• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

JOURNAL OF EDUCATION

Vol. 2 No. 5, 2022

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo

Application of Make A Match Type Cooperative Learning Model to Improve Process and Learning Outcomes of Elementary School Students in Wajo District

Muhammad Danil*, Yulia, Hasnah Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar, Makassar, Indonesia

*Penulis Koresponden: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil belajar siswa tentang pemanfaatan kekayaan alam pada siswa kelas IV SD Negeri 361 Lampulung Kabupaten Wajo dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Fokus penelitian ini adalah fokus proses dan fokus hasil. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Subjek penelitian yaitu guru dan siswa kelas IV yang berjumlah 14 siswa, 6 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan dua siklus. Pada siklus I hasil penelitian pada proses pembelajaran berada pada kualifikasi baik (B) dan hasil tes belajar berada pada kualifikasi cukup (C). Sedangkan Pada siklus II hasil penelitian pada proses pembelajaran berada pada kualifikasi baik (B) dan hasil tes belajar berada pada kualifikasi baik (B). Simpulan pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa tentang pemanfaatan kekayaan alam di kelas IV SD Negeri 361 Lampulung Kabupaten Wajo

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model Make A Match, Hasil Belajar

ABSTRACT

This research aims to determine the improvement of student learning processes and achievement utilization of natural resources in fourth grade students of SD Negeri 361 Lampulung, Wajo Regency by applying the make a match type of cooperative learning model. This research is classroom action research (CAR). The approach used in this research is a qualitative approach. The focus of this research is the focus of the process and the focus of the learning achievement. Data collection techniques used are observation, tests, and documentation. The research subjects were teacher and fourth grade students, totaling 14 students, 6 male students and 8 female students. The research was carried out in two cycles. In the first cycle the research results on the learning process were in good qualification (B) and the learning test results were in sufficient qualification (C). Meanwhile, in the second cycle, the research results on the learning process were in good qualification (B) and the learning test results were in good qualification (B). The conclusion of this research is the application of the make a match type of cooperative learning model can improve the process and learning achievement of utilization of natural resources in class IV SD Negeri 361 Lampulung, Wajo regency.

Keywords: Cooperative Learning, Teams Make A Match, Learning Outcomes

(2)

1. PENDAHULUAN

Pendidikan memegang peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu pendidikan menuntut orang yang terlibat didalamnya untuk bekerja secara maksimal, penuh rasa tanggung jawab, dan loyalitas yang tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, pendidikan merupakan suatu kebutuhan manusia dalam proses pembangunan nasional dan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tentang Standar Nasional Pendidikan, 2021 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 1 ayat 1 menjelaskan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Belajar adalah suatu proses aktivitas mental yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang bersifat positif dan menetap relatif lama melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut aspek kepribadian baik secara fisik ataupun psikis. Maka dari itu belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karenanya pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidak lengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pengajar dan kreativitas pengajar.

Pembelajaran yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan

pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses pembelajaran. Desain pembelajaran yang baik dan ditunjang fasilitas yang memadai ditambah kreativitas guru akan membuat siswa lebih mudah mencapai target belajar.

Salah satu materi pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, analisis, keaktifan serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar yaitu pada materi pemanfaatan kekayaan alam di Indonesia. Kekayaan alam adalah seluruh hasil sumber daya alam yang sangan melimpah dan dapat memenuhi kebutuhan manusia secara lengkap.

Menurut Iqbal (2020)Sumber Daya Alam (SDA) merupakan unsur-unsur lingkungan alam, baik fisik maupun hayati yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk dapat dimanfaatkan dan dikelola secara arif dan bijaksana guna menopang kehidupan manusia sehingga perlu dipelihara dan dilestarikan.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 10-12 Januari 2022. Adapun langkah awal yang ditempuh adalah meminta izin kepada kepala sekolah dan guru kelas SD Negeri 361 Lampulung untuk melakukan observasi dan nantinya akan melakukan penelitian. Selanjutnya dengan melihat data hasil belajar siswa kelas IV tergolong masih rendah dalam proses pembelajaran yang ditandai dengan banyaknya siswa yang nilainya belum mencapai SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal). Sebagian besar siswa masih belum mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimum (SKBM) sekolah yaitu 75. Dari 14 siswa, yang memperoleh nilai ≥ 75 atau diatas SKBM sebanyak 6 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas dengan nilai ≤ 75 atau dibawah SKBM sebanyak 8 siswa.

Berdasarkan pra penelitian, dianalisis beberapa faktor penyebab proses dan hasil belajar pada siswa kelas IV belum mencapai SKBM yaitu: 1) siswa kurang memahami materi pada saat kegiatan pembelajaran, 2) siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat, 3) siswa masih pasif dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari aspek guru, diantaranya: 1) guru kurang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, 2) guru hanya berfokus pada siswa aktif, 3) Guru kurang maksimal menerapkan pembelajaran kerja sama dalam kelompok. Apabila permasalahan tersebut tidak

(3)

segera di atasi maka akan berdampak kurang baik terhadap siswa, guru, dan bahkan sekolah

Berdasarkan permasalahan dan kendala-kendala yang ditemukan, model pembelajaran kooperatif tipe make a match diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Penggunaan model kooperatif tipe make a match ini akan menciptakan suasana pembelajaran yang membuat siswa belajar dengan asyik, santai dengan menumbuhkan kerja sama dan keterlibatan dalam belajar. Riyanti & Abdullah, (2018) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match merupakan model pembelajaran secara berkelompok yang mengajak siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk memahami konsep dan topik pembelajaran dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan media pembelajaran berupa kartu yang berisi jawaban dan pertanyaan.

Dari penelitian terdahulu yang menerapkan model kooperatif tipe make a match. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Hamisah pada 2021 dengan judul

“Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif make a match untuk Meningkatkan Hasil Belajar Sekolah Dasar Kelas Empat di Kabupaten Pinrang” Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pratindakan ketuntasan belajar mencapai 40% dari 20 siswa, meningkat di siklus I dengan persentase 45%, kemudian kembali meningkat di siklus II hingga 80%.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil belajar pada materi sumber daya alam siswa kelas IV UPT SD Negeri 166 Pinrang.

Berdasarkan uraian tersebut maka sebagai peneliti tertarik untuk melakukan suatu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “ Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa tentang Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indonesia Siswa pada siswa di kelas IV SD Negeri 361 Lampulung Kabupaten Wajo”

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Model pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan seorang guru sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.

Nurdyansyah dan Fahyuni, (2016) menyatakan bahwa : Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan–bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas yang lain. Arisnandar, dkk.

(2021) menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan langkah perencanaan atau merencanakan aktivitas pembelajaran di kelas yang dapat digunakan sebagai panduan pengajaran yang dimanfaatkan seorang guru untuk membantu siswa memperoleh informasi baru pada saat proses pembelajaran.

2.2. Pembelajaran Kooperatife Tipe Make A Match Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menggunakan sistem pengelompokan siswa secara heterogen saling bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Helmiati (2012) Menyatakan bahwa : model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengonstruksi konsep, mengerjakan tugas, menyelesaikan masalah/ persoalan, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya.

Model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe make a match siswa diajak untuk belajar sambil bermain. Menurut Huda (2015) menyatakan bahwa model kooperatif tipe make a match adalah model pembelajaran dimana peserta didik belajar dalam kondisi yang mengasyikkan dengan cara mencari pasangan sembari mempelajari konsep dan topik tertentu yang akan dibelajarkan pada hari itu. (Dalam Hamisah, et al., 2021, h. 226). Lebih lanjut menurut Sumarni, (2021) Model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan bekerja sama dengan teman sebaya dan mencari pasangan dengan dibantu kartu

.

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match , menurut Shoimin (2014) yaitu (a) guru melakukan persiapan dengan membuat beberapa kartu yaitu kartu pertanyaan dan kartu jawaban. (b) tiap peserta didik mendapatkan satu jenis kartu. (c) tiap peserta didik berpikir mengenai soal atau jawaban dari kartu yang sudah dipegang. (d) tiap peserta didik diminta mencari pasangan kartu yang memiliki kecocokan dengan kartu yang dipegang. (e) tiap

(4)

peserta didik yang dapat menemukan kecocokan kartu sebelum mencapai batasan waktu yang ditentukan, maka diberikan poin. (f) setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya (g) kesimpulan/penutup.

(Nisrohah Neni Riyanti & Abdullah, 2018).

2.3. Sumber Daya Alam

Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam dan berguna untuk kelangsungan makhluk hidup. Menurut (Albertus et al., 2018) menyatakan bahwa sumber daya alam adalah semua yang ada di bumi secara alami yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Misalnya hewan, laut, tumbuhan, gas bumi, minyak bumi, pasir, bebatuan, air, emas, batu-bara dan sebagainya

.

2.4. Proses dan Hasil Belajar

Fungsi Menurut Pane dan Dasopang, (2017) proses pembelajaran adalah suatu sistem yang melibatkan satu kesatuan komponen yang saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Komponen yang saling berkaitan meliputi, tujuan, materi, metode, dan evaluasi pembelajaran (Sultan dan Paurru, 2021). Lebih lanjut Herawati, (2018.40) mengemukakan bahwa proses belajar merupakan hal yang kompleks karena dalam proses ini menggunakan pancaindra (lihat, dengar, cium, sentuh, dan rasa) dan proses kognitif dari pengingatan, pemecahan masalah dan pengungkapan alasan. Untuk itu, dalam belajar kondisi fisik dan psikologis anak harus sangat diperhatikan dalam perencanaan belajar dan pembelajaran.

Hasil belajar adalah capaian yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Hasil pembelajaran dapat dilihat dari aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sumarsono (Sudirman dan Maru, 2016) menyatakan bahwa hasil belajar memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan data yang akurat sehingga guru dapat memperbaiki dan menyusun kembali rancangan pembelajaran yang jauh lebih baik lagi dan berguna bagi keseluruhan siswa dalam kelas.

menurut Gunawan et al., (2021) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain faktor fisiologis, psikologis, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Faktor-faktor tersebut juga harus

diperhatikan untuk mewujudkan hasil belajar yang optimal.

2.5. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah dan kajian pustaka, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah jika model pembelajaran kooperatif tipe make a match diterapkan dengan baik dan tepat, maka proses dan hasil belajar tentang pemanfaatan kekayaan alam di Indonesia Siswa di kelas IV SD Negeri 361 Lampulung Kabupaten Wajo dapat meningkat.

3. METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Metode Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Secara umum penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Fadli (2021) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian untuk memahami kondisi suatu konteks dengan mengarahkan pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai gambaran yang sebenarnya terjadi di lapangan studi.

3.2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Fajar, Hasnah dan Syafruddin (2018) menyatakan bahwa “Penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas”.

Sani Menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang bersifat kasuistik dan berkonteks pada kondisi, keadaan dan situasi yang ada di dalam kelas yang dilaksanakan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi guna meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas. (Zahrah et al., 2021)

3.3. Waktu dan tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei dan 2 Juni 2022 semester genap tahun ajaran 2021/2022 sesuai dengan jadwal pembelajaran yang sedang berlangsung. Bertempat di kelas IV SD Negeri 361 Lampulung, Kabupaten Wajo. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan peneliti untuk meneliti di kelas IV SD Negeri 361 Lampulung

(5)

3.4. Prosedur penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Proses pelaksanaan tindakan kelas dilakukan secara bertahap sesuai bagan di bawah ini.

Gambar 1. Adaptasi Desain Siklus Penelitian Kemmis dan Taggart

3.5. Analisis data

Sugiyono (2016) menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Pada analisis data penelitian kualitatif, peneliti perlu mengkaji dan memahami hubungan-hubungan dan konsep untuk dikembangkan dan dievaluasi.Saleh, (2017)

Tabel.1 Taraf Keberhasilan Proses dan Hasil sumber:

Djamarah & Zain

1) Reduksi data

Reduksi data diartikan secara sempit sebagai proses pengurangan data, namun dalam arti yang lebih luas adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan terhadap data yang kurang perlu dan

tidak relevan, maupun penambahan data yang dirasa masih kurang. Menurut Pada dasarnya reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.

2) Penyajian data

Penyajian data adalah kegiatan mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara naratif sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Tuken, 2016).

Penyajian data dapat berupa tulisan atau kata-kata, gambar, grafik dan tabel dengan tujuan data yang dihasilkan dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Penarikan kesimpulan merupakan proses perumusan makna dari hasil penelitian yang diungkapkan dengan kalimat yang singkat padat dan mudah dipahami, serta dilakukan dengan cara berulang kali melakukan peninjauan mengenai kebenaran dari penyimpulan itu, khususnya berkaitan dengan relevansi dan konsistensinya terhadap judul, tujuan dan perumusan masalah yang ada. Penarikan kesimpulan dilakukan selama proses penelitian berlangsung seperti halnya proses reduksi data, setelah data terkumpul cukup memadai maka selanjutnya diambil kesimpulan sementara, dan setelah data benar-benar lengkap maka diambil kesimpulan akhir. Saleh,(2017)

3.6. Indikator Keberhasilan

Berdasarkan fokus penelitian yang mencermati aspek proses dan hasil belajar, maka untuk mengetahui tingkat keberhasilan kedua aspek maka terbagi dua indikator yaitu indikator proses dan indikator hasil.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Pada tahap ini, peneliti mempersiapkan hal-hal yang diperlukan. Yaitu : Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP, Membuat media pembelajaran, Membuat lembar observasi, Membuat tes dan Menyiapkan alat dokumentasi.

Pembelajaran dimulai dari kegiatan membuka, yaitu mengucapkan salam, selanjutnya dengan mengecek kehadiran siswa, kemudian ketua kelas memimpin doa sebelum belajar, menginformasikan tema yang Taraf Keberhasilan Kualifikasi

76%-100% Baik (B)

60%-75% Cukup (C)

0%-60% Kurang (K)

Siklus I

Siklus II Perencanaa

n

Refleksi Pelaksanaan

Observasi Perencanaa

n

Refleksi Pelaksanaan

Observasi Prapenelitian

Siklus N

(6)

akan dipelajari pada hari itu, dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta menggali pengetahuan awal siswa dan memotivasi siswa agar semangat dan aktif dalam proses pembelajaran.

Guru menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match . Guru memberi penjelasan singkat mengenai materi tentang pengertian dan jenis-jenis sumber daya alam.

Kemudian guru menginformasikan tata cara pelaksanaan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe kooperatif tipe make a match . Setelah itu, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian lainnya kartu jawaban. Setelah itu, Guru membagi siswa ke dalam 2 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 7 orang, kemudian masing- masing kelompok saling berhadapan. Guru membagikan kepada siswa satu buah kartu kemudian siswa diminta memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegangnya. Guru menginstruksikan kepada siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal/jawaban). Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberikan poin sedangkan siswa yang gagal menyelesaikannya akan diberi hukuman. Setelah satu babak selesai, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. guru membagikan kepada siswa satu buah kartu kemudian siswa diminta memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegangnya. Guru menginstruksikan kepada siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberikan poin sedangkan siswa yang gagal menyelesaikannya akan diberi hukuman.

Guru membagikan lembar tes evaluasi siklus I.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa di akhir siklus I, siswa diarahkan untuk mengisi tes evaluasi tersebut dengan benar dan jujur. Di akhir pelaksanaan tindakan guru membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran.

Pembelajaran diakhiri dengan membaca doa bersama, setelah itu guru mengucap salam untuk mengakhiri pembelajaran.

Hasil observer terhadap aktivitas yang dilakukan guru (peneliti) dan aktivitas siswa pada siklus I diuraikan sebagai berikut:

1) Pada tahap pertama guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian lainnya kartu jawaban. Guru telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yang terlaksana adalah guru menyiapkan kartu soal, guru menyiapkan kartu jawaban, dan kesesuaian isi kartu soal dan jawaban dengan topik pembelajaran. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

2) Pada tahap selanjutnya setiap peserta didik mendapat satu buah kartu. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yang terlaksana yaitu guru membagikan kartu soal kepada siswa, guru membagikan kartu jawaban kepada siswa, guru membagikan kartu kepada siswa secara heterogen. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

3) Pada tahap ini, tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yaitu guru memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya, membimbing siswa mengalami kesulitan, guru mengawasi siswa.

Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

4) Pada tahap ini, setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Peneliti hanya melaksanakan 2 indikator yaitu guru mengarahkan siswa untuk mencari pasangannya sesuai dengan kartu yang dimilikinya dan guru memberikan batas waktu dalam mencari pasangannya sesuai yang dimilikinya. Sedangkan indikator yang tidak terlaksana yaitu guru memberikan motivasi kepada siswa dalam mencari pasangannya. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi cukup (C).

5) Pada tahap ini, setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang diberi poin. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yaitu guru memberi poin kepada siswa yang berhasil mencocokkan kartunya, guru memberi hukuman kepada siswa yang gagal mencocokkan kartunya, guru mengingatkan waktu mencocokkan kartu.

Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

6) Pada tahap ini, setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun

(7)

indikator yaitu guru mengarahkan siswa untuk lanjut ke babak selanjutnya, guru membagikan kembali kartu soal/jawaban dan mengarahkan langkah-langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

7) Pada tahap kesimpulan/penutup. Peneliti telah melaksanakan 2 indikator. Adapun indikator yang terlaksana yaitu memberikan kesempatan siswa mengungkapkan perasaannya setelah melaksanakan model kooperatif tipe make a match dan guru bersama siswa menyimpulkan pelaksanaan permainan mencocokkan kartu.

Sedangkan indikator yang tidak terlaksana yaitu guru memberikan penguatan. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi cukup (C).

Berdasarkan observasi guru menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan 18 indikator dari 21 indikator dan persentase ketercapaian 85% dengan kategori baik (B). Dengan demikian indikator dan taraf keberhasilan proses sudah tercapai.

Peneliti melakukan observasi terhadap siswa mulai awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran, dengan memberikan tanda ceklis terhadap indikator yang dilaksanakan. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan bahwa secara keseluruhan jumlah hasil observasi aspek siswa pada siklus I mencapai kategori Baik (B) dengan persentase 80%. Dengan demikian, pembelajaran yang dilaksanakan belum tercapai dan belum berhasil sesuai kategori yang telah ditetapkan.

Setelah melaksanakan pembelajaran pada siklus I yang dilakukan dengan menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match.

refleksi dibagi atas dua yaitu proses pembelajaran dan refleksi hasil belajar siswa. Adapun refleksi selama pelaksanaan tindakan siklus I yaitu pelaksanaan proses siklus I pada observasi guru dan siswa masing- masing telah mencapai taraf keberhasilan dengan kualifikasi baik (B). Sedangkan dari hasil tes akhir siklus I yang diberikan menunjukkan bahwa dari 14 siswa nilai rata-rata siswa adalah 61. Terdapat 3 siswa yang mencapai nilai ≥ 75 SKBM sehingga dikatakan tuntas, 11 siswa yang belum mencapai SKBM. Peneliti berinisiatif untuk melanjutkan ke siklus II.

Pada tahap ini, peneliti mempersiapkan hal-hal yang diperlukan. Yaitu : Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP, Membuat media

pembelajaran, Membuat lembar observasi, Membuat tes dan Menyiapkan alat dokumentasi.

Pembelajaran dimulai dari kegiatan membuka, yaitu mengucapkan salam, selanjutnya dengan mengecek kehadiran siswa, kemudian ketua kelas memimpin doa sebelum belajar, menginformasikan tema yang akan dipelajari pada hari itu, dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta menggali pengetahuan awal siswa dan memotivasi siswa agar semangat dan aktif dalam proses pembelajaran.

Guru menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match . Guru memberi penjelasan singkat mengenai materi tentang pengertian dan jenis-jenis sumber daya alam.

Kemudian guru menginformasikan tata cara pelaksanaan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe kooperatif tipe make a match . Setelah itu, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian lainnya kartu jawaban. Setelah itu, Guru membagi siswa ke dalam 2 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 7 orang, kemudian masing- masing kelompok saling berhadapan. Guru membagikan kepada siswa satu buah kartu kemudian siswa diminta memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegangnya. Guru menginstruksikan kepada siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal/jawaban). Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberikan poin sedangkan siswa yang gagal menyelesaikannya akan diberi hukuman. Setelah satu babak selesai, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. guru membagikan kepada siswa satu buah kartu kemudian siswa diminta memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegangnya. Guru menginstruksikan kepada siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberikan poin sedangkan siswa yang gagal menyelesaikannya akan diberi hukuman.

Guru membagikan lembar tes evaluasi siklus I.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa di akhir siklus I, siswa diarahkan untuk mengisi test evaluasi tersebut dengan benar dan jujur. Di akhir pelaksanaan tindakan guru membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran.

Pembelajaran diakhiri dengan membaca doa bersama,

(8)

setelah itu guru mengucap salam untuk mengakhiri pembelajaran.

1) Pada tahap pertama guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian lainnya kartu jawaban. Guru telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yang terlaksana adalah guru menyiapkan kartu soal, guru menyiapkan kartu jawaban, dan kesesuaian isi kartu soal dan jawaban dengan topik pembelajaran.

sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

2) Pada tahap selanjutnya setiap peserta didik mendapat satu buah kartu. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yang terlaksana yaitu guru membagikan kartu soal kepada siswa, guru membagikan kartu jawaban kepada siswa, guru membagikan kartu kepada siswa secara heterogen. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

3) Pada tahap ini, tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yaitu guru memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya, membimbing siswa mengalami kesulitan, guru mengawasi siswa. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

4) Pada tahap ini, setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Peneliti melaksanakan 3 indikator yaitu guru mengarahkan siswa untuk mencari pasangannya sesuai dengan kartu yang dimilikinya, guru memberikan batas waktu dalam mencari pasangannya sesuai yang dimilikinya dan tidak terlaksana yaitu guru memberikan motivasi kepada siswa dalam mencari pasangannya. Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

5) Pada tahap ini, setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang diberi poin. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yaitu guru memberi poin kepada siswa yang berhasil mencocokkan kartunya, guru memberi hukuman kepada siswa yang gagal mencocokkan kartunya, guru mengingatkan waktu mencocokkan kartu.

Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

6) Pada tahap ini, setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. Peneliti

telah melaksanakan 2 indikator. Adapun indikator yaitu guru mengarahkan siswa untuk lanjut ke babak selanjutnya, guru membagikan kembali kartu soal/jawaban. Sedangkan indikator yang tidak terlaksana yaitu guru mengarakan langkah- langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Sehingga terlaksana dengan kualifikasi baik (B).

7) Pada tahap kesimpulan/penutup. Peneliti telah melaksanakan 3 indikator. Adapun indikator yang terlaksana yaitu memberikan kesempatan siswa mengungkapkan perasaannya setelah melaksanakan model kooperatif tipe make a match , yaitu guru memberikan penguatan dan guru bersama siswa menyimpulkan pelaksanaan permainan mencocokkan kartu. sehingga terlaksana dengan kualifikasi cukup (B).

Berdasarkan observasi guru menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan 20 indikator dari 21 indikator dan persentase ketercapaian 95% dengan kategori baik (B). Dengan demikian indikator dan taraf keberhasilan proses sudah tercapai.

Aktivitas siswa pada siklus II mencapai kategori baik dengan persentase 82%. Dengan demikian pembelajaran yang dilaksanakan sudah tercapai atau sudah berhasil sesuai kategori yang di tetapkan.

Setelah melaksanakan pembelajaran pada siklus II yang dilakukan dengan menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match, refleksi dibagi atas dua yaitu proses pembelajaran dan refleksi hasil belajar siswa. Adapun refleksi selama pelaksanaan tindakan siklus I yaitu pelaksanaan proses siklus II pada observasi guru dan siswa masing- masing telah mencapai taraf keberhasilan dengan kualifikasi baik (B).

Sedangkan dari hasil tes akhir siklus II yang diberikan menunjukkan bahwa dari 13 siswa nilai rata-rata siswa adalah 86. Terdapat 11 siswa yang mencapai nilai ≥ 75 SKBM sehingga dikatakan tuntas, 2 siswa yang belum mencapai SKBM.

4.2. Pembahasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang dilaksanakan dalam 2 siklus yang terdiri dari siklus I dan siklus II. Adapun subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SD Negeri 361 Lampulung Kabupaten Wajo yang terdiri dari 14 siswa dengan rincian 6 laki-laki dan 8 perempuan.

(9)

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang diterapkan dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa tentang sumber daya alam.

Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tahap observasi dan tahap refleksi. Dalam pelaksanaan model kooperatif tipe kooperatif tipe make a match siswa dituntut mencari pasangan sesuai dengan kartu yang dimilikinya baik kartu soal ataupun kartu jawaban. Dalam model ini, menerapkan suasana belajar sambil bermain yang menyenangkan sehingga siswa aktif dalam pembelajaran

Terkait dengan hal tersebut, Istarani (2012) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match merupakan model pembelajaran mencari pasangan antara kelompok pembawa kartu soal dengan kelompok pembawa kartu jawaban, setelah mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang ditentukan maka diberi poin. Model ini dapat menumbuhkan kreativitas berpikir serta keaktifan siswa sebab melalui pencocokan pertanyaan dan jawaban akan tumbuh dengan sendirinya(Sirait & Noer, 2013).

Pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II yang dilakukan satu kali pertemuan, secara umum pelaksanaan pembelajaran masih terdapat kekurangan baik dari guru (peneliti) sehingga menyebabkan pembelajaran belum maksimal, seperti masih terdapat siswa yang belum mampu menemukan pasangan jawaban/soalnya dengan benar, siswa masih malu dalam menemukan pasangannya.

Namun penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match memiliki dampak positif bagi siswa selama pelaksanaan pembelajaran seperti siswa belajar sambil bermain sehingga pembelajaran lebih menarik perhatian siswa, dapat meningkatkan kerja sama atar siswa dan mewujudkan pembelajaran yang asyik serta melatih siswa dalam disiplin waktu dikerenakan adanya batasan waktu yang diterapkan.

Sejalan dengan yang dikemukakan Kurniasih & Berlin (2015) menyatakan bahwa kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah sebagai berikut 1) Mewujudkan kondisi pembelajaran yang mengasyikkan, 2) Materi belajar disajikan secara lebih menarik perhatian siswa, 3) Dapat memperbaiki hasil belajar siswa guna mencapai taraf ketuntasan

belajar, 4) Kerja sama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis ( Riyanti & Abdullah, 2018).

Sesuai dengan hasil tes pada tindakan siklus I, siswa yang memperoleh nilai di atas SKBM atau ≥ 75 sebanyak 4 siswa, sedangkan 10 siswa masih belum mencapai SKBM. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa pada siklus I yaitu 67 artinya belum mencapai taraf keberhasilan. Sedangkan pada siklus II dengan menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe make a match diperoleh hasil tes dengan rata-rata nilai 86 artinya sudah mencapai taraf keberhasilan dengan kualifikasi baik (B).

Berdasarkan hasil observasi guru pada siklus I, secara keseluruhan sudah mencapai jumlah skor 18 dengan kualifikasi baik (B). Sedangkan pada siklus II berdasarkan hasil pengamatan guru diperoleh skor yaitu 20 dengan kualifikasi baik (B). Hal ini menandakan telah terjadi peningkatan dari pada proses pembelajaran.

Sesuai dengan hasil aktivitas guru yang mengalami peningkatan, pada aktivitas siswa pula mengalami perubahan dan peningkatan dimana pada awalnya sebagian siswa pasif atau takut berbicara untuk mengemukakan pendapatnya serta beberapa siswa belum bisa mencocokkan kartu yang dimilikinya.

Adanya pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran pun tercapai.

Sejalan dengan proses pembelajaran pada aspek guru di atas telah memberikan dampak baik pula pada aktivitas belajar siswa dengan mencapai taraf keberhasilan. Pada siklus I aktivitas siswa diperoleh dengan kualifikasi baik (B), sedangkan pada siklus II aktivitas siswa mencapai kualifikasi baik (B) pula.

Dengan perubahan yang terjadi pada hasil pembelajaran memberikan dampak positif bagi nilai rata-rata hasil tes siswa. Hasil belajar siswa dianggap berhasil apabila siswa yang mencapai SKBM (≥75) mencapai ≥76% siswa. Dengan demikian penelitian dianggap berhasil dan tidak dilanjutkan atau dihentikan.

Dari keseluruhan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi),

(10)

dan refleksi menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada materi pemanfaatan kekayaan alam di SD Negeri 361 Lampulung Kabupaten Wajo telah tercapai dengan baik.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan data yang diperoleh hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing dapat meningkatkan proses belajar dan hasi belajar siswa tentang manusia dan lingkungan kelas IV SD Negeri 361 Lampulung.

Adapun saran yang dianggap perlu dikemukakan berdasarkan pembahasan dalam perbaikan ini adalah:

1).Bagi peneliti untuk mendapatkan pengalaman nyata melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 2). Bagi Guru, perlu lebih memperhatikan pembagian waktu pada saat melaksanakan setiap tahapan pada model pembelajaran Snowball Throwing, terutama pada saat setiap kelompok menuliskan jawaban dari pertanyaan yang didapatkan sebaiknya diberi batasan waktu agar pelaksanaan model tersebut dapat berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Albertus, Kristen, U., Wacana, S., Kurniati, B., Kristen, U., Wacana, S., Carollina, F., Kristen, U., Wacana, S., Kristen, U., & Wacana, S. (2018). IPS SD Kelas IV. January, 117.

Arisnandar, Hakim, A., & Ilmi, N. (2021). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar. Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 1(1), 170–184.

Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika, 21(1), 33–54.

Fajar, Hasnah, & Syafruddin. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kelas Xi. Jurnal Pendidik Indonesia, 1(1), 21–28.

Gunawan, Kustiani, L., & Hariani, L. S. (2021). Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar IPA. Mimbar

Ilmu, 26(2), 193.

Hamisah, Maryati, Yulia, & Ahmad, S. (2021).

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Hasil Siswa Sekolah Dasar Kelas Empat di Kabupaten Pinrang. Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 1(1), 11–17.

Helmiati. (2012). Model Pembelajaran. Aswaja Pressindo Jl. Plosokuning V No. 73 Minomartani, Ngaglik, Sleman Yogyakarta.

Herawati. (2018). Memahami proses belajar anak. UIN Ar-Raniry Banda Aceh, IV, 27–48.

Iqbal. (2020). Pengelolaan Dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam Dalam Perspektif Ekonomi Islam.

Ekonomi Syariah, 1(1), 8–21.

Nurdyansyah, & Fahyuni, E. F. (2016). Inovasi Model Pembelajaran. In Nizmania Learning Center.

Pane, A., & Darwis Dasopang, M. (2017). Belajar Dan Pembelajaran. Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman, 3(2), 333.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tentang Standar Nasional Pendidikan. (2021).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tentang Standar Nasional Pendidikan. In Standar Nasional Pendidikan.

Riyanti, N. N., & Abdullah, M. H. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS.

Jurnal PGSD, 06, 440–450.

Riyanti, N. N., & Abdullah, M. H. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ips Siswa Kelas Ii Sd Negeri 025 Teluk Binjai Dumai Timur. JURNAL PAJAR (Pendidikan Dan Pengajaran), 2(3), 405.

Saleh, S. (2017). Analisis Data Kualitatif. Pustaka Ramadhan

Sirait, M., & Noer, P. A. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal INPAFI, 1.

Sirajuddin Saleh. (2017). Penerbit Pustaka Ramadhan, Bandung. In Analisis Data Kualitatif. Pustaka Ramadhan.

Sultan, M. A., Nurjannah, & Paurru, T. P. (2021).

Pengaruh Model Pembelajaran VAK (Visual Auditory Kinesthetic) Terhadap Peningkatan Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas V UPT SD Negeri 96 Pinrang. Jurnal Publikasi Pendidikan, XX(XX, XXX), 1–8.

(11)

Sumarni, S. (2021). Model Pembelajaran Make a Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Penyesuaian Diri Dengan Lingkungan Pada Siswa. Jurnal Kewarganegaraan, 5(1), 39–44

Tuken, R., & Kunci, K. (2016). Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Role Playing. Vi(Ktsp 2006).

Zahrah, Nurjannah, & Natriani, S. (2021). Penerapan

Pembelajaran Kooperatif Model Make A Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas Lima di Kabupaten Pinrang. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(2), 122–135.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV B dari nilai rata-rata skor dasar yaitu 61,2 meningkat menjadi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN 181 Pekanbaru dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make

Judul skripsi : Peningkatan Pemahaman Konsep Struktur Bumi melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match (Penelitian Tindakan Kelas pada

Skripsi dengan judul “ Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a match untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fiqih Peserta didik Kelas IV MI Bendiljati Wetan

(3) Bagi peneliti lain, karena hasil penelitian dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran dan

6 Nisrohah Neni Riyanti dan Mohammad Husni Abdullah, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa,”

Berdasarkan penelitian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran matematika hendaknya

Putra, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IIIA SD Negeri 191 Pekanbaru 132 Dengan demikian dapat dilihat bahwa