PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Apa permasalahan guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa inklusi tipe C (pengidap retardasi mental) di SD Negeri 3 Kota Bengkulu. Apa permasalahan guru dalam menentukan materi pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa tipe inklusi C (tunakan mental) di SD Negeri 3 Kota Bengkulu. Apa kendala guru dalam menggunakan metode pengajaran bahasa Indonesia pada siswa tipe inklusi C (pengidap retardasi mental) di SD Negeri 3 Kota Bengkulu.
Apa permasalahan guru dalam memilih media pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa tipe inklusi C (tunakan mental) di SD Negeri 3 Kota Bengkulu. Apa permasalahan guru dalam penilaian/evaluasi pengajaran bahasa Indonesia pada siswa tipe inklusi C (tunakan mental) di SD Negeri 3 Kota Bengkulu.
Tujuan Penelitian
Permasalahan Guru dalam Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia Siswa Tipe C Inklusi (Penyandang Disabilitas Mental) di SD Negeri 3 Kota Bengkulu.
Manfaat Penelitian
Definisi Istilah
Pengajaran bahasa Indonesia merupakan pelaksanaan proses belajar mengajar yang mencakup empat aspek bahasa, yaitu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
KAJIAN TEORI
Pengertian Inklusi
Inklusi adalah istilah terbaru yang digunakan untuk menggambarkan persamaan hak antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal. Sehingga melalui sekolah inklusi ini, anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dalam satu kelas, tanpa ada pemisahan. 70 Tahun 2009 Pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik penyandang disabilitas dan berpotensi mengembangkan kecerdasan dan/atau bakat khusus, untuk ikut serta bersama peserta didik pada umumnya dalam proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan.
32 Tahun 2008 yaitu pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus, cacat jasmani, emosi, mental, intelektual, sosial, serta mempunyai potensi kecerdasan dan/atau bakat khusus untuk bekerja sama dengan peserta didik lain pada satuan umum. satuan pendidikan belajar dan kejuruan, dengan menyediakan fasilitas, guru, dan tenaga pengajar. Beberapa definisi yang telah diuraikan sebelumnya sejalan dengan pandangan Kustawan (2012:8) bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak diskriminatif, pendidikan yang memberikan pelayanan kepada semua anak tanpa memandang fisik, mental, intelektual, sosial, emosional, gender, etnis. , budaya, kondisi, bahasa tempat tinggal dan sebagainya. Oleh karena itu, pendidikan inklusif merupakan suatu konsep atau pendekatan pendidikan yang berupaya menjangkau seluruh individu tanpa kecuali, menghargai perbedaan yang ada pada anak, dan memberikan pelayanan kepada setiap anak berdasarkan kebutuhannya.
Bagi Direktorat Pendidikan Luar Biasa (2009), sebagai wadah pendidikan inklusif yang ideal, mempunyai empat ciri penting, yaitu: (1) Pendidikan inklusif merupakan proses berkelanjutan dalam upaya mencari cara untuk merespon keberagaman individu anak. Oleh karena itu, pendidikan inklusif diperuntukkan bagi anak-anak yang tergolong marginal, terpinggirkan dan memerlukan layanan pendidikan khusus untuk belajar. Dengan adanya pendidikan inklusif, kita berharap dapat menjadi upaya meningkatkan keterlibatan anak di sekolah, atau upaya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan.
Pendidikan inklusif diharapkan juga dapat menjembatani kesenjangan yang muncul di masyarakat dalam hal pemenuhan hak seluruh warga negara di bidang pendidikan.
Anak Berkebutuhan Khusus
- Anak Berkebutuhan Khusus Permanen
- Tunarungu
- Tunawicara
- Tunagrahita
- Tunadaksa
- Tunalaras
- Anak Berkesulitan Belajar Spesifik
- Anak Lamban Belajar
- Anak Autis
- Anak yang Memiliki Gangguan
- Anak Korban Penyalahgunaan
- Anak Yang Memiliki kelainan lain
- Anak Berkebutuhan Khusus Temporer
Gangguan bicara adalah anak yang mengalami kelainan atau kesulitan dalam berbicara, yang biasanya disebabkan oleh tidak adanya/kurang berfungsinya alat-alat bicara seperti rongga mulut, bibir, lidah, langit-langit mulut, pita suara dan lain-lain. Keterbelakangan mental adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam menyesuaikan perilaku yang terjadi pada masa perkembangannya. Tunagrahita adalah anak yang mengalami kelainan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuromuskular atau struktur tulang bawaan, penyakit atau akibat kecelakaan, antara lain Cerebral Palsy, Amputasi, Polio, dan Kelumpuhan, sebagaimana dikemukakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2009: 9).
Anak dengan kesulitan belajar spesifik adalah anak yang mempunyai gangguan pada satu atau lebih keterampilan psikologis dasar, yang meliputi pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara, dan menulis. Anak lamban belajar adalah anak yang potensi intelektualnya sedikit di bawah normal, namun belum mengalami keterbelakangan mental. Menurut Subini (2011:44), anak lamban belajar adalah anak yang lambat dalam proses belajarnya, sehingga memerlukan lebih banyak waktu bersama anak lain.
Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang ditandai dengan gangguan dan keterlambatan pada bidang kognisi, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Anak yang mengalami gangguan motorik adalah anak yang mempunyai hambatan serius dalam perkembangan koordinasi motoriknya, yang bukan disebabkan oleh keterbelakangan mental, kelainan saraf didapat atau bawaan. Anak berkebutuhan khusus sementara adalah anak yang mempunyai kelainan belajar dan tumbuh kembang yang penyebabnya berasal dari luar dan bersifat sementara sehingga memerlukan pelayanan khusus.
Anak-anak dalam komunitas adat terpencil adalah anak-anak yang hidup dalam lingkungan komunitas yang terpisah secara geografis, sosial dan budaya dari komunitas pada umumnya karena adanya ikatan adat tertentu. Anak terdampak bencana alam adalah anak yang tidak dapat mengikuti dan/atau menyelesaikan pendidikannya dalam jangka waktu tertentu akibat dampak bencana alam tersebut. Anak terdampak bencana sosial adalah anak yang karena dampak bencana sosial tidak dapat mengikuti dan/atau menyelesaikan pendidikan dalam jangka waktu tertentu.
Anak kurang mampu secara ekonomi adalah anak yang berasal dari keluarga atau masyarakat yang pendapatannya dibawah rata-rata ekonomi, sehingga mempengaruhi kelangsungan belajarnya. Tunagrahita (Retardasi Mental) adalah anak yang mengalami hambatan nyata dan keterbelakangan perkembangan mental intelektual di bawah rata-rata, sehingga ia mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Anak tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan disertai ketidakmampuan beradaptasi terhadap perilaku yang muncul dalam perkembangannya (Kustawan, 2012:27).
Identifikasi Tunagrahita
- Tunagrahita Sedang
- Tunagrahita Berat
Pengajaran Bahasa Indonesia pada Siswa
Penilaian
Komponen Pembelajaran
METODOLOGI PENELITIAN
Data dan Sumber Data
Lokasi Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
- Wawancara
- Dokumentasi
Teknik Analisis Data
- Mengklasifikasikan
- Menjelaskan Data
- Menyimpulkan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pembahasan
Kesimpulan
Saran