• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE EDUTAINMENT DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV SDN BARUNAI KAHAYAN KUALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PENERAPAN METODE EDUTAINMENT DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV SDN BARUNAI KAHAYAN KUALA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE EDUTAINMENT DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV

SDN BARUNAI KAHAYAN KUALA

Muhammad Firdaus1, Rio Irawan*2

1,2Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

E-mail: [email protected]1, [email protected]*2

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan metode edutainment dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas IV di Sekolah Dasar Negeri Barunai Kahayan Kuala. Minat belajar merupakan faktor krusial dalam mencapai hasil pembelajaran yang optimal, dan metode edutainment merupakan pendekatan yang menggabungkan unsur-unsur pendidikan dan hiburan untuk menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu observasi awal untuk mengukur tingkat minat belajar siswa sebelum penerapan metode edutainment, perancangan dan implementasi rencana pembelajaran dengan metode edutainment, serta observasi lanjutan untuk memantau perubahan tingkat minat belajar siswa setelah penerapan metode tersebut.

Tingkat keberhasilan peningkatan minat belajar siswa pada siklus I ini mencapai 36 %, karena dalam siklus I ini masih ada 9 orang siswa yang mendapat kategori kriteria ketuntasan yaitu Baik (Rentang Nilai 60-74). Sedangkan tingkat keberhasilan peningkatan minat belajar siswa pada siklus II ini mencapai 100%, karena dalam siklus II ini semua siswa mendapat kategori diatas kriteria ketuntasan minimal, yaitu Tinggi (Rentang Nilai 75-89).

Kata Kunci : Minat, Edutainment, Hasil Belajar

Pendahuluan

Pendidikan merupakan lembaga yang sengaja dibuat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan keahlianya. Melalui pendidikan, manusia dapat meningkatkan perilakunya menjadi yang lebih baik selama proses

(2)

pembelajaran. (Taniredja, dkk. S, 2017:1). Pendidikan juga dapat diartikan sebagai wadah bagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru kepada peserta didik.

Pencapaian tujuan pembelajaran ini seringkali terhambat oleh permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pembelajaran. Sepertihalnya permasalahan yang dihadapi pada saat mengajar Pendidikan Agama Islam di kelas IV SD Negeri Barunai Kahayan Kuala. Minat belajar siswa kelas IV yang rendah terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, menjadi penghambat tercapainya tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Permasalahan ini merupakan permasalahan krusial yang harus segera mungkin di selesaikan, karena minat belajar siswa merupakan hal yang sangat penting dan merupakan landasan dalam proses pembelajaran.

Minat dalam belajar memiliki dampak yang signifikan terhadap siswa dalam konteks proses pembelajaran dan pencapaian hasil belajar. Kesulitan dalam belajar dapat muncul ketika minat belajar seseorang rendah. Hilgard menjelaskan bahwa minat adalah kecenderungan yang berlangsung untuk memberikan perhatian dan menikmati suatu aktivitas dan konten tertentu. Ini mengindikasikan bahwa minat merupakan kecenderungan yang konsisten untuk fokus pada dan menikmati suatu kegiatan atau materi (M. Hasyim Ansyari Berutu dan M. Iqbal H. Tambunan, 2018:111).

Berdasarkan observasi di SD Negeri Barunai Kahayan Kuala banyak siswa di kelas IV, memiliki minat belajar yang rendah dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kondisi ini berdampak langsung pada prilaku dan hasil belajar siswa. Penulis seringkali menemukan banyak siswa kelas IV yang jarang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, bahkan menghindari keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sepertihalnya dalam hal mengajukan pertanyaan atau mengutarakan pendapat. Kondisi ini membuat penulis berulang kali berupaya menginstruksikan siswa untuk bertanya jika ada hal – hal yang kurang jelas.

Sering kali didapati siswa yang tidak memperhatikan ataupun tidak fokus pada kegiatan pembelajaran, karena memilih mengobrol dengan teman sebangkunya.ataupun melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran. Selain itu, juga terlihat kurang bergairah ataupun kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga tampak ekpresi bosan pada wajah siswa.

(3)

Metode yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam penelitian ini ialah Metode Edutainment. Metode edutainment merujuk pada pendekatan pembelajaran yang menggabungkan elemen-elemen pendidikan dengan hiburan secara sinergis, dengan tujuan membuat proses pembelajaran menjadi mengasyikkan dan menyenangkan (Rahmat Shodiqin, 2016:37). Dalam konteks ini, Muhammad Farhan Zuhdi dalam karyanya menyampaikan bahwa metode pembelajaran edutainment menggabungkan unsur-unsur pendidikan dan hiburan sehingga tercipta lingkungan pembelajaran yang menghibur (Farhan Zuhdi, 2021:24).

Metode/Metodologi

Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini menerapkan pendekatan campuran dengan mengumpulkan data baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Data kualitatif bersifat deskriptif dan dianalisis dengan metode yang sesuai dengan situasi di lapangan, yaitu kondisi kelas yang menjadi subjek tindakan. Di sisi lain, data kuantitatif dianalisis menggunakan metode analisis kuantitatif, di mana rumus-rumus seperti rata-rata (mean) dan persentase ketuntasan digunakan dalam menganalisis hasil nilai minat belajar.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu jenis penelitian tindakan yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah melalui penerapan tindakan langsung di dalam kelas atau lingkungan kerja (Salim, Isran Rasyid Karo-Karo, dan Haidar, 2015:17). Dalam pelaksanaan tindakan ini, seorang guru memegang peranan penting dalam mengimplementasikan rencana yang telah dibuat.

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdapat 4 tahapan, yang lebih di kenal sebagai siklus penelitian tindakan kelas. Adapau 4 tahapan tersebut adalah sebagai berikut (Mohammad Asrori, 2009:53):

1. Menyusun Perencanaan (planning) 2. Melaksanakan Tindakan (acting)

3. Melaksanakan Pengamatan (observing) 4. Melakukan Refleksi (reflecting).

Subjek penelitian terdiri dari 14 siswa yang berada di kelas IV SD Negeri Barunai Kahayan Kuala selama tahun pelajaran 2023/2024. Dari jumlah tersebut, terdapat 3 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Fokus penelitian

(4)

tindakan kelas ini adalah Minat Belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024. Lokasi pelaksanaan penelitian ini adalah di kelas IV SD Negeri Barunai Kahayan Kuala, yang terletak di Jl. Sei Barunai, Desa Papuyu II, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 21 Juli hingga 21 Agustus 2023.

Tujuan utamanya dalam penelitian adalah memperoleh informasi.

Dalam upaya menghimpun informasi dan rincian yang diperlukan, penelitian ini mengadopsi metode pengumpulan data sebagai berikut:

1. Angket

Angket merupakan metode pengumpulan informasi melalui pengisian formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan tertulis yang diajukan kepada individu atau kelompok tertentu. Tujuan dari metode ini adalah untuk mendapatkan respons dan data yang dibutuhkan oleh peneliti (Mardalis, 2008:66). Terdapat dua variasi angket, yaitu angket tertutup dan angket terbuka. Dalam konteks ini, digunakan angket tertutup, dimana pilihan jawaban telah disediakan sebelumnya, sehingga responden hanya perlu memilih opsi jawaban yang sesuai (Sugiyono, 2016:142).

2. Studi Dokumentasi

Metode studi dokumentasi merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengamati dan menganalisis materi tertulis yang berasal dari institusi seperti kantor atau sekolah (Zainal, 2014;243). Dalam konteks penelitian ini, studi dokumentasi dilakukan untuk menginvestigasi situasi Minat Belajar siswa pada periode sebelumnya.

3. Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data dengan mengamati peristiwa yang tengah berlangsung dan mencatat informasi tersebut menggunakan alat observasi terkait hal-hal yang menjadi fokus pengamatan atau penelitian (Wina Sanjaya, 2012: 86).

(5)

Siklus 1

Siklus 2

Selesai

Perencanaan Pengamatan

Pelaksanaan Refleksi

Perencanaan Pengamatan

Pelaksanaan

Gambar 1. Bagan Siklus I dan Siklus II

Subyek dalam penelitian ini adalah murid-murid yang mengambil bagian dalam kelas IV di SD Negeri Barunai, terletak di Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, selama tahun ajaran 2023/2024. Kelas ini terdiri dari 14 siswa, dengan rincian 3 laki-laki dan 11 perempuan. Sementara itu, objek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah prestasi belajar siswa di kelas IV SD Negeri Barunai, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di semester pertama tahun ajaran 2023/2024.

Waktu Penetilian Tindakan Kelas ini dimuali pada bulan 21 Juli dan berakhir 21 Agustus 2023. Penelitian berlangsung pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024. Dalam kerangka penelitian ini, setelah data berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya melibatkan analisis data. Proses analisis tersebut melalui tiga tahap, yang pertama adalah reduksi data (data reduction), yang diikuti oleh penyajian data (data display), dan akhirnya verifikasi data (Ali dalam Latif, 2012: 79-80). Lebih lanjut, dalam konteks analisis data kuantitatif, informasi yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan statistik sederhana seperti yang diuraikan berikut.:

1. Menilai rata- rata hasil tes n = Jumlah Rata Rata

Masalah

(6)

x = Jumlah Nilai Siswa y = Jumlah Siswa

n = 75

2. Menilai ketuntasan belajar

Terdapat dua aspek dalam menilai pencapaian belajar siswa, yaitu evaluasi individu dan evaluasi kelompok. Berdasarkan panduan pengajaran di SDN Barunai Kahayan Kuala untuk Kelas IV, siswa dianggap berhasil belajar jika mereka mencapai skor 70% atau lebih dalam tes. Selanjutnya, dari skor tiap individu dihitung persentase yang mencapai standar tersebut. Jika persentase siswa yang mencapai standar belajar 70% atau lebih mencapai 70%, maka kelas dianggap telah mencapai ketuntasan belajar. Digunakan rumus sebagai berikut :

P = 82%

3. Menilai Hasil belajar

Kriteria yang diterapkan untuk mengukur prestasi belajar siswa merujuk pada kriteria evaluasi yang telah diuraikan oleh Arikunto dalam referensi Yaumi (2011: 162).

Tabel 1. Acuan Kreteria Penilaian No Persentase (%) Kualifikasi Kategori 1 90% – 100% A Sangat Tinggi

2 75% – 89% B Tinggi

3 60% – 74% C Baik

4 50% – 59% D Kurang

(7)

Kriteria pencapaian sukses untuk tindakan dalam penelitian ini ialah jika persentase siswa yang mencapai tingkat minat belajar pada kategori "Baik"

dalam pengukuran Minat Belajar Pendidikan Agama Islam mencapai minimal 70%. Peningkatan dalam Minat Belajar ini akan dievaluasi dengan membandingkan jumlah siswa yang mencapai tingkat minimal minat belajar dalam kategori "Baik" dari awal penelitian (prasiklus) hingga mencapai siklus II. Nilai minimal yang telah ditetapkan dalam penelitian mengenai minat belajar siswa kelas IV di SD Negeri Barunai Kahayan Kuala adalah 75 (dalam kategori "Tinggi").

Hasil dan Pembahasan

Dari hasil penelitian dan refleksi tersebut memberikan keterangan bahwasannya, minat belajar sebagian besar siswa kelas IV tergolong dalam kategori “Baik”. Sedangkan siswa yang tergolong memenuhi setandar minimal minat belajar, hanya mencapai 36 % siswa, dari jumlah keseluruhan, dengan rincian 36 % atau 5 orang siswa dengan tingkat minat belajar berkategori Tinggi, dan 64 % atau 9 orang siswa dengan tingkat minat belajar berkategori Baik.

Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Pra Siklus dan Setelah Tindakan Mata Pelajaran PAI Kelas IV SDN Barunai Kahayan Kuala Kec. Kahayan Kuala Kab. Pulang Pisau

Pada tahap prasiklus atau sebelum pelaksanaan penelitian, diketahui bahwa dari total 14 siswa kelas IV, terdapat 5 siswa atau 36% yang meraih nilai

No Statistik Pra Siklus Perbaikan siklus I

Perbaikan Siklus II

1 Jumlah siswa 14 14 14

2 Jumlah nilai 980 1050 1150

3 Nilai rata-rata

kelas 70 75 82

4 Frekuensi nilai di

bawah KKM 0 0 0

5 Frekuensi nilai di

atas KKM 5 5 9

6 Prosentase nilai di

bawah KKM 0% 0 % 0 %

7 Prosentase nilai di

atas KKM 100% 100 % 100 %

(8)

di atas batas kelulusan minimal (KKM) 70. Rata-rata nilai kelas pada tahap ini mencapai 70, angka yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sekolah.

Namun, kendati angka tersebut memenuhi standar nilai yang ditetapkan, proporsi pencapaian kelulusan klasikal masih belum mencapai 60%.

Setelah melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I dengan menerapkan metode edutainment, terlihat peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan tahap sebelum prasiklus. Pada tahap perbaikan siklus I, dari jumlah 14 siswa kelas IV di SDN Barunai Kahayan Kuala, terdapat 5 siswa atau 36% yang mencapai nilai di atas KKM, dan 9 siswa atau 64% yang memperoleh nilai di atas KKM. Nyata terlihat bahwa penggunaan metode edutainment telah membawa dampak positif dan menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Terdapat peningkatan jumlah nilai tes pada tahap perbaikan siklus I jika dibandingkan dengan jumlah nilai sebelum pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Dari jumlah nilai awal sebesar 980 dengan rata-rata nilai kelas sekitar 70, terjadi kenaikan menjadi 1050 dengan rata-rata 75. Data ini menggambarkan bahwa perbaikan pada siklus I menghasilkan peningkatan sebanyak 5 pada jumlah nilai, 5 pada rata-rata kelas, dan 70% pada persentase pencapaian kelulusan klasikal.

Walaupun angka-angka ini belum memenuhi standar nilai yang telah ditetapkan dan persentase kelulusan klasikalnya masih belum mencapai 60%, namun dapat disimpulkan bahwa upaya perbaikan pada siklus I berhasil.

Lanjutan dari perbaikan pembelajaran pada siklus II menunjukkan peningkatan lebih lanjut, dimana jumlah nilai yang sebelumnya mencapai 1050 pada siklus I mengalami peningkatan sebanyak 100 menjadi 1150. Rata-rata nilai kelas meningkat dari 75 menjadi 82. Persentase kelulusan klasikal mengalami peningkatan sebanyak 30% dari 70% pada siklus I menjadi mencapai 100%.

Dengan mencapai rata-rata nilai kelas sebesar 82 dan persentase kelulusan klasikal mencapai 100%, hal ini menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan pada siklus II telah berhasil dengan baik..

(9)

Gambar 2. Statistik Peningkatan Hasil Belajar Siswa dari Prasiklus, Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat tiap siklusnya dimana pada siklus I ketuntasan belajar siswa hanya 75 % dengan rata-rata nilai 75. Kemudian pada siklus II telah mencapai nilai diatas KKM dengan rata-rata nilai 82 dengan ketuntasan belajar mencapai 100 %. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis pada penelitian ini dinyatakan benar bahwa dengan menggunakan metode edutaiment dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas IV SDN Barunai Kahayan Kuala.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang melibatkan penerapan Metode Edutainment, dapat ditarik simpulan bahwa penggunaan metode ini berhasil meningkatkan minat belajar siswa Kelas IV di SDN Barunai Kahayan Kuala. Berdasarkan hasil dari implementasi penelitian tindakan kelas, peneliti ingin menyampaikan beberapa aspek terkait upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode edutainment sebagai berikut:

a. Dengan pelaksanaan Metode Edutainment, berhasil dicapai perbaikan dalam nilai rata-rata kelas siswa serta peningkatan kategori hasil belajar siswa, baik dalam skala individu maupun dalam skala klasikal. Ini

(10)

mengindikasikan bahwa pendekatan ini efektif dalam memfasilitasi pemahaman siswa terhadap konsep-konsep Pendidikan Agama Islam.

b. Efek positif yang timbul dari penerapan Metode Edutainment tidak hanya mencakup peningkatan prestasi belajar, tetapi juga memberikan kontribusi dalam meningkatkan rasa percaya diri siswa. Selain itu, interaksi antar siswa juga berjalan lebih harmonis dan menyenangkan, sementara perilaku negatif di dalam kelas mengalami penurunan.

c. Dengan menerapkan Metode Edutainment, berhasil dicapai peningkatan baik dalam nilai rata-rata kelas siswa maupun dalam kategori hasil belajar siswa, baik dalam skala individu maupun klasikal. Ini membuktikan bahwa pendekatan ini efektif dalam membantu siswa memahami konsep-konsep Pendidikan Agama Islam.

Referensi

Al-Syahab, Fuad Bin Abdul Aziz. 2002. Quantum Teaching, Jakarta: Zikrul Hakim.

Arif Sadiman,dkk. 2010. MediaPendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Asrori, Mohammad. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Wacana Prima.

Asnawir dan Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers.

Andrioza. 2016. Edutainment dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Jurnal Kajian Pendidikan Agama Islam, 8 (1), 144.

Anggareni Evi. 2017. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa pada Pembelajaran Seni Tari SD Negeri Dukuh Waru 4 Kecamatan Dukuh Waru Kabupaten Tegal. Skripsi, UIN, Semarang.

Asrori dan Rusman. 2020. Classroom Action Research. Jawa Tengah: Pena Persada.

Bahning, Hardyanti. 2019. Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Melalui Metode Buzz Group, Journal OfIslamic Education, 2 (2), 189.

(11)

Berutu, M. Hasyim Ansyari dan M. Iqbal H Tambunan. 2018. Pengaruh Minat dan Kebiasaan Belajar Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa SMA Se-Kota Stabat. Jurnal Biolokus, 1 (2), 111.

Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta.

Dewi, Erni Ratna. 2018. Metode Pembelajaran Modern dan Konvensional pada Sekolah Menengah Atas, Jurnal Ilmu Pendidikan, Keguruan, dan Pembelajaran,2 (1), 46.

Djajadi, Muhammad. 2019. Pengantar Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Yogyakarta: CV Arti Bumi Intara.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan prosentase indikator pencapaian minat belajar siswa dari pra siklus, siklus I, dan siklus II yaitu: dari 16 siswa yang ada,

Menurut Joko Suwandi (2011: 73) sebagai kriteria keberhasilan atau indikator pencapaian pembelajaran tindakan, peneliti dapat menggunakan beberapa dasar yaitu menggunakan

Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya minat belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Matematika sebagai alternatif tindakan yang dilakukan

Hasil belajar afektif siswa mencapai persentase 88% dan menunjukkan kategori sangat baik dan telah mencapai indikator keberhasilan. Kekurangan siswa pada beberapa aspek

Dengan menggunakan kriteria taraf keberhasilan tindakan, dapat diketahui rata-rata aktivitas siswa dalam pelaksanaan tindakan pada pertemuan 1 berada dalam

Hasil belajar siswa Siklus II diperoleh ketuntasan klasikal 90%, aktivitas siswa berada pada kategori baik yaitu 87,5%, sedang aktivitas guru berada pada kategori

Hasil belajar pada Siklus I memberikan gambaran, bahwa persentase siswa yang telah mencapai KKM baru mencapai 71,4% dan sesuai dengan hasil refleksi pada siklus

Hasil belajar afektif siswa mencapai persentase 88% dan menunjukkan kategori sangat baik dan telah mencapai indikator keberhasilan. Kekurangan siswa pada beberapa aspek