PENGARUH PENERAPAN GOOD COORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI
BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2021
The Implementation of Good Corporate Governance on the Financial Performance of Manufacturing Companies in the Consumption Goods Industry Sector Listed on the
Indonesia Stock Exchange in 2021
SKRIPSI
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar Sarjana
Disusun oleh:
WAHYU CAHYATI 19412011
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
BANDAR LAMPUNG 2023
LEMBAR PERSETUJUAN
PENGARUH PENERAPAN GOOD COORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI
BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2021
The Implementation of Good Corporate Governance on the Financial Performance of Manufacturing Companies in the Consumption Goods Industry Sector Listed on the
Indonesia Stock Exchange in 2021
Yang diajukan oleh WAHYU CAHYATI
19412011
Telah disetujui
Pada tanggal 15 September 2022
Mengetahui, Disetujui,
Program Studi S1 Akuntansi Pembimbing,
Ketua,
Tri Darma Rosmala Sari, S.E., M.S.Ak. Fedi Ameraldo, S.E.I., M.Ak.
NIK. 022 09 10 06 NIK. 021 21 08 03
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan senantiasa kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan kasih karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021” dengan baik dan lancar. Penulisan skripsi ini dilaksanakan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar strata Sarjana Satu (S1) di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknokrat Indonesia.
Penulis menyadari bahwa dalam pelaksanaan skripsi ini tidak akan selesai dengan baik tanpa adanya pihak-pihak yang membantu baik secara moril maupun spiritual.
Oleh karena itu dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas segala dukungan, doa bimbingan serta arahan yang diberikan kepada penulis selama ini kepada :
1. Kedua orang tua, Bapak Winarto Adi dan Ibu Kris Setyowati yang senantiasa memberikan semangat, doa dan restu yang tiada henti sejak awal perkuliahan hingga selesainya proses penyusunan skripsi ini.
2. Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Bapak Dr. H. M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A
3. Bapak Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknokrat Indonesia.
4. Ibu Tri Darma Rosmala Sari, S.E., M.S.Ak. selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi.
5. Bapak Fedi Ameraldo, S.E.I., M.Ak. Selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia memberikan arahan, ilmu dan bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.
6. Ibu Dwi Tirta Kencana, S.E., M.S.Ak. Selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan serta saran sehingga skripsi ini dapat menjadi lebih baik.
7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknokrat Indonesia yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sangat luas kepada penulis
ii
selama perkuliahan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi amal kebaikan bagi kita semua.
8. Seluruh staff dilingkup Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknokrat Indonesia yang telah banyak membantu proses administrasi sehingga proses perkuliahan dan penyusunan skripsi ini dapat berjalan dengan baik dan tepat waktu.
9. Sahabat-sahabat Terkasih Billy, Eli, Gepi, Elda, Dewi, Usman, Nanda dan Rama yang sudah mendukung penulis dan memberikan semangat serta masukan kepada penulis.
10. Teman – teman Akuntansi kelas 19 A yang selalu bersama dari awal perkuliahan hingga penulis menyelesaikan proses skripsi.
11. Teman-teman dari BEM FEB 2021, Hima Akuntansi 2021 dan UKM CYT 2022 atas kerjasama, kebersamaan, motivasi dan dukungan semoga kita semua dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, dikarenakan masih adanya keterbatasan ilmu dan pengalaman yang dimiliki penulis.
Oleh karena itu diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak agar menjadi lebih baik lagi. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk penulis, pembaca dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Bandar Lampung, 2 Maret 2023
Wahyu Cahyati 19412011
iii
PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI
BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2021
Oleh : Wahyu Cahyati
ABSTRAK
Kinerja dari sektor industri barang konsumsi sepanjang 2021 naik 17,3 persen jika dibandingkan dari tahun 2020. Hal ini dikarenakan adanya masa pandemi virus corona yang membuat banyak masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan menyebabkan konsumsi barang dan kebutuhan seperti obat, makanan dan minuman menjadi meningkat dan menyebabkan kinerja dari industri barang konsumsi juga ikut meningkat dibandingkan dengan industri lainnya. Kinerja keuangan dapat menjadi patokan dalam menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan baik atau buruk. Good Corporate Governance juga sangat mempengaruhi kinerja keuangan sebuah perusahaan maka dari itu perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance dengan baik, maka kinerja keuangannya juga akan baik oleh para pemegang saham. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dewan direksi, dewan komisaris independen dan komite audit terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi sebanyak 51 perusahaan.
Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dan didapat sampel sejumlah 44 perusahaan. Data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan Stastitical Program For Social Science (SPSS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan sedangkan dewan direksi dan komite audit tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Kata kunci : dewan direksi, dewan komisaris independen, komite audit, kinerja keuangan
i DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
LAMPIRAN ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian... 6
1.4 Manfaat Penelitian... 7
1.5 Sistematika Penulisan ... 7
BAB II KAJIAN TEORITIS ... 9
2.1 Landasan Teori ... 9
2.1.1 Teori Keagenan ... 9
2.1.2 Good Corporate Governance ... 11
2.1.3 Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance ... 15
2.1.4 Komponen Good Corporate Governance ... 17
2.1.5 Kinerja Keuangan ... 20
2.2 Tinjauan Pustaka ... 24
2.3 Pengembangan Hipotesis ... 32
2.3.1 Pengaruh Dewan Direksi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan ... 32
2.3.2 Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan . 32 2.3.3 Pengaruh Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan ... 33
2.4 Kerangka Pemikiran ... 34
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
3.1 Desain Penelitian ... 35
3.1.1 Populasi ... 35
3.1.2 Sampel ... 35
3.2 Variabel Penelitian ... 37
3.2.1 Variabel Independen (Bebas) ... 37
ii
3.2.2 Variabel Dependen (Terikat) ... 37
3.3 Definisi Operasional Variabel ... 37
3.3.1 Operasional Variabel Independen ... 37
3.3.2 Operasional Variabel Dependen ... 39
3.4 Metode Analisis Data ... 40
3.4.1 Statistik Deskriptif ... 40
3.4.2 Uji Asumsi Klasik ... 40
3.4.3 Uji Hipotesis ... 42
BAB IV HASIL & PEMBAHASAN ... 44
4.1 Deskripsi Populasi & Sampel Penelitian ... 44
4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 44
4.3 Uji Asumsi Klasik ... 47
4.3.1 Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov ... 47
4.3.2 Uji Multikonolinieritas ... 47
4.3.3 Uji Heterokedasitas ... 48
4.3.4 Uji Autokorelasi ... 48
4.4 Pengujian Hipotesis ... 49
4.4.1 Analisis Regresi Linier Berganda ... 49
4.4.2 Uji Signifikansi F (Stimulan) ... 50
4.4.3 Uji Signifikansi T (Uji Parsial) ... 51
4.4.4 Uji Koefisien Determinasi ... 52
4.5 Pembahasan ... 53
4.5.1 Pengaruh Dewan Direksi Terhadap Kinerja Keuangan ... 53
4.5.2 Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Kinerja Keuangan ... 53
4.5.3 Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Keuangan ... 54
BAB V KESIMPULAN & SARAN ... 56
5.1 Kesimpulan... 56
5.2 Keterbatasan ... 56
5.3 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 57
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 3. 1 Sampel Penelitian ... 36
Tabel 3. 2 Definisi Operasional Variabel Independen ... 38
Tabel 3. 3 Definisi Operasional Variabel Dependen ... 39
Tabel 4. 1 Kriteria Sampel Penelitian ... 44
Tabel 4. 2 Analisis Statstik Deskriptif ... 45
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas ... 47
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikonolinieritas ... 47
Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi... 49
Tabel 4.6 Hasil Uji Regresi Linier Berganda ... 49
Tabel 4.7 Hasil Uji Signifikansi F ... 51
Tabel 4.8 Hasil Uji Signifikansi T ... 51
Tabel 4.9 Hasil Uji Koefesien Determinasi ... 52
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4. 1 Hasil Uji Heterokedasitas ... 48
v LAMPIRAN
Lampiran 1 Jumlah Variabel Independen ... 62
Lampiran 2 Hasil Penghitungan ROA ... 63
Lampiran 3 Hasil Uji Normalitas SPSS ... 64
Lampiran 4 Hasil Uji Multikolinieritas SPSS ... 65
Lampiran 5 Hasil Uji Heterokedasitas SPSS ... 65
Lampiran 6 Hasil Uji Autokorelasi SPSS ... 66
Lampiran 7 Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda SPSS ... 66
Lampiran 8 Hasil Uji F SPSS ... 66
Lampiran 9 Hasil Uji T SPSS ... 67
Lampiran 10 Hasil Uji Koefisien Determinasi SPSS ... 67
Lampiran 11 Hasil Uji Statistik deskriptif SPSS ... 67
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan barang baku atau mentah yang kemudian dijadikan barang siap pakai oleh konsumen.
Perusahaan ini terdiri dari tiga sektor yaitu sektor industri dasar dan kimia, aneka industri dan indsutri barang konsumsi. Di dalam penelitian ini sektor yang digunakan adalah sektor barang konsumsi dimana sektor ini adalah sektor yang memproduksi berbagai kebutuhan masyarakat. Sub sektor industri barang konsumsi terdiri dari : sub sektor makanan dan minuman, farmasi, kosmetik dan keperluan rumah tangga, rokok dan yang terakhir adalah peralatan rumah tangga (Amalia, 2019). Berdasarkan data kementrian perindustrian pada tahun 2021, kinerja dari sektor industri sepanjang 2021 naik 17,3 persen jika dibandingkan dari tahun 2020. Hal ini dikarenakan adanya masa pandemi virus corona yang membuat banyak masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan menyebabkan konsumsi barang dan kebutuhan seperti obat, makanan dan minuman menjadi meningkat dan menyebabkan kinerja dari industri barang konsumsi juga ikut meningkat dibandingkan dengan industri lainnya.
(Kemenperin.go.id, 2022)
Bursa Efek Indonesia menganggap sektor industri barang konsumsi relatif kuat dan sektor inilah yang terutama mendukung perekonomian Indonesia. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, industri ini menarik banyak minat investor khususnya investor dalam negeri karena kinerja keuangannya yang semakin lama semakin meningkat. Investasi di industri makanan mencapai 21,7% dari seluruh investasi manufaktur sejak 2015 hingga kuartal pertama 2020.
Good Corporate Governance adalah upaya perusahaan guna membangun pola hubungan yang kondusif antar pemangku kepentingan di dalam perusahaan. Hubungan yang kondusif antar stakeholder tersebut menjadi hal yang penting dalam mewujudkan kinerja perusahaan yang baik, yang selanjutnya dapat mendukung peningkatan nilai perusahaan. Good Corporate Governance merupakan tata kelola perusahaan yang mempraktikkan prinsip – prinsip keterbukaan (Tranparancy), akuntabilitas (accountability), kewajaran (Fairness) pertanggungjawaban (Setiawan & Setiadi,
2
2020). Tujuan utama diterapkannya Good Corporate Governance adalah untuk melindungi pemegang saham dari sikap manajemen yang tidak bersih dan tidak transparan. Penerapan dan pengeloaan Good Corporate Governance adalah sebuah konsep yang menekan pentingnya hak pemegang saham dalam memperoleh informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dengan benar, akurat, serta tepat waktu.
Perusahaan juga mempunyai kewajiban melakukan pengungkapan kinerja keuangan secara transparan.
Komponen Good Corporate Governance yang digunakan dalam penelitian ini adalah: dewan komisaris independen, dewan direksi dan komite audit. Dewan komisaris independen adalah anggota yang tidak ada hubungannya dengan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham ataupun hubungan keluarga dengan anggota Direksi, Dewan Komisaris dan para pemangku kepentingan lainnya di dalam perusahaan. Dewan komisaris independen memiliki tanggungjawab untuk mengawasi manajemen perusahaan agar tidak terjadi kecurangan didalam perusahaan ketika menyajikan laporan keuangannya. Dewan komisaris independen mempunyai kekuasaan untuk melindungi serta mengawasi pemegang saham minoritas dan berperan dalam pengambilan keputusan di perusahaan (Rahmatika & Agusti, 2015). Dewan Direksi adalah badan yang membawahi seluruh kegiatan perusahaan, serta operasional yang berpegang pada praktik manajemen organisasi yang sangat baik dan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. (Hediono & Prasetyaningsih, 2019). Dewan direksi sangat penting untuk proses pengambilan keputusan yang ada di dalam perusahaan. Komite Audit, adalah orang yang berada dibawah naungan dewan komisaris, yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam rangka mendukung seluruh upaya yang dilakukan oleh dewan komisaris dalam melaksanakan tugas dan wewenang pengawasannya secara efektif (Kyere & Ausloos, 2021).
Implementasi Good Corporate Governance secara konsisten pada prinsipnya ditujukan guna memaksimalkan nilai perusahaan pada mata para pemegang saham dan pemangku kepentingan, dan diterapkan untuk memperkuat daya saing perusahaan (Novatiani et al., 2019). Seiring dengan semakin ketatnya persaingan usaha, implementasi Good Corporate Governance menjadi sangat penting kiranya untuk tetap memenangkan persaingan usaha dengan permanen mengedepankan persaingan yang sehat dan beretika. Good Corporate Governance akan menjadi nilai tambah bagi
3
pemegang saham secara berkelanjutan pada jangka panjang, dengan tetap menghormati kepentingan pemangku kepentingan lainnya, sesuai aturan dan istiadat yang berlaku dengan demikian jelas bahwa Good Corporate Governance terkait erat dengan nilai perusahaan dan tentunya, kinerja keuangan perusahaan.
Kinerja keuangan diartikan sebagai prestasi manajemen di dalam meraih tujuan perusahaan yaitu memaksimumkan laba guna menaikkan nilai perusahaan serta menjadi tolak ukur untuk keberhasilan sebuah perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Kinerja keuangan perusahaan dapat dilihat melalui hasil laporan keuangan perusahaan.
Laporan keuangan menunjukkan posisi dan kondisi keuangan perusahaan. Posisi dan kondisi keuangan suatu perusahaan dapat mengalami perubahan di setiap periodenya sesuai dengan kegiatan yang sedang berlangsung di perusahaan (Abduh & Rusliati, 2018). Perubahan pada posisi keuangan ini juga akan memberikan dampak pada harga saham suatu perusahaan. Informasi kondisi keuangan mempunyai fungsi sebagai sarana informasi, indera pertanggungjawaban bagi manajemen kepada pemilik perusahaan serta berlaku sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Kinerja keuangan merupakan suatu analisis yang dilakukan guna melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan kegiatan perusahaan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Pengukuran kinerja dilakukan supaya manajer dapat menilai kinerja untuk perencanaan tujuan perusahaan pada masa yang akan datang. Rasio profitabilitas, digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan atau laba (Suryanto &
Refianto, 2019). Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam periode tertentu. Dimana masing masing pengukuran profitabilitas dihubungkan dengan menggunakan penjualan, total aktiva, dan modal. Secara keseluruhan ketiga pengukuran itu memungkinkan seorang penganalisa untuk mengevaluasi tingkat pendapatan dalam hubungan menggunakan volume penjualan, jumlah aktiva serta investasi tertentu dari pemilik perusahaan, didalam akuntansi digunakan prosedur penentuan untung atau rugi periodik dengan didasarkan pada pengaruh transaksi-transaksi yang sesungguhnya terjadi menyebabkan timbulnya pendapatan serta biaya-biaya sebagai elemen yang menghasilkan laba atau rugi pada suatu periode. Dalam penelitian ini rasio yang digunakan yaitu Return On Asset (ROA) yang merupakan rasio yang menunjukan akibat (return) atas jumlah aset yang
4
dipergunakan di dalam perusahaan. Rasio ini menunjukkan seberapa besar persentase perusahaan buat membuat laba dari aset yang dipergunakan dari setiap penjualan (Nasution, 2018). Peningkatan dalam rasio ini berarti perusahaan semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih sebelum pajak.
Salah satu contoh fenomena akibat buruknya kinerja perusahaan adalah kasus manipulasi laporan keuangan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) pada tahun 2018, perusahaan ini merupakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sektor industri barang konsumsi. Direktur utama AISA diduga dengan sengaja menaikkan nilai piutang enam perusahaan afiliasi AISA sekitar 3 triliun. Hal ini dilakukan agar nilai penjualan tampak meningkat karena nilai piutang yang tinggi.
Meskipun keadaan keuangan perusahaan yang sebenarnya tidak sebaik yang direpresentasikan, dengan laporan keuangan yang terlihat baik, perusahaan tidak akan kesulitan menarik kreditur dan investor. Dari kasus ini dapat dilihat bahwa AISA tidak dikelola secara baik dan belum menerapkan Good Corporate Governance secara benar di dalam perusahaannya juga jauh dari profesional sebagai tuntutan dari perusahaan yang sudah Go Public (News Detik.com, 2020).
Kemudian ada kasus manipulasi laporan keuangan tahunan PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) dan anak entitasnya yaitu PT Ritel Global Solusi (RGS) yang terjadi pada tahun 2019 dan baru terbongkar pada tahun 2021 ketika Bursa Efek Indonesia melihat ada yang janggal dalam laporan keuangan tahunan tersebut. BEI mempertanyakan laporan keuangan PT Ritel Global Solusi (RGS) yang dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan tahunan ENVY padahal RGS tidak membuat laporan keuangan tersebut. Menurut laporan keuangan 2019, ENVY melaporkan pendapatan Rp 188,58 miliar, naik 135% dari pendapatan Rp 80,35 miliar di 2018. Dari Rp 6,79 miliar di 2018 menjadi Rp 8,05 miliar di 2019, laba bersih meningkat 19%. Karena hal ini, saham ENVY sudah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi dapat bertambah menjadi 24 bulan pada tanggal 1 Desember 2022. Dari kasus ini dapat dilihat bahwa peran komite audit dalam perusahaan tersebut tidak terlaksana dengan baik. Peran komite audit adalah merespons, melakukan pengawasan perusahaan dan memastikan praktik Good Corporate Governance di dalam perusahaan dapat dijalankan dengan baik agar dapat menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas dan berintegritas. (CNBC Indonesia, 2021)
5
Kinerja keuangan dapat menjadi patokan dalam menunjukkan kondisi perusahaan apakah perusahaan dalam keadaan baik atau tidak. Ketika kondisi keuangan tidak baik, para pemegang saham dapat menggunakan laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan di masa lalu, keadaan perusahaam dimasa sekarang dan menilai potensi serta resiko perusahaan dimasa yang akan datang (Farida, 2018). Jika analisis laporan keuangannya baik, maka para pemegang saham akan tertarik untuk melakukan investasi kepada perusahaan tersebut sehingga nilai perusahaan akan mengalami peningkatan dan membuat perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain. Good Corporate Governance juga sangat mempengaruhi kinerja keuangan sebuah perusahaan maka dari itu perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance dengan baik, maka kinerja keuangannya juga akan baik dan dipandang professional oleh para pemegang saham.
Beberapa penelitian terdahulu mengenai pengaruh penerapan Good Corporate Governance diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Yushita Marini & Nisha Marina (2017) yang menyimpulkan bahwa ukuran dewan komisaris, komisaris independen, dan ukuran dewan direksi berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan komite audit tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Kemudian penelitian Sari Pande, et.al. (2019) yang menyimpulkan bahwa hasil penelitian ini menyatakan bahwa GCG dan CSR memiliki hubungan yang positif dan berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Selanjutnya penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Okta Setiawan dan Iwan Setiadi (2020) yang menunjukan bahwa komisaris independen berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan, komite audit independen tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan, kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan, dan kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Fidiawati dan Erna Sulistyowati (2022) yang menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen, dan komite audit berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan, sedangkan kepemilikan institusional dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Adanya hasil yang tidak konsisten dari penelitian - penelitian terdahulu menyebabkan isu ini menjadi topik yang penting untuk diteliti dimana peneliti memperluas variabel yang diteliti yaitu perusahaan manufaktur di sektor industri barang
6
konsumsi yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2021. Alasan lain penulis memilih perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi pada tahun 2021 sebagai objek penelitian adalah karena sektor inilah yang masih mampu bertahan ketika masa pandemi berlangsung dan menjadi penggerak utama ekonomi nasional dikala diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di Indonesia.
Selain itu karena perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia terdiri dari berbagai sub sektor industri barang konsumsi yang sangat membutuhkan penerapan Good Corporate Governance secara benar dalam kinerja keuangan perusahaannya setelah masa pandemi ini mulai berakhir.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri barang konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
1. Apakah dewan direksi berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2021?
2. Apakah dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2021?
3. Apakah komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2021?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah dewan direksi berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2021?
2. Untuk mengetahui apakah dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2021?
7
3. Untuk mengetahui apakah komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2021?
1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis
a. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh gelar sarjana (S1) pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Teknokrat Indonesia
b. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, memperluas wawasan dan pemahaman mengenai pengaruh dari penerapan Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan perusahaan
c. Penelitian ini juga melatih kemampuan teknis analitis yang sudah diperoleh selama masa perkuliahan dalam melakukan pendekatan terhadap suatu masalah, sehingga dapat memberikan pengetahuan dan wawasan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai masukan bagi perusahaan agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjalankan Good Corporate Governance di perusahaan terkhusus perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi.
3. Bagi penelitian selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya terkhusus bagi pihak – pihak yang meneliti dengan kajian yang sama yaitu mengenai Good Corporate Governance didalam perusahaan.
1.5 Sistematika Penulisan
Agar memudahkan penulis dan pembaca dalam memahami penelitian ini, maka peneliti mencantumkan sistematika pembahasan yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti dan disusun sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada penulisan bab I berisikan tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
8 BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab II ini berisikan tentang penjelasan para ahli dari buku, jurnal, dan penelitian yang relevan mengenai penerapan Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan perusahaan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi. Terdiri dari landasan teori penjelasan mengenai teori yang digunakan dan konsep masing-masing variabel, tinjauan pustaka, pengembangan hipotesis, dan kerangka pemikiran/model penelitian.
BAB III: METODE PENELITIAN
Di dalam bab III ini berisikan pembahasan tentang desain penelitian, definisi operasional variabel, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti dan penjelasan mengenai populasi juga sampel yang digunakan dalam penelitian ini dimana sampel diambil dari website resmi bursa efek Indonesia yaitu www.idx.co.id
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV merupakan hasil penelitian untuk menjawab rumusan masalah dari pemaparan pembahasan tentang pengaruh penerapan prinsip Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2021
BAB V: PENUTUP
Bab yang terakhir yaitu bab V berisi tentang kesimpulan semua isi dalam penelitian dan hasil dari penelitian tersebut.
9 BAB II
KAJIAN TEORITIS 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Keagenan
Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu agency theory. Teori agensi adalah teori yang dicetuskan oleh Jensen dan Meckling pada tahun 1976. Prinsip utama dari teori keagenan adalah adanya hubungan kerja antara principal dan agent.
Pihak principal merupakan pihak yang menyampaikan perintah atau mandat kepada pihak lain yakni agent, sedangkan agent merupakan pihak yang melakukan seluruh kegiatan atas nama principal pada kapasitasnya sebagai pengambil keputusan.
Menurut Hsu & Liao (2022), teori keagenan adalah hubungan yang berkaitan lebih dari satu orang, yang kemudian memerintahkan orang lain (principal) pada penerima tugas (agent) untuk menghasilkan keputusan dan mengerjakan jasa serta kewenangan atas nama principal tersebut. Agent yang dimaksud dalam hal ini adalah manajer yang mengelola perusahaan dan Principal yang dimaksud yaitu pemilik perusahaan atau para pemegang saham. Pemilik perusahaan (principal) dan pengelola perusahaan (agent) memiliki pemisahan kepentingan di dalam hubungan keagenan. Sedangkan menurut Kyere & Ausloos (2021), Teori keagenan mengutarakan pihak-pihak para kepentingan memiliki potensi yang menyebabkan konflik kepentingan dan mengakibatkan biaya keagenan (agency cost). Biaya keagenan ini disebabkan karena bentur kepentingan antara kepentingan pemilik dan karyawan yang mampu dikurangi dan menyesuaikan seluruh kepentingan perusahaan dengan mekanisme pengawasan atau disebut dengan mekanisme Good Corporate Governance atau tata kelola perusahaan.
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa ada pendelegasian kewenangan yang berasal dari pemilik perusahaan (principal) pada manajemen perusahaan (agent) untuk memberikan suatu jasa yang kemudian mendelegasikan pengambilan keputusan pada agent tersebut. Pengambilan keputusan sang manajer perusahaan wajib untuk diterima menjadi sarana pemenuhan kebutuhan ekonomi dengan segala konsekuensinya. Pada teori ini, manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mempunyai informasi tentang perusahaan dan tentu saja prospek perusahaan dimasa
10
yang akan datang dibandingkan dengan pemilik (pemegang saham). Manajer sebagai pengelola berkewajiban menyampaikan informasi perihal keadaan perusahaan kepada pemilik, tetapi di prakteknya isu yang diberikan kadang tak sesuai menggunakan kondisi perusahaan yang sebenarnya.
Teori keagenan adalah dasar yang dipergunakan dalam memahami isu corporate governance dan earning control. Teori keagenan menyebabkan hubungan yang kurang baik antara pemilik dan pengelola, demi menghindari terjadinya hubungan yang asimetri tersebut diperlukan suatu konsep yaitu konsep Good Corporate Governance yang memiliki tujuan untuk menjadikan perusahaan lebih sehat. Penerapan corporate governance didasarkan pada teori agensi, yaitu teori agensi dapat dijelaskan melalui hubungan antara manajemen dengan pemilik, manajemen sebagai agen secara moral bertanggung jawab guna mengoptimalkan laba para pemilik (foremost) dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi yang sesuai dengan kontrak (Zahrotul, 2015).
Salah satu asumsi utama yang berasal dari teori keagenan bahwa tujuan principal dan tujuan agent yang tidak sama dapat memunculkan permasalahan karena manajer perusahaan cenderung untuk mengejar tujuan pribadi dan hal ini dapat menyebabkan kecenderungan manajer untuk berfokus pada proyek dan investasi perusahaan yang membentuk keuntungan yang tinggi pada jangka pendek daripada memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham melalui investasi pada proyek-proyek yang menguntungkan dalam jangka Panjang (Amelinda &
Rachmawati, 2021). Teori agensi berfungsi untuk menganalisa serta menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang terdapat di dalam hubungan keagenan antara manajemen dan pemegang saham.
Menurut Amalia (2019) beberapa yang dapat digunakan untuk mengatasi atau meminimalkan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal serta agen, antara lain:
1. Menyamakan kepentingan manajemen
2. Pengawasan Good Corporate Governance (GCG)
3. Pemberian praise serta punishment (penghargaan serta eksekusi) 4. Utang menjadi sumber pendanaan perusahaan
11
5. Meningkatkan kepemilikan saham oleh institusi
Teori agensi sangat sulit untuk diterapkan dan memilki sangat banyak hambatan dan masih belum memadai, sehingga dibutuhkan suatu konsep yang lebih jelas tentang perlindungan terhadap para stakeholders. Konsep tersebut harus berhubungan dengan permasalahan-permasalahan konflik kepentingan dan biaya - biaya agensi yang timbul, sehingga berkembang suatu konsep baru yang memperhatikan serta mengatur kepentingan-kepentingan para pihak terkait dengan kepemilikan dan juga pengoperasional suatu perusahaan, yaitu konsep corporate governance. Good Corporate Governance adalah konsep yang didasarkan pada teori keagenan, sehingga diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada investor bahwa mereka akan menerima pengembalian atas dana yang diinvestasikan (Nurhidayah, 2020)
Dari penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa teori keagenan, yang terdiri dari para pemegang saham memberikan kepercayaan dan wewenang kepada para pengelola perusahaan untuk membuat keputusan dan juga mengerjakan tanggungjawab. Jadi para kepentingan mampu terjadi permasalahan bentur kepentingan yang mengeluarkan biaya keagenan tetapi mampu dikurangi dengan melakukan prosedur pengawasan atau Good Corporate Governance. Dampak yang berasal dari agency conflict kemungkinan dikarenakan kelebihan-kelebihan informasi yg diketahui para agen yang bisa saja melakukan mengambil keputusan sepihak atau bertindak untuk kepentingan pribadi yang merugikan para prinsipal demi keuntungan dirinya sendiri.
2.1.2 Good Corporate Governance
2.1.2.1 Pengertian dan konsep Good Corporate Governance
Pengertian Good Corporate Governance menurut Organization for Economics Corporation and Development (2004) adalah sistem pengendalian internal dalam suatu organisasi yang mengatur bagaimana pemegang saham, anggota dewan direksi, dan dewan komisaris, bersama dengan manajemen melaksanakan tugasnya masing-masing.
Sistem ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja pasar perusahaan dan memungkinkannya beroperasi secara efisien untuk mencapai tujuan utamanya.
12
Good Corporate Governance merupakan seperangkat yang mengatur korelasi antara pemegang saham, pengurus perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan dan pemegang kepentingan intern serta ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan juga kewajiban mereka atau dengan istilah lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Menurut Djamilah & Surenggono (2017) menyatakan bahwa corporate governance merupakan suatu proses dan struktur yang dipergunakan oleh perusahaan untuk memberikan nilai tambah pada perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan di peraturan perundang-undangan serta norma yang berlaku. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan upaya atau usaha yang dilakukan oleh perusahaan dalam membangun hubungan yang baik dengan pemangku kepentingan didalam perusahaan dan menjadikan nilai tambah untuk perusahaan agar perusahaan dapat tetap berjalan dengan baik dan professional.
Penerapan Good Corporate Governance (GCG) disebut mampu untuk meminimalisir terjadinya permasalahan di dalam keagenan, karena dalam GCG terdapat prinsip-prinsip yang dapat menjaga hubungan baik dan menjamin terpenuhnya hak pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. 5 prinsip tersebut adalah transparansi (Tranparancy), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (Responsibility), kemandirian (Independency), dan kewajaran (Fairness). Tujuan utama diterapkannya Good Corporate Governance adalah untuk melindungi pemegang saham dari sikap manajemen yang tidak bersih dan tidak transparan. Penerapan dan pengeloaan Good Corporate Governance adalah sebuah konsep yang menekan pentingnya hak pemegang saham dalam memperoleh informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dengan benar, akurat, serta tepat waktu. Perusahaan juga mempunyai kewajiban melakukan pengungkapan kinerja keuangan secara transparan.
Sistem Good Corporate Governance yang efektif mampu memberikan pengaruh pada probabilitas perusahaan. Variabel Good Corporate Governance merupakan faktor yang penting untuk dapat menentukan nilai sebuah perusahaan dan mampu memengaruhi kinerja keuangan perusahaan yang sudah dibuktikan secara empiris oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Laporan keuangan organisasi dapat mencerminkan kinerja keuangan dari suatu organisasi bisnis. Menurut Nurhidayah (2020) sebuah
13
instansi dapat mengembangkan tata kelola perusahaan yang baik guna memaksimalkan kinerja organisasi. seluruh aktivitas operasional perusahaan akan berjalan dengan baik apabila aplikasi prinsip Good Corporate Governance mampu diterapkan dengan efektif pada perusahaan, sebagai akibatnya hal tadi dapat berdampak terhadap kinerja perusahaan secara finansial maupun non finansial yang pula akan turut membaik.
Implementasi Good Corporate Governance secara konsisten pada prinsipnya ditujukan guna memaksimalkan nilai perusahaan pada mata para pemegang saham dan pemangku kepentingan, dan diterapkan untuk memperkuat daya saing perusahaan.
Seiring dengan semakin ketatnya persaingan usaha, implementasi Good Corporate Governance menjadi sangat penting kiranya untuk tetap memenangkan persaingan usaha dengan permanen mengedepankan persaingan yang sehat dan beretika. Good Corporate Governance akan menjadi nilai tambah bagi pemegang saham secara berkelanjutan pada jangka panjang, dengan tetap menghormati kepentingan pemangku kepentingan lainnya, sesuai aturan dan istiadat yang berlaku. dengan demikian jelas bahwa Good Corporate Governance terkait erat dengan nilai perusahaan dan tentunya, kinerja keuangan perusahaan.
2.1.2.2 Tujuan & Manfaat Good Corporate Governance
Penerapan Good Corporate Governance memiliki tujuan utama yaitu untuk memaksimalkan kinerja perusahaan dan mendorong pengelolaan yang ada di dalam perusahaan secara profesional (Sari et al., 2019). Jika Good Corporate Governance berjalan dengan baik, maka akan membentuk nilai tambah bagi semua pihak yang ada didalam perusahaan dan juga menaikkan keberhasilan usaha serta akuntabilitas perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Good Corporate Governance:
1. Good Corporate Governance memiliki tujuan untuk membentuk, membangun, serta mempertinggi citra perusahaan agar perusahaan dipandang baik oleh pihak investor 2. Good Corporate Governance memiliki tujuan untuk mencegah berbagai resiko yang
dapat terjadi didalam perusahaan yang diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak baik didalam perusahaan.
3. Dapat menjadi patokan didalam menjaga kepentingan para stakeholder 4. Meningkatkan investasi nasional dan internasional
14
Pada penerapannya ada banyak manfaat Good Corporate Governance bagi perusahaan dimana salah satunya untuk meningkatkan kinerja yang ada di perusahaan, mengurangi biaya dan dapat menimbulkan rasa percaya investor untuk menanamkan modalnya ke perusahaan. Tujuan perusahaan menerapkan Good Corporate Governance di dalam pengelolaan perusahaannya salah satunya adalah meningkatkan kesejahteraan pemilik perusahaan seperti investor, atau dapat juga melalui peningkatan nilai yang ada di dalam perusahaan dengan cara memaksimalkan kekayaan paara investor (Lee &
Suh, 2022). Menurut Ningsih & Daniel Bagana (2022), ketika menerapkan Good Corporate Governance beberapa manfaat yang akan diperoleh perusahaan adalah :
1. Good Corporate Governance akan mendorong pemanfaatan sumber daya yang ada didalam perusahaan ke arah yang lebih efisien serta lebih efektif. Dari hal tersebut akan dapat membantu perkembangan ekonomi nasional.
2. Good Corporate Governance mampu mendorong perusahaan dan perekonomian nasional dengan berbagai hal yang menarik modal investor menggunakan biaya yang relatif rendah dengan cara menumbuhkan kepercayaan investor serta kreditor domestik maupun internasional.
3. Good Corporate Governance dapat membantu pemilik perusahaan dalam hal pengelolaan perusahaan, memastikan dan juga menjamin bahwa perusahaan sudah menaati seluruh ketentuan dan peraturan.
4. Good Corporate Governance mampu membantu manajemen di dalam perusahaan dan corporate board dalam memantau penggunaan asset di perusahaan.
5. Good Corporate Governance yang baik juga dapat membantu perusahaan dalam mengurangi korupsi.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan dari penerapan Good Corporate Governance adalah membuat nilai didalam perusahaan menjadi lebih baik dan terlihat lebih profesional agar investor tertarik untuk memberikan dana ke perusahaan karena tata kelola perusahaan yang baik. Adapun manfaat dari penerapan Good Corporate Governance di dalam perusahaan adalah untuk menjadikan perusahaan menjadi patuh akan peraturan dan hukum pemerintah serta membuat perusahaan dapat mengurangi korupsi.
15
2.1.3 Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance
Menurut Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara nomor : KEP- 117/M-MBU/2002 (2002) pengertian lima prinsip dari Good Corporate Governance adalah sebagai berikut :
1. Transparancy (Transparansi)
Transparansi memiliki arti keterbukaan dan tidak ada yang disembunyikan ketika melakukan sebuah proses untuk dapat mengambil keputusan. Selain itu transparansi juga adalah keterbukaan ketika pihak perusahaan ingin mengemukakan informasi yang berkaitan dengan perusahaan dimana informasi yang diberikan harus material dan relevan.
2. Independency (Kemandirian)
Kemandirian didalam perusahaan dapat diartikan sebagai keadaan dimana perusahaan dikelola dengan cara yang profesional tanpa adanya benturan kepentingan ataupun pengaruh dan juga tekanan dari pihak manapun yang tidak terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan menyalahi aturan perundang-undangan yang sudah ditentukan.
3. Accountability (Akuntabilitas)
Akuntanbilitas adalah kejelasan dari fungsi, pertanggungjawaban dan pelaksanaan yang ada di dalam perusahaan agar semua bentuk pengelolaan di perusahaan dapat dilakukan secara efektif.
4. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban yang dimaksud adalah kesesuaian di dalam tata cara pengelolaan semua hal yang ada di perusahaan dan harus taat kepada peraturan peraturan pemerintah agar dapat mencapai prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
5. Fairness (Kewajaran)
Kewajaran dapat diartikan sebagai sebuah keadilan dan juga kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak para pemegang kepentingan yang ada di perusahaan dan sesuai dengan perjanjian yang berlaku.
Selain itu, ada pengertian prinsip – prinsip Good Corporate Governance menurut Organization for Economics Corporation and Development (2004) adalah :
16 1. Transparancy ( Keterbukaan)
Transparansi merupakan keterbukaan dalam melakukan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan dan dalam mengemukakan informasi - informasi materil juga relevan yang berkaitan dengan perusahaan secara tepat waktu dan akurat agar dapat dinilai transparan oleh para stakeholders. Pengungkapan yang memadai dapat berguna bagi para stakeholders untuk menilai resiko apa yang dapat saja terjadi. Ketika pernyataan laporan keuangan yang diungkapkan tidak menyeluruh, maka hal tersebut mampu menyulitkan pihak eksternal dalam menentukan apakah perusahaan sudah memiliki dana yang cukup di situasi yang mengkhawatirkan. Hal ini juga dapat mengakibatkan keterbatasan dalam kemampuan investor untuk memberikan penilaian dan juga resiko dari perubahan modal (volatility of capital).
2. Accountability (Akuntabilitas)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi dan pertanggungjawaban seluruh pihak yang ada didalam perusahaan serta pegawai sehingga pengelolaan perusahaan dapat dilaksanakan secara efektif. Didalam pengelolaan perusahaan semua kegiatan harus sesuai juga dengan kekuasaan masing masing para manajer yang ada di dalam perusahaan yang memiliki tanggungjawab untuk mengoperasikan perusahaan setiap hari dan dewan direksi yang mewakili para pemegang sahamnya.
3. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggung jawaban merupakan kesesuaian pada pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk peraturan dan kebijakan perusahaan, dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Pertanggung jawaban juga harus diikuti oleh komitmen buat menjalankan kegiatan bisnis sesuai menggunakan standar etika (kode etik).
4. Independency (Kemandirian)
Kemandirian adalah sebuah keadaan dimana perusahaan harus dikelola secara profesional tanpa adanya benturan kepentingan ataupun tekanan yang berasal dari pihak manapun. Kemandirian adalah sebuah hal yang sangat penting yang bertujuan agar masing-masing organ di dalam perusahaan mampu menjalankan
17
tugas yang diberikan dengan sebaik mungkin untuk kepentingan perusahaan.
5. Fairness (Kesetaraan & Kewajaran)
Kewajaran adalah keadilan serta kesetaraan pada memenuhi hakhak para stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian perundang undangan, kebijakan perusahaan, peraturan-peraturan perusahaan serta ketentuan lainnya serta prinsip- prinsip korporasi yang sehat.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa prinsip – prinsip yang ada di dalam Good Corporate Governance memiliki manfaat yang besar di dalam perusahaan dalam mengendalikan dan mengatur jalannya perusahaan yang hasil akhirnya dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan juga para pemangku kepentingan. Hal lain yang didapat ketika menerapkan prinsip – prinsip Good Corporate Governance dengan benar adalah fungsi yang ada didalam perusahaan dapat berjalan dengan lebih baik dan tertata.
2.1.4 Komponen Good Corporate Governance 1. Dewan Direksi
Kebijakan yang akan diambil atau strategi jangka panjang dan jangka pendek perusahaan akan diputuskan oleh dewan direksi (Ayuningtyas et al., 2020). Dewan Direksi adalah badan yang membawahi seluruh kegiatan perusahaan, serta operasional yang berpegang pada praktik manajemen organisasi yang sangat baik dan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Dewan direksi sangat penting untuk proses pengambilan keputusan yang ada di dalam perusahaan. Sebagai pelaksana operasi dan manajemen perusahaan, direksi merupakan salah satu pihak dalam entitas perusahaan. Jumlah anggota dewan perusahaan digunakan untuk menentukan ukuran dewan direksi (Eksandy, 2018).Dewan direksi mewakili pemegang saham dalam pengelolaan bisnis.
Tugas untuk menjamin tercapainya tujuan yang ditetapkan terletak pada dewan direksi.
Direksi bertugas menjalankan kebijakan dan strategi yang telah disepakati dewan komisaris, menjaga struktur organisasi tetap pada tempatnya, dan memastikan pendelegasian wewenang berjalan dengan baik. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (2007)
18
secara khusus mengatur tentang tugas, hak, dan kewajiban direksi: memimpin organisasi dengan menetapkan kebijakan perusahaan, memilih, mengalokasikan, dan mengawasi tanggung jawab karyawan dan kepala bagian (manajer), menyetujui anggaran tahunan perusahaan, dan menyampaikan laporan kepada pemegang saham tentang kinerja organisasi adalah contoh kepemimpinan.
2. Dewan Komisaris Independen
Menurut Bintang Dwi et al. (2018), dewan komisaris indpenden sangat penting untuk mengadopsi tata kelola perusahaan karena dewan komisaris independen mengawasi kebijakan manajemen, menuntut tanggung jawab implementasi, dan memastikan bahwa rencana perusahaan dijalankan dengan benar. Komisaris independen dapat mengawasi kebijakan manajemen, memberikan nasihat manajemen, dan berperan sebagai mediator dalam konflik antar manajer internal (Marini & Marina, 2017). Di dalam keputusan direksi PT BEI No. Kep-315/BEJ/062000 tahun 2000 komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota dewan komisaris, anggota direksi dan/atau pemegang saham operasional atau dengan perusahaan yang dapat menghalangi atau menghalangi posisinya untuk bertindak independen sesuai dengan prinsip prinsip GCG. Komisaris Independen bertanggung jawab untuk mengawasi dan juga mewakili kepentingan pemegang saham minoritas. (Adi & Suwarti, 2022)
Menurut Situmorang & Simanjuntak (2019) dewan komisaris bertugas untuk melakukan pemantauan dan memastikan bahwa tata kelola perusahaan telah ditetapkan oleh bisnis sesuai dengan semua undang-undang yang relevan. Hal ini sesuai dengan Pasal 108 Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, yang menyebutkan bahwa dewan komisaris bertugas mengawasi kebijakan operasional direksi dan memberikan nasihat. Akibatnya, dewan komisaris memiliki dampak yang signifikan terhadap bagaimana perusahaan melakukan tata kelola perusahaan mereka. Investor tidak akan merasa telah berkontribusi pada perusahaan atau membeli efek ekuitas jika peran dewan komisaris tidak berjalan dengan baik. Adanya komisaris independen juga mampu meningkatkan fungsi pengawasan dewan komisaris dan meningkatkan independensi dewan
19
komisaris (Rossi et al., 2015). Salah satu masalah penerapan GCG adalah bahwa CEO memiliki wewenang lebih dari dewan komisaris. Sebaliknya, peran dewan komisaris ada untuk memantau efektivitas dewan direksi yang dipimpin oleh CEO. Menurut Situmorang & Simanjuntak (2019) menyimpulkan bahwa Tingkat independensi dewan komisaris memiliki dampak yang signifikan pada seberapa baik keseimbangan wewenang CEO.
3. Komite Audit
Komite audit yang bertugas memantau sistem pengendalian internal (termasuk audit internal), audit eksternal, dan laporan keuangan, dapat mengurangi karakter oportunistik manajemen yang mengelola laba dengan memantau laporan keuangan dan audit eksternal. Berdasarkan Surat Keputusan Direksi BEJ No. Kep-315/BEJ/06/2000, komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris perseroan, yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Komisaris. Komite audit berperan untuk mendukung direksi dalam melakukan pemeriksaan dan penelitian yang dianggap perlu tentang bagaimana tugas direksi dalam mengelola perusahaan dilakukan. Komisaris menjabat sebagai ketua komite audit sesuai dengan hukum Indonesia. Keberhasilan Komite Audit didasarkan pada independensinya. (Lidiawati & Asyik, 2016).
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan BAPEPAM No : KEP-643/BL/2012, 2012 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit mengatur independensi Komite Audit:
1. Bukan anggota dari kantor akuntan publik, kantor hukum, atau entitas lain yang memberikan jasa audit atau jasa penasihat lainnya kepada emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan selama 6 (enam) bulan sebelum penunjukan Dewan Komisaris.
2. Bukan merupakan orang yang dalam waktu enam (enam) bulan sebelum dicalonkan oleh Dewan Komisaris mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
20
3. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau Perusahaan Publik. Dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham akibat suatu peristiwa hukum maka dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut wajib mengalihkan kepada pihak lain.
2.1.5 Kinerja Keuangan
2.1.5.1 Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan merupakan prestasi yang diraih oleh manajemen di dalam perusahaan yaitu tujuan untuk memaksimumkan laba yang diperoleh perusahaan dan juga untuk menaikkan nilai perusahaan dan merupakan tolak ukur sebuah keberhasilan sebuah perusahaan dalam menghasilkan laba (Permana Arif Imam, 2015). Kinerja keuangan perusahaan dapat dilihat dari hasil laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan bertujuan untuk memberitahukan posisi dan juga kondisi keuangan yang sedang dialami perusahaan. Posisi dan kondisi keuangan didalam perusahaan bisa berubah kapan saja di setiap periodenya sesuai dengan keadaan yang sedang berlangsung di perusahaan. Perubahan yang terjadi pada posisi keuangan akan memberikan efek di harga saham suatu perusahaan. Kondisi keuangan didalam perusahaan memiliki fungsi sebagai sarana informasi, alat pertanggungjawaban bagi manajemen kepada pemilik perusahaan serta berlaku sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan (Hediono & Prasetyaningsih, 2019). Harga saham sebuah perusahaan juga menggambarkan nilai sebuah perusahaan tersebut. Jadi semakin baik laporan keuangan yang diberikan oleh perusahaan, maka semakin tinggi nilai perusahaan tersebut.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2012) kinerja Keuangan yang ada didalam perusahaan dapat diukur dengan cara menganalisis dan mengevaluasi laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu dapat digunakan untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa depan. Tujuan pelaporan adalah memberikan informasi yang bermanfaat dalam memberikan keputusan investasi dan kredit, menilai arus kas dimasa mendatang, dan menjadi informasi mengenai sumber daya yang ada dalam perusahaan. Laporan keuangan yang digunakan sebagai
21
tolak ukur adalah Neraca, Laporan Laba-rugi, Laporan ekuitas pemilik, dan yang terakhir Laporan arus kas.
Kinerja keuangan dapat menjadi patokan dalam menunjukkan kondisi perusahaan apakah perusahaan dalam keadaan baik atau tidak. Ketika kondisi keuangan tidak baik, para pemegang saham dapat menggunakan laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan di masa lalu, keadaan perusahaaN dimasa sekarang dan menilai potensi serta resiko perusahaan dimasa yang akan datang (Hamka et al., 2018). Jika analisis laporan keuangannya baik, maka para pemegang saham akan tertarik untuk melakukan investasi kepada perusahaan tersebut sehingga nilai perusahaan akan mengalami peningkatan dan membuat perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain. Prinsip-prinsip dalam Good Corporate Governance juga sangat mempengaruhi kinerja keuangan sebuah perusahaan maka dari itu perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dengan baik, maka kinerja keuangannya juga akan baik dan dipandang professional oleh stakeholder (Setiawan & Setiadi, 2020)
Return on Asset (ROA) adalah cara yang biasa digunakan oleh perusahaan dalam menilai seberapa efektif dan efisien perusahaan menggunakan asetnya dari nilai keuntungan bersih yang diterima. Return on Asset merupakan salah satu alat pengukur kinerja keuangan di dalam perusahaan yang biasanya berhubungan langsung dengan laporan keuangan perusahaan yang menjadi patokan dalam menilai kinerja keuangan.
Jika nilai Return on Asset yang diperoleh besar, hal itu berarti bahwa perusahaan menggunakan asetnya secara efektif atau efisien. (Lukman & Solihin, 2018). Return on Asset digunakan untuk mengukur seberapa efisien asset atau harta di dalam perusahaan yang digunakan untuk menghasilkan penjualan (Handayani et al., 2020). Return on Asset mendefinisikan sebuah perusahaan harus memiliki pengukuran kemampuan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah seluruh asset yang tersedia di dalam perusahaan. Semakin tinggi rasio Return on Asset, maka semakin baik pula keadaan perusahaan tersebut.
Rumus Return on Asset = laba bersih
x 100%
Total aktiva
22
Berdasarkan hal tersebut maka disimpulkan bahwa kinerja keuangan merupakan sebuah pencapaian didalam perusahaan yang diartikan sebagai hasil upaya yang telah didapat dari segala aktivitas yang dilakukan. Kinerja keuangan suatu perusahaan juga memiliki kaitan yang erat dengan penilaian mengenai baik atau buruknya posisi keuangan perusahaan dan biasanya kinerja keuangan diukur dengan Return on Asset.
2.1.5.2 Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan
Menurut Nasution (2018) tujuan dilakukannya pengukuran kinerja keuangan perusahaan adalah:
1. Mengetahui tingkat likuiditas. Likuiditas adalah sebuah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban dan tanggungjawab keuangan di dalam perusahaam yang harus segera diselesaikan.
2. Mengetahui tingkat solvabilitas. Solvabilitas merupakan kemampuan perusahaan di dalam memenuhi kewajiban keuangan yang ada pada perusahaan baik dalam jangja jangka pendek maupun jangka panjang jika perusahaan tersebut sudah dilikuidasi.
3. Mengetahui tingkat rentabilitas. Rentabilitas atau yang biasa disebut sebagai profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba selama periode yang sudah ditentukan oleh perusahaan.
4. Mengetahui tingkat stabilitas. Stabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usaha didalam kegiatan yanag ada pada perusahaan secara stabil dan dapat membayaar hutang serta beban yang ada didalam perusahaan tepat waktu.
Kinerja keuangan harus diukur karena hal tersebut berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya seperti memenuhi kewajibannya baik dalam jangka pendek ataupun panjang, melunasi hutang, membayar beban yang ada dalam perusahaan dan mengevaluasi kinerja yang sudah dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan dan menjadi referensi dalam perusahaan menentukan tujuan kedepannya (Fidiawati & Sulistyowati, 2022)
2.1.5.3 Tahap Menganalisis Kinerja Keuangan
Menurut Jumingan (2019) tahapan dalam menganalisis kinerja keuangan adalah:
1. Melakukan review data laporan perusahaan
Banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan menyebabkan adanya aktivitas
23
penyesuaian dalam data laporan keuangannya. Penerapan dalam sistem akuntansi tentang adanya pengakuan beban dan juga pendapatan dapat menjadi acuan dalam menentukan laba yang diperoleh oleh perusahaan. Karena hal tersebut aktivitas review merupakan salah satu cara agar hasil analisis mempunyai tingkat pembiasan yang cukup kecil.
2. Melakukan penghitungan
Perhitungan dapat dilakukan dalam berbagai teknik dan metode analisis seperti analisis rasio keuangan, perbandingan dan metode presentase komponen. Tujuan analisis sangat penting dalam menentukan analisis mana yang akan digunakan.
3. Melakukan pengukuran
Pengukuran sangat diperlukan agar dapat mengetahui bagaimana kondisi yang terjadi didalam perusahaan apakah baik, buruk, sedang dan lain sebagainya.
4. Melakukan intepretasi
Setelah melalui tahap pengukuran, mencari kesimpulan adalah hal yang harus dilakukan. Intepretasi menunjukkan apakah ada keberhasilan atau masalah yang didapat oleh perusahaan di dalam mengelola keuangannya.
5. Menghasilkan solusi
Jika sudah mendapatkan intepretasi, maka perusahaan harus mencari solusi dari masalah tersebut agar perusahaan menjadi lebih baik kedepannya.
Sedangkan menurut Utama & Setiyani (2014) ada lima tahapan yang dapat dilakukan ketika hendak melakukan analisis kinerja keuangan suatu perusahaan, yaitu:
1. Review laporan keuangan perusahaan
Tujuan dari review laporan keuangan perusahaan adalah untuk melihat apakah laporan keuangan yang dibuat sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku dan laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
2. Melakukan Perhitungan
Metode yang digunakan untuk perhitungan biasanya disesuaikan dengan kondisi permasalahan yang ada di perusahaan agar perhitungan yang dilakukan dapat memberikan sebuah solusi.
3. Melakukan perbandingan dengan hasil hitungan yang sudah diperoleh
24
Setelah melakukan perhitungan, hasil dari hitungan tersebut dibandingkan dengan hasil hitungan perusahaan lain dengan dua cara yaitu Time series analysis dan Cross sectional approach.
4. Menafsirkan berbagai permasalahan yang sudah ditemukan.
Ketika sudah melewati tiga tahapan diatas maka selanjutnya adalah melakukan penafsiran terhadap masalah-masalah yang dialami perusahaan.
5. Mencari dan memberikan solusi.
Hal terakhir yang dilakukan setelah melakukan penafsiran dari masalah yang ada adalah mencari solusi dari permasalahan tersebut agar kendala yang ada dapat diatasi.
2.2 Tinjauan Pustaka No. Nama &
Tahun Penelitian
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Hasil Penelitian
1 Matteo Rossi, Marco
Nerino, Arturo Capasso (2015)
Corporate Governance And Financial Performance Of Italian Listed Firms. The Results Of An Empirical Research (Corporate Ownership &
Control, Q2)
X1 : Corporate Governance X2 : Board Size
Y : Financial Performance (ROE)
1. Corporate Governance (X1) berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (Y) 2. Board Size (X2)
berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (Y)
2 Yushita Marini &
Nisha Marina
Pengaruh Good Corporate Governance
X1 : ukuran dewan komisaris
1. Dewan
komisaris (X1) berpengaruh
25 (2017) Terhadap Nilai
Perusahaan (Studi Empiris Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Humaniora, Sinta 5)
X2 : komisaris independen X3 : ukuran dewan direksi X4 : komite audit
Y : kinerja perusahaan
terhadap nilai perusahaan (Y) 2. Komisaris
independen (X2) berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Y) 3. Dewan direksi
(X3)
berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Y) 4. Komite audit
(X4) tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Y) 3 Alimatul
Farida (2018)
Pengaruh
Penerapan Good Corporate Governance Dan
Pengungkapan Islamic Social Reporting Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Syariah Di
X1 : Good Corporate Governance X2 : Islamic Social Reporting Y : Kinerja Keuangan Perbankan Syariah
1. Good Corporate Governance (X1)
berpengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan syariah (Y) 2. Pengungkapan
Islamic Social Reporting (X2)
tidak
berpengaruh secara parsial
26 Indonesia (Jurnal
Ekonomi Islam, Sinta 4)
terhadap kinerja keuangan perbankan syariah (Y).
4 Miftah Muhammad Abduh &
Ellen Rusliati (2018)
Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba Dan Kinerja Keuangan (Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen, Sinta 4)
X1 :
Kepemilikan Manajerial X2 :
Kepemilikan Institusional X3 : Dewan Komisaris Independen X4 : Komite Audit Y1:
Manajemen Laba Y2: Kinerja Keuangan
1. Kepemilikan manajerial (X1) tidak
berpengaruh terhadap
manajemen laba (Y1) dan kinerja keuangan (Y2) 2. Kepemilikan
institusional (X2) berpengaruh terhadap
manajemen laba (Y1) tetapi tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan (Y2) 3. Dewan
komisaris independen (X3) berpengaruh terhadap
manajemen laba (Y1) tetapi tidak berpengaruh terhadap kinerja
27
keuangan (Y2) 4. Komite audit
(X4)
berpengaruh terhadap
manajemen laba (Y1) dan kinerja keuangan (Y2) 5 Pande Made
Yani Indah Sari, Ni Putu Riasning &
Gst Ayu Intan Saputra Rini (2018)
Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2015-2017 (Jurnal Riset Akuntansi, Sinta 4)
X1 : Good Corporate Governance X2 : Corporate Social
Responsibility Y : kinerja keuangan
1. Good Corporate Governance (X1)
berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (Y) 2. Corporate
Social
Responsibility (X2)
berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (Y)
6 Agus
Suryanto &
Refianto (2019)
Analisis Pengaruh
Penerapan Good Corporate
X1 : Komite Audit X2 : Dewan Komisaris
1. Komite Audit (X1)
berpengaruh terhadap
28 Governance Terhadap Kinerja Keuangan (Jurnal Bina Manajemen, Sinta 5)
Independen X3 :
Kepemilikan Institusional X4 :
Kepemilikan Manajerial Y: Kinerja Keuangan
kinerja keuangan (Y) 2. Dewan
Komisaris Independen (X2) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan (Y) 3. Kepemilikan
Institusional (X3)
berpengaruh terhadap kinerja keuangan (Y) 4. Kepemilikan
Manajerial (X4) berpengaruh terhadap kinerja keuangan (Y) 7 Martin Kyere
(2019)
Corporate Governance And Firms Financial Performance In The United Kingdom
X : Board Size Y : Financial Performance (ROA)
1. Board Size (X) terhadap Financial Performanc e (ROA)