PENGARUH EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH PADA KANTOR WALIKOTA MAKASSAR
PROVINSI SULAWESI SELATAN.
Deltiana Desi1, Rahmawati Umar2, Sukardi3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
The research aims to determine and analyze the level of effectiveness and efficiency of regional budget management at Makassar Mayor's Office, South Sulawesi Province. The research method used quantitative, data collection used observation, interview, and documentation. The data analysis technique used effectiveness and efficiency ratios. The results of this study showed that: first, the effectiveness ratio analysis seen from the realization of PAD revenue in 2017 amounted to 173,412,430,770.73, in 2018 it was 272,358,289,419.35, and in 2019 it was 174,757,265,684.91, divided by the target of PAD revenue determined in 2017 amounted to 173,408,850,000.00, in 2018 amounted to 272,353,939,000.00, and in 2019 amounted to 174,757,015,684.91 times 100% the result is 100%. This shows that the measurement of the effectiveness ratio in terms of regional budget management has reached the effective category.
Second, the analysis of the efficiency ratio seen from the costs incurred to obtain PAD in 2017 amounted to 3,312,532,290,887.44, 2018 amounted to 3,522,986,464,897.09, and in 2019 amounted to 3,548,006,636,749.30, divided by revenue realization. PAD in 2017 amounted to 3,416,355,218,701.10, 2018 amounted to 3,428,479,729,162.65, and in 2019 amounted to 3,666,359,990,154.91 times 100% the result for 2017 was 97%, in 2018 was 103%, in 2019 amounted to 97%. This shows that the measurement of the efficiency ratio in terms of regional budget management does not reach the efficient category.
Keywords: Effectiveness, Efficiency, Regional Budget Management.
PENDAHULUAN
Otonomi dijalankan sebagai wujud pelaksanaan asas desentralisasi agar pelaksanaan urusan pemerintahan berjalan dengan tertib. Dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang tertib maka pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dijalankan oleh pemerintah bersama lembaga legislatif.
Reformasi yang terjadi juga berdampak pada pengelolaan keuangan pada sektor pemerintahan sehingga pada saat itu akuntansi keuangan mendapat perhatian besar dari berbagai pihak. Perhatian besar terhadap akuntansi keuangan tersebut terjadi karena adanya kebijakan dari Pemerintah RI untuk mereformasi berbagai hal termasuk keuangan . Keuangan merupakan dana yang telah menjadi hak daerah.
Daerah wajib mengelola dana tersebut sebagaimana yang tertuang dalam kerangka APBD. APBD sendiri dapat diartikan sebagai anggaran keuangan pada 1 tahun dinas anggaran dijalankan. Anggaran keuangan
tersebut dimusyawarahkan dan disahkan oleh pemerintah bersama dewan legislatif serta ditetapkan dengan peraturan daerah (Maharani, 2018). APBD memegang fungsi otorisasi dimana APBD merupakan sebuah acuan dalam mengelola anggaran yang mana anggaran tersebut digunakan untuk pelaksanaan kegiataan penerimaan dan belanja.
APBD memegang fungsi perencanaan yang artinya bahwa anggaran merupakan pedoman penyusunan rencana kegiatan pada tahun yang bersangkutan. APBD memegang fungsi pengawasan sehingga APBD merupakan tolak ukur dalam menilai pelaksanaan program yang direncanakan.
APBD memegang fungsi alokasi yang artinya pengalokasian APBD tersebut diharapkan dapat mendukung perekeonomian daerah.
APBD memegang fungsi distribusi yang mana dalam pengalokasian dana, APBD harus memperhatikan rasa keadilan dan keparuhan yang terakhir APBD memegang fungsi stabilisasi yang berarti bahwa APBD
merupakan tolak ukur keseimbangan perekonomian (Permendagri No.13 tahun 2006). Komponen keuangan daerah terdiri dari pendapatan, belanja dan pembiayaan.
Pendapatan daerah merupakan komponen pertama dalam struktur APBD yang mengacu pada semua penerimaan uang/ kas yang mutlak menjadi milik pemerintah dan keberadaanya dapat menambah saldo pada kas umum.
Belanja merupakan komponen kedua dalam struktur APBD. Belanja adalah uang yang dikeluarkan oleh daerah untuk pengalokasian yang berkaitan dengan pelayanan umum dan aktivitasnya dapat mengurangi saldo anggaran dalam kas. Menurut Sitompul (2018)
“Pembiayaan merupakan komponen ketiga dalam struktur APBD dimana komonen tersebut memuat seluruh penerimaan yang perlu dibayar kembali atau tidak perlu dibayar kembali baik pelaksanaan anggaran pada tahun yang berjalan maupun anggaran yang ditetapkan pada tahun berikutnya. Aktivitas penatausahaan keuangan dilaksanakan oleh PPKD yang bertindak sebagai entitas pengendali anggaran daerah. Sedangkan pejabat yang terlibat dalam aktivitas tersebut adalah bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. Pengelolaan keuangan di Indonesia dikatakan masih banyak hambatan sehingga kegiatan pengelolaan masih belum optimal. Belum optimalnya pengelolaan di Indonesia dikarenakan masih didapati masalah yang yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
Masalah tersebut harus segera diatasi agar peneglolaan keuangan di Indonesia bisa menjadi optimal dan berjalan sesuai dengan azas umum pengelolaan keuangan daerah yang sudah ditetapkan oleh undang-undang.
Dibawah ini disajikan tabel perkembangan pendapatan asli daerah dan belanja daerah kantor walikota makassar provinsi Sulawesi selatan.
Tabel 1. Pengelolaan Anggaran Belanja Daerah Pemerintah Walikota Makassar
Provinsi Sulawesi Selatan Dari Tahun 2017-2019 (Dalam Jutaan) Tahu
n
Pendapatan asli daerah
Belanja daerah
Persentas e
(%) 2017 1.337.231.09
4.232,10
3.312.532.2 90.887,44
41%
2018 1.185.453.01 0.989,65
4.086.495.3 59.000,00
29%
2019 1.303.316.33 7.553,94
4.176.183.5 31.400,91
31%
Sumber: Pemerintah Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan (2020).
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa pada tahun 2017 sebesar 41%, pada tahun 2018 29%, dan pada tahun 2019 31%. Dapat dilihat pada tahun 2017 pengelolaan keuangan pada kantor walikota makassar provinsi Sulawesi selatan jika dihitung dengan rasio efektivitas belum mencapai kriteria efektif sedangkan jika dihitung menggunakan rasio efisiensi pengelolaan keuangan pada kantor walikota makassar provinsi Sulawesi selatan sudah mencakup kriteria sangat efisien. Pada tahun 2018 sebesar 29% itu berarti jika dihitung dengan menggunakan rasio efektivitas belum mencapai efektif atau sangat efektif sedangkan jika dihitung menggunakan rasio efisiensi sudah efisien. pada tahun 2019 sebesar 31%,jika dihitung menggunakan rasio efektivitas belum efektif, sedangkan jika dihitung dengan menggunakan rasio efisiensi sudah mencapai kriteria efisien.
Penganalisaan terhadap penerimaan daerah merupakan suatu usaha pengamatan kinerja keuangan yang mengacu pada aktualisasi pendapatan dan perkiraan pendapatan. Tingkat efisien dan efektinya keuangan dapat dilihat melalui kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Keuangan dikatakan efisien apabila persentase dari hasil perhitungan rasio efisiensi berada dibawah 60% namun apabila persentase tersebut lebih dari 100% maka keuangan daerah dikatakan sangat tidak efisien. Berbeda dengan efektivitas keuangan daerah. Keuangan daerah dapat dikatakan efisien apabila persentase dari hasil perhitungan rasio berada di atas 100% namun apabila persentase tersebut berada di bawah 60% maka keuangan daerah dikatakan sangat tidak efektif. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut efisiensi dan efektivitas pengelolaan APBD. Maka dari itu peneliti mengambil judul “Pengaruh Efektivitas Dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Pada Kantor Walikota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Rumusan permasalahan yang hendak dianalisis dalam penelitian ini adalah:
Bagaimanakah Tingkat Efektivitas Pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Pada Kantor Walikota Makassar
Provinsi Sulawesi Selatan. Bagaimanakah Tingkat Efisiensi Pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Pada Kantor Walikota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah: Untuk Menngetahui dan Menganalisis Tingkat Efektivitas Pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Pada Kantor Walikota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan
TINJAUAN LITERATUR
Sesuai dengan pp Nomor 58 tahun 2005, keuangan daerah didefinisikan sebagai semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.sedangkan menurut UU Nomor 23 tahun 2014, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Menurut Faud (2015) Akuntansi keuangan daerah menurut accounting principles board adalah suatu kegiatan jasa yang fungsinya menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomi, digunakan untuk pengambilan keputusan ekonomi dalam membuat pilihan pilihan arah tindakan.dari definisi tersebut dapat disempulkan bahwa peran akuntasi adalah menyediakan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan, tentang etintas ekonomi, dan informasi yang dihasilkan oleh akuntansi yang dimaksud agar berguna sebagai input yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang rasional.
Tujuan diaturnya keuangan daerah oleh pemerintah daerah adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan sumber daya keuangan daerah, meningkatkan kesejahteraan daerah dan mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat.singkatnya, dapat disebutkan bahwa keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban pemerintah daerah dalam bentuk uang (rupiah) yang dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah.
Menurut Karyanga (2017) Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan pejabat pengelola keuangan daerah sesuai dengan kedudukan dan kewenangannya yang meliputi kegiatan: Perencanaan, Pelaksanaan, pelaksaan, dan pertanggung jawaban.hal yang paling penting dalam menata pengelolaan keuanga Negara/daerah saat ini adalah ketrtiban dan keterbukaan dalam menerapkan asas asas hokum beranggaran, sehingga ada ketepatan waktu dalam melaksanakan siklus anggaran pada setiap tahun angaran oleh pemerintah daerah dan DPRD. Beberapa asas penting dalam pengelolaan keuangan Negara/daerah yang hurus dilaksanakan dan menjadi bagian penting dari spirit politik anggaran yaitu: asas tahunan, asas universalitas, asas akuntabilitas, asas transparansi, asas pemeriksaan keuangan.
Menurut Siregar (2017) Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggung jawaban, dan pengawasan keuangan daerah.
objek pengelolaan keuangan daerah adalah keuangan daerah. keuangan Negara diatur dalam undang-undang No.17 tahun 2003 tentang keuangan Negara. keuangan daerah diatur dalam peraturan menteri dalam negeri (permendagri) No.13 tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah.
Menurut Ratmono & Sholihin, kerangka konseptual akuntansi pemerintahan, terdapat beberapa kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah daerah yaitu antara lain;
Masyarakat Informasi tentang pertanggung jawaban pelaksanaan APBD dibutuhkan oleh masyarakat dalam menilai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah yang pendanaanya sebagian besar dari pembayaran pajak dan retribusi yang dilajkukan oleh rakyat.
Para wakil rakyat (DPRD) Lembaga legislatif berkepentingan terhadap informasi yang dihasilkan oleh akuntasi keuangan daerah dalam rangka mengawasi dan menjaga keseimbangan terhadap kemungkinan penyalagunaan kekuasaan.
Menurut Mardiasmo (2018) Anggaran merupakan alat bagi pemerintah daerah untuk mengarahkan dan menjamin kesinambungan pembangunan, serta meningkatkan kualitas hidup masyararakat. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan
masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumberdaya yang ada terbatas. anggaran diperlukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya (scarcityof reseurces), pilihan (choice), dan trade-0ffs.
Menurut Anggoro (2017) Sumber- sumber yang bisa dikembangkan daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah: pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, pendapatan asli daerah yang sah.
Menurut Ranbe & Rasdianto (2015) Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomik yang timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode jika arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Menurut Amin dalam Halim (2002) dengan mengutip dari IASC framework menjelaskanbahwa biaya atau belanja daerah merupakan penurunan dalam manfaat ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk arus keluar, atau deplasi asset, atau terjadinya hutang yang mengakibatkan berkurangnya ekuitas dana, selain yang berkaitan dengan distribusi kepada para peserta ekuitas dana.sedangkan menurut undang-undang republik Indonesia Nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, belanja daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Pp No. 24 tahun 2005 tentang standar akuntansi pemerintahan, menyatakan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum Negara/daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam priode tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan di peroleh pembayaranya kembali oleh pemerintah.
Sector public sering dinilai sebagai sarang inefisiensi, pemborosan, sumber kebocoran dana, dan institusi yang selalu merugi.oleh karena itu Novlie Manopo, Debby Rotinsulu, Sri Murni dalam (mardiasmo 2004) mendefinisikan bahwa: Efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. secara sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output. Efisiensi adalah pencapaian output yang maximum dengan input tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk
mencapai output tertentu. efisiensi merupakan perbandingan yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.
Efektivitas terkait dengan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan. maka semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. efektivitas lebih berfokus pada pencapaian hasil (outcome).
dengan demikian efektivitas dapat dirumuskan sebagai berikut (Mahnudi, 2007):
Efektivitas
=
Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. semakin besar output di banding input. maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi (Mardiasmo 2004;133). dengan demikian efisiensi dapat dirumuskan sebagai berikut:
Efesiensi=
%
METODE PENELITIAN
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. untuk melakukan analisis dengan metode kuantitatif menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabel. Variabe-variabel ini diukur (biasanya dengan instrument penelitian) sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur statistik, (Noor, 2017).
Lokasi penelitian ini dilaksanakan pada kantor walikota makassar provinsi Sulawesi selatan. Jln. Ahmad Yani No 2 Kota Makassar Sulawesi selatan. waktu penelitian selama 2 bulan, mulai bulan november sampai dengan bulan desember tahun 2020.
Adapun jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Data kualitatif. Data Kualitatif merupakan analisa nonstatistik yang membantu dalam penelitian, data data yang diperoleh baik yang berupa angka maupun yang berupa tabel kemudian ditafsirkan dengan baik. sesuai dengan data yang diperoleh, analisis kualitatif digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel terpengaruh dengan yang mempengaruhi.
Dengan kata lain, analisis kualitatif cendrung dilakukan untuk data yang bersifat kualitatif yang dikumpulkan dari riset exploratory (wawancara, diskusi, teknik proyeksi yaitu berupa kata kata atau kalimat disebut juga data verbatim (Sudman Dan Blair, 1998). Data kuantitatif adalah analisis yang menggunakan rumus rumus statistiK yang disesuaikan judul penelitian dan rumusan masalah, untuk perhitungan angka angka dalam rangka menganalisis data yang diperoleh. Analisis kuantitatif ini dapat dilakukan perhitungan manual atau dengan komputer program statistic seperti program SPSS. Karena dengan bantuan perhitungan computer program statistic selain cepat, juga hasilnya lebih akurat.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Data Primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dilapangan penelitian melalui observasi, wawancara atau kuesioner.jadi, sumber primer merupakan sumber langsung (subjek pertama) yang memberikan data penelitian. Data sekunder adalah subjek kedua dimana data penelitian diperoleh yang selanjutnya disebut sebagai data sekunder. jadi data sekunder adalah data yang diperoleh dari tangan kedua berupa artikel ilmiah, arsip, laporan, buku, majalah, catatan publik atau gambar-gambar.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah: Observasi, melalui cara ini penulis menginginkan akan dapat memakai kondisi objektif berbagai hal yang menjadi sasaran penlitian, yaitu melakukan tinjauan langsung ke lokasi penelitian guna mengamati obyek-obyek penelitian.
Peneliti melakukan wawancara dengan sejumlah responden yang menurut pengamatan penulis dapat mewakili populasi yang ada.
Dokumentasi, metode pengumpulan data ini dengan menggunakan dokumen-dokumen atau catatan tertulis yang didapat di prusahaan yang berkaitan dengan keuangan daerah.
Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian merupakan petunjuk untuk mencari data maupun segala informasi di lapangan, baik dengan menggunakan data sekunder, observasi maupun pengumpulan data primer dengan menggunakan metode survei, kemudian penulis bisa ditarik kesimpulannya berdasarkan judul penelitian penulis pada kantor walikota Makassar provinsi Sulawesi selatan., maka variabel dalam penelitian ini menggunakan: Rasio efektivitas, adalah
tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. secara sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output, Rasio efisiensi, adalah pencapaian output yang maximum dengan input tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu.
efisiensi merupakan perbandingan output/input.yang di kaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.
Tabel 2. Pedoman penilaian dan kinerja efektivitas terhadap PAD Persentase kinerja
keuangan (%)
Kriteria 100 – ke atas Sangat efektif
90 – 100 Efektif
80 - 90 Cukup efektif
60 – 80 Kurang efektif
Di bawah 60 Tidak efektif Sumber : Sudaryo et al, dalam (Mohamad
Mahsun, 2006).
Tabel 3. Pedoman Penilaian Dan Kinerja Efisiensi Keuangan
Persentase kinerja keuangan (%)
Kriteria
Di bawah 60 Sangat efisien
60 – 80 Efisien
80 – 90 Cukup efisien
90 – 100 Kurang efisien 100 – ke atas Tidak efisien
Sumber : Sudaryo et al, dalam (Mohamad Mahsun, 2006).
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis pengelolaan keuangan pemerintah walikota makassar provinsi sulawesi selatan dalam penelitian ini adalah suatu proses yang dilakukan secara sistematik dan berkesinambungan dalam hal penilaian tingkat keberhasilan maupun tidak keberhasilan atas pelaksanaan kegiatan kerja pemerintah kota makassar dalam bidang keuangan dalam kurun waktu 2017-2019. Alat yang digunakan dalam mengukur pengelolaan keuangan pemerintah walikota makassar provinsi sulawesi selatan diantaranya dengan menggunakan Rasio keuangan daerah, dimana
rasio keuangan daerah tersebut meliputi rasio efektivitas PDA, dan rasio efisiensi.
Penggunaan rasio keuangan daerah ini dilakukan atas data yang bersumber dari laporan realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah walikota makassar provinsi sulawesi selatan yang diperoleh dari Badan pengelolaan keuangan dan aset kota makassar. Dari hasil analisis data dengan menggunakan alat rasio keuangan ini nantinya akan diketahui gambaran dan tingkat pencapaian pengelolaan keuangan pemerintah kota makassar. Adapun hasil analisis dari rasio tersebut yaitu:
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan target yang ditetapkan berdasarkan potensi ril daerah. Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen, semakin tinggi rsio efektivitas menggambarkan menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.
Kriteria yang digunakan untuk mengukur efektivitas yaitu jika rasio diatas 90%.
Untuk melihat efektivitas dari pendapatan asli daerah pada kantor walikota makassar provinsi sulawesi selatan selama 3 tahun dari tahun 2017-2019 dilakukan dengan menganalisis rasio efektivitas sebagai berikut:
Efektivitas=
%
Tahun 2017 =
= 100%
Tahun 2018 = = 100%
Tahun 2019 = = 100%
Rasio efektivitas pada kantor walikota makassar provinsi sulawesi selatan dapat dihitung sebagai berikut:
Tabel 4. Perhitungan Rasio Efektivitas Dari Tahun 2017-2019 Tentang PAD Pemerintah
Walikota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Target penerimaan
PAD yang ditetapkan
Realisasi penerimaa n PAD
Pers enta se (%)
Keter angan
2017 173.408.850.
000,00
173.412.43 0.770,73
100
%
Efektif
2018 272.353.939.
000,00
272.358.28 9.419,35
100
%
Efektif
2019 174.757.015.
684,91
174.757.26 5.684,91
100
%
Efektif
Sumber: data diolah (2020).
Rasio efektivitas pada pemerintahan walikota makassar provinsi Sulawesi selatan dalam 3 tahun terakhir (2017-2019) perhitungan PAD dengan menggunakan rasio efektivitas mencapai persentase 100% dan tergolong kriteria efektif.
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rasio efektivitas PAD pada pemerintahan walikota makassar provinsi Sulawesi selatan tahun anggaran 2017-2019 adalah baik karena persentasenya efektif yaitu dari tahun 2017- 2019 dengan rata-rata yaitu 100%. Jadi pengeloaan keuangan pada pemerintahan walikota makassar provinsi Sulawesi selatan dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi ril daerah adalah efektif.
Jika persentasenya dibawah 60% dikatakan tidak efektif. Analisis rasio efisiensi untuk memperoleh ukuran yang lebih baik,rasio efektivitas perlu diperbandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah. rasio efisiensi menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.kinerja pemerintah daerah dikatakan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 10 (sepuluh) persen.
Semakin kecil rasio efisiensi menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.
Untuk melihat efisiensi dari pendapatan asli daerah pada kantor walikota makassar provinsi sulawesi selatan selama 3 tahun dari tahun 2017-2019 dilakukan dengan menganalisis rasio efisiensi sebagai berikut:
Efesiensi=
%
Tahun 2017 = %
= 97%
Tahun 2018 = = 103%
Tahun 2019 = = 97%
Rasio efisiensi pada kantor walikota makassar provinsi sulawesi selatan dapat dihitung sebagai berikut:
Tabel 5. Perhitungan Rasio Efisiensi Pada Tahun 2017-2019 Tentang PAD Pemerintah
Walikota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Tahu n
Realisas i penerim
aan PAD
Biaya pemungut
an PAD
Perse ntase (%)
Ketera ngan
2017 3.416.35 5.218.70 1,10
3.312.532 .290.887, 44
97% Tidak efisien
2018 3.428.47 9.729.16 2,65
3.522.986 .464.897, 09
103
%
Tidak efisien 2019 3.666.35
9.990.15 4,91
3.548.006 .636.749, 30
97% Tidak efisien Sumber: data diolah (2020).
Pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa rasio efisiensi PAD pemerintah walikota makassar provinsi Sulawesi selatan pada tahun 2017 sebesar 97% kemudian pada tahun 2018 meningkat menjadi 103% dan pada tahun 2019 kembali mengalami penurunan menjadi 97%.
jika dilihat secara keseluruhan rasio efisiensi keuangan pemerintah walikota makassar provinsi Sulawesi selatan selama tiga tahun termasuk kedalam kriteria tidak efisien. Jika persentasenya dibawah 60% dapat dikatakan sangat efisien.
Rasio Efektivitas PAD, berdasarkan perhitungan rasio efektivitas pendapatan asli daerah (PAD) menunjukan bahwa anggaran PAD pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan selalu mengalami peningkatan dari tahun ketahun pada tahun 2017 pendapatan asli daerah dianggarkan sebesar Rp 1.484.865.937.000,00 atau sebesar 111% dari total anggaran Pendapatan tahun 2018 anggaran PAD kembali peningkatan menjadi Rp 1.503.411.219.000,00 atau naik
sebesar 127% dari total anggaran pendapatan sebelumnya kemudian pada tahun 2019 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp 1.624.776.235.586,00 atau sebesar 125% dari total anggaran pendapatan sebelumnya.
Berdasarkan perhitungan rasio efektivitas PAD efektivitas kinerja keuangan pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan periode 2017-2019 memiliki rata-rata rasio efektivitas sebesar 121% dan dikategorikan sangat efektif. Ini berarti pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan sangat efektif dalam melakukan pengelolaan keuangan dimana realisasi PAD mencapai target dengan nilai 120% yaitu pada tahun 2017 rasio efektivitas PAD nya sebesar 100%, pada tahun 2018 100% dan pada tahun 2019 100%. Kinerja pengelolaan keuangan pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan dalam merealisasikan pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang dipisahkan sebagai sumber pendapatan daerah dianggap belum membaik.
Rasio Efisiensi Keuangan Daerah, berdasarkan perhitungan pada rasio efisiensi keuangan daerah diketahui realisasi total pendapatan daerah pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan pada tahun anggaran 2017 hingga pada tahun 2019 mengalami penurunan, pada tahun 2017 pendapatan daerah pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan sebesar Rp 1.484.865.937.000,00 kemudian pada tahun 2018 Rp 1.503.411.219.000,00 dan pada tahun 2019 pendapatan daerah provinsi Sulawesi selatan Rp 1.624.776.235.586,00. Sedangkan untuk belanja daerah pada pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan mengalami peningkatan selama tiga tahun pada tahun 2017-2019. Dimana pada tahun 2017 total belanja daerah sebesar Rp 3.685.763.117.000,00 dan pada tahun 2018 naik menjadi Rp 4.086.495.359.000,00 selanjutnya pada tahun 2019 sebesar Rp 4.176.183.531.400,91 naik dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan perhitungan pada rasio efisiensi keuangan daerah, pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan terkait dengan kinerja pengelolaan keuangan daerahnya termasuk kedalam kriteria tidak efisien karena memiliki rata-rata rasio efisiensi sebesar 99% atau lebih 100%. Pada tahun
2017 rasionya sebesar 97%, pada tahun 2018 sebesar 103% kemudian pada tahun 2019 sebesar 97%. Hal ini terjadi dikarenakan kemampuan pemerintah kota makassar provinsi Sulawesi selatan yang mampu menekan pengeluaran atau belanja daerahnya dengan baik pada saat melakukan pemungutan pendapatan daerahnya.
PENUTUP
Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pengelolaan keuangan pemerintah kota makassar provinsi sulawesi selatan sudah berjalan dengan baik dan sudah mencapai standar efektif yaitu sebesar 100%, yang diukur dengan menggunakan analisis rasio efektivitas. Pengelolaan keuangan pemerintah kota makassar provinsi sulawesi selatan belum berjalan dengan baik dan belum mencapai standar efisien dimana hasil pengukuran analisis rasio efisien untuk tahun 2017 sebesar 97%, tahun 2018 sebesar 103%, dan tahun 2019 sebesar 97%.
Berdasarkan penelitian yang dijalani, penulis memiliki beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi masukan yang mungkin dapat bermanfaat. Bagi pemerintah walikota makassar provinsi sulawesi selatan terus mengupayakan semaksimal mungkin untuk menjadikan pengelolaan anggaran pendapatan belanja daerah seefektif dan seefisien mungkin, sehingga manfaat dari pengelolaan anggaran pendapatan belanja daerah ini dapat memberikan manfaat yang besar untuk semua masyarakat dan pemerintah kota makassar. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan anggaran pendapatan belanja daerah pada kantor walikota makassar provinsi sulawesi selatan.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, F. (2019). Penganggaran Di Pemerintah Daerah. Cetakan Pertama. Malang:
UB Press.
Anggoro, D. D. (2017). Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Cetakan Pertama.
Malang: UB Press.
Erlina. Rambe .& Rasdianto. (2015).
Akuntansi Keuangan Daerah..Medan:
Penerbit Salemba Empat
Faud, M. R. (2015). Pengantar Akuntansi Keuangan Daerah. Cetakan Pertama.
Makassar.Ghalia Indonesia.
Herlianto, D. (2015). Anggaran Keuangan.
Cetakan Pertama. Yogyakarta: KDT.
Karianga, H. (2017). Carut-Marut Pengelolaan Keuangan Daerah Di Era Otonomi Daerah. Edisi Pertama. Depok:
Kencana.
Mardiasmo. (2018). Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Edisi Terbaru.
Yogyakarta: Andi.
Manopo, N. Rotinsulu, C. D Sri& Murni. (20 esia..19). Analisis Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal. Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi.
Nasution, D. A. D. (2019). Akuntansi Sektor Publik. Cetakan Pertama.Sidoarjo:
Uwais Inspirasi Indon.
Putra, W. (2018). Tata Kelola Ekonomi Keuangan Daerah. Cetakan Ke-1.
Depok: Kharisma Putra Utama Offest.
Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Ratmono & Sholin. (2015). Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi 1.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Siregar, B. (2017). Akuntansi Sektor Publik.
Edisi Kedua. Yogyakarta: Stim Ykpn.
Sudaryo, Y. Sjarif, D.&Sofiati, N. A (Efi).
(2017). Keuangan Di Era Otonomi Daerah. Percetakan:Cv. Andi Offset.
Yogyakarta: Andi.