LAPORAN STUDI KASUS HARIAN
PENATALAKSANAAN GIZI PADA KASUS IKTERUS SUSPECT HEPATITIS DAN HIPOGLIKEMIA
RUANG RAWAT INAP DAHLIA BARAT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
Disusun Oleh:
Salsabila 2010714009
PROGRAM STUDI GIZI PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2023
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Terapi gizi merupakan komponen penting dalam penanganan penyakit dan kondisi medis, yang memerlukan perhatian khusus agar diet yang diberikan kepada pasien sesuai dengan fungsi organ tubuh, dan harus secara berkala dievaluasi. Nutrisi memiliki dampak signifikan pada proses penyembuhan pasien di lingkungan rumah sakit. Malnutrisi dapat memengaruhi durasi perawatan, meningkatkan risiko komplikasi penyakit, memperbesar biaya pengobatan, dan berpotensi menyebabkan kematian. Ketidakseimbangan antara asupan makanan dan kebutuhan gizi menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
NCP, atau Nursing Care Process, adalah suatu siklus proses perawatan gizi yang terdiri dari empat langkah berturut-turut yang saling berhubungan. Langkah-langkah ini mencakup pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, dan pemantauan serta evaluasi. Perbedaan kunci antara NCP dan praktik asuhan gizi sebelumnya adalah fokus pada diagnosis gizi yang disusun secara sistematis. Diagnosis gizi ini mencakup identifikasi permasalahan gizi, penyebabnya, serta tanda dan gejala yang terkait. Permasalahan yang teridentifikasi dalam diagnosis gizi digunakan sebagai dasar untuk merancang rencana intervensi, dengan tujuan terapi yang ditujukan pada penyebab masalah gizi, dan hasilnya dapat dinilai melalui perbaikan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien (Sumapradja, 2011).
Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab baik infeksi maupun non infeksi. Diantara penyebab infeksi adalah virus, bakteri, jamur, dan organisme parasit. Selain itu, penyebab tidak menular atau non infeksi dapat dipengaruhi dengan penggunaan obat-obatan, konsumsi alkohol, perubahan metabolisme, penyakit autoimun dan keturunan(Nurwananda and Sulaiman, 2022)
Sebagian besar kasus penyakit hepatitis yang ditemukan dari berbagai wilayah di seluruh dunia disebabkan oleh lima virus hepatotropik primer yang berbeda, yaitu: Virus Hepatitis A, Virus Hepatitis B, Virus Hepatitis C, Virus Hepatitis D dan Virus Hepatitis E (Ho et al., 2019). Hepatitis A dan E sering kali muncul sebagai kejadian luar biasa, bersifat akut dan tidak akan berkembang menjadi penyakit kronis. Sedangkan Hepatitis B, C dan D menyebabkan hepatitis kronis dan dapat berkembang menjadi penyakit sirosis serta hepatocellular carcinoma (Mehta et al, 2021).
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dikawasan ASEAN dengan angka kejadian Hipoglikemia yang tinggi yakni pada tahun 2017 sebanyak 4.678 kasus, meningkat menjadi 4.696 pada tahu 2018 dan pada tahun 2019 meningkat lagi menjadi 4.811 kasus Sulawsei Tenggara menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka kejadian hipoglikemi yang relatif tinggi, dimana pada tahun 2018 sebanyak 687 Kasus dan tahun 2019 mencapai 693 kasus. Hipoglikemia merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan dan komplikasi DM tipe 2 yang sangat berbahaya dan dapat mengancam jiwa. Hipoglikemia ditandai dengan perubahan nilai konsentrasi glukosa plasma disertai gangguan fisiologis tubuh.
American Diabetes Association tahun 2015 menjelaskan bahwa hipoglikemia terjadi jika nilai konsentrasi glukosa plasma menurun dibawah 70 mg/dl (Hasna, Dharmawati and Narmawan, 2021)
I.2 Tujuan
I.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui perencanaan dan penatalaksanaan diet pada pasien ikterus suspect hepatitis dan hipoglikemia
I.2.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan anamnesis riwayat gizi pasien.
b. Mahasiswa mampu mengkaji data sesuai dengan NCP (Nutrition Care Process).
c. Mahasiswa mampu menghitung kebutuhan gizi pasien sesuai penyakit yang dialami.
d. Mahasiswa mampu menentukan diagnosis gizi pasien
e. Mahasiswa mampu melakukan intervensi gizi meliputi tujuan diet, syarat diet, dan preskripsi diet.
f. Mahasiswa mampu menyusun diet pasien sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan.
I.3 Manfaat
I.3.1 Bagi Mahasiswa
Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan mengenai penatalaksanaan diet.
I.3.2 Bagi Pasien
Mendapatkan intervensi gizi, informasi, dan pengetahuan mengenai pemberian diet terkait penyakit yang diderita.
I.3.3 Bagi Instalasi Gizi
Memberikan informasi terkait penatalaksaan diet pada pasien.
I.3.4 Bagi Rumah Sakit
Memberikan gambaran informasi mengenai keadaan pasien serta mempersiapkan mahasiswa sebagai calon ahli gizi dalam menerapkan ilmu yang telah didapatkan sehingga dapat meningkatkan pelayanan gizi di RSUD Budhi Asih.
I.4 Metode Pengambilan Data I.4.1 Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mewawancarai wali tentang data riwayat pasien, yang meliputi keluhan pasien masuk rumah sakit, pola makan, recall 24 jam, identitas diri, kebiasaan makan sebelum dirawat, serta riwayat penyakit pribadi dan keluarga pasien.
I.4.2 Observasi
Observasi dilakukan dengan melihat hasil pemeriksaan di buku status pasien.
I.4.3 Waktu dan Tempat
Kegiatan wawancara dan observasi dilakukan pada hari Rabu, 27 Oktober 2023 di Dahlia Barat RSUD Budhi Asih.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA II.1 Hepatitis
Hati adalah organ padat terbesar dan mempunyai fungsi yang sangat penting untuk tubuh manusia. Salah satu penyakit yang dapat menyerang organ hati yaitu hepatitis. Hepatitis merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan pada hati dan dapat mempengaruhi fungsi hati. Penyakit hepatitis umumnya dianggap sebagai infeksi dari beberapa virus yang berbeda.
Virus tersebut adalah Virus Hepatitis A, Virus Hepatitis B, Virus Hepatitis C, Virus Hepatitis D, dan Virus Hepatitis E. Penyakit hepatitis dikelompokkan lebih lanjut menjadi akut dan kronis berdasarkan lamanya peradangan atau gangguan pada hati. Hepatitis akut terjadi dalam jangka waktu tidak lebih dari enam bulan dan terkadang dapat sembuh dengan sendirinya.
Sebaliknya, jika penyakit masih menjangkit seseorang lebih dari enam bulan, hepatitis akan berubah menjadi kronis dan dapat menyebabkan kerusakan hati dengan kondisi yang lebih parah seperti sirosis, fibroris hati, karsinoma hepatoseluler hingga kematian.
Hepatitis A (HAV)
Penyakit hepatitis A disebab kan oleh virus hepatitis A atau HAV yang ditular kan melalui feses (fekal-oral) yaitu virus masuk ke dalam tubuh saat seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman terkontaminasi tinja yang mengandung HAV. Virus ini akan masuk ke dalam saluran pencernaan bersamaan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi, kemudian masuk ke hati melalui peredaran darah untuk menginvasi sel-sel hati (hepatosit), dan melakukan replikasi di hepatosit. Data yang didapatkan dari Center of Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2018, di Amerika virus hipatitis A menyerang sekitar 4.000 orang sedangkan hepatitis B dan C menyerang jauh lebih banyak yaitu sebesar 21.000 dan 41.000 setiap tahunnya
Gejala yang dapat muncul pada 2-6 minggu setelah pasien terinfeksi. Masa inkubasi virus hepatitis A (HAV) adalah 15–50 hari dengan rata-rata 28 hari sampai dengan 30 hari setelah infeksi. Pada saat penularan, biasanya virus dapat ditemukan di dalam feses dan puncaknya pada 1–2 minggu sebelum timbul gejalaklinis, lalu menurun cepat dan timbul gejala disfungsi pada hati. Jika seseorang terinfeksi virus hepatitis A (HAV) gejala yang dapat muncul berupa demam, kelelahan, anoreksia (kehilangan nafsu makan), gangguan pencernaan atau ketidaknyamanan pada daerah perut terutama di hati, mual, muntah, urine berwarna teh pekat, serta warna kekuningan pada kulit danmata (ikterus) (Muslim, 2020)
Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit menular yang menyerang organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). HBV sangat infeksius dan merupakan penyebab utama hepatitis kronis, sirosis hati, dan karsinoma hepatoseluler. Virus hepatitis B (HBV) adalah salah satu penyebab infeksi virus kronik tersering di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 240 juta orang di dunia memiliki infeksi HBV kronik, dan 686.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi hepatitis B, yaitu sirosis dan kanker hati (Annisa, 2019) II.2 Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kadar glukosa darah ≤ 70 mg/dl (3,9 mmol/L), nilai tersebut ditetapkan oleh American Diabetes Association sebagai glukosa darah kategori waspada. Tanda dan gejala hipoglikemia di bedakan menjadi dua kategori. Hipoglikemia menyebabkan kegagalan otak fungsional, yang biasanya terjadi ketika peningkatan kadar glukosa yang diberikan. Kejadian kematian otak terjadi pada onset hipoglikemia yang singkat, jarang terjadi pada onset hipoglikemia yang memanjang. Selain itu hipoglikemia dapat menyebabkan beberapa kelainan kardiovaskular di antaranya kelainanan koagulasi darah, inflamasi, disfungsi endotel, dan pengkatifan sistem saraf simpatik (Budiawan, Permana and Emaliyawati, 2020)
BAB III
NUTRITION CARE PROCESS
PENGKAJIAN KASUS
Informasi Umum/Identitas Pasien
a. Pasien : Wardah Oktavia b. No. Rekam Medik : 01258452 c. Ruang : Dahlia Barat / d. Jenis Kelamin : Perempuan e. Tanggal Lahir : 4-10-1999
f. Usia : 24 tahun
g. Diagnosa : Ikterus susp hepatitis sindrom dan hipoglikemia h. Riwayat Personal : -
ASESSMENT
III.1 Antropometri
Berat Badan : 60
Tinggi Badan : 154
Berat Badan Ideal : 48,6
IMT : 25,2 𝑘𝑔/𝑚2
Status Gizi : overweight III.2 Biokimia
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal Keterangan
AST/SGOT 232 IU/L <27 Tinggi
ALT/SGPT 262 IU/L <34 Tinggi
Glukosa Darah
Sewaktu 62 Mg/dl 70-110 Rendah
Sumber : Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2023
Pembahasan : Kadar gula darah sewaktu rendah, SGOT dan SGPT diatas nilai normal/tinggi
III.3 Klinis
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal Keterangan
Tekanan Darah 110/87 mmHg <120/80 Normal
Nadi 87 x/menit 60 – 100 Normal
Respirasi 20 x/menit 12 - 20 Normal
Suhu 36 °C 36,1 – 37,1 Normal
Sumber : Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2022
Fisik Klinis Hasil
Atropi Otot Lengan Tidak
Hilang Lemak Tidak
Udem Tidak
Nafsu Makan Penurunan Nafsu Makan
Mual Ada
Muntah Ada
Kembung Tidak
Konstipasi Tidak
Diare Tidak
Gangguan Menelan Tidak
Gangguan Mengunyah Tidak
Gnagguan Menghisap Tidak
Sesak Tidak
BAB Hitam/Melena Tidak
Muntah Darah/Hematemesis Tidak
Batuk Darah Tidak
Sumber : Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2023
Pembahasan : Hasil klinis pada tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu tubuh dalam keadaan normal. Untuk hasil fisik pasien mengalami mual dan muntah kemudian ada penurunan nafsu makanan
III.4 Dietary History
Alergi Makanan Tidak ada
Masalah
Gastrointestinal
- Nyeri ulu hati : Tidak - Mual : Ada
- Muntah : Ada - Diare : Tidak - Konstipasi : Tidak - Anoreksia : Tidak
- Perubahan pengecapan/penciuman : Tidak Perubahan Berat
Badan
Tidak ada
Riwayat/Pola Makan Recall 1 hari SMRS
- Pagi : Bubur Ayam 1 porsi habis - Selingan pagi : -
- Siang : Buah melon 2 pepaya 1 - Malam : roti coklat merek sari roti 1 Kebiasaan Makan :
- Jarang mengonsumsi nasi sering ngemil - Porsi makan sedikit
- Jarang mengkonsumsi sayur dan protein hewani
Recall 24 Jam Sebelum Masuk Rumah Sakit Waktu Menu Bahan
Makanan URT Gram E (kkal)
P (gr)
L (gr)
KH (gr) Pagi Bubur
ayam Nasi 1 ½
centong 150 238 7,6 3,1 42,9
Siang Buah Melon 2 ptg 200 76,9 1,2 0,4 16,6
Papaya 1 ptg 100 39 0,6 0,1 9,8
Malam Roti Roti sari roti
1
bungkus 42 120 3 3 21
Total 473 13,1 5,5 91,3
Kebutuhan 1537 57 42,6 230
Persentase 30,7% 22,9% 12,9% 39,6%
Sumber : Nutrisurvey
Tabel Kategori Kecukupan Gizi (Depkes, 1999) Kategori Kecukupan Gizi Keterangan
< 60% Defisit Berat
60 – 69% Defisit Sedang
70 – 79% Defisit Ringan
80 – 120% Baik
>120% Lebih
III.5 Diagnosis Gizi a. Diagnosis Intake
(NI-2.1) Intake energi, protein, lemak, karbohidrat inadekuat berkaitan dengan sirosis hati dan mual dibuktikan dengan asupan kurang <80% yaitu energi 30,7%%, protein 22,9%%, lemak 12,9%% dan karbohidrat 39,6%%
b. Diagnosis Klinis
(N.C-2.2) Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus berkaitan dengan gangguan fungsi hati yang diderita pasien dibuktikan dengan tingginya nilai pemeriksaan SGOT sebesar 232 dan SGPT 262
c. Diagnosis Behaviour
(N.B-1.1) Kurangnya pengetahuan tentang gizi dan makanan berkaitan dengan pasien belum pernah mendapatkan edukasi gizi ditandai dengan kebiasaan pasien dalam mengonsumsi makanan yang kurang tepat
III.6 Perhitungan Kebutuhan Perhitungan Kebutuhan
BMR (Haris Benedict) = 655 + (9,6xBB) + (1,8xTB) - (4,7xU)
= 655 + (9,6x48,6) + (1,8x154) - (4,7x24)
= 1270,5 Energi = 1.202,4 x 1,1 x 1,1
= 1.537
= 1.537 kkal (80% dari total kebutuhan Energi) Protein = 15% x Energi
= 15% x 1.537 kkal/4
= 57
Lemak = 25% x Energi
= 25% x 1.537 kkal/9
= 42,6 gr
Karbohidrat = 60% x 1.537 kkal/4
= 230
III.7 Intervensi a. Tujuan Intervensi
Memenuhi asupan oral pasien hingga mencapai >80% dan meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai pola diet yang benar sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.
b. Strategi
1) Preskripsi Diet
Bentuk Makanan : Makanan biasa Rute : Oral
Frekuensi : Makanan utama 3 kali, extra susu hepatosol 150 cc2 j 15&21 Jenis Diet : MB + ex susu 2x150 cc
2) Tujuan Diet
a) Meningkatkan asupan makan pasien mendekati baik ( ≥ 80%).
b) Mencegah komplikasi lebih lanjut dan memulihkan kondisi pasien.
c) Mencegah dan mengatasi kekurangan zat gizi mikro, vitamin, mineral dan elektrolit.
d) Memperbaiki pola makan pasien.
e) Memberikan edukasi gizi sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.
f) Memberikan makanan sesuai dengan daya terima pasien.
3) Syarat Diet
a) Energi diberikan sesuai dengan kebutuhan sebesar 1.537 kkal.
b) Protein diberikan 15% dari total kebutuhan energi, yaitu sebesar 57 gram.
c) Lemak diberikan 25% dari total kebutuhan energi, yaitu sebesar 42,6 gram.
d) Karbohidrat diberikan 60% dari total energi yang diberikan yaitu 230 gram.
f) Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien.
III.8 Monitoring Evaluasi
Indikator Monitoring Evaluasi
FH 1.1.1 Asupan Energi
= 473 kkal
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan energi 1 hari SMRS sebesar 473 kkal (30,7%) termasuk kedalam kategori defisit berat
Diharapkan asupan > 80%
FH 1.5.3
Asupan Protein
= 13,1 gr
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan protein 1 hari SMRS sebesar 13,1 gr (22,9%) termasuk kedalam kategori defisit berat
Diharapkan asupan > 80%
FH 1.5.1.1 Asupan Lemak
= 5,5 gr
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan lemak 1 hari SMRS sebesar 5,5 gr (12,9%)termasuk kedalam kategori defisit berat
Diharapkan asupan >80%
FH 1.5.5 Asupan Karbohidrat = 91,3 gr
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan karbohidrat 1 hari SMRS sebesar 91,3 gr
Diharapkan asupan > 80%
(39,6%) termasuk kedalam kategrori defisit berat
>
DAFTAR PUSTAKA
Annisa (2019) ‘Virus Hepatitis B di Indonesia dan risiko penularan terhadap mahasiswa kedokteran’, Anatomica Medical Journal Fakultas Kedokteran, 2(2), pp. 66–72. Available at:
http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/AMJ.
Budiawan, H., Permana, H. and Emaliyawati, E. (2020) ‘Faktor Risiko Hipoglikemia Pada Diabetes Mellitus: Literature Riview’, Healthcare Nursing Journal, 2(2), pp. 20–29. Available at: https://doi.org/10.35568/healthcare.v2i2.688.
Hasna, Dharmawati, T. and Narmawan (2021) ‘Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipoglikemia Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di IGD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara’, Jurnal Ilmiah Karya Kesehatan, 02.
Muslim, A.S. (2020) ‘Faktor Perilaku Terhadap Kejadian Hepatitis A’, Jurnal Bagus, 02(01), pp. 402–406.
Nurwananda, S.S. and Sulaiman, R. (2022) ‘Aplikasi Himpunan Fuzzy Intuisionistik Dalam Diagnosa Penyakit Hepatitis Menggunakan Extended Hausdorff Distance’, MATHunesa:
Jurnal Ilmiah Matematika, 10(1), pp. 41–49. Available at:
https://doi.org/10.26740/mathunesa.v10n1.p41-49.