• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Pengelolaan Modal Kerja dan Kinerja Keuangan Pada PT Taspen (Persero ) KCU Makassar Sumber: Data Diolah 2019 Berdasarkan Tabel 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENDAHULUAN Pengelolaan Modal Kerja dan Kinerja Keuangan Pada PT Taspen (Persero ) KCU Makassar Sumber: Data Diolah 2019 Berdasarkan Tabel 1"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGELOLAAN AKTIVA PADA PT TASPEN (PERSERO) KCU MAKASSAR

Wladimir Supardi1, Nurfaidah2, Hasrajuddin3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

The Purpose of this study was to analyze working capital on financial performance at PT Taspen (persero) KCU Makassar, experiencing an increase from 2016 t0 2018. The analysis technique used is the analysis of financial ratos. The results of this study indicate that the financial performance at PT Taspen (Persero) KCU Makassar in terms of liquidity ratios from 2016 to 2018 being effective because the total current assets are greater than the total current liabilities. The financial performance of PT Taspen (persero) KCU Makassar, viewed from the 2016 solvency ratio up to 2018, has fluctuated, but is still said to be effective because the total assets are greater than the total debt. Financial performance at PT Taspen (persero) KCU Makassar, in terms of the profitability ratio in 2016 up to 2018, it has not been effective yet because Return On Assets in 2018 has decreased, While Return On Equity has increased.

Keywords: Management of Working Capital, Financial Performance.

PENDAHULUAN

Pengelolaan Modal Kerja dan Kinerja Keuangan Pada PT Taspen (Persero ) KCU Makassar

Sumber: Data Diolah 2019

Berdasarkan Tabel 1. Tahun 2016 Pengelolaan modal kerja sebesar Rp.100.000.000.000, sedangkan kinerja keuangan terdiri dari Aktiva sebesar Rp.

198.619.245.913.108, kemudian Passiva sebesar Rp. 198.619.245.913.108, sedangkan laba/rugi sebesar Rp.1.925.772.438.545.

Tahun 2017 Pengelolaan modal kerja sebesar Rp.100.000.000.000, dengan mengalami 1%.

Sumber: Data Diolah 2019

Pada Tabel 2. Kinerja keuangan yang terdiri dari Aktiva Rp.230.378.551.457.990, dengan mengalami sebesar 0,86%, kemudian passive Rp.230.378.551.457.990, dengan mengalami 0,86%, sedangkan laba/rugi sebesar Rp.2.655.946.406.050. kemudian Tahun 2018 Pengelolaan modal kerja sebesar Rp.500.000.000.000, dengan mengalami 0,2%, sedangkan Kinerja Keuangan yang terdiri dari Aktiva Rp.231.866.036.151.742, dengan mengalami 0,99%, kemudian Passiva Rp.

231.866.036.151.742, dengan mengalami 0,99%, sedangkan laba/rugi sebesar Rp.

4.238.925.583.762.

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan permasalahanya yaitu:

Apakah pengelolaan modal kerja terhadap kinerja keuangan pada PT Taspen (persero) KCU Makassar mengalami peningkatan dari tahun 2016-2018?

Tujuan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk menganalisis pengelolaan modal kerja terhadap kinerja keuangan pada PT Taspen (persero) KCU Makassar, mengalami peningkatan dari tahun 2016-2018.

(2)

TINJAUAN LITERATUR

Bambang Riyanto (2017:35) manajemen keuangan atau pembelanjaan perusahaan adalah seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan usaha untuk mendapatkan dana dan menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut.

Sadano Sukirno et. al. (2017:35) menjelaskan pengertia manajemen keuangan sebagai berikut pada intinya manajemen keuangan harus berusaha memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis, yaitu diukur berdasarkan biaya yang rendah dan hasil penjualan yang tinggi.

Fungsi pembelanjaan atau keuangan dapat diperinci dalam tiga bidang keputusan seperti yang diungkapkan oleh Van Horne (2017:36) yaitu sebagai berikut: 1) Keputusan Melakukan Investasi. 2) Keputusan Melakukan Pemenuhan kebutuhan Dana. 3) Keputusan Mengenai Deviden

Istilah lain Modal Kerja adalah aktiva lancar, sedangkan komponen aktiva lancar meliputi kas dan setara kas, piutang, persediaan, dan aktiva lancar lainnya.

Pengelolaan Modal Kerja dapat diartikan sebagai pengelolaan terhadap komponen- komponen aktiva lancar.

Pengertian modal kerja secara mendalam terkandung dalam konsep modal kerja yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 1) Konsep Kuantitatif, 2) Konsep Kualitatif, 3) Konsep Fungsional,

Dalam praktiknya secara umum, modal kerja perusahaan dibagi kedalam dua jenis, yaitu: 1) Modal kerja kotor (gross working capital); 2) Modal kerja bersih (net working capital).

Macam-macam Modal Kerja 1) Modal kerja permanen (permanent working capital), 2) Modal kerja variabel (variable working capital).

Penggunaan modal kerja yaitu: 1) Pengeluaran untuk gaji, 2) Pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan 3) Menutupi kerugian akibat perjualan surat berharga 4) Pembentukan dana, 5) Pembelian asset tatap

Kebijakan-kebijakanperusahaan dalam mengelola modal kerja dimaksudkan untuk mencapai 3 tujuan, yakni: 1) Likuiditas yang cukup. 2) Meminimumkan Rasio 3) Memperbesar Nilai Perusahaan.

Arti Penting Modal Kerja bagi perusahaan Secara umum arti penting modal kerja bagi perusahaan, terutama bagi kesehatan keuangan perusahaan, yaitu berikut: 1) Kegitan seorang manajer keuangan lebih banyak dihabiskan didalam kegitan operasional perusahan dari waktu ke waktu.

Ini merupakan manajemen modal kerja. 2) Investasi dalam aktiva lancar cepat dan sering kali mengalami perubahan serta cenderung labil. Sedangkan aktiva lancar adalah modal kerja perusahaan, artinya perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap modal kerja. 3) Dalam praktiknya sering kali bahwa separuh dari total aktiva merupakan bagian dari aktiva lancar, yang merupakan modal kerja perusahaan. 4) Bagi perusahaan yang relatif kecil, fungsi modal kerja amat penting.

Perusahaan kecil, relative terbatas untuk memasuki pasar dengan modal besar danjangka panjang. 5) Terdapat hubungan yang sangat erat antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan modal kerja

Sumber modal kerja Yaitu: 1) Hasil operasional perusahaan. 2) Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga. 3) Penjualan asset tetap (fixed assets). 4) Penjualan saham atau obligasi

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi modal kerja, yaitu: 1) Jenis perusahaan; 2) Syarat kredit; 3) Waktu produksi; 4) Tingkat perputaran sediaan.

Adapun unsur-unsur pengelolaan modal kerja disetiap perusahaan yang meliputi: 1) Pengelolaan Kas; 2) Pengelolaan Piutang; 3) Pengelolaan Persediaan

Kinerja keuangan adalah alat skrining awal dalam pemilihan investasi, alat diagnosis terhadap masalah manajerial, operasional atau masalah-masalah lainnya,alat untuk menilai manajemen perusahan, dan alat pemikiran terhadap hasil dan kondisi perusahan.

Bagi pihak lembaga keuangan penilaian kinerja suatu organisasi adalah sangat penting, karena itu menggambarkan bagaimana sebenarnya kondisi pengelolaan organisasi tersebut secara keseluruhan.

Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut, diduga PT Taspen (Persero) akan mengelola modal terhadap kinerja keuangan.

(3)

METODE PENELITIAN

Untuk mengelolah data yang telah dikumpulkan dari hasil penelitian penulis menggunakan analisis kinerja keuangan dengan teknik analisis rasio, yaitu:

1. Rasio Likuiditas

a) Rasio lancar (current ratio)

b) Rasio cepat (quick ratio)

c) Rasio kas (cash ratio)

2. Rasio Solvabilitas

a) Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)

b) Total Debt to Total Asset Ratio (Rasio Hutang terhadap Total Aktiva)

3. Rasio Profitabilitas

a) Return On Assets (ROA)

b) Return On Equity (ROE)

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Rasio Likuiditas

a. Current Ratio (Rasio Lancar)

Berdasarkan tabel perhitungan, maka dapat dilihat bahwa: Pada tahun 2016 Current Ratio diperoleh sebesar 0,059% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,059 aktiva lancer yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Tahun 2017 Current Ratio menurun menjadi 0,061% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,061 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Current Ratio meningkat sebesar 0.002 dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya aktiva lancar dari tahun sebelumnya. Tahun 2018 Current Ratio menurun menjadi 0,040% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,040 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Current Ratio menurun 0,021% dari tahun sebelumnya.

Penurunan ini disebabkan karena meningkatnya hutang lancar dari tahun sebulumnya.

b. Quick Ratio (Rasio Cepat)

(4)

Sumber: data perimer diolah 2019

Berdasarkan tabel perhitungan, maka dapat dilihat bahwa: Pada tahun 2016 Quick Ratio diperoleh sebesar 0,91% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp 0,91 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Tahun 2017 Quick Ratio menurun menjadi 0,86% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,86 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Current Ratio menurun sebesar 0.05 dari tahun sebelumnya.

Penurunan ini disebabkan karena meningkatnya aktiva lancar. Tahun 2018 Current Ratio menurun menjadi 0,47% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,47 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Current Ratio menurun 0,39% dari tahun sebelumnya.

Penurunan ini disebabkan karena aktiva lancar lebih besar hutang lancar yang dibandingkan memiliki perusahaan.

Cash Ratio (Rasio kas)

Sumber: data perimer diolah 2019

Berdasarkan tabel perhitungan, maka dapat dilihat bahwa: Pada tahun 2016 Cash Ratio diperoleh sebesar 3,754% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.3,754 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Tahun 2017 Cash Ratio menurun menjadi 0,004% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,004 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. penurunan ini disebabkan karena meningkanya hutang lancer dari tahun sebelumnya. Tahun 2018 Current Ratio menurun menjadi 0,003% yang berarti setiap Rp.1 hutang lancar akan dijamin oleh Rp.0,003 aktiva lancar yang dimiliki PT Taspen (persero) KCU Makassar. Penurunan ini disebabkan karena aktiva lancar kecil dibandingkan hutang lancar.

2. Rasio Solvabilitas

a. Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)

(5)

Sumber: data perimer diolah 2019

Berdasarkan tabel perhitungan 5 maka dapat disimpulkan bahwa: pada tahun 2016 Total Debt to Equity Ratio sebesar 1,598%

yang berarti setiap Rp.1 hutang akan dijamin oleh Rp 1,598 dari modal sendiri. Pada tahun 2017 Total Debt to Equity Ratio sebesar 2,819% yang berarti setiap Rp.1 hutang akan dijamin oleh Rp 2,819 dari modal sendiri.

Pada tahun 2018 Total Debt to Equity Ratio sebesar 0,099 yang berarti setiap Rp. 1 hutang akan dijamin oleh Rp.0,099 dari modal sendiri.

b. Total Debt to Total Asset Ratio (rasio Hutang terhadap Total Aktiva)

Sumber: data perimer diolah 2019

Berdasarkan tabel perhitungan 6 maka dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2016 Total Debt to Total Asset Ratio diperoleh

sebesar 0,008% yang berarti setiap Rp.1 hutang akan dijamin oleh Rp 0,008 oleh aktiva. Pada tahun 2017 Total Debt to Total Asset Ratio mengalami penurunan sebesar 0,007% menjadi sebesar 0,001% yang berarti setiap Rp.1 hutang akan dijamin oleh Rp.0,001 oleh aktiva. Penurunan ini disebabkan karena total aktiva lebih besar dibandingkan total hutang. Pada tahun 2018 Total Debt to Total Asset Ratio mengalami peningkatan sebesar 0,001% menjadi sebesar 0,002% yang berarti setiap Rp.1 hutang akan dijamin oleh Rp.0,002 oleh aktiva. Peningkatan ini disebabkan karena total aktiva lebih besar dibangkan total hutang.

3. Rasio Profitabilitas

a) Return On Assets (ROA)

Sumber: data perimer diolah 2019

Berdasarkan tabel perhitungan 7, maka dapat dilihat bahwa: Tahun 2016 Return On Assets diperoleh sebesar 0,001% yang diperoleh dari perbandingan antara laba bersih dengan Total aktiva, yang berarti bahwa setiap Rp.1 Total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar 0,001%. Pada tahun 2017 Return On Assets mengalami peningkatan sebesar 0,002%

menjadi sebesar 0,003% yang diperoleh dari

(6)

perbandingan antara laba bersih dengan Total aktiva, yang berarti bahwa setiap Rp.1 Total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar 0,003%. Pada tahun 2018 Return On Assets mengalami penurunan sebesar 0,002%

menjadi sebesar 0,001% yang diperoleh dari perbandingan antara laba bersih dengan Total aktiva, yang berarti bahwa setiap Rp. 1 Total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar 0,001%.

b. Return On Equity (ROE)

Sumber: data perimer diolah 2019

Berdasarkan tabel perhitungan 8, maka dapat dilihat bahwa: Tahun 2016 Return On Assets diperoleh sebesar 0,022% yang berarti kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari total ekuitas sebesar 0,022%.

Pada tahun 2017 Return On Equity meningkat sebesar 0,030% menjadi 0,052% yang berarti kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari total ekuitas sebesar 0,052%.

Pada tahun 2018 Return On Equity mengalami penurunan sebesar 0,024% menjadi 0,028%

yang berarti kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari total equity sebesar 0,028%.

Berdasarkan hasil AnalisisPengelolaan Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan pada PT Taspen (persero) KCU Makassar, dirintis

melalui tiga rasio yaitu rasio likuilitas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas.

a. Rasio Likuiditas

Berdasarkan hasil perhitungan Curant Ratio tahun 2016 diperoleh sebesar 0,313%.

Pada tahun 2017 Curant Ratio menurun Sebesar 0,018%. Pada tahun 2018 Curant Ratio menurun sebesar 0,183%.

Berdasarkan hasil perhitungan Quick Ratio tahun 2016 diperoleh sebesar 0163%.

Pada tahun 2017 Quick Ratio menurun sebesar 0,094%. Pada tahun 2018 Quick Ratio menurun sebesar 0,063%.

Berdasarkan hasil perhitungan Cash Ratio tahun 2016 diperoleh sebesar 3,754%.

Pada tahun 2017 Cash Ratio menurun sebesar 0,004%. Pada tahun 2018 Cash Ratio menurun sebesar 0,003%, Maka hasil analisis Rasio Likuiditas pada PT Taspen (persero) KCU Makassar mengalami penurunan dari tahun 2016 sampai 2018, hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya total hutang lancer dar sebelumnya.

b. Rasio Solvabilitas

Berdasarkan hasil perhitungan Total Debt to Equity Ratio tahun 2016 diperoleh sebesar 1,598%. Pada tahun 2017 Total Debt to Equity Ratio mengalami peningkatan sebesar 2,819%. pada tahun 2018 Total Debt to Equity Ratio mengalami penurunan sebesar 0,099%. Maka dari Total Debt to Equity Ratio efektif, dimana dari tahun 2016 sampai 2017 mengalami peningkatan dan pada tahun 2018 total hutang mengalami peneurunan yang sangat drastis.

Berdasarkan hasil perhitungan Total Debt to Total Asset Ratio tahun 2016 diperoleh sebesar 0,008%. Pada tahun 2017 Total Debt to Total Asset Ratio mengalami penurunan sebesar 0,001%. pada tahun 2018 Total Debt to Total Asset Ratio mengalami peningkatan sebesar 0,002%. Maka hasil analisis rasio solvabilitas pada PT Taspen (persero) KCU Makassar bisa dikatakan efektif, karena total aktiva lebih besar dari total hutang. PT Taspen (persero) KCU Makassar masih dikatakan solvable.

c. Rasio Profitabilitas

Berdasarkan hasil perhitungan Return On Assets tahun 2016 diperoleh sebesar 0,001%. Pada tahun 2017 Return On Assets mengalami peningkatan sebesar 0,003%. Pada tahun 2018 Return On Assets mengalami penurunan sebesar 0,001%. Penurunan ini disebabkan karena laba bersih Return On

(7)

Assets sangat rendah dibandingkan dengan Total Equity sangat besar, karena dilihat dari Return On Assets 2016-2017 mengalami peningkatan dan pada tahun 2018 mengalami penurunan. Maka hasil analisis Return On Assets tidak efektif.

Berdasarkan perhitungan Return On Equity tahun 2016 diperoleh sebesar 0,022%.

Pada tahun 2017 Return On Equity mengalami peningkatan sebesar 0,052%. Dan Pada tahun 2018 Return On Equity mengalami penurunan sebesar 0,028%. Maka hasil analisis Return On Equity.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan analisis rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas yang telah dilakukan, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Kinerja Keuangan pada PT Taspen (persero) KCU Makassar, ditinjau dari rasio likuiditas selama tahun 2016 sampai 2018 dalam keadaan efektif karena total aktiva lancar lebih besar dibandingkan dengan total hutang lancar. 2) Kinerja keuangan pada PT Taspen (persero) KCU Makassar, ditinjau dari rasio solvabilitas selama tahun 2016-2018 mengalami naik turun, namun masih dikatakan dalam keadaan efektif karena total aktiva lebih besar dibandingkan total hutang. 3) Kinerja Keuangan pada PT Taspen (persero) KCU Makassar, ditinjau dari rasio Profitabilitas selama tahun 2016-2018 dalam keadaan belum efektif karena Return On Assets tahun 2018 mengalami penurunan, sedangkan Return On Equity mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis dan kesimpulan yang telah diuraikan, maka saran penulis yang berkaitan dengan penelitian ini adalah: 1) Dilakukan penilaian kinerja keuangan secara pertahun, hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan kinerja keuangan. 2) PT Taspen (persero) KCU Makassar harus memperbesar aktiva dan modal dari kewajiban agar mampu membiayai kewajiban, mengelolah modal yang diinvestasikan dalam aktiva dan meningkatkan pendapatan bersih untuk memperoleh laba bersih yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Diana, A. & Setiawati, L. (2017), Akuntansi Menengah, Berdasarkan Standar Akuntansi

Keuangan Terbaru, CV Andi Offset, Yogyakarta.

Elsye, R, Suwanda., & Muchidin. (2016), Dasar-Dasar Akuntansi Akrual, Pemerintah Daerah, cetakan pertama, Ghalia Indonesia, Bogor.

Fahmi Irham (2014), Analisis Kinerja Keuangan, Panduan Bagi Akademisi, Manajer, dan Investor untuk Menilai dan Menganalisis Bisnis dari Aspek Keuangan, Cetakan ketiga, Alfabeta, Bandung.

Hery, (2014), Analisis Laporan Keuangan, PT Bumi Aksara, Jakarta.

Harmono, (2017), Manajemen Keuangan, Berbasis Balanced Scorecard Pendekatan Teori, Kasus, dan Riset Bisnis, Edisi kesatu, Cetakan keenam, PT Bumi Aksara, Jakarta.

Halim, A, & Sarwoko, (2016), Manajemen keuangan, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi kedua, Cetakan Keenam, BPFE, Yogyakarta.

Kasmir. (2017) Analisis Laporan Keuangan, Edisi satu, Cetakan Sepuluh, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Sujarweni, V, W, (2017), Analisis Laporan Keuangan, Teori Aplikasi dan Hasil Penelitian, Pustaka Baru Press, Yogyakarta Sulindawati, N. L. G. E., Yuniarta, G. A., &

Purnamawati, I. G. A. (2017). Manajemen Keuangan, Sebagai Dasar Pengambilan Bisnis. Edisi Pertama, PT Raja grafindo Persada, Depok.

Umam, K., & Sutanto, H. (2017), Manajemen Investasi, Cetakan kesatu, CV Pustaka Setia, Bandung.

Wijaya, D. (2017), Manajemen Keuangan, Konsep dan penerapannya, PT Grasindo, Anggota IKAPI, Jakarta

Pongoh, M. (2013), Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan, PT Bumi Resources TBK Universitas Sam Ratulangi Manado.

Sudana, I. M. (2015). Manajemen Keuangan Perusahaan, Teori dan Praktik, Edisi kedua, Erlangga.

Harnum, S. D (2017), Analisis Pengelolaan Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan SPBU Citeureup No. 34-16818

Referensi

Dokumen terkait

Mahaputra & Adnyana 2012 menyatakan bahwa current ratio merupakan perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban lancer Rumus menghitung current ratio adalah : Rasio