• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapat Hukum Dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam Kebijakan Impor Gula Kristal Mentah di Indonesia

N/A
N/A
Gadis Adiati

Academic year: 2025

Membagikan "Pendapat Hukum Dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam Kebijakan Impor Gula Kristal Mentah di Indonesia"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

LEX LUMINA 089

Dhammasattha National Legal Opinion Competition

2024

(2)

LEGAL OPINION

Reformasi Hukum Progresif Berkeadilan di Indonesia

Pendapat hukum ini dibuat atas dasar Surat Permohonan yang diajukan oleh Dhammasattha Nomor 07/X/2030 kepada Lex Lumina Legal Consultant tertanggal 12 Desember 2024 untuk Menganalisis dan Membuat Pendapat Hukum mengenai Dugaan Tindak Pidana Korupsi oleh Thomas Trikasih Lembong dalam Kasus Kebijakan Impor Gula Kristal Mentah (GKM).

A. ASUMSI DAN KUALIFIKSI

Pendapat hukum ini diberikan dengan batasan-batasan kajian mengenai beberapa hal yakni sebagai berikut:

1. Pendapat hukum ini terbatas pada Hukum Republik Indonesia.

2. Pendapat hukum ini diberikan berdasarkan Hukum Republik Indonesia yang berlaku hingga tanggal diberikannya pendapat ini dan sepanjang pengetahuan kami (the best of our knowledge).

3. Apabila terjadi perubahan mengenai ketentuan peraturan Perundang- undangan yang menjadi dasar dari pendapat hukum ini, maka kami tidak berkewajiban untuk memberitahukan mengenai perubahan tentang ketentuan tersebut serta tidak berkewajiban untuk melakukan perubahan atas pendapat hukum ini.

4. Semua dokumen tersebut diterbitkan oleh dan diberikan kepada pihak yang berwenang.

5. Semua tanda tangan yang terdapat dalam dokumen yang diberikan kepada kami sesuai dengan kebenarannya.

6. Bahwa semua posisi kasus yang tergambarkan jelas pada pendapat hukum ini, diuraikan sesuai dengan kebenaran dan faktanya.

7. Bahwa benar semua kejadian yang ada pada posisi kasus diatas, nyata dan tidak mengada-ada.

8. Pendapat hukum ini berlaku sejak saat diberikan, yakni pada tanggal 19 Desember 2024.

(3)

B. PENDAHULUAN

a. Bahwa Thomas Trikasih Lembong, diangkat menjadi Menteri pada tanggal 12 Agustus 2015.

b. Bahwa rapat koordinasi antar kementerian tepatnya yang dilaksanakan pada tahun 2015 disimpulkan bahwa Indonesia mengalami surplus gula sehingga tidak perlu melakukan impor.

c. Bahwa Thomas Trikasih Lembong memberikan izin persetujuan impor gula kristal mentah sebanyak 105 ribu ton kepada PT AP, akibatnya negara mengalami kerugian hingga Rp 400 miliar.

d. Bahwa berdasarkan aturan yang diteken Tom Lembong sendiri saat menjadi Menteri Perdagangan hanya BUMN yang diizinkan melakukan impor Gula Kristal Putih (GKP).

e. Bahwa pada tahun 2016 Indonesia mengalami kekurangan Stok Gula Kristal Putih (GKP) sehingga Tom Lembong memberikan izin ke perusahaan-perusahaan swasta untuk mengimpor Gula Kristal Mentah (GKM).

f. Bahwa selanjutnya, Tom Lembong meneken surat penugasan ke PT. PPI untuk bekerja sama dengan swasta mengelola GKM impor menjadi GKP dengan total Sembilan (9) perusahaan swasta yakni: PT PDSU, PT AF, PT AP, PT MT, PT BMM, PT SUJ, PT DSI, PT MSI, dan terakhir PT KTM.

g. Bahwa Atas sepengetahuan dan persetujuan tersangka TTL (Thomas Trikasih Lembong), persetujuan impor GKM ditandatangani untuk sembilan perusahaan swasta.

h. Setelah perusahaan swasta itu mengolah GKM menjadi GKP, PT PPI seolah-olah membelinya. Padahal yang terjadi, menurut jaksa, GKP itu dijual langsung oleh perusahaan-perusahaan swasta itu ke masyarakat melalui distributor dengan angka Rp 3.000 lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET). Dari pengadaan dan penjualan GKM yang diolah menjadi GKP, PT PPI mendapatkan fee sebesar Rp 105/kg. Kerugian negara yang timbul akibat perbuatan tersebut senilai kurang lebih Rp 400 miliar, yaitu

(4)

nilai keuntungan yang diperoleh perusahaan swasta yang seharusnya menjadi milik negara.

C. ISU HUKUM

1. Apakah kebijakan impor yang diambil oleh Tom Lembong dapat dikategorikan sebagai tindakan penyalahgunaan wewenang yang melanggar hukum?

2. Bagaimana penerapan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak pidana korupsi dalam kasus ini, terutama terkait unsur kerugian negara dan keuntungan pihak ketiga?

3. Apakah penetapan tersangka terhadap Lembong telah memenuhi prosedur hukum yang sah, atau terdapat celah yang dapat dipersoalkan melalui praperadilan?

D. SUMBER HUKUM

1. Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi 2. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor

117/M-DAG/PER/12/2015 Tentang Ketentuan Impor Gula

3. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Impor Gula

4. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2021 Tentang Kebijakan Dan Pengaturan Impor.

5. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan.

E. ANALISIS HUKUM

1. Apakah kebijakan impor yang diambil oleh Tom Lembong dapat dikategorikan sebagai tindakan penyalahgunaan wewenang yang melanggar hukum?

Dalam kasus ini untuk memastikan apakah kebijakan impor yang diambil oleh Tom Lembong (mantan Menteri Perdagangan Indonesia) dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan wewenang yang melanggar hukum,

(5)

perlu dilakukan analisis berdasarkan prinsip-prinsip hukum administrasi, peraturan terkait, dan konteks kebijakan itu sendiri.

Kebijakan impor gula yang diambil oleh Tom Lembong didasarkan pada kebutuhan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga gula dalam negeri. Namun muncul dugaan bahwa kebijakan tersebut melibatkan pelanggaran kewenangan serta diduga mengandung unsur konflik kepentingan serta menyebabkan adanya kerugian keuangan negara.

Berdasarkan analisis hukum, kebijakan impor yang dilakukan oleh Tom Lembong dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan wewenang dan melanggar hukum jika memang terbukti :

1. Melanggar prosedur dengan melakukan suatu kebijakan yang tidako sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

2. Menguntungkan kelompok tertentu yang dalam hal ini menimbulkan konflik kepentingan atau menimbulkan adanya kolusi

3. Menimbulkan kerugian negara yang dalam hal ini harus dibuktikan dengan bukti yang sah menunjukkan bahwa akibat dari dilakukannya kebijakan impor ini menimbulkan kerugian bagi negara.

Berdasarkan analisa tersebut, dalam pasal 17 Undang-Undang No 13 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan selanjutnya disebut UU 30 Tahun 2014 menyebutkan bahwa : larangan penyalahgunaan wewenang meliputi larangan melampaui wewenang, larangan mencampuradukan wewenang dan/atau larangaan bertindak sewenang-wenang. Namun dalam hal ini tindakan yang dilakukan Tom Lembong dalam hal melakukan tindakan impor gula tidaklah dilakukan dengan melampaui kewenangan karena dalam hal ini Tom Lembong hanya menandatangani kesepakatan Impor Gula tanpa ada perbuatan lebih yang bisa dikatakan melampaui kewenangan, Tom Lembong murni melakukan sebuah kebijakan sesuai dan sejalan dengan kewenangan yang ia miliki. Hal ini sejalan dengan Pasal 8 UU 30 Tahun 2014 ayat 1,2 dan 3 yang menegasakan bahwasannya : (1) Setiap Keputusan dan/atau Tindakan harus ditetapkan dan/atau

dilakukan oleh Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang berwenang.

(6)

(2) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam menggunakan Wewenang wajib berdasarkan:

a. peraturan perundang-undangan; dan b. AUPB.

(3) Pejabat Administrasi Pemerintahan dilarang menyalahgunakan Kewenangan dalam menetapkan dan/atau melakukan Keputusan dan/atau Tindakan.

Jika kebijakan tersebut lebih menguntungkan kelompok tertentu tanpa justifikasi yang sah, ini dapat menjadi indikasi penyalahgunaan wewenang.

Kebijakan impor oleh Tom Lembong hanya dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan wewenang dan melanggar hukum jika terbukti :

1. Tidak berdasarkan hukum yang berlaku.

2. Bertujuan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

3. Mengabaikan prinsip kepentingan umum dan integritas.

4. Melanggar prosedur administratif atau terdapat konflik kepentingan.

Kenyataan yang terjadi, perbuatan Tom Lembong didasari oleh hukum yang berlaku dimana kebijakan impor GKM diperbolehhkan dalam Undang-Undang serta hal ini tidak berkaitan dengan keuntungan pribadi atau kelompok manapun serta perbuatan impor ini mempertimbangkan prinsip kepentingan umum. Hal ini juga dapat disimpulkan bahwa kegiatan impor ini tidak memiliki unsur kepentingan pribadi.

Tom Lembong melakukan penekenan surat perintah untuk melakukan impor gula yang dalam hal ini, didasari oleh alasan pengantisipasian terhadap krisis gula yang akan terjadi di masa yang akan datang, hal ini bukanlah bentuk dari tindakan sewenang wenang. Tom Lembong, dalam kapasitasnya sebagai pejabat pemerintah, telah mengambil kebijakan untuk mengizinkan impor gula kristal mentah dengan tujuan utama mendukung stabilitas perekonomian nasional. Tom Lembong Mempertimbangkan sektor perekonomian Indonesia yang dalam hal ini memiliki tiga pilar yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) dan Koperasi. Hal ini lah yang menjadi acuan Impor GKM yang dilakukan oleh sektor perusahaan Swasta yang dalam hal ini

(7)

bertujuan untuk menunjang perekonomian Negara. Hal ini sama sekali tidak mengandung unsur keuntungan pribadi, yang dalam hal ini, perbuatan Tom Lembong bukanlah suatu tindakan Korupsi

Kebijakan tersebut diambil dengan penuh tanggung jawab, tanpa adanya indikasi penyalahgunaan kekuasaan atau pelanggaran prosedur hukum. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No 14 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Impor Gula pada Pasal 4, impor gula kristal mentah tidak termasuk dalam kategori yang dilarang, selama dilakukan sesuai dengan mekanisme dan persyaratan yang telah diatur oleh pemerintah.

Selain itu, langkah ini selaras dengan tujuan untuk menjaga stabilitas harga, melindungi konsumen, dan mendukung daya saing industri nasional.

Dalam prosesnya, kebijakan ini juga mencerminkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, dengan tetap berpegang pada asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB). Alasan mendukung sektor ekonomi dapat dipertimbangkan dalam analisis kebijakan, tetapi tidak dapat membenarkan pelanggaran terhadap hukum. Sesuai dengan yang tertuang dalam Pasal 9 ayat 1 UU No 13 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan.

Dengan demikian, berdasarkan analisis yang telah dilakukan, tindakan Tom Lembong dalam kebijakan impor gula kristal mentah bukan hal yang ilegal secara hukum, dan bukan pula dilakukan dengan menyalahgunakan kewenangan tetapi hal ini merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai pejabat publik untuk menjaga kepentingan ekonomi negara dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

(8)

2. Bagaimana penerapan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak pidana korupsi dalam kasus ini, terutama terkait unsur kerugian negara dan keuntungan pihak ketiga?

Bahwa untuk mengetahui apakah perbuatan dalam sebuah peristiwa hukum dapat dikatakan sebagai tindak pidana, dapat dilakukan dengan cara menganalisis apakah perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang diatur dalam sebuah ketentuan pasal hukum pidana tertentu.

Dalam hukum pidana, seseorang hanya dapat dinyatakan bersalah jika terbukti ada mens rea (niat jahat) dan actus reus (tindakan melawan hukum). Untuk kasus Tom Lembong, sebagai pejabat pemerintahan yang membuat kebijakan, sulit dibuktikan adanya mens rea mengingat kebijakan impor gula tahun 2015 didasarkan pada analisis kebutuhan nasional dan bukan kepentingan pribadi. Kebijakan ini juga dilakukan dalam kapasitasnya sebagai menteri dan merupakan bagian dari upaya untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di dalam negeri.

Dalam hal ini, Thomas Trikasih Lembong atau yang biasa disapa Tom Lembong, mantan Menteri Perdagangan Indonesia periode 2015-2016, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi terkait kebijakan impor Gula Kristal Mentah (GKM) diduga melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2021 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK).

Bahwa pengaturan hukum yang menjadi landasar dugaan pelanggran yang dilakukan oleh Tom Lembong diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Tindak Pidana Korupsi yang menyebutkan bahwa setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000. 000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000. 000.000,00 (satu milyar rupiah).

(9)

Jika kita amati rumusan delik dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK, akan dapat dipahami adanya tiga unsur di dalamnya, yaitu:

a. Melawan hukum

b. Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;

c. Dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara;

tindakan Tom Lembong dalam kasus kegiatan impor hanya dapat dikatakan sebagai tindak pidana korupsi apabila ketiga unsur tersebut terpenuhi.

Penjelasan Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “secara melawan hukum” dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang- undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.

Perbuatan secara melawan hukum juga diatur dalam Pasal 1 sub a UU No. 3 Tahun 1971 yang memberikan makna bahwa perbuatan melawan hukum baru dapat dipidana apabila perbuatan itu sebagai sarana untuk memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi. Unsur melawan hukum dan unsur memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, sejatinya harus dibaca secara utuh sebagai satu kesatuan dan pemaknaannya tidak dapat dipisah, sehingga unsur terpenting dalam Pasal 2 ayat (1) adalah memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi secara melawan hukum.

Bahwa perbuatan Tom Lembong dalam hal penekenan persetujuan impor Gula Kristal Mentah (GKM) sebanyak 105 ribu ton kepada PT AP yang diolah menjadi Gula Kristal Putih (GKP) yang menghasilkan keuntungan tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan yang melawan hukum.

Hal ini dibuktikan bahwa kegiatan impor tersebut bukanlah sebuah tindakan korupsi yang menguntungkan diri sendiri, dikarenakan Tom Lembong tidak terbukti melakukan perbuatan melawan hukum serta memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan tidak ditemukan bukti aliran dana yang diterima oleh Tom Lembong.

(10)

Bahwa berdasarkan Pasal 5 Ayat (1) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 117/M-DAG/PER/12/2015 Tentang Ketentuan Impor Gula (yang pada Tahun tersebuh masih berlaku) yang selanjutnya disebut Permendag No.117/M-DAG/PER/12/2015 menyebutkan bahwa impor Gula Kristal Mentah/ Gula Kasar (Raw Sugar) dan Gula Kristal Rafinasi (Rafined Sugar) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (2) huruf a dan b, hanya dapat dilakukan oleh perusahaan pemilik API-P setelah mendapat persetujuan impor dari Menteri.

Berkaca dari kasus posisi tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa pihak swasta yang dalam hal ini telah mendapatkan persetujuan impor GKM oleh Tom Lombong yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perdagangan.

Adapun kesembilan pihak swasta yang telah mendapatkan persetujuan impor telah memenuhi ketentuan Pasal 5 Ayat (1) Permendag No.117/M- DAG/PER/12/2015 dimana pihak swasta tersebut merupakan perusahaan pemilik API-P.

Dari penjelasan diatas, perbuatan Tom Lembong tidak berkaitan dengan keuntungan pribadi atau kelompok manapun yang dalam hal ini kebijakan Tom Lembong sendiri hanya mempertimbangakan prinsip kepentingan umum sehingga dapat disimpulkan bahwa perbuatan tersebut tidak memenuhi unsur memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi.

Bahwa peraturan perundangan-undangan hingga saat ini belum ada yang mengatur bahwa terkait dengan dalil pemenuhan Gula Kristal Putih, yang harus diimpor adalah Gula Kristal Putih secara langsung. Berdasarkan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Nomor 527 Tahun 2004 Tentang Ketentuan Impor Gula (saat itu masih berlaku) tidak mengatur dan tidak mewajibkan jika defisit Gula Kristal Putih harus dipenuhi melalui impor Gula Kristal Putih sehingga kebijakan Tom Lembong dalam hal mencukupi perkiraan defisit Gula Kristal Putih dapat dilakukan melalui jalur produksi dari Gula Kristal Mentah diolah menjadi Gula Kristal Putih di pabrik gula rafinasi. Bahkan melalui cara ini Tom Lembong sebagai Menteri Perdagangan telah memberi manfaat bagi perekonomian negara, meningkatkan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi serta menghemat

(11)

devisa negara dengan melibatkan sektor swasta sebagai salah satu dari tiga pilar perekonomian negara. Hal ini membuktikan bahwa dengan kebijakan yang dilakukan Tom Lembong tidak dapat disimpulkan merugikan keuangan negara.

Berbeda halnya dengan rumusan delik dalam Pasal 2 ayat (1) tadi, Pasal 3 memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

a. dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, atau orang lain, atau suatu korporasi;

b. menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan;

c. Dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.

Adapun yang menjadi fokus perbedaan Pasal 3 dengan Pasal 2 Ayat (1) yakni menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan. Dalam praktek penegakan hukum pidana korupsi, menyalahgunakan kewenangan dianggap ada, bila seorang pegawai negeri, atau pejabat negara, atau penyelenggara negara telah melakukan suatu perbuatan yang:

a. merupakan kewenangannya, namun dilakukan bertentangan dengan peraturan yang berlaku;

Tom Lembong yang saat itu merupakan Menteri Perdagangan Tahun 2015-2016, benar merupakan pejabat negara yang memiliki kewenagan. Hal ini diperkuat dengan Pasal 6 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yang selanjutnya disebut UU No. 30 Tahun 2014 menyebutkan bahwa Pejabat Pemerintahan memiliki hak untuk menggunakan Kewenangan dalam mengambil Keputusan dan/atau Tindakan.

Sebagai pejabat negara, atas dasar Pasal tersebut Tom Lembong memiliki kewenangan dalam memberikan sebuah kebijakan, termasuk kebijakan impor GKM. Perbuatannya juga tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dimana kebijakan impor tersebut sudah berdasarkan regulasi yang berlaku. Adapun regulasi yang mengatur

(12)

terdapat pada Pasal 8 ayat (1), (2) dan (3) UU No. 30 Tahun 2014 menyebutkan bahwa:

(1) Setiap Keputusan dan/atau Tindakan harus ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang berwenang.

(2) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam menggunakan Wewenang wajib berdasarkan:

a. peraturan perundang-undangan; dan b. AUPB.

(3) Pejabat Administrasi Pemerintahan dilarang menyalahgunakan Kewenangan dalam menetapkan dan/atau melakukan Keputusan dan/atau Tindakan.

b. merupakan kewenangannya, namun dilakukan bertentangan dengan tujuan diberikannya kewenangan tersebut;

c. bersifat sewenang-wenang (abuse de droit).

3. Apakah penetapan tersangka terhadap Lembong telah memenuhi prosedur hukum yang sah, atau terdapat celah yang dapat dipersoalkan melalui praperadilan?

Dalam penetapan tersangka terhadap Thomas Trikasih Lembong dalam kasus Dugaan Korupsi Impor Gula terdapat bentuk kriminalisasi yang dialami Tom Lembong mengingat kebijakan yang diambil tom lembong dalam persetujuan impor gula juga dilakukan oleh menteri-menteri perdagangan setelahnya, namun beberapa menteri tersebut tidak diperiksa.

Dengan adanya bentuk kriminalisasi tersebut Tom Lembong akhirnya mengajukan Gugatan Praperadilan. Dalam Gugatan Praperadilan tersebut pemohon melalui kuasa hukumnya menyatakan bahwa penetapan tersangka dan penahanan oleh Tom Lembong dianggap Tidak Sah dan Tidak Mengikat Secara Hukum. Pasalnya terdapat beberapa alasan yang mendasari penangkapan dan penahanan Tom Lembong dianggap Tidak Sah, diantaranya:

(13)

a. Pertama, Tom Lembong tidak diberikan kesempatan untuk menunjuk penasihat hukum pada saat ditetapkan sebagai tersangk dan diperiksa sebagai tersangka untuk pertama kali.

b. Kedua, penetapan tersangka terhadap Tom Lembong tidak disadarkan pada bukti permulaan berupa minimal 2 alat bukti seperti yang diatur dalam pasal 184 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Adapun pernyataan yang menyatakan bahwa telah terjadi kerugian negara sebesar Rp. 400.000.000.000 tanpa didasarkan Hasil Audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). yang dimana hasil Audit ini dapat dijadikan bukti permulaan untuk menindaklanjuti dugaan dari dugaan korupsi yang dilakukan Tom Lembong sehingga tidak dapat dikatakan bahwa yang dilakukan Tom Lembong telah merugikan Negara, jika belum ada hasil Audit yang oleh BPK RI, maka belum terbukti unsur merugikan negara dan penyidik belum bisa menetapkan Tom Lembong sebagai tersangka. Hal ini merupakan salah satu bentuk kriminalisasi yang dirasakan oleh Tom Lembong.

c. Ketiga, penetapan tersangka kepada Tom Lembong dianggap sewenag- wenang dan tidak didasarkan oleh hukum yang berlaku dan Tom Lembong sudah tidak menjabat sebagai Menteri Perdagangan sejak 27 Juli 2016, sehingga Menteri lain setelahnya juga harus diperiksa dalam perkara ini. Dengan kata lain penahanan terhadap tom lembong dianggap tidak sak karena tidak memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif.

d. Keempat, Tom Lembong tidak terbukti melakukan perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan kewenangannya dan Kejaksaan Agung tidak memiliki bukti aliran dana yang dapat membuktikan jika Tom Lembong bermaksud memperkaya diri sendiri atau orang lain.

e. Kelima, Surat Pemberitahuan dimulainya Penyidikan (SPDP) yang diterima Tom Lembong lebih dari 7 hari setelah Sprindik diterbitkan, hal ini menunjukkan bahwa proses hukum tidak berjalan sesuai dengan ketentuannya. Dalam pemeriksaan Tom Lembong juga berlaku

(14)

Kooperatif dan memenuhi seluruh panggilan penyidik untuk melakukan pemeriksaan.

Dalam uraian diatas, telah dijelaskan bahwa penyidikan yang dilakukan tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan dalam penahanan Tom Lembong dinyatakan tidak sah karena telah melanggar hak-hak Tom Lembong sebagai Tersangka. Merujuk pada pasal 4 dan 55 KUHAP tentang hak–hak tersangka, yang dimana salah satunya ialah dapat menunjuk sendiri Penasihat Hukumnya namun dalam penyidikan, Tom Lembong tidak diberikan kesempatan un tuk memilih sendiri Penasihat Hukumnya. Tentu dalam hal ini telah melanggar Hak nya sebagai tersangka, dan pelanggaran ini merupakan sebuah kefatalan yang dilakukan penyidik karena telah melanggar Undang-Undang dan juga penetapan tersangka terhadap Tom Lembong tidak didasarkan oleh bukti permulaan yang dinyatakan dengan 2 alat bukti, namun dalam hal ini tidak terdapat bukti permulaan yang cukup, sehingga dinyatakan bahwa penetapan tersangka terhadap Tom Lembong dinyatakan Tidak Sah .

F. REKOMENDASI

1. Adanya dugaan korupsi dan merugikan keuangan negara yang dilakukan Tom Lembong harus dibuktikan dengan adanya bukti hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengetahui dana yang digunakan oleh Tom Lembong dalam melakukan persetujuan Impor Gula. Hasil Audit tersebut kemudian menjadi bukti untuk memastikan adanya uang negara yang digunakan dan harus disertakan juga aliran dana yang diterima oleh Tom Lembong dalam persetujuan Impor Gula tersebut.

2. Penahanan yang dialami oleh Tom Lembong dilakukan tidak sesuai dengan Undang-Undang sehingga membuat penahanan tersebut tidak sah dan diajukan Prapradilan untuk meninjau kembali sah atau tidaknya proses penangkapan yang dialami Tom Lembong. Pada gugatan prapradilan Tom Lembong dapat berisi tentang Rehabilitasi, ganti rugi serta pengembalian hak-haknya dan juga pengembalian nama baik Tom Lembong.

(15)

G. DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Impor Gula

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 117/M- DAG/PER/12/2015 Tentang Ketentuan Impor Gula

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2021 Tentang Kebijakan Dan Pengaturan Impor.

Shinta Agustina, dkk. Fenafsiran Unsur Melawan Hukum dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan.

Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta: LeIP.

Referensi

Dokumen terkait

Konsep Kebijakan Hukum Pidana dalam tindak pidana korupsi pada dasarnya adalah sama dengan konsep kebijakan Pidana dalam hukum pidana umum.dalam pasal 2 dan pasal 3 ,kita

Pada penelitian Nainggolan (2006) mengenai dampak kebijakan impor gula yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia, dimana impor yang tinggi serta harga internasional yang murah

(5) Biaya yang diperlukan untuk pemberian kesaksian terhadap kasus hukum dugaan tindak pidana korupsi baik di dalam maupun di luar pengadilan oleh pejabat, mantan pejabat,

Data dasar yang digunakan untuk perhitungan dampak perkembangan penerapan kebijakan proteksi impor gula secara histories dan beberapa alternative kebijakan terhadap surplus

Formulasi kebijakan pidana denda dan uang pengganti dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi di indonesia dilihat dari dua sisi, yaitu ; Pertama , sisi peraturan perundang

Adapun kebijakan dalam rangka peningkatan produksi gula nasional yang diperlukan adalah: (1) perlu adanya penerapan tarif impor gula mentah yang disesuaikan dengan harga

Bahan hukum sekunder ini dapat berupa referensi semua bahan hukum yang memberikan penjelasanterkait dengan kebijakan hukum pidana mati yang diterapkan kepada anak sebagai pelaku tindak

Masalah yang terjadi dalam pelaksanaan kebijakan hukum pidana dalam upaya penanggulangan tindak pidana korupsi di pemerintahan daerah Sorong Selatan diantaranya tidak adanya upaya