1
PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN MEMPELAJARI PATOLOGI KLINIK VETERINER
Oleh Nyoman Sadra Dharmawan
Tantangan dan peluang yang dihadapi oleh ilmu patologi klinik veteriner semakin tahun semakin menggairahkan. Ilmu ini berkembang amat pesat, terutama dengan adanya kemajuan teknologi yang terkait dengan pengembangan berbagai peralatan laboratorium. Semakin canggih peralatan laboratorium, semakin akurat hasil pemeriksaan yang diperoleh, dan semakin efisien pula kebutuhan akan sampel / material yang diperlukan. Patologi klinik telah didefinisikan oleh Friel pada 1981, sebagai suatu penerapan ilmu patologi untuk digunakan dalam memecahkan masalah klinis, khususnya dengan penggunaan metode laboratorium dalam menetapkan diagnosis suatu penyakit (McSherry dan Valli, 1988). Salah satu kata kunci pada definisi di atas adalah laboratorium, tepatnya pemeriksaan laboratorium.
Dewasa ini, kebutuhan akan pemeriksaan laboratorium terhadap material yang berasal dari hewan sakit atau diduga sakit sudah menjadi keharusan. Hal ini menjadi amat penting, karena dengan mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium akan dapat dipastikan diagnosis suatu penyakit. Dengan adanya dignosis yang pasti, maka pemilihan alternatif pengobatan akan menjadi pasti pula sehingga efektivitas pengobatan yang diberikan dapat lebih ditingkatkan. Pada kedokteran manusia, pemeriksaan laboratorium sudah tidak asing lagi, bahkan telah menjadi kegiatan rutin.
Pemeriksaan laboratorium secara berkala (general check-up) sudah lazim dijalankan oleh masyarakat luas. Pemeriksaan seperti ini biasanya atas anjuran dokter.
Semua hal yang berkaitan dengan pemeriksaan laboratorium, termasuk penginterpretasian hasil pemeriksaan tersebut untuk kepentingan klinik, secara teoritis dibahas dalam ilmu patologi klinik. Persoalan yang kemudian berkembang di lapangan adalah seberapa jauh hasil suatu pemeriksaan laboratorium tersebut dapat dipercaya, sehingga interpretasi hasil yang akan dibuat tidak salah. Ada beberapa faktor yang memang dapat menjamin mutu pemeriksaan laboratorium yang handal sehingga
2
hasilnya dapat dipercaya. Namun, sebelum mengutarakan hal tersebut akan disampaikan dulu tujuan dari pemeriksaan laboratorium.
Alasan utama para dokter hewan meminta pemeriksaan laboratorium klinik adalah: 1) untuk memastikan / menunjang diagnosis suatu penyakit; 2) untuk memantau perjalanan penyakit; 3) untuk memantau efektivitas pengobatan; dan 4) untuk memperkirakan resiko terhadap penyakit tertentu atau untuk pencegahan (check- up). Oleh karena itu, pendayagunaan laboratorium akan menjadi optimal bila basil pemeriksaan dapat dipercaya atau dapat diandalkan.
Laboratorium yang baik, yang mempunyai program pengendalian mutu terpadu, akan menjadi pilihan utama, karena apa gunanya pemeriksaan laboratorium bila hasilnya malah membingungkan. Hasil pemeriksaan yang baik harus memenuhi syarat akurasi dan presisi yang baik. Untuk ini diperlukan pengelolaan dan pengendalian mutu secara terpadu. Program ini akan merupakan jaminan keamanan bagi dokter hewan dalam menggunakan hasil pemeriksaan untuk menunjang diagnosis maupun memantau perjalanan penyakit dan terapinya.
Faktor yang menjamin mutu hasil pemeriksaan laboratorium klinik adalah:
1. adanya peralatan yang baik,
2. metode pemeriksaan yang menunjang / memenuhi kriteria diagnosis dini, 3. reagensia dengan mutu yang baik,
4. petugas laboratorium / analis yang profesional dan penuh tanggung jawab, dan 5. pengelolaan laboratorium klinik yang profesional.
Laboratorium yang baik hendaknya memperhatikan kelima faktor tersebut.
Presisi atau ketelitian pemeriksaan yang sering pula disebut dengan reproduksibilitas pemeriksaan, berarti bahwa bila pemeriksaan itu diulang, hasilnya harus sama atau mendekati. Itu berarti bahwa variasi dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lain, dari satu analisis ke analisis lain, dan dari hari ke hari harus baik dan dalam batas-batas yang diperbolehkan. Lebih lanjut, akurasi atau ketepatan pemeriksaan berarti bahwa hasil pemeriksaan harus sedekat mungkin dengan hasil yang benar (true value) secara hipotesis. Akurasi yang jelek akan menyebabkan hasil pemeriksaan akan ketinggian
3 atau kerendahan.
Diagnosis dini tergantung pada metode pemeriksaan yang dipakai, yaitu metode dengan sensitivitas (kepekaan) dan spesifisitas (kekhasan) yang tinggi.
Sensitivitas menunjukkan kemampuan pemeriksaan untuk dapat mendeteksi zat yang diperiksa dengan kadar yang sekecil mungkin. Berarti bahwa hewan yang menderita suatu penyakit akan mempunyai hasil yang pasti positif. Spesifisitas menunjukkan kemampuan metode pemeriksaan untuk tidak bereaksi dengan zat yang tidak ada hubungannya dengan zat yang akan diperiksa. Dengan demikian, hewan yang tidak sakit pasti mempunyai hasil yang negatif. Dalam pemilihan metode pemeriksaan, sensitivitas dan spesifisitas harus menjadi pertimbangan utama.
Dari uraian di atas, semakin jelaslah bahwa untuk efektivitas pemeriksaan dan pengobatan hewan sakit, diperlukan adanya koordinasi yang baik antara dokter hewan praktisi, analisis laboratorium klinik, dan tentu saja pemilik hewan (klien) serta pasien (hewan) itu sendiri. Terkait dengan upaya koordinasi seperti tersebut, prinsip dasar ilmu patologi klinik veteriner dalam penerapannya sangat diperlukan.
Apabila kita membaca berbagai buku patologi klinik veteriner, di situ akan ditemukan pengertian dan definisi yang dikemukakan oleh para penulis. Dalam buku ini, yang dimaksud dengan patologi klinik veteriner adalah suatu cabang ilmu kedokteran hewan yang menggunakan hasil pemeriksaan laboratorium untuk menerangkan berbagai masalah klinik. Sebagai suatu ilmu, patologi klinik veteriner yang merupakan cabang ilmu kedokteran hewan yang relatif baru, perkembangannya begitu pesat. Ilmu tersebut telah mengembangkan diri baik dari aspek dasarnya maupun pada aspek terapan ilmunya. Topik yang paling umum disajikan dalam buku patologi klinik veteriner adalah hematologi klinik veteriner dan kimia klinik veteriner. Dalam buku ini, disajikan secara komprehensif berbagai hal tentang hematologi klinik.
Pengertian dan Ruang Lingkup
Patologi Klinik Veteriner telah berkembang dengan pesat sejalan dengan bertambah dalamnya pandangan mengenai patofisiologi dan meningkatnya jumlah
4
serta ketepatan prosedur pemeriksaan laboratorium. Oleh karena cara diagnostik dan pengobatan terus menerus berkembang, serta sejumlah test yang diperlukan makin meningkat dan tersedia, mereka yang bekerja di laboratorium, para peneliti, dan yang mengambil manfaat dari hasil kerja laboratorium menghadapi tugas yang cukup berat.
Tugas yang cukup berat tersebut adalah terutama dalam memilih prosedur laboratorium, menafsirkan hasil yang dilaporkan, dan mengolah data untuk memperoleh kaitan klinis yang erat dan bermanfaat.
Dalam bidang kedokteran hewan modern, pemeriksaan laboratorium terhadap bahan yang berasal dari hewan yang diduga sakit atau sakit, adalah sama pentingnya dengan pemeriksaan fisik dan anamnesa pasien. Acap kali pemeriksaan laboratorium justeru sangat menentukan diagnosis suatu penyakit. Karena itu, evaluasi keadaan fisiologi hewan sangat tergantung pada tiga jenis pemeriksaan, yaitu: pemeriksaan fisik, anamnesa, dan pemeriksaan laboratorium.
Seorang dokter hewan yang sangat tergantung pada pemeriksaan laboratorium, mungkin sekali kurang berpengalaman dalam hal klinik. Akan tetapi, jika dokter hewan dalam menjalankan praktek kliniknya menyatakan bahwa ia tidak membutuhkan pertolongan laboratorium, maka ia dikatakan sebagai dokter hewan yang tidak tahu menggunakan laboratorium. Jika ditangani oleh kedua dokter hewan yang demikian, pasien ada dalam keadaan bahaya. Pernyataan di atas merupakan saduran dari pernyataan Wells dan Halsted (1967) seperti yang dikutip oleh Coles (1986).
Pernyataan aslinya seperti berikut:
"A physician who depends on the laboratory to make his diagnoses is probably inexperienced; one who says that he does not need a laboratory is uninformed. In either instance the patient is in danger”
Seorang dokter hewan perlu mengetahui seluk beluk pemeriksaan laboratorium.
la harus tau kapan membutuhkan laboratorium, bahan apa yang harus diperiksa, metode yang digunakan untuk pemeriksaan, dan bagaimana membuat kesimpulan dari hasil pemeriksaan tersebut.
Suatu cabang ilmu yang menggunakan hasil pemeriksaan laboratorium untuk
5
menerangkan masalah klinik yang berkaitan dengan pasien dikenal dengan patologi klinik. Dengan demikian, patologi klinik veteriner adalah cabang ilmu kedokteran hewan yang mempelajari hasil pemeriksaan laboratorium dan kemudian menginterpretasikan hasil tersebut untuk kepentingan klinik veteriner. Yang dimaksud dengan kepentingan klinik veteriner adalah kepentingan untuk menginterpretasikan hasil pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk membuat diagnosis suatu penyakit, membuat prognosis, dan pada gilirannya menetapkan pengobatan / perlakuan yang tepat terhadap hewan penderita. Jadi, yang termasuk di dalam patologi kilinik veteriner adalah segala cara pemeriksaan laboratorium veteriner yang dapat menunjang penelusuran sebab musabab suatu penyakit atau penyimpangan yang terjadi pada penderita. Dengan demikian, diagnosis, prognosis, dan pengobatan dapat diberikan dengan tepat. Karena itu, untuk mencapai hasil yang optimal sangat diharapkan agar kerjasama antara klinikus dan para ahli laboratorium terjalin dengan baik. Dalam kaitan dengan hasil laboratorium, yang terpenting adalah bagaimana mengambil kesimpulan terhadap data yang diperoleh di laboratorium. Dengan data yang ada, penyebab penyimpangan dapat dipelajari secara lebih mendalam. Yang oleh klinikus trampil, bukan saja dapat menghasilkan diagnosis yang tepat, tetapi juga dapat memberikan prognosis dan pengobatan yang meyakinkan.
Patologi klinik berperan penting dalam pengobatan pasien. Pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat dalam menegakkan diagnosis, melainkan juga dalam mengontrol pengobatan dan perkembangan penyakit. Sebagai ilmu dasar, patologi klinik menggunakan fisiologi dan biokimia untuk menerangkan sifat dan penyebab penyakit. Sedangkan sebagai ilmu terapan, patologi klinik diperoleh dengan menganalisis cairan tubuh dan jaringan untuk membantu klinikus dalam mendiagnosis dan memberikan pengobatan / perlakuan. Umumnya, bahan pemeriksaan dari hewan yang diduga sakit atau sakit adalah berupa: darah, urin, fesesz kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya. Dengan pemeriksaan bahan tersebut, dapat diperoleh gambaran atau petunjuk tentang fungsi organ dan status fisiologi pasien.
Biokimia patologi sangat erat hubungannya dengan patologi klinik. Biokimia
6
patologi membahas berbagai penyimpangan biokimia yang terjadi dalam tubuh beserta mekanisme yang mendasari prosesnya. Di beberapa negara, bagian disiplin ilmu ini, kadang-kadang dinamakan patologi klinik atau patologi kimia atau biokimia klinik.
Sejarah Perkembangan
Seperti halnya bidang-bidang ilmu veteriner lainnya, perkembangan patologi klinik veteriner tidak lepas dengan perkembangan patologi klinik pada kedokteran manusia (human medicine). Kemajuannya mengikuti perkembangan ilmu kedokteran, pengetahuan biokimia, dan berbagai teknik kimia analisis.
Sejarah pemeriksaan laboratorium dalam dunia kedokteran dimulai dengan penentuan secara sederhana berbagai zat yang ada dalam urin dan darah. Selanjutnya, hasil pemeriksaan dihubungkan dengan berbagai kemungkinan yang terjadi pada tubuh hewan dan manusia. Lebih jauh, dengan berkembangnya ilmu dan teknologi, pemeriksaan yang tadinya sangat sederhana berkembang menjadi berbagai test atau uji yang lebih canggih. Dengan perkembangan ini, berbagai penyakit dapat diketahui penyebabnya secara lebih mendalam dan lebih rinci. Bahkan, tidak jarang penemuan laboratorium itu menjadi penting karena mampu menunjukkan tahapan perubahan yang terjadi pada hewan atau manusia yang menderita penyakit.
Bila kita cermati sejarah perkembangannya, ternyata patologi klinik merupakan ilmu yang relatif baru. Pada pertengahan abad kesembilan belas, para dokter, baru mampu mengukur konsentrasi asam klorida dalam getah lambung. Selanjutnya, diketahui pada paruh waktu tersebut, analisis gula dalam urin dapat dikerjakan dengan uji Fehling; penentuan protein urin dapat dikerjakan melalui pendidihan dan pengasaman; dan empedu urin dapat diketahui dengan uji asam nitrat. Pelajaran patologi kimia klasik pada tahun 1847 oleh Bence Jones pada waktu itu didasarkan atas analisis kuantitatif urin. Boleh dikatakan bahwa tidak ada perkembangan yang berarti menyangkut ilmu ini selama abad kesembilan belas. Terutama yang berkaitan dengan aplikasi pengetahuan kimia dalam dunia kedokteran. Walaupun diketahui saat itu banyak perintis yang meletakkan dasar-dasar pengetahun ini. Menurut Baron (1982)
7
dalam edisi pertama dari buku Patologi Klinik Panton (1913), disebutkan adanya praktek standar yang dapat dikerjakan pada waktu itu, tetapi tidak digambarkan adanya uji kimia darah yang hasilnya memuaskan.
Fase awal perkembangan patologi klinik modern mulai berlangsung antara tahun 1910 - 1920. Pada kurun waktu tersebut, telah ditemukan berbagai kemajuan yang sangat penting dalam metodologi. Perintis terkemuka saat itu adalah Bang dari Swedia serta Folin dan Van Slyke dari Amerika Serikat. Pada awal tahun 1920-an, pengambilan darah lewat vena telah menjadi tindakan rutin. Kolorimeter visual tersedia secara luas dan umumnya dipakai sebagai metode analisis yang hanya memerlukan 1 ml darah. Pada tahun 1927, diterbitkan buku Patologi Klinik Panton edisi kedua. Pada terbitan ini, si penulis ditemani oleh ahli patologi kimia sebagai pengarang pembantu dan memperkenalkan 20 jenis analisis darah. Sepuluh di antaranya kemudian digunakan secara rutin pada saat itu. Dari tahun 1927 sampai akhir 1940-an, terdapat peningkatan yang lambat tetapi mahtap dalam pekerjaan pemeriksaan laboratorium.
Perkembangan metodologi utama berikutnya adalah ditemukannya fotometer nyala api (flame photometer) yang memungkinkan mudahnya menganalisis natrium dan kalium;
kolorimeter fotelektrik yang memberikan kecepatan dan ketepatan hasil yang lebih besar dari pada kolorimeter visual. Teknik mikro untuk sampel 0,1 ml dikembangkan di Inggris oleh King, yang memungkinkan semakin banyak sampel darah vena dapat dianalisis. Dengan teknik ini, dimungkinkan pula pemeriksaan dengan menggunakan darah kapiler. Sejak tahun 1950, sebagian besar laboratorium dilaporkan telah melakukan peningkatkan kecepatan pekerjaannya hingga 10 - 15 persen tiap tahunnya.
Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya pengetahuan di bidang itu, yang diikuti pula oleh bertambahnya jenis uji yang diperkenalkan.
Pada beberapa tahun belakangan ini, banyak sarana laboratorium yang siap pakai dapat dibeli pada berbagai agen di banyak negara. Berbagai kertas strip, misalnya, banyak digunakan untuk pemeriksaan pH, kadar glukosa; kadar protein, bilirubin, dan senyawa lainnya yang terdapat dalam urin. Cara tersebut dapat dipakai dengan mudah di luar laboratorium, yaitu dengan mencelupkan kertas strip ke dalam
8
urin, kemudian membandingkan warna yang terbentuk dengan warna standar yang tersedia pada botol. Begitu juga dengan tablet pemeriksaan, misalnya untuk menguji kadar urea dalam darah. Ada pula berbagai pereaksi siap pakai untuk pemeriksaan berbagai senyawa dalam darah atau cairan ekstra sel lainnya yang dapat diperjualbelikan berupa kit. Tergantung pada petunjuk, alat yang dipakai dapat berupa kolorimeter, spektrofotometer, elektroforesis, kromatografi, dan lain-lain. Uji serologi dengan teknik mutakhir seperti enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan pemeriksaan dengan analisis deoxyribonucleic acid (DNA) saat ini sudah banyak digunakan untuk kepentingan klinik. Semua itu merupakan basil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat. Dampaknya adalah selain dapat mempermudah para analis atau teknisi dalam menjalankan pemeriksaan, juga ketepatan dan keakuratan hasil yang diperoleh dapat diandalkan.
Kendatipun telah tersedia banyak sarana untuk mempermudah pemeriksaan laboratorium, berbagai uji kimia konvensional ternyata masih banyak digunakan di berbagai laboratorium. Dalam beberapa hal, cara konvensional itu diketahui mempunyai ketepatan tidak kalah dengan metode yang baru.
Tujuan Mempelajari Patologi Klinik Veteriner
Seperti telah dikemukakan di atas, bahan yang umumnya diperiksa di laboratorium adalah: darah, urin, feses, dan cairan tubuh lainnya. Pelajaran patologi klinik veteriner membahas gangguan dan pemeriksaan darah, gangguan dan pemeriksaan ginjal, gangguan dan pemeriksaan fungsi hati, metabolisme karbohidrat dan fungsi pankreas, keseimbangan mineral dan fungsi paratiroid, serta gangguan dan pemeriksaan cairan tubuh lainnya.
Setelah selesai mempelajari buku Pengantar Patologi Klinik Veteriner ini, pembaca/mahasiswa diharapkan mampu memahami dan memilih uji laboratorium yang penting yang umumnya digunakan pada berbagai laboratorium klinik veteriner.
Lebih jauh, dengan mempelajari buku Pengantar Patologi Klinik Veteriner ini diharapkan pembaca/mahasiswa dapat menganalisis dan membuat interpretasi dari
9
hasil pemeriksaan laboratorium tersebut. Pada akhirnya, kemampuan itu tidak saja bermanfaat dalam menegakkan diagnosis dan membuat prognosis, tetapi juga dalam mengontrol pengobatan dan perkembangan penyakit hewan.
Dengan demikian, tujuan studi patologi klinik veteriner, sesuai dengan orientasi pendidikan sarjana starata satu (S-l), lebih bersifat teoretis. Sehingga buku ini tidak mempunyai pretensi sedikit pun untuk menyiapkan mahasiswa menjadi analis laboratorium yang canggih. Sebagai buku pengantar, yang ditekankan di sini adalah bagaimana mengantarkan mahasiswa agar memiliki wawasan yang memadai terhadap bidang tersebut; agar membantu dirinya dalam membentuk watak yang mandiri, sehingga mampu menentukan sikap, mencari alternatif solusi, memprediksi jauh ke depan, menentukan strategi yang tepat, dan seterusnya.
Peralatan Standar Minimal Laboratorium Patologi Klinik Veteriner
Beberapa peralatan, sediaan, dan bahan kimia sangat diperlukan di laboratorium patologi klinik. Komponen tadi ada yang sifatnya mutlak atau dengan kata lain harus ada untuk dapat dilakukannya sebuah pemeriksaan laboratorium.
Menurut Coles (1986), laboratorium patologi klinik veteriner setidaknya harus memiliki beberapa peralatan standar dan bahan kimia standar seperti yang disebutkan di bawah ini:
Peralatan:
1. mikroskop standar;
2. sentrifus mikrohematokrit (microhematocrit centrifuge) 12.000 rpm;
3. sentrifus klinik standar (standard clinical centrifuge) untuk tabung 15 ml;
4. refractometer untuk pemeriksaan berat jenis urin, protein plasma, dan konsentrasi fibrinogen;
5. differential cell counter untuk menghitung jenis leukosit 6. hand tally;
7. interval timer;
10 8. hemositometer (hemocytometer); dan 9. hemoglobinometer.
Bahan kimia:
1. cairan pengencer untuk menghitung eritrosit dan leukosit;
2. pewarna darah, secara komersial dapat dibeli dalam bentuk cairan. Atau kalau diperlukan dalam jumlah yang banyak dapat dibuat dengan menggunakan: a) serbuk pewarna wright, giemsa atau leisman's, b) serbuk new methelene blue, c) sodium fosfat, potasium fosfat, etil alkohol 95%, d) metil alkohol absolut, e) white glycerine;
3. pewarna bakteri yang dapat dibeli dalam kemasan komersial siap pakai (ready to use); beberapa kit untuk analisis kimia darah spesifik (dalam bentuk siap pakai);
4. preparat komersial lainnya untuk deteksi protein, glukosa, bilirubin, benda keton, urobilinogen, dan pH urin;
5. seng sulfat, natrium chlorida; dan
6. beberapa bahan lainnya seperti: a) formalin 10%, b) antikoagulan, c) akuades steril, d) minyak emersi.