• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIANHASILHUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENELITIANHASILHUTAN"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

Ketahanan gores film wood filler diuji untuk mengetahui sifat mekanik formula wood filler. Formula pengisi kayu alternatif dapat melindungi kayu dari masuknya air, sama seperti pengisi kayu komersial.

PENDAHULUAN

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Bahan dan Alat

Metode Penelitian

Batasan

Analisis Data

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Faktor Pemanfaatan Kayu

Semakin banyak kayu yang digunakan maka nilai faktor hasil semakin tinggi, namun semakin banyak limbah kayu maka nilai faktor hasil semakin rendah. Rekapitulasi hasil perhitungan rata-rata faktor pemanfaatan kayu pada IUPHHK-HA di hutan alam Papua Barat.

Limbah Pemanenan Kayu 1. Faktor residu

KESIMPULAN DAN SARAN

Faktor pemanfaatan kayu pada IUPHHK-HA yang menerapkan teknik RIL cenderung lebih tinggi dibandingkan IUPHHK-HA yang pemanenan kayunya masih dilakukan secara konvensional. Pengaruh dua cara penebangan terhadap kualitas kayu. pelaku pemanfaatan dan faktor sisa penebangan pada IUPHHK-HA di Papua Barat perhitungan tingkat pemulihan dan faktor sisa pemanenan pengusahaan hutan di hutan Papua Barat )/Petak.

SIFAT PEMESINAN LIMA JENIS KAYU ASAL RIAU (Machining Properties of Five Wood Species Originated from Riau)

BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian sifat pengolahan kayu asal Riau dilakukan pada tahun 2016 di Laboratorium Penggergajian dan Kerajinan Puslitbang Hasil Hutan, Bogor. Ukuran cacat merupakan persentase permukaan kayu yang cacat dari keseluruhan penampang uji setiap benda uji.

Gambar 1. Pola pemotongan contoh uji Figure 1. Cutting pattern for individual test sample
Gambar 1. Pola pemotongan contoh uji Figure 1. Cutting pattern for individual test sample

Analisis Data

  • HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sifat Pemesinan

Hasil pengujian lebih lanjut menunjukkan terdapat perbedaan sifat desain yang sangat nyata antara kayu Pasak Linggo dengan keempat jenis kayu yang diteliti. Hasil pengujian lebih lanjut menunjukkan terdapat perbedaan nyata sifat pengeboran antara kayu Pasak Linggo dengan empat jenis kayu lainnya yang diteliti.

Tabel 4. Berat jenis dan rata-rata bebas cacat sifat pemesinan (%)  Table 4. Specific gravity and the average of machining defect free (%)
Tabel 4. Berat jenis dan rata-rata bebas cacat sifat pemesinan (%) Table 4. Specific gravity and the average of machining defect free (%)

Hubungan Berat Jenis Kayu dengan Sifat Pemesinan

  • KESIMPULAN

Hasil pengamatan pada saat pengamplasan menunjukkan bahwa cacat serat berbulu banyak ditemukan pada lima jenis kayu yang diteliti. Dengan sifat pengamplasan sedang hingga sangat baik, kelima jenis kayu yang diteliti baik untuk pembuatan produk yang memerlukan penampilan. Hasil pengujian lebih lanjut menunjukkan terdapat perbedaan sifat pengamplasan yang nyata antara kayu Punak dan Pasak linggo dengan ketiga jenis kayu lainnya yang diteliti.

Hal ini diduga karena kayu kabesak sedikit lebih keras dibandingkan kayu timo, dengan berat jenis kayu kabesak (0,73) dan kayu timo (0,68). Uji regresi terhadap kelima jenis kayu menunjukkan bahwa semakin tinggi berat jenis kayu maka sifat pengolahannya semakin baik. Yang kurang diketahui adalah sifat pengolahan empat jenis kayu dan hubungannya dengan berat jenis dan ukuran pori.

Hubungan antara sifat pengolahan dengan berat jenis dan jumlah pori pada empat jenis kayu asal Kalimantan Timur belum banyak diketahui.

Tabel 6. Kelas pemesinan lima jenis kayu dari Riau Table 6. Machining class of five wood species from Riau
Tabel 6. Kelas pemesinan lima jenis kayu dari Riau Table 6. Machining class of five wood species from Riau

UJI COBA REKAYASA ALAT UKUR DIAMETER POHON DI HUTAN ALAM

  • BAHAN DAN METODE A. Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Pengembangan dan Modifikasi
  • Validasi Alat
  • Analisis dan Pengolahan Data
    • HASIL DAN PEMBAHASAN A. Status dan Kondisi Perusahaan
  • Konstruksi Alat Wesyano
  • Hasil Uji Coba Aplikasi
    • KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
  • Saran

Sesuai dengan peraturan di atas, pada tahun 2016 telah dilakukan upaya penyempurnaan alat ukur diameter pohon Wesyano. Perbaikan tahap awal alat ukur diameter prototype Wesyano dilakukan dengan menggunakan bahan berupa material. Validasi dilakukan terhadap sejumlah pohon dengan cara mengukur diameter pohon dengan alat ukur Wesyano, kemudian sebagai kontrol diukur lingkar pohon dengan menggunakan pita diameter sebagai kontrol.

Alat ukur diameter pohon Wesyano yang dikembangkan merupakan penyempurnaan dan pengembangan dari alat ukur diameter pohon sebelumnya yaitu Wesyan. Hasil analisis varians antara alat ukur Wesyano dengan alat ukur pita Pi juga tidak signifikan yang berarti reliabilitasnya sama. Hasil uji t berpasangan untuk akurasi dan efisiensi alat ukur diameter Wesyano dengan teknik pengukuran satu dan dua.

Nilai ketelitian alat setelah penimbangan (NSP) pada uji coba penyempurnaan alat ukur diameter Wesyano menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara satu atau dua pengukuran.

Gambar 2. Alat ukur wesyano saat tongkatnya diperpendek (kiri) dan ketika
Gambar 2. Alat ukur wesyano saat tongkatnya diperpendek (kiri) dan ketika

EFEKTIVITAS BAHAN PENGISI KAYU PADA TIGA JENIS KAYU (Wood Filler Effectivity on Three Wood Species)

BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memformulasi wood filler terdiri dari pelarut organik (metanol), air suling, resin sirlac, akrilik, polivinil asetat dan tepung dempul. Peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri dari alat penggiling kayu (hammer grinder), gelas kimia, sikat, amplas, spray gun, timbangan digital elektrik, hand sander elektrik, pengering dapur solar kombinasi dan oven, alat ukur kadar air, alat ukur suhu. . (termometer), alat ukur muai (swellometer), dan oven.

Metode Penelitian 1. Persiapan percobaan

  • HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaburan Bahan Pengisi Kayu

Benda uji pengaplikasian wood filler pada permukaan kayu berukuran 1 cm (tebal) x 10 cm (lebar) x 30 cm (panjang) yang dibagi menjadi dua panjang yaitu kontrol 10 cm dan perlakuan 20 cm seperti yang digunakan pada ASTM D-1308- 02 (ASTM, 2013) (Gambar 1). Uji variabilitas (Anova) dilakukan untuk mengetahui efektivitas masing-masing bahan pengisi kayu (organik dan larut air) terhadap sifat fisik terutama pertambahan berat dan perubahan dimensi akibat campuran bahan pengisi kayu. Pelapisan wood filler pada benda uji kayu tusam (Tabel 2) ternyata menyebabkan peningkatan berat basah hampir 37% dan berat kering sekitar 16%.

Kenaikan berat basah kayu karet yang dilapisi wood filler (Tabel 3) mencapai 18%, sedangkan kenaikan berat kering sekitar 12%. Peningkatan berat basah dan kering sampel uji kayu jabon yang dilapisi wood filler (Tabel 4) masing-masing mencapai sekitar 30% dan 13%. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengaplikasian wood filler pada struktur kayu tusam lebih sering terjadi dibandingkan pada kayu karet dan kayu jabon.

Pertambahan berat dan dimensi kayu tusam akibat penyebaran wood filler Tabel 2. Pertambahan berat dan dimensi kayu tusam akibat penyebaran wood filler.

Table 1. Samples subjected to acid, alkaline and solvent
Table 1. Samples subjected to acid, alkaline and solvent

Aplikasi Bahan Pengisi Kayu

Secara umum, bahan pengisi kayu organik tampaknya memiliki afinitas warna yang lebih baik dibandingkan bahan pengisi kayu komersial. Pelarut pengencer mengandung bahan utama berupa xylene dan toluene yang akan menguap pada proses pengaplikasian wood filler dan proses curing resin wood filler. Menutupi sampel uji kayu dengan wood filler menghasilkan peningkatan berat yang bervariasi tergantung jenis kayunya.

Pertambahan bobot akibat pengaplikasian wood filler lebih besar pada kayu tusam dibandingkan jenis kayu karet dan jabon. Peningkatan dimensi kayu tusam akibat penggunaan wood filler lebih besar dibandingkan dengan kayu karet dan kayu jabon. Pengisi kayu nitroselulosa komersial memiliki kemampuan lebih besar dalam melindungi kayu dari intrusi air dibandingkan pengisi kayu organik.

Formula wood filler memiliki sifat warna yang lebih baik dibandingkan wood filler komersial.

Tabel 8. Hasil pengukuran warna permukaan kayu dan perlakuan bahan pengisi kayu Tabel 8
Tabel 8. Hasil pengukuran warna permukaan kayu dan perlakuan bahan pengisi kayu Tabel 8

KEMAMPUAN SEPULUH STRAIN JAMUR MELAPUKKAN EMPAT JENIS KAYU ASAL MANOKWARI

The Capability of Ten Fungus Strains in Decaying Four Wood Species from Manokwari)

Sihati Suprapti 1 , & Freddy Jontara Hutapea 2

  • BAHAN DAN METODE A. Bahan
  • Metode
  • Analisis Data
    • HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis statistik (Lampiran 1) menunjukkan bahwa strain jamur, jenis kayu dan bagian kayu pada batang kayu berpengaruh nyata terhadap penurunan berat sampel uji (p<0,05). Hasil uji beda Tukey (p ≤ 0,05) terhadap empat jenis kayu menunjukkan persentase susut bobot terendah pada Haplolobus sp. Persentase penurunan berat yang tinggi terjadi pada ketiga jenis kayu lainnya, yang berarti ketahanan terhadap jamur rendah, dan ketiga jenis kayu tersebut tidak menunjukkan perbedaan.

Menurut Takahashi dan Kishima (1973), kayu yang kaya akan zat ekstraktif mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap jamur. Selain itu, berat jenis kayu Haplolobus sp. yang cukup tinggi, yaitu sekitar 0,67, kemungkinan besar memberikan ketahanan yang tinggi terhadap jamur perusak. Menurut Hutapea, Rumawak dan Ergor (2012), berbagai jenis kayu asal Manokwari dapat dimanfaatkan sebagai kayu konstruksi.

Dari empat jenis kayu Manokwari yang diteliti, ditemukan satu jenis yang memiliki ketahanan tinggi terhadap jamur, yaitu Haplolobus.

Tabel 1. Jenis kayu asal Manokwari sebagai contoh uji Table 1. The wood species from Manokwari as tested samples
Tabel 1. Jenis kayu asal Manokwari sebagai contoh uji Table 1. The wood species from Manokwari as tested samples

PEMANFAATAN TEKNOLOGI KERTAS NANO KARBON SEBAGAI PEMBUNGKUS WORTEL

Utilization of Nano Carbon Paper Technology as Carrot Wrapping)

  • BAHAN DAN METODE A. Bahan
  • HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Arang Aktif
  • Kualitas Kertas Nano Karbon
  • Kinerja Kertas Nano Karbon
  • Penampakan Visual

Dari persamaan diskriminan terlihat serat pulp tali bambu dengan penambahan karbon aktif (Tabel 3) paling menjanjikan untuk produksi kertas karbon nano sebagai kertas pembungkus, karena nilai diskriminan produk kertas ini paling tinggi. (Y-diskr = 568.04). Persamaan diskriminan menunjukkan bahwa pulp bambu ampel yang ditambah karbon aktif memiliki peluang paling kecil untuk dijadikan kertas nanopaper karbon sebagai kertas pembungkus (Tabel 3) karena nilai diskriminan produk kertas tersebut paling rendah (Y-discr = 122,06). Efektivitas kertas nano karbon dalam bentuk aditif karbon aktif dipelajari menggunakan pendekatan berbasis data untuk mengurangi berat wortel yang dibungkus.

Selain itu, kadar K pada wortel yang dibungkus dengan kertas nano karbon yang melibatkan penggunaan karbon aktif lebih rendah dibandingkan tanpa karbon. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas dehidrasi air (dalam bentuk cair atau uap) pada wortel lebih rendah dengan kertas nano karbon yang mengandung karbon aktif. Hal ini memperkuat indikasi sebelumnya bahwa penggunaan karbon aktif mengurangi sifat higroskopis kertas nano karbon (Tabel 3).

Selanjutnya kadar Na pada wortel yang dibungkus kertas yang mengandung karbon aktif lebih tinggi dibandingkan kontrol.

Table 1. Processing and chemical properties of activated charcoal
Table 1. Processing and chemical properties of activated charcoal

EFEKTIVITAS PENGAWETAN BAMBU PETUNG DAN GEWANG MENGGUNAKAN BORON DAN CCB SECARA RENDAMAN DINGIN

DAN BOUCHERIE YANG DIMODIFIKASI

The Effectivity of Preservative Treatment in Petung Bamboo dan Gewang Using Boron and CCB by Cold Soaking and Modified Boucherie Methods)

BAHAN DAN METODE A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian berlangsung di dua tempat yaitu di laboratorium bahan bangunan Puslitbang Perumahan Wilayah II Denpasar untuk penyiapan dan pengolahan sampel uji dan di Laboratorium Teknologi Peningkatan Mutu Kayu Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan. Kehutanan, Balai Uji Keberlanjutan dan Keberlanjutan Pertanian Bogor.

Bahan dan Metode

  • HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keawetan dan Keterawetan Bambu

Pengalengan dengan metode Boucherie yang dimodifikasi dilakukan dalam tangki bertekanan, dimana bahan pengawet dituangkan ke dalam tabung yang diberi tekanan oleh kompresor. Menurut Muslich dan Rulliaty (2014), nilai retensi bambu petung dengan bahan pengawet CCB dan metode Boucherie adalah 13,62 kg/m3 untuk alas dan 9,12 kg/m3 untuk ujung. Retensi bahan pengawet CCB pada bilah bambu petung dengan metode pencelupan adalah sekitar 8,67 kg/m3, tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan metode Boucherie yang berkisar antara 9,12–.

Nilai retensi bahan pengawet yang masuk pada bahan daun gewang lebih rendah dibandingkan pada bahan bambu petung. Hal ini menunjukkan bahwa bahan pengawet pinus lebih mudah masuk ke dalam bahan bambu petung dan gewang dibandingkan dengan CCB. Metode Boucherie lebih efektif dalam mengawetkan bambu dengan bahan pengawet jenis pinus untuk meningkatkan ketahanan terhadap rayap kayu kering, sedangkan metode perendaman lebih efektif dalam meningkatkan ketahanan jamur busuk dengan menggunakan bahan pengawet jenis pinus atau CCB.

Pengawet boron juga efektif mencegah serangan rayap kayu kering pada batang bambu dengan metode Boucherie yang dimodifikasi, sedangkan boron untuk daun pipi lebih efektif mencegah serangan jamur busuk dan kumbang bubuk kayu kering.

Gambar 1. Alat Boucherie yang sudah dimodifikasi Figure 1. Modified Boucherie instrument
Gambar 1. Alat Boucherie yang sudah dimodifikasi Figure 1. Modified Boucherie instrument

Efektivitas Pengawetan antara Boron dan CCB

  • Artikel dalam jurnal ilmiah, 1 penulis (Article in scientific journal 1 author)
  • Artikel dalam jurnal ilmiah, 2 - 5 penulis (Article in scientific journal, 2 - 5 authors)
  • Buku teks, 1 - 5 penulis ( Text book, 1 - 5 authors )
  • Prosiding (Proceeding)
  • Skripsi, Tesis, atau Disertasi ( Thesis or Disertation )
  • Laporan penelitian ( Research report )
  • Artikel dari situs internet ( Article from website )
  • Artikel dari situs internet, tanpa nama penulis gunakan nama institusi/organisasi (Article on the website, if no author, mention the institution/organization)

Dibandingkan efektivitas bahan pengawet boron dan CCB pada daun bambu petung, metode pengawetan perendaman lebih efektif menggunakan bahan pengawet boron untuk meningkatkan ketahanan terhadap rayap tanah dan jamur pembusuk. Berdasarkan karakteristik bahan pengawet, dilihat dari nilai retensi dan penetrasi bahan pengawet pada Tabel 1 dan Tabel 2, rata-rata nilai retensi dan penetrasi bahan pengawet boron lebih tinggi dibandingkan dengan bahan pengawet CCB, hal ini menunjukkan bahwa bahan pengawet boron lebih mudah terserap ke dalam bahan pengawet. bahan bambu dan daun gewang dibandingkan CCB. . Untuk bahan yang dikeringkan dan diawetkan dengan metode perendaman, bahan pengawet boron akan lebih efektif.

Pengawet boron lebih efektif digunakan pada bambu petung untuk meningkatkan ketahanan terhadap rayap tanah, rayap kayu kering dan jamur pembusuk. Dari hasil penelitian tersebut, belum diketahui berapa lama bahan pengawet tersebut bertahan pada sampel yang diuji, baik yang diawetkan dengan bahan pengawet boron dan CCB maupun dengan metode Boucherie yang dimodifikasi dan perendaman. Mengawetkan kayu jaringan (Hibiscus macrophyllus Roxb.) dengan cara perendaman dingin dengan bahan pengawet setara asam borat.

Mengawetkan kayu jati sintetis dalam rendaman dingin dengan bahan pengawet boron untuk mencegah serangan rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.).

Gambar 2.  Perbandingan warna bambu dan pelepah gewang sebelum diawetkan (atas) dan
Gambar 2. Perbandingan warna bambu dan pelepah gewang sebelum diawetkan (atas) dan

Gambar

Gambar 2. Persentase volume limbah pangkal dan ujung log pada berbagai topografi
Gambar 1. Histogram sebaran limbah penebangan pada berbagai topografi pada  penebangan di IUPHHK-HA di Papua Barat
Tabel 6. Hasil uji statistik persentase limbah log pecah menurut topografi
Tabel 7. Uji beda nyata terkecil limbah yang pecah dengan topografi pada penebangan   di IUPHHK-HA di Papua Barat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ambiguous Error First Example Code GT17 Google Translate PN School is *center of excellence English version PN School was a center of excellence Types of Errors Omission