319
PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PADA PESANTREN DI INDONESIA (STUDI ANALISI PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULUTAL
JAMES A. BANK)
Made Saihu Institut PTIQ Jakarta [email protected]
Taufik
STIT Al-Amin Kreo Tangerang [email protected]
ABSTRACT
This paper discusses the multicultural education approach to pesantren in Indonesia. Critical studies on critical analysis of James A. Bank's multicultural approach empathy include:
content integration, knowledge construction processes, reduction of prejudice, equity pedagogy, which in fact only educates emotional intelligence. If this continues to be manifested, then human intellectual and spiritual intelligence will be empty and the aspiration to instill multicultural understanding is felt to be less than optimal. This study aims to develop James A. Bank's multicultural approach through a study of multicultural approaches to education in Islamic boarding schools in Indonesia. This paper is a literature study with data sources obtained through literature and books on multiculturalism education and education models in Islamic boarding schools. The result of this paper is that the process of planting multicultural values in Islamic boarding schools is carried out through balancing the development of the physical aspects, the development of the intellectual aspects, the development of the aspects, and the development of the spiritual aspects. By balancing these components possessed by humans, the five souls, including the spirit of sincerity, the spirit of simplicity, the spirit of independence, the spirit of ukhuwah Islamiyah, and the spirit of freedom, are well planted, and efforts to create ukhuwwah Islamiyyah (brotherhood due to Islam), ukhuwwah wathaniyyah (brotherhood due to homeland), and ukhuwwah basyaraiyyah (brotherhood due to humanity) are easy to implement.
Keywords: Multicultural, James A. Bank, Islamic Boarding School, Development
ABSTRAK
Tulisan ini membahas tentang pendekatan pendidikan multikultural pada pesantren di Indonesia. Kajian berfokus pada analisis kritis dari empat pendekatan multikultural James A.
Bank meliputi: content integration, knowledge construction process, prejudice reduction, an equity pedagogy, yang ternyata hanya mendidik kecerdasan emosional saja. Jika hal ini terus diejewantahkan, maka kecerdasan intelektual dan spiritual manusia menjadi kosong dan cita- cita untuk menanamkan pemahaman multikultural dirasa kurang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pendekatan multikultural James A. Bank melalui kajian pendekatan pendidikan multikultural pada pesantren di Indonesia. Tulisan ini adalah studi kepustakaan dengan sumber data ini diperoleh melalui literatur dan buku-buku tentang pendidikan multiculturalisme dan model pendidikan di pesantren. Hasil dari tulisan ini memperlihatkan bahwa proses penanaman nilai-nilai multikultural di pesantren dilakukan melalui penyeimbangan pengembangan aspek jasmani, pengembangan aspek intelektual, pengembangan aspek emosional, dan pengembangan aspek spiritual. Dengan
320
menyeimbangkan komponen yang dimiliki oleh manusia ini, maka panca jiwa, meliputi jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa kemandirian, jiwa ukhuwah Islamiyah, dan jiwa kebebasan, tertanam dengan baik, dan upaya untuk menciptakan ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan karena agama Islam), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan karena tanah air), dan ukhuwwah basyaraiyyah (persaudaraan karena kemanusiaan) mudah untuk diimplementasikan.
Kata Kunci: Multikultural, James A. Bank, Pesantren, Pengembangan
321 A. PENDAHULUAN
Tulisan ini membahas tentang peran dan fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang ternyata mampu menciptakan peserta didik yang berwawasan pluralis secara agama dan berwawasan multikultural. Dengan demikian pesantren bisa dikatakan sebagai lembaga multikultural pertama di Indonesia, karena keberadaan pesantren sebenarnya merupakan hasil dialog antara konsepsi teologis dan konsepsi sosiologis yang ada di masyarakat.1 Tentu saja karena merupakan hasil dari dialog masyarakat, pesantren memiliki strategi khusus dalam menciptakan santri-santri yang berakhlak mulia atau berkarakter ke-Indonesiaan.
Konsep pendidikan multikultural yang banyak di anut oleh negara-negara demokratis, seperti Amerika Serikat dan Kanada, bukan hal baru lagi. Mereka telah melaksanakan, khususnya dalam upaya melenyapkan diskriminasi rasial antara orang kulit putih dan kulit hitam yang bertujuan memajukan dan memelihara integritas nasional. Salah satu bukti keberhasilan pendidikan multikultural di Amerika untuk saat ini adalah hadirnya Barack Obama Husein sebagai presiden Amerika Serikat dari warga kulit hitam. Pendidikan multikultural mengakui adanya keragaman etnis dan budaya masyarakat suatu bangsa, sebagaimana dikatakan R. Stavenhagen: “Religious, linguistic, and national minoritas, as well as indigenous and tribal peoples were often subordinated, sometimes forcefully and against their will, to the interest of the state and the dominant society. While many people... had to discard their own cultures, languages, religions and traditions, and adapt to the alien norms and customs that were consolidated and reproduced through national institutions, including the educational and legal system”.2
Menurut penelitian Banks, pendidikan multikultural memiliki empat dimensi atau pendekatan yang saling berkaitan, antara lain: 1) Integrasi pendidikan dalam kurikulum (content integration), yaitu mengintegrasikan berbagai budaya baik teori maupun realisasi dalam mata pelajaran/disiplin ilmu; 2) Konstruksi ilmu pengetahuan (knowledge construction process), yaitu membawa peserta didik untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran/disiplin ilmu; 3) Pengurangan Prasangka (prejudice reduction). Maksudnya adalah mengidentifikasi karakter ras atau etnis siswa dan menentukan metode pengajaran mereka; 4) Pedagogi kesetaraan antarmanusia (equity pedagogy). Melalui dimensi ini pendidik harus menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar peserta didik dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik peserta didik yang beragam baik dari segi ras, budaya, agama, ataupun sosial.
Keempat pendekatan tersebut di atas semuanya bermuara kepada pemberdayaan kebudayaan sekolah (empowering school culture). Apabila pendekatan-pendekatan pendidikan multikultural tersebut di atas dapat dilaksanakan, maka dengan sendirinya lahir kebudayaan sekolah yang kuat dalam menghadapi masalah-masalah sosial dalam masyarakat.3
Sekilas apa yang ditawarkan oleh Bank sangat menarik dan rasional untuk diterapkan dalam kerangka pendidikan Islam di Indonesia. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mungkin empat pendekatan pendidikan multikultural itu dapat optimal untuk diimplementasikan, jika aspek kejiwaan atau ruhani manusia tidak tersentuh sehingga kosong dari muatan spiritual. Maka yang terjadi adalah bisa jadi empat pendekatan itu cocok diterapkan di amerika dan eropa tetapi tidak cocok
1 Amin Haedari, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Tantangan Komplesitas Global, ed. IRD Press, 1st ed. (Jakarta, 2004), 3.
2 Rudolfo Stavenhagen, “Education for a Multikultural World,” in Multikulturalisme Dan Pendidikan Multikultura (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2004), 10.
3 James A. Banks, “Multicultural Education: Historical Development, Dimensions, and Practice,” in Handbook of Research on Multicultural Education (San Fransisco: Jossey-Bass, 2001), 138–40.
322
diterapkan di Indonesia dimana masyarakatnya memandang spiritual dalam hal ini agama sebagai pandangan hidup (weltanschauung).4 Bagi masyarakat Indonesia agama adalah nilai fundamental yang mendasari dan mengarahkan seluruh kehidupan. 5 Selain itu, agama merupakan respons manusia terhadap realitas yang dianggap sebagai yang suci (the holy) serta pemahaman, penyingkapan, dan perayaan terhadap “yang suci”
merupakan hal penting dalam memahami eksistensi manusia.6
Menjawab fenomena ini pesantren sejak dahulu hadir sebagai sebuah lembaga pendidikan agama yang ternyata mampu menghasilkan peserta didik yang tidak saja multikultural dalam pemikiran, tetapi juga inklusif dalam tindakan.7 Lalu bagaimana model pembelajaran di pesantren sehingga ia mampu menciptakan peserta didik yang pluralis? Metode apa yang digunakan, dan materi apa yang diberikan? Dalam tulisan ini menguraikan tentang model pendidikan multikulturalisme di pesantren di mulai dari aspek pendidikan aql, ruhani dan nafsani, emosional dan terakhir spiritual.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Pendidikan Multikultural lahir sesudah sekitar 30-an tahun yang silam, yaitu sesudah Perang Dunia II ditandai dengan lahirnya banyak negara dan berkembangnya prinsip-prinsip demokrasi. Dengan adanya gerakan kemerdekaan bukan hanya di negaranegara bekas jajahan, melainkan juga di negara-negara maju terjadi tantangan tentang prinsip hidup demokrasi.8 Dalam perkembangannya studi ini menjadi sebuah studi khusus tentang pendidikan multikultural yang pada awalnya bertujuan agar populasi mayoritas dapat bersikap toleran terhadap para imigran baru. Studi ini juga mempunyai tujuan politis sebagai alat kontrol sosial penguasa terhadap warganya agar kondisi negara aman dan stabil. Namun dalam perkembangannya, tujuan politis ini menipis bahkan hilang sama sekali karena ruh dan nafas dari pendidikan multikultural adalah demokrasi, humanisme, dan pluralisme yang menjadi motor penggerak dalam penegakannya yang dilakukan di sekolah-sekolah, kampus, dan institusi-institusi pendidikan lainnya.9
Sejarah kelam yang panjang yang dialami negara-negara Eropa dan Amerika seperti kolonialisme, perang sipil di Amerika dan perang dunia I dan II, sebenarnya juga menjadi landasan utama sehingga pendidikan multikultural ini di aplikasikan di kedua benua tersebut. Perang dunia I yang diawali pada tahun 1914 dan kemudian berlanjut menjadi perang dunia II yang dimulai pada tahun 1939 yang berakhir hingga pertengahan tahun 1900-an telah menyebabkan negara-negara Eropa bercerai berai dan saling bermusuhan. Disisi lain, 1861-1865, Amerika juga telah mengalami tragedi yang sangat menyakitkan yaitu perang sipil. Perang yang di akibatkan oleh adanya isu pertentangan ras dan etnis ini telah merenggut ratusan ribu jiwa. Perang dunia I dan II dan perang sipil di Amerika, telah menjadi bagian sejarah kelam dunia khususnya bagi bangsa Eropa dan Amerika.10
4 H.A.R. Tilaar, Kaleidoskop Pendidikan Nasional (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2012), 1003.
5 M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme, ed. Pustaka Pelajar (Yogyakarta, 2016), 207.
6 Fredrik Bart, Kelompok Etnik Dan Batasannya (Jakarta: UI Press, 1988), 20.
7 Abu Yazid, Paradigma Baru Pesantren (Yogyakarta: IRCiSoD, 2018), 172.
8 H A R Tilaar, Kekuasaan Dan Pendidikan: Suatu Tinjauan Dari Perspektif Studi Kultural (IndonesiaTera, 2003), 204, https://books.google.co.id/books?id=QXAH73XZDUgC.
9 Yaqin. M. Ainul, Pendidikan Multikultural, Cross-Cultural Understanding Untuk Demokrasi Dan Keadilan (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), 24.
10 Ainul, 22.
323 Indonesia juga mempunyai pengalaman yang tidak kalah menyedihkan seperti kekerasan dan pemberontakan, pembumihangusan, dan pembunuhan generasi.
Perpecahan dan ancaman disintegrasi bangsa telah terjadi sejak zaman kerajaan Singosari, Sriwijaya, Majapahit, Gowa, Mataram, hingga pada era terkini. Pembunuhan besar-besaran terhadap masa pengikut Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965, kekerasan terhadap etnis Cina di Jakarta pada Mei 1998, perang Islam Kristen di Maluku Utara pada tahu 1999-2003, dan perang etnis antar warga Dayak dan Madura yang terjadi sejak tahun 1931 hingga tahun 2000 yang telah menelan korban jiwa kurang lebih 2000 nyawa manusia melayang sia-sia. Ini merupakan bagian dari sejarah kelam bangsa Indonesia.
C. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis yang menggunakan teknik analisis kajian melalui study kepustakaan. Study kepustakaan merupakan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan. “Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila di dukung foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.” 11 Sumber data pada penelitian ini adalah literatur-literatur yang berkaitan dengan pendidikan multikultural dalam perspektif James A. Bank dan literatur-literatur tentang model pendidikan multikultural di pesantren yang ada di Indonesia, berupa bahan-bahan pustaka, seperti: dokumen, arsip, koran, majalah, jurnal ilmiah, buku, laporan tahunan dan lain sebagainya.12. Dalam tulisan ini, analisis data mengacu pada prosedur analisis data Milles dan Hubermen, yaitu analisis data dilakukan dimulai sejak pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.13
D. HASIL DAN PEMBAHASAN Seputar Pesantren
Pesantren merupakan lembaga yang berangkat dari budaya nusantara yang tentu saja terkait dengan tradisi dan kearifan masyarakat Indonesia. Pesantren, misalnya, dikatakan sebagai hasil dari produk budaya Indonesia, karena pesantren memiliki akar yang kuat (indigenous) pada masyarakat Muslim Indonesia, yang dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya (survival system), serta memiliki model pendidikan multi aspek. 14 Santri atau murid yang belajar di pesantren, tidak hanya dididik menjadi seseorang yang mengerti ilmu agama, tetapi juga mendapat tempaan kepemimpinan, kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan, dan sikap positif lainnya.
Modal inilah yang diharapkan melahirkan masyarakat yang berkualitas dan mandiri sebagai bentuk partisipasi pesantren dalam menyukseskan tujuan pembangunan nasional sekaligus berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa sesuai yang diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945. 15
11 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D, 11th ed.
(Bandung: ALPABETA, 2010), 83.
12 Maman Dkk, Metedologi Penelitian Agama Teori Dan Praktek (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), 80.
13 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002).
14 Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam Dan Perkembangannya Di Indonesia (Bandung: Al- Ma’rifat, 1979), 35.
15 Haedari, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Tantangan Komplesitas Global.
324
Pentingnya keberadaan pesantren ini adalah karena selain sebagai salah satu pemicu terwujudnya kohesi sosial, keberadaan pesantren hadir dan terbuka dengan mengedepankan nilai-nilai ketaatan, keikhlasan, kesetiakawanan, kebersamaan, persamaan, saling tolong-menolong, kesederhanaan, kebersamaan, saling menghargai, dan saling menghormati.16 Konsepsi perilaku (sosial behavior) yang ditampilkan pesantren ini, mempunyai daya rekat sosial yang tinggi dan sulit ditemukan pada institusi pendidikan lainnya.17 Begitu juga dengan genealogi pesantren yang telah lama berkembang dan muncul sejak pra-kemerdekaan, selain mengajarkan agama, pesantren juga mengajarkan nilai-nilai moralitas dan local wisdom kebhinekaan.
Untuk memantapkan kerjanya, pesantren memiliki komponen-komponen yang selalu berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Komponen itu adalah; masjid, santri, pengajaran kitab Islam klasik (kitab kuning), dan kiai yang menjadi elemen dasar dalam tradisi pendidikan di pesantren.18 Pesantren juga merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik. Letak keunikannya dapat dilihat pada gambaran lahiriahnya dimana pesantren adalah sebuah kompleks yang di dalamnya berdiri beberapa bangunan, meliputi; rumah kediaman pengasuh (di Jawa dipanggil kiai, di daerah yang berbahasa sunda dipanggil ajengan, di Madura dipanggil Nun atau bendara yang selanjutnya di disingkat menjadi Ra), sebuah surau atau masjid, tempat pengajaran (madrasah), dan asrama tempat tinggal para santri.19
Dalam lingkungan fisik sebagaimana digambarkan di atas, diciptakan cara kehidupan yang memiliki sifat dan ciri tersendiri, dimulai dengan jadwal kegiatan yang menyimpang dari pengertian rutin kegiatan masyarakat pada umumnya. Gambaran kegiatan di pesantren berputar dan berdasarkan pada pembagian periode waktu salat lima waktu (salat rawatib), seperti waktu pagi, siang, dan sore, di pesantren berbeda dengan pengertian aslinya. Maka tidaklah mengherankan apabila sering dijumpai santri menanak nasi di tengah malam buta atau mencuci pakaian menjelang terbenamnya matahari.
Dimensi waktu yang unik ini tercipta karena kegiatan pokok pesantren dipusatkan pada pemberian pengajian pada setiap habis menjalankan salat rawatib sekaligus mewajibkan kegiatan lain harus tunduk dan patuh atau disesuaikan dengan pembagian waktu pengajian.20
Pesantren, sebagaimana dijelaskan oleh Zuhri di mulai sejak zaman Maulana Malik Ibrahim, yang olehnya disebut sebagai the spiritual father of Walisongo (dalam masyarakat santri Jawa dipandang sebagai gurunya tradisi pesantren di tanah Jawa).21 Sementara menurut Azyumardi Azra, selain merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren juga merupakan lembaga pendidikan yang dihasilkan dari produk budaya Indonesia, dimana sejarah kehadirannya sangat erat kaitannya dengan sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Oleh karena itu, membahas pesantren di tanah air, tidak dapat dipisahkan dari membahas mengenai sejarah Islam itu sendiri.22 Dikatakan sebagai hasil dari produk budaya Indonesia, karena pesantren memiliki akar yang kuat (indigenous) pada masyarakat Muslim Indonesia, yang dalam perjalanannya mampu menjaga dan
16 Yazid, Paradigma Baru Pesantren.
17 Saipul Hamdi, Pesantren Dan Gerakan Feminisme Di Indonesia (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2017), 41.
18 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Kyai. Jakarta: LP3ES. Cet. VII.
(Jakarta: LP3ES, 2011), 79.
19 Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Kyai. Jakarta: LP3ES. Cet. VII.
20 Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Keindonesiaan Dan Transformasi Kebudayaan (Jakarta: The Wahid Institut, 2007), 90.
21 Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam Dan Perkembangannya Di Indonesia.
22 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII:
Akar Pembaruan Islam Indonesia, II (Jakarta: Prenada Media, 2005), 5.
325 mempertahankan keberlangsungan dirinya (survival system), serta memiliki model pendidikan multi aspek. Santri atau murid yang belajar di pesantren, tidak hanya dididik menjadi seseorang yang mengerti ilmu agama, tetapi juga mendapat tempaan kepemimpinan, kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan, dan sikap positif lainnya.
Modal inilah yang diharapkan melahirkan masyarakat yang berkualitas dan mandiri sebagai bentuk partisipasi pesantren dalam menyukseskan tujuan pembangunan nasional sekaligus berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa sesuai yang diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945.23
Dalam Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, posisi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan memiliki tempat yang istimewa. Letak istimewanya adalah di satu sisi pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan non- formal, tetapi di sisi lain pesantren juga dapat menjadi lembaga pendidikan formal.
Sebagai lembaga pendidikan yang concern di bidang keagamaan, pesantren memiliki ketentuan-ketentuan proses pendidikan dan pembelajaran-nya yang diatur dalam pasal 30 Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003, yang berbunyi; Pertama, pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan; Kedua, pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama-nya dan atau menjadi ahli ilmu agama; Ketiga, pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, non-formal, dan informal; Keempat, pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, dan bentuk lain yang sejenis.24
Jika dilihat lebih dalam, keterkaitan antara pesantren dengan masyarakat sekitarnya sangat erat.25 Sehingga banyak dijumpai pondok pesantren tumbuh dan berkembang umumnya di daerah pedesaan, karena tuntutan masyarakat yang menghendaki berdirinya pondok pesantren sebagai lembaga kontrol sosial terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Bahkan akhir-akhir ini juga sudah banyak pesantren yang berdiri di daerah perkotaan, hal ini dikarenakan perkembangan dari daerah itu sendiri yang awalnya sebuah desa, berkembang menjadi daerah pusat industri, pendidikan, ataupun pemerintahan.26 Dengan demikian, pesantren sesungguhnya terbangun dari konstruksi kemasyarakatan dan epistemologi sosial yang menciptakan suatu transendensi atas perjalanan historis sosial.
Pengaruh utama yang dimiliki pesantren atas kehidupan masyarakat, terletak pada interaksi perorangan yang menembus batas hambatan yang diakibatkan dari perbedaan- perbedaan yang terjadi di masyarakat. Interaksi ini merupakan jalur timbal balik yang memiliki dua fungsi, yaitu; mengatur bimbingan spiritual–dari pihak pesantren kepada masyarakat–dalam soal-soal perdata agama (perkawinan, hukum waris, dan sebagainya), dan soal-soal ibadah ritual yang mengatur pemeliharaan material finansial oleh masyarakat dalam bentuk pengumpulan dana dan sebagainya. Sehingga baik agama Islam maupun pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, tidak pernah mengajarkan tindakan radikalisme, terorisme, karena berdirinya pesantren memiliki misi untuk menyebar-luaskan informasi, ajaran, dan doktrin tentang universalitas Islam ke seluruh
23 Haedari, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Tantangan Komplesitas Global.
24 Surayin, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Yrama Widya, 2004), 58–59.
25 Surayin, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
26 Rela Mar’ati, “Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Karakter: Tinjauan Psikologis,” Al-Murabbi, 1, no. 1 (2014): 1–15.
326
Human Being
Development of Intellectual
Aspects
Development of Emotional
Aspects
Development of Spiritual
Aspects Development
of Physical Aspects
pelosok Nusantara.27. Dari gambaran ini, maka pesantren selalu menghasilkan atau dapat membentuk pribadi-pribadi Muslim yang selain dalam ilmu agamanya, juga memiliki watak yang humanis, toleran, dan pluralis.28
Model Pendidikan Multikultural di Pesantren
Kesempurnaan penciptaan manusia itu kemudian semakin “disempurnakan” oleh Allah dengan mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi yang mengatur alam dan ekosistem Ilahiyah. Berkaitan dengan tingkah laku manusia, al-Qur'an menyebut manusia sebagai makhluk yang amat terpuji dan disebut pula sebagai makhluk yang amat tercela. Hal itu ditegaskan dalam berbagai ayat, bahkan ada pula yang ditegaskan dalam satu ayat. Akan tetapi itu tidak berarti manusia dipuji dan dicela dalam waktu yang bersamaan, melainkan berarti bahwa dengan potensi yang telah dipersiapkan baginya, manusia dapat menjadi makhluk yang mulia dan dapat pula menjadi makhluk yang hina.
Sebab manusia terdiri dari berbagai unsur. Rincian unsur manusia ini ditelusuri berdasarkan isyarat-isyarat al-Qur’an dalam menggambarkan sosok manusia dalam berbagai unsurnya. Secara umum, isyarat al-Qur’an lebih banyak berkaitan dengan unsur aql, jasmani, ruhani atau dan nafsani.
Islam sebagai kerangka konsep pendidikan multikultural di pesantren dijabarkan dalam skema dibawah ini:
1. Pengembangan Aspek Jasmani
Unsur Jasmani menjadi salah satu aspek manusia yang dididik di pesantren.
Jasmani terdiri dari unsur biologis dan indera adalah potensi yang dimiliki manusia yang menjadikannya makhluk dengan kesempurnaan yang lengkap, indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan peraba tidak hanya menjadi pelengkap pada diri manusia, melainkan seperangkat atribut yang bisa mengantarkan manusia untuk mengembangkan dan memberdayakan potensi kemanusiaannya. Aktivitas jasmani juga dapat dijelaskan sebagai kegiatan pelaku gerak untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan sosial.
Aktivitas ini harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan pelaku. Melalui kegiatan keolahragaan diharapkan pelaku atau pengguna akan tumbuh dan berkembang secara sehat, dan segar jasmaninya, serta dapat berkembang kepribadiannya agar lebih harmonis.29 penting pengembangan aspek jasmani ini dicatat dalam al-Quran QS [16]:
27 Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Postmodernisme (Jakarta: Paramadina, 1996), 109.
28 Syamsul Ma’arif, “Transformative Learning Dalam Membangun Pesantren Berbasis Multikultural,”
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi 1, no. 1 (2012): 58–71.
29 Azhar Romadhana Sonjaya, “Pengaruh Metode Pendekatan Bermain Terhadap Partisipasi Belajar Pendidikan Jasmani Pada Siswa Adaptif Tuna Grahita Ringan,” Jurnal Perspekti 1, no. 1 (2017): 28.
327 78. 16, ayat 78. Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendinya akan dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah akan dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. 30 Untuk mempertahankan tonus dan jasmani agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi.
selain itu, siswa juga dianjurkan memilih pola istirahat yang cukup dan olah raga ringan yang sedapat mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini sangat penting untuk menjaga reaksi tonus dari hal negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri. 31
Umumnya pendidikan jasmani di pesantren adalah dengan mengintensipkan latihan bela diri (pecak silat) serta latihan atau riyadhah dengan puasa senin-kamis, atau puasa yang disunatkan lainnya. Selain itu intensifikasi pendidikan jasmani melalui olahraga juga sering dilakukan di pesantren. Aktivitas ini penting untuk dilakukan, karena pendidikan jasmani, selain media gerak tubuh dirancang untuk menghasilkan beragam pengalaman dan tujuan antara lain belajar, sosial, intelektual, keindahan dan kesehatan, pendidikan jasmani juga merupakan bagian yang integral dari seluruh proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan individu secara organik, meliputi: fisik, mental, emosi, intelektual, dan sosial.32 Sehingga melalui aktivitas jasmani ini peserta didik memperoleh beragam pengalaman kehidupan yang nyata sehingga benar- benar membawa anak ke arah sikap dan tindakan yang baik.
Pemantapan pendidikan multikultural melalui aktivitas jasmani sangat bermanfaat bagi peserta didik, antara lain: Pertama, dorongan berkomunikasi. Peserta didik dapat belajar membangun komunikasi melalui suatu bentuk aktivitas yang mengalir dan menyenangkan dalam permainan tersebut. Komunikasi dalam bermain adalah terjadinya persamaan pendapat mengenai suatu objek atau makna dalam permainan tersebut.
Bentuk komunikasi dalam bermain dapat komunikasi lisan, tertulis maupun isyarat. 33 Melalui permainan dalam bentuk fisik mempermudah anak untuk berkomunikasi antar mereka hal ini terjadi karena adanya dorongan yang kuat untuk memahami konsep bersama atau individu-individu. Sebagai contoh anak-anak dari berbagai sudut daerah berkumpul di halaman pesantren dengan berbagai aktivitas jasmani sehinga komunikasi dapat terbangun dengan baik.34
Kedua, Penyaluran energi emosional yang terpendam. Aktivitas jasmani melalui bermain misalnya merupakan media penyaluran ketegangan-ketegangan ataupun energi potensial yang disebabkan oleh pembatasan lingkungan terhadap perilaku hidup mereka.
Melalui bermain energi yang tersimpan atau emosi anak akan dapat dikeluarkan dengan lancer tanpa mengalami hambatan apapun, anak dalam bermain akan mengeluarkan apa saja yang menjadi tekanan/hambatan dengan bebas seperti berteriak keras-keras di lapangan, menendang bola sekuat tenaga, atau memukul bola dengan sekeras-kerasnya, sehingga memudahkan untuk membuat keseimbangan psikis yang dapat mengembalikan berperilaku anak normal kembali. Selain itu melalui aktivitas bermain tersebut membawa
30 Robert N. Singer, Motor Learning and Human Performance: An Application to Physical Education Skills, 2nd ed. (New York: Macmillan Publishing Co., Inc, 1975), 36.
31 Ani Lailaturrohmah, “Pendidikan Jasmani Dan Keterampilan Menurut Al Quran Dan Hadis,” Jurnal Pendidikan Jasmani 1, no. 1 (2017): 1–8.
32 R. Koenig. Constance Charles A. Bucher, Methods and Materials for Secondary School Physical Education (St. Louis: The CV. Mosby Company, 1983), 73.
33 A.M. Bandi Utama, “Pembentukan Karakter Anak Melalui Aktivitas Bermain Dalam Pendidikan Jasmani,” Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia 8, no. 1 (2011): 1–9.
34 Sukintaka, Teori Bermain Untuk Pendidikan Jasmani (Yogyakarta: FPOK IKIP, 1998), 6.
328
anak mampu untuk melatih dan mengelola emosi yang pasti timbul dalam kegiatan bermain.
Ketiga, sumber belajar. Bermain memberi kesempatan secara luas pada anak untuk mempelajari berbagai bidang yang tidak diperoleh melalui belajar di sekolah, keluarga dan masyarakat. Melaui bermain anak akan memperoleh pengalaman langsung dari berbagai bidang dalam hal kognitif, afektif, maupun psiomotorik. Pengalaman langsung dalam domain kognitif melalui bermain tebak menebak, teka-teki, dengan menggunakan peraturan sederhana maupun baku. Melalui bermain tersebut anak akan bertambah pengetahuan dan pemahaman suatu objek serta pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam arti kecerdasan praktis. Pengalaman langsung pada domain afektif dalam aktivitas bermain yaitu pada saat anak-anak mampu menaati/melaksanakan peraturan yang mereka sepakati atau peraturan permainan yang baku dengan sukarela, jujur dalam bertindak, fair play, mampu bekerja sama, dan berperilaku baik. Sedang pengalaman langsung dalam domain psychomotor adalah pada saat anak-anak aktif melakukan kegiatan dalam permainan tersebut seperti berlari, melempar, menangkap, menendang, memukul, berguling, melompat, meloncat, merayap, memutar, menyelam, mengapung, berenang, bergoyang, mendorong, menarik, bertepuk tangan, dan sebagainya dengan berbagai variasi geraknya.
Keempat, perkembangan wawasan diri. Aktivitas jasmani melalui bermain merupakan cermin dalam kehidupan anak-anak. Melalui bermain anak mampu melihat dirinya sendiri karena ada tolok ukur atau pembanding yaitu teman atau lawan bermain- nya, sehingga mereka mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang seperti fisik, psikis, dan sosial. Melalui bermain anak-anak mengetahui tingkat kemampuannya. Misalnya si A lebih cepat dalam berlari dari pada si B, atau si C lebih pandai dari pada si B, dan si B lebih kuat dari pada si A, dan sebagainya. Hal ini memungkinkan anak-anak tersebut untuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata.
Kelima, belajar bermasyarakat. Pendidikan jasmani melalui permainan juga dapat diartikan pusat kegiatan “masyarakat” bagi anak-anak. Dalam kehidupan bermasyarakat dipastikan ada komunikasi, hubungan sosial, nilai kerja sama, saling menolong, ada aturan yang harus ditaati, ada tujuan bersama yang ingin dicapai, saling menghormati, saling percaya, ada rasa senang, cinta, kebersamaan, kerukunan, dan kedamaian. Melalui aktivitas bermain anak akan belajar bermasyarakat dengan cara berkomunikasi dengan orang lain, belajar menghormati, mempercayai, belajar menaati aturan, kebersamaan dan kerja sama. Jika anak-anak sudah terbiasa dengan menaati aturan, kerja sama, saling menolong dan berkomunikasi dengan orang lain dalam setiap kesempatan bermain maka dapat diduga kebiasaan ini akan dibawa dalam kehidupan yang akan datang sehingga hidup bermasyarakat yang sesungguhnya dapat terwujud.
Keenam, standar moral. Bermain juga dapat sebagai standard moral yang berarti melalui bermain dapat dilihat baik buruknya sikap atau tingkah laku anak pada saat bermain. Dalam aktivitas bermain anak-anak bebas mengekspresikan segala kemampuan yang dimilikinya secara bebas dalam hal sikap, tingkah laku maupun tutur kata, sehingga anak yang mempunyai kebiasaan bertingkah laku baik atau buruk akan tampak dalam kegiatan bermain tersebut. Selain itu anak-anak pasti sudah belajar di keluarga maupun di sekolah mengenai hal yang baik dan buruk serta penerapannya, tetapi pelaksanaan standard moral paling teguh ada dalam aktivitas bermain.
Dari sini dapat dipahami bahwa, unsur jasmani dalam diri manusia adalah salah satu unsur yang harus dilatih, karena aktivitas jasmani yang dilakukan dengan sungguh- sungguh dan sukarela serta menyenangkan yang sering dilakukan oleh sebagian anak- anak, mampu membawa peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan
329 kemampuan atau potensi yang dimilikinya ke arah yang positif dalam arti potensi mereka, baik segi kognitif, afektif, fisik, dan psikomotorik. Hal ini berarti bahwa melalui melatih jasmani dalam bentuk apapun selama kegiatan itu positif dapat membentuk karakter individu.
2. Pengembangan Aspek Intelektual
Pengembangan aspek intelektual yang penulis maksud adalah pengembangan kecerdasan intelektual atau Intellectual Quotient (IQ). Akal adalah salah satu aspek penting dalam hakikat manusia. Menurut Nasution, ada tujuh kata yang digunakan al- Qur’an untuk mewakili konsep akal, seperti nazara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima, dan aqala, kata-kata itu menunjukkan bahwa al-Qur’an mengakui akal adalah salah satu aspek terpenting dalam hakikat manusia. 35 Sementara menurut kata ‘a-q-l, dalam bentuk derivatif-nya diulang sebanyak 49 kali dalam al-Qur’an.
Bentuk-bentuk derivatif yang digunakan dalam al-Qur’an ada lima, yaitu: ‘aqalûh 1 kali, na‘qil 1 kali, ya‘qiluhâ 1 kali, ya‘qilûn 22 kali, dan ta‘qilûn 24 kali. Kata ‘aql antara lain disandingkan dengan negasi interogatif afalâ sebanyak 15 kali, negasi lâ 12 kali, harapan (la‘alla) 8 kali, shart (in kuntum) 2 kali, dan hanya 12 kali berdiri sendiri. Dari 49 kali penggunaan kata ‘aql tersebut, hanya sekitar tiga kali dikaitkan secara jelas dengan aspek-aspek metafisik, sedangkan sisanya dikaitkan dengan fenomena alam, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut tanda (âyât).
Mayoritas mufasir mengartikan dan menafsirkan kata ‘aql dalam ayat-ayat dimaksud dengan mengetahui (ta‘qilûn-ta‘lamûn),36 mencapai pengetahuan (idrâk), memikirkan (afalâ ta‘qilûn-afalâ-ta‘lamûn),37 memahami (‘aqalûh-fahhamûh), dan kebijaksanaan (ta‘qilûn-learn wisdom).38 Berkaitan dengan makna-makna yang dikaitkan dengan aspek kognitif tersebut, al-Qur’an juga menggunakan kata lain dengan maksud yang tak jauh berbeda. Sekalipun aspek yang ditekankan kedua mufasir berbeda-berbeda, mereka sepakat tentang makna kata ‘aql, yakni paham atau mengerti. Salah satu ayat al- Qur’an yang di dalamnya terdapat kata ‘aql QS [2]: 44. Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Baydhâwî menegaskan arti kata ‘aql sekaligus menjelaskan penggunaannya secara metaforis fungsional pada manusia. Dengan akal, menurutnya, manusia bisa mengetahui dan memahami, dan dengan pengetahuan dan pemahaman yang sama manusia bisa menahan diri dari keburukan dan menambatkan diri pada kebaikan, yang dalam konteks agama secara ringkas bisa dikatakan, orang yang berakal akan bertakwa, yakni mematuhi ketentuan-ketentuan agama. Al-Qur’an juga banyak mempertanyakan fungsi ‘aql ketika tidak mampu memahami âyât yang bertebaran di alam semesta, dan cenderung menerima begitu saja berita-berita yang bertentangan dengan kebenaran wahyu. 39
Sementara menurut M. Quraish Shihab, akal selain dapat mengetahui perbuatan baik dan buruk , akal juga dapat menghalangi seseorang untuk melakukan perbuatan jahat dan menjaga seseorang dari perbuatan salah yang dapat merugikan dirinya dan orang lain sebagaimana ungkapannya yaitu akal berarti potensi yang terdapat pada manusia yang sangat besar fungsinya untuk menghalangi agar tidak terjebak dalam perbuatan dosa dan menjaga manusia dari berbuat kesalahan. 40 Tegasnya akal dapat
35 Harun Nasution, Akal Dan Wahyu Dalam Islam (Jakarta: Universitas Indonesia, 1982), 39–42.
36 Muhammad Tabataba’i, Al-Mîzân Fî Tafsîr Al-Qur’ân, 16th ed. (Beirut: Mu’assasat al-A’lâ, n.d.), 166.
37 Shihab al-din Mahmud, , ‘Abd Allâh Al-Alûsî, Rûh Al-Ma‘Ânî Fî Tafsîr Al-Qur’Ân Al-‘Azîm Wa Al- Sab‘ Al-Mathânî, 2nd ed. (Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâth al-‘Arabî, n.d.), 194.
38 ‘Umar b. Muhammad al-Shîrâzî al-Baydâwî Nâsir al-Dîn Abû Sa’îd ‘Abd Allâh, Anwâr Al-Tanzîl Wa Asrâr Al-Ta’wîl, 1st ed. (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmîyah, n.d.), 70.
39 Al-Baydâwî, Anwâr Al-Tanzîl (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmîyah, n.d.), 59.
40 M. Quraish Shihab, Logika Agama (Jakarta: Lentera Hati, 2005), 88.
330
mengetahui suatu perbuatan yang bermanfaat baginya dan perbuatan yang tidak bermanfaat atau membahayakan dirinya. Untuk mengasah kecerdasan akal di pesantren dilakukan dengan cara latihan membaca “kitab kuning” dengan menggunakan metode sorogan atau wetonan. Kitab kuning adalah kitab yang memiliki ciri-ciri unik, yaitu ditulis dengan menggunakan huruf Arab atau Melayu, Jawa, Sunda, dan lainnya; huruf- huruf tersebut tidak diberi syakal dan karena itu disebut juga “kitab gundul” yang pada umumnya dicetak pada kertas yang berwarna kuning. Karena dia tidak diberi syakal, maka untuk bisa membacanya membutuhkan pengetahuan ilmu nahwu (bapak ilmu) dan syaraf (ibu ilmu) dan ini sangat membutuhkan pengetahuan aql yang tinggi. 41 oleh karena itu pendidikan intelektual atau akal sangat diperhatikan di pesantren.
Adapun yang dimaksud dengan metode sorogan adalah sebuah sistem belajar di mana santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab atau al-Qur’an di hadapan seorang guru atau Kyai. 42 dari metode ini dapat dipahami bahwa fungsi akal akan benar-benar bekerja untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
3. Pengembangan Kecerdasan Emosional
Berbeda dengan kecerdasan intelektual yang terlalu mengandalkan kemampuan nalar, pemahaman verbal, dan kemampuan numerik, kecerdasan emosional, lebih kepada suatu kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri dan perasaan milik orang lain.
Kecerdasan emosional juga berarti memberikan rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat.43 Kecerdasan emosional juga berarti menunjuk kepada kemampuan mengenai perasaan diri sendiri serta perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubungannya dengan orang lain. 44 Kecerdasan emosional juga merupakan salah satu dasar pendidikan dan pembelajaran, yaitu sebagai proses pendidikan yang berorientasi pada perkembangan emosi.
Menurut Goleman, EQ adalah prasyarat dasar untuk menggunakan IQ secara efektif. Dengan kata lain, EQ mengarah pada IQ. Kabar baiknya, tak seperti IQ, yang tak bisa ditingkatkan alias sudah merupakan bawaan lahir, EQ bisa dilatih dan ditingkatkan terus menerus. Meningkatkan kemampuan emosional dapat dilakukan dengan cara: 1) Mengonfrontasikan emosi, bukan lari darinya, mengenalinya, berdialog dengannya dan akhirnya bukan hanya berdamai melainkan mengendalikannya agar tidak destruktif dan menjadi positif; 2) Bersikap sensitif dalam menempatkan diri kita dalam situasi emosional orang lain demi pemahaman tentangnya, dan akhirnya menampilkan sikap simpati yang tulus padanya. 45
Di pesantren, aktivitas pengembangan kecerdasan emosional dengan mengoptimalkan beberapa aspek kejiwaan, antara lain: Pertama, Aspek Mengelola Emosi Diri. Di pesantren anak di ajarkan untuk bersabar dalam menjalani hidup yang serba sederhana dan jauh dari orang tua. Ini bertujuan untuk melatih kesabaran dan ketabahan dan ketekunan dalam menghadapi kehidupan di pesantren yang serba kekurangan dengan fasilitas serba kekurangan. Salah satu cara untuk mengendalikan emosi dan memupuk kesabaran di pesantren adalah dengan banyak membaca al-Qur’an, mengingat Allah (zikir) dan salat. Dzikrullah dapat mencakup makna keagungan Allah
41 Yazid, Paradigma Baru Pesantren.
42 Muhammad Zein, Methodologi Pengajaran Agama (Yogyakarta: AK. Group, 1995), 95.
43 D. Marshall Zohar, Kecerdasan Emosional (Bandung: Mizan, 2007), 3.
44 Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), 38.
45 Goleman, Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ.
331 Swt, surga atau neraka-Nya, rahmat dan siksa-Nya, atau perintah dan larangan-Nya dan juga wahyu-wahyu-Nya.
Kedua, Aspek Motivasi. Menurut Goleman, dimensi motivasi dalam kecerdasan emosional adalah kecerdasan untuk menggunakan hasrat seseorang menuju sasaran, membantu seseorang dalam mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan bertahan menghadapi kegagalan dan frustrasi. 46 Hal ini senada dengan motivasi yang didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. 47 Ibadah yang banyak dilakukan di pesantren merupakan motivasi utama manusia dalam berperilaku. Hal ini dikarenakan sesungguhnya manusia tidak lain diciptakan untuk menyembah Tuhannya.48 Seperti yang tercatat dalam firman Allah Swt QS [51]: 56.
Aktivitas ibadah di pesantren bukan hanya sekadar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi di pesantren. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya. Al- Qur’an memiliki banyak sekali kandungan ayat-ayat yang mendorong manusia untuk beribadah dan melakukan perbuatan sebaik-baiknya. Hal ini dapat menjadi sumber inspirasi pelajar yang belajar di pesantren untuk melakukan ibadah dan terus memotivasi diri untuk berkarya di jalan Allah Swt. Meskipun Allah telah menentukan takdir seseorang, namun Allah tidak memerintah manusia berdiam diri menunggu takdir ditetapkan baginya. Allah memerintah manusia untuk berusaha mencari nafkah dan berusaha terus menerus memperbaiki dirinya. Al-Qur’an juga memerintahkan kepada umat manusia untuk terus termotivasi untuk melakukan aktivitas kebaikan. Manusia harus memotivasi diri untuk melakukan kebaikan dengan tetap meniatkan perbuatannya karena Allah semata. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS [5]: 48. Oleh para siswa yang belajar di pesantren, ayat ini menjadi rujukan dalam memotivasi diri mereka masing-masing, jika motivasi itu didasarkan pada motivasi ilahiah, bukan tidak mungkin segala aktivitas manusia akan selalu mendapat pertolongan dan kemudahan dari Allah Swt.
Ketiga, Aspek Empati. Menurut Goleman, dimensi empati merupakan kemampuan untuk merasakan yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.49 Dalam pandangan Islam, Allah Swt menganjurkan pada kaum beriman untuk saling menyebarkan kasih sayang dan saling menghibur di kala duka dengan pesan sabar. Hal ini sesuai dengan firman-Nya QS [90]: 17. Dalam menafsirkan ayat di atas, Quraish Shihab, berargumen bahwa seseorang tidak dapat dinamai beriman apabila di dalam jiwanya tidak terdapat kendala yang menghalanginya berlaku sewenang-wenang atau memerkosa hak-hak asasi manusia, tidak juga mengabaikan hak-hak anak yatim, orang miskin, serta orang-orang yang membutuhkan uluran tangan, dan ini sebenarnya esensi dari pendidikan multikulutal yang senantiasa di ajarkan di pesantren.50
46 Daniel Goleman, Working with Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), 43.
47 Abdul Rahman Shaleh Dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Dalam Perspektif Islam (Jakarta:
Prenada Media, 2003), 132.
48 Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 78.
49 Goleman, Working with Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi.
50 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur`an, 15th ed.
(Tangerang: PT. Lemtera Hati, 2016), 332.
332
Keempat, Aspek Keterampilan Sosial. Dimensi keterampilan sosial menurut Goleman merupakan kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar; menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan dan untuk bekerja sama dalam kelompok. 51 Di ini siswa di pesantren dididik agar tergerak hati dan sikapnya untuk meningkatkan kemampuan menjalin relasi dengan santri lain di lingkungan pesantren. Karena sebagaimana diketahui siswa yang belajar di pesantren berasal dari latar belakan yang berbeda-beda (suku, ras, etnis, dan golongan).
Lebih jauh, sesungguhnya Islam merupakan agama yang menekankan pentingnya kehidupan sosial. Pada dasarnya ajaran Islam mengajarkan manusia untuk melakukan segala sesuatu demi kesejahteraan bersama, bukan pribadi semata. Islam menjunjung tinggi tolong menolong, saling menasihati tentang hak dan kesabaran, kesetiakawanan, kesamaan derajat (egaliter), tenggang rasa dan kebersamaan. Bahkan dalam Islam, Allah Swt menilai ibadah yang dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama dengan orang lain nilainya lebih tinggi daripada salat yang dilakukan perorangan, dengan perbandingan 27 derajat. Dalam QS [5]: 2 disebutkan bahwa agar selalu tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Prinsip dasar dalam menjalin kerja sama kepada siapa pun sebagaimana kandungan ayat di atas adalah akan bermakna ibadah jika tujuannya untuk kebajikan dan meningkatkan ketakwaan.52
Dalam hubungan sosial, faktor kepemimpinan sangatlah memegang peranan penting. Umumnya hal ini di lakukan oleh Kyai di pesantren. Kyai di pesantren adalah orang yang paham ilmu agama sekaligus menjadi tokoh masyarakat dimana pesantren itu berdomisili. Sudah pasti tingkat hubungan atau interaksi sosial kyai kepada masyarakat akan menjadi tolak ukur keteladan yang dapat diikuti oleh para santri. Dan umumnya para Kyai melakukan berdakwah menyesuaikan model dakwahnya dengan berdasar kepada situasi dan kondisi masyarakat sekitar, agar materi dakwah yang disampaikan tidak menyinggung perasaan masyarakat yang berakibat pada renggang-nya hubungan sosial.
4. Pengembangan Aspek kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual lebih mengacu kepada dimensi non-material, yaitu diumpamakan sebagai intan yang belum terasah dan dimiliki oleh setiap insan. Setiap manusia harus mengenali seperti adanya, menggosoknya, sehingga mengkilap dengan tekad yang besar yang pada akhirnya, setiap individu menggunakannya menuju kearifan yang akan mengarahkannya kepada kebahagiaan yang abadi. 53 dengan kata lain, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan pada jiwa manusia, dengan kata lain, kecerdasan spiritual merupakan potensi terpendam yang dimiliki oleh setiap orang.
Kecerdasan spiritual memberi manusia mata untuk melihat nilai positif dalam setiap masalah dan kearifan untuk menangani masalah sekaligus memetik keuntungan darinya.
Konsep mengenai SQ itu sendiri sebenarnya sudah lama, hanya saja dalam kemasan yang berbeda. Zohar dan Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kemampuan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang
51 Goleman, Working with Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi.
52 Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur`an.
53 Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Mengapa SQ Lebih Penting Dari Pada IQ Dan EQ (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2004), 77.
333 lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan dan jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. 54 Argumentasi yang dibangun oleh Zohar dan Mashall berangkat dari pandangan keduanya, bahwa bisa saja komputer memiliki IQ yang tinggi ataupun banyak binatang yang memiliki EQ yang memadai, tetapi baik komputer ataupun binatang-binatang tersebut tidak pernah bisa mempertanyakan mengapa “saya” memiliki aturan dan situasi seperti ini? 55
Kecerdasan spiritual dapat menjadikan manusia lebih kreatif mengubah aturan dan situasi. SQ memberikan manusia kemampuan untuk membedakan, memberi rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku diikuti dengan pemahaman dan cinta sampai pada batasnya. Manusia menggunakan SQ untuk bergulat dengan hal yang baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud dan memberikan kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.
Dari beberapa definisi tentang kecerdasan spiritual yang telah dipaparkan, penulis menyimpulkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk menata hati, kata, sikap, dan perilaku agar senantiasa berada dalam jalur kebenaran yang menguntungkan semua pihak yang terkait. Jalur kebenaran di sini adalah peraturan-peraturan yang telah ditetapkan Allah Swt baik di dalam al-Qur’an maupun yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw. Kecerdasan spiritual juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai ilahiah (asmāul-husnā) ke dalam dirinya sehingga menjadikan aktivitas kesehariannya sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah swt. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah yang telah built in dalam dirinya.
Model pengembangan kecerdasan spiritual di pesantren umumnya dilakukan setiap habis salat rawatib yang dibina adalah ruhan atau nafs peserta didik. Ketika selesai salat lima waktu di masjid atau musala di pesantren dilanjutkan dengan zikir dan tausiah oleh kyai atau ustaz yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama. Adapun nilai- nilai agama yang ditanamkan adalah:
Pertama, nilai keanekaragaman (at-tanawwu’iyyah). Dalam praktiknya, setiap pembahasan yang menjadikan kitab kuning sebagai referensi utama, selalu dijelaskan bahwa keanekaragaman merupakan sunatullah. Sehingga hal ini dapat dijadikan pijakan untuk berinteraksi antar sesama warga pesantren terlebih lagi dengan lingkungan masyarakat sekitar pesantren yang didiami oleh berbagai etnis. Di kalangan pesantren, nilai keanekaragaman sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena keanekaragaman merupakan salah satu doktrin yang kompatibel dengan keanekaragaman kurikulum yang diberikan oleh pesantren kepada para santrinya, yaitu; kurikulum pendidikan agama Islam, kurikulum pengalaman dan pendidikan moral, kurikulum pendidikan umum dan sekolah, serta kurikulum pendidikan keterampilan dan kursus.
Kedua, nilai persamaan dan keadilan (al-musawah wal-’adl, at-tasamuh).
Pesantren umumnya selalu mentradisikan nilai persamaan dan keadilan di lingkungannya dengan mendasarkan prosesnya pada al-Qur’an (QS.5:8), (QS.11:118-119). Kyai akan memerintahkan para ustaz atau pembantunya agar semua santri berhak memperoleh pendidikan dan pelayanan yang sama dari pesantren serta untuk berinteraksi dengan sesama santri di lingkungan pesantren. Semua santri memiliki kewajiban yang sama, tanpa memandang asal usul daerah santri dan status sosial ekonominya. Berangkat dari pembiasaan tradisi ini, menurutnya akan berimbas pada perilaku santri ketika
54 Danah Zohar & Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence-The Ultimate Intelligence, ed. Terj. Rahmani Astuti dkk, XI (Bandung: Mizan, 2007), 3, Made Saihu, Merawat Pluralisme Merawat Indonesia (Potret Pendidikan Pluralisme Agama Di Jembrana-Bali) (Yogyakarta: Deepublish, 2019).
55 Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi: Aplikasi Strategi Dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah Di Masa Kini (Yogyakarta: IRCiSoD, 2006), 61.
334
berinteraksi di tengah masyarakat, yaitu santri dapat bersikap adil kepada sesama manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.
Ketiga, toleransi (al-tasamuh). Para santri diajarkan untuk saling memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di pesantren seperti; minat, kepribadian, asal usul daerah, kecerdasan, dan status sosial ekonomi santri. Lalu dalam aktivitas pembelajaran-nya, ia selalu mengkontekstualisasikan nilai-nilai tasamuh tersebut dengan warga di lingkungan pesantren yang mayoritas beragama Hindu, ia juga selalu menghimbau kepada para santrinya untuk tidak saling membenci, menghardik serta tetap menerima perbedaan yang ada, ditambah lagi ia sering menceritakan hubungan baik antara umat Hindu dan Islam di Jembrana.
Keempat, musyawarah (al-musyawarah). Dalam implementasinya dijadikan metode untuk mengkaji kitab-kitab Islam klasik bagi para santri senior untuk membahas persoalan-persoalan keagamaan untuk diturunkan kepada santri-santri junior. Tujuan dari KH. Fathurrahim menerapkan metode musyawarah adalah untuk membiasakan para santri bermusyawarah di lingkungannya kelak yang bisa jadi sangat majemuk.
Kelima, persaudaraan dan persamaan (al-ukhuwwah). Sesungguhnya nilai persaudaraan dan kebersamaan hidup di lingkungan pesantren didasarkan pada tradisi salat berjamaah. Pesantren menjadikan salat jamaah sebagai salah satu kegiatan yang harus diikuti oleh semua santri. Hal ini dilatarbelakangi oleh pandangan para kiai bahwa praktik salat jamaah ini mengajarkan persaudaraan dan kebersamaan, yaitu nilai-nilai yang harus ditumbuhkan dalam masyarakat Islam begitu juga dengan tradisi saling tolong menolong juga merupakan nilai dari persaudaraan dan keadilan.
Nilai persaudaraan dan persamaan yang ditanamkan kepada para santri dilatar belakangi oleh tiga hal; 1) para santri merasa sama-sama jauh dari keluarga; 2) para santri meyakini sama-sama orang Islam, dan 3) mereka memiliki kepentingan dan tujuan yang sama, yaitu belajar tentang Islam. Dalam konteks hubungan bermasyarakat, nilai persaudaraan dan persamaan ini menjadi suatu yang wajib untuk diterapkan dalam berinteraksi antar umat beragama, karena jika hal ini tidak dilakukan, maka konflik atau segala macam jenis kekerasan akan mudah bersemi dengan sendirinya, baik itu di- organisasi oleh kelompok tertentu ataupun tidak.
Keenam, perdamaian (al-salam). Biasanya konsep perdamaian ini biasa disosialisasikan dan diimplementasikan melalui kegiatan ritual keagamaan sehari-hari terutama setelah salat lima waktu berjamaah, yaitu santri secara bersama melakukan zikir dan wirid. Dari sekian banyak bacaan zikir yang dibaca oleh para santri, ada bacaan yang mengandung nilai-nilai perdamaian, seperti: ”Alláhumma antassalám, wa minkassalám, wa ilaika ya’údus salám, fahayyinárabaná bissalám, wa adkhilnal jannata dárassalám, tabárakta rabaná wata’álaita yá dzal jaláli wal ikrám.” Yang berarti, “ya Allah, Engkau adalah kedamaian/keselamatan dan dari-Mulah kedamaian/keselamatan dan kepada-Mu lah kembalinya kedamaian/keselamatan maka hidupkanlah kami ya Allah dengan kedamaian/keselamatan dan masukkanlah kami ke dalam surga tempat yang damai.
Maha suci engkau dan maha tinggi wahai Tuhan kami yang memiliki kebesaran dan kemuliaan”.56 Bacaan di atas mengandung pengertian bahwa nilai perdamaian merupakan harapan dan cita-cita semua santri dalam kehidupan sosial sehari-hari, baik di lingkungan pesantren maupun di masyarakat secara luas untuk memperoleh kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian.
Pendidikan ruhani atau nafs ini merupakan salah satu aktivitas yang wajib ada di lingkungan pesantren. Menurut M. Quraisy Shihab, nafs dalam al-Qur'an mempunyai
56 Ronald Alan Lukens-Bull, Jihad Ala Pesantren Di Mata Antropolog Amerika, ed. Abdurrahman Mas’ud. (Yogyakarta: Gama Media, 2004), 74.
335 beberapa makna, salah satunya adalah apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku. Istilah Nafs dalam al-Qur’an jamaknya anfus, dan nufus diartikan sebagai jiwa (soul), pribadi (person), diri (self), hidup (life), hati (heart) atau pikiran (mind). 57
Kurikulum pesantren meyakini bahwa dengan mendidik nafs atau jiwa seseorang kebutuhan dasar mereka akan terpenuhi, yaitu kebutuhan akan ketentraman hidup.
Ajaran Islam mengandung banyak petunjuk dalam segala bidang kehidupan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar tersebut. 58 Selanjutnya apa yang dimaksud dengan Nafs?
dalam khasanah Islam memiliki banyak pengertian. Nafs dapat berarti jiwa (Soul, Psyche), nyawa dan lain-lain. Aktualisasi nafs membentuk kepribadian, yang perkembangannya dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. 59 Istilah nafs yang pertama ini menurut ahli tasawuf adalah nafsu, yang merupakan pokok yang menghimpun sifat-sifat tercela dari manusia, sehingga mereka mengatakan bahwa kita harus melawan nafsu (hawa nafsu ) dan memecahkannya. Nafsu adalah elemen jiwa (unsur roh) yang berpotensi mendorong pada tabiat badaniah/biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Secara singkat, nafsu dapat dikatakan sebagai insting.
Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan diantaranya: 1) Nafsu Amaroh, maksudnya mengumbar dan tunduk sepenuhnya terhadap hasrat-hasrat rendah. Nafsu amaroh tempatnya adalah “Ash-shodru” artinya dada. Adapun unsur-unsur di dalamnya adalah Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit, Al-Hirsh artinya tamak atau rakus, Al-Hasad artinya hasud, Al-Jahl artinya bodoh, Al-Kibr artinya sombong dan Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi; 2) Nafsu Lawwamah. Dalam diri telah berkembang keinginan berbuat baik, lembut dan tenang, dan menyesal bila berbuat kesalahan. Nafsu lawwamah tempatnya adalah “Al-Qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun unsur-unsur di dalamnya adalah Al-Laum artinya mencela, Al-Hawa artinya bersenang- senang, Al-Makr artinya menipu, Al-Ujb artinya bangga diri, Al-Ghibah artinya mengumpat, Ar-Riya’ artinya pamer amal, Az-Zulm artinya zalim, Al-Kidzb artinya dusta;
3) Ketiga, Nafsu Muthmainnah. Jiwa yang suci, lembut dan tenang yang diundang Nya dengan penuh keridaan ke dalam surga-Nya. Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As- Sirr” artinya rahasia tepatnya dua jari dari samping susu kiri ke arah dada. Adapun unsur-unsur di dalamnya adalah Al-Juud artinya dermawan, At-tawakkul artinya berserah diri, Al-Ibadah artnya ibadah, Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih, Ar-Ridho artinya rida, dan Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan. 60
Karena kecerdasan spiritual bersifat abstrak, yang bersifat fleksibel karena menyangkut tentang kesadaran diri, kemampuan memberi makna terhadap segala aktivitas yang terjadi. Dalam mengukur kecerdasan spiritual, yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan batasan-batasan yang lentur. Tentu saja ini berimplikasi pada ketidaksamaan penetapan skor untuk menentukan tinggi rendahnya tingkat SQ seseorang. Kecerdasan spiritual seseorang juga dapat diukur dari tingkat pengamalan seseorang terhadap sifat-sifat Allah (asmā’ al-husnā) ke dalam dirinya, tentunya kapasitasnya sebagai manusia. Pengembangan aspek spiritual ini dengan umumnya dilakukan oleh Kiai yang di ikuti oleh seluruh warga pesantren dengan sering melakukan
57 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1997), 215, Athoilllah Islamy and Saihu,
“The Values of Social Education in the Qur’an and Its Relevance to The Social Character Building For Children,” Jurnal Paedagogia 8, no. 2 (2019): 51–66.
58 Hariyanto & Fibriana Anjaryati, “Character Building: Telaah Pemikiran Ibnu Miskawaih Tentang Pendidikan Karakter,” Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam 1, no. 1 (2016): 111–18.
59 Abdul Mujib Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Pranada Media, 2006), 46.
60 Rafi Sapuri, Psikologi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2009), 352.
336
riyadah atau tirakat asmaul husna. Warga pesantren umumnya membaca asmaul husna sebagai wujud pengabdian kepada Allah Swt, antara lain: 1) Al-Mu’min, yang berarti Jujur 2) Al-Wakīl, yang berarti tanggung jawab; 3) Al-Matīn Disiplin; 4) Al-Jāmi’: yang berarti kerja sama; 5) Al-‘Adl yang berarti adil; 6) Al-Ākhir yang berarti visioner; 7) Al- Samī‘ dan al-Bashīr Allah; yang berarti Peduli. 61
Dengan demikian, menanamkan pemahaman multikultural di pesantren adalah melalui penyeimbangakan aspek kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual manusia. Ini berbeda dengan model pendekatan pendidikan multikultural yang ditawarkan oleh James A. Bank, karena melalui empat pendekatannya itu sebenarnya hanya mengembangkan kecerdasan emosional saja, padahal komponen manusia tidak hanya pada emosional belaka, tetapi juga punya akal (IQ), emosional (EQ), roh dan kejiwaan (SQ). Jika EQ mengajar manusia bersikap dalam setiap situasi emosional, SI memberi makna bagi segenap tindakan-tindakan manusia. EQ terkait dengan perasaan dan bersifat praktis, sedangkan SQ bersifat ruhani dan reflektif. Dengan kata lain, EQ memberikan atau mengarahkan pada know-how, sementara SQ mengarahkan kepada know-why. Yakni, SI terkait dengan adanya kebutuhan manusia untuk merasa tentran dan bahagia karena merasa memahami hakikat hidup, memiliki yang bisa diandalkannya dalam segenap pancaroba kehidupannya, dan mengetahui tujuan kea rah mana hidupnya menuju. Dari sini, Zohar dan Masrhall mengklaim bahwa SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Dengan kata lain SQ lah yang mengarahkan IQ dan EQ. Meski Sebagian orang termasuk Zohar dan Marshall tak hendak mengidentikkan-nya dengan agama (formal institusional), sulit disangkal bahwa persoalan ini sedikit banyak bersifat religious. Dan, dalam khazanah keagamaan, hal ini terkait erat dengan mistisisme, yaitu suatu disiplin spiritual (keruhanian) yang dijalani demi membuka jalan bagi manusia untuk bisa bersahabat dengan hidup, betapapun situasi yang ditimbulkannya atau bersahabat dengan Tuhan. Dari sini maka apa yang dikatakan oleh James A. Bank, belum sempurna karena hanya menggarap satu kecerdasan dalam diri manusia dan penelitian ini adalah bagian dari pengembangan pendekatan multikultural sebagaimana apa yang dikatakan oleh James. A. Bank.
Di samping itu, kecerdasan IQ, EQ, dan SQ, sesuai dengan pasal 32 ayat 4 UUD 1945, yang berbunyi “pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan manusia”. Dari sini sangat jelas dikatakan, bahwa pemerintah berharap agar seluruh bangsa Indonesia memiliki kemampuan olah teknologi yang unggul, didasarkan pada nilai-nilai keagamaan, serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap suku atau kelompok masyarakat yang tersebar di seluruh Nusantara. Jika mengamati fenomena kehidupan modern dewasa ini–
dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan komunikasi–telah mengubah wajah kehidupan bersama umat manusia di muka bumi menjadi lebih terbuka. Untuk menjawab fenomena ini, setiap individu atau warga negara di dunia perlu dikembangkan akalnya (aspek kognitif), moral kemanusiaan atau emosi kejiwaannya, serta pendalaman kembali aspek spiritualitas–agar jiwanya tidak kering–sehingga dapat mengikuti perubahan yang
61 Hasan, SQ Nabi: Aplikasi Strategi Dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah Di Masa Kini, Saihu Saihu, “Local Tradition and Harmony among Religious Adherents: The Dominant Culture of Hindu- Muslim Relation in Jembrana Bali,” Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial Budaya, Vol. 5 No. 1 (2020), 2019.