• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN FENOMENOLOGI

N/A
N/A
Sri Wahyuni Nur

Academic year: 2023

Membagikan "PENELITIAN FENOMENOLOGI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 1 PENELITIAN FENOMENOLOGI

A. Pengertian Penelitian Fenomenologi

Penelitian fenomenologis adalah riset yang memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi pengalaman dan persepsi sensorik yang berbeda dengan persepsi abstrak dari topik penelitian tentang fenomena yang diteliti serta pembentukan pemahaman berdasarkan pengalaman dan persepsi ini. Penelitian fenomenologi ditekankan pada subjektifitas pengalaman hidup manusia, sebagai metode yang merupakan penggalian langsung pengalaman yang disadari dan menggambarkan fenomena yang ada tanpa terpengaruh oleh teori sebelumnya dan mungkin tida perlu menguji tentang dugaan atau anggapan sebelumnya (Streubert & Carpenter, 2011).

Penelitian fenomena ini pertama dikemukakan oleh Edmund Hursserl (1859- 1938) seorang filsuf Jerman. Pada mulanya penelitian ini bermula dari penelitian sosial. Ada beberapa pengertian tentang fenomenologi menurut Hursserl diantaranya yaitu: (a) pengalaman subjektif atau fenomenologikal, (b) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Hal ini dapat dipahami bahwa penelitian fenomenolgi merupakan pandangan berfikir yang menekankan pada pengalaman-pengalaman manusia dan bagaimana manusia menginterpretasikan pengalamannya.

Adapun pengertian penelitian fenomenologi menurut para ahli antara lan : 1. Teori Fenomenologi menurut Edmund Husserl

Fenomenologi seperti yang kita pelajari kini sebenarnya merupakan pengembangan visi Edmund Husserl ketika meluncurkan buku Logical Investigations (1901). Itupun tanpa mengabaikan para pemrakarsa intensionalitas (kesadaran selalu disengaja atau diarahkan). Dalam buku inilah Husserl merumuskan fenomenologi klasik yang pada waktu itu dianggap sebagai psikologi deskriptif (kadang disebut sebagai fenomenologi realis).

Fenomenologi menurut Husserl berdasarkan pada premis bahwa realitas dunia yang terdiri dari atas benda-benda atau peristiwa merupaka fenomena yang dapat dirasakan atau dipahami melalui dan dalam kesadaran manusia. Artinya, fenomenologi merupakan studi tentang bagaimana kita memahami pengalaman orang lain, dan mempelajari struktur pengalaman yang sadar dari orang lain, baik individu maupun kelompok masyarakat. Pengalaman tersebut bersumber dari titik pandang subjektif atau pengalaman orang pertama yang mengalami

(2)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 2 pengalaman secara intensionalitas. Dengan fenomenologi, kita dapat mengarahkan analisis kita pada kondisi yang memungkinkan intensionalitas, kondisi yang melibatkan keterampilan dan kebiasaan motorik hingga ke praktik- praktik kehidupan manusia berdasarkan latar belakang sosial sampai kepada penggunaan bahasa sekalipun (Moran, 2000). Oleh karena itu, meurut Husserl, fenomenologi membimbing kita agar dapat memberikan dan memahami makna terhadap pengalaman orang lain yang bersifat intersubjektivitas. Dalam bahasa Van Manen (1990), dari fenomenologi pula kita dapat menggambarkan bagaimana seseorang berorientasi kepada pengalaman hidup, dan selalu mempertanyakan cara bagaimana dia mengalami dunia, memuaskan rasa ingin tahu dia tentang dunia dimana kita semua hidup sebagai manusia.

2. Teori Fenomenologi menurut Alfred Schutz Schutz

Schutz mengubah proyek filosofis Husserl menuju cara-cara anggota umum masyarakat mencermati kehidupan sehari-hari mereka dengan pemahaman etnometodologis. Schutz menegaskan ilmu-ilmu sosial mestinya lebih memusatkan perhatiannya pada cara-cara dunia kehidupan, yaitu dunia yang diterima apa adanya oleh setiap individu, dialami oleh para anggotanya.

Pendekatan Alfred Schutz berbeda dengan pendekatan Husserl, bahwa pendekatan fenomenologi Schutz terhadap realitas sosial dapat dicirikan pada imanen dan duniawi. Schutz tidak terlalu membahas tentang mengungkap karakter tertentu dari suatu gejala melainkan sebagai konsep sejarah sosial dalam arus kehidupan sosial yang sadar dan riil, juga memahami dunia sosial sebagai realitas yang diinterpretasikan secara menyeluruh. Fenomenologi Schutz memandang dunia kehidupan sehari-hari ialah realitas fundamental dan terpenting manusia yang dikonstruksikan sebagai intersubjektivitas.

Intersubjektivitas adalah ketentuan dunia nyata dan tidak memerlukan eksplikasi fundamental.Bahwa kita menanggapi interaksi sosial dan hidup dalam dunia nyata yang sudah terbentuk sebagai komunitas. Schutz merupakan orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Schutz melihat secara jelas implikasi sosiologisnya didalam analisis ilmu pengetahuan, berbagai gagasan dan kesadaran. Schutz tidak hanya menjelaskan dunia sosial semata, melainkan menjelaskan berbagai hal mendasar dari konsep ilmu pengetahuan serta berbagai model teoritis dari realitas yang ada. Dalam pandangan Schutz memang ada berbagai ragam realitas termasuk didalamnya

(3)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 3 dunia mimpi dan ketidakwarasan. Tetapi realitas yang tertinggi itu adalah dunia keseharian yang memiliki sifat intersubyektif yang disebutnya sebagai the life world. Menurut Schutz ada enam karakteristik yang sangat mendasar dari the life world ini, yaitu:

1. Wide-awakeness, ada unsur dari kesadaran yang berarti sadar sepenuhnya.

2. Reality, orang yakin akan eksistensi dunia.

3. Dalam dunia keseharian orang-orang berinteraksi.

4. Pengelaman dari seseorang merupakan totalitas dari pengalaman dia sendiri.

5. Dunia intersubyektif dicirikan terjadinya komunikasi dan tindakan sosial.

6. Adanya perspektif waktu dalam masyarakat.

3. Teori Fenomenologi menurut Peter L.Berger

Fenomenologi menurut Peter L. Berger adalah semua yang kita tahu dan ada, hanyalah sebatas konstruksi sosial, konstruksi sosial atas kenyataan.Sosiologi Fenomenologis adalah jenis sosiologi yang berasal dari filsafat fenomenologis.

Tujuan utama sosiologi jenis ini adalah untuk analisis dan penjelasan mengenai kehidupan sehari-hari dan kondisi kesadaran yang diasosiasikan dengannya.Studi ini dilakukan dengan mengabaikan penilaianpenilaian tentang struktur sosial, yaitu dengan tidak membuat asumsi-asumsi tentang eksistensi atau kekuatan sebab-akibat dari struktur sosial. Para ahli fenomenologi berargumen bahwa meskipun orang secara umum tidak pernah mengapresiasi kehidupan sehari-hari, analisis fenomenologis harus menunjukkan bagaimana semua itu terjadi.Sosiologi Fenomenologis adalah bagian dari gerakan mengkritisi metode-metode positivis dalam sosiologi. Menurut Peter L. Berger cara kerja Fenomenologi memaknai sebuah objek yang berupa ide, nilai, budaya dan norma yang dilihat sebagai pusat organisasi yang mensosialisasikan maknanya pada masing-masing anggotanya. Cara kerjanya dibagi atas 3 bagian, yaitu:

1. Eksternalisasi, yaitu individu mempengaruhi masyarakat karena ia bagian dari masyarakat itu sendir

2. Objektifitas, yaitu proses dimana orang-orang dapat menangkap dan memahami realitas, individu memaknakan kembali nilai dalam kelompoknya

(4)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 4 3. Internalisasi, yaitu masyarakat mempengaruhi individu di dalamnya.

Peresapan kembali realitas tersebut oleh manusia dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif.

Fase eksternalisasi dan objektivasi merupakan pembentukan masyarakat yang disebut sebagai sosialisasi primer, yaitu saat dimana seseorang berusaha mendapatkan dan membangun tempatnya dalam masyarakat.

B. Akar Penelitian Fenomenologi

Perkembangan fenomenologi dimulai sekitar dekade pertama abad ke-20 . Gerakan filosofis ini terdiri dari tiga fase : ( 1 ) preparatory ; ( 2 ) German; dan ( 3 ) French. Berikut penjelasan tema umum dari fenomenologi dalam konteks ketiga fase tersebut (Streubert & Carpenter, 2011).

1. Preparatory Phase

Preparatory phase (tahap persiapan) didominasi oleh Franz Brentano (1838- 1917) dan Carl Stumpf (1848-1936). Stumpf adalah mahasiswa terkemuka pertama Brentano, dan melalui karyanya, menunjukkan kekuatan ilmiah fenomenologi. Klarifikasi konsep intensionalitas adalah fokus utama pada tahap ini (Spiegelberg, 1965, dalam Streubert & Carpenter, 2011). Intensionalitas berarti selalu memiliki kesadaran akan sesuatu. Merleau –Ponty (1956, dalam Streubert & Carpenter, 2003) menjelaskan " interior persepsi adalah hal yang mustahil tanpa persepsi eksterior, bahwa dunia sebagai koneksi fenomena yang diantisipasi dalam kesadaran saya dan cara bagi saya untuk menyadari diri dalam kesadaran".

2. German Phase

Edmund Husserl (1857-1938) dan Martin Heidegger (1889-1976) adalah yang mendominasi selama fase Jerman, yang merupakan fase kedua perkembangan fenomenologi. Husserl (1931, 1965) meyakini filosofi harus menjadi ilmu yang kuat yang akan mengembalikan hubungan dengan memperhatikan manusia secara lebih dalam dan fenomenologi harus menjadi dasar/fondasi bagi semua filosofi dan ilmu pengetahuan. Menurut Spiegelberg (1965, dalam Streubert &

Carpenter, 2011). Heidegger memiliki kesamaan dengan langkah-langkah Husserl yang karyanya mungkin merupakan hasil langsung dari Husserl. Konsep

(5)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 5 esensi, intuisi, dan pengurangan fenomenologi dikembangkan selama fase Jerman.

3. French Phase

Gabriel Marcel (1889-1973), Jean – Paul Sartre (1905-1980), dan Maurice Merleu – Ponty (1905 – 1980) adalah yang mendominasi pada fase Perancis yang merupakan fase ketiga perkembangan fenomenologis. Konsep utama yang dikembangkan selama fase ini adalah perwujudan dan being-in-the-world.

Konsep konsep ini mengacu pada keyakinan bahwa semua tindakan dibangun di atas pondasi persepsi atau kesadaran akan beberapa fenomena. Pengalaman hidup, diberikan di dunia yang dirasakan, harus dijelaskan ( Merleau -Ponty , 1956, dalam Streubert & Carpenter, 2011).

C. Tujuan Penelitian Fenomenologi

Rose, Beeby, & Parker (1995, dalam Streubert & Carpenter, 2011) menyatakan tujuan dari penelitian dengan pendekatan fenomenologi adalah untuk mengembangkan makna pengalaman hidup dari suatu fenomena dalam mencari kesatuan makna dengan mengidentifikasi inti fenomena dan menggambarkan secara akurat dalam pengalaman hidup sehari-hari.

Metode investigasi yang sistematis melalui pendekatan penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi penting untuk disiplin keperawatan. Praktek keperawatan profesional sangat erat kaitannya dengan pengalaman hidup seseorang.

Fenomenologi mengarahkan ke bahasa persepsi pengalaman manusia dengan semua jenis fenomena, dengan pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengeksplorasi dan menjelaskan fenomena penting pada disiplin ilmu keperawatan (Streubert & Carpenter, 2011).

D. Ciri Atau Karakteristik Utama Penelitian Fenomenologi Karakteristik utama dalam penelitian fenomenologi diantaranya:

1. Menggambarkan makna dari pengalaman yang telah dijalani oleh seseorang atau beberapa orang sehubungan dengan konsep tertentu.

2. Fenomenologi tidak tertarik pada suatu penjelasan, melainkan berkaitan dengan aspek esensial dari pengalaman hidup.

3. Fenomenologi merupakan studi sistematis tentang subjektivitas.

(6)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 6 4. Fenomenologi berupaya untuk menggambarkan apa yang mendasari cara

orang biasanya menggambarkan pengalaman.

5. Fenomenologi mempelajari koeksistensi antara seseorang dalam suatu kelompok.

6. Fenomenologi memiliki reduksi transcendental.

7. Fenomenologi secara metodis mengarah pada penemuan dan analisis hal-hal atau objek penelitian di dunia.

8. Fenomenologi berusaha untuk memahami bagaimana orang membangun makna sesuatu.

9. Kebenaran kritis tentang realitas didasarkan pada pengalaman orang-orang.

10. Peneliti dan informan penelitian seringkali dianggap sebagai partisipan sekunder .

E. Jenis-Jenis Penelitian Fenomenologi

Spiegelberg (1965, 1975 dalam Streubert & Carpenter, 2011) mengidentifikasi jenis penyelidikan fenomenologis. Keenam jenis tersebut adalah (1) descriptive phenomenology; (2) phenomenology of essences; (3) phenomenology of apperances;

(4) constitutive phenomenology; (5) reductive phenomenology; dan (6) hermeneutic phenomenology.

1. Descriptive Phenomenology

Fenomenologi deskriptif melibatkan "eksplorasi langsung, analisis, dan deskripsi fenomena tertentu, sebebas mungkin dari pengujian pengandaian, bertujuan mempresentasikan intuitif maksimum”. Fenomenologi deskriptif merangsang persepsi kita dari akan pengalaman hidup serta menekankan kekayaan, luasnya, dan dalamnya pengalaman-pengalaman (Spiegelberg, 1975). Spiegelberg (1965, 1975) mengidentifikasi tiga langkah untuk fenomenologi deskriptif yaitu : (1) intuiting; (2) analyzing; dan (3) describing.

Intuiting merupakan langkah awal peneliti untuk memulai berinteraksi dan memahami fenomena yang diteliti (Streubert & Carpenter, 2011). Peneliti menggali fenomena yang ingin diketahui dari partisipan mengenai pengalaman partisipan. Pada tahap ini peneliti menghindari kritik, evaluasi atau opini tentang hal-hal yang disampaikan oleh partisipan dan menekankan pada fenomena yang diteliti, sehingga mendapat gambaran yang sebenarnya dari partisipan.

(7)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 7 Pada langkah ini, peneliti berperan sebagai instrument dalam proses pengumpulan data.

Analyzing adalah tahap kedua, pada tahap ini peneliti mengidentifikasi arti dari fenomena yang telah digali dan mengesplorasi hubungan serta keterkaitan antara data dengan fenomena yang ada (Streubert & Carpenter, 2011). Data yang penting dianalisis secara seksama dengan mengutip pernyataan yang signifikan, mengkategorikan dan menggali intisari data. Dengan demikian peneliti mendapatkan data yang diperlukan untuk memastikan kemurnian dan gambaran yang akurat serta memperoleh pemahaman terhadap fenomena yang diteliti.

Langkah ketiga adalah phenomenological describing. Peneliti mengkomunikasikan dan memberikan gambaran tertulis dari elemen kritikal yang didasarkan pada pengklasifikasian dan pengelompokan fenomena (Streubert & Carpenter, 2011).

2. Phenomenology of Essences

Phenomenology of essences melibatkan probing melalui data untuk mencari tema umum atau esensi dan membangun pola hubungan bersama oleh fenomena tertentu. Free imaginative variation, digunakan untuk menangkap hubungan penting antara esensi-esensi, melibatkan studi yang cermat dari contoh konkret yang diberikan oleh pengalaman-pengalaman peserta dan variasi sistematis dari contoh-contoh dalam imajinasi. Dalam hal ini, menjadi mungkin untuk mendapatkan wawasan ke dalam struktur penting dan hubungan antara fenomena. Probing untuk memberikan esensi rasa untuk apa yang penting dan apa yang tanpa sengaja ada dalam deskripsi fenomenologis (Spiegelberg, 1975). Peneliti mengikuti langkah-langkah dari intuiting, analyzing, dan describing. Menurut Spiegelberg (1975),

"Fenomenologi dalam tahap deskriptif dapat merangsang persepsi kita untuk kekayaan pengalaman kita secara lebih luas dan mendalam" (Streubert &

Carpenter, 2011).

3. Phenomenology of Apperances

Phenomenology of apperances melibatkan pemberian perhatian pada cara fenomena muncul. Melihat cara fenomena muncul, peneliti memberikan perhatian khusus pada cara yang berbeda dari sebuah objek itu sendiri.

(8)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 8 Phenomenology of apperances memfokuskan perhatian pada fenomena yang diungkapkan melalui keberadaan data (Streubert & Carpenter, 2011).

4. Constitutive Phenomenology

Constitutive phenomenology mempelajari fenomena seperti mereka menjadi terbangun atau "constituted" dalam kesadaran kita. Constitutive phenomenology "berarti proses di mana fenomena 'terbentuk' dalam kesadaran kita, seperti yang kita maju dari kesan pertama untuk gambaran penuh struktur mereka" (Spiegelberg, 1975). Menurut Spiegelberg (1975), fenomenologi konstitutif " dapat mengembangkan rasa untuk petualangan dinamis dalam hubungan kita dengan dunia " (Streubert & Carpenter, 2011).

5. Reductive Phenomenology

Fenomenologi reduktif, meskipun ditujukan sebagai proses yang terpisah, terjadi bersamaan pada seluruh penyelidikan fenomenologis. Peneliti terus membahas bias pribadi, asumsi, dan prasangka atau menyisihkan keyakinan ini untuk memperoleh gambaran paling murni dari fenomena yang sedang dalam investigasi (Streubert & Carpenter, 2011).

Langkah ini sangat penting untuk mempertahankan objektivitas dalam metode fenomenologi. Misalnya, dalam sebuah penelitian menyelidiki arti kualitas hidup bagi individu dengan (insulin-dependent) diabetes mellitus tipe 1, peneliti memulai penelitian dengan proses reduktif. Peneliti mengidentifikasi semua prasangka, bias, atau asumsinya tentang kualitas hidup dan rasanya memiliki penyakit diabetes. Proses ini melibatkan sebuah pemeriksaan diri yang kritis dari keyakinan pribadi dan pengakuan atas pemahaman peneliti telah diperoleh dari pengalaman. Peneliti mengambil semua hal yang dia tahu tentang fenomena dan menyimpannya atau mengesampingkannya dalam upaya untuk menjaga apa yang sudah diketahui terpisah dari pengalaman hidup yang dijelaskan oleh peserta (Streubert & Carpenter, 2011).

Fenomenologi reduktif sangat penting jika peneliti ingin mencapai deskripsi yang murni. Proses reduktif juga merupakan dasar untuk menunda setiap tinjauan pustaka sampai peneliti telah menganalisis data. Peneliti harus selalu menjaga secara terpisah dari deskripsi peserta dengan apa yang peneliti tahu atau percayai tentang fenomena yang diteliti. Oleh karena itu, menunda tinjauan literatur sampai analisis data selesai memfasilitasi reduksi (pengurangan) fenomenologi (Streubert & Carpenter, 2011).

(9)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 9 6. Hermeneutic phenomenology

Kerangka interpretatif dalam fenomenologi digunakan untuk mencari tahu hubungan dan makna bahwa pengetahuan dan konteks terkait satu sama lain (Lincoln & Guba, 1985). Pendekatan fenomenologis hermeneutik adalah tentang pentingnya filosofi dari alam dalam memahami fenomena tertentu dan interpretasi ilmiah fenomena yang muncul dalam teks atau kata-kata tertulis.

Hermeneutika sebagai sebuah pendekatan interpretatif didasarkan pada pekerjaan dari Ricoeur (1976), Heidegger (1962), dan Gadamer (1976).

Metodologi ini memungkinkan untuk meningkatkan kepekaan terhadapa kesadaran manusia dan cara mereka being-in-the-world (Dreyfus, 1991 dalam Streubert & Carpenter, 2003).

F. Langkah-Langkah Metode Penelitian Fenomenologi

Langkah-langkah penelitian dengan menggunaan fenomenologi Husserl Walaupun Spiegelberg (1978) telah memberikan gambaran secara mendetail tentang elemen-elemen fenomenologi, gambaran tersebut belum merupakan langkah- langkah terstruktur yang mudah diikuti oleh seorang peneliti pemula. Carpenter (1999) mencoba memberikan langkah-langkah terstruktur yang mudah untuk diikuti dengan tetap mengunakan fenomenologi Husserl dan elemen-elemen fenomenologi menurut Spiegelberg sebagai dasar. Langkah-langkah tersebut meliputi :

1. Menentukan fenomena yang ingin diteliti dan peran peneliti dalam penelitian tersebut. Menentukan fenomena yang menjadi fokus penelitian memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain keefektifan fenomenologi Husserl untuk menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena (Strauss &

Corbin, 1998). Selanjutnya, peran peneliti juga harus jelas. Sesuai dengan filosofi fenomenologi Husserl, peneliti adalah seseorang yang mampu mentransformasikan data yang berasal dari partisipan menjadi gambaran yang murni dan utuh dari fenomena.

2. Pengumpulan data Proses pengumpulan data meliputi proses pemilihan partisipan atau sampel dan metode pengumpulan data. Pada umumnya, fenomenologi menggunakan teknik purposeful sampling, di mana setiap orang yang mempunyai pengalaman tentang fenomena yang sedang diteliti berhak untuk menjadi partisipan (Carpenter, 1999). Teknik pengumpulan data yang sering digunakan adalah wawancara. Wawancara yang dilakukan dapat

(10)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 10 berbentuk wawancara terbuka atau semi-terstruktur. Proses wawancara direkam dan pada umumnya dilakukan lebih dari satu kali untuk melengkapi atau memvalidasi data yang diperlukan.

3. Perlakuan dan Analisis data Analisis data didahului dengan proses transkripsi hasil wawancara secara verbatim atau apa adanya. Setiap transkrip diberi identitas, diperiksa keakuratannya, dan dianalisis. Terdapat bermacam-macam prosedur analisis yang dianggap cocok dan sesuai, seperti metode Colaizzi (1978) yang meliputi membaca transkrip berulang-ulang untuk dapat menyatu dengan data, mengekstrak pernyataan-pernyataan spesifik, memformulasi makna dari pernyataan spesifik, memformulasi tema dan kluster tema, memformulasi deskripsi lengkap dari fenomena dan memvalidasi deskripsi lengkap dengan cara memberikan deskripsi kepada partisipan.

4. Studi literatur Setelah proses analisis data selesai maka peneliti melakukan studi literatur secara mendalam untuk mengetahui hubungan dan posisi hasil penelitian terhadap hasil-hasil penelitian yang telah ada.

5. Mempertahankan kebenaran hasil penelitian Seperti halnya penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif juga menuntut adanya validitas dan reliabilitas.

Dalam penelitian kualitatif pada umumnya validitas dan reliabilitas dikenal sebagai credibility, auditability, and fittingness (Guba and Lincoln, 1982;

Leininger, 1994; Streubert, 1995).

6. Petimbangan etik Pertimbangan etik yang harus diperhatikan meliputi pemberian informasi tentang sifat penelitian, keikutsertaan yang bersifat sukarela, ijin untuk merekam interview, kerahasiaan identitas partisipan baik pada rekaman, transkrip, maupun pada deskripsi lengkap.

G. Kekurangan dan Kelebihan Metode Fenomenologi Þ Kelebihan Penelitian Fenomenologi

Kelebihan mempergunakan metode penelitian fenomenologi diantaranya Perspektif Unik, Ada beberapa nilai yang dapat ditemukan dalam memfokuskan penelitian pada bagaimana orang memandang suatu peristiwa atau fenomena, dari pada hanya bagaimana fenomena itu ada dalam ruang hampa. Manfaat terbesar dari penelitian fenomenologi adalah kenyataan bahwa hal itu dapat memberi kita pemahaman yang mendalam dan terperinci tentang satu fenomena. Kaya Data, Karena data diperoleh dari cukup banyak

(11)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 11 individu, maka data yang dapat diterima seseorang melalui penelitian fenomenologi lebih kaya dan mengesankan. Hal tersebut merupakan bentuk penelitian yang memungkinkan pendekatan yang benar- benar unik untuk memahami fenomena.

Þ Kekurangan Penelitian Fenomenologi

Kekurangan mempergunakan metode penelitian fenomenologi diantaranya;

Subjektivitas, Menetapkan reliabilitas dan validitas dalam penelitian fenomenologi dapat menjadi tantangan tersendiri, sehingga ada kecenderungan penelitian bersifat subjektif. Bias, Bias yang ditimbulkan peneliti dapat mempengaruhi penelitian, dan ini terutama berlaku pada penelitian fenomenologis. Presentasi hasil, Mempresentasikan temuan penelitian ini lebih sulit karena hasil penelitian dapat terbukti sangat kualitatif, yang membuatnya sulit untuk menyajikan temuan dengan cara yang dianggap berguna oleh praktisi.

H. Elemen Dan Interpretasi Metode Fenomenologi 1. Peran Peneliti

Peneliti memiliki peran untuk mentransform informasi. Reinharz (1983) menyatakan ada 5 langkah menstransform yaitu :

a) Pengalaman partisipan ditrasformasikan ke dalam Bahasa.

b) Peneliti mentransformasikan apa yang dia lihatdan dengar kedalam pemahaman dari pengalaman partisipan.

c) Peneliti mentransformasikan apa yang dipahami tentang fenomena yang sedang diteliti ke dalam kategori konseptual yang merupakan esensi dari pengalaman partisipan.

d) Peneliti mentransformasikan esensi-esensi ini kedalah tulisan dokumen yang menagkap apa yang dipikirkan peneliti tetang pengalaman dan refleksi dari deskripsi dan tingkah laku partisipan.

e) Peneliti mentransformasikan dokumen tertulis tersebut ke dalam pemahaman yang dapat berfungsi untuk mengklarifikasi semua langkah-Langkah pendahuluan (Streubert & Carpenter, 2011).

2. Pengumpulan Data

Purposive sampling digunakan pada penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Dengan demikian informasi yang didapat lebih kaya dan

(12)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 12 mendalam. Peneliti menghubungi partisipan, ketika mereka sudah setuju untuk berpartisipasi, maka ditentukan tempat dan waktu pertemuannya. Saat pertama kali mewawancara, peneliti memberikan informed consent dan meminta izin untuk melakukan perekaman. Peneliti harus menolong partisipan menjelaskan pengalaman hidupnya tanpa memimpin diskusi. Gunakan pertanyaan open-ended dan pengklarifikasi pertanyaan agar partisipan dapat menjelaskan sesuatu lebih rinci atau detail. Selain perekaman, peneliti juga mencatat tindakan/momen tertentu dalam field notes. Pengumpulan data terus berlanjut sampai peneliti percaya saturasi data telah tercapai. Ketika tidak ditemukan tema-tema atau esensi baru dari partisipan (Streubert & Carpenter, 2011).

3. Analisis Data

Analisis data mengharuskan peneliti diam atau menjadi tenggelam dalam data.

Tujuan dari analisis data, menurut Banonis (1989), adalah untuk melestarikan keunikan pengalaman hidup masing-masing peserta sementara memungkinkan pemahaman tentang fenomena yang diselidiki. Ini dimulai dengan mendengarkan deskripsi lisan peserta dan diikuti dengan membaca dan membaca ulang transkrip atau tanggapan yang tertulis. Sebagai peneliti menjadi tenggelam dalam data, memungkinkan mereka mengidentifikasi dan mengekstrak pernyataan yang signifikan. Mereka kemudian dapat menuliskan temuan ini. Menangkap hubungan penting diantara pernyataan dan mempersiapkan deskripsi lengkap dari fenomena tersebut merupakan tahap akhir. Melalui variasi imajinatif bebas, peneliti membuat hubungan antara pernyataan yang diperoleh dalam proses wawancara. Penting untuk mengidentifikasi bagaimana pernyataan atau tema sentral muncul dan terhubung satu sama lain jika deskripsi terakhir sudah lengkap (Streubert &

Carpenter, 2011).

4. Tinjauan Pustaka

Tinjauan literatur/pustaka umumnya mengikuti analisis data. Alasan untuk menunda tinjauan literatur terkait dengan tujuan mencapai kemurnian deskripsi fenomena yang diselidiki. Semakin sedikit ide atau praduga peneliti memiliki tentang fenomena yang diselidiki, semakin kecil kemungkinan bias mereka akan mempengaruhi penelitian. Sebuah ulasan literatur secara sepintas mungkin dilakukan untuk memastikan perlunya penelitian dan kesesuaian

(13)

Sri Wahyuni Nur – A023231007 13 pemilihan metode. Setelah analisis data selesai, peneliti meninjau literatur untuk menempatkan temuan dalam konteks apa yang sudah diketahui tentang topik (Streubert & Carpenter, 2011).

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatifdengan studi fenomenologi. Peneliti menerapkanparadigma konstruktivis, sehingga peneliti memandang keadaan

Peneliti mengeksplorasi gambaran dinamika kepuasan hidup lansia penghuni Wisma Lansia “Harapan Asri” Semarang melalui penelitian kualitatif fenomenologi, dengan menggunakan

Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif, Tipe penelitian Kualitatif dan pendekatan fenomenologi yang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman individu dalam kasus ini,

Peneliti memilih pendekatan kualitatif karena memang sesuei dengan permasalahan penelitian, karena dengan pendekatan ini akan memungkinkan peneliti mempelajari pengalaman dan

Peneliti mengeksplorasi gambaran dinamika kepuasan hidup lansia penghuni Wisma Lansia “Harapan Asri” Semarang melalui penelitian kualitatif fenomenologi, dengan menggunakan

Ketidak jelasan konsep dalam suatu penelitian akan menimbulkan pengertian atau persepsi yang. berbeda dengan yang dimaksud oleh

Masalah tersebut diungkapkan oleh Sohn dkk 2017 yang menyatakan bahwa banyak peneliti kontemporer yang mengklaim menggunakan pendekatan fenomenologi tetapi pada kenyataanya mereka

Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman, persepsi, dan harapan pelanggan terkait dengan strategi pemasaran pengalaman yang