• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan, Agama, Politik, dan Multikulturalisme

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Pendidikan, Agama, Politik, dan Multikulturalisme"

Copied!
251
0
0

Teks penuh

Terutama yang ada pada diri siswa seperti: keragaman suku, budaya, bahasa, agama, status sosial, jenis kelamin, usia kemampuan dan ras 3 Padahal pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang tergolong baru dalam dunia pendidikan. Demikian pula seorang guru tidak hanya menguasai materi secara profesional, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti pendidikan multikultural seperti: humanisme, demokrasi dan pluralisme. Pendidikan multikultural di Indonesia harus mempertimbangkan kombinasi dari model-model yang ada, sehingga seperti yang dikemukakan oleh Groski (1990), “pendidikan multikultural dapat mencakup tiga jenis transformasi, yaitu transformasi diri, transformasi sekolah dan proses belajar mengajar serta transformasi masyarakat”.

مكاقتا الله دنع مكمركا نا

7 Suwarma al Muchtar, “Multikulturalisme, Konstitusionalisme, dan Pendidikan Konstitusional”, dalam buku Menjaga Kerukunan Melalui Pendidikan Multikultural (Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan, Agama, dan Aparatur Negara Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, 2009), hal. Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural; Pemahaman Lintas Budaya untuk Demokrasi dan Keadilan, (Yogyakarta: Pilar Media, 2007), hal. 22 Sardjiyo, “Multikulturalisme: Suatu Paradigma Pendidikan Berbasis Kebangsaan (Tinjauan Kritis terhadap Fenomena Sosial Melalui Pendekatan Sosial Budaya)”, dalam buku Menjaga Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural Mensejahterakan Republik Indonesia, 2009), hal.

Esteem Empathy

PEMBAHASAN

Sekolah umum dan pendidikan multikultural saat ini menghadapi dilema yang sama terkait kerusakan dan gangguan fasilitas belajar. Pendidikan multikultural dihasilkan dari beragam program dan praktik yang dirancang oleh lembaga pendidikan untuk menjawab tuntutan, kebutuhan, dan aspirasi berbagai kelompok. 31Ngainun Naim & Ahmad Sauqi, Konsep dan Aplikasi Pendidikan Multikultural Bigatti, S. M. Gibau dkk, “Persepsi Fakultas tentang Pengajaran Multikultural di Universitas Perkotaan Besar,” Journal of the Scholarship of Teaching and Learning, Vol. 12, Universitas Indiana No. 2, 2012), 79.

KESIMPULAN

Artinya kehidupan sosial dan politik merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Termasuk dalam persoalan hubungan Islam dan politik (lebih khusus lagi hubungan Islam dan negara) di Indonesia. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba melihat secara khusus hubungan antara Islam dan politik di Indonesia serta implikasinya terhadap keberadaan pendidikan Islam di Indonesia.

Islam, Politik, dan Keindonesiaan

Perbedaan ini menimbulkan perdebatan panjang tentang Islam dan politik, khususnya hubungannya dengan negara, sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. Dalam konteks hubungan Islam dan politik (lebih khusus lagi hubungan antara Islam dan politik), terdapat perbedaan sikap terhadap model politik Islam, khususnya hubungan antara Islam dan negara.Menurut Munawir Sjadzali16, setidaknya terdapat tiga aliran pemikiran di kalangan umat Islam dalam kaitannya dengan Islam dan politik (administrasi publik); Mazhab pertama berpendapat bahwa Islam bukan sekedar agama dalam pengertian barat yang hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, sebaliknya Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan bagi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan. oleh negara. Islam dan politik di Indonesia dari hubungan yang sinis menjadi romantis-inklusif Di era orde lama, hubungan antara Islam dan negara bisa disebut sebagai.

Islam dan Politik di Indonesia dari Hubungan Sinis Ke Romantis-ingklusif Pada zaman Orde Lama hubungan Islam dan negara bisa disebut sebagai

20 Bakhtiar Effendy, Islam dan Negara; Transformasi Ide dan Praktik Politik Islam di Indonesia, (Jakarta: Proyek Demokrasi. 21 Bakhtiar Effendy, Islam dan Negara; Transformasi Ide dan Praktik Politik Islam di Indonesia, (Jakarta: Proyek Demokrasi, 2011), 83. 24 Bakhtiar Effendy, Islam dan Negara; Transformasi Ide dan Praktik Politik Islam di Indonesia, (Jakarta: Proyek Demokrasi, 2011), 86.

Dampak Kebijakan Politik di Indonesia bagi Eksistensi Pendidikan Islam Hadirnya pendidikan Islam di Indonesia bersamaan dengan kehadiran Islam

  • Zaman Penjajahan
  • Orde Lama
  • Orde Baru

Pengaruh kebijakan politik di Indonesia terhadap eksistensi pendidikan Islam Kehadiran pendidikan Islam di Indonesia berbarengan dengan hadirnya Islam. Saat itu, Kementerian Agama sebagai institusi memperjuangkan secara intensif kebijakan pendidikan Islam di Indonesia. Pada saat itu, pendidikan Islam ditangani oleh bagian khusus yang menangani masalah pendidikan agama, yaitu Departemen Pendidikan Agama.

Selengkapnya Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Mahmud Yunus, edisi ketiga 2008). Perkembangan lebih lanjut pendidikan Islam pada era Orde Baru dimulai dengan kebijakan dalam Pasal 4 TAP MPRS No. Selengkapnya Baca juga Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Mahmud Yunus, cetakan ke-3 2008).

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia tidak lepas dari keterkaitan umat Islam dengan negara (kekuasaan). Undang-undang terbaru secara implisit mengakui keberadaan pendidikan Islam sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional. Pengakuan ini bukan dalam pelaksanaan dan pengelolaan bahwa pendidikan Islam (madrasah dan pesantren) masuk dalam sistem pendidikan nasional.

Sistem pendidikan yang demikian di satu sisi masih mewarisi pola pendidikan Islam (tradisional) dan mewarisi bahkan didorong oleh sistem kolonial (Barat). Eksistensi pendidikan Islam di Indonesia merupakan fakta yang sudah berlangsung sangat lama dan sudah memasyarakat. Pemberian bantuan materil dari Pemerintah kepada madrasah dan wisma Islam (dan sejenisnya) merupakan bukti perhatian besar pemerintah terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Ketika pihak lain menyetujui hal tersebut, tanggapan lain diberikan oleh Kementerian Agama dan sekelompok tokoh Islam di Indonesia. Hal ini tampaknya dilandasi oleh ketakutan para tokoh Islam jika lembaga yang dijalankannya berada di bawah yurisdiksi dan pengelolaan Depdiknas, maka ajaran agama yang menjadi ciri khasnya akan hilang dan digantikan oleh sekolah umum yang dianggap sekuler dan dianggap . tidak Islami. Ketakutan ini juga didasari oleh perlakuan diskriminatif pejabat departemen pendidikan terhadap lembaga pendidikan Islam.

Pengelola lembaga pendidikan Islam menilai keberadaannya di bawah Kementerian Agama sudah tepat. Zakiyah Degrees, direktur pendidikan Islam Kementerian Agama, menyebut dua alasan psikologis perlawanan para pemimpin Islam saat itu. Semua alasan tersebut menjadi dasar bagi para tokoh Islam untuk meminta Kementerian Agama yang saat itu dipimpin oleh Mukti Ali untuk berunding dengan Presiden Soeharto atas Keppres 1974 agar tetap diperbolehkan keberadaan Lembaga Agama Islam di bawah Kementerian Agama tersebut. .

7Muhammad Zuhdi, "Keputusan Tri Menteri Tahun 1975 dan Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia" 36-43; Muhammad Zuhdi, Pengaruh Politik dan Sosial pada Sekolah Agama: Perspektif Sejarah Kurikulum Sekolah Islam Indonesia (Disertasi, McGill University Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta: Kencana Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Southeast-Asia (Jakarta: Rineka Cipta. 8Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta: Kencana Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara) (Jakarta: Rineka Cipta. Fenomena menarik pasca 1989 UU Sisdiknas melihat munculnya sekolah-sekolah Islam yang enggan menamakan dirinya madrasah dan juga enggan berada di bawah pengawasan Kementerian Agama.

Pertama, ini merupakan fenomena baru di Indonesia saat itu, kedua, mereka tidak mau berada di bawah pengawasan Kementerian Agama, ketiga, mereka biasanya memiliki doktrin yang sedikit berbeda dengan pesantren yang mengenal sistem madzhab, keempat , fenomena ini terjadi di kota dan masyarakat kota pada umumnya.

Sedangkan pada ayat 2 juga disebutkan bahwa kurikulum pendidikan tinggi harus memuat: pendidikan agama sebagai muatan kelembagaan selain pendidikan kewarganegaraan dan bahasa. Pendidikan agama merupakan mata pelajaran atau mata pelajaran yang wajib ada pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Pendidikan agama dianggap bertanggung jawab untuk membentuk perilaku dan karakter luhur peserta didik di Indonesia.

11 Tulisan madrasah saya sengaja saya tekankan sebagai penekanan pada poin pendidikan madrasah sebagai bagian dari pendidikan agama di Indonesia yang kemudian dianggap sebagai sekolah bercirikan Islam saat ini. .. dan Pendidikan Agama di Sekolah Umum) sehingga pendidikan diniyah ada di Pendidikan Agama dan Pesantren (Pekapontren). Dalam Pasal 3 tentang kewajiban menyelenggarakan pendidikan agama disebutkan bahwa “(1) Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama. 2) Arahan pendidikan agama dilakukan oleh Menteri Agama.” 13. Sedangkan dalam pasal 4 tetap disebutkan dalam penyelenggaraan pendidikan agama (1) Pendidikan agama pada pendidikan formal dan program kesetaraan sekurang-kurangnya diselenggarakan dalam bentuk mata pelajaran atau kursus keagamaan.

Dalam Pasal 4 di atas, sebagai turunan dari UU Sisdiknas tahun 2003, yang menjadi perdebatan hangat adalah kata-kata “hak untuk memperoleh pendidikan agama menurut agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”. Sedangkan standar kurikulum pendidikan agama tertuang dalam Pasal 5 ayat (1). Kurikulum pendidikan agama dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Sebagai turunan dari UU Sisdiknas tahun 2003, poin pendidikan agama dan keagamaan serta turunan dari Peraturan Pemerintah No.

55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan, kemudian disahkan pada tahun 2013 Peraturan Menteri Agama No. 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Agama Islam Menarik di sini karena sebagai seorang akademisi, menurut saya ada beberapa kelemahan PMA ini yang sebenarnya bisa diperbaiki lebih baik lagi jika ada kemauan politik.

Penutup

Dalam sejarah perkembangan multikultural di beberapa negara, kita dapat melihat betapa eratnya pendidikan multikultural dengan sejarah suatu bangsa. Negara bangsa Indonesia yang terdiri dari budaya Indonesia yang ingin kita wujudkan merupakan proses berkelanjutan bagi bangsa Indonesia, yang antara lain memerlukan proses pembinaan generasi mudanya melalui pendidikan multikultural. Berkaitan dengan hal tersebut, penting kiranya lembaga pendidikan dalam masyarakat multikultural mengajarkan perdamaian dan penyelesaian konflik melalui pembinaan moral, yang pada akhirnya akan melahirkan toleransi yang tinggi yang ada dalam pendidikan multikultural bagi generasi Indonesia yang akan datang.

Sebagai acuan untuk merumuskan pendidikan multikultural di Indonesia, sebaiknya kita melihat terlebih dahulu realitas kehidupan bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa dengan budayanya masing-masing. Keanekaragaman budaya dan masyarakat Indonesia yang dijamin dalam konstitusi kita, dan dilambangkan dalam lambang militer negara kita, Bhineka Tunggal Ika merupakan dasar untuk merumuskan pendidikan multikultural di Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan multikultural akan memperkuat kepribadian manusia Indonesia dalam membangun masyarakat negaranya untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompetitif.

Pendidikan multikultural sebagai sarana pembinaan manusia cerdas merupakan aspek kebijakan publik dalam kehidupan berbangsa. Hal ini dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural yang ditanamkan pada anak melalui pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Dalam pendidikan multikultural, seorang pendidik tidak hanya harus menguasai mata pelajaran yang diajarkan dan mampu mengajar secara profesional.

Proses pendidikan multikultural yang tanggap terhadap model perkembangan moral diharapkan peserta didik mampu mengembangkan pengenalan budaya, suku bangsa, dan masyarakat global. Pendidikan multikultural di sekolah merupakan landasan untuk menghilangkan prasangka buruk, serta untuk melatih dan membangun karakter yang berakhlak mulia, sehingga peserta didik juga mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralistik. Dalam membangun pendidikan multikultural yang responsif dengan model perkembangan moral, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu; Yang pertama adalah berdialog dengan menempatkan setiap peradaban dan budaya yang ada pada posisi yang sama.

Tabel dari ciri utama dari individu cerdas yang ingin dibangun
Tabel dari ciri utama dari individu cerdas yang ingin dibangun

Gambar

Tabel dari ciri utama dari individu cerdas yang ingin dibangun

Referensi

Dokumen terkait

All of the Instagram account will be analysed to see level of citizen engagement with Malaysia government ministries practices and to calculate the engagement rate of each