• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengantar studi sejarah perkembangan islam makalah uts

N/A
N/A
Dandri Setiawan

Academic year: 2024

Membagikan "pengantar studi sejarah perkembangan islam makalah uts"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH TRADISI BALIMAU

Diajukan Guna Memenuhi Ujian Akhir Mata Kuliah pada mata kuliah : Islam Dan Budaya Minangkabau

Dosen Pengampu ;

Dr. Hoktaviandri, S.Hum, M.A

Disusun oleh :

DINDA ZAHRIA TRIYANDINI : 2316050091

PROGAM STUDI PERBANKAN SYARIAH C FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG

2023 M/1445 H

(2)

A. PENDAHULUAN

B. PEMBAHASAN

Balimau ini adalah suatu tradisi dan kebiasaan yang di lakukan sebagian besar masyarakat Minangkabau ketika hendak memasuki bulan suci Ramadhan.

Tradisi dan kebiasaan yang dilakukan masyarakat Minang ini hampir mirip juga dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat Batak (Medan) yaitu Marpangir dan masyarakat Jawa yaitu Padusan yang memiliki kesamaan makna dan arti adalah mensucikan diri sebelum memasuki bulan puasa. Secara tekstual balimau ini bisa maknai dengan mandi menggunakan limau atau jeruk. Sedangkan secara literal balimau ini adalah serangkaian tradisi masyarakat dalam mensucikan dirinya dengan menggunakan limau atau jeruk sebagai pengganti sabun yang dilakukan ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan. Tradisi dan kebiasaan balimau ini dilakukan sebagai wujud syukur seorang hamba khusus nya umat muslim dengan datangnya bulan Ramadhan. Kebiasaan mandi balimau inipun terus berkembang turun temurun dikalangan masyarakat Minangkabau. Maka dari itu dapat kita tarik kesimpulan bahwa tradisi balimau ini adalah suatu adat kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dalam penyambutan bulan suci Ramadhan dengan mandi menggunakan limau atau jeruk ditepian sungai.

Secara historis dan sejarah memang diyakini bahwa tradisi balimau ini sudah ada atau dilakukan pada abad ke 19. Pada awalnya diyakini bahwa ritual balimau ini dilakukan di akhir bulan sya‘ban. Seseorang diharuskan mandi keramas dengan menggunakan limau atau jeruk, ada juga balimau ini dilakukan dengan menggunakan berbagai macam bunga atau dalam bahasa minangnya disebut bunga rampai atau kasai. Tentu balimau ini dahulunya dilakukan untuk membersihkan jiwa baik secara lahir maupun bathin sebelum memasuki bulan yang mulia yaitu bulan suci Ramadhan. Tradisi dan kebiasaan mandi balimau ini biasanya dilakukan oleh masyarakat minangkabau di tepian sungai atau tempat

(3)

pemandian umum. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan tidak hanya sekedar membersihkan fisik secara zhahir tetapi momen ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat minangkabau untuk membersihkan jiwa secara bathin. Hal ini bisa kita lihat bahwa pada zaman dahulu itu tradisi balimau ini di manfaatkan untuk saling bersilaturrahmi dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Menurut (Idrus Hakimi, 2001) menyebutkan bahwa tradisi balimau ini dilakukan dalam rangka membersihkan hati dan diri manusia dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan yang mulia, dimana tradisi ini dilakukan supaya masyarakat dan umat agar lebih khusyu‘ dalam melaksanakan rangkaian ibadah seperti shalat tarawih, witir dan pengajian atau siraman rohani oleh ulama-ulama.

Mandi Balimau sebagai Media Dakwah Islam

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, kewajiban dakwah Islam dengan cara„amal ma‟rūf dan nahī munkar merupakan salah satu keharusan dalam membentuk komunitas mayrakat yang terbaik. Dalam hal ini, mandi balimau dalam sejarahnya justru sangat sesuai semangatnya dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Adanya dakwah Islam melalui tradisi yang sudah ada, dalam hal ini Mandi Balimau merupakan salah satu indikasi adanya hubungan yang erat antara budaya lokal di Nusantara dengan ajaran Islam itu sendiri sehingga melahirkan Islam khas Nusantara. Selain itu, fenomena ini oleh Gus Dur merupakan salah satu bukti bahwa Islam di Nusantara disebarkan dengan cara damai melalui pendekatan budaya sehingga umat muslim di berbagai daerah Nusantara dengan berbagai budayanya di setiap daerahnya masingmasing bisa dengan mudah menerima ajaran Islam.

Referensi

Dokumen terkait

Kebiasaan sebagai masyarakat yang masih taat dengan tradisi perkawinan menurut adat, masih banyak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap Undang-Undang

Tradisi Dandangan merupakan bentuk ungkapan semangat dan suka cita masyarakat Kudus dalam menyambut datangnya bulan ramadhan. Tradisi Dandangan yang lahir pada

Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa refleksi budaya Banjar dan Dayak dalam novel Jendela Seribu Sungai dapat dilihat dari tradisi dan adat kebiasaan masyarakat Banjar

Pada awal ajaran Islam diturunkan, Allah SWT belum menetapkan hukum secara tegas dan terperinci, karena bangsa Arab pada waktu itu telah menggunakan

Kata kunci: Perkawinan, Adat Jawa,dan Muharram. Penelitian ini terfokus pada masyarakat yang menjalankan tradisi larangan menikah pada bulan Muharram. Adapun fokus penelitian

Masyarakat pasokan sangat mengharapkan bagi kaum para penerus agar bisa seni tari zamra dipasokan tetap laksanakan pada hari besar islam yaitu, penyambutan isra

bahwa ada dewa tanaman yang dapat merusak tanaman jika tidak dilakukan acara Ma’ Nene bagi leluhur mereka sehingga telah menjadi adat dan kebiasaan upacara Ma’ Nene dilaksanakan di

Abstrak: Ngakken Anak mengambil anak laki-laki merupakan suatu tradisi pengangkatan anak laki-laki yang dilakukan oleh masyarakat Lampung Pepadun terkhusus masyarakat adat Megou Pak