• Tidak ada hasil yang ditemukan

penegakan hukum pidana terhadap pelaku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penegakan hukum pidana terhadap pelaku"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Untuk mengetahui bagaimana implementasi hukum dan sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana cyberbullying di media sosial menurut undang-undang no. 19 Tahun 2016 tentang ITE. Implementasi dan sanksi hukum terhadap pelaku kejahatan cyberbullying di media sosial menurut UU No. 19 Tahun 2016 ITE. Dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tidak ada unsur yang jelas mengenai tindakan ofensif yang dilakukan di media sosial (cyberbullying).

Penegakan hukum dan sanksi terhadap pelaku kejahatan cyberbullying di media sosial dalam perspektif hukum pidana Islam.

Fokus Penelitian

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apa saja tuntutan hukum dan sanksi bagi pelaku cyberbullying di media sosial berdasarkan hukum pidana Islam. Jika ingin mengetahui perbandingan undang-undang cyberbullying menurut UU no. 19 Tahun 2016 tentang ITE dan Hukum Islam.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menyumbangkan pengetahuan atau tambahan pengetahuan terhadap permasalahan yang diteliti khususnya tentang bagaimana pertanggungjawaban pelaku tindak pidana cyberbullying yang terjadi di media sosial dilakukan. , dimana saat ini sedang marak kasus empat kejahatan bullying di internet, khususnya di media sosial. Penelitian ini dibuat untuk keilmuan khususnya program studi Hukum Pidana Islam, serta untuk menambah pengetahuan dan pemahaman keilmuan bagi peneliti dari perspektif hukum positif dan hukum Islam tentang penegakan dan tanggung jawab hukum bagi pelaku cyberbullying. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, referensi dan informasi bagi para akademisi untuk melakukan penelitian selanjutnya khususnya untuk literatur di UIN Khas Jember, dan Program Studi Hukum Pidana Islam.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada penegak hukum dalam upayanya menanggulangi tindak pidana perundungan (cyberbullying) di media sosial, sebagai salah satu bentuk kejahatan siber.

Definisi Istilah

Aturan hukum atas kejahatan yang dilakukan terhadap komputer (computer crime) atau yang bisa disebut dengan cybercrime, sudah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sebelum UU ITE terbit. Pada dasarnya seseorang yang melakukan suatu tindak pidana telah mengetahui tentang perbuatan yang dilakukannya dan telah mengetahuinya. UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memuat ketentuan hukum di luar KUHP yang secara khusus mengatur penghinaan yang dilakukan di Internet (lex specialis).

Terkait dengan pertanggungjawaban pidana atas tindak pidana cyberbullying, yang perlu ditegaskan dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE adalah unsur subjektifnya, yaitu perbuatan yang dilakukan pelaku dengan sengaja sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 UU ITE.

Sistematika Pembahasan

KAJIAN PUSTAKA

Penelitian Terdahulu

Cyberbullying Menurut UU No. 19 Republik Indonesia Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik dan Hukum Islam, mahasiswi Universitas Islam Negeri Radah Fatah Palembang Fakultas Syariah dan Hukum Program Studi Banding Madzab, skripsi ini ditulis pada tahun 2017, di Palembang. Pokok permasalahan atau rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian skripsi ini adalah 1) Bagaimana aturan sanksi terhadap tindak pidana. Permasalahan pokok atau rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian skripsi ini adalah 1). Hasil pembahasan dalam skripsi ini adalah perlindungan hukum terhadap anak korban perundungan di media sosial belum berjalan dengan baik karena kurangnya pemahaman masyarakat untuk menyampaikan pengaduan kepada aparat penegak hukum.

Skripsi ini ditulis oleh Suster Resty Mutiara Nim yang masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Jurusan Hukum Pidana Universitas Sriwijaya dengan judul skripsi Penerapan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pelecehan di Media Sosial di Dunia Maya Dunia (cyberbullying) Fokus permasalahan yang diambil dalam skripsi ini adalah 1).

Kajian Teori

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Apa saja faktor penghambat perlindungan hukum terhadap anak korban tindak pidana perundungan di media sosial? Mahasiswa Fakultas Hukum Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sriwijaya Palembang dengan judul Penegakan Hukum Tindak Pidana Cyberbullying Terhadap Anak. 22 Lehavre Abeto Hutasuhut, “Penegakan hukum kejahatan cyberbullying terhadap anak” (Skripsi Universitas Sriwijaya, Palembang, 2019).

Bagaimana upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana perundungan media sosial di dunia siber yang dilakukan aparat penegak hukum? Faktor apa saja yang mempengaruhi penegakan hukum dalam menanggulangi tindak pidana pelecehan di media sosial (cyberbullying)? 23 Resty Mutiara, “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Bullying Media Sosial di Dunia Siber (Cyberbullying)” (Skripsi Universitas Sriwijaya, Indralaya, 2018).

Dalam arti sempit penegakan hukum adalah upaya aparat penegak hukum untuk melaksanakan aturan-aturan hukum yang menjamin bahwa penegakan hukum dalam arti sempit terdiri dari peraturan-peraturan formal dalam penegakan hukum yang dicatat hanya secara tertulis. Dalam penegakan hukum di Indonesia, terdapat faktor-faktor yang menghambat kemajuan dan tujuan penegakan hukum.

Dalam undang-undang Islam, jarimah, jenayah dan ma'shiyat merupakan tiga istilah asas dalam bahasa Arab tentang pengertian undang-undang jenayah Islam. Sedangkan istilah (jinyah) dalam pengertian hukum pidana Islam secara etimologi berasal dari kata jana-yajni-jinayatan yang berarti melakukan dosa. Undang-undang Jenayah Islam sendiri lebih mendalam dari segi kepentingan berkaitan agama, nyawa, akal, keturunan dan kekayaan.

52 Yurizal, Penegakan Hukum Kejahatan Cyber ​​di Indonesia, (Malang: Media Nusa Creative, 2015) hal. 30-33. melihat dan mengetahui.

Pendekatan Penelitian

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE pada Pasal 27 ayat 3, dan Al-Qur'an sebagai data primer. Salah satu permasalahan yang terjadi di dunia internasional adalah kejahatan yang dilakukan di Internet (cybercrime). Ketentuan hukum terkait kejahatan yang dilakukan di Internet (kejahatan dunia maya) telah diterapkan dan undang-undang telah diterbitkan. Undang-undang yang mengatur mengenai tindak pidana tersebut adalah Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008 yang telah diubah atau direvisi menjadi Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik Nomor 19 Tahun 2008. 2016.

Transaksi elektronik kemudian diubah dan diperbarui dalam UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik. Berdasarkan uraian pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE dijelaskan bahwa perbuatan penghinaan dan pencemaran nama baik dilakukan melalui media elektronik atau dokumen elektronik dengan cara disebarluaskan dan ditransmisikan tanpa hak apa pun. UU No. 19 Tahun 2016 tentang ITE yang mengatur tentang penghinaan di Internet terdapat pada Pasal 27 ayat 3 yang mengandung unsur subjektif dan objektif.

UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik dalam hukum positif sudah mengatur tentang cyberbullying. Sedangkan peraturan di luar KUHP yang juga mengatur atau mencegah tindak pidana cyberbullying adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik. Penerapan UU Informasi dan Transaksi Elektronik untuk Mengatasi Masalah Ujaran Kebencian di Media Sosial.”

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 27 ayat (3). Yolanda Oktaviani, “Cyberbullying Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik dan Hukum Islam”, (disertasi di Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang 2017).

Tehnik Pengumpulan Bahan

PEMBAHASAN

Penegakan dan Sanksi Hukum terhadap pelaku tindak pidana

Cyberbullying sendiri merupakan kejahatan yang menghina, mengintimidasi, mengancam dan memfitnah nama baik seseorang. Kejahatan yang dilakukan di Internet melalui media komputer yang menjadi alat untuk melakukan kejahatan tersebut dapat ditindak dengan KUHP (KUHP). Dalam perspektif hukum pidana Islam, cyberbullying yang dilakukan melalui internet atau media sosial termasuk ta’zir, dimana peraturan dan sanksinya diberikan oleh penguasa atau penegak hukum, yang dalam Islam disebut Ulil Amri.

Resty Mutiara, “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Bullying Media Sosial di Dunia Siber (Cyber ​​Bullying)” (Skripsi Universitas Sriwijaya, Indralaya, 2018).

Penegakan dan sanksi hukuman terhadap pelaku tindak pidana

Perbandingan hukum cyberbullying menurut Undang-Undang

PENUTUP

Kesimpulan

Sebelum berlakunya UU ITE No. 19 Tahun 2016, hukum pidana positif sudah mengatur tentang kejahatan komputer yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam KUHP, ketentuan yang dapat dijadikan landasan hukum terkait dengan tindak pidana penghinaan di Internet (cyberbullying) adalah Pasal 310, Pasal 311, dan Pasal 315 KUHP. Dengan demikian, tindak pidana cyberbullying dalam ketentuan hukum atau sanksinya diatur dalam Pasal 27 ayat (3) yang menjelaskan perbuatan penyalahgunaan yang dilakukan di Internet dan diancam dengan pidana penjara empat tahun dan denda tujuh ratus lima puluh juta rupiah.

Hukuman bagi pelaku cyberbullying menurut hukum Islam adalah Jarimah Ta'zir yang jenis dan sanksinya belum ditentukan secara syariah karena kejahatan cyberbullying dilakukan dengan cara menghina, mengancam, dan mengintimidasi melalui internet. Sehingga dalam Hukum Pidana Islam, pihak yang berwenang menentukan hukum ta’zir diserahkan kepada pemerintah (Ulil Amri). Perbandingan pidana cyberbullying menurut hukum positif dan hukum Islam yaitu tindak pidana cyberbullying menurut hukum positif diatur dalam UU No. dengan pasal 45 ayat (3) dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun dan denda Rp.

Sedangkan menurut hukum Islam, tindak pidana cyberbullying dikategorikan ta’zir, sanksi, dan hukumannya diserahkan sepenuhnya kepada ulil amri (pemerintah).

Saran

Dengan cara ini, cyberbullying yang terjadi di Indonesia dapat diatasi dengan lebih baik dan hak atas kebebasan berekspresi tidak akan dilanggar jika hukum digunakan dengan baik. Aparat penegak hukum perlu mengikuti perkembangan teknologi sehingga aparat penegak hukum perlu meningkatkan wawasan dan pemahamannya di bidang teknologi agar cyberbullying dapat ditekan. Transaksi Elektronik, (Serangan terhadap kepentingan hukum dalam pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik), Malang: Media Nusa Kreatif.

“Anak korban cyberbullying di media sosial dari sudut pandang viktimologis” Jurnal Kajian Ilmiah (JKT), Vol 20 No. Kejahatan cyberbullying dalam perspektif hukum pidana di Indonesia”, Jurnal Kertha Wicara Vol 9 No. “Kebijakan hukum pidana dalam upaya penanggulangan kejahatan pendanaan teroris” Jurnal Recht Vinding: Media Pembangunan Hukum Nasional Vol 5 No 1, halaman 17.

Kebijakan Kriminal Terhadap Tindak Pidana Perundungan di Internet (Cyberbullying) sebagai Kejahatan Mayantara (Cybercrime)”, LEGALITiFE Vol 2, No. II, hal. 1–18 Siahaan Andyasah Putera Utama. 2019 “Kebijakan Hukum Pidana Melawan Kejahatan Cyberbullying di Indonesia”, CiVICUS: Penelitian Pendidikan-Layanan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol.7, No. 2, hal. 59–65. Permasalahan Implementasi UU Informasi dan Transaksi Elektronik dalam Mengatasi Cyberbullying di Jejaring Sosial Menurut Judicial Review Mahkamah Konstitusi RI", Jurnal Ilmu Hukum dan Sosial, Vol. 1No1.

Melinda Sopiani, “Analisis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Bullying Media Sosial” (Skripsi, Universitas Lampung, Bandar Lampung 2018). Lehavre Abeto Hutasuhut, “Implementasi hukum kejahatan cyberbullying terhadap anak” (Skripsi Universitas Sriwijaya, Palembang, 2019).

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

1) Pelanggaran Administrasi, yakni Pasal 248 UU Pemilu mendefinisikan perbuatan yang termasuk dalam pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan

Berdasarkan ketentuan pasal-pasal dalam Bab XI mengenai ketentuan pidana dalam UU ITE, maka dapat diidentifikasikan beberapa perbuatan yang dilarang (unsur tindak

Berdasarkan ketentuan dalam UU No 43 Tahun 2008 di atas, maka jelas bahwa yang dimaksud dengan prinsip teritorialitas yang diatur di Pasal 2 KUHP, dalam konteks tindak pidana di

Berdasarkan ketentuan pasal-pasal dalam Bab XI mengenai ketentuan pidana dalam UU ITE, maka dapat diidentifikasikan beberapa perbuatan yang dilarang (unsur tindak

Pasal 27 UU ITE Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik

Kemudian, jika perbuatan mencemarkan nama baik atau penghinaan tersebut dilakukan melalui media internet, termasuk halnya media sosial, dapat dijerat Pasal 27 ayat 3 UU ITE, yang

1 188 1 188 sedangkan tindak pidana pengancaman dalam Pasal 369 KUHP adalah delik aduan.10 Ketentuan Pasal 27 UU ITE mensyaratkan perbuatan mendistribusikan, mentransformasikan

Dari 10 kasus tersebut, mayoritas menggunakan pasal karet UU ITE, 8 jurnalis dikriminalisasi dengan ketentuan UU ITE, 5 kasus menggunakan ketentuan Pasal 27 ayat 3 UU ITE tentang