• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BODY IMAGE DAN KONFORMITAS TERHADAP SELF-ACCEPTANCE PADA WANITA DEWASA AWAL

N/A
N/A
Nabilla Wahyu Hasanah

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH BODY IMAGE DAN KONFORMITAS TERHADAP SELF-ACCEPTANCE PADA WANITA DEWASA AWAL"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BODY IMAGE DAN KONFORMITAS TERHADAP

SELF-ACCEPTANCE PADA WANITA DEWASA AWAL

Fatin Nadhila Nisrina [email protected]

Universitas Paramadina

ABSTRAK

Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh body image dan konformitas terhadap self-acceptance pada wanita dewasa awal. Responden pada penelitian ini berjumlah 40 orang untuk pilot study dan 85 orang untuk field study dengan rentang usia 20-30 tahun dari berbagai macam profesi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan alat ukur pertama, MBSRQ (The Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire) yang disusun oleh Thomas F. Cash (2000) untuk mengukurbody image. Alat ukur kedua, mengukur konformitas menggunakan skala yang disusun berdasarkan dimensi konformitas, skala konformitas. Alat ukur ketiga, mengukur self-acceptance menggunakan Ryff’s Scales of Psychological of Well-Being (PWB). Data dianalisis menggunakan teknikMultiple Regression. Hasil pengujian hipotesa menggunakan teknik uji regresi berganda yaitu terdapat pengaruh secara bersamaan yang signifikan pada body image (dimensi appearance evaluation, body areas satisfaction, dan self-clasified weight) dan konformitas terhadap self acceptance pada wanita dewasa awal dengan nilai sig (p) = 0,000 < 0,05. Body image dan konformitas menyumbangkan pengaruh sebesar 34,8% terhadapself-acceptancepada wanita usia dewasa awal, sisa 65,2% sisanya merupakan pengaruh dari faktor lainnya yang peneliti tidak teliti.

Hasil pengujian hubungan parsial variabel body image dimensi appearance evaluation terhadap self-acceptancetidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai sig (p) = 0,097 > 0,05;body areas satisfactionterhadapself-acceptancememiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai sig (p) = 0,009 < 0,05;self-classified weightterhadapself-acceptancetidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai sig (p) = 0,762 > 0,05; dan konformitas terhadapself-acceptancememiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai sig (p) = 0,004.

Kata Kunci :Body Image,Konformitas, Self-Acceptance, Wanita, Dewasa Awal Daftar Pustaka : 24 buku (1975-2012); 26 Jurnal (2004-2018)

(2)

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the effect of body image and conformity on self-acceptance in early adult women. Respondents in this study amounted to 40 people for a pilot study and 85 people for a field study with an age range of 20-30 years from various different professions. This study used the first measuring instrument, MBSRQ (The Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire) compiled by Thomas F. Cash (2000) to measure body image. The second measuring instrument, measuring conformity using a scale compiled based on dimensions of conformity, scale of conformity.

The third measuring instrument, measuring self-acceptance using Ryff's Scales of Psychological of Well-Being (PWB). Data were analyzed using Multiple Regression techniques. The results of hypothesis testing use multiple regression test techniques, namely there is a significant simultaneous influence on the body image (dimensions of appearance evaluation, body areas satisfaction, and self-weighted weight) and conformity to self-acceptance in early adult women with sig (p) = 0,000 <0.05. Body image and conformity contribute 34.8% to self-acceptance in women of early adulthood, the remaining 65.2% is the influence of other factors that researchers are not careful. The results of testing the partial relationship of appearance evaluation dimension body image variable on self-acceptance do not have a significant effect with sig value (p) = 0.097> 0.05; body areas satisfaction for self-acceptance has a significant influence with sig value (p) = 0.009 <0.05; self-classified weight against self-acceptance does not have a significant effect with sig value (p) = 0.762> 0.05; and conformity to self-acceptance has a significant influence with the sig value (p) = 0.004.

Keywords :Body Image, Conformity, Self-Acceptance, Woman, Early Adult Bibliography :24 books (1975-2012); 26 Journal (2004-2018)

(3)

PENDAHULUAN

Setiap orang menginginkan penampilan yang selalu menarik, baik wanita maupun pria dewasa sekalipun. Hal tersebut didukung dengan maraknya klinik kecantikan yang tersedia terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta dengan konsumen yang sebagian besar adalah wanita dewasa. Namun tidak semua orang dapat merasakan fasilitas ini secara mudah, karena sebuah klinik kecantikan mematok harga yang cukup mahal untuk perawatan-perawatan tersebut sehingga hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang dapat menikmatinya.

Berdasarkan penelitian Croll (2005), mengatakan bahwa wanita dewasa cenderung berpikir bahwa bentuk tubuhnya terlalu besar dari bentuk ideal dibandingkan dengan pria sebesar 66%

banding 21%. Sedangkan pada penelitian lainnya, ditemukan bahwa nilai rata-ratabody imagepada remaja wanita sebesar 66,30 sedangkan pada wanita dewasa awal sebesar 65,82 (Davista, 2016).

Keduanya berada pada kategorisasi tinggi, namun pada wanita dewasa awal nilai rata-rata body image lebih rendah. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Brennan, Lalonde dan Bain (2010) menyatakan bahwa gambaran ketidakpuasan terhadap body image lebih banyak terjadi pada wanita.

Body image merupakan pengalaman individu yang berupa persepsi terhadap bentuk dan berat tubuhnya, serta perilaku yang mengarah pada evaluasi individu terhadap penampilan fisiknya (Cash, 2012). Sedangkan menurut Thompson et al. (2002),body imageadalah gambaran mengenai tubuh yang meliputi persepsi seseorang mengenai tubuhnya, kepuasan pada tubuh, hingga penghargaan terhadap tubuh yang membentuk penilaian secara keseluruhan terhadap penampilan tubuhnya sendiri.

Pada penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa, terdapat hubungan antara social comparison dengan body dissatisfaction pada wanita dewasa awal. Menurut hasil penelitian ini diketahui bahwa, individu yang paling sering menjadi pembanding bentuk tubuh ialah teman (50,6%), model/artis (28,3%), keluarga (19,9%), dan individu asing yang dijumpai secara acak di jalan (1,2%) (Sunartio, Sukamto, & Dianovinina, 2012). Body dissatisfaction sendiri termasuk kedalam salah satu bagian dari dimensi body image, yaitu body areas satisfaction. Body areas satisfactionterkait dengan pengukuran dan evaluasi terhadap perasaan kepuasan terhadap bentuk tubuh, individu dapat merasa puas atau tidak puas terhadap bentuk tubuhnya. Sedangkan, dalam penelitian diatas disebutkan bahwa individu yang paling sering dijadikan pembanding bentuk tubuhnya merupakan teman, hal ini terkait dengan definisi dari konformitas.

Menurut Baron dan Byrne (2012) (dalam Sarwono et al., 2009) konformitas adalah penyesuaian perilaku remaja untuk menganut pada norma kelompok acuan, menerima ide, atau

(4)

aturan-aturan yang menunjukkan bagaimana remaja berperilaku, dan suatu bentuk pengaruh sosial di mana individu merubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial. Konformitas juga merupakan perilaku sama orang lain yang didorong oleh keinginan sendiri (Sarwono et al., 2009). Konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka (Santrock, 2012).

Self-acceptance atau penerimaan diri adalah sejauh mana seseorang dapat menyadari dan mengakui karakteristik pribadi dan menggunakannya dalam menjalani kelangsungan hidupnya, yang ditunjukkan dengan mengakui kelebihan-kelebihan dan menerima kekurangan-kekurangan yang dimilikinya tanpa menyalahkan orang lain dan memiliki keinginan yang terus menerus untuk mengembangkan diri (Handayani et al. dalam Nadira & Zarfiel, 2013). Sedangkan menurut Ryff (dalam Aini, 2013), self-acceptance (penerimaan diri) adalah kemampuan seseorang untuk menerima dirinya secara keseluruhan baik pada masa kini ataupun masa lalunya.

Self-acceptaceyang positif (skor tinggi) yaitu apabila individu memiliki sikap positif terhadap diri sendiri; mengakui dan menerima banyak aspek diri, termasuk kualitas baik dan buruk; merasa positif tentang kehidupan masa lalu. Sedangkan self-acceptance yang negatif (skor rendah) yaitu apabila individu merasa tidak puas dengan diri sendiri; kecewa dengan apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya; bermasalah dengan kualitas pribadi tertentu; ingin menjadi berbeda dari dirinya.

Self-acceptance merupakan sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas dan bakat-bakat sendiri dan pengakuan akan keterbatasan sendiri (Chaplin, 2012).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh

Ridha (2012), terdapat hubungan positif antara

body image

dan penerimaan diri (self-acceptance) pada Mahasiswa Aceh yang berada di Asrama Provinsi Yogyakarta (dewasa awal). Lebih lanjut, individu yang memiliki

body image

yang positif, maka individu tersebut memiliki

self-acceptance

(penerimaan diri) yang positif pula.

Masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang menyisakan sedikit waktu untuk hal lainnya (Santrock, 2012). Menurut Papalia et al.

(2004), periode usia dewasa awal berkisar pada usia 20 sampai dengan 40 tahun. Pada masa dewasa awal secara umum berada pada puncak kekuatan fisik dan banyak aspek intelektual mereka. Pada masa ini, mereka membuat pemilihan terhadap karirnya dan membentuk hubungan intim jangka panjang (Papalia et al., 2004).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lee (2013), mengatakan bahwa mayoritas responden wanita pada masa dewasa awal merasakan kekhawatiran terkait dengan penampilan fisiknya. Banyak dari mereka merujuk kepada berat badan, bentuk tubuh, ukuran tubuh, ukuran pakaian, dan tinggi badan yang mereka miliki pada saat usia mereka lebih muda dari saat ini. Lalu

(5)

mereka juga menambahkan bahwa, mereka akan merasa puas terhadap bentuk tubuh yang langsing dan proporsional. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pemikiran-pemikiran tersebut berkaitan dengan definisi daribody image.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa masa dewasa awal dimulai dari usia 20 sampai dengan 40 tahun, perubahan dalam fisik dan psikologis, mencapai kemandirian secara ekonomi dan pengambilan keputusan, membangun hubungan jangka Panjang dengan lawan jenis, dan pada wanita terjadinya konflik antara perannya dalam pekerjaan dengan perannya dalam mengurus rumah tangga.

Penelitian ini dilakukan untuk mencari seberapa besar pengaruh body image dan konformitas terhadap penerimaan diri dengan mengambil subjek penelitian wanita dewasa awal.

Wanita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti perempuan dewasa, maka dari itu peneliti memilih kata wanita sebagai identitas seksual atau jenis kelamin sebagai responden dalam penelitian ini.

Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhbody imagedan konformitas terhadapself-acceptancepada wanita dewasa awal. Manfaat penelitian ini secara praktis, penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi terkait body image, konformitas, dan self-acceptance pada masyarakat luas. Sedangkan secara teoritis, penelitian ini diharapkan akan memberikan dan menambahkan informasi pada bidang ilmu psikologi sosial, klinis, dan terapan serta menjadi referensi untuk penelitian berikutnya.

LANDASAN TEORI A. Body Image

1. Definisi Body Image

Citra diri ataubody image merupakan pengalaman individu yang berupa persepsi terhadap bentuk dan berat tubuhnya, serta perilaku yang mengarah pada evaluasi individu terhadap penampilan fisiknya (Cash, 2012). Body image adalah gambaran mengenai tubuh yang meliputi persepsi seseorang mengenai tubuhnya, kepuasan ada tubuh, hingga penghargaan terhadap tubuh yang membentuk penilaian secara keseluruhan terhadap penampilan tubuhnya sendiri (Thompson et al., 2002). Sedangkan body image menurut Grogan (dalam Neagu, 2015) adalah sebuah multidimensi, subjektif, dan konsep dinamis yang meliputi persepsi, pemikiran, dan perasaan tentang tubuh seseorang.

Berdasarkan penjelasan dari beberapa tokoh diatas mengenai body image, maka dapat disimpulkanbody imageadalah sebuah persepsi seorang individu dalam menilai dan mengevaluasi

(6)

bentuk tubuh dan berat badannya. Seseorang dapat merasa puas ataupun tidak puas terhadap bentuk tubuh, dan bagaimana cara individu tersebut menghargai bentuk tubuh yang ia miliki.

Penilian tersebut dapat positif ataupun negatif tergantung pada individu masing-masing.

2. Aspek-aspekBody Image

Menurut Thompson et al. (2002), aspek-aspek body image meliputi aspek kognitif, behavioral, dan perseptual. Berikut penjelasan terhadap ketiga aspek-aspekbody imagetersebut:

a. Aspek kognitif

Proses yang melibatkan pikiran dan persepsi individu dalam memberikan penilaian terhadap tubuhnya sendri. Proses ini berkaitan dengan pembentukan skema diri dalam diri individu berdasarkan pengalamannya sendiri. Individu dapat memiliki skema diri tentang tubuh yang tidak baik ketika sering diberikan sebutan oleh orang lain sebagai orang yang jelek. Hal tersebut berkembang menjadi skema utama yang akan digunakan individu untuk membandingka keadaan tubuhnya dengan keadaan tubuh orang lain.

b. Aspek behavioral

Ini merupakan bentuk perwujudan aspek lain dari citra diri. Bentuk perwujudan ini adalah proses penghindaran individu dari keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan berkaitan dengan kondisi tubuhnya. Skema mengenai tubuh ideal yang dimiliki individu mendorong individu untuk lebih dekat dengan gambaran tubuh ideal yang dapat memunculkan rasa aman bagi dirinya dibandingkan dengan gambaran yang kurang ideal.

c. Aspek perseptual

Proses yang melibatkan komponen emosi dalam memberikan peilaian terhadap tubuhnya.

Perasaan seseorang yang diasosiasikan dengan penampilan (bentuk dan ukuran tubuh) memunculkan emosi yang dapat membentuk penilaian individu mengenai gambaran tubuhnya.

3. Faktor-faktor yang MempengaruhiBody Image

Menurut Atwater (dalam Agustin, 2008) body image dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Kebudayaan

Norma budaya memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi perkembangan sikap dan tingkah laku yang berhubungan dengan diri dan body image. Konformitas sedikit banyaknya dipengaruhi oleh tentang tubuh ideal standar budaya setempat atau penampilan yang seperti apa yang dinilai pantas dan yang tidak pantas (Arkoff, 1975)

b. Faktor sosial

(7)

Dacey & Kenny (1997) menyebutkan bahwa body image telah dipromosikan sedemikian rupa oleh industri dan hiburan sehingga mengubah standar pentingnya penampilan fisik menjadi sesuatu yang tidak realistis bagi kebanyakan orang. Dengan demikian bermunculan rasa khawatir tentang kualitas dan atribut diri yang terkait dengan fisik.

4. DimensiBody Image

Menurut Cash (2000), body image memiliki tujuh dimensi yang dijabarkan dalam Multidimensional Self-Relation Questionnaire(MBSRQ), yaitu:

a. Appearance evaluation

Mengukur evaluasi individu dengan adanya perasaan menarik atau tidak menarik; puas atau tidak puas terhadap penampilan.

b. Appearance orientation

Orientasi individu terhadap suatu penampilan dan usaha-usaha yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan.

c. Fitness evaluation

Mengukur evaluasi individu tentang kebugaran fisiknya.

d. Fitness orientation

Orientasi individu tentang kebugaran fisiknya.

e. Health evaluation

Mengukur evaluasi individu terhadap kesehatan dan/atau terbebas dari penyakit fisik.

f. Health orientation

Orientasi individu terhadap kesehatannya dan gaya hidupnya.

g. Illness orientation

Kesadaran individu tentang penyakit yang dialaminya.

h. Body areas satisfaction

Mengukur evaluasi individu terhadap perasaan kepuasan terhadap bentuk tubuh yang dimiliknya; puas atau tidak puas terhadap bentuk tubuhnya.

i. Overweight preoccupation

Mengukur kecemasan terhadap kegemukan, berat badan berlebih, diet, dan pola makan.

j. Self-classified weight

Persepsi individu terhadap suatu label berat badan, mulai dari sangat kekurangan berat badan hingga sangat kelebihan berat badan.

(8)

B. Konformitas

1. Definisi Konformitas

Konformitas adalah penyesuaian perilaku remaja untuk menganut pada norma kelompok acuan, menerima ide, atau aturan-aturan yang menunjukkan bagaimana remaja berperilaku (Baron

& Bryne, 2012). Konformitas biasanya terjadi pada individu usia remaja, namun tidak menutup kemungkinan hal tersebut juga dapat terjadi pada usia dewasa. Hal ini dikarenakan konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka (Santrock, 2012). Konformitas juga merupakan perilaku sama orang lain yang didorong oleh keinginan sendiri (Sarwono et al., 2009). Menurut Myers (2010), konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan sebagai hasil nyata atau imaginasi dan tekanan kelompok.

Sedangkan menurut Baron (dalam Sarwono et al., 2009) konformitas adalah sebuah bentuk pengaruh sosial di mana individu merubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial. Salah satu faktor yang kuat untuk dapat mempengaruhi tendensi konformitas, untuk mengikuti norma-norma apapun di berbagai situasi, dan sejauh mana kita tertarik pada kelompok sosial tertentu dan ingin menjadi bagian dari itu adalah kohesivitas (Turner dalam Baron & Byrne, 2003). Dengan kata lain, kohesivitas dan keinginan untuk dapat diterima merupakan salah satu faktor seberapa sering individu melakukan konformitas.

Konformitas menurut Asch (dalam Indria & Nindyati, 2007) merupakan proses yang bersifat relatif rasional, dimana individu membangun norma individu lain sebagai acuan untuk dapat berperilaku dengan benar dan pantas. Sedangkan menurut Morgan et al. (dalam Indria & Nindyati, 2007) konformitas sebagai kecenderungan individu untuk mengubah pandangan atau perilaku agar lebih sesuai dengan norma sosial. Dengan demikian kemungkinan terjadinya konformitas pada individu akan semakin besar apabila diperkuat dengan keadaan lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi persepsi individu tersebut. Sedangkan menurut Sears (2006), konformitas adalah suatu perilaku yang ditampilkan oleh seseorang karena disebabkan orang lain juga menampilkan perilaku tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas mengenai konformitas, maka dapat disimpulkan konformitas adalah suatu perilaku seseorang untuk menyesuaikan dengan norma atau kebiasaan yang ada dalam suatu kelompok sosial yang bertujuan untuk dapat diterima dan diakui oleh individu lainnya yang berada dalam lingkungan sosial tersebut.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konformitas

(9)

Sears (2006) mengungkapkan terdapat empat faktor yang mempengaruhi konformitas, yaitu:

a. Kekompakan kelompok

Kekompkan kelompok adalah jumlah total kekuatan yang menyebabkan orang tertarik pada suatu kelompok dan yang membuat ingin menjadi anggota kelompok tersebut. Kekompakan yang tinggi menimbulkan konformitas yang semakin tinggi juga.

b. Kesepakatan kelompok

Seseorang yang dihadapkan pada suatu keputusan kelompok akan mendapatkan tekanan yang kuat untuk menyesuaikan pendapatnya. Namun apabila kelompok tidak bersatu, maka akan ada penurunan tingkat konformitas.

c. Ukuran kelompok

Banyak eksperimen menunjukkan bahwa konformitas akan meningkat apabila ukuran mayoritas yang sependapat juga meningkat. Dalam penelitian Asch bahwa dua orang menghasilkan tekanan yang lebih kuat daripada satu orang, tiga orang memberikan tekanan yang lebih kuat daripada dua orang, dan begitu pula seterusnya. Ia memberikan kesimpulan bahwa konformitas yang paling tinggi ada pada ukuran kelompok yang berjumlah tiga atau empat orang.

d. Keterikatan pada penilaian bebas

Keterikatan sebagai kekuatan total yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk melepaskan suatu pendapat. Itu juga merupakan kekuatan total yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk melepaskan suatu pendapat. Dan keterikatan itu pula dapat dipandang sebagai perasaan terikat pada suatu pendapat.

3. Dimensi Konformitas

Terdapat dua jenis konformitas, yaituacceptancedancompliance(Myers, 2010).

a. Acceptance

Konformitas acceptance adalah suatu bentuk konformitas dimana seseorang secara ikhlas mempercayai apa yang dibujuk kelompok untuk dilakukan. Konformitas melibatkan perbuatan dan keyakinan yang sesuai dengan tekanan sosial. Pada bentuk ini, konformitas terjadi karena kelompok menyediakan informasi penting yang tidak dimiliki oleh individu itu sendiri. Jika individu tidak tahu atau bingung harus berbuat apa, maka ia akan menjadikan perilaku kelompoknya sebagai pedoman perilaku dan meyakini bahwa hal tersebut benar.

b. Compliance

(10)

Suatu bentuk konformitas dimana individu bertingkah laku sesuai dengan tekanan yang diberikan oleh kelompok sedangkan secara pribadi ia tidak menyetujui perilaku tersebut.

Seseorang melakukan compliance untuk menghindari penolakan atau rejection dan mengharapkanrewardatau penerimaan.Complianceadalah apabila seseorang tampak dari luar ikut serta dalam kelompok, sementara didalam dirinya ia tidak sependapat.Obedience atau kepatuhan merupakan bagian daricompliancedengan perintah langsung.

Self-Acceptance

1. DefinisiSelf-Acceptance

Menurut Handayani et al. (dalam Nadira & Zarviel, 2013) penerimaan diri adalah sejauh mana seseorang dapat menyadari, dan mengakui karakteristik pribadi dan menggunakannya dalam menjalani kelangsungan hidupnya, yang ditunjukkan dengan mengakui kelebihan-kelebihan dan menerima kekurangan-kekurangan yang dimilikinya tanpa menyalahkan orang lain dan memiliki keinginan yang terus menerus untuk mengembangkan diri.penerimaan diri merupakan sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas dan bakat-bakat sendiri serta pengakuan akan keterbatasan sendiri (Chaplin, 2012).

Menurut Arthur (dalam Ridha, 2012) self-acceptance adalah sebuah sikap seseorang menerima dirinya. Istilah ini digunakan dengan konotasi khusus kalau penerimaan ini didasarkan kepada ujian yang relatif objektif terhadap talenta-talenta, kemampuan dan nilai umum yang unik dari seseorang. Sebuah pengakuan realistik terhadap keterbatasan dan sebuah rasa puas yang penuh akan talenta maupun keterbatasan dirinya.

Sedangkan menurut Ryff (dalam Aini, 2013), self-acceptance (penerimaan diri) adalah kemampuan seseorang untuk menerima dirinya secara keseluruhan baik pada masa kini ataupun masa lalunya. Individu yang menilai positif diri sendiri adalah individu yang memahami dan menerima berbagai aspek diri termasuk di dalamnya kualitas baik, maupun buruk, dan dapat mengaktualisasikan diri, berfungsi optimal dan bersikap positif akan kehidupan yang dijalaninya.

Sebaliknya, apabila individu yang menilai negatif terhadap dirinya sendiri menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap kondisi dirinya, merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pasa masa lalunya, bermasalah dengan kualitas personalnya dan ingin menjadi orang yang berbeda dari diri sendiri atau tidak menerima diri apa adanya.

Menurut Ryff (2014), self-acceptance yang positif (skor tinggi) yaitu apabila individu memiliki sikap positif terhadap diri sendiri; mengakui dan menerima banyak aspek diri, termasuk kualitas baik dan buruk; merasa positif tentang kehidupan masa lalu. Sedangkan self-acceptance

(11)

yang negatif (skor rendah) yaitu apabila individu merasa tidak puas dengan diri sendiri; kecewa dengan apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya; bermasalah dengan kualitas pribadi tertentu;

ingin menjadi berbeda dari dirinya.

Menurut Ceyhan & Ceyhan (dalam Ardilla & Herdiana, 2013) individu yang dapat menerima keadaan dirinya dapat menghormati diri mereka sendiri, dapat menyadari sisi negatif dalam dirinya, dan mengetahui bagaimana untuk hidup bahagia dengan sisis negatif yang dimilikinya, selain itu individu yang dapat menerima dirinya memeiliki kepribadian yang sehat dan kuat, sebaliknya, orang yang mengalami kesulitan dalam penerimaan diri tidak menyukai karakteristik mereka sendiri, merasa diri mereka tidak berguna dan tidak percaya diri. Sedangkan menurut Santrock (2002),self-acceptancesebagai suatu kesadaran untuk menerima diri sendiri apa adanya.

Penerimaan ini tidak berarti seseroang menerima begitu saja kondisi diri tanpa berusaha mengembangkan diri lebih lanjut.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dari itu dapat disimpulkan self-acceptance adalah sebuah keadaan diri seseorang yang dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada di dalam dirinya, dan terus mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya tanpa menyalahkan orang lain ataupun merasa malu atau rendah diri.

2. Faktor-faktor PembentukSelf-Acceptance

Menurut Hurlock (dalam Permatasari & Gamayanti, 2016) terdapat beberapa faktor yang membentukself-acceptanceseseorang, yaitu:

a. Pemahaman diri (self understanding).

Pemahaman diri merupakan persepsi diri yang ditandai oleh genuiness, realita, dan kejujuran. Semakin seseorang memahami dirinya, semakin baik penerimaan dirinya.

b. Harapan yang realistis.

Ketika seseorang memiliki harapan yang realistis dalam mencapai sesuatu, hal ini akan mempengaruhi kepuasan diri yang merupakan esensi dari penerimaan diri. Harapan akan menjadi realistis jika dibuat sendiri oleh diri sendiri.

c. Tidak adanya hambatan dari lingkungan (absence of environment obstacles).

Ketidakmampuan dalam mencapai tujuan yang realistis, dapat terjadi karena hambatan dari lingkungan yang tidak mampu dikontrol oleh seseorang seperti diskriminasi ras, jenis kelamin, atau agama. Apabila hambatan-hambatan itu dapat dihilangkan dan jika keluarga, peer atau orang-orang yang berada disekelilingnya memberikan motivasi dalam mencapai tujuan, maka seseorang akan mampu memperoleh kepuasan terhadap pencapaiannya.

d. Sikap sosial yang positif.

(12)

Jika seseorang telah memperoleh sikap sosial yang positif, maka ia lebih mampu menerima dirinya.

Tiga kondisi utama menghasilkan evaluasi positif antara lain adalah tidak adanya prasangka terhadap seseorang, adanya penghargaan terhadap kemampuan-kemampuan sosial dan kesediaan individu mengikuti tradisi suatu kelompok sosial.

e. Tidak adanya stress yang berat.

Tidak adanya stress atau tekanan emosional yang berat membuat seseorang bekerja secara optimal dan lebih berorientasi lingkungan daripada berorientasi diri dan lebih tenang dan bahagia.

f. Pengaruh keberhasilan.

Pengalaman gagal dapat menyebabkan penolakan diri, sedangkan meraih kesusksesan akan menghasilkan penerimaan diri.

g. Identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik.

Sikap ini akan menghasilkan penilaian diri yang positif dan penerimaan diri. Proses identifikasi yang paling kuat terjadi pada masa kanak-kanak.

h. Perspektif diri yang luas.

Seseorang yang memandang dirinya sebagaimana orang lain memandang dirinya akan mampu mengembangkan pemahaman diri daripada seseorang yang perspektif dirinya sempit.

i. Pola asuh yang baik pada masa anak-anak.

Pendidikan di rumah dan sekolah sangat penting, penyesuaian terhadap hidup, terbentuk pada masa kanak-kanak, karena itulah pelatihan yang baik di rumah maupun sekolah pada masa kanak-kanak sangatlah penting.

j. Konsep diri yang stabil.

Hanya konsep diri positif yang mampu mengarahkan seseorang untuk melihat dirinya secara tidak konsisten.

3. Aspek-aspekSelf-Acceptance

Menurut Sheerer (dalam Wangge &Hartini, 2013), terdapat aspek-aspek self-acceptance, yaitu:

a. Perasaan sederajat.

Individu menganggap dirinya berharga sebagai manusia yang sederajat dengan orang lain, sehingga individu tidak merasa sebagai orang yang istimewa atau menyimpang dari orang

(13)

lain. Individu merasa dirinya mempunyai kelemahan dan kelebihan seperti halnya orang lain.

b. Percaya pada kemampuan diri.

Individu yang mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan. Hal ini tampak dari sikap individu yang percaya diri, lebih suka mengembangkan sikap baiknya, dan mengeliminasi keburukannya daripada ingin menjadi orang lain. Oleh karena itu individu puas menjadi diri sendiri.

c. Bertanggungjawab.

Individu berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya. Sifat ini tampak dari perilaku individu yang mau menerima kritik dan menjadikannya sebagai suatu masukan yang berharga untuk mengembangkan diri.

d. Orientasi keluar diri.

Individu lebih mempunyai orientasi dari keluar daripada kedalam diri, tidak malu yang menyebabkan individu lebih suka memperhatikan dan toleran terhadap orang lain, sehingga akan mendapatkan penerimaan social dari lingkungannya.

e. Berependirian.

Individu lebih suka mengikuti standarnya sendiri daripada bersikap conform terhadap tekanan sosial. Individu yang mampu menerima diri mempunyai sikap dan kepercayaan diri menurut pada tindakannya sendiri daripada mengikuti keonvensi dan standar dari orang lain serta mempunyai ide aspirasi dan pengharapan sendiri.

f. Menyadari keterbatasan diri.

Individu tidak menyalahkan diri akan keterbatasannya dan mengingkari kelebihannya.

Individu cenderung mempunyai penilaian yang realistik.

g. Menerima sifat-sifat kemanusiaan.

Individu tidak menyangkal impuls dan emosinya atau merasa bersalah karenanya. Individu mengenali perasaan marah, takut, dan cemas yanpa menganggapnya sebagai suatu yang harus diingkari atau ditutupi.

Dewasa Awal

A. Definisi Dewasa Awal

Masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan

jenis, terkadang menyisakan sedikit waktu untuk hal lainnya. Masa dewasa awal adalah masa

untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang menyisakan sedikit waktu

(14)

untuk hal lainnya (Santrock, 2012). Kenniston (dalam Santrock, 2012) mengemukakan masa muda (youth) adalah periode kesementaraan ekonomi dan pribadi, dan perjuangan antara ketertarikan pada kemandiriandan menjadi terlibat secara sosial. Periode masa muda rata-rata terjadi 2 sampai 8 tahun, tetapi dapat juga lebih lama. Dua kriteria yang diajukan untuk menunjukkan akhir masa muda dan permulaan dari masa dewasa awal adalah kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam membuat keputusan. Mungkin yang paling luas diakui sebagai tanda memasuki masa dewasa adalah ketika seseorang mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang kurang lebih tetap (Santrock, 2002).

Menurut Papalia et al. (2004), periode usia dewasa awal berkisar pada usia 20 sampai dengan 40 tahun. Pada masa dewasa awal secara umum berada pada puncak kekuatan fisik dan banyak aspek intelektual mereka. Pada masa kini, mereka membuat pemilihan terhadap karirnya dan membentuk hubungan intim jangka panjang (Papalia et al., 2004). Penting bagi wanita di usia dewasa muda untuk memiliki kepercayaan diri yang baik.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa masa dewasa awal dimulai dari usia 20 sampai dengan 40 tahun, perubahan dalam fisik dan psikologis, mencapai kemandirian secara ekonomi dan pengambilan keputusan, membangun hubungan jangka Panjang dengan lawan jenis, dan pada wanita terjadinya konflik antara perannya dalam pekerjaan dengan perannya dalam mengurus rumah tangga.

Penelitian ini dilakukan untuk mencari seberapa besar pengaruh

body image

dan konformitas terhadap penerimaan diri dengan mengambil subjek penelitian wanita dewasa awal.

Wanita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti perempuan dewasa, maka dari itu peneliti memilih kata wanita sebagai identitas seksual atau jenis kelamin sebagai responden dalam penelitian ini.

B. Perkembangan Dewasa Awal 1. Perkembangan Fisik Dewasa Awal

Kebanyakan orang dewasa mencapai puncak perkembangan fisik mereka selama usia 20-an dan paling sehat saat itu. Sayangnya, dewasa awal juga adalah ketika banyak keterampilan mulai menurun. Penurunan kekuatan dan kecepatan sering terlihat di usia 30-an. mungkin karena kemampuan fisik mereka yang kuat dan kesehatan secara keseluruhan, orang dewasa muda jarang menyadari bahwa kebiasaan makan yang buruk, meminum alkohol, dan merokok di masa dewasa awal dapat merusak kesehatan seiring dengan bertambahnya usia mereka. Untungnya, pada saat individu mencapai

(15)

usia pertengahan 20-an, banyak yang mengurangi penggunaan alkohol dan obat-obatan lainnya. Pengaturan hidup dan status perkawinan merupakan faktor kunci dalam alkohol dan tingkat penggunaan narkoba lainnya selama usia 20-an seseorang (Santrock, 2002).

Pada saat individu usia dewasa awal mengalami sakit, biasanya hanya mengalami demam atau penyakit pernapasan lainnya, yang dapat dengan mudahnya disembuhkan.

Kebanyakan dari mereka tidak mengalami penyakit serius atau kondisi yang kronis (Papalia et al., 2002). Menurut WHO (dalam Papalia et al., 2002) obesitas merupakan epidemi yang dialami oleh seluruh dunia. Kasus obesitas paling sering ditemukan di UK, Brazil, Kanada, beberapa negara di Eropa, serta negara bagian barat pasifik, seperti Asia Tenggara, dan Afrika. Menurut Mokdad (dalam Papalia et al., 2002) obesitas meningkat pada semua kalangan, laki-laki maupun perempuan, terutama pada usia 18 hingga 29 tahun dan bahkan mahasiswa.

Berkaitan dengan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa pada masa dewasa awal individu merasa sehat dan kuat, dan tidak mengalami penyakit serius. Namun pada masa ini pula kebanyakan individu juga mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, hingga melakukan berbagai macam cara agar berat badannya mencapai penilaian ideal bagi dirinya. Kelebihan berat badan serta gambaran tubuh yang ideal itulah yang menjadi dorongan pada individu untuk melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan penilaian terhadap tubuh yang ideal.

2. Perkembangan Kognitif Dewasa Awal

Piaget percaya bahwa pemikiran operasional formal adalah tingkat pemikiran tertinggi, dan dia berpendapat bahwa tidak ada perubahan kualitatif baru dalam kognisi yang terjadi di masa dewasa. Pada masa remaja akhir hingga dewasa telah mencapai tahapan pemikiran formal operational. Namun, menurut Piaget pula, tidak semua individu pada masa remaja hingga dewasa mencapai tingkat pemikiran tersebut.

Beberapa individu remaja akhir belum mencapai tahapan pemikiranformal operational, begitu pula sebaliknya pada dewasa awal (Santrock,2002). Pikiran di masa dewasa sering tampak fleksibel, terbuka, adaptif, dan individualistis. Ini menarik intuisi dan emosi serta logika untuk membantu orang mengatasi dunia yang tampaknya kacau. Ini dicirikan oleh kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian, ketidakkonsistenan, kontradiksi, ketidaksempurnaan, dan kompromi (Papalia et al., 2002).

(16)

Dikarenakan penelitian Kohlberg tentang anak laki-laki dan pria dewasa, Carol Gilligan telah menyatakan bahwa sistem memberikan tempat yang lebih tinggi untuk nilai-nilai maskulin (keadilan dan kesetaraan) daripada nilai-nilai feminin (kasih sayang, tanggung jawab, dan kepedulian). Dilema moral utama seorang wanita adalah konflik antara kebutuhannya sendiri dan kebutuhan orang lain. Sementara sebagian besar masyarakat biasanya mengharapkan ketegasan dan penilaian independen dari laki-laki, mereka berharap dari perempuan mengorbankan diri dan memiliki kepedulian terhadap orang lain (Papalia et al., 2002).

Berkaitan dengan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif pada dewasa awal telah mencapai tahapan pemikiran tertinggi, yaitu tahapan pemikiran formal operasional. Pada tahapan ini seharusnya individu dewasa awal memiliki pemikiran yang fleksibel, terbuka, adaptif, dan individualistis. Namun tidak semua individu dewasa awal telah mencapai tahapan pemikiran yang telah dipaparkan diatas. Pada tahapan ini pula, wanita diharapkan untuk lebih memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan orang lain bahkan mengorbankan dirinya sendiri. Hal tersebut menjadi sebuah dilema pada wanita.

3. Perkembangan Sosioemosional Dewasa Awal

Delapan tahap Erikson dari rentang kehidupan manusia termasuk satu tahap untuk masa dewasa awal, satu untuk dewasa tengah, dan satu untuk dewasa akhir.

Eriksonmengatakan bahwa individu memasuki tahap keenam “intimacy versus isolation

selama masa dewasa awal. Pada saat ini, orang-orang menghadapi tugas pengembangan baik membentuk hubungan intim dengan orang lain atau menjadi terisolasi secara sosial. Erikson menggambarkan keintiman saat keduanya menemukan diri sendiri dan kehilangan dirinya di tempat lain. Jika orang dewasa awal mengembangkan persahabatan yang sehat dan hubungan yang intim dengan pasangan, keintiman kemungkinan akan tercapai (Santrock, 2002).

Berkaitan dengan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosioemosional pada dewasa awal mencapai tahapan intimacy versus isolationdan ini berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal, yaitu: memilih pasangan, belajar hidup dengan tunangan, mulai membina keluarga, mengelola rumah tangga, dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan. Individu dewasa awal diharapkan dapat membangun hubungan yang intim dengan lawan jenis untuk

(17)

memenuhi tugas-tugas perkembangan tersebut, atau individu akan merasa terisolasi dari kehidupan sosialnya.

4. Tugas-tugas Perkembangan Dewasa Awal

Pada masa dewasa awal terdapat beberapa tugas-tugas yang harus dipenuhi menurut Havinghrust (Hurlock, 2002), yaitu:

a. Mulai bekerja b. Memilih pasangan

c. Belajar hidup dengan tunangan d. Mulai membina keluarga e. Mengelola rumah tangga

f. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara g. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan

METODE PENELITIAN

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini yaitu tenik multiple regression. Winarsunu (2009) menjelaskan teknikmultiple regressionadalah teknik statistik parametrik yang digunakan untuk menguji pengaruh dua variabel bebas terhadap variabel terikat. Dalam penelitian ini, perhitungan akan dilakukan dengan bantuan program IBM SPSS (Statistical Program for Social Sciences) 22.0 for Windows.Berikut adalah model desain penelitian yang dibuat:

Gambar 1.1 Desain Penelitian

Variable X1 yaitubody image, X2 yaitu konformitas, dan variabel Y yaituself acceptancepada wanita dewasa awal. Berdasarkan gambar 3.1, peneliti ingin melihat pengaruh daribody imagedan konformitas sebagai variabel X terhadapself acceptancepada wanita dewasa awal sebagai variabel Y.

Responden Penelitian

(18)

Responden dalam penelitian ini wanita dalam rentang usia 20-40 tahun. Peneliti memilih rentang usia ini karena rentang usia tersebut termasuk kedalam usia dewasa awal. Serta peneliti mengambil jenis kelamin wanita karena permasalahan mengenaibody imageseringkali dialami oleh wanita. Responden pada penelitian ini berjumlah 40 orang untukpilot study, dan 85 orang untuk field study.

Metode Pengolahan Data

A. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampel yang digunakan dalam pengambilan data ini adalah tekniknon-probability.

Peneliti memilih responden penelitian karena mereka bersedia, nyaman untuk menjadi responden, dan merepresentasikan karakteristik dalam penelitian. Tipe yang digunakan dalam teknik non-probabilityini adalahconvenience sampling, dimana responden bersedia untuk diteliti. Peneliti tidak dapan mengatakan bahwa individu tersebut representative dari populasi, namun sampel penelitian dapat memberikan informasi yang berguna untuk menjawab pertanyaan dan hipotesis (Creswell, 2005).

B. Instrumen Penelitian

Variabel yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau variabel X. variabel bebas adalah variabel yang apabila dalam suatu waktu berada bersamaan dengan variable lain, maka variabel tersebut diduga akan dapat berubah dalam keragamannya. Sedangkan variabel yang berubah karena pengaruh variabel bebas disebut variabel terikat atau variabel Y (Winarsunu, 2012).

Variabel dalam penelitian ini terdapat dua jenis, yaitu variabel bebas dan varibel terikat.

Varibel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Variabel bebas (independent variable)

1. Body image merupakan pengalaman individu yang berupa persepsi terhadap bentuk dan berat tubuhnya, serta perilaku yang mengarah pada evaluasi individu terhadap penampilan fisiknya (Cash, 2012).

2. Konformitas adalah penyesuaian perilaku remaja untuk menganut pada norma kelompok acuan, menerima ide, atau aturan-aturan yang menunjukkan bagaimanaberperilaku (Baron & Bryne, 2012), dalam hal ini perilaku konformitas dikaitkan pada wanita dewasa awal.

b. Variable terikat (dependent variable)

(19)

Menurut Santrock (2002), self-acceptance sebagai suatu kesadaran untuk menerima diri sendiri apa adanya. Penerimaan ini tidak berarti seseroang menerima begitu saja kondisi diri tanpa berusaha mengembangkan diri lebih lanjut.

1. Body Image

Pada penelitian ini, untuk mengukur body image akan digunakan alat ukur MBSRQ yang dikembangkan oleh Thomas F. Cash, kuesioner ini dapat digunakan untuk kategori usia remaja hingga dewasa (15 tahun keatas) (Cash, 2000). Alat ukur ini berisikan 34 aitem dimana setiap butir aitem memiliki lima kategori jawaban dengan skala likert.

Tabel 1.1 BlueprintAlat UkurBody Image

Dimensi N Aitem Deskripsi

Favorable

(+) Unfavorable (-) Appearance

evaluation

7 3, 5, 9, 12, 15

18, 19 Mengukur evaluasi individu dengan adanya perasaan menarik atau tidak menarik; puas atau tidak puas terhadap penampilan.

Appearance

orientation 12 1, 2, 6, 7,10,

13, 17, 21 11, 14, 16, 20 Mengukur orientasi individu terhadap penampilan dan usaha-usaha yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan.

Body areas satisfaction

9 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34

- Mengukur evaluasi individu terhadap perasaan kepuasan terhadap bentuk tubuh yang dimiliknya; puas atau tidak puas terhadap bentuk tubuhnya.

Overweight

preoccupation 4 4, 8, 22, 23 - Mengukur kecemasan terhadap

kegemukan, berat badan berlebih, diet, dan pola makan.

Self-classified weight

2 24, 25 - Mengukur persepsi individu terhadap

suatu label berat badan, mulai dari sangat kekurangan berat badan hingga sangat kelebihan berat badan.

Jumlah 34 28 6

2. Konformitas

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat konformitas dalam penelitian ini berdasarkan teori Myers. Alat ukur disusun berdasarkan dimensi konformitas, yaitu

acceptance

dan

compliance. Alat ukur ini menggunakan skala likert sebanyak 23 aitem.

Tabel 1.2 BlueprintAlat Ukur Konformitas

Dimensi N Aitem Deskripsi

(20)

Favorable (+)

Unfavorable (-) Acceptance 11 1, 3, 5, 7, 9, 11,

13, 15, 17, 19

21 Acceptance adalah suatu

bentuk konformitas dimana seseorang secara ikhlas mempercayai apa yang dibujuk kelompok untuk dilakukan.

Compliance 12 2, 4, 6, 8, 10, 14,

16, 18, 22 12, 20 Compliance adalah apabila seseorang tampak dari luar ikut serta dalam kelompok, sementara didalam dirinya ia tidak sependapat.

Jumlah 23 19 3

3. Self-Acceptance

Alat ukur yang digunakan untuk mengukurself-acceptancedalam penelitian ini disusun oleh Ryff (2014), dan merupakan salah satu dari dimensipsychological well-beingyang dapat digunakan sendiri. Alat ukur skalaself-acceptanceini diadaptasi dari alat ukur aslinya yang berbahasa inggris, dan menggunakan skala likert sebanyak 14 aitem.

Tabel 1.3 BlueprintAlat UkurSelf-Acceptance

Variabel N Aitem Deskripsi

Favorable (+)

Unfavorable (-) Self-acceptance 14 1, 2, 5, 6, 8, 12,

13 3, 4, 7, 9, 10, 11,

14 Self-acceptancekemampuan seseorang untuk menerima dirinya secara keseluruhan baik pada masa kini ataupun masa lalunya (Ryff dalam Aini, 2013).

Jumlah 14 7 7

Validitas & Reliabilitas A. Validitas

Uji validitas merupakan uji yang dilakukan pada sebuah alat tes untuk menunjukan apa yang diukur dari alat tes tersebut dan seberapa baik alat tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur (Anastasi & Urbina, 2007). Koefisien validitas yang di cari adalah yang berada nilai 0,30 atau lebih. Koefisien validitas kurang dari 0,30 dianggap tidak memuaskan sehingga akan

(21)

disisihkan atau tidak digunakan (Azwar, 2012). Dalam penelitian ini, validitas alat ukur yang digunakan adalahcontent validity(validitas isi).

Content validity merujuk kepada sejauh mana isi sebuah tes/skala/instrumen dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Content validity merupakan sejauh mana seperangkat soal-soal tes memang mengukur (representatif) bagi apa yang dimaksudkan untuk diukur, yang dilihat dari isinya Suryabrata (2005). Content validity tes ini ditentukan melalui pendapat profesional atau ahli (expert judgement) dalam proses telaah soal Suryabrata (2005).

B. Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui bahwa alat tes yang digunakan dapat memberikan hasil yang konsisten walaupun alat tes tersebut diberikan atau diskor oleh penilai yang berbeda, atau diberkan pada waktu yang berlainan atau menggunakan bentuk paralel dari tes tersebut (Anastasi & Urbina, 2007). Pengukuran terhadap penelitian realibilitas alat ukur juga diperlukan. Creswell (2005) menjelaskan bahwa realibilitas sebagai tingkat kestabilan dan konsistensi dari suatu alat ukur.

Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan peneliti untuk mengetahui reliabilitas alat ukur pada penelitian ini menggunakan teknik Cronbach’s Alpha (α). Cronbach’s Alpha(α) adalah teknik pengujian reliabilitas suatu tes atau angket yang paling sering digunakan karena dapat digunakan pada test-test atau angket-angket yang jawaban atau tanggapannya berupa pilihan (Kountur, 2003).

1. Body Image

Hasil uji reabilitas dan analisis aitem dari alat ukurbody imagepadapilot studydapat dilihat pada tabel 1.4

Tabel 1.4 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemPilot Study Body Image Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)

Appearance evaluation 0,173 – 0,747 7 0,826

Appearce orientation 0,171 – 0,568 12 0,727

Body areas satisfaction 0,064 – 0,757 9 0,782

Overweight

preocupation (-0,549) – 0,308 4 -0,347

Self-clasified weight 0,874 2 0,929

Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas dan analisis aitem yang telah peneliti lakukan, aitem-aitem tersebut telah memenuhi standar. Koefisen reliabilitas alat ukur body imagedimensi appearance evaluationmemiliki nilai cronbach alpha sebesar 0,826. Koefisen reliabilitas alat ukur body image dimensi appearance orientationmemiliki nilaicronbach alphasebesar 0,727. Koefisen

(22)

reliabilitas alat ukur body image dimensi body areas satisfaction memiliki nilai cronbach alpha sebesar 0,782. Koefisen reliabilitas alat ukur body image dimensi overweight preoccupation memiliki nilai cronbach alpha sebesar -0,347. Koefisen reliabilitas alat ukur body image dimensi self-clasified weightmemiliki nilaicronbach alphasebesar 0,929. Sebuah aitem dapat diterima dan digunakan lebih lanjut apabila memilki koefisien reliabilitas (alpha cronbach) berkisar antara 0,6 sampai 0,8 (Anastasi & Urbina, 2007).

Hasil analisis aitem menunjukkan terdapat beberapa aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation dibawah 0,3. Hasil analisis aitem tersebut diperkirakan karena pernyataan yang kurang dapat dimengerti oleh responden. Oleh karena itu aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation rendah dilakukan revisi. Aitem-aitem body image yang memiliki nilai item total correlationdibawah 0,3 sebanyak 11 aitem, yaitu aitem nomor 4, 7, 13, 14, 15, 16, 17, 22, 23, 27, dan 33. Kemudian peneliti memperbaiki ke-11 aitem tersebut.

Hasil uji reliabilitas dan analisis aitem dari alat ukur body image pada field study dapat dilihat pada tabel 1.5

Tabel 1.5 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemField Study Body Image Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)

Appearance evaluation (-0,187) – 0,693 7 0,674

Appearce orientation (-0,394) – 0,561 12 0,675

Body areas satisfaction 0,363 – 0,790 9 0,831

Overweight

preocupation 0,242 – 0,588 4 0,633

Self-clasified weight 0,569 2 0,725

Tabel 1.6 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemField Study Body Image(Setelah Aitem-aitem Dibuang)

Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)

Appearance evaluation 0,397 – 0,748 5 0,794

Appearce orientation 0,443 – 0,612 7 0,787

Body areas satisfaction 0,363 – 0,790 9 0,831

Overweight preocupation

0,336 – 0,641 3 0,680

Self-clasified weight 0,569 2 0,725

Pada saat penguji cobaan alat ukurbody imageterdapat beberapa aitem dengan nilaitotal correlation kurang dari 0,3. Aitem-aitem tersebut berjumlah 8 aitem, yaitu aitem nomor 9, 11, 13,

(23)

15, 16, 17, 21, dan 23. Aitem-aitem tersebut tidak dapat dipergunakan lagi untuk analisis data.

Sehingga diperoleh nilai koefisen reliabilitas alat ukur body imagedimensiappearance evaluation memiliki nilaicronbach alphasebesar 0,794. Nilai koefisen reliabilitas alat ukurbody imagedimensi appearance orientation memiliki nilai cronbach alphasebesar 0,787. Nilai koefisen reliabilitas alat ukurbody imagedimensibody areas satisfactionmemiliki nilaicronbach alphasebesar 0,831. Nilai koefisen reliabilitas alat ukurbody imagedimensioverweight preocupationmemiliki nilaicronbach alpha sebesar 0,680. Nilai koefisen reliabilitas alat ukur body image dimensi self-clasified weight memiliki nilai cronbach alpha sebesar 0,725. Sehingga aitem yang dapat digunakan menjadi 26 aitem untukfield study.

2. Konformitas

Hasil uji reabilitas dan analisis aitem dari alat ukur konformitas pada pilot study dapat dilihat pada tabel 1.7

Tabel 1.7 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemPilot StudyKonformitas Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas

(Cronbach Alpha)

konformitas (-0,005) – 0,801 23 0,772

Berdasarkan hasil pengujian reabilitas dan analisis aitem yang telah peneliti lakukan, aitem-aitem tersebut telah memenuhi standar. Koefisen reabilitas alat ukur body image memiliki nilaicronbach alphasebesar 0,833. Sebuah aitem dapat diterima dan digunakan lebih lanjut apabila memilki koefisien reliabilitas (alpha cronbach) berkisar antara 0,6 sampai 0,8 (Anastasi & Urbina, 2007).

Hasil analisis aitem menunjukkan terdapat beberapa aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation dibawah 0,3. Hasil analisis aitem tersebut diperkirakan karena pernyataan yang kurang dapat dimengerti oleh responden. Oleh karena itu aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation rendah dilakukan revisi. Aitem-aitem konformitas yang memiliki nilaiitem total correlationdibawah 0,3 sebanyak 10 aitem, yaitu aitem nomor 1, 3, 6, 7, 14, 15, 16, 18, 20, dan 21.

Kemudian peneliti memperbaiki ke-10 aitem tersebut.

Hasil uji reabilitas dan analisis aitem dari alat ukur konformitas pada field study dapat dilihat pada tabel 1.8

Tabel1.8 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemField StudyKonformitas

(24)

Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)

Konformitas (-0,095) – 0,703 23 0,747

Berdasarkan hasil pengujian reabilitas dan analisis aitem yang telah peneliti lakukan, aitem-aitem tersebut telah memenuhi standar. Koefisen reabilitas alat ukur konformitas memiliki nilaicronbach alphasebesar 0,747. Sebuah aitem dapat diterima dan digunakan lebih lanjut apabila memilki koefisien reliabilitas (alpha cronbach) berkisar antara 0,6 sampai 0,8 (Anastasi & Urbina, 2007). Hasil analisis aitem menunjukkan terdapat beberapa aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation dibawah 0,3. Hasil analisis aitem tersebut diperkirakan karena pernyataan yang kurang dapat dimengerti oleh responden.

Tabel 1.9 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemField StudyKonformitas (Setelah Aitem-aitem Dibuang)

Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)

Konformitas 0,351 – 0,739 13 0,890

Pada saat penguji cobaan alat ukur konformitas terdapat beberapa aitem dengan nilaitotal correlation kurang dari 0,3. Aitem-aitem tersebut berjumlah 10 aitem, yaitu aitem nomor 6, 7, 10, 12, 14, 15, 18, 19, 20, dan 21. Aitem-aitem tersebut tidak dapat dipergunakan lagi untuk analisis data. Sehingga diperoleh nilai koefisien reliabilitas (alpha cronbach) sebesar 0,879, lalu aitem yang dapat digunakan menjadi 13 aitem untukfield study.

3. Self-Acceptance

Hasil uji reabilitas dan analisis aitem dari alat ukur self-acceptance padapilot studydapat dilihat pada tabel 1.10

Tabel 1.10 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemPilot Study Self-Acceptance Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas

(Cronbach Alpha)

Self-acceptance 0,030 – 0,598 14 0,804

Berdasarkan hasil pengujian reabilitas dan analisis aitem yang telah peneliti lakukan, aitem-aitem tersebut telah memenuhi standar. Koefisen reabilitas alat ukur body image memiliki nilaicronbach alphasebesar 0,833. Sebuah aitem dapat diterima dan digunakan lebih lanjut apabila

(25)

memilki koefisien reliabilitas (alpha cronbach) berkisar antara 0,6 sampai 0,8 (Anastasi & Urbina, 2007).

Hasil analisis aitem menunjukkan terdapat beberapa aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation dibawah 0,3. Hasil analisis aitem tersebut diperkirakan karena pernyataan yang kurang dapat dimengerti oleh responden. Oleh karena itu aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation rendah dilakukan revisi. Aitem-aitem self-acceptance yang memiliki nilaiitem total correlation dibawah 0,3 sebanyak 3 aitem, yaitu aitem nomor 4, 6, dan 13. Kemudian peneliti memperbaiki ketiga aitem tersebut.

Hasil uji reabilitas dan analisis aitem dari alat ukur self-acceptance pada field studydapat dilihat pada tabel 1.11

Tabel 1.11 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemField Study Self-acceptance Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas

(Cronbach Alpha)

Self-acceptance (-0,042) – 0,612 14 0,632

Berdasarkan hasil pengujian reabilitas dan analisis aitem yang telah peneliti lakukan, aitem-aitem tersebut telah memenuhi standar. Koefisen reabilitas alat ukur konformitas memiliki nilaicronbach alphasebesar 0,632. Sebuah aitem dapat diterima dan digunakan lebih lanjut apabila memilki koefisien reliabilitas (alpha cronbach) berkisar antara 0,6 sampai 0,8 (Anastasi & Urbina, 2007). Hasil analisis aitem menunjukkan terdapat beberapa aitem-aitem yang memiliki nilaiitem total correlation dibawah 0,3. Hasil analisis aitem tersebut diperkirakan karena pernyataan yang kurang dapat dimengerti oleh responden.

Tabel 1.13 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir AitemField Study Self-accpetance(Setelah Aitem-aitem Dibuang)

Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)

Self-acceptance 0,313 – 0,715 10 0,829

Pada saat penguji cobaan alat ukur konformitas terdapat beberapa aitem dengan nilaitotal correlationkurang dari 0,3. Aitem-aitem tersebut berjumlah 4 aitem, yaitu aitem nomor 5, 6, 13, dan 14. Aitem-aitem tersebut tidak dapat dipergunakan lagi untuk analisis data. Sehingga diperoleh nilai

(26)

koefisien reliabilitas (alpha cronbach) sebesar 0,879, lalu aitem yang dapat digunakan menjadi 10 aitem untukfield study.

Prosedur Penelitian A. Pembuatan Alat Ukur

Pada penelitian ini, peneliti memulai dengan tahap awal yaitu penyusunan proposal penelitian dan mengumpulkan informasi-informasi berupa literasi yang terkait dengan topik penelitian ini, yaitubody image, konformitas, danself-acceptance. Tahapan selanjutnya adalah peneliti mencari alat ukur yang akan digunakan. Terdapat tiga alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini.

Alat ukur pertama, mengukurbody imagemenggunakan alat ukur MBSRQ-AS

(Multidimensional Body Self-Relation Question–Appearance Scale) yang dikembangkan oleh Thomas F. Cash, dan peneliti menggunakan adaptasi yang telah disusun oleh Dwita (2016). Alat ukur kedua, mengukur konformitas menggunakan skala yang disusun berdasarkan dimensi konformitas, skala konformitas ini merupakan adaptasi dari alat ukur yang sudah ada dan disusun oleh Elisse (2013).

Alat ukur ketiga, mengukurself-acceptancemenggunakanRyff’s Scales of Psychological of Well-Being(PWB) yang dapat digunakan sendiri, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh peneliti.

B. MelakukanContent Validity

Content validity merujuk kepada sejauh mana isi sebuah tes/skala/instrumen dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.Content validity dibantu olehprofessional judgementyaitu dosen pembimbing dan dosen yang dianggapexpert dalam bidangnya.Professional judgementpada penelitian ini merupakan dosen Program Studi Universitas Paramadina yaitu Tia Rahmania M.Psi dan Dinar Saputra M.Psi. Professional judgement disediakan tiga pilihan untuk menilai masing-masing aitem berupa apakah pernyataan sesuai konstruk, ambigu, atau tidak sesuai dengan konstruk. Kemudian peneliti melakukan revisi terhadap aitem yang dianggap ambigu atau tidak sesuai untuk menyempurnakan alat ukur tersebut.

C. Uji Coba Alat Ukur

Setelah alat ukur disetujui dan akan disebarkan, tahapan selajutnya yang dilakukan peneliti adala melakukan uji coba alat ukur (pilot study). Uji coba ini dilakukan kepada responden wanita yang telah dipilih peneliti. Peneliti melakukan uji coba kepada 40 wanita usia 20-30 tahun

(27)

menggunakan platform pesan singkat Line. Penyebaran kuesioner menggunakanGoogle Formdan berlangsung satu hari pada tanggal 9 Juli 2018. Setelah peneliti melakukan uji coba alat ukur (pilot study), maka peneliti menguji reliabilitas dan validitas skala menggunakan program IBM SPSS version 22.0.

D. Pelaksanaan Pengambilan Data

Setelah mengetahui aitem-aitem mana saja yang memenuhi dan tidak memenuhi nilai validitas dan reliabilitasnya, peneliti kembali merevisi aitem-aitem pernyataan agar lebih mudah dimengerti oleh responden. Lalu kemudian peneliti menyebarkan field study kepada 85 orang wanita usia 20-30 tahun. Peneliti menyebarkanfield studymenggunakanplatformsosial media, dan Google Form berlangsung selama lima hari mulai tanggal 31 Juli 2018 sampai dengan 5 Agustus 2018. Pengujian hipotesa yang dilakukan peneliti yaitu menggunakan perhitungan statistik dengan bantuan program aplikasi IBM SPSS version 22.0.

HIPOTESA PENELITIAN

Penelitian ini memiliki hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha1: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Body Image dan Konformitas terhadap Self-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

Ha2: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Body Image dilihat dari Appearance EvaluationterhadapSelf-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

Ha3: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Body Image dilihat dari Appearance OrientationterhadapSelf-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

Ha4: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Body Image dilihat dari Body Areas SatisfactionterhadapSelf-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

Ha5: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Body Image dilihat dari Overweight PreocupationterhadapSelf-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

Ha6: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antaraBody Imagedilihat dariSelf-Clasified Weight TerhadapSelf-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

Ha7: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Konformitas terhadapSelf-Acceptancepada Wanita Dewasa Awal.

HASIL Uji Asumsi

(28)

A. Uji Normalitas

Tabel 1.14 Hasil Uji NormalitasOne-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Appearance

Evaluation Appearance

Orientation Body Areas

Satisfaction Overweight

Preocupation Self-clas ified Weight

Konformitas Self-accept ance

N 85 85 85 85 85 85 85

Sig . (p)

0,46 0,58 0,472 0,415 0,70 0,240 0,867

Berdasarkan tabel uji normalitas diatas, nilai signifikansi body image dimensi appearance evaluation sig. (p) = 0,46 > 0,05; nilai signifikansibody imagedimensiappearance orientationsig.

(p) = 0,58 > 0,05; nilai signifikansi body image dimensi body areas satisfactionsig. (p) = 0,472 >

0,05; nilai signifikansi body image dimensi overweight preocupation sig. (p) = 0,415 > 0,05; nilai signifikansi body image dimensi self-clasified weight sig. (p) = 0,070 > 0,05; konformitas sig. (p) 0,240 > 0,05; danself-acceptancesig. (p)=0,867 > 0,05. Melalui penjabaran diatas dapat dikatakan ketiga variabel yang diukur memiliki nilai sig. (p) > 0,05 yang artinya distribusi data normal dan pengujian menggunakan uji regresi berganda parametrik dapat dilakukan.

B. Uji Linieritas

Tabel 1.15 Hasil Uji Linieritas padaBody Imagedan Konformitas terhadap Self-acceptance

Sum of square F Sig

Appearance evaluation * Self-acceptance

Between Groups

(Combined) 2338,085 2,6 0,003

Liniarity 1303,336 23,187 0.000

Deviation from

Linearity 1034,75 1,227 0,274

Appearance orientation * Self-acceptance

Between Groups

(Combined) 1131,735 0,675 0,841

Liniarity 1,593 0,020 0,888

Deviation from

Linearity 1130,142 0,708 0,803

Body areas satisfaction*

Self-acceptance

Between

Groups (Combined) 2491,215 1,697 0,051

Liniarity 1526,415 24,96 0,000

Deviation from Linearity

964,8 0,686 0,840

Overweight preocupation*

Self-acceptance

Between Groups

(Combined) 1445,930 1,840 0,057

Liniarity 126,045 1,925 0,170

Deviation from Linearity

1319,884 1,832 0,064

Self-clasified weight*

Between Groups

(Combined) 946,239 1,724 0,106

(29)

Self-acceptance Liniarity 233,394 3,402 0,069 Deviation from

Linearity 712,844 1,484 0,186

Konformitas * Self-acceptance

Between Groups

(Combined) 2701,156 1,227 0,251

Liniarity 626,134 9,102 0,004

Deviation from

Linearity 2075,022 0,973 0,523

Berdasarkan hasil uji linearitas pada tabel 4.3 diketahui nilai signifikansideviation from linearitydari variabel body imagedimensiappearance evaluationterhadapself-acceptancesebesar 0,274≥0,05; variabelbody imagedimensiappearance orientationterhadapself-acceptancesebesar 0,803≥0,05; variabelbody imagedimensibody areas satisfactionterhadapself-acceptancesebesar 0,064 ≥ 0,05; variabel body image dimensi overweight preocupation terhadap self-acceptance sebesar 0,274 ≥ 0,05; variabel body image dimensi self classified weight terhadapself-acceptance sebesar 0,186 ≥ 0,05; dan nilai signifikansi deviation from linearity dari variabel konformitas terhadap self-acceptancesebesar 0,523≥0,05. Sehingga dapat disimpulkan dari penjelasan diatas, semua nilai signifikansi variabel diatas 0,05 yang artinya semua variabel yang diujikan linier.

Uji Hipotesa

Peneliti melakukan pengujian berupa analisis data penelitian yang alat ukurnya sudah dikaji validitas dan reabilitasnya. Setelah melakukan pengujian normalitas dan ditemukan bahwa ketiga variabel berdistribusi normal. Tahapan berikutnya dilakukan pengujian korelasi antar variabel, lalu dilanjutkan dengan uji regresi berganda body image dan konformitas terhadap self-acceptance untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

Tabel 1.16 Hasil Analisis Uji KorelasiPearson Appeara

nce evaluati

on

Appeara nce orientati

on

Body areas satisfact

ion

Overweig ht preocupat

ion

Self-cl asifie

d weigh

t

Konformi

tas Self-acce ptance

N 85 85 85 85 85 85 85

Pearson correlati ons

Appearan ce

evaluatio n

- 0,169 0,689 -0,288 0,374 -0,084 0,460

Appearan

ce 0,169 - 0,077 0,123 0,081 0,1 -0,016

(30)

orientatio n

Body areas satisfacti on

0,689 0,077 - -0,318 0,410 -0,076 0,498

Overweig ht

preocupat ion

0,374 0,123 -0,318 - -0,331 0,083 -0,0143

Self-clasifi

ed weight 0,374 0,081 0,410 -0,331 - -0.019 0,196

Konformi

tas -0,084 0,1 -0,076 0,083 -0,69 - -0,316

Self-accep tance

0,460 -0,169 0,498 -0,143 0,195 -0,316 -

Sig. (p) Appearan ce

evaluatio n

- 0,061 0,000 0,004 0,000 0,222 0,000

Appearan ce

orientatio n

0,061 - 0,241 0,132 0,23 0,182 0,442

Body areas satisfacti on

0,000 0,241 - 0,002 0,000 0,244 0,000

Overweig ht

preocupat ion

0,004 0,132 0,002 - 0,001 0,226 0,096

Self-clasifi

ed weight 0,000 0,230 0,000 0,001 - 0,432 0,037

Konformi

tas 0,222 0,182 0,222 0,226 0,266 - 0,002

Self-accep tance

0,000 -0,016 0,000 0,096 0,000 0,002 -

Pada tabel 1.16 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi antarabody imagedimensiappearance evaluation dan self-acceptance sig (p) = 0,000 < 0,05 dengan nilaipearson correlations0,460; nilai signifikansi antarabody imagedimensiappearance orientationdanself-acceptancesig (p) = 0,442 >

0,05 dengan nilai pearson correlations -0,016; nilai signifikansi antara body image dimensi body areas satisfactiondanself-acceptancesig (p) = 0,000 < 0,05 dengan nilaipearson correlations0,498;

nilai signifikansi antara body image dimensioverweight preocupationdan self-acceptancesig (p) = 0,096 > 0,05 dengan nilai pearson correlations -0,143; dan nilai signifikansi antara body image dimensi self-clasified weight dan self-acceptance sig (p) = 0,037 < 0,05 dengan nilai pearson correlations 0,195. Nilai signifikansi konformitas danself-acceptancesig (p) = 0,002 < 0,05 dengan

Gambar

Gambar 1.1 Desain Penelitian
Tabel 1.1 Blueprint Alat Ukur Body Image
Tabel 1.3 Blueprint Alat Ukur Self-Acceptance
Tabel 1.4 Hasil Reliabilitas dan Analisis Butir Aitem Pilot Study Body Image Instrumen Penelitian Koefisien Korelasi Jumlah Butir Aitem Koefisien Reabilitas (Cronbach Alpha)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Wanita pasca melahirkan yang memiliki Profile I, yang terdiri dari dimensi body image evaluation negatif (tidak puas) dan body image investment rendah

Hasil pengolahan data, diperoleh gambaran bahwa body image wanita yang mengikuti senam body language di kota Bandung memiliki body image negatif pada 54% dan 46 % tergolong

Definisi Operasional: Body image adalah evaluasi yang dilakukan wanita terhadap ukuran tubuh, berat badan ataupun aspek- aspek lain dari tubuhnya yang berhubungan

hubungan body image dengan self- acceptance (penerimaan diri) pada pasien ulkus diabetikum di Rumah Sakit TK II Putri Hijau Medan Tahun 2016 dengan responden 16

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketika seorang wanita dewasa muda pasca melahirkan memiliki body image yang positif maka self esteem pun akan tinggi, dan

Tabel 4.8 Gambaran Body Image Dan Self-Esteem Pada Remaja Penderita Skoliosis Berdasarkan Derajat Kemiringan Skoliosis

Penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Adanya korelasi dan hubungan yang signifikan positif antara self compassion dengan body image. Maka terdapat

Based on the observations made by researchers on the three respondents that the impact of self-acceptance on body image is that the three respondents cannot express themselves well, so