD (Kemenkes, RI 2016).

II.2 Faktor-faktor Penyebab Stunting 1. Berat Badan Lahir Rendah Bayi

yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, bayi dengan berat badan lahir rendah akan mengalami hambatan pada pertumbuhan dan perkembangannya serta kemungkinan terjadi kemunduran fungsi intelektualnya selain itu bayi lebih rentan terkena infeksi dan terjadi hipotermi (Direktorat Bina Kesehatan Ibu, 2012).

2. Asi Ekslusif

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI yang diberikan sejak bayi dilahirkan hingga usia bayi enam bulan tanpa memberikan makanan atau minuman lainnya seperti susu formula, air putih, air jeruk kecuali vitamin dan obat (Kemenkes RI, 2016). Bayi atau balita dalam praktek pemberian ASI ekslusif maupun MP- ASI yang kurang optimal dan terbatasnya makanan dalam hal kualitas, kuantitas dan jenis akan memberikan kontribusi terhadap stunting (WHO, 2012).

3. Tinggi Badan Ibu

Karakteristik ibu atau keadaan ibu yang meliputi tinggi badan merupakan faktor genetika yang menyebabkan stunting. Orangtua yang memiliki tinggi badan yang pendek kemungkinan besar akan menurunkan sifat pendek tersebut terhadap anaknya. Hal ini dikarenakan adanya kondisi patologis yaitu defisiensi hormon pertumbuhan yang dimiliki oleh gen pembawa kromosom tersebut, apabila tidak didukung dengan asupan yang adekuat untuk menyokong pertumbuhan, pada generasi berikutnya akan berdampak terhadap kegagalan pertumbuhan atau stunted (Kukuh & Nuryanto, 2013).

4. Tingkat Pendidikan

Menurut Undang – Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar (SD, MI, SMP, dan MTs), pendidikan menengah pertama (SMA, MA, SMK), dan pendidikan tinggi (diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor). Pemerintah di Indonesia mewajibkan belajar sembilan tahun untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sehingga masyarakat di Indonesia harus menempuh pendidikan minimal sembilan tahun dihitung mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Masyarakat yang sudah menempuh pendidikan minimal sembilan tahun tersebut dianggap sudah mempunyai kualitas yang layak untuk

(5)

menjalankan kehidupannya. Menurut (Astuti, 2017) ibu dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang luas dan mudahnya menangkap informasi baik dari pendidikan formal yang mereka tempuh maupun dari media massa (cetak dan elektronik) untuk menjaga kesehatan anak dalam mencapai status gizi yang baik sehingga perkembangan anaknya menjadilebih optimal. Semakin tinggi pendidikan ibu maka pengetahuannya akan gizi akan lebih baik, sebaliknya semakin rendah pendidikan ibu maka pengetahuan akan gizi akan kurang baik.

5. Status Ekonomi

Status sosial ekonomi dapat mempengaruhi terjadinya kejadian stunting, karena keadaan sosial ekonomi atau keadaan rumah tangga yang tergolong rendah akan mempengaruhi tingkat pendidikan rendah, kualitas sanitasi dan air minum yang rendah, daya beli yang rendah serta layanan kesehatan yang terbatas, semuanya dapat berkontribusi terkena penyakit dan rendahnya asupan zat gizi sehingga berpeluang untuk terjadinya stunting (Lainua, 2016).

Tingkat pendapatan keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting. Hal ini dikarenakan keluarga dengan pendapatan yang rendah akan mempengaruhi dalam penyediakan pangan untuk keluarga. Daya beli keluarga tergantung dengan pendapatan keluarga, dengan adanya pendapatan yang tinggi maka kemungkinan terpenuhinya kebutuhan makan bagi keluarga ((Wandini, Rilyani and Resti, 2021)

II.2 Febris

II.2.1 Definisi Febris (Demam)

Demam adalah suatu keadaan suhu tubuh diatas normal akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus. Penyakit-penyakit yang ditandai adanya deman dapat menyerang sistem tubuh. Selain itu demam juga berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas spesifik dan nonspesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap infeksi (Sodikin, 2012).

Demam terjadi karena adanya suatu zat yang dikenal dengan nama pirogen. Pirogen adalah zat yang dapat menyebabkan demam. Pirogen terbagi dua yaitu pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh seperti mokroorganisme dan toksin.

Sedangkan pirogen endogen berasal dari dalam tubuh. Proses terjadinya demam dimulai dari stimulasi sel-sel darah putih (monosit, limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa toksin, mediator inflamasi atau reaksi imun. Pirogen eksogen dan pirogen endogen akan merangsang endotelium hipotalamus untuk membentuk prostaglandin (Irawan, 2021)

II.2.2 Faktor-Faktor Penyebab Demam

Demam dapat disebabkan oleh faktor infeksi dan non infeksi. Beberapa penyebab demam dari infeksi meliputi infeksi dari virus, jamur, parasit maupun bakteri. Penyebab demam non infeksi bisa dari faktor lingkungan seperti lingkungan yang padat dan dapat memicu timbulnya stres ataupun pengeluaran panas berlebihan dalam tubuh. Secara umum, demam dapat disebabkan karena produksi zat pirogen (eksogen atau endogen) yang secara langsung akan mengubah titik ambang suhu hipothalamus sehingga menghasilkan pembentukan panas dan konservasi panas (Erna, 2012).

(6)

II.2.3 Penanganan Demam

Demam merupakan respon fisiologis normal dalam tubuh oleh karena terjadi perubahan nilai set point di hipotalamus. Demam pada prinsipnya dapat menguntungkan dan merugikan. Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk meningkatkan daya fagositosis sehingga viabilitas kuman mengalami penurunan, tetapi demam juga dapat merugikan karena apabila seorang anak demam, maka anak akan menjadi gelisah, nafsu makan menurun, tidurnya terganggu serta bila demam berat bisa menimbulkan kejang demam (Kania, 2013)

Penatalaksanaan demam pada umumnya bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh yang terlalu tinggi ke dalam batas suhu tubuh normal dan bukan untuk menghilangkan demam.

Penatalaksanaannya terdiri dari dua prinsip yaitu pemberian terapi farmakologi dan non farmakologi. Adapun prinsip pemberian terapi non farmakologi meliputi pemberian cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi, memakai pakaian yang mudah menyerap keringat, memberikan kompres hangat agar terjadi vasodilatasi pembuluh darah sehingga set point akan tercapai dan kembali ke batas suhu tubuh inti yang normal. Pengobatan farmakologi pada intinya yaitu pemberian obat antipiretik, obat anti inflamasi, dan analgesik yang terdiri dari golongan berbeda serta memiliki susunan kimia. Tujuan pemberian obat tersebut yaitu untuk menurunkan set point hipotalamus melalui pencegahan pembentukan prostaglandin dengan cara menghambat enzim cyclooxygenase (Santoso, Cahyani and Murniati, 2022)

(7)

BAB III

NUTRITION CARE PROCESS

1. Deskripsi Kasus

An. E berusia 4 tahun 4 bulan datang ke rumah sakit dengan keluhan demam sejak 4 hari dengan suhu mencapai 37,9OC. Berat badan An. E 12 kg dengan tinggi badan 92 cm. An.E mengalami mual dan penurunan nafsu makan. kebiasaan makan An.E makan utama hanya 2x lebih sering mengkonsumsi cemilan. An. E suka mengkonsumsi jajanan seperti chiki, wafer, keripik. An.E kurang menyukai daging dan ayam . An.E sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit mengalami penurunan nafsu makan

Keadaan umum An.E lemas, tingkat kesadaran compos mentis, nadi 138x/menit, suhu 37,9oC serta pernapasan 22x/menit. An.E di diagnosis medis mengalami febris. Hasil recall 24 jam :

Makan Pagi : Nasi 3sdm, telor ceplok, Tahu 1 ptg, Sayur Sop ½ mangkok

Makan Siang : Nasi 3sdm, telor ceplok, Tahu 1 ptg,

Sore : Ciki chitato sapi panggang 1 bungkus

Makan Malam : susu ultra 1 kotak 200 ml FORMULIR SKRINING GIZI AWAL

PEDIATRIC YORKHILL MALNUTRITION SCORE (PYMS)

Ruang Rawat: Mutiara Barat/528 No. RM 01239602 Nama Pasien: An. E Diagnosis: Febris

Tanggal Lahir: 13-06-2019 BB: 12

Jenis Kelamin: Perempuan TB: 92

Pekerjaan: - Suku: -

No. Kriteria Skor

1. Status antropometri

- BB/TB untuk anak < 5 tahun - BMI/U untuk anak ≥ 5 tahun

≥ (-2 SD) 0

< (-2SD) 2 2

2. Kehilangan atau penurunan berat badan akhir-akhir ini

Tidak ada 0 0

Ada 1

3.

Asuhan makan dalam 1 minggu terakhir

Makan seperti biasa 0

Ada penurunan 1 1

Tidak makan sama sekali atau sangat sedikit

2

4, Anak sakit berat *) Tidak 0 0

Ya 2

TOTAL SKOR 3

Kesimpulan

Tanpa risiko Risiko rendah

Risiko tinggi

Keterangan:

Skor ≥ 2 Risiko tinggi, perlu asesmen lebih lanjut oleh dietisien dan/dokter divisi gizi.

Skor 1 Risiko rendah, perlu dilakukan skrining kembali setelah 3 hari Skor 0 Tanpa risiko, perlu dilakukan skrining kembali setelah 1 minggu

(8)

III.2 Pengkajian Kasus III.2.1 Identitas Pasien

Nama Pasien: An. E No. RM 01260518

Umur: 4 tahun 4 bulan Ruang: Mutiara Barat/528

Tanggal Lahir: 13-06-2019 Tanggal Masuk: 2 November 2023 Jenis Kelamin: Perempuan Tanggal Kasus: 3-5 November 2023

Pekerjaan: - Alamat: -

Pendidikan: - Diagnosis medis: Febris

Agama: Islam

III.2.2 Riwayat Personal

Keluhan Utama Demam selama 4 hari, mual, nafsu makan menurun dan badan sakit-sakit

Riwayat Penyakit Terdahulu -

Riwayat Penyakit Keluarga Ibu dari anak E mempunyai riwayat HT Data Sosial Os merupakan anak ke 4 dari 4 bersaudara.

Lain-lain Keluarga An.E belum pernah mendapatkan edukasi terkait gizi dan makanan

III.2.3 Antropometri

Berat Badan (BB) Tinggi Badan (TB)

12 92

Indikator IMT/U untuk anak perempuan umur 4 tahun 4 bulan

-3 SD -2SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD

11,1 12,8 13,9 15,2 16,8 18,6 20,7

Z-skor IMT/U = 𝐼𝑀𝑇 𝑎𝑛𝑎𝑘 −𝐼𝑀𝑇 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐼𝑀𝑇 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑆𝐷(−1)

= 14,2−15,2

15,2−13,9 = -0,76 (Normal)

Indikator TB/U untuk anak perempuan umur 4 tahun 4 bulan

-3 SD -2SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD

91,7 96,1 100,6 105,0 109,5 114,0 118,4

Z-Skor TB/U = 𝑇𝐵 𝑎𝑛𝑎𝑘 −𝑇𝐵 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑇𝐵 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑆𝐷(−1)

= 92−105,0

105,0−100,6 = -2,99 (Stunted)

Indikator BB/U untuk anak perempuan umur 4 tahun 4 bulan

-3 SD -2SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD

11,3 12,8 14,6 16,8 19,4 22,6 26,6

Z-Skor BB/U = 𝐵𝐵 𝑎𝑛𝑎𝑘 −𝐵𝐵 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐵𝐵 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑆𝐷(−1)

= 12−16,8

16,8−14,6 = -2,55 (Underweight)

(9)

Indikator TB/BB untuk anak perempuan umur 4 tahun 4 bulan

-3 SD -2SD -1 SD Median 1 SD 2 SD 3 SD

10,6 11,4 12,3 13,4 14,5 15,8 17,2

Z-Skor BB/U = 𝐵𝐵 𝑎𝑛𝑎𝑘 −𝐵𝐵 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐵𝐵 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑆𝐷(−1)

= 12−13,4

13,4−12,3 = -1,04 (Normal)

Keterangan : berdasarkan hasil perhitungan antropometri dengan menggunakan IMT/U diketahui bahwa status gizi pasien normal dengan zskor -0,79, kemudian perhitungan antropometri menggunakan BB/U diketahui bahwa status gizi pasien stunted dengan hasil z-skor TB/U -2,99 dan perhitungan antropometri menggunakan BB/U diketahui bahwa status gizi pasien underweight dengan hasil zskor BB/U sebesar -2,55

III.2.4 Biokimia

Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Keterangan

Eosinofil 0 % 1-5 Rendah

Netrofil Batang 0 % 3 – 6 Rendah

Monosit 9 % 1-6 Tinggi

Sumber: Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2023

Keterangan : Berdasarkan hasil lab diketahui bahwa Eosinofil dan netrofil batang tergolong rendah. Sedangkan kadar Monosit tinggi.

III.2.5 Fisik dan Klinis

- Keadaan umum : sakit sedang dan kesadaran compos mentis.

- Kesehatan mulut dan menelan : sulit menelan (tidak), stomatitis (tidak), gigi lengkap (ya)

- Fisik : Badan terlihat lemas, mual, ada penurunan nafsu makan dan badan sakit- sakit

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Keterangan

Tekanan darah - - -

Nadi 138 60 – 100 kali/menit Tinggi

Respirasi 22 12- 20 kali/menit Tinggi

Suhu 37,2 36 – 37 °C Tinggi

Sumber: Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2023

Keterangan : Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik diketahui bahwa pasien terlihat lemas dan nafsu makan berkurang, badan nya sakit. Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa nadi, respirasi, dan suhu pada pasien tinggi.

III.2.6 Dietary History

Alergi Makanan -

Masalah Gastrointestinal -

Pola Makan

An E susah makan, tidak terlalu suka konsumsi daging dan ayam. Setiap hari suka konsumsi jajanan warung, seperti ciki dan biskuit.

Nasi 2-3 kali/hari

Ayam dan daging 2 kali seminggu

Ikan 3-4 kali seminggu

Telur Setiap hari

(10)

Tahu Setiap hari

Tempe Setiap hari

Bayam 2 kali seminggu

Wortel dan buncis 3 kali seminggu

Chiki 1 kali/hari

Biskuit 4 kali seminggu Susu ultra 1 kali/hari

Recall

Recall :

- Pagi : Nasi 3 sdm, telur ceplok, tahu 1 ptg, sayur sop ½ mangkok

- Siang : nasi 3 sdm, telor ceplok, tahu 1 ptg - Sore : chiki chitato 1 bungkus kecil

- Malam : susu ultra 200 ml Recall 24 Jam Sebelum Masuk Rumah Sakit

Food Recall

Waktu Menu URT E (kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)

Sarapan

Nasi putih 3 sdm 58,5 1,1 0,1 12,9 Telur

ceplok 1 btr 105 6,6 8,3 0,6

Sayur sop ½

mangkok 52 0,9 3,5 5,3

Tahu

goreng 1 ptg 82,4 2,9 8,1 0,7

Siang

Nasi 3 sdm 58,5 1,1 0,1 12,9

Telur

ceplok 1 btr 105 6,6 8,3 0,6

Tahu

goreng 1 ptg 82,4 2,9 8,1 0,7

Sore

Chiki chitato sapi panggang

1

bungkus 110 2 6 11

Malam Susu ultra 200 131,9 6,4 7,8 9,6

Total Asupan 785,7 30,5 50,3 54,3

Total Kebutuhan 1400 32 38,8 231,7

Persentase (%) 56,1% 95,3% 129,6% 23,4%

Keterangan Defisit

berat Baik Lebih Defisit berat

(11)

Kategori pemenuhan asupan berdasarkan kategori kecukupan gizi (Depkes, 1999) Kategori Kecukupan Gizi Keterangan

<60% Defisit Berat

60-69% Defisit Sedang

70-79% Defisit Ringan

80-120% Baik

>120% Lebih

Keterangan :

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa pasien susah makan, tidak terlalu suka makanan seperti daging dan ayam. Setiap hari suka konsumsi jajanan warung, seperti ciki dan biskuit. Berdasarkan hasil recall menunjukkan bahwa asupan energi, karbohidrat pada pasien dalam kategori deficit berat. Sedangkan asupan lemak dan protein pada pasien dalam kategori baik dan lebih

III.2.7 Terapi Medis

Obat Kegunaan Efek samping

Injeksi Rantin obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung

-konstipasi - nyeri otot - pusing - merasa letih

- timbul ruam pada kulit

Paracetamol 400 mg Obat untuk mengurangi rasa nyeri otot, sakit gigi, demam,

- Mual - Muntah - Konstipasi Triamcinolone

untuk mengatasi alergi, peradangan, dan sariawan

- Mual - Muntah - Diare III.3 DIAGNOSIS GIZI

A. Domain Intake

NI-2.1 Asupan makanan dan minuman per oral tidak adekuat berkaitan dengan kebiasaan makan pasien yang kurang tepat yang ditandai dengan hasil recall asupan SMRS tidak adekuat yaitu 56,7%, B. Domain Klinis

NC-1.1 Berat badan kurang berkaitan dengan pola makan yang tidak seimbang yang ditandai dengan z-skor BB/U sebesar <-2,55 SD (Underweight).

C. Domain Behaviour

NB-1.1 Pola makan yang salah berkaitan dengan kurang terpapar informasi mengenai gizi bagi orang tua anak ditandai dengan pemilihan makanan yang tidak sesuai anjuran yaitu suka jajan ciki dan biskuit, dan asupan anak belum memenuhi gizi seimbang.

(12)

III.4 INTERVENSI GIZI III.4.1 Tujuan Intervensi

Memenuhi asupan oral pasien hingga mencapai > 80%, meningkatkan pengetahuan pasien serta keluarga mengenai pola diet yang benar sesuai dengan penyakit yang diderita pasien serta meningkatkan status gizi pasien mencapai status gizi normal.

III.4.2 Strategi

III.4.2.1 Preskripsi Diet

a. Bentuk Makanan : hari ke 1 NT, Hari ke 2-3 Makanan biasa, lauk cincang

b. Rute : Oral

c. Frekuensi : 3x makanan utama, 1x Extra B.Sum + Susu Dancow 1x150cc

d. Jenis Diet : Hari ke 1 NT LC + Extra bubur sumsum J 10+

Dancow 1x150 cc J.15 14000 kal

: Hari ke 2-3 MB LC + Extra bubur sumsum J 10 + Dancow 1x150 cc J.15 14000 kal

III.4.2.2 Tujuan Diet

a. Meningkatkan asupan makan pasien mendekati baik ( ≥ 80%).

b. Memulihkan kondisi kesehatan dan meningkatkan status gizi

c. Memberikan edukasi gizi seimbang untuk meningkatkan pengetahuan d. Memberikan asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat sesuai

dengan kebutuhan III.4.2.3 Syarat Diet

a. Energi diberikan 1400 kal

b. Protein diberikan sebesar 32 gram.

c. Lemak diberikan 25% dari kebutuhan total energi sebesar 38,8 gr d. Karbohidrat diberikan sebesar 231,7 gram

e. Kalsium diberikan sesuai dengan AKG 2019 III.4.2.4 Perhitungan Kebutuhan di Rumah Sakit

BBI = (U × 2) + 8)

= (4 × 2) + 8 = 16 𝑘𝑔

Kebutuhan energi perempuan untuk usia 4 tahun 90 kkal/BB Kebutuhan Energi = BB Ideal x 90 kkal

= 16 × 90 = 1440 (1400) kkal

Protein = 2 x 16 = 32 gr

• Asupan makan sedikit, diberikan 1400 kkal terlebih dahulu. Jika hari ketiga asupan makan An.E membaik maka diberikan peningkatan energi bertahap.

Energi = 1400 kkal

Protein = 2 x 16 = 32 gr (8,8%) Lemak (25%) = 25% x 1400 gr : 9

= 38,8 gram

(13)

Karbohidrat = 66,2% ×1400 gr : 4 = 231,7 Kalsium = 1000 mg (berdasarkan AKG 2019

III.4.2.5 Perencanaan Menu Sehari Perencanaan Menu Diet Hari 1, 2, 3

Penukar E (kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)

Nasi 2 350 8 0 80

Lauk hewani 2 150 14 10 0

Lauk nabati 1,5 112,5 7,5 4,5 10,5

Sayur 3 75 3 0 15

Buah 4 200 0 0 48

Minyak 4 200 0 20 0

Bubur sumsum 0,5 87,5 2 0 20

Gula merah 1 50 0 0 12

Susu dancow 1,5 90 3,8 4,5 9,8

Total Asupan 1315 35,3 39 195,3

Total Kebutuhan 1400 32 38,8 231,7

Persentase (%) 93,93% 109,31% 100,52% 86,29%

Pembagian Makanan Diet Tabel Pembagian Makanan Diet NT Hari 1

Bahan Makanan Pagi Extra pagi Siang Extra sore Malam Selingan Malam

Nasi ½ - 1P - ½ -

Lauk Hewani ½ - 1P - ½ -

Lauk Nabati ½ - ½ - ½ -

Sayur 1P - 1P - 1P -

Buah - - 1P 1P 1P 1P

Minyak 1P - 1P - 1P -

MCT - - 1P - - -

Bsum + Gula Merah - 0,5 - - - -

Susu dancow - - - 150 -

(14)

Pembagian Makanan Diet

Tabel Pembagian Makanan Diet MB Hari 2 dan 3

Bahan Makanan Pagi Extra pagi Siang Extra sore Malam Selingan Malam

Nasi ½ - 1P - ½ -

Lauk Hewani ½ - 1P - ½ -

Lauk Nabati ½ - ½ - ½ -

Sayur 1P - 1P - 1P -

Buah - - 1P 1P 1P 1P

Minyak 1P - 1P - 1P -

MCT - - 1P - - -

Bsum + Gula Merah - 0,5 - - - -

Susu dancow - - - 1P -

III.5 Edukasi

III.5.1 Tujuan Edukasi

1. Meningkatkan pengetahuan pasien mengenai gizi seimbang.

2. Menjelaskan perencanaan menu sesuai dengan syarat dan prinsip diet

3. Memperbaiki pola makan agar menjadi lebih baik serta mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.

III.5.3 Sasaran, Waktu, Tempat dan Media Edukasi

Edukasi diberikan kepada keluarga pasien. Edukasi dilaksanakan pada tanggal 4 november 2023 WIB di ruang rawat inap pasien. Edukasi diberikan menggunakan metode ceramah

III.5.4 Materi Edukasi Gizi Seimbang:

Secara umum jadwal pemberian makan anak adalah 3x makan utama (pagi, siang, malam) dan 2x selingan.

Makanan terdiri dari:

Sumber zat tenaga : nasi, roti, mie, bihun, jagung, ubi, singkong, tepung- tepungan, gula, dan minyak.

Sumber zat pembangun : ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang- kacangan, tahu, dan tempe.

Sumber zat pengatur : sayur dan buah.

Air, mempunyai fungsi penting dalam tubuh, antara lain sebagai pelarut, katalisator berbagai reaksi tubuh, dan lain-lain.

(15)

III.6 Rencana Monitoring dan Evaluasi III.6.1 Rencana Monitoring

1. Memantau asupan makan pasien pada tanggal 3- 5 November di rumah sakit.

2. Memantau kepatuhan diet setelah diberikan edukasi terkait diet yang diberikan Memantau tanda vital dan fisik pasien.

III.6.2 Rencana Evaluasi

1. Membandingkan asupan makan pasien selama di rumah sakit dan sebelum dirawat di rumah sakit.

2. Melihat tingkat kepatuhan pasien terhadap edukasi gizi mengenai diet yang telah diberikan. Mengembalikan nilai tanda vital ke nilai normal dan meminimalisasi keluhan fisik.

III.7 HASIL DAN PEMBAHASAN MONITORING DAN EVALUASI A. Evaluasi Asupan Zat Gizi

E (kkal) P (g) L (g) KH(gr) Kalsium

Hari pertama 945,5 26,73 36,3 150,6 277,4

Hari Kedua 964,2 25,61 36 156 230,9

Hari Ketiga 932,5

20,81

30 102,8 241,4

Rerata 992 23 30 151 235,8

Kebutuhan 1400 32 38,8 231,7 1000

Persentase

(%) 71% 76% 77% 65% 23,58%

keterangan Defisit Ringan

Defisit Ringan

Defisit Ringan

Defisit Sedang

Defisit Berat Kategori pemenuhan asupan berdasarkan kategori kecukupan gizi (Depkes, 1999)

Kategori Kecukupan Gizi Keterangan

<60% Defisit Berat

60-69% Defisit Sedang

70-79% Defisit Ringan

80-120% Baik

>120% Lebih

Pembahasan : Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan dari hasil penimbangan sisa makanan pasien selama 3 hari berturut – turut, rata – rata asupan makan pasien terkategori defisit ringan di energi, lemak dan protein untuk karbohidrat pasien masuk kategori deficit sedang karena persentase asupan 65% Hal ini dapat berkaitan karena adanya penurunan nafsu makan pada An E sehingga mengganggu selera makan.

(16)

B. Pengamatan Biokimia

Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Keterangan

2/11/23 Eosinofil 0 1-5 Rendah

Netrofil batang 0 3-6 Rendah

Monosit 9 1-6 Tinggi

Pembahasan : Berdasarkan pengamatan biokimia selama tanggal 2 diketahui kadar Eosinofil dan Netrofil batang Os rendahn, sedangkan kadar Monosit Os berada di kategori tinggi hal ini terjadi karena adanya infeksi di dalam tubuh

C. Pengamatan Fisik dan Klinis Tanggal Jam

Jenis Pemeriksaan

Kesadaran TD N P S 2/11/2023 09.00 CM - 110 22 37,5 3/11/2023 09.00 CM - 112 22 37,7 4/11/2023 09.00 CM - 110 22 37,2 Keterangan nilai normal:

TD = 120/80 mmHg Nadi = 60 – 100x/menit Pernapasan = 12 – 20 x/menit Suhu = 36,1 – 37,1°C CM = Compos Mentis

Pembahasan :Berdasarkan hasil pengamatan klinis selama 3 hari intervensi di rumah sakit diketahui bahwa kesadaran pasien compos mentis.

Untuk nadi, pernapasan serta suhu pada Os sejak awal masuk rumah sakit hingga 3 hari intervensi masih tetap tinggi. Untuk pemeriksaan keluhan fisik pasien selama 3 hari diketahui bahwa pasien masih kurang nafsu makan dan lemas

(17)

D. Monitoring dan Evaluasi

No Indikator Monitoring Evaluasi

a. Food/Nutrition Related History 1 FH 1.1.1

Asupan Energi 3/11/23 945,5 4/11/23 964,2 5/11/23 932,5 Rerata 992(71%)

Berdasarkan hasil pemantauan selama 3 hari, rata-rata asupan energy pasien sebanyak 992 kkal (71%) dengan kebutuhan pasien sebesar 1400 kkal. Asupan energy selama 3 hari di RS tergolong defisit ringan

Diharapkan asupan mencapai >80%

dari kebutuhan

2 FH 1.5.3

Asupan Protein 3/11/23 26,73 4/11/23 25,61 5/11/23 20,81 Rerata 23 (76%)

Berdasarkan hasil pemantauan selama 3 hari, rata-rata asupan protein pasien sebanyak 23 gr (76%) dengan kebutuhan pasien sebesar 32 gr. Asupan protein selama 3 hari di RS defisit ringan.

Diharapkan asupan mencapai >80%

dari kebutuhan

3 FH 1.5.1.1 Asupan Lemak

3/11/23 36,2 4/11/23 36 5/11/23 30 Rerata 30(77%)

Berdasarkan hasil pemantauan selama 3 hari, rata-rata asupan lemak pasien sebanyak 30 gr (77%) dengan kebutuhan pasien sebesar 38,8 gr. Asupan lemak selama 3 hari di RS tergolong defisit ringan

Diharapkan asupan mencapai >80%

dari kebutuhan

4 FH 1.5.5

Asupan Karbohidrat 17/12/22 150,6 18/12/22 156 19/12/22 102,8 Rerata 151 (65%)

Berdasarkan hasil pemantauan selama 3 hari, rata-rata asupan karbohidrat pasien sebanyak 151 (65%) dengan kebutuhan pasien sebesar 231,7 gr. Asupan energy selama 3 hari di RS tergolong defisit sedang

Diharapkan asupan mencapai >80%

dari kebutuhan

5 FH 1.6.2.

Asupan Kalsium 3/11/23 277,4 4/11/23 230,9 5/11/23 241,4

Rerata 235,8 (23,58%)

Berdasarkan hasil pemantauan selama 3 hari, rata-rata asupan Kalsium pasien sebanyak 235,8% dengan kebutuhan pasien sebesar 1000 mg. Asupan energy selama 3 hari di RS tergolong defisit berat

Diharapkan asupan mencapai >80%

dari kebutuhan

(18)

6 FH 5.1.1

Skor kepatuhan Diet

Selama dilakukannya monitoring keluarga Os memberikan makan Os sesuai dengan diet yang diberikan.

Kepatuhan diet Os diharapkan

mencapai 100%

1. Biochemical Data, Medical Test, Procedure 1 PD 1.1

Tanda Vital

Tgl TD N P S 2 - 110 22 37,5 3 - 110 22 37,7 4 - 110 22 37,2

Berdasarkan hasil pemantauan selama 3 hari nadi, pernapasan dan suhu Os berada dalam kategori tinggi.

Diharapkan laju pernapasan dan tanda vital pasien lainnya dapat terus berada dalam nilai normal.

(19)

BAB IV PENUTUP

IV.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengkajian hasil dan pembahasan pada kasus anak dengan febris, diketahui bahwa pasien memiliki status gizi underweight dan stunted dengan z-skor BB/U sebesar -2,55 dan TB/U sebesar-2,99 SD. Selama 3 hari intervensi nafsu makan pasien masih kurang baik sehingga kebutuhan energi, protein, lemak dan karbohidrat tidak mencapai >80% dari kebutuhan. Hasil laboratorium biokimia pasien diketahui kadar Eosinofil dan Netrofil batang rendah, sedangkan kadar Monosit Os berada di kategori tinggi hal ini terjadi karena adanya infeksi di dalam tubuh dan berdasarkan fisik dan klinis bahwa kesadaran pasien compos mentis. kemudian nadi, pernapasan serta suhu pada Os sejak awal masuk rumah sakit hingga 3 hari intervensi masih tetap tinggi

IV.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang dapat diberikan kepada pasien yaitu diharapkan pasien dapat meningkatkan asupan makan agar mencapai > 80% dari total kebutuhan gizi harian serta dapat melaksanakan anjuran makan yang telah diberikan pada saat edukasi, sesuai dengan prinsip dan syarat diet gizi seimbang.

(20)

LAMPIRAN 1. ASUPAN MAKAN PASIEN ASUPAN HARI PERTAMA

Waktu

Makan

Menu Berat Berat Dimakan

E P L KH Kalsium

Pagi Nasi 100 84 73,5 2,52 0 16,8 2,5

Telur

Bumbu Kuning

60 32 30,5 2,24 1,95

313

0 11,7

oseng

tempe

50 50 38,5 2,5 1,5 3,5 25

Labusia

m

100 100 25 1 0 5 23

Selingan J

10

B.sum +gula merah

- - 137,5 2 0 32 2,5

Siang Nasi

putih

100 20 17,5 0,15 0 12 0,9

Bacang

Daging

25 25 38,5 3,5 2,5 0 1,6

Sop

Daging

100 100 25 1 0 5 14

Tahu

Kukus

25 25 38,5 2,5 1,5 7 26,3

Buah

Semangk a

100 100 50 0 0 12 8

Extra

buah J 15.18.21

Buah Melon

300 300 150 0 0 36 33

Extra

Susu J 15

Susu dancow

150 150 90 3,8 4,8 9,8 20

Malam Nasi

putih

100 100 87,5 1,5 0 20 1,5

Ayam

Panggan g

Mentega

50 50 38,5 3,5 2,5 3,5 3,5

Tahu

Bacem

75 75 38,5 2,5 1,5 0 23

Bening

Bayam

100 100 25 1 0 5 60

Minyak 20 20 200 0 20 0 1,2

Total Asupan 945,5 26,73

083

36 150, 6

277,4

Kebutuhan Sehari 1400 32 38,8 231,

7

1000

%Asupan 67 84 86 65 27,74

(21)

ASUPAN HARI KEDUA Waktu

Makan

Menu Berat Berat dimakan

E P L KH Kalsium

Pagi Nasi Putih 100 30 52,2 0,45 0 12 0,9

Ayam

Mentega

50 50 38,5 3,5 2,5 0 26,4

Tahu

Bacem

75 75 38,5 2,5 1,5 3,5 6,5

Sop

Sayuran

100 100 25 1 0 5 23

Extra B sum + gula jawa

B sum - - 137,5 2 0 32 2,5

Siang Nasi putih 100 36 57,5 0,99 0 13,2 1,1

Ayam

teriyaki

50 36 27 3,15 1,7 0 26,3

Tahu

Kukus

25 25 38,5 2,5 1,5 3,5 4,7

Sop Ayam 100 100 25 0,86 0 5 23

Buah

Melon

100 100 50 0 0 12 11

Extra buah J 15.18.21

Semangka 300 300 150 0 0 36 33

Extra J 15 Susu dancow

150 150 90 3,8 4,8 9,8 20

Malam Nasi 100 43 75,25 0,64 0 17,2 1,35

Acar Ikan

Tenggiri

50 25 38,5 3,5 2,5 0 23,8

Tahu

bacem

75 75 38,5 2,5 1,5 3,5 6,5

Sop oyong

soun

100 100 25 1 0 5 23

Minyak 20 20 200 0 20 0 1,2

Total Asupan 964,2 25,61

474

36,3 156 230,9

Kebutuhan Sehari 1400 32 38,8 231,7 1000

%Asupan 69 80 94 67 23,09

(22)

ASUPAN HARI KETIGA Waktu

Makan

Menu Berat Berat dimakan

E P L KH Kalsium

Pagi Nasi

Putih

100 50 87,5 1,5 0 20 1,4

Telur

Opor

60 25 21 1,96 3,57 0 10,7

Oseng

Tempe

50 50 38,5 1,5 3,5 25

Asam-

Asam Buncis

100 100 25 1 0 5 23

Extra B

Sum J 9 + gula jawa

B Sum - - 137,

5

2 0 20 2,5

Siang Nasi

Putih

100 45 78,7

5

0,67 5

0 18 1,37

Telur

Semur

60 20 19 1,74 3,22 0 10,2

Tahu

Kukus

25 20 30,8 2,5 1,87

5

1,87 5

21

Sayur

Lodeh

100 100 25 1 0 0 23

Buah

Semang ka

100 100 50 0 0 12 8

Extra

buah15.1 8.21

Melon 300 300 150 0 0 36 33

Selingan

J 15

susu dancow

150 150 90 3,8 4,8 9,8 20

Malam Nasi 100 50 87,5 1,5 0 20 1,4

daging

cincang

50 25 38,5 3,5 2,5 0 1,6

Tempe

B Kuning

50 15 28,1

25

1,66 667

1,5 7 13,9

Sop

Sayuran

100 100 25 1 0 5 23

Minyak 20 20 200 0 20 0 1,2

Total Asupan 932,

5

20,8 1667

32,2 867

102, 8

241,4

Kebutuhan 1400 32 38,8 231,

7

1000

% Asupan 66,5

%

65 83 44 24,14

Tota Rata - Rata Asupan 992 24 30 151 235,8

% Total Rata - Rata Asupan 71 76 77 65 23,58

(23)

LAMPIRAN 2. Gambar Sisa Makan Hari Pertama

Sisa Makan Pagi Sisa Makan Siang Sisa Makan Malam

Pemorsian Siang

Hari Kedua

Sisa Makan Pagi Sisa Makan Siang Sisa Makan Malam

Pemorsian Siang

(24)

Hari Ketiga

Sisa Makan Pagi Sisa Makan Siang Sisa Makan Malam Recall :

½ P Nasi

½ P lauk Hewani 1 sdm Lauk Nabati Sayur 1 P

Pemorsian Siang

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Cahyani and Murniati (2022) ‘Asuhan Keperawatan pada An. S dengan Demam tyfoid di Ruang Firdaus RSI Banjarnegara’, Journal Inovasi Penelitian, 3(7), pp. 6915–6922.

Wandini, R., Rilyani and Resti, E. (2021) ‘Pemberian Makanan Pendamping Asi (MP-ASI) Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita’, Jurnal Kebidanan Malahayati, 7(2), pp. 274–278. Available at: http://repo.stikesicme-jbg.ac.id/4382/.

Referensi

Dokumen terkait