PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Perilaku Jujur melalui Metode Diskusi dan
Studi Kasus dalam Pembelajaran Akhlak Di Kelas VII D UPTD SMP Negeri 3
Haurgeulis
2024
OLEH:
MAMAT SUHENDI, S.Pd.I
Mamat Suhendi, S.Pd.I
i
PENILITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Perilaku Jujur melalui Metode Diskusi dan Studi Kasus dalam Pembelajaran
Akhlak
Di Kelas VII D UPTD SMP Negeri 3 Haurgeulis TAHUN PEMBELAJARAN 2023/2024
DISUSUN OLEH:
Nama : MAMAT SUHENDI, S.Pd.I NUPTK : 3144757659200063 No. SIAGA : 321226001684
Unit Kerja : UPTD SMP NEGERI 3 HAURGEULIS
PEMERINTAH KABUPATEN INDRAMAYU DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UPTD SMPNEGERI 3 HAURGEULIS
Jl. Jatimas 2 Blok 10 Ds. WanakayaKec.HaurgeulisKab. Indramayu 45264 E-mail : [email protected]
2023
ii
Penilitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Perilaku Jujur melalui Metode Diskusi dan Studi Kasus dalam
Pembelajaran Akhlak
Di Kelas VII D UPTD SMP Negeri 3 Haurgeulis
yang disusun oleh:
Nama : MAMAT SUHENDI, S.Pd.I.
NUPTK : 3144757659200063
Pekerjaan : Guru PAI
Tempat Mengajar : UPTD SMP Negeri 3 Haurgeulis Alamat Sekolah : Jl. Jatimas 2 Blok 10 Ds. Wanakaya
Telah diuji dalam seminar PTK yang diadakan pada di UPTD SMP Negeri 3 Haurgeulis pada hari Kamis tanggal 31 Agustus 2023 dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu karya ilmiah.
Mengetahui, Indramayu, 31 Agustus 2023
Kepala UPTD SMPN 3 Haurgeulis, Guru PAI,
MUTAKI ALI, S.Ag.,M.Pd.I. MAMAT SUHENDI, S.Pd.I, NIP. 19720628199903 1 004 NIP. -
Mamat Suhendi, S.Pd.I
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmatnya sehingga kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan di SMPN 3 Haurgeulis dalam upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) telah selesai dikerjakan dengan harapan agar proses pembelajaran yang dilaksanakan semakin berkualitas yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Penelitian tersebut berjudul Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Perilaku Jujur melalui Metode Diskusi dan Studi Kasus dalam Pembelajaran Akhlak Kelas VII D D UPTD SMP Negeri 3 Haurgeulis.
Penelitian tindakan ini menguji dan meneliti apakah penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari hasil penelitian yang diungkapkan ternyata Model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa daripada menggunakan model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan dalam pembelajaran.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekeliruan dalam penyusunan proposal ini yang disebabkan karena keterbatasan ilmu dari penulis sendiri, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk menambah ilmu pengetahuankhususnya bagi penulis sendiri dan demi perbaikan dalam penyusunan penelitian-penelitan selanjutnya.
Indramayu, Agustus2024
penulis
iv
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
SURAT PERNYATAAN HASIL KARYA SENDIRI... iii
DAFTAR ISI ... iv
ABSTRAK ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG MASALAH ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 4
C. TUJUAN PENELITIAN ... 5
D. MANFAAT PENELITIAN ... 5
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. HASIL BELAJAR ... 7
B. B.PROBLEM BASED LEARNING ... 7
C. BANGUN RUANG PRISMA DAN LIMAS ... 16
BAB III METODE PENELITIAN... 18
A. SUBJEK PENELITIAN ... 18
B. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN ... 18
C. DESKRIPSI PELAKSANAAN PTK ... 18
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
A. HASIL PENELITIAN ... 22
B. PEMBAHASAN ... 25
BAB VKESIMPULAN DAN SARAN ... 27
A. KESIMPULAN ... 27
B. SARAN ... 27
C. DAFTAR PUSTAKA ... 28 D. LAMPIRAN
Mamat Suhendi, S.Pd.I
v ABSTRAK
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan menerapkan model pembelajaraan berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pada Pokok Bahasan Perilaku Jujur Di Kelas VII D SMP N 3 Haurgeulis. Penelitian disusun sebagai bentuk laporan menjadi sebuah dokumen.
Praktek Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 3 Haurgeulis selama ini masih didominasi oleh pembelajaran konvensional dimana siswa diposisikan sebagai objek pembelajarn, siswa dianggap tidak tahu atau belum mengerti apa-apa, sementara guru memposisikan diri sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan. Sehingga guru terkesan memiliki otoritas tertinggi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sehingga terjadi peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan teknik pengumpulan data melalui lembar tes hasil belajar. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMPN 3 Haurgeulis.
Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata siswa dari Pra siklus, siklus I hingga siklus II dengan persentase ketuntasan yaitu: 27%; 61%; 69%.
1
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan Agama Islam merupakan ilmu yang sangat penting dan dipelajari mulai dari sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah menengah atas (SMA). Sedangakan pendidikan merupakan satu hal penting yang menentukan perkembangan suatu bangsa, maka untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, diperlukan modal dari hasil pendidikan itu sendiri. Pelajaran Pendidikan Agama Islam juga memiliki sifat yang abstrak, pemahaman konsep yang benar sangat penting karena untuk memahami konsep Pendidikan Agama Islam yang baru diperlukan prasyarat pemahaman terhadap konsep tersebut.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP selama ini masih didominasi oleh pembelajaran konvensional dimana siswa diposisikan sebagai objek pembelajaran, siswa dianggap tidak tahu atau belum mengerti apa-apa, sementara guru memposisikan diri sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan. Sehingga guru terkesan menggurui dan memiliki otoritas tertinggi dalam proses pembelajaran. Selama ini pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan di sekolah sudah bentuk jadi dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar masih relative rendah dalam berusaha menemukan sendiri konsep dari materi yang diajarkan.
Guru sebagai tenaga professional pendidikan memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar. Guru harus mampu untuk menjelaskan pengetahuan yang dimiliki kepada siswanya melalui pengelolaan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan dan model-model pengajaran yang sesuai denganpokok bahasan dan tingkat kognitif siswa.
Selain itu, guru juga harus memperhatikan bahwa siswa adalah peserta didik yang harus diikutsertakan secara aktif dalam proses belajar mengajar sehingga materi yang diajarkan lebih bermakna bagi siswa dan tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai (Dimyati dan Mudjiono, 2012 : 20). Pemilihan pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar dapat mempengaruhi
2
minat dan motivasi siswa untuk belajar. Selain itu, juga dapat mempengaruhi pemahaman siswa terhadap materi ataupun konsep-konsep dasar yang akhirnya memberikan pengaruh pada aktivitas dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti, dengan melihat hasil ulangan semester Ganjil yang dilakukan pada bulan Desember 2020 di SMPN 3 Haurgeulis khususnya di kelas VII D yang merupakan subjek penelitian peneliti. Diperoleh beberapa hasil ulangan siswa mendapatkan nilai dibawah standar ketuntasan yaitu 70, kemudian juga dilihat dari ulangan harian dan ulangan tengah semester ada beberapa siswa yang mengalami remedial atau ujian ulang dikarenakan nilainya belum melampaui standar yang ditentukan sekolah, serta berdasarkan pengamatan selama PPL. Model pengajaran yang terjadi di kelas tersebut secara umum masih menggunakan metode ceramah yang kegiatannya lebih banyak melibatkan guru sehingga siswa dalam proses belajar mengajar lebih cenderung pasif. Kondisi ini menunjukkan bahwa diperlukannya suatu usaha perbaikan dalam model pengajaran Pendidikan Agama Islam yang dapat merangsang siswa untuk belajar secara aktif dalam proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam harus melibatkan proses dan aktivitas berpikir siswa secara aktif dengan mengembangkan kemampuan kognitif masing- masing siswa, dikarenakan perkembangan kognitif sebagai penentu kecerdasan intelektual anak, kemampuan kognitif terus berkembang seiring dengan proses pendidikan serta juga dipengaruhi oleh faktor perkembangan fisik terutama otak secara biologis.
Perkembangan selanjutnya berkaitan dengan kognitif adalah bagaimana mengelola atau mengatur kemampuan kognitif tersebut dalam merespon situasi atau permasalahannya. Tentunya, aspek-aspek kognitif tidak dapat berjalan sendiri secara terpisah tetapi perlu dikendalikan atau diatur sehingga jika seseorang akan menggunakan kemampuan kognitifnya maka perlu kemampuan untuk menentukan dan pengatur aktivitas kognitif apa yang akan digunakan.
3
Kenyataan di lapangan siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki (Trianto, 2011 : 65). Lebih jauh lagi bahkan siswa kurang mampu menentukan masalah dan merumuskannya. Rendahnya aktivitas pembelajaran ataupun pengajaran apalagi jika dikaitkan terhadap pemahaman siswa mengenai pemahaman materi yang diajarkan. Pemahaman yang dimaksud ini adalah pemahaman siswa terhadap dasar kualitatif di mana fakta-fakta saling berkaitan dengan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru. Sebagian besar siswa kurang mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan / diaplikasikan pada situasi baru.
Menurut Arends (Trianto, 2011 : 66-67) didalam mengajar guru selalu menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa untuk belajar, guru juga menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tapi jarang mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah. Untuk memberikan pemahaman konsep materi yang diajarkan agar dapat digunakan dan dapat diingat juga masih menjadi masalah yang mendasar. Bagaimana guru dapat berkomunikasi baik dengan siswanya, bagaimana guru dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dalam kehidupan nyata. Boud dan Margetson (Rusman, 2012 : 230) mengatakan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. PBM membantu meningkatkan perkembangan keterampilan belajar dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif.
Dari uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan Judul Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) pada pokok bahasan Luas permukaan Prisma dan Limas di kelas VII D D di SMPN 3 Haurgeulis”.
4
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumus masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimana meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dalam penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada pembahasan materi Perilaku Jujur di kelas VII D D SMPN 3 Haurgeulis?
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian adalah :
Untuk mengetahui cara meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dalam penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada pembahasan materi Perilaku Jujur di kelas VII D D SMPN 3 Haurgeulis?
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian inin adalah : Bagi siswa
1. Meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Melatih siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bagi Guru
1. Memberikan alternatif lain bagi guru tentang strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.
2. Memberikan informasi kepada guru, bahwa peran keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan.
5 E. RUANG LINGKUP PENELITIAN
1. Subjek pelaksanaan penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMPN 3 Haurgeulis
2. Strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBM kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja
kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.
3. Hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang dikaji adalah berupa nilai yang didapat dari hasil tes yang dilakukan setelah proses belajar mengajar (prestasi belajar mengajar Pendidikan Agama Islam).
4. Pokok bahasan yang diajarkan dalam penelitian ini adalah Prisma dan Limas.
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2012 : 3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar setelah proses belajar mengajar. Hasil belajar terdiri dari beberapa aspek yaitu aspek kognititf (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan/prilaku). Hasil belajar bukan hanya berupa pengetahuan yang lebih banyak bersifat hafalan, tetapi juga berupa keterampilan, sikap, motivasi, dan perilaku siswa.
Dengan demikian, hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil dari interaksi belajar dan mengajar yang terdiri dari tiga aspek yaitu aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikokmotor (keterampilan/perilaku).
B Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) atau disingkat PBL merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah (Ngalimun, 2013 : 89).
Model pembelajaran PBL menekankan keaktifan siswa, siswa dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah. Inti dari model PBL adalah masalah (problem). Model PBL bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari oleh siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus pemecahan masalah, serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting. Oleh karena itu guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Dengan
7
pengertian tersebut, maka model pembelajaran PBL ini bisa digolongkan kedalam pembelajaran berbasis sains (Sitiatava, 2012 : 67).
PBL berfokus pada penyajian suatu permasalahan terhadap siswa, kemudian ia diminta mencari pemecahan masalah melalui serangkaian penelitian dan investigasi berdasarkan teori, konsep, serta prinsip yang dipelajari dari berbagai bidang ilmu (multiple perspective). Dalam hal ini, permasalahan menjadi fokus, stimulus, dan pemandu proses belajar, sedangkan guru menjadi fasilitator dan pembimbing.
Pada penerapan metode problem based learning, masalah tidak hanya dilihat sebagai sumber belajar tetapi masalah dapat menjadi strategi untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas. Berikut adalah pandangan penggunaan masalah sebagai strategi dalam penerapan problem based learning didalam kelas (Sitiatava, 2012 : 69) :
1. Permasalahan sebagai pemandu ; masalah menjadi acuan konkret yang harus menjadi perhatian siswa. Bacaan diberikan sejalan dengan masalah. Dan, masalah menjadi kerangka berpikir siswa dalam mengerjakan tugas.
2. Pemasalahan sebagai kesatuan dan alat evaluasi ; masalah disajikan setelah tugas-tugas dan penjelasan diberikan. Tujuannya ialah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuannya guna memecahkan masalah.
3. Permasalahan sebagai contoh ; masalah disajikan sebagai contoh dan bagian dari bahan belajar. Masalahpun digunakan untuk menggambar teori serta konsep atau prinsip, yang dibahas antara siswa dan guru.
4. Permasalahan sebagai fasilitas proses belajar ; masalah dijadikan sebagai alat untuk melatih siswa dan guru.
5. Permasalahn sebagai stimulus belajar ; masalah bisa merangsang siswa untuk mengembangkan keterampilan mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan masalah dan keterampilan metakognitif.
8
1. Beberapa Teori Yang Melandasi PBL
Ada berbagai teori yang melandasi model pembelajaran PBL, di antaranya ialah sebagai berikut (Sitiatava, 2012 : 76-77) :
a. Teori Dewey dalam Kelas Demokratis
Sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar, dan kelas merupakan laboraturium untuk pemecahan masalah yang nyata.
Dewey juga menganjurkan agar pembelajaran di sekolah lebih bermanfaat. Manfaat terbaik dapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan merupakan pilihan sendiri.
b. Pendapat Piagget dan Vygotsky dalam Teori Kontruktivisme
Piagget dan vygotsky adalah tokoh pengembangan konsep kontruktivisme yang didasarkan pada teori kognitif Piagget. Pandangan kontruktivisme kognitif mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan sendiri.
Pada hakikatnya, pedagogi yang baik mleibatkan siswa dalam situasi yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan sendiri, mencoba memanipulasi tanda-tanda dan simbol- simbol, bertanya dan menemukan sendiri jawabannya, serta membandingkan temuannya dengan temuan siswa lain.
c. Pendapat Brunner dalam Teori Pembelajaran Penemuan
Menurut Brunner,pemebelajaran menekankan penalaran induktif dan proses inkuiri. Dalam teori tersebut, dikenal adanya scaffolding sebagai suatu proses saat seseorang siswa dibanu guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih dalam menuntaskan masalah tertentu, sehingga dapat melampaui kapasitas perkembangannya.
2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap
9
tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada (Rusman, 2012 : 232).
Karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut : 1) Belajar dimulai dengan satu masalah.
2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan kehidupan sehari- hari.
3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan disiplin ilmu.
4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar.
5) Menggunakan kelompok kecil.
6) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan yang telah dipelajari dalam bentuk produk atau kinerja.
Berdasarkan uraian tersebut, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai dengan adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang sesuatu yang telah diketahuinya sekaligus yang perlu diketahuinya untuk memecahkan masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan, sehingga ia terdorong untuk berperan katif dalam belajar.
3. Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini mulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa. Masalah tersebut dapat berasal dari siswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. Siswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya.
Menurut Rusman (2010 : 237) dalam problem based learning sebuah masalah yang dikemukakan kepada siswa harus dapat membangkitkan pemahaman siswa terhadap masalah, sebuah kesadaran akan kesenjangan, pengetahuan, keinginan memecahkan masalah, dan persepsi bahwa meraka mampu memecahkan masalah tersebut. Masalah yang disajikan
10
dalam problem based learning sebaiknya merupakan masalah autentik.
Masalah autentik adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari- hari dan bermanfaat langsung jika ditemukan penyelesainnya.
Langkah-langkah dalam pengajaran PBL terjadi dalam 5 fase, berikut ini adalah tahap pembelajaran menurut Ibrahim dan Nur (Rusman 2012 : 243) :
Tabel 2.1 Sintaks Problem Based Learning Fase Aktivitasi guru
Fase 1 :
Mengorientasikan siswa
pada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistic yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif pada aktivitas pemecahan
masalah yang dipilih Fase 2 :
Mengorientasikan siswa
untuk belajar Membantu siswa membatasi dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi
Fase 3 : Mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok melaksanakan
eksperimen, dan mencari untuk penjelasan dan pemecahan Fase 4 :
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Fase 5 :
Menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah Membantu siswa melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang digunakan selama berlangsungnya pemecahan masalah.
11 1. Mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting juga dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran.
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Disamping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong siswa belajar kolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota.
Oleh sebab itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompik siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti : kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, kemungkinan yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru sangat penting memonitoring dan mengevaluasi kerja masing-masingkelompik untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pengajaran.
3. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yangt sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujunnya adalah agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan hasil karya seperti halnya laporan hasil belajar atau
12
dapat juga mempresentasikannya dideepan kelompok lain. Dimana pada kegiatan ini guru sebagai fasilitator melihat dan menilai hasi kerja dari masing-masing kelompok atau individu.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Tahap ini merupakan tahap akhir pada PBL. Tahap ini dimaksudkan untuk membantu mahasiswa menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama tahap ini guru meminta siswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh pemahaman yang jelas tentang situasi masalah ? kapan mereka yakin dalam pemecahan tertentu ? mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap dibanding yang lain ? mengapa mereka menolak beberapa penjelasan ? mengapa mereka mengadopsi pemecahan akhir dari mereka ? . Tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.
Dalam mengajar didalam kelas yang menggunakan PBL, guru memiliki beberapa metode yang dapat digunakan guna untuk membantu kegiatan diskusi ataupun saling tukar pikiran. Karena pada kelas yang masih menggunakan metode pembelajaran konvensional guru memberikan pengetahuan dalam bentuk sudah jadi tanpa siswa tersebut mengembangkannya. Tetapi dalam kelas yang menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki,siswa diberikan beberapa teori yang mendasari masalah tersebut tujuannya agar siswa dapat membangun pembelajaran bermakna pada diri mereka sendiri dan mendorong siswa mendapatkan pemahaman konsep yang relevan. Untuk mencapai pemahaman yang lebih besar ini, siswa membutuhkan kesempatan untuk mendiskusikan konsep asing dan ide-ide yang akan digunakan. Mereka harus mampu untuk menguji pemahaman mereka dan dapat menggunakan
13
kemampuan kognitif yang mereka miliki dengan baik. Ada 10 metode untuk meningkatkan kegiatan diskusi dan dialog (Diane, 2001: 42) :
1) Menyiapkan alat peraga dalam pembelajaran..
2) Menanyakan pertanyaan terbuka.
3) Mendorong siswa untuk bertanya.
4) Mendorong siswa untuk memberikan ide.
5) Mendorong siswa untuk mengkaji ide dan pertanyaan yang diberikan.
6) Mendorong siswa untuk saling diskusi dan bertukar pikiran.
7) Menggunakan pertanyaan-pertanyaan siswa dan tanggapan untuk mengembangkan topik yang relevan dan bermakna
8) Mendorong anak untuk mencari sumber atau referensi pembelajaran dari berbagai sumber.
9) Mendorong siswa untu merefleksi langkah-langkah dalam penyelesaian masalah.
10) Dari beberapa uraian diatas, hindari menggunakan jawaban langsung atau harus menganalisis masalah terlebih dahulu.
Dapat dikatakan bahwa melalui pendekatan PBL siswa mempresentasikan gagasannya, siswa terlatih merefleksi persepsinya, mengargumentasikan dan mengomunikasikan ke pihak lain sehingga guru pun memahami proses berpikir siswa, dan guru dapar membimbing serta menginvestasikan ide baru berupa konsep dan prinsip. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung sesuai dengahn kemampuan siswa dengan siswa menjadi terkondisi dan terkendali (Rusman, 2012 : 245).
Pembelajaran melalui metode pembelajaran PBL merupakan suatu rangkaian pendekatan kegiatan belajar yang diharapkan dapat memberdayakan siswa untuk menjadi seorang individu yang mandiri dan mampu menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya di kemudian hari. Dalam pelaksanaan pembelajaran, siswa dituntut terlibat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran melalui diskusi kelompok. Langkah awal dalam pembelajaran PBL dengan mengajak siswa untuk memahami situasi yang diajukan baik oleh guru maupun siswa, yang dimulai dari apa yang telah diketahui oleh siswa. Dalam aplikasinya PBL membutuhkan kesiapan
14
guru dan siswa untuk bisa berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang diangkat. Guru harus siap menjadi pembimbing sekaligus tutor bagi para siswa yang dapat memberikan motivasi, semangat, dan membantu dalam menguasai keterampilan pemecahan masalah.
Guru dapat melakukan pembelajaran dengan mengorientasikan siswa pada masalah kontekstual yang mendorong mereka untuk mampu menemukan masalahnya, menelaah kuantitas, kualitas dan kompleksitas masalah yang diajukan. Siswa perlu diminta untuk mempresentasikan hasil temuannya berupa perumusan masalah dan pengumpulan fakta-fakta (apa yang mereka ketahui, apa yang mereka perlu ketahui dan apa yang harus mereka laksanakan), membuat pertanyaan-pertanyaan, mengantisipasi informasi-informasi yang dibutuhkan, merepharese masalah, dan akhirnya membuat suatu formulasi sebagai alternative proses pemecahan masalah (Rusman, 2012 : 247).
C. PERILAKU DAN JUJUR
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas yang dilakukan seseorang sebagai respons terhadap rangsangan dari dalam maupun luar. Perilaku dapat diamati, dicatat, dan diukur. Perilaku merupakan bagian dari fungsi organisme yang terlihat dalam suatu tindakan. Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai bentangan yang sangat luas.Perilaku adalah serangkaian tindakan yang dibuat oleh individu, organisme, sistem, atau entitas buatan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri atau lingkungannya,[1] yang mencakup sistem atau organisme lain di sekitarnya serta lingkungan fisik (mati). Perilaku adalah respons yang dikomputasi dari sebuah sistem atau organisme terhadap berbagai rangsangan atau input, baik internal atau eksternal, sadar atau bawah sadar, terbuka atau rahasia, dan sukarela atau tidak sukarela.[2].
Mengambil perspektif informatika perilaku, perilaku terdiri dari aktor, operasi, interaksi, dan sifat-sifat perilaku. Perilaku dapat direpresentasikan sebagai vektor perilaku.[3].
Jujur atau kejujuran mengacu pada aspek karakter, moral dan berkonotasi atribut positif dan berbudi luhur seperti integritas, kejujuran, dan
15
keterusterangan, termasuk keterusterangan pada perilaku, dan beriringan dengan tidak adanya kebohongan, penipuan, perselingkuhan, dll Selain itu, kejujuran berarti dapat dipercaya, setia, adil, dan tulus. Kejujuran dihargai di banyak budaya etnis dan agama [1] "Kejujuran adalah kebijakan terbaik"
adalah pepatah dari Benjamin Franklin.; Namun, kutipan "Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan" tersebut diberikan untuk Thomas Jefferson, seperti yang digunakan dalam sebuah surat kepada Nathaniel Macon.
16
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. SUBJEK PENELITIAN
Yang menjadi subjek dalam penelitian pada PTK ini adalah siswa kelas VII D SMPN 3 Haurgeulis TP. 2023/2024.
B. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN 1. Tempat pelaksanaan
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di VII D SMPN 3 Haurgeulis, Desa Binjai Kecamatan Lemong Kabupaten Lampung Barat.
2. Waktu pelaksanaan
Penelitian ini direncanakan dalam jangka 1 Bulan, yaitu dimulai pada tanggal 20 Juli 2023 – 20 Agustus 2023.
C. DESKRIPSI PELAKSANAAN PTK
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menyusun prosedur pelaksanaan tindakan dengan beberapa kegiatan yaitu:
1) Perencanaan yang menyangkut penentuan materi pembelajaran dan penentuan waktu pelaksanaannya.
2) Tindakan adalah realisasi teori dan teknik pengajaran. Ini bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut.
3) Pengamatan dilakukan selama proses kegiatan pembelajaran
berlangsung di kelas, yang menyangkut aktivitas siswa, perkembangan materi dan hasil belajar peserta didik.
4) Refleksi meliputi kegiatan analisis hasil belajar dengan menyusun rencana perbaikan untuk siklus berikutnya.
Berikut merupakan penjelasan kegiatan per siklus.
Pra siklus :
a) Tahap perencanaan (planning)
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Menyiapkan materi Pembelajaran (the existence of people and thing).
Menyiapkan lembar observasi.
17
Membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri atas 4- 5 orang per kelompok.
Menyiapkann alat dan bahan pembelajaran.
Membuat soal tes dan kunci jawaban.
b) Tahap tindakan (action)
Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP.
Siswa mengerjakan LKPD
Siswa mengambil kesimpulan
melakukan penguatan/ pembahasan
Mengadakan evaluasi.
c) Tahap observasi
Observasi terhadap aktivitas guru dan siswa.
Observasi terhadap kemampuan awal siswaa d) Tahap refleksi
Hasil dari observasi.
Siklus 1 : menerapkan model pembelajaran problem based learning 1) Tahap perencanaan (planning)
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Menyiapkan materi Pembelajaran (the existence of people and thing).
Menyiapkan lembar observasi.
Membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri atas 4-5 orang per kelompok.
Menyiapkann alat dan bahan pembelajaran.
Membuat soal tes dan kunci jawaban.
2) Tahap tindakan (action)
Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP.
Siswa mengerjakan LKPD
Siswa mengambil kesimpulan
melakukan penguatan/ pembahasan
Mengadakan evaluasi.
18
3) Tahap observasi
Observasi terhadap aktivitas guru dan siswa.
4) Tahap refleksi
Hasil dari observasi.
Analisis hasil evaluasi
Siklus 2 (merupakan perbaikan siklus 1)
Menerapkan model pembelajaran problem based learning a. Tahap perencanaan (planning)
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Menyiapkan materi Pembelajaran (the existence of people and thing).
Menyiapkan lembar observasi.
Membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri atas 4-5 orang per kelompok.
Menyiapkann alat dan bahan pembelajaran.
Membuat soal tes dan kunci jawaban.
b. Tahap tindakan (action)
Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP.
Siswa mengerjakan LKPD
Siswa mengambil kesimpulan
melakukan penguatan/ pembahasan
Mengadakan evaluasi.
c. Tahap observasi
Observasi terhadap aktivitas guru dan siswa.
d. Tahap refleksi
Hasil dari observasi.
Analisis hasil evaluasi
19 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
Data diperoleh melalui hasil observasi kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara Luring. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian berdasarkan hasil pengamatan selama mengajar di sekolah tersebut. Peneliti menemukan permasalahan siswa berdasarkan pengamatan sebelumnya. Selain itu, peneliti juga sedikit mengenali permasalahan siswa dari pengalaman mengajar di kelas terutama pada hasil belajar. Peneliti mendapati bahwa hasil belajar rendah. Jadi, peneliti memutuskan untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini terdiri dari prasikluas dana dua siklus dengan empat tahap di dalamnya. Tahapan tersebut antara lain perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi di lapangan.
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan, pelaksanaan penelitian tindakan kelas mengacu pada hasil observasi yang dilaksanakan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas VII D SMPN 3 Haurgeulis tidak mampu mencapai KKM pada kompetensi dasar Luas Permukaan Prisma dan limas.berdasarkan hasil observasi menunjukkan hasil belajar peserta didik yang rendah, terdapat beberapa faktor penyebab permasalahan di atas yang ditemukan dalam proses belajar seperti peserta didik tidak bersemangat untuk belajar
Pendidikan Agama Islam dan mudah bosan, cenderung ingin segera mengakhiri proses kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu Pada tahap perencanaan untuk mengoptimalkan pelaksanaan perbaikan pembelajaraan, maka disusun perencanaan sebagai berikut:
a) Menyusun RPP dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan siswa.
b) Menyiapkan bahan ajar
20
c) Menyiapkan media pembelajaran d) Menyiapkann LKPD
e) Menyiapkan lembar observasi.
f) Menentukan pelaksanaan observasi.
g) Menyiapkan alat evaluasi.
b. Tahap Implentasi
Pelaksanaan pembelajaran 1 pra sikluas dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 2 Juni 2021 selama 2 x 40 menit atau 2 jam pelajaran, yang terbagi dalam kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir yang dilaksanakan secara Luring. Pra siklus dilaksanakan untuk melihat kemampuan awal siswa dan mengobservasi minat motivasi siswaa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pelaksanaana pembelajaran 2 atau siklus 1 dilaksanakan pada ahri kamis, 17 Juni 2023, selama 2 x 45 menit atau 2 jam belajar.
Terbagi menjadi 3 kegiatan pendahuluan, kegiatn inti dan kegiatan penutup. Guru memulai kegiatan sesuai dengan prosedur dalam RPP.
Guru menyapa siswa dan semua siswa memberikan tanggapan, kemudian guru memilih siswa untuk memimpin dalam berdoa dan siswa mematuhi itu untuk berdoa. Kemudian guru mengecek kehadiran siswa. Tindakan ini memberikan manfaat bagi guru untuk mengetahui jumlah siswa yang hadir dan mengecek peserta didik yang hadir berjumlah 15 orang. Guru memberikan apersepsi tentang pelajaran yang akan dipelajari dengan Tanya jawab materi prasyarat Setelah itu, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pembelajaran yang dilaksanakan pada saat itu. Pada kegiatana iinti, guru membagikan LKPD yang memuat aktivitas penyelidikan, pengambilan kesimpulan dan mengujinya pada masalah yang di ditampilkan pada awa LKPD. Setelah melakukan kegiatan penyelidikan siswa mempresentasikan hasil diskusi. Setelah sampai pada pengambilan kesimpulan guru memberikan penguatan
21
dengan membagikana handout dan pennjelasan maateri melalaui PPT dan memberikan evaluasi. Guru melakukan evaluasi dengan cara tertulis yang dikerjakan secara individu untuk mengukur kemampuan siswa dalam menerima materi. Pada kegiatan penutup kegiatan siklus 1 guru tidak melakukan refleksi tetapi mengambil kesimpulan pembelajaran dan menyampaikan informasi materi selanjutnya dan menutup Kegiatan pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
Kegiatan pembelajaran 3 atau siklus 2 merupakan perbaikan dari kendala kendaala yang terjadi pada kegiatan pra siklus dan siklus 1.
Kegiataan siklus 2 dilksanakan pada hari kamis, 1 Juli 2021. Dengan menerapkan model pembelajaran Poblem Based Learning. Proses pembelajaran di bagi menjadi 3 kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan dilaksanakan telah sesuai dengan RPP. Pada siklus 2 ini kegiataan merupakn perbaikan dari Kendala dan kasus mengajar pada siklus 1 seperti diskusi kelompok sudah terlihat dan lebih baik dari siklus 1.
Guru telah melakukan refleksi pembelajaran dan menyampaikan pesan pesan pada kegiatan penutup.
c. Tahap Observasi
Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, diperoleh catatan bahwa pada kegiatan pembelajara bahwa siswa sangat antusias dan aktif dalam kegiatan pembelajaran, siswa menemukan, menganalisis berdiskusi dalam kelompok. Siswa juga mempresentasikan hasil diskusinya dengan penuh semangat.
Meskipun tidak semua siswa mampu melakukannya, tapi mayoritas siswa sudah mampu mengerjakan LKPD membuat kesimpulan bersama kelompoknya dengan baik.
Berdasarkan hasil peserta didik mengerjakan LKPD dan evaluasi, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat peninngkatan hasil belajar, pada kegiatan 10 dari 15 orang tidak selesai mengerjakan LKPD dan
22
hasil evaluasi namun pada Siklus 1 dan siklus 2 dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning terjadi peningkatan kemampuan siswa. Pada siklus 1. 3 kelompok berhasil menyelesaikan LKPD dan membuat kesimpulan 1 kelompok mampu menyelesaikan masalah. Dari hasil evaluasi 13 orang dari 15 orang dapat menyelesaikan 2 soal dari 3 soal evaluasi. Pada siklus 2 seluruh kelompok dapat membuat kesimpulan 1 kelompok dapat melakukan pemecaahan masalah awal. Dari hasil evaluasi 12 orang dapat menyelesaikan 2 soal dan hanya 3 orang yang kesulitan menyelesaikan evaluasi.
d. Tahap Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan penilaian pada siklus 1 dan 2 melalui melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat di katakana bahwa:
a) Proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dirancang mayoritas siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik dan aktif.
b) Guru menyampaikan materi dengan baik dan materinya telah disesuaikan dengan tingkatan kemampuan siswa dengan memanfaatkan teknologi
c) Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui penerapan model pembelajaran problem basedn learning sudah dilaksanakan dengan baik dan sistematis.
d) Guru membagi siswa dalam kelompok sehingga siswaa dapat belajar bekerjasama dalam tim dan lebih meningkatkan minat dan motivasis siswa karena belajar dengan teman sebaya dan hasil diskusi akan dipresentasikan dan dipertanggungjawabkan.
e) LKPD yang dibagikan guru sudah sangat sederhana sehingga siswa dapat menyelesaikan dengan baik.
Hasil yang diperoleh sebagian besar siswa menunjukkan kemampuan akhir yang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan awal
23
sebelum tindakan dengan ditunjukkan dari hasil observasi dan hasil evaluasi pada LKPD dan Pos tes..
B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data dari hasil belajar siswa yang dilakukan pada proses belajar mengajar didaptkan bahwa siswa dapat menyelesaikan LKPD dan membuat kesimpulan. Sedangkan berdasarkan hasil Postest diperoleh data sebagai berikut :
Grafik 1. Persentase banyak siswa dengan Nilai hasil post tes lebih dari KKM (75)
Berdasarkan grafik diatas menunjukkan bahwa pada pra siklus nilai siswa yang berada diatas KKM hanyaa 27%, pada siklus 1 naik menjadi 60% dan pada siklus 2 menjadi 67%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dari pra siklus sampai pada siklus 2 dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning.
24
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini terdiri dari dua bagian, yaitu kesimpulan dan saran. Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi pada bab sebelumnya, peneliti dapat menggambarkan beberapa kesimpulan terkait peningkatan kemampuan siswa dalam menulis dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning . Selanjutnya beberapa saran akan disampaikan kepada para peneliti yang tertarik dengan topic yang sejenis. Kesimpulan dan saran tersebut akan disajikan sebagai berikut:
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya tentang hasil penelitian dan diskusi, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah.
B. SARAN
Berdasarkan hasil dari penelitian, peneliti ingin menyampaikan beberapa saran terkait aktifitas pembelajaran ini. Penulis berusaha memberikan beberapa saran untuk guru Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam serta peneliti lainnya yang ingin meningkatkan kemampuan menulis siswa, saran-saran tersebut antara lain:
1. Dalam menyusun perangkat pembelajaran, guru harus mampu mengetahui karakteristik dan gaya belajar siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
2. Para guru harus dapat mengontrol kelas dengan baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat tercapai dan siswa dapat terlibat aktif dalam pembelajarannya.
3. Peneliti menyarankan kepada seluruh pembaca khususnya peneliti selanjutnya untuk menggali strategi, teknik dan media lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
25
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Novika, Tendy. 2014. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) pada Pokok Bahasan Segitiga dan Segiempat di Kelas VII D SMPN 5 Kota
Bengkulu. (Skripsi). Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Bengkulu.
Nurkancana, Wayan dan Sunartana, PPN. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya:
Usaha Nasional.
https://nyawanglintang.wordpress.com/2017/12/30/prisma-dan-limas/
Sani, Ridwan. 2015. Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sardiyanti, Ria. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa.
(Skripsi). Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tari, None. 2018. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII DF SMP Negeri 9 Denpasar pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar Tahun Pelajaran 2017/2018. (Skripsi). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mahasaraswati Denpasar.
26
LAMPIRAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : SMP NEGERI 3 HAURGEULIS Mata Pelajaran : PAI & BP
Materi Pokok : Hidup Tenang Dengan Kejujuran, amanah dan istiqamah
Sub Materi : Berprilaku Jujur Kelas/Semester : VII/Ganjil Alokasi Waktu : 3 X 40 Menit
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengukuti kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran discovery Learning, dengan metode literasi, eksperimen, praktikum, dan presentasi dengan menumbuhkan sikap menyadari kebesaran Tuhan, sikap gotong royong, jujur, dan berani mengemukakan pendapat, siswa dapat :
Menyebutkan pengertian jujur, sesuai dengan Q.S. al-Baqarah/2:42 dan hadis yang terkait.
Menjelaskan makna jujur sesuai dengan Q.S. al-Baqarah/2:42 dan hadis yang terkait.
Menunjukkan contoh jujur sebagai implementasi dari pemahaman Q.S.
al-Baqa-rah/2:42 dan hadis yang terkait.
Menampilkan perilaku jujur sebagai implementasi dari pemahaman Q.S.
al-Baqa-rah/2:42 dan hadis yang terkait.
27
B. LANGKAH - LANGKAH (KEGIATAN) PEMBELAJARAN KEGIATAN PENDAHULUAN (10 Menit)
Penguatan Pendidikan Karakter
Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa untuk memulai pembelajaran, memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
Mengaitkan materi pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik terhadap materi sebelumnya, mengingatkan kembali materi dengan bertanya, Hikmah Beriman kepada Allah Swt
Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari materi Berprilaku Jujur dalam kehidupan sehari-hari
Memberitahukan tentang tujuan pembelajaran, materi, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang sedang berlangsung
Pembagian kelompok belajar KEGIATAN INTI ( 100 Menit) Literasi
Peserta didik diberi stimulus atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada materiBerprilaku Jujur melalui pendekatan saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, mengasosiasikan mengolah informasi, mengomunikasikan)
Mengamati
Peserta didik bersama kelompoknya melakukan pengamatan dari permasalahan yang ada di buku paket berkaitan dengan Berprilaku Jujur Critical Thinking
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi aneka pertanyaan yang berkaitan dengan tayangan yang disajikan dan dijawab melalui kegiatan pembelajaran tentang Berprilaku Jujur Misalnya
Kejujuran itu sangat erat kaitannya dengan?
Apa nama gelar yang diberikan bangsa Quraisy kepada Rasulullah saw?
28
Collaboration (Kerja Sama) Siswa berlatih praktik /mengerjakan tugas halaman buku
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenaiBerprilaku Jujur
Mengumpulkan data/informasi melalui diskusi kelompok atau kegiatan lain guna menemukan solusimasalah terkait materi pokok yaitu
Peserta didik diarahkan untuk mengumpulkan dan mengeksplorasi data dari aneka sumber yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Communication (Komunikasi Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok/individu
Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentangBerprilaku Jujur dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan, bertanya atas presentasi yang dilakukan, dan peserta didik lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.
Creativity (Kreativitas Kesimpulan Pembelajaran
Guru dan Peserta didik menarik sebuah kesimpulan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan tentangBerprilaku Jujur
Peserta didik bertanya tentang hal yang belum dipahami atau guru menyampaikan beberapa pertanyaan pemicu kepada siswa berkaitan dengan yang akan selesai dipelajari
PENUTUP (10 Menit) Peserta didik
Membuat rangkuman/simpulan pelajaran.tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan.
29 Guru
Memeriksa pekerjaan peserta didik yang selesai dan diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, memberikan penghargaan pada kelompok yang memiliki kinerja dan kerja sama yang baik dalam kegiatan pembelajaran.
Memberikan tugas kepada peserta didik (PR), dan mengingatkan peserta didik untuk mempelajari materi yang akan dibahas dipertemuan berikutnya.
PENILAIAN PEMBELAJARAN Tes Tertulis : Terlampir Praktik :
Mengetahui, Indramayu, 31 Agustus 2023
Kepala UPTD SMPN 3 Haurgeulis, Guru PAI,
MUTAKI ALI, S.Ag.,M.Pd.I. MAMAT SUHENDI, S.Pd.I, NIP. 19720628199903 1 004 NIP. -
30
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR HADIR PESERTA SEMINAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Perilaku Jujur melalui Metode Diskusi dan Studi Kasus dalam Pembelajaran Akhlak Di Kelas VII D
UPTD SMP Negeri 3 Haurgeulis TAHUN PEMBELAJARAN 2022/2023 1 Mutaki Ali, S.Ag.,M.Pd.I.
2 Asmuni, S.Pd.Fis.
3 Asep Ludyana Akbar, S.Pd.
4 Wawan, S.Pd.
5 Nunung Kustrini, S.Pd.
6 Nani Sugiarti, S.Pd Maman Rusmana, S.Pd.
7 Abdul Basit, S. S.
8 Asep Saefudin, S.Pd.
9 Cika Tresnawati, S.Pd.
10 Arwati Kurniawati, S.Pd.
11 Rizki Amalia Sari, S.Pd.
12 Aef Saeful Bahri, S.Ud.
13 Tania Asih, S.Pd.
14 Anggy Putri Hadianingsih, S.Pd 15 Ratih Rohmana, S.Kom.
16 17 18 19 20
Mengetahui, Indramayu, 31 Agustus 2023
Kepala UPTD SMPN 3 Haurgeulis, Guru PAI,
MUTAKI ALI, S.Ag.,M.Pd.I. MAMATSUHENDI,S.Pd.I, NIP. 19720628199903 1 004 NIP. -