1
PENDIDIKAN TOLERANSI ANTAR AGAMA DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SMPN 2 KOTA MANNA BENGKULU
Selly Moneca Sari
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu [email protected]
Moch. Iqbal
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu [email protected]
Abstrak
Kesadaran dan pengetahuan akan pentingnya toleransi antar umat beragama perlu diberikan pendidikan sedini mungkin. Fakta dilapangan menunjukan masih rendah sekali rasa toleransi antar umat beragama di Indonesia. Fenomena ini terjadi tidak hanya terjadi pada remaja dan lingkungan saja, namun orang dewasapun masih banyak yang tidak memiliki rasa toleransi. Pebelajaran IPS dinilai sangat penting dalam memberikan pendidikan mengenai toleransi antar umat beragama dimulai sejak usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa praktik penerapan pembelajaran IPS terhadap kesadaran peserta didik akan pentingnya rasa toleransi antar agama. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi yang digunakan tidak hanya peserta didik tetapi dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Selanjutnya tahap mereduksi data dan penyajian data menggunakan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini menytakan bahwa pembelajaran IPS dapat direalisasikan dalam pendidikan toleransi yang ada di sekolah. Pembelajaran IPS yang mengajarkan pentingnya rasa toleransi antar sesama umat beragama akan menciptakan sekolah yang memiliki siswa dengan rasa toleransi yang tinggi agar tidak terjadi konflik antar agama.
Kata Kunci: Pendidikan toleransi, Pembelajaran IPS
Abstact
Awareness and knowledge of the importance of tolerance between religious communities need to be given education as early as possible. The facts on the ground show that there is still a very low sense of tolerance between religious communities in Indonesia. This phenomenon does not only occur in adolescents and the environment, but there are still many adults who do not have a sense of tolerance.
Social studies learning is considered very important in providing education about inter-religious tolerance starting from an early age. The purpose of this study was to analyze the practice of applying social studies learning to students' awareness of the importance of tolerance between religions. This research uses quantitative analysis with descriptive method. The population used is not only students but with a random sampling technique. Data was collected using observation, interview, field notes and documentation techniques. The next stage is reducing data and presenting data using descriptive methods. The results of this study state that social studies learning can be realized in tolerance education in schools. Social studies learning that teaches the importance of tolerance between fellow religious communities will create schools that have students with a high sense of tolerance so that conflicts between religions do not occur.
Keywords: Tolerance Education, Social Science Learning
2
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama yang berbeda.
Melalui Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 telah dinyatakan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya”. Dengan berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda, berbagai elemen tersebut seharusnya memahami posisi dan porsinya masing-masing, namun pada kenyataannya hingga saat ini masih ada masyarakat pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya, tidak memahami batasan toleransi yang ada.
dikenakan pada mereka. baik dan benar sesuai dengan UUD, dan bagi umat Islam tentunya sesuai dengan pedoman Al-Qur'an dan As- Sunnah. Dalam hal ini pendidik, guru/dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) tentunya bertanggung jawab untuk memahami siswa/siswa tentang toleransi yang baik dan benar, sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Hal ini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan, peserta didik yang dihadapi terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda, dengan pemahaman tentang toleransi, semua komponen pendidikan mampu berperilaku baik sesama muslim maupun non muslim, baik di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan sekolah.
Dalam komunitas. Di era perkembangan ini, banyak budaya asing yang masuk ke dunia.
Indonesia merupakan fenomena yang perlu
diperhatikan dalam perkembangan anak usia dini. Guru dan orang tua tidak hanya fokus pada enam aspek perkembangan anak usia dini,(Aerin, 2020). Namun dalam menghadapi perkembangan agama dan budaya, misalnya dalam percampuran budaya atau yang disebut juga akulturasi, akulturasi artinyamasuknya budaya asing ke suatu daerah tertentu yang diterima oleh masyarakat sekitar kemudian menjadi perpaduan budaya kontemporer namun tanpa meninggalkan budayaasli. Saat ini, tidak hanya di sektor budaya, etnis dan ekonomi dan sebagainyasejak berlakunya perdagangan masyarakat ekonomi ASEAN masuk ke Indonesia atau MEA kemajuan dunia global berkembang pesat. Berangkat dari polemic penanaman pendidikan karakter pada anak usia pra sekolah berdampak signifikan terhadap penanaman nilai-nilai karakter pada anak usia dini khususnya dalam sikap toleransi beragama.
Pendidikan karakter menjadi penentu bagi mereka dalam bersosialisasi di masyarakat, lingkungan dan dimanapun mereka tinggal.
(Moh. Toriqul Chaer, n.d.). Islam tahupendidikan karakter itu sendiri sebagai pendidikan moral, yaitu bagaimana berperilaku yang baik dalam menghormati perbedaan antar agama, saling membantu, menjaga persahabatan dan menghindari konflik (Chasanah, 2018a).
Menerapkan sikap toleransi kepada anak tidak akan pernah lepas dari peran orang tua serta peran pendidik, tetapi peran utama pada dasarnya adalah orang tua dan hidup dalam masyarakat yang saling membutuhkan. Di
3
Pandangan AL-Ghazali merupakan bentuk pembiasaan yang diberikan latihan, yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Rijal Mahdi, 2020). Dalam metode yang sering diterapkan dalam diri seseorang terutama pada anak usia dini, yang dipaksakan, kebiasaan, kebiasaan dan ini harus diterapkan pada anak sejak dini. Sebagai orang tua, lebih baik jika kita melamar dari awal pada usia perkembangan atau golden age anak. Jika kebiasaan itu muncul pada diri sendiri anak, maka kebiasaan anak akan mampu menerima perbedaan yang terdapat di lingkungannya hidupnya. Seperti titik awal bahwa anak-anak harus menerima pemahaman tentang rasa
toleransi, karena polemik yang terjadi, atau konflik yang berakibat fatal bagi jiwa anak.
Ketika seorang anak mencapai usia satu tahun, otak bawah sadar anak dapat menyimpan dalam ingatannya dengan segala aktivitas yang dilakukan oleh orang tua, keluarga dan lingkungan lingkungan, pandangan yang dianut anak setiap hari akan mempengaruhi setiap pola pikir dan perilakunya perilaku anak, oleh karena itu peran orang tua menjadi dampak yang signifikan terhadap sikap dan perilaku perilaku atau terutama dalam arti toleransi anak.
METODE PENELITIAN
Metode dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan jenis pendekatan berupa:literatur, di mana penelitian ini mengumpulkan lebih banyak informasi dan data, seperti:artikel dan jurnal, buku, dan cerita sejarah yang berkaitan dengan masalah
penelitian. Dalam studi literatur ini, Anda juga dapat membaca referensi yang terdapat di dalamnyahasil penelitian orang-orang terdahulu dan sejenisnya yang di atasnya terdapat beberapa landasanteori tentang masalah yang akan diteliti, perpustakaan yang menerima informasi dari berbagai sumbermedia seperti referensi buku bacaan yang terdapat dalam hasil penelitianorang-orang sebelumnya dan sejenisnya yang memiliki dasar teoretis untuk masalah tersebutyang akan diteliti dalam studi literatur ini adalah teknik pengumpulan data.
dalam penglihatan ahli lainnya, studi literatur ini merupakan studi teoritis, referensi dan literasi ilmiah lainnya berkaitan dengan nilai, budaya, dan norma yang berkembang dalam situasi tersebut.Metode penelitian kepustakaan biasanya digunakan untuk menyusun tujuan sebagai dasar dalam pengembangan langkah-langkah mudah sebagai cara mendekati konselor. Ada langkah- langkah dalam penelitian, pertama, memilih topik masalah, kedua, mencari informasi, ketiga menentukan titik fokus masalah, keempat mengumpulkan informasi, dan kelima data yang diperoleh, penyusunan kerangka dan struktur laporan. (Mirzaqon, 2018).
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Tahap pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan teknik seperti hasil observasi lapangan, teknik dokumentasi, catatan lapangan dan quesioner. (1). Teknik Observasi, merupakan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti tanpa mempengaruhi objek.
Ada dua yang perlu dilakukan dalam proses
4
observasi yaitu melakukan pengamatan dan mencatat data-data dan gejala-gejala yang ditimbulkan. (2). Teknik Dokumentasi, teknik pengambilan gambar catatan, tulisan dan karya- karya yang berhubungan dengan data yang diperlukan dalam penelitian. (3). Tekni Catatan Lapangan, meliputi catatan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian yang ada dilapangan yang memuat peristiwa- peristiwa penting dalam pembelajaran. (4). Teknik Angket, teknik pengumpulan data dengan menghasilkan respon dari sejumlah pertanyaan yang diberikan terhadap objek yang diteliti.
TEKNIK ANALISIS DATA
Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor data kualitatif merupakan data yang dijabarkan dalam bentuk tulisan dan gambar.
Penelitian kulaitatif adalah tahap penelitian dengan melalui proses pengumpulan data, mereduksi data, menyajika prosedur yang menghasilkan hasil penelitian berupa data Deskriptif. Berupa hasil dari prilaku dan lisan dari object yang diamati. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan melakukan beberapa teknik seperti hasil Observasi lapangan, Teknik Dokumentasi, catatan lapangan dan Quesioner.
Sementara tahap mereduksi data dapat dilakukan dengan menganalisis data secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian diambil data data yang diperlukan saja sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian.selanjutnya penyajian data data dapat disajikan dalam bentuk table atau grafik kemudian di
deskripsikan dengan mempelajari dan menfsirkan hasil penelitian tersebut sehingga menjadi sebuah kesimpulan yang sesuai dengan hasil penelitian. Hasil dari penelitian kualitatif berupa data Deskriptif yang berhubungan dengan objeck yang telah diamati.
PEMBAHASAN
Hakikat Pendidikan Toleransi Antar Agama Manusia tidak terlepas dari interaksi antar individu, individu antar kelompok, maupun kelompok antar kelompok. Proses interaksi akan terganggu apabila tidak adanya rasa toleransi antar pemeluk agama, karena pada dasarnya agama itu berbeda-beda dan banyak macamnya.
Jadi, apabila ada yang tidak toleran terhadap agama lain , maka akan terjadi kekacauan di masyarakat. Inila pentingnya rasa toleransi antar umat beragama harus dilakukan sedini mungkin, karena yang menyangkut agama sangat sensitif dimasyarakat. Berbagai permasalahan sosial akan terjadi akibat dari tidak adanya rasa toleransi antar agama. Berbagai masalah yang terjadi akibat adanya rasa tidak toleran seharusnya menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa rasa toleransi itu sangat penting sekali dan tidak hanya rasa toleransi antar agama saja.
Dari banyaknya permasalahan yang ada seharusnya menyadarkan masyarakat uuntuk bersikap toleransi.
Rasa toleransi antar umat beragama bertujuan agar tidak adanya konflik sosial di sekolah, lingkungan kerja, maupun dilingkungan masyarakat, karena akan mengganggu keharmonisan di masyarakat. Akan
5
tetapi hal itu sangat sulit untuk dilakukan karena kurangnya pengetahuan dan merasa bahwa agaamanyalah yang paling baik. Padahal semua agama mengajarkan hal yang baik-baik apabila benar-benar ditaati.
Agama memiliki peranan dominan dalam menciptakan masyarakat berbudaya.
Agama dapat dikatakan memainkan peran yang baik apabila mampu memberikan kepada pemeluk-pemeluknya suatu gambaran nilai-nilai yang luhur dari eksistensi dan esensi jagat raya.
Sebaliknya, agama dikatakan memegang peran ke arah ysng negatif apabila mengurung pemeluknya dalamalam pikian yang sempit sehingga memunculkan konflik agama. Racun diskriminasi, ejekan dan saling membenci dapat menciptakan disintegrasi bangsa. Untuk mengantisipasi terjadinya konflik agama maka semua umat yang beragama harus bersatu dalam persahabatan dengan kehendak baik guna mencapaiharapan semua orang yang cinta damai dalam membangun masyarakat yang serasi, aman dan tentram.
Kehidupan yang harmonis tidak terlepas dari ketersediaan tempat dan waktu untuk umat beragama. Melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya secara aman. Karena ibadah merupakan sarana penghubung antara sang pencipta dengan makhluknya.
Ketersediaan sarana ibadah masing- masing umat beragama diharapkan dapat meningkatkan rasa keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga segala
prasangka-prasangka buruk dapat dihilangkan menuju persaudaraan yang solid.
Masing-masing agama seharusnya berusaha keras untuk mengisi pemahaman dan kegiatan dengan hal-hal yang mendorong hubunan saling bekerja sama untuk semua orang(Wahono, 2001: 26). Secara nomatif nilai- nilai dasar yang menjadi landasan terbentuknya toleransi antar umat beragama adalah sebagai berikut:
Pertama adalah nilai agama yang bersumber dari ajaran yang terdapat pada masing-masing agama, baik itu Islam maupun Kristen yang menjelaskan tentang pentignyaa sikap toleransi aantar umat beragama. Seperti ajaran agama Kristen yang berlandaskan pada hukum kasih yang berbunyi: (1) kasihilah Tuhan Allahmu dengan seegenap hatimu dan segenap jiwamu, (2) kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Bahkan berhaadap musuhpun harus saling mengasihi. Karena dengan mengembangkann sikap saling mengasihi maka akan menjadi anak-anak bapamu yang disurga.
Sebagaimana yang dituturkan oleh bapak Sarji S.TH (50 tahun) selaku pendeta agama kristen bahwa kasi sayang itu tidak hanya tercurahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi juga mengasihi terhadap sesama manusia, semua ciptaan Tuhan. Baik itu binatang, tumbuhan, tanah, air, batuan dan bahkann terhadap musuh pun harus mengasihi ( Matius 5: 44-45). Dengan terwujudnya ajaran cinta kasih maka akan menciptakan kerukunan hidup dengan tidak
6
memandang perbedaan latar belakang agama, budaya maupun sosial.
Jadi dalam ajaran agama Kristen telah mengatur toleransi dengan cara mengasihi Tuhan, sesama manusia dan bahkan musuh.
Kasih kepada tuhan dengan totalitas diri, baik jiwa maupun raga. Kasih kepada sesama seperti mencintai diri sendiri dan tidak membeda- bedakan manusia berdasarkan latar belakang budaya. Sementara kasih kepada musuh dengan cara mendoakan agar kembali kepada jalan yang lurus. Ajaran agama Kristen juga percaya bahwa semua agama itu mengajarkan tentang kebaikan, keluhuran budi dan kerukunan antar umat beragama.
Pada ajaran Islam pu telah mengatur tentang toleransi antar umat beragama. Seperti yang terdapat pada surah Al- Kafirun ayat 6 yang berbunyi” Lakum Diinukum Waliyaddin”
yang artinya utukmulah agamamu dan untukulah agamaku. Prinsip Islam mengenai toleransi asalah tidak seorang pun boleh dipaksa uuntuk memeluk agama lain dan atau meninggalkan ajaran agamanya dan setiap orang berhak untuk beribadah menurut ketentuan agamanya masing- masing. Selain itu, ajaran Agama Islam selalu mengingatkan manusia bahwa seluruh umat manusia diciptakan Allah berbeda-beda, karena dijadika oleh-Nya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Semua itu tidak lain agar manusia saling mengenal dan saling menghormati.
Manusia juga dianjurkan untuk beramal saleh terhadap siapapun agar mendapat pengampunan dan barokah.
Kedua adalah nilai budaya yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok orang dan telah menjadi tradisi di lingkungan masyarakat tertentu. Misalkan kebiasaan gotong-royong dan guyub rukun sebagai wujud kebutuhan. Kebersamaan antar umat beragama akan mempersempit atauu bahkan meniadakan perasaan saling curiga.
Masing-masi individu harus memiliki kesadaran untuk mau memberi dan mau menerima yang tentunya disesuaikan dengan koridor atau batasan-batasan dalam pergaulann. Sudah selayaknya sebagai manusia membina hubungan baik selain kepada sang pemberi kehidupan juga berbuat baik kepada sesama manusia. Sikap toleransi harus melekat dalam kehidupan yang penuh dengan keberagaman sehingga tidak mengancam integrasi bangsa.
Sangat sulit dalam menumbuhkan rasa toleransi seseorang khususnya pada anak usia dini karena merupakan hal yang wajib kita tanamkan sedari dini menerima perbedaan dan menjalin kekerabatan antara satu sama lain dan jauh dari sikap perselisihan adalah hal dicintai oleh nabi dan yang juga diajarkan dalam Islam seperti dalam hadits “tidak” akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan HR, Bukhari dan Muslim” di Indonesia mayoritas agama yang dianut dalam kehidupan bermasyarakat adalah Islam, dalam meminimalisir konflik dan ketimpangan, Islam saling mengajarkan Menghargai agama yang dianut, menghormati dan menghargai itu dibuktikan dalam surat Al-Mumtahan dan Allah
7
berfirman: bahwa semua muslim harus berbuat baik kepada orang-orang yang menganut kepercayaan lain dan selama tidak menyangkut agama. dan dalam surat Al-Luqman ayat 15 Allah berfirman dalam ayat yang menjelaskan bahwa, untuk selamanya berperilaku baik kepada keluarga atau kerabat yang tidak menganut agama Islam, meskipun mereka mengajak Anda untuk menyekutukan Allah swt.
Kedua ayat tersebut menjelaskan tentang toleransi dan menjauhi sikap intoleran dalam kehidupan umat beragama itu dalam batas alamiahnya dan tidak menyimpang dari ajaran Tuhan dalam kehidupan keagamaan.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ada beberapa anak yang sudah menerapkan toleransi yang dilakukan oleh orang tua atau guru sejak dini, anak akan mudah bersosialisasi dalam keakraban dengan lingkungan atau teman sebaya. Namun, ini berbeda dengan anak yang tidak menerapkan sikap kasih sayang antar sesama, sikap tolong menolong dansikap toleransi lainnya, anak akan sulit menerima perbedaan, dan konflik akan mudah terjadi, mudah terprovokasi. Seperti yang ditemukan oleh peneliti anak yang ketika memasuki usia remaja dan memasuki jenjang pendidikan, anak akan dihadapkan pada lingkungan baru dan kondisi yang jauh dari orang tua, anak rentan dengan berbagai polemik. Baik itu di kelas, di lingkungan tempat tinggal atau kost, dan hal ini disebabkan sikap bawaan sejak dini yang sulit untuk berubah.
Islam tidak hanya mengajarkan toleransi antar umat beragama tetapi juga mengajarkan toleransi antar makhluk ciptaan Allah lainnya seperti binatang, yang termasuk dalam konsep universal atau umum, fakta lain dalam menjunjung tinggi rasa toleransi umat beragama terdapat pada piagam Madinah, yang memberikan kebebasan dalam kemerdekaan beragama yang diimplementasi langsung oleh baginda nabi Muhammad SAW, yang terdapat beberapa elemen penting dalam menyikap , menghormat, adanya rasa tolong menolong atas keyakinan agama yang dipercayainya oleh individu lain, dari sikap tolong-menolong yang dijumpai penulis seperti, ketika hari raya idul fitri kapasitas masjid terbatas sehingga banyak jamaah solat ied yang melkakukan solat di luar Masjid, sehingga jamaah membutuhkan koran atau alasa agar sajadah yang dipakai tidak kotor.
PENUTUP
Pendidikan toleransi antar agama di
SMPN 2 KOTA MANNA telah diterapkan
dalam setiap proses pembelajaran serta
dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan
toleransi anata agama di SMPN 2 KOTA
MANNA dilatar belakangi oleh peserta
didik yang mempunyai agama yang
berbeda. Dengan diterapkannya
pendidikan toleransi antar agama peserta
didik bisa menghargai keberagaman yang
ada dan tidak merasa dibedakan, sehingga
akan tercipta rasa kebersamaan dan
8
persatuan tujuan pendidikan pun bisa terlaksanakan dengan baik.
Bentuk penerapan terlihat dari peserta didik yang saling membaur dalam belajar dan bermain tanpa memperhatikan persedaan budaya, agama, dan bahasa serta warna kulit. Setiap guru memiliki kewajiban yang sama dalam penerapan pendidikan multikultural hal ini diperutukan karena setiap siswa memiliki hak yang sama meskipun dengan latar belakang yang berbeda-beda.Penerapan toleransi antar umat beragama sudah berlangsung lama di SMPN 2 KOTA MANNA. Wujud pelaksanaan toleransi antar umat beragama adalah kebebasan menjalankan syariat agama yang dianut oleh setiap siswa dan guru non-Muslim serta tersedianya tempat ibadah. Kasih sayang dan pembiasan merupakan upaya yang dilakukan pihak sekolah agar setiap siswa selalu memiliki toleransi antar umat beragama.
Bentuk toleransi antar umat beragama antara lain saling menghormati saat beribadah, saling membantu dalam memperingati hari besar keagamaan, dan saling memberi selamat serta saling mengunjungi saat memperingati hari besar keagamaan.
Faktor pendukung pelaksanaan toleransi antar umat beragama muncul dari semua warga sekolah yang tanpa dipaksa memiliki rasa toleransi terhadap sesama, kemudian tersedianya sarana ibadah. Sedangkan faktor penghambat bukan muncul dari perbedaan agama melainkan muncul dari guru dan siswa
itu sendiri, tidak tersedianya sarana peribadatan khusus dan baik bagi siswa non- Muslim juga dianggap sebagai kendala dalam penerapan toleransi antar umat beragama.
Solusi untuk mengatasi faktor penghambat adalah dengan selalu mengevaluasi hal-hal yang menghambat penerapan toleransi sehingga terkadang tidak semua guru merasa berhasil dan kurang berhasil, koreksi terhadap hal-hal yang belum berhasil harus segera dicari strategi yang lebih baik. Selain evaluasi sekolah, mengundang narasumber dari pengawas sekolah dan membuat kegiatan workshop yang wajib dihadiri warga sekolah, agar kendala yang ada dapat teratasi.
Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orang tua dan guru di sekolah, khususnya dalam mengajarkan toleransi antar umat beragama kepada anak usia dini, memberikan pemahaman toleransi pada anak saja tidak cukup. Namun, memberikan contoh yang baik bersikap baik kepada anak merupakan tindakan yang cukup efektif, menunjukkan sikap saling menghormati, mencintai dan memberi.
Selain itu, komunikasi antara orang tua dan guru dalam terapkan toleransi pada anak sejak dini agar arah dan tujuan dalam belajar di sekolah menurut orang tua untuk mencapai optimal, tetapi juga dalam hal anak-anak diajarkan untuk selalu bersikap baik ketika bersama orang dewasa atau Teman baru dikenal berperilaku sopan dan ramah satu sama lain, membuat anak- anak terbiasa dengannya dalam hal itu.
Selanjutnya, yaitu untuk memberikan
9
pemahaman tentang maksud dan tujuan dari Toleransi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial kita. Jelaskan sikap toleransi pada anak usia dini bahwa jika kita menerapkannya pada diri kita sendiri maka akan menghindari dari apa yang disebut permusuhan, konflik, peristiwa konflik akan dihindari dan hidup akan terasa rukun dan damai, jika saling bermusuhan dan saling membenci berdampak pada kita dan juga tidak baik dari sudut pandang orang lain, penjelasannya Ini sangat dibutuhkan oleh anak- anak dan kita sangat perlu mengajari anak-anak, sebagai seorang anak pendidik dan akan menghasilkan generasi yang akan memimpin bangsa di masa depan, melihat dari sudut pandang dilihat dari perbedaannya, Indonesia terkenal memiliki suku bangsa terbanyak di dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul gafur hulalango & Tita Rostitawat.
(2019). Guru Dan Penanaman Nilai- Nilai Toleransi antarumat beragama.
1(1).
Achadah, A. (2020a). Pendidikan Multikultural dalam Membentuk Karakter Bangsa Indonesia
Achadah, A. (2020b). Pendidikan Multikultural dalam Membentuk Karakter Bangsa Indonesia
Ali, Mohammad Daud. 1986. Islam Untuk Disiplin Ilmu Hukum, Sosial dan Politik.
Jakarta: CV Wirabuana
Arifudin, Iis. 2007. Urgensi Implementasi Urgensi Implementasi Pendidikan Multikultural di Sekolah Pendidikan Multikultural di Sekolah.
JURNAL PEMIKIRANALTERNATIF PENDIDIKAN (Online), 12 (2) : 1-9, http://ejournal.
iainpurwokerto.ac.id/index.php/insania/
article/view/252 diakses Mei-Agustus 2007 Baharun, Hasan dan Robiatul Awwaliyah. 2017.
Pendidikan Multikultural dalam Menanggulangi Narasi Islamisme di Indonesia. Jurnal Pendidikan Agama Islam (Online), 5 (2): 224-243, http://
jurnalpai.uinsby.ac.id/index.php/
jurnalpai/article/view/113 diakses Nopember 2017
Hadisaputro, Muhda. 2002. Peranan Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Dalam Ketahanan
Masyarakat.lib.ugm.ac.id/jurnal/downlo ad.php?dataId=6666, diakses tanggal 19 Oktober 2012
Ihsan, Bakir. 2009. Menebar Toleransi Menyemai Harmoni. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Iqbal, Moch. "Telaah Praksis Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dalam Pembentukan Karakter Siswa." Tadbir:
Jurnal Studi Manajemen Pendidikan 3.2 (2019): 165-178.
Iqbal, Moch. "Telaah Praksis Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dalam Pembentukan Karakter Siswa." Tadbir: Jurnal Studi
10
Manajemen Pendidikan 3.2 (2019): 165- 178.
Iqbal, M. (2019). Telaah Praksis Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dalam Pembentukan Karakter Siswa. Tadbir:
Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, 3(2), 165-178.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta Moleong, Lexi J. 2011. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadis. Jurnal Pendidikan Islam, 03(01), 20.
Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadis. Jurnal Pendidikan Islam, 03(01), 20
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Wahono, S.Wismoady. 2001. Pro-Eksistensi:
Kumpulan Tulisan untuk Mengacu Kehidupan Bersama. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia