LAPORAN STUDI KASUS HARIAN
PENATALAKSANAAN GIZI PADA KASUS PPOK SUSPEK PH RUANG RAWAT INAP DAHLIA BARAT
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
Disusun Oleh:
Salsabila 2010714009
PROGRAM STUDI GIZI PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2023
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Terapi gizi merupakan komponen penting dalam penanganan penyakit dan kondisi medis, yang memerlukan perhatian khusus agar diet yang diberikan kepada pasien sesuai dengan fungsi organ tubuh, dan harus secara berkala dievaluasi. Nutrisi memiliki dampak signifikan pada proses penyembuhan pasien di lingkungan rumah sakit. Malnutrisi dapat memengaruhi durasi perawatan, meningkatkan risiko komplikasi penyakit, memperbesar biaya pengobatan, dan berpotensi menyebabkan kematian. Ketidakseimbangan antara asupan makanan dan kebutuhan gizi menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
NCP, atau Nursing Care Process, adalah suatu siklus proses perawatan gizi yang terdiri dari empat langkah berturut-turut yang saling berhubungan. Langkah-langkah ini mencakup pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, dan pemantauan serta evaluasi. Perbedaan kunci antara NCP dan praktik asuhan gizi sebelumnya adalah fokus pada diagnosis gizi yang disusun secara sistematis. Diagnosis gizi ini mencakup identifikasi permasalahan gizi, penyebabnya, serta tanda dan gejala yang terkait. Permasalahan yang teridentifikasi dalam diagnosis gizi digunakan sebagai dasar untuk merancang rencana intervensi, dengan tujuan terapi yang ditujukan pada penyebab masalah gizi, dan hasilnya dapat dinilai melalui perbaikan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien (Sumapradja, 2011).
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru progresif yang mengancam jiwa yang menyebabkan sesak napas dan predisposisi eksaserbasi dan penyakit serius. The Global Burden of Disease Study melaporkan prevalensi 251 juta kasus PPOK secara global pada tahun 2016. Secara global, diperkirakan 3,17 juta kematian disebabkan oleh penyakit ini pada tahun 2015 (yaitu, 5% dari semua kematian secara global pada tahun tersebut). Lebih dari 90% kematian PPOK terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.(Ramadhani et al., 2022)
Hipertensi pulmonal merupakan perubahan hemodinamik sirkulasi paru sehingga tekanan arteri paru meningkat. Hipertensi pulmonal terjadi apabila terjadi peningkatan mean pulmonary arterial pressure (mPAP) ≥25 mmHg yang dinilai dengan kateterisasi jantung kanan.1,2 Prevalensi hipertensi pulmonal telah dilaporkan sebagai 97 kasus per juta dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 1:8, tingkat kematian standar usia di Amerika dari hipetensi pulmonal berkisar 4,5 hingga 12,3 per 100.000 populasi(Suling, 2010)
I.2 Tujuan
I.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui perencanaan dan penatalaksanaan diet pada pasien PPOK Suspek PH I.2.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan anamnesis riwayat gizi pasien.
b. Mahasiswa mampu mengkaji data sesuai dengan NCP (Nutrition Care Process).
c. Mahasiswa mampu menghitung kebutuhan gizi pasien sesuai penyakit yang dialami.
d. Mahasiswa mampu menentukan diagnosis gizi pasien
e. Mahasiswa mampu melakukan intervensi gizi meliputi tujuan diet, syarat diet, dan preskripsi diet.
f. Mahasiswa mampu menyusun diet pasien sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan.
I.3 Manfaat
I.3.1 Bagi Mahasiswa
Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan mengenai penatalaksanaan diet.
I.3.2 Bagi Pasien
Mendapatkan intervensi gizi, informasi, dan pengetahuan mengenai pemberian diet terkait penyakit yang diderita.
I.3.3 Bagi Instalasi Gizi
Memberikan informasi terkait penatalaksaan diet pada pasien.
I.3.4 Bagi Rumah Sakit
Memberikan gambaran informasi mengenai keadaan pasien serta mempersiapkan mahasiswa sebagai calon ahli gizi dalam menerapkan ilmu yang telah didapatkan sehingga dapat meningkatkan pelayanan gizi di RSUD Budhi Asih.
I.4 Metode Pengambilan Data I.4.1 Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mewawancarai wali tentang data riwayat pasien, yang meliputi keluhan pasien masuk rumah sakit, pola makan, recall 24 jam, identitas diri, kebiasaan makan sebelum dirawat, serta riwayat penyakit pribadi dan keluarga pasien.
I.4.2 Observasi
Observasi dilakukan dengan melihat hasil pemeriksaan di buku status pasien.
I.4.3 Waktu dan Tempat
Kegiatan wawancara dan observasi dilakukan pada hari Rabu, 27 Oktober 2023 di Dahlia Barat RSUD Budhi Asih.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA II.1 PPOK
PPOK merupakan penyakit paru kronik yang terlihat adanya gangguan aliran udara di saluran pernapasan yang tidak sepenuhnya reversible (bolak-balik). Gangguan aliran udara tersebut umumnya bersifat progresif dan berkaitan dengan reaksi inflamasi pulmonal akan partikel atau gas berbahaya. (Kardiyudiani, 2019, hlm.105).
Penyakit Paru Obstruktif Kronik merupakan penyakit yang dapat dicegah dan bisa diobati yang ditandai dengan adanya keterbatasan aliran udara yang persisten dan bersifat progresif, barkaitan dengan respon inflamasi kronik yang berlebihan di saluran napas dan parenkim paru terhadap partikel atau gas berbahaya. Karakteristik gangguan aliran udara pada PPOK disebabkan oleh gangguan antara obstruksi saluran napas (obstruktif kronik) dan kerusakan parenkim (emfisema) yang bervariasi pada setiap individu, dikarenakan inflamasi kronik yang dapat menyebabkan hilangnya hubungan alveoli dan saluran napas dan menurunnya elsatisitas recoil paru (GOLD, 2022)
II.2 PH (Hipertensi Pulmonia)
Hipertensi Pulmonal (HP) adalah suatu kelainan pembuluh darah paru yang bersifat kronik yang ditandai dengan peningkatan resistensi pembuluh darah paru yang progresif dan merupakan penyebab utama gagal jantung kanan dan kematian. Hipertensi Pulmonal (HP) yaitu tekanan arteri pulmonal rata – rata lebih dari 25 mmHg dalam keadaan istirahat, atau ≥ 30 mmHg selama aktivitas, dengan tekanan arteri pulmonal normal rata-rata (yaitu kurang dari 15 mmHg) dan indeks resistensi vaskular pulmonal meningkat lebih dari sama dengan 3 unit wood x m2.
HP dibagi 2 yaitu idiopatik atau primer (IPAH) yang tidak diketahui penyebabnya dan HP sekunder yang disebabkan kondisi medis lain yang dapat diidentifikasi. Penyebab HP diduga oleh karena peningkatan aliran darah pulmonal, walaupun kemungkinan disertai faktor- faktor lain yang berperan yaitu peningkatan tekanan vena pulmonalis, polisitemia, hipoksia, asidemia, mikrotrombus dan kondisi sirkulasi bronkhial. Berat ringannya suatu HP ditentukan oleh tingginya tahanan pembuluh darah paru, progresifisitas serta reversibilitasnya
Faktor genetik dapat berperan, dan pada beberapa kasus yang menunjukkan adanya gangguan imunologi. HP berhubungan dengan obstruksi prekapiler dari pembuluh darah pulmonal akibat hyperplasia otot arteri kecil dan arteriol pulmonal. Keadaan ini ditemukan pada neonatal HP, mountain sickness yang kronis (Dimiati and Indriasari, 2012)
BAB III
NUTRITION CARE PROCESS
PENGKAJIAN KASUS
Informasi Umum/Identitas Pasien a. Pasien : Tn.I b. No. Rekam Medik : 01258452 c. Ruang : Dahlia Barat / d. Jenis Kelamin : Laki-laki e. Tanggal Lahir : 06-02-1980 f. Usia : 43 tahun
g. Diagnosa : Ppok Suspek Ph h. Riwayat Personal : -
ASESSMENT
III.1 Antropometri
Berat Badan : 45
Tinggi Badan : 170
Berat Badan Ideal : 63
IMT : 15,5 𝑘𝑔/𝑚2
Status Gizi : underweight III.2 Biokimia
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal Keterangan
Hb 12,9 gram/dL 13-17 Rendah
PH 7,50 mmHg 7,35-7,45 Tinggi
P02 60 mmHg 80-100 Rendah
PCO2 23 mmHg 35-45 Rendah
Sumber : Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2023
Pembahasan : Pada pemeriksaan Hb pasien tergolong rendah, kemudian PH pasien tergolong tinggi kemudian P02 dan Pco2 pasein rendah dikarenakan penyakit paru yang diderita
III.3 Klinis
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal Keterangan
Tekanan Darah 115/56 mmHg <120/80 Normal
Nadi 87 x/menit 60 – 100 Normal
Respirasi 20 x/menit 12 - 20 Normal
Suhu 36 °C 36,1 – 37,1 Normal
Sumber : Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2022
Fisik Klinis Hasil
Atropi Otot Lengan Tidak
Hilang Lemak Tidak
Udem Tidak
Nafsu Makan Penurunan Nafsu Makan
Mual Ada
Muntah Ada
Kembung Tidak
Konstipasi Tidak
Diare Tidak
Gangguan Menelan Tidak
Gangguan Mengunyah Tidak
Gnagguan Menghisap Tidak
Sesak Tidak
BAB Hitam/Melena Tidak
Muntah Darah/Hematemesis Tidak
Batuk Darah Tidak
Sumber : Data Rekam Medis RSUD Budhi Asih 2023
Pembahasan : Hasil klinis pada tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu tubuh dalam keadaan normal. Untuk hasil fisik pasien mengalami mual dan muntah kemudian ada penurunan nafsu makanan
III.4 Dietary History
Alergi Makanan Tidak ada
Masalah
Gastrointestinal
- Nyeri ulu hati : Tidak - Mual : Ada
- Muntah : Ada - Diare : Tidak - Konstipasi : Tidak - Anoreksia : Tidak
- Perubahan pengecapan/penciuman : Tidak Perubahan Berat
Badan
Tidak ada
Riwayat/Pola Makan Recall 1 hari SMRS
- Pagi : Bubur Ayam 1 porsi habis - Selingan pagi : -
- Siang : Buah melon 2 pepaya 1 - Malam : roti coklat merek sari roti 1 Kebiasaan Makan :
- Jarang mengonsumsi nasi sering ngemil - Porsi makan sedikit
- Jarang mengkonsumsi sayur dan protein hewani
Recall 24 Jam Sebelum Masuk Rumah Sakit Waktu Menu Bahan
Makanan URT Gram E (kkal)
P (gr)
L (gr)
KH (gr) Pagi Bubur
ayam Nasi 1 ½
centong 150 238 7,6 3,1 42,9
Siang Buah Melon 2 ptg 200 76,9 1,2 0,4 16,6
Papaya 1 ptg 100 39 0,6 0,1 9,8 Malam Mie
ayam Mie ayam 1
bungkus 100 141 4,8 0,7 28,3
Total 494,4 14,2 4,3 97,6
Kebutuhan 1783 66,8 49,5 267,4
Persentase 27,7 % 21,2% 8,6% 36,4%
Sumber : Nutrisurvey
Tabel Kategori Kecukupan Gizi (Depkes, 1999) Kategori Kecukupan Gizi Keterangan
< 60% Defisit Berat
60 – 69% Defisit Sedang
70 – 79% Defisit Ringan
80 – 120% Baik
>120% Lebih
III.5 Diagnosis Gizi a. Diagnosis Intake
(NI-2.1) Intake energi, protein, lemak, karbohidrat inadekuat berkaitan dengan sirosis hati dan mual dibuktikan dengan asupan kurang <80% yaitu energi 27,7%, protein 21,2%%, lemak 8,6%% dan karbohidrat 36,4%
b. Diagnosis Behaviour
(N.B-1.1) Kurangnya pengetahuan tentang gizi dan makanan berkaitan dengan pasien belum pernah mendapatkan edukasi gizi ditandai dengan kebiasaan pasien dalam mengonsumsi makanan yang kurang tepat
III.6 Perhitungan Kebutuhan Perhitungan Kebutuhan
BMR (Haris Benedict) = 66 + (13,5xBB) + (5xTB) - (6,8xU)
= 66 + (13,5x63) + (5x170) - (6,8x43)
= 1474
Energi = 1.202,4 x 1,1 x 1,1
= 1783
Protein = 15% x Energi
= 15% x 1783 kkal/4
= 66,8 gr
Lemak = 25% x Energi
= 25% x 1783kkal/9
= 49,5 gr
Karbohidrat = 60% x 1783kkal/4
= 267,4
III.7 Intervensi
a. Tujuan Intervensi
Memenuhi asupan oral pasien hingga mencapai >80% dan meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai pola diet yang benar sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.
b. Strategi
1) Preskripsi Diet
Bentuk Makanan : Makanan biasa Rute : Oral
Frekuensi : Makanan utama 3 kali, selingan 1 kali, extra putel 3/hr Jenis Diet : NT + EXT B.sum j 10 + Susu ensure 1x 150cc
2) Tujuan Diet
a) Meningkatkan asupan makan pasien mendekati baik ( ≥ 80%).
b) Mencegah komplikasi lebih lanjut dan memulihkan kondisi pasien.
c) Mencegah dan mengatasi kekurangan zat gizi mikro, vitamin, mineral dan elektrolit.
d) Memperbaiki pola makan pasien.
e) Memberikan edukasi gizi sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.
f) Memberikan makanan sesuai dengan daya terima pasien.
3) Syarat Diet
a) Energi diberikan sesuai dengan kebutuhan sebesar 1783 kkal.
b) Protein diberikan 15% dari total kebutuhan energi, yaitu sebesar 66,8 gram.
c) Lemak diberikan 25% dari total kebutuhan energi, yaitu sebesar 49,5 gram.
d) Karbohidrat diberikan 60% dari total energi yang diberikan yaitu 267,4 gram.
f) Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien.
III.8 Monitoring Evaluasi
Indikator Monitoring Evaluasi
FH 1.1.1 Asupan Energi
= 494, 4 kkal
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan energi 1 hari SMRS sebesar 494, 4 kkal (27,7%) termasuk kedalam kategori defisit berat
Diharapkan asupan > 80%
FH 1.5.3
Asupan Protein
= 14,2 gr
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan protein 1 hari SMRS sebesar 13,1 gr (21,2%) termasuk kedalam kategori defisit berat
Diharapkan asupan > 80%
FH 1.5.1.1 Asupan Lemak
= 4,3 gr
Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam asupan lemak 1 hari SMRS sebesar 5,5 gr (8,6%)termasuk kedalam kategori defisit berat
Diharapkan asupan >80%
FH 1.5.5 Berdasarkan hasil
wawancara recall 24 jam
Diharapkan asupan > 80%
Asupan Karbohidrat = 97,6 gr
asupan karbohidrat 1 hari SMRS sebesar 91,3 gr (36,4%) termasuk kedalam kategrori defisit berat
>
DAFTAR PUSTAKA
Dimiati, H. and Indriasari, P. (2012) ‘Tatalaksana Hipertensi Pulmonal Pada Anak’, Jurnal Kedokteran Syiah Kuala , 12(1), pp. 37–46.
Ramadhani, S. et al. (2022) ‘Penerapan Pursed Lip Breathing Terhadap Penurunan Sesak Napas Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik (Ppok) Di Ruang Paru Rsud Jend. Ahmad Yani Kota Metro’, Jurnal Cendikia Muda, 2, pp. 276–284.
Suling, F. (2010) ‘Hipertensi Arteri Pulmonalis’, Majalah Kedokteran FK UKI, XXVII(4), pp. 173–183.