MENULIS TAK SEMUDAH YANG DIBAYANGKAN Nurlaili Wisda Agustin
Menulis bukanlah sesuatu yang mudah, mungkin hampir semua orang beranggapan bahwa menulis adalah sesuatu yang sulit. Apalagi bagi mereka yang memang tidak hobi menulis dan tak mudah untuk menuangkan ide dalam bentuk kata, seperti menulis di buku diary. Namun menulis akan menjadi sesuatu yang mudah bagi mereka yang memang hobi menulis dan suka mengekspresikan idenya dalam bentuk kata yang indah entah dalam bentuk cerpen atau sekedar menulis di buku harian.
Tak jarang orang saat ini lebih suka mengungkapkan gagasannya lewat sosial media, bisa jadi dalam bentuk story atau caption di instagram atau sosial media yang lain.
Bila kegiatan menulis ditekuni pasti akan berdampak baik untuk diri sendiri juga. Berawal dari menulis di blog pribadi misalnya. Kemudian menulis cerpen atau puisi untuk dilombakan. Namun bagi saya sendiri menulis bukanlah hal yang mudah. Memang jarang menulis hanya pada saat tertentu saja jika memang ingin. Bahkan kalo diingat kembali sepertinya buku harian saja tak punya. Tapi bukan berarti tidak suka menulis juga. Suka menulis tapi lebih pada untuk hal-hal kecil misalnya.
Tidak untuk sesuatu yang besar. Mungkin karena tidak terlalu suka mebaca juga, dalam hal ini membaca buku yang cukup tebal.
Sepertinya dulu sempat memiliki blog, cuma karena satu dua hal menjadi tidak aktif lagi. Mungkin karena waktu atau yang lain. Sepertnya menulis juga butuh ketenangan, tempat yang nyaman dan memang ada niatan. Mungkin pada saat itu beberapa hal teseut tidak terpeuhi, namanya juga masih anak sekolah yang hidupnya kalau tidak di bimbingan belajar, pasti main. Kalaupun nulis juga pasti karena ada tugas bikin makalah dari satu mata pelajaran. Kebetulan mapelnya itu bahasa indonesia yang mengharuskan untuk menulis pengalaman pribadi. Jadi apa boleh buat, mau tidak mau ya harus mau untuk menulis.
Pada saat itu menulis pengalaman tentang pertemanan dan cinta.
Bukan berarti semua bersumber dari pengalaman pribadi karena inspirasi bisa saja datang dari melihat ataupun mendengar. Melihat di sekeliling kita dan mendengar dari kisah orang lain atau teman sendiri. Memang terkadang pertemanan dan cinta sulit untuk dipisahkan. Teramat dekat dan sangat berkaitan erat. Bahkan tak jarang yang pertemanannya bisa saja mengalami kemunduran karena cinta. Jadi kurang lebih cerita pada waktu itu seperti demikian. Antara pertemanan dan cinta yang merumitkan. Yang harus diprioritaskan salah satu, teman atau rasa.
Kebanyakan dari mereka lebih memilih rasa dibandingkan dengan teman entah mengapa. tapi semua itu balik lagi pada pribadi masing-masing.
Tergantung orangnya gimana dalam menyikapi akan hal itu.
Sampai beranjak ke bangku universitas, jarang juga menulis dan saya bukanlah orang yang suka ke perpustakan untuk sekedar membaca atau apalah. Bagi saya selama segala sesuatu bisa dikerjakan di rumah atau di kost kenapa tidak. Toh saat ini sumber referensi juga tidka hanya hari buku cetak. Mungkin hal itu juga yang membuat jarang menulis juga.
Seperti saat sekolah dulu, nulis juga paling menulis makalah tugas makul tertentu dan yang pasti nulis tugas akhir yang kebetulan di prodi saya ada 3, dari seminar Fisika, eksperimen Fisika II dan skripsi.
Yang dulunya tidak menginginkan menjadi guru tapi apalah daya keterimanya jadi guru di prodi pendidikan Fisika UNS, mungkin dari lubuk hati orang tua ingin anaknya jadi guru. Apapun itu tetap harus disyukuri entah banyak atau sedikit karena bisa saja orang lain tidak bisa seperti kita. Seperti yang ada di surat Al – Baqarah ayat 216, yaitu boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak. Ayat tersebut benar-benar menjadi seperti tamparan buat saya yang terkesan tidak menyukuri apa yang sudah di dapat dan mungkin memang yang saya butuhkan.
Dari situ mulai tersadar bahwa memang rencana Allah itu baik untuk apa saya mengikuti tes SBMPTN sampai 2 kali setelah kuliah jika memang ridho Allah ada pada ridho orang tua. Alhamdulillah diberi kelancaran di semester 8 untuk menyelesaikan semua tugas akhir.
Mungkin kalau saja dulu tidak malas untuk memulai menulis pasti selesai lebih cepat lagi. Balik lagi, sifatnya manusia apalagi mahasiswa kebut semalam seperti saya. Yang muncul ide kalau lagi deadline, kecuali emang ada niat untuk mengerjakan jauh-jauh hari. Sebenernya saya adalah orang yang terencana dalam melakukan sesuatu tapi terkadang kebawa oleh lingkungan pertemanan yang kebanyakan begitu, yang penting tetap selesai tepat pada waktunya. Bagi saya tidak ada sesuatu yang terlalu cepat atau terlalu lama karena semua indah pada waktu-Nya.
Setelah wisuda, mulai mengalami kebingungan mau lanjut studi atau kerja. Kemudian ada seleksi CPNS ikutlah, namun sayangnya belum menjadi rejeki masih jadi rejeki kakak tingkat padahal udah sampai tahap akhir Cuma selisih berapa poin saja. Tidak masalah untuk mengisi kekosongan ikutlah daftar megister di UNS juga dengan beasiswa dari UNS, pada saat itu ke teknologi pendidikan tapi setelah berpikir kembali sepertinya lebih baik pindah prodi saja dengan satu dan dua alasan lainnya. Akhirnya mengajukan pindah dengan berbagai drama. Bolak-balik rumah ke kampus untuk ke akademik pusat. Gak taunya surat hilang, mengurus dari awal lagi, pas udah ngurus eh keselip lagi, tidak jadi masalah karena percaya Allah selalu memudahkan urusan hamba-Nya.
Alhamdulillah bisa pindah ke prodi pendidikan Fisika dan ketemu teman- teman kuliah dulu dan adek tingkat juga. Dan menemukan teman dari luar kota yang berasa sudah kenal lama. Seperti kita menemukan habitat masing-masing. Ternyata kita satu frekuensi. Memang rencana Allah itu baik, selalu memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan dan menggantikan segala sesuatu dengan yang lebih baik lagi yang tidak pernah diduga sebelumnya sama manusia. Karena terkadang manusia selalu meminta apa yang diinginkan.
Memasuki jenjang megister barulah menulis, sebenarnya ini karena tuntutan mata kuliah tapi ada baiknya juga untuk berlatih menjadi penulis. Disini akan saya ceritakan pengalaman saat menulis tersebut.
Jadi ada suatu mata kuliah, yaitu teknologi dan media pembelajaran Fisika yang mengharuskan saya menulis. Menulis sebuah bab buku tentang suatu benda di sekitar kita berkaitan dengan makul tersebut, yang mudah didapat dan gampang penggunaannya. Yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bab buku disini adalah kumpulan dari beberapa tulisan teman satu kelas yang nantinya di jadikan dalam satu buku. Dimana setiap orang harus menulis dengan ide masing-masing tapi dengan tema yang sama.
Disini saya mengambil tema tentang kelereng. Tiba-tiba saja tercetus kata itu pada waktu pemilihan benda yang akan dipakai untuk bab bukunya. Berbicara tentang kelereng entah mengapa teramat dekat dengan hidup saya. Dari waktu masih kuliah S1 pada waktu itu praktikum mata kuliah gelombang dan optik yang mengharuskan untuk merancang percobaan sendiri dari situ dikembangin saja buat jadi eksperimen Fisika II. Kemudian pada saat penelitian untuk skripsi juga menggunakannya dan bahkan sampai dunia kerja juga untuk supervisi memakai kelereng.
Jadi memang kelereng teramat dekat dengan kehidupan kita dan Fisika juga ternyata ada disekitar kita tanpa disadari. Untuk bab buku saya berjudul kelereng dalam Fisika, alasannya karena kelereng disini bisa dimanfaatkan sebagai media untuk mengajarkan konsep Fisika. Mungkin terkesan biasa saja judulnya tapi memang begitu adanya. Karena tidak semua bisa dilihat dari tampilan luarnya saja tanpa tahu dalamnya seperti apa. Seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa jangan melihat buku hanya dari sampulnya saja. Memang itu benar, tidak selamanya yang terlihat dari luar itu memang begitu adanya. Bisa jadi yang luarnya kurang bagus tapi dalamnya bagus, begitu juga sebaliknya. Terkadang memang cover menipu. Tapi tak selamanya begitu. Balik lagi, segala sesuatu sebenarnya dilihat dari luar, jadi usahakan tampilanya bagus.
Dalam bab buku tersebut membahas mengenai pengunaan kelereng untuk mengajarkan konsep Fisika. Konsep yang saya ambil masih ada kaitannya dengan yang sudah saya ceritakan di atas tadi. Yaitu konsep energi kinetik, energi potensial, hukum kekekakalan energi mekanik dan osilasi. Mengenai konsep energi kinetik, energi potensial dan hukum kekekalan energi mekanik berkaitan dengan skripsi sementara osilasi berkaitan dengan eksperimen Fisika II, lebih tepatnya osilasi kelereng. Jadi ternyata tugas untuk menulis bab buku ini tidak terlalu sulit.
Tapi tidak mudah juga. Jadi, berada diantara keduanya antara mudah dan susah.
Entah suatu kebetulan atau bagaimana, ternyata tugas akhir yang sudah dibuat pada saat kuliah S-1 dulu ada manfaatnya untuk sekarang.
Sedikit memudahkan untuk mencapai target penulisan 12,5 halaman tanpa gambar dan tabel. Hasilnya kurang lebih bisa 18 halaman sudah termasuk halaman referensinya. Dengan margin kertas atas 4, kiri 4, kanan 3 dan bawah 3. Penggunaan spasi 1,5 dan font huruf 12 menggunakan arial. Pada awalnya merasa seperti beban, mau nulis apa dalam jumlah halaman yang cukup banyak hanya dengan sebuah benda untuk membelajarkan konsep Fisika ke siswa. Tanpa disadari ternyata selesai juga sesuai yang dijadwalkan untuk mengumpulkan 12,5 halaman bab buku.
Untuk isi dari bab buku, pertama berisikan pendahuluan atau pengantar yaitu menjelaskan apa saja yang akan di bahas dalam bab buku. Konsep Fisika apa saja yang akan di bahas, media apa yang digunakan untuk membelajarakan konsep Fisika tersebut dan alasan pemilihan media tersebut. Untuk alasan pemilihan kelereng selain yang sudah dibahas di awal. Karena kelereng saat ini menjadi suatu benda yang seperti sudah langka dan jarang menemukan pula anak-anak seusia SD bermain kelereng di tanah lapang sama teman sebayanya. Balik lagi semakin kesini, teknologi semakin berkembang pesat. Tidak sedikit anak kecil saat ini sudah bermain gadget sekedar melihat youtube atau bermain
game. Seperti keponakan saya sendiri. Meskipun penggunaanya dibatasi oleh orang tuanya, tetapi dengan begitu kelereng mungkin semakin tidak dikenali banyak orang.
Fenomena seperti itu memang saat ni sudah mewabah di kalangan masyarakat. Entah masyarakat desa maupun kota. Hampir semua anak kecil seusia TK atau SD bisa mengoperasikan HP. Jadi sudah sepantasnya orang tua untuk mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh anaknya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Dikhawatirkan anak kecil melihat video di youtube yang kurang etis, seperti perkelahian. Karena diusia masih kecil, anak mudah mengingat bahkan menirukan segala sesuatu yang dilihat atau didengar. Tidak cukup dari gadget, bisa juga dari TV atau dari setiap gerak-gerik orang yang lebih dewasa disekitarnya. Acara TV misal, sinetron anak jalanan meskipun tentang sekolah tetapi ada adegan perkelahian. Jadi sudah sepantasnya anak selalu dalam pengawasan.
Pembahasan selanjutnya mengenai Fisika, pasti kita semua sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Kebanyakan siswa menganggap Fisika adalah mata pelajaran yang sulit. Padahal sebenarnya kalau memang memahami itu mudah. Dan ternyata Fisika teramat dekat dengan kehidupan kita. Entah dari dalam diri kita sendiri ataupun dari luar diri kita. Semua ada kaitannya dengan Fisika. Untuk jenjang SD lebih pada IPA, begitu juga dengan jenjang SMP yaitu menyatu dengan biologi dan sedikit kimia. Misalnya saja untuk menjelaskan materi kontinuitas bisa memberikan gambaran dengan proses orang melakukan cek tekanan darah. Atau kalau dari luar diri manusia, bisa menggunakan aliran sunga. Jadi, Fisika ada disekitar kita ternyata.
Selanjutnya membahas tentang pembelajaran Fisika. keberhasilan suatu pembelajaran tergantung guru dalam mengelolanya. Karena guru sebagai fasilitator. Diharapakan pembelajaran Fisika tidak lagi berpusat pada guru tetapi lebih berorientasi pada siswa. Siswa yang terlibat aktif
dalam pembelajaran sehingga keterampilan abad 21 yang lebih dikenal dengan 4C, yaitu kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerja sama dan komunikasi dapat dikuasai siswa. Dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif, misalnya PBL, PjBL atau Discovery Learning.
Selain dari guru atau model yang digunakan dalam proses pembelajaran. Faktor internal siswa juga mempengaruhi keberhasilan suatu pembelajaran. Misalnya siswa merasa kurang tertarik dengan pembelajaran yang hanya mencatat atau sekedar melihat tayangan di layar proyektor, sembari guru menjelaskan panjang lebar tanpa adanya interaksi langsung antara siswa dengan fenomena Fisika. Sehingga, dibutuhkan media yang menarik minat dan memotivasi siswa dalam belajar Fisika. dengan media yang riil, siswa menjadi dekat dengan femonema yang diajarkan guru karena merasakan langsung atau melakukan percobaan. Maka dari itu, pembahasan bab buku selanjutnya adalah seputar media, yaitu pengertian media, jenisnya, manfaatnya.
Pada bagian berikutnya barulah membahas mengenai kelereng secara khusus. Dari pengertian kelereng sendiri itu bagaimana. Sejarah kelereng dari penemuan pertama hingga proses pembuatannya yang kita tau saat ini, kelereng terbuat dari kaca. Kemudian membahas istilah kelereng di berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai ke manca negara. Membahas pula bagaimana permainan kelereng tersebut, pemenangnya ditentukan berdasarkan apa dan proses permainannya seperti apa serta siapa yang bermain.
Memasuki konsep Fisika yang dipilih untuk dibahas dengan kelereng tadi. Dalam pengemasannya, seolah pembaca sedang mengikuti pembelajaran, diawali dengan fenomena kemudian ada sedikit percobaan yang seolah sedang berdiskusi. Yang pertama dibahas adalah energi kinetik. Semua pasti udah tau dengan energi kinetik, yaitu energi yang dimiliki benda karena geraknya. Ditampilkan fenomena terlebih dahulu, yaitu orang berlari. Dengan begitu, pembaca menjadi terangsang untuk berpikir selanjutnya saat ada kegiatan diskusi. Apa yang terjadi pada
kelereng yang dijatuhkan cepat dan pelan pada plastisin serta saat kelereng dengan bentuk sama dijatuhkan bersama. Dengan demikian, bisa terbayang bahwa energi kinetik dipengaruhi oleh kecepatan dan massa yang ditandai cekungan pada plastisin.
Begitu juga dengan penggunaan kelereng pada energi potensial.
Diawali dengan fenomena yang dalam hal ini disajikan sebuah gambar buah apel jatuh dari pohonnya, dengan begitu pembaca bisa membayangkan sesuatu. Setelah itu, pembaca diajak untuk membuktikan hal tersebut dengan melakukan seperti penyelidikan. Dengan menjatuhkan dua kelereng dengan massa yang berbeda tapi jaralnya sama pada plastisin, setelah jatuh ada cekungan pada plastisin yang menunjukkan pengaruhnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa energi potensial dipengaruhi oleh massa benda. Selanjutnya menjatuhkan dua kelereng juga pada plastisin dengan massa yang sama tetapi jaraknya berbeda, satu lebih tinggi. Setelah dijatuhkan ternyata kelereng dengan jarak yang lebih tinggi menghasilkan cekungan pada plastisin lebih dalam, hal ini menunjukkan bahwa energi potensial dipengaruhi juga oleh ketinggian. Selain itu, setiap benda yang jatuh selalu dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi yang nilainya 10 m/s2. Jadi dari simulasi tersebut, pembaca sudah mendapat gambaran bahwa energi potensial merupakan energi yang dimiliki benda karena posisinya.
Untuk hukum kekekalan energi mekanik, disajikan terlebih dahulu dua gambar yaitu orang bermain ayunan dan bilyard. Kemudian dilakukan simulasi dengan mengambil tiga data, yaitu menjatuhkan kelereng pada jarak 100 cm, 125 cm dan 150 cm dan dicatat waktunya. Setelah itu dimasukkan pada tabel pengamatan untuk tinggi diubah ke m dan waktu diubah ke kecepatan dulu dengan menggunakan persamaan pada gerak jatuh bebas dengan kecepatan awal nol, sehingga kecepatan akhirnya hanya dipengaruhi oleh jarak dan percepatan gravitasinya. Kemudian dilakukan analisis pada kegiatan pertama dengan melakukan perbandingan bahwa saat kelereng diatas hanya memiliki energi apa,
begitu juga saat kelereng berada dibawah hanya memiliki energi apa.
Selanjutnya untuk kegiatan kedua dengan menggunakan pengetahuan yang sudah didapat mengenai energi kinetik dan energi potensial, sehingga didapat bahwa energi mekanik merupakan penjumlahan dari keduanya.
Untuk osilasi kelereng, pasti masih jarang yang mendengar akan hal tersebut. Osilasi kelereng merupakan suatu model osilasi yang dapat digunakan untuk menentukan percepatan gravitasi bumi. Dimisalkan bahwa suatu bola pejal yaitu kelereng dengan jari-jari a dilepaskan pada lintasan melengkung yang berjari-jari R, kemudian akan bergerak bolak balik seperti bandul pada ayunan sederhana.
Dengan menggunakan hubungan translasi energi. Dimisalkan bahwa kelereng tadi berada pada posisi A kemudian berada pada keadaan setimbang di B. Kelereng tersebut kehilangan energi yang akan berubah menjadi energi kinetik. Persamaan tersebut yang nantinya akan digunakan untuk menentukan percepatan gravitasinya.
Model osilasi kelereng ini biasanya digunakan sebagai alat percobaan untuk menentukan percepatan gravitasi bumi disuatu tempat dengan prinsip ayunan sederhana. Untuk yang dibahas pada bab buku ini merupakan osilasi kelereng dengan sensor proximity. Sebenarnya alat ini merupakan hasil dari eksperimen Fisika II saya pada saat kuliah S-1 dulu di pendidikan Fisika UNS.
Sensor proximity disini berfungsi untuk menentukan menentukan jumlah getaran dan waktu saat berosilasi. Walaupun sebenarnya dengan cara manual juga bisa, yaitu dengan menggunakan stopwatch untuk menghitung waktu berosilasi tapi sedikit mengalami kesulitan dalam menghitung jumlah getaran, hal ini seperti yang saya alami dahulu waktu melakukan percobaan mata kuliah gelombang dan optik, pada saat itu alatnya membuat sendiri dengan cukup sederhana. Penyangganya dengan kayu dan rel osilasinya dengan selang air biasa. Untuk alat yang sekarang lebih modern dengan menggunakan seperti sejenis alumunium
untuk penyangganya dan ada sensornya di bawah lintasan. Sehingga memudahkan dalam pengataman. Waktu dan jumlah getaran yang dihasilkan dianggap sebagai variabel bebas yang nantinya akan digunakan untuk menentukan periode sebagai variabel terikat. Untuk alat ini jumlah getaran yang maksimal dapat dilakukan adalah 5 kali.
Alat ini dilengkapi dengan sebuah kotak hitam kecil. Untuk menjalankan alat ini yaitu dengan cara memasang kabel dari sensor proximity ke black box. Kemudian menyalakan saklar pada black box yang nantinya akan menampilkan layar berisi waktu dan jumlah getaran saat kelereng sedang berosilasi. Saat layar sudah menyala dan menunjukkan angka nol berarti siap digunakan, kelereng diletakkan disalah satu ujung lintasan. Untuk bab buku ini kelereng yang digunakan adalah dua. Jadi kegiatan tersebut diulang sebanyak dua kali dengan ukuran kelereng yang berbeda, yaitu 0,0045 m dan 0,006 m.
Hasil yang didapatkan berupa jari-jari lintasan, jari-jari kelereng, jumlah getaran dan waktu berosilasi dimasukkan ke tabel pengataman.
Kemudian dicari periode osilasi baru mencari percepatan gravitasinya dengan menggunakan persamaan dari energi kinetik pada traslasi energi tadi. Jadi, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif.
Untuk kelereng dengan jari-jari 0,0045 m berosilasi selama 5,8 s, menghasilkan periode sebanyak 1,16 s dan kelereng berjari-jari 0,006 m berosilasi selama 5,9 s, menghasilkan periode sebesar 1,18 s. Setiap kelereng berosilasi sebanyak 5 kali. Percobaan ini dilakukan di bengkel Fisika FKIP UNS. Hasilnya untuk kelereng pertama g = 10,07 m/s2 dan kelereng kedua menghasilkan g = 9,67 m/s2.
Percepatan gravitasi bumi menurut buku Tipler tidak selalu tetap, karena tergantung dimana benda tersebut berada. Misalnya, dikhatulistiwa 9,77 m/s2 sementara dikutub adalah 9,83 m/s2. Sedangkan menurut teori yang adala nilainya adalah 9,81 m/s2 tetapi biasanya disoal adalah 10 m/s2 untuk memudahkan perhitungan.
Ada beberapa penelitian mengenai percepatan gravitasi bumi, seperti Rohmawari yang melakukan pengukuran di Semarang menghasilkan nilai 9,709 m/s2. Sementara nilai percepatan gravitasi di bengkel Fisika FKIP UNS adalah 9,82 m/s2. Jadi dari hasil yang diperoleh alat osilasi kelereng kurang sesuai dengan teori yang ada.
Perbedaan hasil tersebut bisa saja disebabkan dari alat sendiri atau dari praktikan. Misalnya lintasan kurang licin atau kurang teliti dalam melakukan perhitungan. Sehingga alangkah lebih sempurna alat tersebut jika ada yang melanjutkan. Bisa untuk percobaan konsep lain. Praktikan juga lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan maupun perhitungan.
Dari beberapa contoh penggunaan kelereng pada konsep Fisika diharapkan siswa menjadi lebih tertarik untuk belajar Fisika dan pembelajaran Fisika menjadi lebih bermakna lagi bagi siswa. Sehingga keterampilan abad 21 dapat terwujud. Dengan guru sebagai fasilitator dan siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran.
Selain menjadi penulis, kita juga dituntut untuk menjadi editor dari dua bab buku teman sekelas. Dala hal ini saya menjadi editor dari Sfiya dan Yurike yang tidak terlalu banyak editingnya. Sementara bab buku saya, editornya adalah Ilvi dan Maura yang juga tidak banyak perubahan.
Setelah melakukan editing pada buku selesai, dilakukanlah pengecekan plagiatisme, ternayta 23 %.
Kemudian menyumbangkan ide untuk layout cover buku, yang awalnya gak terlalu suka desain jadi mau tidak mau harus menyumbangkan pemikiran desainnya dengan bantuan canva. Cukup menarik memang pembelajaran kali ini. Menjadikan lebih berkembang.
Karena kita berdiskusi bagaimana buku ini dibuat seragam satu kelas meski dengan konten yang berbeda tiap babnya. Jadi, keterampilan abad 21 yang diharapkan dapat terwujud.
Semoga saja setelah pembelajaran kali ini dan menuis pengalaman dalam proses pembuatan bab buku sebanyak 10 halaman menjadi lebih tertarik untuk sering menulis karena ternyata memang cukup
menyenangkan juga. Akhirnya kita pasti akan bilang bahwa ternyata segala sesuatu akan mudah dilakukan tergantung pada niatnya. Pemula di caci tidak jadi masalah, untuk batu loncatan kedepan.
Selamat berkreativitas �