Pengarang Tionghoa
dan Balai Pustaka
Yang dimaksud sebagai sastra peranakan Tionghoa adalah sastra yang ditulis oleh
para pengarang yang memiliki garis darah/keturunan Tionghoa di Indonesia.
Dalam konteks ini, tidak hanya karya
sastra, tapi juga pelaku atau sirkuit dalam dunia kesastraan. Kritikus,
penerbit,pembaca dan yang utama karya sastranya.
Kurun waktu kelahiran sastra peranakan tionghoa ini dari tahun 1870-an sampai
dengan Indonesia merdeka, pasca kekuasaan Jepang.
Sastra peranakan Tionghoa
Mengapa lahir di era 1870-an?
Mereka, para pengarang Tionghoa ini telah menyalin dan menterjemahkan berbagai karya dari tradisi Cina atau tradisi setempat.
Persebarannya, terutama di pulau Jawa, meskipun juga ada di Makasar, dan Sumatra
(Padang). Di Jawa tersebar di kota-kota besar dan kecil. Batavia, Surabaya, Semarang, Kediri, Solo, Jogja, Bandung,
Slawi, dll.
Pengarang peranakan Tionghoa:
kelahiran
Karakteristiknya:
1. Terjemahan dari Cina: kebanyakan sejarah kerajaan-kerajaan di Tiongkok, ajaran atau pendidikan moralitas, ajaran dari agama Kong Hu Cu.
2. Terjemahan dari barat/Eropa: petualangan, kepahlawanan
3. Terjemahan atau adaptasi cerita lokal: Nyai Rara Kidul, Babad Tanah Jawa, kisah-kisah kerajaan di Jawa dan tradisi-tradisi di
beberapa daerah.
Pengarang peranakan Tionghoa
Isi cerita:
Pada umumnya adalah kehidupan mereka, para peranakan tionghoa, hubungan antar ras dengan pribumi,
pandangan mereka terhadap orang- orang Eropa dan etnis pribumi. Ada
masalah kawin antar ras, dll.
Motif cerita: soal pernyaian (gundik), ide-ide dan kritik terhadap pihak kolonial
dan gagasan nasionalisme kebudayaan
Pengarang peranakan Tionghoa
Sajak-sajak
M.Yamin & Rustam
Efendi
Sastrawan dan politikus
Di majalah Jong Sumatra (1920), dimuat satu sajak sembilan seuntai berjudul Tanah Air. Sajak ini kemudian diikuti sajak-sajak lain berbentuk
soneta. Antara tahun 1920 – 1922, banyak menulis sajak-sajak lirik. Berupa pujian tanah air dan
bahasa ibu/daerahnya. Sajaknya yg berjudul Bahasa Bangsa.
Tahun 1922, sajak Tanah air kemudian diterbitkan bersama sajak yg lain menjadi buku kecil, dg judul Tanah Air juga. Persembahan untuk peringatan 5 tahun perkumpulan Jong Sumatranen Bond.
Masih memuja tanah airnya, yaitu Sumatera.
Sifatnya berbeda dg umumnya sastra Melayu, baik isi maupun bentuknya.
Muhamad Yamin
(1903 – 1962)
Pada tahun 1928, Yamin menerbitkan kumpulan
sajak Indonesia, Tumpah Darahku. Bertepatan dg Konggres Pemuda yg melahirkan Sumpah Pemuda.
Dalam kumpulan sajak ini, Yamin tidak lagi
menyanyikan Pualau Perca atau Sumatera saja, tapi menyanyikan kebesaran dan keagungan Nusantara.
Karyanya:
Ken Angrok dan Ken Dedes (1934), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932?), Ia menerjemahkan juga
karya W. Shakespeare Julius Caesar (1952) dan karya Tagore.
Muhamad Yamin
Penyair sezaman M. Yamin, dan politikus.
Punya kesadaran yg sama untuk berjuang demi kemerdekaan bangsanya. Setelah
jadi politikus tidak menulis sastra lagi.
Roestam menulis dua buku:
Pertama: Bebasari (1924), kedua Percikan Permenungan (1926)
Roestam Effendi
Bebasari adalah suatu drama bersajak (yg pertama di Indonesia). Merupakan simbol dari cita-cita pengarang tentang
bangsanya. Buku ini segera dilarang beredar oleh pihak penjajah Belanda,
Percikan Permenungan merupakan kumpulan sajak. Hasil percobaan-
percobaan berani yg dilakukan oleh Roestam Effendi dalam menulis puisi Indonesia yg mencoba lepas dari tradisi
sastra Melayu.