Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Teks penuh

(1)

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Peran Pendidikan Pancasila Sebagai Cara Untuk

Meminimalisasikan Tindakan Plagiarisme Yang Merupakan

Salah Satu Bentuk Tindakan Korupsi di Kalangan Akademis

Drs. H. Mohammad Adib, MA

Oleh :

Nisrina Firdaus

(071211531066)

Departemen Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Airlangga

(2)

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya tidak melakukan tindakan plagiat atau tindakan-tindakan yang sejenisnya dalam pembuatan essay dengan topik Anti Plagiarisme dan Anti Korupsi. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Surabaya, 16 Desember 2012 Mengetahui,

Nisrina Firdaus NIM. 071211531066

(3)

Beberapa tahun belakangan ini masyarakat Indonesia mulai mengalami suatu budaya yang notabene dalam menginginkan sesuatu harus dilakukan secara cepat sehingga diperoleh hasil yang instan. Budaya ini disebut budaya instan. Budaya instan ini telah membawa sedikit dampak positif yang bersifat sementara dan banyak dampak negatif yang bersifat permanaen sehingga dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat.

Saat ini banyak digalakkan semboyan tentang Anti Plagiarisme. Plagiarisme sendiri merupakan salah satu bentuk dari budaya instan yang sedang melanda masyarakat. Pengertian dari plagiarisme adalah suatu tindakan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain lalu menjadikannya seolah karangan serta pendapat sendiri. Plagiat adalah pencurian karangan, jiplakan (Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap,

Apollo, Surabaya, 1997). Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam

memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai (peraturan menteri

nomor 17 tahun 2010). Sedangkan orang yang melakukannya disebut plagiator.

Ada beberapa hal yang bisa dimasukkan ke dalam ciri-ciri tindakan plagiarisme, antara lain: mengcopy paste suatu kalimat / paragraf dari karya orang lain, mengambil pendapat orang lain, mengakui karya orang lain sebagai karya milik sendiri, mengganti bahasa penulis dengan bahasa sendiri, mengambil ide atau pikiran orang lain lalu mengakuinya sebagai pemikiran sendiri, menampilkan karya yang sama persis dalam waktu berbeda tanpa menyebutkan sumbernya, dan masih banyak contoh plagiarisme yang lain. Sebenarnya sudah ada peraturan pemerintah yang melarang adanya tindakan plagiarisme. Bahkan ada sanksi bagi pelakunya apabila tindakan plagiarisme tersebut tetap dilakukan.

“Penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta” (UU no 19 tahun 2002 pasal 15)

”Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)” (UU no 19 tahun 2002 pasal 72 ayat 1).

(4)

Siapa kira penulis The Da Vinci Code, Dan Brown telah melakukan tindakan plagiarisme. Ia dituduh dan dituntut karena disebut-sebut telah melakukan plagiarisme hingga 2 kali. Selain Dan Brown, Hellen Keller penulis cerita pendek The Frost King pada tahun 1982 juga dituduh telah menjiplak karya Margaret T. Canby yaitu The Frost Fairies. Tak hanya mereka berdua yang terlibat kasus plagiarisme, James A. Mackay, seorang ahli sejarah Skotlandia bahkan sampai 2 kali ia dipaksa menarik kembali semua buku ciptaannya, yakni biografi Alexander Graham Bell yang ditulis tahun 1988 dengan alasan ia menyalin sebuah buku dari tahun 1973. Lalu biografi John Paul Jones pada tahun 1999. Ada juga karyanya yang dituduh memplagiat yaitu biografi Mary Queen of Scots, Andrew Carnegie, dan Sir William Wallace. Bahkan mantan presisen AS, Jimmy Carter juga tak luput dari tuduhan tindakan palagiarisme. Ia dituduh oleh seorang mantan diplomat Timur Tengah, Dennis Ross telah menerbitkan peta-peta Ross dalam buku Carter Palestine: Peace, Not Apartheid tanpa izin atau memberi sumber. (id.wikipedia.org).

Banyak alasan orang melakukan tindakan plagiarisme, mulai dari hal yang sepele sampai hal yang cukup rumit. Berikut beberapa penyebab mengapa orang-orang lebih memilih melakukan cari instant dengan memplagiat hasil karya orang lain dan mengakui sebagai ciptaannya daripada harus membuat sendiri yang sesungguhnya itu bisa membuat kita bangga akan hasil pemikiran sendiri. Pertama adalah faktor malas.Yap, pasti semua orang mempunyai sifat manusiawi ini. Tugas yang menumpuk dan deadline yang ketat membuat orang lebih memilih jalan pintas. Biasanya dengan melakukan copy-paste dari pekerjaan teman ataupun hasil browsing di internet. Kedua adalah kurangnya rasa percaya diri. Seseorang sering merasa takut atau bahkan malu untuk sekedar mengeluarkan ide atau gagasannya karena mereka beranggapan bahwa ide atau gagasan mereka konyol dan tidak layak diterima oleh masyarakat luas. Ketiga adalah masih lemahnya etika yang tertanam di masyarakat. Disini yang dimaksud etika seperti sudah tidak adanya rasa malu apabila ketahuan melakukan tindakan plagiarisme. Keempat adalah rendahnya rasa saling menghargai dan kasihan terhadap sesama. Tindakan plagiarisme dapat dicegah jika kita mempunyai rasa saling menghargai terhadap orang lain dengan tidak memplagiat hasil karyanya. Kelima adalah demi mendapat nilai bagus orang rela melakukan apapun. Begitulah kira-kira kata orang-orang zaman sekarang. Orang rela melakukan apapun demi nilai bagus akibatnya orang juga rela memplagiat atau menjiplak karya orang lain dan mengakuinya sebagai hasil dari buah pemikirannya. Keenam adalah faktor budaya. Maksudnya karena terlalu banyak dan terlalu sering orang melakukan plagiarisme, tindakan itu jadi lazim dan

(5)

membudaya di kalangan masyarakat luas. Ketujuh adalah semakin canggih teknologi. Zaman sekarang hampir semua pekerjaan manusia dipermudah dengan adanya teknologi. Mulai dari membantu tugas kuliah sampai membersihkan rumah bisa dilakukan dengan kecanggihan teknologi. Hal itu pula yang membuat manusia menjadi malas untuk melakukan aktifitas, contoh saja mengerjakan tugas kuliah, karena sekarang ada internet yang memuat banyak informasi yang kita mau. Kita bisa seenaknya mengcopy-paste karya dari orang lain lalu mengakuinya sebagai hasil pemikiran kita sendiri. Maka tugas kuliah dengan deadline ketatpun dapat terselesaikan. Dan Kedelapan adalah hukuman atau sanksi yang berlaku kurang ditegaskan. Perlindungan terhadap hak paten dan juga hukum terkait tindakan plagiat di Indonesia masih lemah. Masih banyak penyebab-penyebab lain yang membuat orang sampai saat ini masih melakukan tindakan plagiarisme.

Korupsi adalah suatu perbuatan dengan tujuan untuk memperkaya diri yang secara langsung merugikan perekonomian negara yang otomatis berdampak pada masyarakatnya. Korupsi adalah perbuatan berupan menerima suap; memanfaatkan jabatan untuk mengeruk keuntungan secara tidak sah (Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Apollo,

Surabaya, 1997). Koruptor adalah pelaku korupsi, orang yang suka melakukan korupsi

(Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Apollo, Surabaya, 1997). Penyebab orang melakukan korupsi antara lain: tidak ada hukuman yang tegas, rendahnya pendidikan, melemahnya moral dan etika dalam masyarakat, angka kemiskinan yang meningkat, sumber daya manusia yang rendah, dan masih banyak lagi alasan-alasan orang untuk melakukan tindakan korupsi.

Bermacam-macam praktik plagiarisme yang sudah sering kita dengar dan lihat. Contoh saja novelis yang menjiplak karya novelis lain, siswa yang mencontek, mahasiswa yang mengcopy-paste makalah dari internet tanpa memberitahu sumbernya, hingga guru yang lulus dengan ijazah palsu (baca: membeli ijazah). Mempergunakan karya atau hasil pemikiran orang lain dengan lancang atau tanpa seizin pemiliknya itu sudah dapat digolongkan sebagai praktik pencurian. Tindakan plagiarisme ini hampir sama dengan makna dari korupsi yakni mengeruk keuntungan secara tidak sah dari orang lain atau bahkan Negara. Apalagi perilaku guru sebagai pengajar yang seharusnya memberi contoh yang baik kepada muridnya melalui lulus dengan terhormat (baca: benar-benar sekolah dan mendapat ijazah asli). Bukannya malah berperilaku curang (baca: beli ijazah/plagiat ijazah) demi diterima sebagai pegawai negeri misalnya. Melihat contoh-contoh yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa plagiarisme merupakan salah satu dari praktik korupsi.

(6)

Di negara Indonesia, praktik plagiarisme sudah sangat banyak terjadi. Yang lebih memalukan lagi adalah praktik ini sudah merambah ke dunia akademis. Anak-anak yang diharapkan dapat membawa bangsa Indonesia agar lebih maju tidak jarang melakukan tindakan plagiarisme. Plagiarisme merupakan suatu upaya pembodohan terhadap generasi penerus bangsa ini. Keuntungan yang didapat pelaku tidaklah menjanjikan, malahan hanya bersifat sementara. Sebagai contoh, ada seorang mahasiswa yang sangat ingin menyelesaikan kuliahnya dengan IPK yang tinggi, maka berbagai cara pun ia lakukan. Pada saat ia diberi tugas membuat makalah oleh dosen, ia melakukan copy-paste dari karya orang lain di internet tanpa memberi sumber agar dikira makalah tersebut hasil pemikirannya sendiri dan agar ia mendapat nilai yang bagus. Pada saat skripsi pun ia juga melakukan hal tersebut. Pada saat bekerja ketika ia diminta untuk melakukan sesuatu sesuai bidangnya sewaktu kuliah ia mengaku tidak bisa karena selama ini ia tidak pernah sungguh-sungguh belajar melainkan hanya mengandalkan internet dan karya orang lain sebagai sumber. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa tindakan plagiarisme tidak menghasilkan sesuatu yang menjanjikan dan hanya bersifat sementara.

Meskipun berbagai dampak negatif dari plagiarisme yang dapat dilihat, namun pada kenyataanya plagiarisme masih tetap ada di lingkungan akademis. Hal ini akan menodai reputasi akademis itu sendiri. Bahkan tindakan ini dilakukan oleh orang yang berada dalam dunia pendidikan mulai dari peserta didik sampai pimpinan tertinggi di lembaga tersebut yang memalsukan ijazah, sungguh memalukan. Peristiwa tersebut sekarang seakan telah berkembang dan menjadi budaya di kalangan masyarakat.Semakin hari plagiarisme bukannya semakin musnah malah semakin banyak hampir di seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut tidak luput dari adanya bantuan yang memfasilitasi praktik ini.

Menjiplak atau menyontek hasil pekerjaan orang lain kini menjadi pelanggaran yang dianggap biasa oleh kebanyakan pelajar. Menyontek sebenarnya tidak akan terjadi apabila pelajar memahami dengan baik apa arti penting dari pendidikan. Perilaku ini menjadi masalah utama pendidikan yang belum berubah sejak beberapa tahun terakhir. Dan masih menjadi budaya bagi kebanyakan pelajar di Indonesia. Sehingga, sejujurnya yang harus dilakukan institusi (sekolah dan perguruan tinggi) saat ini bukanlah bagaimana menciptakan sistem pengawasan yang ketat tetapi bagaimana memunculkan rasa sadar terhadap pentingnya menuntut ilmu.

Praktik plagiarisme ternyata juga terjadi di lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh seorang mahasiswa Universitas Airlangga prodi X yang bernama Y mendapat tugas untuk

(7)

mengerjakan LKM (lembar kerja mahasiswa). Disebabkan rasa malas yang tinggi pun yang akhirnya membuat Y meminjam LKM mahasiwa lain yang bernama V dari prodi L kemudian menconteknya. Karena ia berpikir jika ia meminjam dari prodi lain tidak akan ketahuan bahwa ia mencontek. Kasus lain, saat UTS (ujian tengah semester) berlangsung, beberapa mahasiswa dari prodi M bekerja sama yaitu dengan memplagiat atau menyalin jawaban dari masing-masing anak.

Masyarakat, khususnya pelajar, hendaknya menyadari bahwa kebiasaan memplagiat pekerjaan orang lain malah akan merugikan diri sendiri, terlebih lagi orang yang mempunyai karya itu. Kebebasan untuk berpikir dan mengeluarkan pendapat dirasa semakin sulit. Selain itu, tidak ada lagi penghargaan terhadap karya asli atau hak paten terhadap karya seseorang karena lunturnya moral pelajar saat ini. Hasil karya yang monoton akan semakin sering kita jumpai di masa yang akan dating karena sulit sekali untuk menemukan karya yang lebih baik dari sebelumnya apabila plagiarisme masih terus berlangsung dan tidak dihapuskan.

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk setidaknya meminimalisasikan atau bahkan menghilangkan tindakan plagiarisme yang menimbulkan perilaku korupsi. Pertama adalah menanamkan pendidikan moral, etika, dan karakter sejak dini karena jika 3 hal itu telah tertanam maka kenginginan untuk melakukan plagiarisme akan sirna, serta seseorang yang bermoral baik pasti akan menghargai hasil karya orang lain. Penanaman moral, etika, dan karakter terhadap seseorang bisa dilakukan melalui pendidikan pancasila. Pendidikan pancasila juga mampu menjadi solusi bagi masalah korupsi di negeri kita ini, kurangnya pemahaman pancasila teah mengakibatkan korupsi merajalela di segala lini kehidupan dari kelas bawah hingga kelas atas seperti para petinggi Negara yang tentunya hal tersebut dapat mengakibatkan tindakan plagiarisme. Kedua mempelajari bagaimana cara penulisan karya ilmiah yang benar agar kita bisa memanfaatkan teknologi dengan benar dan membuat karya ilmiah yang baik tanpa perlu memplagiat karya milik orang lain. Ketiga adalah melakukan melakukan publikasi karya ilmiah. Agar publik bisa menilai mana karya asli dan mana karya hasil plagiat. Sehingga secara bertahap upaya-upaya tersebut akan mencerabut sikap koruptif dan membangkitkan kesadaran akademis serta sosial di kalangan pelajar (bacazulfikhar.blogspot.com). Keempat adalah sanksi yang tegas bagi para pelaku plagiarisme. Hal ini dilakukan supaya para pelaku jera dengan perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi.

Kesimpulannya adalah pendidikan pancasila lebih banyak berfungsi sebagai solusi bagi permasalahan di indonesia, seperti tindakan plagiarisme yang berujung pada korupsi. Karena

(8)

pancasila merupakan ideologi yang sudah dirancang dan dipikirkan dengan sangat baik oleh para pendiri bangsa. Masalah yang timbul dari salah mengartikan pancasila dapat diminimalkan dengan pemberian pemahaman yang baik dan dukungan dari keluarga, masyarakat, dan lingkungan serta keadaran diri masing-masing dalam pengamalan pancasila.

Daftar Pustaka

http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/28/5-jenis-plagiarisme/ http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme http://bacazulfikhar.blogspot.com/2012/06/plagiarisme-di-kalangan-mahasiswa.html http://www.depkumham.go.id/produk-hukum/undang-undang/156-undang-undang-nomor-19-tahun-2002-tentang-hak-cipta

Figur

Memperbarui...

Related subjects :