• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh book tax differences dan tingkat hutang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh book tax differences dan tingkat hutang"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

MURSYIDATI WINDA RAMADHARNI NIM: 105731127617

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2022

(2)

ii

PENGARUH BOOK TAX DIFFERENCES DAN TINGKAT HUTANG TERHADAP PERSISTENSI LABA PADA PERUSAHAAN YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2018-2020

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Oleh : MURSYIDATI WINDA RAMADHARNI

NIM : 105731127617

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2022 M/1443 H

(3)

iii

“Rencanaku bisa saja jadi wacana, tapi rencana Allah sudah pasti luar biasa”

PERSEMBAHAN

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT serta karunianya sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik, Alhamdulillah Rabbil’alamiin.

Skripsi ini kupersembahkan untuk Kedua orang tuaku bapak Dames junaid dan Ibu Juharni (almh),terima kasih atas dukungan, cinta dan

kasih sayang yang berlimpah hingga saat ini. Terima kasih juga kepada saudara-saudaraku atas segala dukungan, pengorbanan moral maupun moril dalam proses penyelesaian studi, serta untuk

orang-orang terdekatku, dan untuk almamater biru kebangganku.

PESAN DAN KESAN

“Terimalah kebaikan meski disampaikan oleh orang yang tidak baik”

(4)
(5)
(6)
(7)

vii

Tingkat Hutang Terhadap Persistensi Laba Pada Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2018-2020”.Skripsi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.Dibimbing oleh Waode dan Rini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Book Tax Differences dan Tingkat Hutang Terhadap Persistensi Laba Pada Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2018-2020. Penelitian ini menggunakan jenis penilitian kuantitatif . Pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan dan menggunakan data sekunder. Penelitin ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda.Alat analisis yang digunakan adalah program SPSS versi 25.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, variabel book tax differences berpengaruh positif dan signifikan terhadap persistensi laba, dan variabel tingkat hutang berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap persistensi laba pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Kata Kunci : Book Tax Differences, Tingkat Hutang

(8)

viii

And Debt Levels On Earnings Persistence In Banking Listed On The Indonesia Stock Exchange In 2018-2020”. Thesis of Accounting Study Program, Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar.Supervised by Waode and Rini.

This study aims to determine the effect of book tas differences and debt levels on earnings persistence in banking listed in the Indonesia Stock Exchange in 2018-2020. This research uses quantitative research. Data collection is done by analyzing financial statements and using secondary data. This research uses multiple linear regression analysis metjod. The analytical tool used is the SPSS version 25 program.

The results showed that the book tax differences had a positive and significant effect on earnings persistence, and the debt level variable had an insignificant negative effect on earnings persistence in banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange.

Keywords : Book Tax Differences, Debt Level

(9)

ix

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Syukur alhamdullah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah member rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan judul “pengaruh book tax differences dan tingkat hutang terhadap persistensi laba pada perbankan yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2018-2020”.

Skripsi yang dibuat penulis bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Shalawat serta salam penulis hanturkan kepada Baginda Raulullah Muhammad SAW, yang telah menerbarkan permadani-permadani kebenaran dan memerangi benih-benih kebatilan hngga kita dapat merasakan ketentraman hidup hingga saat ini.

Terima kasih kepada kedua orang tua, Bapak Muhammad Dames Junaid dan Ibu Juharni (almh) yang selalu mendoakan dan memberi semangat beserta dukungan selama ini.kepada saudara-saudara dan semua keluargaku yang selalu membantu dan member semangat yang tak henti-hentinya. Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menemui kesulitan dan hambatan dalam penulisan dan penyusunan, namum berkat do’a ,dukungan dan bimbingan dari

(10)

x

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse., M.Ag selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Andi Jam’an., SE. M.Si selaku Ketua Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Mira, SE. M.Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Wa Ode Rayyani, SE, M.Si.AK.CA, selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, dan memberikan arahan serta member saran dalam penyusunan skripsi ini.

5. Ibu Rini Sulistiyanti, SE, M.Ak, selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktunya membimbing, dan memberikan saran beserta petunjuk dalam penysunan skripsi ini.

6. Bapak/Ibu dan Asisten Dosen serta yang termasuk dalam ruang lingkup Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama masa perkuliahan.

7. Kepada seluruh staf (tata usaha) yang telah memberikan pelayanan yang baik selama ini.

8. Kepada teman-teman seperjuagan Akuntansi 17.H dan Ku 4 yang selalu memotivasi dan memberi nasihat.

9. Kepada Firmansa yang selalu memberi dukungan kepada penulis dan selalu membantu dan menemani penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

10. Kepada sahabat-sahabatku sukmawati, laksmi, yunita, isna yang selalu membantu penulis serta berperan penting dalam penyelesaian skripsi.

(11)

xi

12. Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu peneliti baik secara langsung dan tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kekurangan tidak lepas dari kodrat kita sebagai manusia biasa demikian juga dalam penyusunan skripsi ini, namun penulis berharap kiranya skripsi ini dapat memberikan manfat bagi pembaca maupun penulis.

Billahi Fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamu’alaikum Wr.Wb Makassar, 25 November 2021

MURSYIDATI WINDA RAMADHARNI

(12)

xii

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...iii

LEMBAR PERSETUJUAN ...Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN ...Error! Bookmark not defined. SURAT PERNYATAAN KEABSAHAN ...Error! Bookmark not defined. ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...7

A. Tinjauan Teoritis ... 7

1. Teori Keagenan...7

2. Book Tax Differences ...8

3. Tingkat Hutang ...11

4. Persistensi Laba ...14

B. Penelitian Terdahulu ... 17

C. Kerangka Konsep ... 21

D. Hipotesis ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ...25

A. Jenis Penelitian ... 25

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25

(13)

xiii

F. Teknik Analisis ... 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...37

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 37

B. Penyajian Data (Hasil Penelitian) ... 45

C. Pembahasan ... 56

BAB V PENUTUP ...59

A. KESIMPULAN ... 59

B. SARAN ... 59

DAFTAR PUSTAKA ...60

(14)

xiv

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu... 17

Tabel 3.1 Pengukuran Variabel ... 26

Tabel 3.2 Daftar Perusahaan ... 27

Tabel 3.3 Sampel Penelitian ... 30

Tabel 4.1 Sampel Penelitian ... 49

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas ... 51

Tabel 4.3 Hasil Uji Multikolonieritas ... 49

Tabel 4.4 Uji Heterokedastisitas ... 50

Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi ... 52

Tabel 4.6Hasil Uji Deskriptive Statistics ... 52

Tabel 4.7 Uji Analisis Statistik Inferensial ... 53

Tabel 4.8 Hasil Uji Parsial ... 54

Tabel 4.9 Hasil Uji Determinasi ... 60

(15)

xv

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 22 Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia ... 38

(16)

xvi

... 63

Lampiran II ... 67

Lampiran III ... 71

Lampiran IV ... 75

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tahun 2019 adalah awal munculnya wabah covid-19, dimana wabah ini memberikan dampak besar pada perekonomian, salah satunya berdampak pada perusahaan sehingga memaksa perusahaan untuk membuat strategi baru demi mempertahankan laba di era pandemi ini.Laba tidak hanya digunakan untuk menilai kinerja perusahaan akan tetapi juga digunakan sebagai pusat informasi untuk pembagian laba dan penentuan kebijakan investasi. Semakin tinggi laba yang dihasilkan oleh perusahaan semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut. Laba yang berkualitas adalah laba yang mencerminkan kelanjutan laba.

Laba digunakan oleh investor maupun kreditor sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi. Seorang investor lebih percaya untuk berinvestasi atau menanam saham terhadap perusahaan yang memiliki laba yang berkualitas, mereka percaya bahwa perusahaan yang memiliki laba yang berkualitas akan mampu membayar kewajibannya dimasa yang akan datang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki laba yang baik untuk itu, agar dapat memberikan informasi yang baik maka laba harus persisten. Persistensi laba memiliki hubungan terhadap kinerja perusahaan dan juga berhubungan dengan kinerja harga saham dipasar modal yang diwujudkan dalam deviden. Dalam penilaian ekuitas, persistensi sebagai alat ukur dari kualitas laba ditentukan berdasarkan perspektif kemanfaatan dalam

(18)

pengambilan keputusan. Jika laba tahun berjalan suatu perusahaan dapat menjadi indikator yang baik untuk perusahaan dimasa yang akan datang, maka laba perusahaan tersebut merupakan laba yang persisten. Menurut (Suwandika & Astika, 2013:197) pada prinsip laba yang persisten dapat dipandang dalam dua sudut pandang yaitu pertama persistensi laba ini berhubungan dengan kinerja perusahaan yang tergambarkan dalam laba perusahaan. Kedua persistensi laba berkaitan erat dengan kinerja harga saham pasar modal yang diwujudkan dalam imbal hasil, sehingga hubungan yang semakin kuat antara laba perusahaan dengan imbal hasil bagi investor dalam bentuk return saham menunjukkan persistensi laba yang tinggi.

Fenomena mengenai laba perusahaan yang tidak persisten menyebabkan ketidakpastian investor untuk menanamkan saham. Adanya kasus manipulasi laporan keuangan dapat membuat laporan keuangan tidak menunjukkan kondisi keuangan yang seharusnya dan membuat laporan keuanagn tidak bersifat relevan, sehingga membuat laba tidak persisten.

Fenomena kasus manipulasi laporan keuangan terjadi pada PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) merevisi laporan keuangannya tahun 2016. Bank bukopin merevisi laba bersih 2016 menjadi 183,56 miliar dari sebelumnya Rp 1,08 triliun. Penurunan terbesar adalah dibagian pendapatan provisi dan komisi yang merupakan pendapatan dari kartu kredit. Pendapatan turun dari Rp 1,06triliun menjadi 317,88 miliar. Revisi juga terjadi pada pembiyaan anak usaha Bank Syariah Bukopin (BSB) terkait penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai debitur tertentu, akibatnya beban penyusuhan kerugian penurunan nilai asset keuangan direvisi meningkat dari Rp 649,05 miliar menjadi Rp 797,65 miliar. Hal ini menyebabkan beban perseroan

(19)

meningkatkat Rp 148,6 miliar. Dari fenomena yang telah dipaparkan diatas dapat dilihat bahwa perusahaan berusaha memanipulasi laporan keuangan dengan penambahan saldo cadangan kerugian sehingga keberlanjuan laba dimasa mendatang tidak persisten.

Terdapat banyak penyebab terjadinya persistensi laba baik itu dari internal maupun eksternal. Jika kenaikan atau penurunan laba yang signifikan tanpa didasari informasi yang akurat maka di curigai adanya manajemen laba.Sesuai dengan isu yang berkembang salah satu penyebabnya adalah perbedaan anatara laba akuntansi dan laba pajak atau sering disebut dengan laba fiskal (boox tax difference). Book tax differences disebabkan karena adanya perbedaan peraturan PSAK dan Undang-undang perpajakan. Penyebab perbedaan yang terjadi antara penghasilan sebelum pajak dengan kena pajak dapat diketegorikan menjadi 2 bagian yaitu perbedaan permanen dan perbedaan temporer. Perbedaan permanen terjadi karena adanya peraturan yang berbeda terkait dengan pengakuan penghasilan dan biaya antara Standar Akuntansi Keuangan dan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan, sedangkan perbedaan temporer terjadi karena danya perbedaan waktu pengakuan penghasilan dan biaya menurut Standar Akuntansi Keuangan dan Ketentuan Peraturan Perundang- undangan.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi persistensi laba adalah tingkat hutang. Tingkat hutang merupakankemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka panjangnya dan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan tambahan dana dari pihak ekternal berupa utang ataupun pinjaman. Upaya perusahaan dalam memperoleh laba tidak telepas dari

(20)

sumber modal perusahaan untuk mengembangkan usahanya demi menghasilkan laba yang maksimal. Tingkat hutang yang tinggikan mendorong perusahaan agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan akan lebih meningkatkan kinerja perusahaan demi keberlangsungan usahanya. Tingkat utang yang tinggi bisa memberi insentif yang lebih kuat bagi manajer untuk mengelola laba pada prosedur yang bisa diterima.Penggunaan hutang berjangka panjang dapat meningkatkan risiko perusahaan.Semakin tingginya tingkat hutang maka akan meningkatkan jumlah utang dan bunga yang harus dibayarkan perusahaan. Disamping itu, besarnya tingkat hutang perusahaan akan menyebabkan perusahaan lebih meningkatkan persistensi labanya.

Penelitian terdahulu mengenai book tax differences dengan persistensi laba dilakukan oleh Hasanah (2017). Penelitian lain dilakukan oleh Rudi (2019) menyatakan bahwa perbedaan temporer book tax differences berpengaruh positif dan perbedaan permanen berpengaruh negatif. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan, Hidayat dan Fauziyah (2019) yang menyatakan bahwa book tax differences berpengaruh negatif terhadap persistensi laba. Sedangkan Putri (2017) meneliti hubungan tingkat hutang memiliki pengaruh pengaruh positif terhadap persistensi laba. Hasil penelitian tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yangdilakukan oleh Kusuma dan Sadjiarto (2014) menunjukkan tingkat hutang tidak berpengaruh terhadap persistensi laba. Keanekaragaman hasil penelitian yang menarik untuk diteliti lebih lanjut dengan periode dan sektor yang berbeda yaitu dengan menggunakan objek pada laporan keuangan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2018-2020. Berdasarkan

(21)

argumentasi diatas, peneliti memilih dan tertarik untuk membahas mengenai

“Pengaruh Book Tax Differences dan Tingkat Hutang Terhadap Persistensi Laba Pada Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2019-2020”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah book tax diffrences berpengaruh terhadap persistensi laba pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020 ? 2. Apakah tingkat hutang berpengaruh terhadap persistensi laba pada

perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020 ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang dirumuskan diatas, maka tujuan penelitian yang akan dicapai adalah sebagai berikut :

1. Untuk menguji pengaruh book tax differences terhadap persistensi laba pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018- 2020?

2. Untuk menguji pengaruh tingkat hutang terhadap persistensi laba pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2018-2020 ?

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai book tax differences dan tingkat

(22)

hutang terhadap persistensi laba yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, serta diharapkan sebagai sarana pengembangan ilmu dalam pendidikan di Indonesia.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana yang bermanfaat dalam mengimplementasikanya mengenai pengaruh book tax differences dan tingkat hutang terhadap persistensi laba.

b. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menjadi referensi untuk bahan penelitian selanjutnya.

c. Untuk perguruan tinggi, diharapkan dapat mengembangkan materi pengajaran dibangku kuliah.

(23)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Teori Keagenan

Teori keagenan (agency theory) merupakan saatu kondisi yang terjadi pada perusahaan dimana pihak manajemen sebagai pelaksana yang disebut dengan agen dan pemilik modal (owner) sebagai principal yang membangun suatu kontrak kerjasama yang disebut dengan “nexus of contract”, dimana kontrak kerjasama ini berisi kesepakatan yang menjelaskan bahwa pihak manajemen perusahaan harus bekerja secara maksimal untuk dapat memberi kepuasan yang maksimal seperti profit yang tinggi kepada pemilik modal (owner). Konflik keagenan muncul karena agen memiliki kepentingan yang berbeda atau bertolak belakang dengan principal.Agen yang dimaksud dalam hal ini adalah manjemen perusahaan dan principal yaitu para pemangku kepentingan seperti investor.

Dalam teori agensi, manajer sebagai pihak agen harus mampu menjalankan tugas yang telah dipercaya.Manjemen berwenang mengelola perusahaan sehingga perusahaan terus tumbuh dan berkembang.Selain itu, investor selalu berharap agar laba yang dihasilkan persisten.Namun perbedaan kepentingan Antara manajemen

(24)

dan pemegang saham tersebut mengakibatkan sering terjadinya kasus manipulasi laba.

2. Book Tax Differences

Ariyani et al (2018) menyatakan bahwa book tax differences merupakan perbedaan jumlah laba yang dihitung berdasarkan akuntansi dengan laba yang dihitung sesuai dengan peraturan perpajakan. Book tax difference merupakan perbedaan laba komersial (akuntansi) dengan laba fiskal (pajak) yang disebabkan karena perbedaan peraturan atas pengakuan pendapatan dan beban antara SAK (Standar Akuntansi Keuangan) dan Undang-Undang Perpajakan (Ilyas dan Priantara, 2016) . Selain itu, book tax differences diartikan sebagai perbedaan besaran laba akuntansiatau laba komersial dengan laba fiskal atau penghasilan kena pajak. Laba komersial merupakan besarnya laba yang susun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Laba bersih komersial dihitung oleh wajib pajak dengan memperhatikan ketentuan perpajakan yang berkaitan dengan sistematau prosedur. Sedangkan laba fiskal adalah laba atau rugi selama satu periode yang dimana dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan lebih ditujukan untuk menjadi dasar perhitungan Pph. Menurut Fransisca, (2020) dalam setiap tahun manajemen perusahaan menghitung laba perusahaan untuk dua tujuan, yaitu pelaporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum (PABU) dan pelaporan pajak berdasarkan peraturan pajak untuk dapat menentukan penghasilan kena pajak atau laba fiskal.

Laba fiskal dihitung berdasarkan metode akuntansi yang menjadi dasar perhitungan laba akuntansi dengan metode akrual. Menurut Sari, (2017)

(25)

hampir semua perhitungan laba akuntansi yang dihasilkan harus mengalami koreksi fiskal untuk mendapatkan penghasilan kena pajak karena banyak dari ketentuan perpajakan yang tidak sama dengan standar akuntansi keuangan.

Rekonsiliasi fiskal dilakukan diakhir periode pembukuan sehingga yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal. Perbedaan itu disebabkan oleh ketentuan-ketentuan pengakuan dan pengukuran yang berbeda-beda antara standar akuntansi dan peraturan pajak, selanjutnya book tax differences terbentuk karena disebabkanperbedaan permanen dan perbedaan temporer.

a. Perbedaan Permanen

Perbedaan tetap/permanen adalah perbedaan yang terjadi karena adanya perbedaan antara peraturan perpajakan dalam menghitung laba fiskal berbeda dengan perhitungan laba menurut standar akuntansi keuangan tanpa adanya koreksi dikemudian hari.

Perbedaan posistif itu terjadi dikarenakan adanya laba akuntansi yang tidak diakui oleh ketentuan perpajakan dan relief pajak, sedangkan perbedaan negatif terjadi dikarenakan adanya pengeluaran sebagai beban akuntansi yang tidak diakui oelh ketentuan fiskal.

Perbedaan permanen yang terjadi akibat perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya yang terdapat pada :

1) Penghasilan yang telah dipotong Pph final

2) Penghasilan yang bukan meruapakan objek dari pajak

(26)

3) Pengeluaran yang tidak termasuk dalam biaya yang dapat dikurangkan sebagai pengurang pajak dan termasuk dalam biaya yang tidak dapat dikurangkan.

b. Perbedaan temporer

Perbedaan temporer atau perbedaan waktu adalah perbedaan yang terjadi karena adanya perbedaan waktu pengeluaran pendapatan dan biaya dalam menghitung laba. Dimana komersial mengakauinya sebagai penghasilan atau biaya pada periode yang bersangkutan (Septavita,2016). Menurut (Waluyo, 2016:281) perbedaan temporer dimaksudkan sebagai perbedaan antara dasar pengenaan pajak (tax base) dari suatu asset atau liabilitas dengan nilai tercatat pada asset atau liabilitas yang berakibat pada perubahan laba fiscal periode mendatang. Terjadinya perubahan tersebut dapat bertambah (future taxable amount) atau berkurang (future deductible amount) pada saat asset dipulihkan atau liabilitas dilunasi/dibayar. Perbedaan temporer ini berakibat harus diakuinya asset dan/atau liabilitas pajak tangguhan.

Perbedaan temporer dapat dibagai menjadi tiga bagian yaitusebagai berikut :

1) Large negative book tax differences (LNBTD)

Large negative book tax differences (LNBTD) adalah selisih anatara laba akuntansi dengan laba fiskal dmana laba akuntansi lebih kecil dari laba fiskal. Perbedaan itu timbul apabila perbedaan temporer menyebbakan koreksi fiskal positif dalam rekonsiliasi fiskal.

(27)

2) Large positif book tax diffrences (LPBTD)

Large positif book tax differences (LPBTD) adalah selisih anatar laba akuntansi dan laba fiskal, dimana laba akuntansi tersebut lebih besar dari laba fiskalnya. Perbedaan large positif book tax differences timbul apabila perbedaan temporer menyebabkan koreksi fiskal negatif didalam laporan keuangan.

3) Small book tax differences (SBTD)

Small book tax differences (SBTD) adalah perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal dimana mempunyai perbedaan laba akuntansi dengan laba fiskal yang relatif kecil sehingga menghasilkan kualitas laba yang baik.

3. Tingkat Hutang

Hutang merupakan kewajiban suatu perusahaan kepada pihak ketiga yang timbul dari transaksi masa lalu dan yang dibayar dengan menyerahkan aktiva atau jasa yang diberikan dalam jangka waktu tertentu.Dalam melakukan pendanaan untuk mengoperasikan perusahaannya, perusahaan memiliki dua cara yaitu pendanaan internal dan pendanaan ekternal. Hutang dibagi menjadi dua jenis (Syaiful Bahri ,2016:24), yaitu sebagai berikut :

a. Hutang jangka pendek(Short term debt)

Hutang jangka pendek adalah kewajiban yang diperkirakan untuk memenuhi pembayaran tunai dalam jangka waktu satu tahun atau dalam siklus operasi yang mungkin lebih singkat. Hutang jangka pendek meliputi :

(28)

1) Utang usaha (account payable), yaitu kewajiban perusahaan kepada kreditur yang timbul karena adanya transaksi pembelian barang dagangan secara kredit.

2) Utang wesel(notes payable), yaitu kewajiban perusahaan kepadapihak kreditur yang disertai dengan janji tertulis untuk melunasinya.

3) Utang gaji (salaries payable), yaitu kewajiban yang timbul karena terdapat karyawan yang sudah bekerja tetapi belum mendapat pembayaran gaji oleh perusahaan.

4) Utang pajak (tax payable), yaitu utang timbul karena apabila perusahaan sudah saatnya membayar pajak penghasilan tetapi karena sesuatu hal lain sehingga pajak tersebut belum dibayarkan.

5) Pendapatan diterima dimuka (revenue in advanced), yaitu pendapatan yang telah diterima pada periode sekarang tetapi belum memberikan jasa. Misalnya, sewa diterima dimuka.

b. Hutang jangka panjang (long term debt)

Hutang jangka panjang adalah hutang yang jangka waktu pembayarannya lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca dan sumber untuk melunasi hutang jangka panjang adalah sumbernya bukan dari kelompok aktiva lancar.

Hutang jangka panjang terdiri dari hutang obligasi dan hipotik. Dari sudut pasar pemegang hutang jangkapanjang, risiko hutang lebih kecil dibandingkan saham biasa atau saham preferen.

Meskipun hal tersebut terjadi, hutang dianggap memiliki keunggulan

(29)

yang terbatas dari segi laba, dan dianggap lemah dipandang dari segi pengendalian.

Tingkat hutang merupakan besaran utang yang dimiliki perusahaan. Tingkat hutang dalam perusahaan digunakan untuk meningkatkan persistensi laba dengan tujuan mempertahankan kinerja perusahaan. Menurut Nurul dan Wida (2016) penggunaan hutang yang tinggi akan member insentif yang lebih kuat bagi perusahaan untuk meningkatkan persitensi laba dengan mengelola laba untuk tujuan efisien.

Besarnya tingkat hutang akan berelevansi pada arus masuknya dari sumber daya eksternal yang bermanfaat terhadap ekonomi dimasa yang akan datang. menurut Arisandi (2018) berdasarkan pecking order theory dipilihnyapenerbitan obligasi (utang) lebih utama dari pada penerbitan saham baru karena floatitation cost (biaya penerbitan) untuk penerbitan obligasi lebih kecil dibanding penerbitan saham baru.

Tingkat hutang dapat mempengaruhi kualitas laba perusahaan.

Para pemegang saham mendapatakan manfaat dari solvabilitas keuangan sejauh laba yang dihasilkan atas uang yang dipinjam melebihi bunga dan juga terjadi jika kenaikan nilai pasar saham. Menurut Putri (2017) hutang mengandung konsekuensi perusahaan yang harus membayar bunga dan pokok pada saat jatuh tempo, jika perusahaan tidak mampu membayarnya, maka akan menimbulkan resiko kegagalan sehingga seberapa besar tingkat hutang yang diinginkan sangat tergantung pada stabilitas keuangan perusahaan itu sendiri.

Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat hutang perusahaan. Hutang perusahaan yang tinggi akan

(30)

berdampak membahayakan perusahaan dikarenakan perusahaan akan masuk dalam kategori extrem leverage (hutang ekstrem) dimana perusahaan terjebak dalam tingkat hutang yang tinggi dan sulit melepaskan beban hutang itu. Oleh karena itu perusahaan sebaiknya menyeimbangkan berapa hutang yang layak diambil dan dari mana sumber yang digunakan untuk membayar hutang. Adapun rumus yang digunakan sebagai indikator tingkat hutang adalah sebagai berikut :

(DAR) =

4. Persistensi Laba

Laba merupakan aspek yang paling penting bagi perusahaan karena merupakan salah satu tujuan utama didirikannya perusahaan, selain itu laba memiliki peran yang penting bagi pihak yang berkepentingan salah satunya pihak ekternal dan internal sebagai dasar pengambilan keputusan. Menurut (Salsabiila et al, 2017) menyatakan bahwa laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba dimasa yang akan datang.

Terdapat3 hal yang harus digaris bawahi mengenai kualitas laba yaitu, (1) kualitas laba bergantung kepada informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan, (2) kualitas dari angka laba yang dilaporkan dilihat dari apakah informasi tersebut mencerminkan kinerja keuangan suatu perusahaan, (3) kulitas laba bersama-sama ditentukan oleh relevansi dari kinerja keuangan yang mendasari keputusan.

(31)

Persistensi laba merupakan laba yang memiliki kemampuan sebagai indicator laba periode mendatang (future earnings) yang dihasilkan prusahaan secara berulang dan berlanjut.Menurut Hasanah, Hardi, dan Sheila (2014:15) persistensi laba merupakan salah satu alat ukur kualitas laba, laba yang berkualitas merupakan laba yang berkesinambungan menunjukkan kondisi yang stabil dan tidak berfluktasi disetiap periodenya. Informasi mengenai Persistensi laba sering digunakan sebagai salah satu dalam pengukuran laba karena mengandung unsur predictive value sehingga dapat digunakan oleh pengguna laporan keuangan dalam mengevaluasi kejadian masa lalu, sekarang ataupun kejadian masa depan. Persistensi laba ini penting bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai seberapa besar risiko perusahaan.

Persistensi laba juga diartikan sebagai laba yang bisa digunakan sebagai indikator future earning. Menurut (Lee, 2018) menyatakan bahwa persistensi laba didefinisikan sebagai laba itu sendiri, artinya, laba saat ini dapat digunakan sebagai indikator laba periode mendatang (future earnings). Sedangkan unsual earnings adalah laba yang dihasilkan secara temporer dan tidak berulang sehingga bisa digunakan sebagai indikator untuk laba yang akan. Informasi yang terkandung dalam laba earningsmemiliki peran yang penting dalam menilai kinerja perusahaan. Persistensi laba pada umumnya diukur dengan mengestimiasi suatu rangkaian ARIMA (autiregressive, integreted, moving average)yang nyata dari proses laba. Sehubungan dengan banyaknya karakteristik ekonomi yang potensial, dibutuhkan suatu tes

(32)

yang lebih tegas dan jelas untuk mengidentifikasi suatu kompleksitas perusahaan yang dapat mewakili sebagian variabel yang diketahui sebagai penentu potensial dari persistensi laba, bila perusahaan tiba-tiba melaporkan laba dengan tingkat kenaikan yang signifikan dari tahun sebelumnya maka kemungkinan ada menajemen yang telah merekayasa dengan cara yang tidak etis. Begitupun sebaliknya bila perusahaan tiba- tiba melaporkan laba dengan tingkat penurunan yang signifikan patut dicurigai karena kemungkinan manajemen perusahaan berusaha untuk menghindari pajak.

Persistensi laba dapat diukur dengan menggunakan koefisien regresi antara laba akuntansi sebelum pajak tahun berjalan dikurangi dengan laba sebelum pajak tahun sebelumnya dibagi dengan total asset yang dimiliki oleh perusahaan pada tahun berjalan. Jika koefisiennya mendekati angka 1, maka yang dihasilkan persitensi laba yang tinggi, sebaliknya jika koefisiennya mendekati nol maka yang dihasilkan akan rendah atau transitory earningnya tinggi. Dan jika koefisiennya bernilai negatif dapat diartikan bahwa nilai koefisien yang lebih tinggi menunjukkan laba yang persisten.

Persistensi laba juga seringkali digunakan sebagai pertimbangan kualitas laba, dikarenakan peristensi laba memiliki nilai prediksi.

Mengingat bahwasanya laba adalah salah satu indikator yang menarik bagi pengguna laporan keuangan, maka laba yang seharusnya diperhatikan oleh pihak investor yaitu bukan laba yang tinggi melainkan laba yang persisten.

(33)

B. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti

Judul Metode Hasil Penelitian

1 Rudy Irawan Gunarto (Jurnal Akuntansi, Vol 2, No.3, 2019)

Pengaruh Book Tax Differences dan Tingkat Hutang

Terhadap Persistensi Laba

metode yang digunakan adalah metode purposive sampling dan teknik analitis yang

digunakan adalah

multiple linear (kuantitatif)

Hasil dari penelitian ini adalah book tax differences secara temporer

berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap persitensi laba , sedangkanbook tax differences secara permanen

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap persistensi laba. selain itu tingkat hutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap persitensi laba

2 Varadika Sarah, Ahmad Jibrail, Sudrajat Martadinata (Jurnal Tambora, Vol, 3, No.1, 2019)

Pengaruh Arus Kas Kegiatan Operasi, Siklus Operasi, Ukuran Perusahaan dan Tingkat Hutang

Terhadap Persistensi Laba

Metode yang digunakan adalah purposive sampling dan menggunakan data sekunder (kuantitatif)

Arus kas kegiatan operasi tidak berpengaruh

signifikan terhadap persistensi laba Siklus operasi tidak berpengaruh

signifikan terhadap persistensi laba ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba tingkat hutang berpengaruh

signifikan terhadap persistensi laba.

(34)

3 Risti Dwi Lestari dan Sistya Rachmawati (Journal Of Accounting and

Governance, Vol 2, No. 2, 2018)

Perencanaan pajak dab Book Tax Differences Terhadap

Persistensi Laba dengan Varibel

Moderating Kualitas Laba

Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menunjukkan

perencanaan pajak berpengaruh negative terhadap persitensi laba, sedangkan book tax differences tidak berpengaruh

terhadap persistensi laba.

4 Imam

Hidayat dan Syifa

Fauziah (Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, Vol 4, No. 1)

Pengaruh Book Tax Differences , Arus Kas Operasi,

Tingkat Hutang dan Ukuran Perusahaan Terhadap Persistensi Laba

Metode yang digunakan yaitu purposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menyatakan bahwa book tax differences dan tingkat hutang tidak berpengaruh terhadap persistensi laba, arus kas berpengaruh positif terhadap persistensi laba

5 Bella Imanda Shefira, R Ery Wibowo Agung Dan Alwiyah (Jurnal Akuntansi, Vol 8, No 2, 2018)

Pengaruh Book Tax Diffrences, Ukuran

Perusahaan

dan Laba

Sebelum Pajak Tahun Berjalan Terhadap Persitensi Laba

Metode yang digunakan adalah purposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan permanen book tax diffrences tidak berpengaruh signifikan terhadap persitensi laba sedangkan

perbedaan temporer book tax differences, ukuran perusahaan, dan laba sebelum pajak tahun berjalan berpengaruhsignifikan terhadap persitensi laba

6 Erika Inas Camille Dan Effriyanti (Jurnal Akuntansi, Vol 2, No. 1, 2020)

Pengaruh Book Tax Diffrences Dan Volatilitas

Arus Kas

Terhadap Persitensi Laba

Metode yang digunakan yaitu puposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menyatakan bahwa book tax differences perbedaan permanen tidak berpengaruh terhadap persistensi laba, book tax diffrences perbedaan temporer bepengaruh positif terhadap persistensi laba,

(35)

volatilitas arus kas dan book tax differences

berpengaruh positif terhadap persistensi laba

7 Susi Agustian (Prisma, Vol 1 No.2, 2020)

Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Ukuran Perusahaan, Leverage, Fee Audit, Arus Kas, Komsentrasi Pasar, Tingkat Hutang Dan

Book Tax

Differences Terhadap Persistensi Laba

Metode yang diguanakan adalah metode puposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan

manajerial tidak berpengaruh

terhadap persistensi

laba, ukuran

perusahaan

berpengaruh negatif terhadap persistensi laba, sedangkan leverage, fee audit, arus kas dan konsentrasi pasar berpengaruh

terhadap persitensi laba, dan book tax differences

berpengaruh positif dan negatif terhadap persistensi laba.

8 Jessica Putri Diharjo dan Mishelei Loen (JA, Vol 7, No. 3, 2020)

Pengaruh Book Tax Differences dan Tingkat Hutang

Terhadap Persistensi Laba

Metode yang digunakan adalah puposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menyatakan

perbedaan permanen book tax differences dan tingkat hutang berpengaruh

terhadap persistensi laba. Sedangkan perbedaan temporer book tax differences tidak berpengaruh terhadap persistensi laba

9 Anindya Nurul Ain (E- JRA, Vol 7, No. 5, 2018)

Pengaruh Book Tax Differences, Terhadap Persistensi Laba

Metode yang digunakan adalah purposive sampling (kuantitatif)

Hasil penelitian menyatakan bahwa book tax differences, berpengaruh

terhadap persistensi laba.

10 Anita

Rahmadhani (JA, 2016)

Pengaruh Book Tax Differences, Volatilitas Arus Kas, Volitalitas

Metode yang digunakan adalah purposive

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan permanen pada book tax

(36)

Penjualan, Besaran Akrual dan Tingkat Hutang

Terhadap Persistensi Laba

sumpling (kuantitatif)

differences tidak berpengaruh

terhadap persistensi laba. Perbedaan temporer

padabooktax

differences, volatilitas arus kas, volutalitas penjualan dan besaran akrual berpengaruh negatif terhadap persitensi laba, sedangkan tingkat hutang berpengaruh positif terhadap persitensi laba

Beberapa penelitian diatas memiliki hasil dan variabel yang berbeda dalam menguji persistensi laba.Hasil penelitian yang memiliki hasil yang sama dilakukan oleh Irawan (2019) dan Erika (2020) yang menyatakan bahwa book tax differences yang memiliki indikator perbedaan temporer berpengaruh positif terhadap persistensi laba sedangkan perbedaan permanen berpengaruh negatif terhadap persistensi laba. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Rahmadhani (2016) , yang menyatakan bahwa book tax differences tidak berpengaruh terhadap persistensi laba, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi (2018). selain itu penelitian mengenai variabel tingkat hutang yang dilakukan Sarah (2019) hasil penelitian menunjukkan bahwan tingkat hutang berpengaruh terhadap persistensi laba, penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Putri (2020) yang menyatakan hasil yang sama.

Berdasarkan penelitian terdahulu diatas perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah terletak pada periode penelitian

(37)

dan objek penelitian ini ada adalah perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

C. Kerangka Konsep

Persistensi laba digunakan sebagai pengukur laba, untuk mendapatkan laba yang persisten, maka laba harus berkualitas untuk menghindari kesalahan dalam memprediksi.Persistensi laba merupakan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai satu periode mendatang. Laba juga dipengaruhi oleh pajak yang dimana perhitungan laba melibatkan laba kena pajak atau laba fiskal, besar kecilnya pajak kini ditentukan oleh transaksi yang terjadi. Pengakuran transaksi tersebut ada yang diakui oleh fiskal dan tidak, hal ini menyebabkan perbedaan antara laba komersial dan laba fiskal (book tax differences).selain itu penggunaan hutang yang tinggi dalam perusahaan akan memberikan insentif yang lebih kuat untuk meningkatkan persistensi laba denga mengelola laba untuk efisien. Peningkatan persistensi laba untuk menjaga kinerja perusahaan lebih baik dimata investor dan kreditor.Semakin besar tingkat hutang suatu perusahaan semakin tinggi persistensi laba.

Berdasarkan pembahasan diatas yang telah dijelaskan mengenai book tax differences dan tingkat hutang terhadap persistensi laba, maka dapat dilihat dalam kerangka konsep sebagai berikut :

(38)

D. Hipotesis

Berdasarkan tinjauan empiris hasil penelitian sebelumnya maka hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pengaruh book tax differences terhadap persistensi laba

Book tax differences merupakan perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal . Book tax differencemerupakan perbedaan laba komersial (akuntansi) dengan laba fiskal (pajak) yang disebabkan karena perbedaan peraturan atas pengakuan pendapatan dan beban antara SAK (Standar Akuntansi Keuangan) dan Undang-Undang Perpajakan (Ilyas dan Priantara, 2016) .Perbedaan permanen dan perbedaan temporer digunakan dalam mengukur perbedaan laba akuntansi dana laba fiskal (book tax differences).

Pengaruh book tax differences terhadap persistensi laba dibuktikan denagan peneleitian terdahulu mengenai book tax differences yang dilakukan oleh Hasanah (2017) dan Putri (2020) yang menyatakan

Book Tax Differences (X1)

Persistensi laba (Y) Tingkat Hutang

(X2)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

(39)

bahwa book tax differences berpengaruh terhadap persistensi laba.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Dwi (2018) menyatakan bahwa book tax differences tidak berpengaruh terhadap perisistensi laba.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat di tarik sebuah hipotesis yaitu: :

H1 : Book Tax Differences berpengaruh terhadap Persistensi Laba pada perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020.

2. Pengaruh tingkat hutang terhadap persistensi laba

Tingkat hutang merupakan besaran hutang yang dimiliki perusahaanuntuk meningkatkan persistensi laba. Tingkat hutang akan menjadi besar apabila lebih banyak utang jangka panjang yang dimiliki perusahaan. Utang mengandung konsekunsi perusahaan dimana harus membayar bunga pokok pada saat jatuh tempo.

Apabila kondisi laba tidak menutup bunga dan perusahaan tidak dapat mengalokasikan dan untuk membayar pokoknya, maka akan menimbulkan resiko kegagalan. Oleh sebab itu, seberapa besar tingkat hutang yang diinginkan, sangat bergantung pada stabilitas perusahaan.

Penelitian tentang tingkat hutang dibuktikan dengan penelitian terdahulu mengenai pengaruh tingkat hutang terhadap persistensi laba dilakukan oleh sarah (2019) yang menyatakan bahwa tingkat hutang berpengaruh terhadap peristensi laba. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2020)

(40)

menyatakan bahwa tingkat hutang tidak berpengaruh terhadap perisitensi laba.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat di tarik hipotesis yaitu:

H2 : Tingkat Hutang berpengaruh terhadap Persistensi Laba pada Perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020

(41)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif.

Menurut Sugiyono (2014:32) metode penelitian kuantitatif merupakan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesiadi website yang dapat diakses melalui situs http://idx.co.id. .

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih tiga bulan, terhitung mulai bulan September sampai dengan bulan Noveber tahun 2021.

C. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi mengenaihal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini terdapat variabel yaitu sebagai berikut :

(42)

a. Variabel independen (variabel bebas) adalah variabel yang tidak terikat oleh variabel lainnya atau variabel yang menjadi sebab timbulnya variabel depende. Variabel independen dalam penelitian ini adalah book tax differences dan tingkat hutang.

b. Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang terikat oleh variabel lainnya. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah persistensi laba.

Pengukuran variabel dan indikator dalam penelitian ini disajiakan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3.1 Pengukuran Variabel

Variabel Definisi Indikator Skala

Data Book tax

differences

Pengertian Book Tax Differences adalah perbedaan besaran laba akuntansi atau laba komersial dengan laba fiskal atau penghasilan kena pajak

Book Tax Differences

BTD= ( )

Sumber. Putri (2017)

Rasio

Tingkat Hutang

Pengertian

Tingkat hutang adalah rasio untuk menghitung

seberapa jauh

dana yang

disediakan oleh kreditur juga sebagai rasio yang membandingkan total hutang terhadap

keseluruhan aset perusahaan`

Tingkat Hutang

Tingkat Hutang=

Rasio

Persistensi Laba

Pengertian

Persistensi Laba

Persistensi Laba Rasio

(43)

adalah suatu ukuran

menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang.

PL=

Sumber. Putri (2017)

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2018-2020 sebanyak 46 yang tercatat di Bursa Efek Indonesia hingga tahun 2020.

Adapun daftar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2 Daftar Perusahaan

NO

KODE SAHAM NAMA PERUSAHAAN

1. AGRO PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk

2. AGRS PT Bank IBK Indonesia

3. AMAR PT Bank Amar Indonesia Tbk

4. ARTO PT Bank Jago Tbk

5. BABP PT Bank MNC International Tbk 6. BACA PT Bank Capital Indonesia Tbk 7. BANK PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk

8. BBCA PT Bank Central Asia Tbk

(44)

9. BBHI PT Bank Harda Internasional Tbk

10. BBKP PT Bank KB Bukopin Tbk

11. BBMD PT Bank Mestika Dharma Tbk

12. BBNI PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 13. BBRI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)Tbk 14. BBSI PT Bank Bisnis Internasional Tbk

15. BBTN PT Bank Tabungan Negara Indonesia (Persero) Tbk

16. BBYB PT Bank Neo Commerce Tbk

17. BCIC PT Bank Jtrust Indonesia Tbk 18. BDMN PT Bank Danamon Indonesia Tbk

19. BEKS PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk

20. BGTG PT Bank Ganesha Tbk

21. BINA PT Bank Ina Perdana Tbk

22. BJBR PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk

23. BJTM PT Bank Pembangunan Daerah Jawa timur Tbk

24. BKSW PT Bank QNB Indonesia Tbk

25. BMAS PT Bank Maspion Indonesia Tbk 26. BMRI PT Bank Mandiri Persero Tbk 27. BNBA PT Bank Bumi Arta Tbk

28. BNGA PT Bank CIMB Niaga Tbk

29. BNII PT Bank Maybank Indonesia Tbk

(45)

30. BNLI PT Bank Permata Tbk

31. BRIS PT Bank Syariah Indonesia Tbk

32. BSIM PT Bank Sinarmas Tbk

33. BSWD PT Bank Of India Indonesia Tbk

34. BTPN PT Bank BTPN Tbk

35. BTPS PT Bank BTPN Syariah Tbk

36. BVIC PT Bank Victoria Internasional Tbk 37. DNAR PT Bank Oke Indonesia Tbk

38. INPC PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 39. MAYA PT Bank Mayapada Internasional Tbk 40. MCOR PT Bank China Construction Bank

Indonesia Tbk

41. MEGA PT Bank Mega Tbk

42. NISP PT Bank OCBC NISP Tbk

43. NOBU PT Bank Nationalnobu Tbk

44. PNBN PT Bank Pan Indonesia Tbk

45. PNBS PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk

46. SDRA PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk

(Sumber IDX) 2. Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive sampling. Adapun kriteria pemeilihan sampel adalah sebagai berikut :

(46)

a. Bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara berturut- turut selama periode 2018-2020

b. Bank yangkonsisten melaporkan laporan keuangannya secara berturut-turut selama periode 2018-2020

c. Bank tidak mengalami kerugian selama periode 2018-2020

d. Bank memiliki infornasi mengenai data yang berhubungan dengan penelitian seperti persitensi laba, book tax differences, dan tingkat hutang.

Dari total perusahaan yang terdaftar di BEI selama periode 2018-2020, perusahaan yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan untuk dapat dijadikan sampel adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Sampel Penelitian

No

Kriteria Sampel

Jumlah Perusahaan Sesuai Tidak

sesuai

1

Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek (BEI) Indonesia secara berturut-turut selama periode 2018-2020

46 (0)

2

Bank yang tidak mempublikasikan laporan keuangannya secara berturut- turut selama periode 2018-2020

44 (1)

3

Bank yang menerbitkan laporan

keuangannya dalam bentuk mata uang 46 (0)

(47)

rupiah selama periode 2018-2020

4

Bank yang memiliki informasi yang lengkap mengenai data yang berhubungan dengan penelitian seperti persitensi laba, book tax differences, dan tingkat hutang

46 (18)

Jumlah sampel yang diteliti 29

Jumlah tahun pengamat 3 tahun

Jumlah sampe data selama observasi (29x3) 87

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan dalam melakukan kegiatan penelitian. Ada beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pengumpulan data sekunder berupa data laporan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020.

2. Mengakses websiteresmi Bursa Efek Indonesia.

F. Teknik Analisis

1. Uji Asumsi Klasik

Tujuan dari pengujian asumsi klasik adalah uuntuk memberikan kepastian bahwa persamaan regresi yang didapatkan memiliki ketepatan salam estimasi, tidak bias dan konsisten. Terdapat tiga pengujian instrumen dalam penelitian ini yaitu :

(48)

a. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah pengujian tentang kenormalan data.

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel penganggu atau residual mempunyai distribusi normal. Uji normalis ini dilakukan untuk melihat apakah data terdistribusi secara normal atau tidak. Metode yang digunakan adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusikumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dan distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data akan dibandingkan dengan garis lurus. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Uji ini dengan melihat pedoman pengambilan keputusan dalam uji normalitas Kolmogrov-Smirnov (KS) yakni :

a. Jika nilai signifikan KS > 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal.

b. Jika nilai signifikan KS < 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal.

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi atau sempurna antaa variabel bebas (independen). Menurut Ghozali (2013:105)

(49)

model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen.

Dasar pengambilan keputusan pengujian multikolonieritas dapat dilakukan dengan dua cara, sebagai berikut :

a. Dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor). Jika nilai VIF <

dari 10.00 artinya tidak terjadi multikoloniearitas terhadap data yang diuji.

b. Dilihat dari nilai tolerance. Jika nilai tolerance . 0.10 artinya tidak terjadi multikoloniearitas terhadap data yang diuji.

c. Uji Heteroskedastisitas

Menurut Ghozali (2017:85) pengujian heteroskedatisitas dilakukan u ntuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadiketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamat ke pengamat lainnya. Jika varians dari residual satu pengamat ke pengamat lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Dasar pengambilan keputusan untuk uji heteroskedastisitas yaitu sebagai berikut :

a. Jika nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu metode regresi linerar terdapat korelasi antara kesalahan

(50)

penganggu pada periode t dengan kesalahan periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi dinamakan adanya probllem autokorelasi. Autokorelasi muncul disebabkan oleh residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari observasi ke observasi lainnya. Untuk mendeteksi adanya autokorelasi adalah dengan nilai Durbin Watson (DW-test) dengan ketentuan sebagai berikut :

a. DW < -2 maka terdapat autokorelasi positif

b. DW -2 sampai dengan +2 berarti tida ada autokorelasi c. DW >2 berarti ada autokorelasi negatif

2. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif adalah menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi (Sugiyono, 2014: 147). Analisis data yang digunakan adalah analisis maksimum, mimimum, rata-rata (mean) dan standar deviasi.

3. Analisis Statistik Inferensial

Analisis statistik infersial digunakan unntk mendeskripsikan data sampel dan hasilnya akan digeneralisasikan untuk populasi dimana sampel tersebut diambil. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda (multiple regression). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Model regresi dirumusan dengan persamaan sebagai berikut :

(51)

Y = α + β1X1 + β2 X2 + e

Ket. :

Y = Persistensi Laba α = Konstanta

X1 = Book Tax Differences X2 = Tingkat Hutang β = Koefisien regresi e = Error term (residual) 4. Uji Hipotesis

1. Uji Parsial (t-test)

Uji statistik T atau pengujian koefisien secara persial bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independens secara persial terhadap variabel dependen. Berikut adalah hipotesis statistik yang akan diuji yaitu :

a. Hipotesis Pertama

Ho1 : β1 = 0, artinya book tax differences tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Ha1 : β1 ≠ 0, artinya book tax differences berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

b. Hipotesis Kedua

(52)

Ho2 : β2 = 0,artinyatingkat hutang tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Ha1 : β2 ≠ 0, artinya tingkat hutang berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Uji Determinasi (R2-test)

Uji determinasi merupakan uji yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Menurut Ghozali (2012 :97) untuk ,mengetahui besarnya kontribusi variabel X terhadap naik turunnya variabel Y harus dihitung dengan menggunakan rumus koefisien determinasi (R2x 100) dengan syarat . Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai koefisien sebesar 1 menunjukkan bahwa variabel independen yang digunakan 100% tepat (sempurna) dalam menjelaskan variabel yang terjadi pada variabel dependen, dalam hal ini koefisien determinasi dicari untuk mengetahui seberapa besar book tax differencesdan tingkat hutang yang dapat dijelaskan oleh variasi persistensi laba secara bersama-sama.

(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia (BEI)

Sejarah pasar modal Indonesia dimulai sejak pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 Desember 1912 di Vereniging Voor De Effecten Handel.Tujuan didirikannya Burse Efek Batavia adalah dalam rangka menampung efek-efek yang dimiliki oleh orang Belanda yang diperjualbelikan Di Bursa Amsterdam. Efek yang diperjualbelikan merupakan saham dan obligasi perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda beserta efek-efek Belanda yang lain.

Bursa efek Indonesia merupakan bursa hasil dari gabungan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES), dimana BEI mulai beroperasi pada tanggal 1 Desember 2007. Bursa efek Indonesia sebagai fasilisator dan regulator pasar modal di Indonesia memiliki komitmen untuk menjadi Bursa efek yang sehat dan berdaya saing global. Bursa Efek Indonesia telah berhasil menerapkan pedoman, kerangka kerja serta prinsip-prinsip CG secara efektif dan efesien dalam kegiatan operasional perusahaan dan senantiasa memperbaiki praktik CG di masa yang akan datang.

(54)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia

1. Perbankan

1) PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk

PT. Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk didirikan pada tanggal 27 September 1989 oleh Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun).Pada tanggal 27 September 1989 Bank Agro didirikan dengan akte notaries Rd. Soekarsono, SH di Jakarta No. 27 dan memperoleh izin usaha dari menteri keuangan pada tanggal 11 Desember 1989, dan beroperasi secara komersial pada tanggal 8 Februari 1990. Bank AGRO diakuisisi oleh Bnak BRI pada tahun 2011 dan kemudian ditahun 2012 nama Bank

(55)

Agroniaga Tbk diganti menjadi Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. Pada tanggal 8 Agustus 2003 bank AGRO mencatat perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

2) PT Bank Amar Indonesia Tbk

PT Bank Amar Indonesia Tbk didirikan pada tahun 1991 di Surabaya dengan nama PT Anglomas International Bnak dan berganti nama menadi PT Bank Amar In donesia. Pada tanggal 9 Januari 2020 bank AMAR telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3) PT Bank Capital Indonesia Tbk

PT Bank Capital Indonesia berdiri sejk tahun 1989 tepatnya pada tanggal 20 April 1989 dengan nama PT Bank Credit Lyonnais Indonesia. Bank Capital terdaftar di Bursa Efek Indonesia tanggal 04 Oktober 2007.

4) PT Bank Central Asia Tbk

PT Bank Central Asia didirikan di Indonesia pada tanggal 10 Agustus 1955 dengan nama N.V Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory dan mulai beroperasi di bidang perbankan sejak tanggal 12 Oktober 1956. BBCA mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 31 Mei 2000.

5) PT Bank Mestika Dharma Tbk

PT Bank Mestika Dharma didirikan sejak tanggal 27 April 1955 dan mulai beroperasi secara kmersial pada tanggal 12 Desember 1956. Pada tanggal 28 Juni 2013 bank Mestika memperoleh pernyataan dari OJK untuk melakukan

(56)

penawaranumum perdana saham, dan saham BBMD mulai tercatat di bursa Efek Indonesia tanggal 8 Juli 2013.

6) PT Bank Negara Indonesia (pesero) tbk

PT Bank Negara Indonesia didirikan pada tanggal 05 Juli 1946 di Indonesia.Tahun 1968, Bni ditetapkan menjadi “Bank Negara Indonesia” dan statusnya menjadi Bank Umum Milik Negara.BBNI tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 25 November 1996.

7) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

PT Bank Rakyat Indonesia lahir pada tanggal 16 Desember 1895. Awal perjalanan berdirinya Bank Rakyat Indonesia dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden yang artinya Bank Bantuan dan simpanan milik kaum priyayi Purwokerto, yaitu orang-orang pribumi yang berkebangsaan Indonesia saja. BBRI tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 10 November 2003.

8) PTBank Tabungan Negara Indonesia (Persero) Tbk

PT Bank Tabungan Negara Indonesia didirikan pada tanggal 9 Februari 1950 dengan nama Bank Tabungan Pos.

BBTN mulai dicatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 17 Desember 2009.

9) PT Bank Danamon Indonesia Tbk

PT Danamon Indonesia berdiri sejak tahun 1956 tepatnya tanggal 16 Juli 1956 dengan nama PT Bank Kopra. Tanggal 24 Oktober 1989 BDMN memperoleh pernyataan efektif dari menteri

(57)

keuangan untuk melakukan penawaran umum perdana saham BDMN.Tanggal 06 Desember 1989 BDMN mulai di catat di Bursa Efek Indonesia.

10) PT Bank Ganesha Tbk

PT Bank Ganesha didirikan pada tanggal 15 Mei 1990 dan mulai beroperasi pada tanggal 30 April 1992.BGTG mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 12 Mei 2016.

11) PT Bank Ina Perdana Tbk

PT Bank Ina Perdana didirikan pada tanggal 9 Februari 1990 dan beroperasi secara komersial tahun 1991.BINA mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 16 Januari 2014.

12) PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat didirikan pada tanggal 08 April 1999.BJBR mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8 Juli 2010.

13) PT Bank Pembangunan Jawa Timur Tbk

PT Bank Pembangunan Jawa Timur didirikan pada tanggal 17 Agustus 1961.BJITM Mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 12 Juli 2012.

14) PT Bank Mandiri Persero Tbk

Bank Mandiri didirikan di Indonesia pada tanggal 2 Oktober 1998.Sejak saat itu pemerintah sedang berusaha menanggulangi krisis ekonomi sejak thun 1997. Upaya pemerintah menanggulangi masalah pada saat itu adalah dengan melakukan restrukturisasi, salah satunya dialami oleh bank mandiri , dimana

(58)

4 bank pemerintah digabungkan menjadi bank mandiri pada tanggal 31 Juli 1999. BMRI mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 14 Juli 2003.

15) PT Bank Bumi Arta Tbk

PT Bank Bumi Arta didirikan mulai tanggal 03 Maret 1967.

Pada tanggal 18 mei 2006 BNBA memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan penawaran umum perdana saham BNBA. BNBA mulai tercatat di bursa efek Indonesia pada tanggal 01 Juli 2006.

16) PT Bank Cimb Niaga Tbk

PT Bank Cimb Niaga didirikan pada tanggal 04 November 1955, BNGA telah mengalami penggabungan selama empat kali.BNGA mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 29 November 1989.

17) PT Bank Maybank Indonesia Tbk

PT Bank Maybank Indonesia didirikan pada tanggal 15 Mei 1959.Pada tanggal 31 Maret 1980 Bank Maybank melakukan penggabungan usaha dengan PT Tabungan untuk umum 1859.BNII mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 21 November 1989.

18) PT Bank Permata Tbk

PT Bank Permata didirikan pada tanggal 18 Oktober 2002.

Bank permata merupakan hasil penggabungan dari lima bank yaitu Bank Bali, Bank Universal, Bank Prima Express, Bank

(59)

Artamedia, dan Bank Patriot. BNLI mulai terddaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 15 Januari 1990.

19) PT Bank Syariah Indonesia Tbk

PT Bank Syariah Indoensia didirikan pada tanggal 3 April 1969 dengan nama Bank Djasa Arta. BRIS mulai terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 09 Mei 2018.

20) PT Bank Sinamarmas Tbk

PT Bank Sinarmas didirikan pada tanggal 18 Agustis 1989 dengan nama PT Bank Shinta Indonesia. tanggal 13 Desember 2010 bank sinarmas melakukan penawaran saham umum perdanan IPO dan pada tanggal 13 Desember 2010 BSIM terdafar di Bursa Efek Indonesia.

21) PT Bank BTPN Tbk

PT Bank BTPN didirikan di Bandung pada tahun 1958.

Pada tahun 1960, BTPN memperoleh izin sebagai bank komersial, pada tanggal 1986 berganti nama menjadi PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional. BTPN mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 12 Maret 2008.

22) PT Bank BTPN Syariah Tbk

PT Bank BTPN Syariah pada tanggal 14 Juli 2014, dibentuk melalui preses konversi PT Bank Sahabat Purbadanarta dan spin off Unit usaha BTPN. Tanggal 8 Mei 2018 BTPN Syariah resmi menjadi perusahaan publik dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual .............................................................................
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Tabel 3.1 Pengukuran Variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Persistensi Laba, Book Tax Differences, Investment Opportunity Set dan Struktur Modal Terhadap Kualitas Laba dengan Konservatisme Akuntansi Sebagai Variabel Moderasi