• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan "

Copied!
105
0
0

Teks penuh

HUBUNGAN IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM-BASED LEARNING PADA KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN PPKN SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN SIKAP DEMOKRASI SISWA (Studi Di SMA SukoherjeliDesign) navati). HUBUNGAN PENERAPAN MODEL PROBLEM-BASED LEARNING PADA KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN PPKN SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN SIKAP DEMOKRASI SISWA (Studi Di SMA SukoherjeliDesign) Navati Tujuan penelitian ini adalah untuk, (1) mengetahui penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada kurikulum 2013 mata pelajaran PPKn sebagai upaya membentuk sikap demokratis siswa (2) mengetahui kendala yang dihadapi dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran PKn sebagai upaya pembentukan sikap demokratis siswa (3) menemukan solusi atas keterbatasan penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada kurikulum 2013 mata pelajaran PKn sebagai upaya pembentukan sikap demokratis siswa.

Pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah sebagai upaya membentuk sikap demokratis siswa dilakukan dengan membagi siswa menjadi kelompok diskusi untuk menganalisis masalah: (c) Evaluasi pembelajaran berbasis masalah oleh guru yaitu penilaian individu dan kelompok 2) Hambatan yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah: Keterbatasan Guru: (a) Siswa kurang aktif, siswa belum mengoptimalkan keterampilannya (b) Kurangnya komitmen waktu. Selain itu, data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui angket tentang sikap demokratis siswa dalam pembelajaran berbasis masalah PKn. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam kurikulum 2013 pada mata pelajaran PKn sebagai upaya untuk membentuk sikap demokratis siswa.

Hal tersebut sesuai dengan karakteristik model pembelajaran berbasis masalah dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5 siswa.

Solusi Terhadap Kendala Penerapan Model

Pada dasarnya setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga ada siswa yang membutuhkan perhatian dan penguatan lebih. Jadi, ada siswa yang belum siap melaksanakan proses pembelajaran, belum mampu mengoptimalkan kemampuan berpikirnya, kreatif, siap bekerjasama. Sehingga terkadang ada kelas yang hanya memiliki 1 KD dan hanya memiliki 2 kali pertemuan sehingga menyebabkan beberapa kelas tidak menerapkan pola seperti kelas lainnya.

Keterbatasan tersebut sejalan dengan pendapat Haryanto dan Warsono mengenai kekurangan atau problem based learning ketika diterapkan dalam proses pembelajaran. pembelajaran, yaitu. Hal ini kemungkinan akan menimbulkan biaya dan waktu yang lama dalam proses penyelesaian masalah, guru kurang mampu membimbing siswa untuk memecahkan masalah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas pada saat kelompok maju untuk mempresentasikan hasil pemecahan masalah, beberapa siswa tidak melihat dan mendengarkan presentasi temannya.

Siswa diberi perhatian khusus, selalu dilatih untuk berani mengungkapkan pikirannya, memberikan motivasi.

Simpulan

Namun dalam hal ini sikap demokratis siswa yang paling menonjol adalah siswa mampu bekerja sama dalam kelompok. Suasana kelas menjadi hidup karena dalam kelompok diskusi ada beberapa siswa yang sedang mengobrol dengan siswa lainnya sehingga menyebabkan siswa lain menjadi teralihkan perhatiannya dan tidak fokus. Kendala yang dialami siswa adalah kelompok dibentuk secara heterogen, sehingga siswa yang tidak terlalu dekat dengan siswa lain menjadi canggung dan merasa kurang bisa bekerja sama.

Jadi, ada siswa yang belum siap melaksanakan proses pembelajaran, belum mampu mengoptimalkan kemampuan berpikirnya, kreatif, siap bekerjasama. Keterbatasan alokasi waktu pembelajaran, penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada kurikulum PKn seringkali berbenturan dengan kegiatan sekolah. Pemecahan masalah dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah sebagai upaya membangun sikap demokratis siswa.

Guru lebih leluasa menegur dan memberikan aturan kepada siswa yang sibuk saat presentasi kelompok lain, kemudian memberi penghargaan kepada kelompok yang aktif bertanya dan kelompok yang kreatif saat presentasi.

Saran

Faktor Pendukung dan Penghambat Pembentukan

Hal ini dikarenakan kantin kejujuran di SMP N 10 Surakarta merupakan salah satu pilot project kantin kejujuran di kota tersebut. Di kantin kejujuran SMP N 10 Surakarta terdapat tata cara pembelian dan tata tertib siswa di kantin kejujuran. Sebagai contoh kebijakan yang dipilih dari hasil evaluasi terdapat tata cara dan aturan pembelian di kantin kejujuran yang dibuat pada tahun ajaran baru Januari 2019.

Selain itu, kebijakan tersebut berisi himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya dan ketertiban serta antrean saat berbisnis di kantin kejujuran. Oleh karena itu, dengan adanya tata cara dan aturan berbelanja di kantin kejujuran, kami berusaha mendisiplinkan siswa dengan aturan tersebut. Dalam prosedur belanja kantin dan tata tertib kantin ditekankan agar siswa mampu membayar dengan uang tertentu.

Kurangnya rasa memiliki siswa SMPN 10 Surakarta terhadap kantin kejujuran dapat dilihat melalui observasi tanggal 1 Juli 2019.

Peran kantin kejujuran dalam membentuk civic

33 Hal ini juga dirasakan oleh para guru mengenai pergaulan siswa saat ini yang cenderung mudah terpengaruh. Maka kesimpulan dari pemaparan ini adalah lingkungan sosial memberikan dampak terhadap kehidupan siswa di dalam maupun di luar sekolah. 34 Pembinaan karakter diberikan sekolah kepada siswa yang menyontek dan tidak pantas di kantin kejujuran.

Dalam penerapan pembiasaan pada sikap sipil di kantin kejujuran, peneliti mendasarkan pada teori perkembangan siswa yang dikenal dengan teori empirisme oleh John Lock tersebut.

Faktor pendorong dan Penghambat

Guru harus berkomitmen untuk membentuk jiwa kewargaan dengan memperhatikan nilai-nilai di kantin kejujuran yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas, saat ini terdapat 2 (dua) ancaman (dalam arti luas) yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, yaitu pertama masih rendahnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila secara komprehensif oleh bangsa Indonesia dan kedua, berkembangnya gejala radikalisme di sebagian kelompok masyarakat Indonesia, yang pada gilirannya dapat menimbulkan tindakan kekerasan dan terorisme. Dasar dan arah pengembangan karakter spiritual ini adalah nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ke-1, ke-2, dan ke-3.

Dalam nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup, Pancasila sangat penting dalam kehidupan kita, tetapi tidak boleh dimuliakan. Upaya membangun karakter bangsa Indonesia melalui pemahaman, penjiwaan, penghayatan, dan pengamalan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa, yang diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat oleh seluruh penyelenggara negara dan semua warga negara perlu terus dilakukan dan dimaksimalkan untuk mencapai hasil yang nyata. 45 Perpres tersebut menggambarkan bahwa upaya serius yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperkuat karakter bangsa yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila, maka dari itu perwujudan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam landasan kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh seluruh komponen bangsa dan.

Persoalannya, sejauh mana implementasi kebijakan ini dipaparkan mampu menyentuh semua lapisan untuk membangun karakter dan jati diri warga bangsa Indonesia dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa Indonesia. bangsa. Mari kita ulas, cermati, kritik dan berikan masukan terus menerus agar kita juga dapat berperan dalam mewujudkan pengamalan nilai-nilai pancasila sebagai karakter bangsa Indonesia. Dengan demikian faktor eksternal disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Aspek politik-ekonomi, kekuasaan pemerintah yang menyimpang dari nilai-nilai fundamental agama.

Namun hingga saat ini masih banyak undang-undang yang tidak mengutamakan nilai-nilai sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. Dengan demikian, kewibawaan Pancasila tidak hanya bertambah, karena didukung oleh pengamalan Pancasila. nilai dari nyata. warga negara, tetapi juga membuat ideologi bahwa radikal global semakin berkurang. Beberapa langkah telah dilakukan pemerintah untuk menyikapi hal tersebut, namun perlu dimaksimalkan dan diberikan perhatian khusus dalam pelaksanaannya, antara lain pertama memahami, menjiwai, menghayati dan mengamalkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa. bangsa. yang dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat oleh segenap penyelenggara negara dan seluruh warga negara.

Dalam rangka penanaman nilai-nilai luhur Pancasila agar menjadi karakter bangsa untuk melawan radikalisme dan terorisme, perlu ditanamkan nilai-nilai luhur Pancasila yang benar-benar membumi dan mengakar, sehingga mereka menjadi karakter bangsa Indonesia, hal ini harus dilakukan dengan menentukan kebijakan yang tepat yang diterapkan oleh pemerintah. , dalam hal ini peran pemerintah melalui BPIP harus dioptimalkan sesuai dengan tugas pokok fungsi dan perannya. Dengan meningkatkan pengembangan wawasan kebangsaan, mengubah pola pikir dan pemikiran primordialis secara berkelompok, sektoral, menghindari kemunafikan atau eufemisme dalam rangka mencerdaskan generasi muda, menegakkan pendidikan nilai-nilai universal. Demikian banyak hal yang dapat disampaikan dalam rangka peningkatan karakter bangsa melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai nilai luhur bangsa Indonesia untuk mencegah dan mengalahkan radikalisme dan terorisme.

Perlu ditekankan bahwa salah satu ancaman yang ada di depan mata saat ini adalah merosotnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia akibat kurangnya pemahaman.

PADA MATA PELAJARAN PPKN DI SMA NEGERI 1 SUKOHARJO

SARAN

  • Alasan dibentuk FKPM (Forum Kemitraan Polri dan
  • Hambatan FKPM (Forum Kemitraan Polri dan
  • Strategi yang diimplementasikan oleh FKPM

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Proses internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pengajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi proses internalisasi nilai-nilai nasionalisme pada pembelajaran Mempengaruhi Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas X SMA Negeri Gondangrejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) proses internalisasi nilai-nilai kebangsaan dalam Pembelajaran PKn pada siswa kelas X SMA Negeri Gondangrejo melalui tiga tahapan yaitu tahap perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Proses internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan di SMA Negeri Gondangrejo.

Proses internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMA Negeri Gondangrejo dibagi menjadi tiga tahapan yaitu; tahapan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Tahap Perencanaan Pembelajaran Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan upaya awal yang dilakukan oleh guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk menginternalisasikan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran. Pengintegrasian nilai-nilai nasionalisme dalam RPP menjadi dasar bagi guru dalam memberikan nilai-nilai kebangsaan dalam pembelajaran PKn.

Rencana pelaksanaan pembelajaran digunakan oleh guru sebagai dasar untuk menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan. Metode yang guru gunakan untuk membentuk sikap yang mencerminkan nilai-nilai nasionalisme pada siswa adalah. Jika dikaitkan dengan pendekatan internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pendidikan menurut Banks (Zamroni), maka pendekatan yang dilakukan oleh guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMA N.

Proses pemerolehan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran PKn bagi siswa kelas X SMA N Gondangrejo tentunya tidak lepas dari pengaruh beberapa faktor yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pendidikan kewarganegaraan dapat dijelaskan sebagai berikut; Warjiyandiningrum di atas menegaskan bahwa faktor-faktor yang mendukung perolehan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran PKn antara lain;

Ketiga, kompetensi pedagogik guru juga sangat berpengaruh dalam hal internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Proses internalisasi nilai-nilai kebangsaan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMA Negeri Gondangrejo melalui tiga tahapan yaitu melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Tahap perencanaan pembelajaran fase ini menginternalisasikan nilai-nilai kebangsaan dengan mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Modul atau bahan ajar tentang implementasi dan penerapan nilai-nilai kebangsaan bagi guru dan siswa SMA di Kabupaten Pacitan.

Referensi

Dokumen terkait

Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Karakter di MTs N Klaten dilaksanakan sesuai dengan teori-teori pembelajaran, baik dalam hal perencanaan,

Instrumen HAM dan Pengadilan HAM Upaya Pencegahan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Membangun Harmonisasi Hak Asasi Manusia Upaya Pemerintah dalam Penegakan HAM Upaya Pemerintah

Karakteristik warga negara yang Demokratis dalam perspektif Demokrasi Pancasila (Seminar Kelas). (3 /

Karakteristik warga negara yang Demokratis dalam perspektif Demokrasi Pancasila (Seminar Kelas). (8 /

Berikut beberapa penyebab mengapa orang-orang lebih memilih melakukan cari instant dengan memplagiat hasil karya orang lain dan mengakui sebagai ciptaannya

b Pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah sebagai upaya membentuk sikap demokratis peserta didik dilakukan dengan membagi siswa kedalam kelompok diskusi untuk menganalisis masalah: c

Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking stick Ramdhan berpendapat 2010 Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Talking Stick adalah sebagai berikut: a guru membentuk kelompok

Menolong teman yang terjatuh adalah sikap yang sesuai pengalaman Pancasila sila ..... Berikut kegiatan yang sesuai dengan sila keempat adalah