PENGARUH INFLUENCER MARKETING DAN BRAND IMAGE TERHADAP MINAT BELI PRODUK FASHION PADA
GENERASI Z
(Studi pada Konsumen Produk Fashion Brand Erigo)
MUH. RIDHO NURHALIM 220903501110
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2024
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dunia marketing merupakan ranah yang dinamis, penuh kreatifitas, dan sarat strategi. Di era modern ini, marketing berperan penting dalam mennghubungkan bisnis dengan konsumen untuk mencapai simbiosis mutualisme.
Singkatnya, strategi marketing yang efektif memastikan produk atau layanan yang ditawarkan bisnis diketahui, diminati, dan dibeli oleh konsumen.
Revolusi industri pada abad ke-18 dan 19 membawa perubahan besar pada dunia marketing. Produksi massal memungkinkan Perusahaan untuk memproduksi barang dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah. Hal ini mendororong perkembangan Perusahaan untuk mengembangkan strategi marketing yang lebih efektif untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Pada abad ke-20 penemuan media massa seperti surat kabar, radio, dan televisi membuka peluang baru bagi marketing. Perusahaan mulai menggunakan media massa untuk mengiklankan produk mereka kepada konsumen yang lebih luas,
Pada era digital seperti sekarang yang di mulai pada akhir abad ke-20 membawa perubahan revolusioner yang sangat signifikan pada dunia marketing.
Munculnya internet dan teknologi komunikasi lainnya memungkinkan Perusahaan untuk menjangkaku konsumen secara langsung dan personal. Dunia marketing terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Tren marketing baru, seperti penggunaan keerdasan buatan (AI) dan analitik data, influencer marketing, focus pada customer experience, dan pemasaran berkelanjutan, perlu dipahami dan diimplementasikan untuk tetap kompetitif. Dunia marketing modern terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Salah satu fokus utama dalam marketing modern adalah influencer marketing.
Influencer marketing adalah proses mengidentifikasi dan mengaktifkan individu-individu yang memiliki pengaruh terhadap audiens tertentu dan melibatkan mereka dalam kampanye produk dengan tujuan meningkatkan penjualan, jangkauan, dan hubungan pelanggan (Sudha & Sheena, 2017).
Influencer ini, dengan pengikut yang besar dan loyal, memiliki kemampuan untuk menjangkau konsumen secara lebih personal dan membangun kepercayaan dengan mereka. Influencer marketing telah menjadi salah satu strategi marketing yang paling diminati di era digital. Brand memanfaatkan kekuatan influencer ini untuk menjangkau konsumen secara lebih efketif. Influencer, dengan pengikut yang besar dan loyal di media sosial, memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan pembelian pengikut mereka. Selain itu strategi pemasaran ini, Influencer marketing menekankan pada perilaku konsumen, salah satunya terhadap minat beli.
Brand image adalah tanggapan konsumen akan suatu merek yang didasarkan atas baik dan buruknya merek yang diingat konsumen (Keller 2020, hlm. 3). Jika dilihat dari sudut pandang pelaku bisnis, mengelola brand image merupakan langkah pertama untuk mengenalkan sebuah barang atau jasa pada konsumen.Kemudianakanberubahmenjadi strategi marketing untuk mempertahankan di antara pesaing dan untuk menjaga kekuatan merk perusahaan.
Minat beli adalah "perilaku yang muncul sebagai respons terhadap objek yang menunjukkan keinginan konsumen untuk melakukan pembelian" (Kotler dan Keller, 2009). Konsumen akan mengembangkan minat beli jika dipengaruhi oleh informasi tentang produk dan kualitasnya. Menurut Kotler & Keller (2012), konsumen membentuk preferensi atau minat pada merek di antara serangkaian pilihan selama tahap evaluasi proses keputusan pembelian, dan mereka juga dapat mengembangkan minat untuk membeli produk yang paling disukai. Salah satu bentuk penawaran suatu produk yang paling efektif adalah melalui influencer marketing. Salah satu sarana influencer marketing untuk menarik minat beli konsumen adalah melalui sosial media seperti: Instagram, Youtube, Tiktok, dan Twitter.
Generasi Z di Indonesia paling aktif menggunakan media sosial.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 7 Februari 2024 jumlah pengguna internet pada tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa dari total populasi 278.696.200 jiwa penduduk Indonesia tahun 2023. Berdasarkan segi umur, orang yang menggunakan sosial media ini mayoritas adalah Gen Z sebanyak 34,40% lalu disusul oleh generasi milenial sebanyak 30,62%, berikutnya Gen X sebanyak 18,98%, Post Gen Z (kelahiran kurang dari 2023) sebanyak 9,17%, baby boomers (kelahiran 1946- 1964) sebanyak 6,58% dan pre boomer (kelahiran 1945 sebanyak 0,24%. Dengan adanya peluang ini banyak Perusahaan memanfaatkannya untuk menunjang bisnis, hal ini bisa menjadi puluang bisnis yang baik, salah satunya yaitu pada
brand fashion merek Erigo.
Salah satu brand fashion yang paling diminati oleh Masyarakat Indonesia beberapa tahun terkahir ini adalah Erigo. didirikan pada tahun 2011 oleh Muhammad Sadad. Brand ini terkenal dengan gaya kasual dan streetwear-nya, dan populer di kalangan remaja dan dewasa muda di Indonesia. Pada tahun 2015,
Erigo mencapai omset sebesar 20 miliar rupiah, untuk menarik minat konsumen pada produk Erigo. Pencapaian terbesar terjadi pada 2020, terjadi peningkatan penjualan sebesar 10 persen dari tahun sebelumnya. Untuk meningkatan penjualan produknya, Erigo bekerja sama dengan berbagai influencer marketing untuk mempromosikan produk mereka.
Top 5 Brand Fashion local di Indonesia (GoodStats.id, 2023)
Erigo menunjukkan peringkat pertama produk fashion terlaris dari brand local competitor lainnya, berdasarkan data dari hasil survey Goodstats mengenai preferensi fashion anak muda Indonesia, sebanyak 27,6% menyukai brand erigo, dimana angka ini cukup jauh dari brand brand local competitor lainnya seperti:
brand merek 3second sebanyak 23,8%, sedangkan responden lainnya memilih merek Hijup dan Roughneck sebesar 10,7% dan 10,3%, dan sisanya sebesar 27,6% mempunyai jawaban beragam, ada yang memilih Eiger, nimco, jiniso, benhill, everbest, dan masih banyak lainnya
Ditengah keberhasilan yang di raih brand erigo ini, salah satu bentuk strategi marketing yang dilakukan untuk menarik minat beli adalah dengan menggandeng kekuatan influencer marketing. Konten yang dihasilkan dari kerjasama Erigo dengan influencer selalu menarik dan interaktif. Konten tersebut biasanya berupa foto produk, video review, dan live streaming yang menampilkan produk Erigo. Influencer juga seringkali memberikan kode promo khusus untuk pengikut mereka, sehingga mendorong pembelian produk Erigo. Salah satu contoh keberhasilan influencer marketing Erigo adalah saat brand ini berkolaborasi dengan Arief Muhammad. Erigo memilih Arief Muhammad sebagai influencer marketing media sosial brand erigo karena citra yang sesuai dengan brand erigo. Selain itu karena Arief Muhammad sangat dipercaya karena ia adalah salah satu influencer di Indonesia yang di akui kredibilitas dan ke-otentikannya, hal ini di buktikan dengan penghargaan yang diraih arief Muhammad pada event xyz creator award 2018 di kategori lifestyle. Salah satu keberhasilan arief Muhammad sebagai influencer marketing erigo adalah pada peluncuran produk
Erigo X Arief Muhammad Koleksi ini terjual habis dalam waktu singkat dan menjadi salah satu produk Erigo yang paling sukses.
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Influencer marketing dan Brand Image Terhadap Minat Beli Produk Fashion Pada Generasi Z (Studi pada konsumen produk fashion brand erigo).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah yang ada di atas, maka masalah penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh influencer marketing terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z?
2. Bagaimana pengaruh Brand Image terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z?
3. Bagaimana pengaruh influencer marketing dan brand image terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh influencer marketing terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z.
4. Mengetahui pengaruh Brand Image terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z.
2. Mengetahui pengaruh pengaruh influencer marketing dan brand image terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat secara teoritis dan praktis yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Teoritis
Penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan tentang bagaimana influencer marketing media sosial memengaruhi minat beli produk fashion pada generasi Z, khususnya dalam konteks brand Erigo.
2. Praktisi
a. Manfaat Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat membantu Perusahaan dalam merumuskan strategi influencer marketing media sosial yang lebih efektif untuk menjangkau dan memengaruhi generasi Z.
b. Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dalam melakukan penenlitian dengan masalah atau fenomena yang serupa di masa yang akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Konsep SOR (Stimulus, Organism, Respon)
Dalam penelitian ini, konsep teori yang digunakan adalah teori SOR sebagai singkatan dari Stimulus, Organism, dan Respon. Hal ini berasal dari teori psikologis. Objek materialnya adalah manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen berikut: sikap, pendapat, perilaku, persepsi, emosi dan empati (McQuail, 2010: 466). Menurut stimulus, respons ini merupakan reaksi spesifik terhadap stimulus tertentu yang memungkinkan orang mengantisipasi dan memprediksi kesesuaian antara informasi dan respons mereka. Model SOR mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, baik pesan teks maupun pesan verbal (pesan dalam iklan) akan merangsang orang lain untuk merespons dengan cara tertentu yang ditentukan. Respon ini muncul setelah perhatian pada saat promosi penjualan yang merupakan stimulus dilakukan. Kemudian, setelah stimulus diberikan kepada organisme muncul respon berupa 'minat,keinginan, keputusan, tindakan.
Teori SOR (Stimulus-Organism-Response) yang dikemukakan oleh Robert E. Woodworth pada tahun 1918 dapat diaplikasikan untuk memahami pengaruh influencer marketing media sosial terhadap minat beli produk fashion pada Generasi Z.
Hubungan model SOR (Stimulus, Organism, Response) pada penelitian ini adalah:
a. Stimulus (S):
Konten influencer marketing media sosial yang terkait produk fashion, seperti:
1) Postingan Instagram, story, atau video TikTok yang menampilkan produk fashion
2) Ulasan produk fashion dari influencer b. Organism (O):
Karakteristik Generasi Z yang relevan dengan minat beli produk fashion, seperti:
1) Keterlibatan tinggi dengan media sosial: Generasi Z adalah generasi yang paling aktif menggunakan media sosial, sehingga mereka lebih mudah terpapar konten influencer marketing.
2) Kepercayaan terhadap influencer: Generasi Z cenderung mempercayai influencer yang mereka ikuti, terutama jika influencer tersebut memiliki kesamaan dengan mereka dalam hal gaya hidup, nilai-nilai, atau minat.
c. Response (R):
Minat beli produk fashion Generasi Z, yang dapat diukur dengan:
1) Tingkat ketertarikan terhadap produk fashion yang dipromosikan influencer
2) Keinginan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang produk fashion 3) Keputusan untuk membeli produk fashion
2. Konsep Influencer Marketing a. Pengertian Influencer Marketing
Influencer adalah seseorang yang mempengaruhi keputusan pembelian, termasuk membantu mendefinisikan atau menafsirkan spesifikasi dan memberikan informasi tentang evaluasi alternatif mengenai suatu produk (Kotler & Keller, 2016: 188). Influencer juga dapat diartikan sebagai orang yang mempunyai pikiran aktif dan melakukan aktivitas yang mempengaruhi jaringan atau lingkungan (Keller & Berry, 2003).
Penggunakan influencer,dengan banyak pengikut juga berpengaruh untuk mendorong sikap positif konsumen dan respons perilaku terhadap minat merek
dengan menggunakan postingan yang dibagikan di platform media sosial, yang juga memungkinkan influencer dan pelanggan untuk berpartisipasi dalam penciptaan merek bersama gambar di media sosial (Giles & Edwards, 2018).
Pemasaran influencer adalah taktik yang digunakan dengan bekerja sama dengan pengguna media sosial individu untuk mempromosikan pesan merek dan produk mereka (IAB, 2018). Sebagian besar aktivitas pemasaran influencer dilakukan di platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter (Burgess, 2016).
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa influencer marketing merupakan strategi pemasaran online yang dapat diandalkan oleh para pengusaha untuk mempromosikan produk yang dijualnya dengan menggunakan influencer yang memiliki jumlah pengikut yang banyak sehingga dapat ikut serta dalam strategi pemasaran.
b. Karakteristik Influencer Marketing
Ada beberapa karakteristik influencer media sosial yang dijadikan pertimbangan dalam menilai influencer, Brorson dan Plotnikova (Abednego dkk, 2021:62), yaitu:
1) Karakteristik umum, yaitu aspek umum terlihat di kalangan influencer media sosial. Misalnya pesan yang disampaikan oleh influencer (konten media sosial), jumlah download di media sosial, jumlah pengikut dan keterlibatan di media sosial (interaksi dengan pengikut berdasarkan “suka” dan komentar di setiap unggahan).
2) Kejujuran, yaitu. bagaimana influencer berbagi informasi tentang diri mereka di jejaring sosial, seperti yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari influencer yang secara sukarela memberikan informasi pribadinya adalah untuk meningkatkan jumlah pengikut, meningkatkan keterlibatan dan memperkuat personal brand.
3) Influence Activity, atau tingkat aktivitas pengaruh di media sosial. Tingkat aktivitas ini tercermin dalam kinerja seseorang.
c. Manfaat Influencer Marketing
Influencer marketing memiliki beberapa manfaat dalam kegiatan pemasaran yang cukup kuat bagi pemasar (shearent Lie, 2022), antara lain:
1) Meningkatkan kesadaran merek
Influencer dapat menyebarkan berita tentang produk atau layanan merek melalui ulasan, hadiah, dan penawaran. nama produk agar merek lebih dikenal di media sosial.
2) Membangun kredibilitas dan kepercayaan merek
Influencer menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan dan membangun hubungan dengan audiens mereka. Jadi berapa lama seorang influencer terpercaya mempromosikan suatu produk dapat meningkatkan kredibilitas merek tersebut.
3) Menjangkau target audiens
Dalam menggunakan influencer, sebaiknya gunakan influencer yang sesuai dengan target audiens agar konten yang dibuat dapat menarik perhatian para pengikut influencer tersebut.
4) Meningkatkan Penjualan
Influencer dapat memengaruhi keputusan pembelian audiensnya. Jika influencer memberikan rating positif, audiens akan membeli atau menggunakan layanan yang diiklankan.
5) Meningkatkan Engagement
Saat influencer membagikan konten merek di media sosial, konten tersebut disukai, dibagikan, dan dikomentari oleh publik. Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan merek di media sosial.
d. Indikator Influencer Marketing
Dalam pemasaran produk menggunakan influencer memiliki lima indicator yang disebut model TEARS (Shimp, 2014:304), yaitu sebagai berikut:
1) Dapat dipercaya (Trustworthiness)
Kredibilitas mengacu pada kejujuran, integritas, dan dapat dipercayanya suatu sumber. Kredibilitas pendukung hanya mencerminkan fakta bahwa calon pendukung merek berbeda-beda dalam tingkat kepercayaan khalayak terhadap apa yang mereka katakan (Shimp, 2014:304) Oleh karena itu, kredibilitas mengacu pada integritas, kejujuran, dan kepercayaan seorang influencer, di mana penonton memercayai apa yang dikatakan dan dilakukan idolanya.
Seorang influencer yang kredibel mampu menanamkan kepercayaan pada audiens terhadap produk yang dipasarkannya.
2) Keahlian (Expertise)
Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau keterampilan yang dimiliki endorser sehubungan dengan merek endorser (Shimp, 2014:304). Oleh karena itu, keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki influencer yang relevan dengan merek yang mereka promosikan.
influencer harus mampu mempengaruhi audiens untuk membeli dan menggunakan produk yang dipromosikan influencer.
3) Daya Tarik Fisik (Attractiveness)
Daya tarik fisik mengacu pada suatu ciri yang dianggap enak dipandang menurut konsep daya tarik suatu kelompok tertentu (Shimp, 2014:305). Jadi, daya tarik merujuk pada persepsi seseorang mengenai dirinya menarik dibandingkan dengan persepsi kelompok tertentu mengenai daya tarik fisik.
Daya tarik fisik mencakup sejumlah karakteristik yang disukai konsumen yang mungkin dirasakan oleh seorang influencer, misalnya kemampuan intelektual, ciri-ciri kepribadian, karakteristik gaya hidup, performa atletik, dan lain-lain.
4) Kualitas Dihargai (Respect)
Rasa hormat mewakili kekaguman atau bahkan penghargaan terhadap kualitas dan pencapaian pribadi (Shimp, 2014:306). Dengan demikian, penghargaan tersebut berkaitan dengan karakteristik pribadi influencer. Kualitas bakat seorang influencer merupakan suatu hal yang patut dikagumi, baik dari segi bakat maupun prestasi pribadinya. Ketika influencer yang dihormati/disukai membangun hubungan dukungan dengan beberapa merek, rasa hormat/kesukaan selebriti dapat meluas ke merek yang terkait dengan mereka, meningkatkan ekuitas merek, dan secara positif memengaruhi sikap konsumen terhadap merek tersebut.
5) Kesamaan Dengan Audiens Yang Dituju (Similarity)
Kesamaan menunjukkan sejauh mana seorang endorser cocok dengan audiensnya dalam hal karakteristik yang penting bagi endorser, seperti usia, jenis kelamin, etnis, dll. Dengan demikian, kesamaan mengacu pada kesamaan antara sumber pesan dan khalayak dalam hal usia, jenis kelamin, kebangsaan, status sosial, dan lain-lain. Persamaan antara influencer dan audiens sangat penting ketika terdapat beragam produk atau layanan yang tersedia dan audiensnya heterogen. Dalam kasus seperti ini, sikap dan pilihan kemungkinan besar paling dipengaruhi oleh pembicara yang dianggap serupa dengan audiens.
3. Konsep Brand Image a. Pengertian Brand Image
Brand Imageatau yang biasa disebut juga citra merek, dinyatakan bahwa pembeli mungkin bereaksi berbeda terhadap citra suatu perusahaan atau merek. Citra merek merupakan persepsi masyarakat terhadap suatu perusahaan atau produknya Kotler dan Keller (2012:246). Selain itu Citra merek adalah seperangkat asosiasi
unik yang ingin diciptakan atau dipertahankan oleh pemasar. Asosiasi ini menunjukkan apa sebenarnya merek tersebut dan apa yang dijanjikannya kepada konsumen. Konsumen yang akrab dengan suatu merek tertentu cenderung setuju dengan citra merek tersebut (Sangadji dan Sopiah, 2013:327). Sedangkan, Firmansyah (2019:60) mendefinisikan brand image sebagai suatu persepsi yang muncul di benak konsumen ketika mengingat suatu merek dari jajaran produk tertentu. Selanjutnya, pengalaman tersebut kemudian akan tercitra atau tergambarkan pada merek sehingga membentuk brand image yang positif maupun negatif tergantung dari berbagai pengalaman dan citra sebelumnya dari merek.dalam hal ini Brand Image atau citra merek merupakan sekelompok merek yang sudah terbentuk dan melekat menjadi pilihan konsumen.
b. Dimensi Brand Image
Menurut Wijaya (2013), citra merek terdiri dari lima dimensi, yang meliputi:
1) Identitas merek
Identitas merek mengacu pada identitas fisik atau nyata yang terkait dengan suatu merek atau produk yang memfasilitasinya. agar konsumen mengenali dan membedakannya dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna, suara, bau, kemasan, lokasi, identitas perusahaan, slogan, dll.
2) Kepribadian merek
Kepribadian merek adalah karakter khas suatu merek yang mewakili seseorang dengan kepribadian tertentu sehingga konsumen dapat dengan mudah membedakannya dengan merek lain dalam kategori yang sama, misal: berwatak bermartabat, mulia, ramah, hangat, penyayang, mudah bergaul, dinamis, kreatif, mandiri, dsb.
3) Asosiasi merek
Asosiasi merek adalah hal-hal tertentu yang penting atau selaludikaitkan dengan merek, mungkin karena penawaran unik produk, aktivitas yang berulang dan konsisten seperti sponsorship atau aktivitas yang bertanggung jawab . tanggung jawab sosial, hal-hal yang sangat erat kaitannya dengan merek, serta simbol dan makna tertentu yang sangat erat hubungannya dengan merek
4) Perilaku dan sikap merek
Perilaku dan sikap merek adalah perilaku dan sikap merek. sikap terhadap interaksi dan interaksi dengan konsumen untuk memberikan manfaat dan nilai.
Dengan kata lain, sikap dan perilaku merek adalah sikap, kebiasaan, dan
perilaku yang ditampilkan oleh merek beserta seluruh atributnya ketika berkomunikasi dan berinteraksi dengan konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi persepsi dan penilaian konsumen terhadap merek.
5) Kompetensi dan keunggulan merek
Kompetensi dan keunggulan merek merupakan nilai karakteristik, keunggulan dan kompetensi suatu merek dalam memecahkan masalah konsumen, yang melaluinya konsumen mendapat manfaat dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, impian dan obsesinya terhadap apa itu menawarkan untuk digunakan.
c. Faktor-faktor pembentuk brand image
Keller dan Swaminathan (2020) mengemukakan faktor-faktor pembentuk brand image antara lain:
1) Strength of Brand Associations
merupakan salah satu faktor pembentuk brand image, semakin dalam seseorang berpikir tentang informasi produk dan menghubungkannya dengan pengetahuan merek yang ada, semakin kuat asosiasi merek yang dihasilkan. Dua faktor yang memperkuat keterkaitan dengan informasi apapun adalah relevansi pribadinya dan konsistensi penyajiannya dari waktu ke waktu. Asosiasi tertentu yang kita ingat dan artipenting mereka akan tergantung tidak hanya pada kekuatan asosiasi tetapi juga pada isyarat pengambilan hadir dan konteks di mana kita mempertimbangkan merek.
2) Favorability of Brand Associations
merupakan faktor pembentuk kedua brand image. Asosiasi merek dapat diciptakan dengan meyakinkan konsumen bahwa merek tersebut memiliki atribut dan manfaat yang relevan yang memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka, sehingga membentuk penilaian merek secara keseluruhan yang positif.
Konsumen tidak akan menganggap semua asosiasi merek sama pentingnya, mereka juga tidak akan memandang semuanya dengan baik atau menghargai semuanya secara setara di berbagai situasi pembelian atau konsumsi. Asosiasi merek dapat bergantung pada situasi atau konteks dan bervariasi sesuai dengan apa yang ingin dicapai konsumen dalam keputusan pembelian atau konsumsi tersebut. Dengan demikian, asosiasi dapat dinilai dalam satu situasi tetapi tidak pada situasi lain.
3) Uniqueness of Brand Associations
merupakan faktor pembentuk brand image ketiga. Inti dari positioning merek adalah bahwa merek memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan atau proposisi penjualan yang unik yang memberi konsumen alasan kuat mengapa mereka harus membelinya. Pemasar dapat membuat perbedaan unik ini secara eksplisit melalui perbandingan langsung dengan pesaing, atau mereka dapat menyorotinya secara implisit. Mereka mungkin mendasarinya pada atribut atau manfaat terkait kinerja atau non kinerja. Meskipun asosiasi unik sangat penting untuk kesuksesan merek, kecuali jika merek tersebut tidak menghadapi persaingan, kemungkinan besar akan berbagi beberapa asosiasi dengan merek lain. Salah satu fungsi dari asosiasi bersama adalah untuk menetapkan keanggotaan kategori dan menentukan ruang lingkup persaingan dengan produk dan layanan lainnya
d. Indikator Brand image
Menurut Aaker & Biel dalam Keller & Swaminathan (2020:239), indikator brand image dapat dilihat dari:
1) Citra Perusahaan (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa. Meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, serta pemakai itu sendiri.
2) Citra produk / konsumen (product Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa. Meliputi: atribut dari produk, manfaat bagi konsumen, serta jaminan.
3) Citra pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.
Meliputi: pemakai itu sendiri, serta status sosialnya.
4. Konsep Minat Beli a. Pengertian Minat Beli
Niat membeli mengacu pada kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan pembelian direalisasikan. Terdapat perbedaan antara pembelian aktual dan niat membeli. Sedangkan pembelian actual adalah pembelian yang benar-benar dilakukan oleh konsumen, sedangkan minat membeli adalah niat untuk melakukan pembelian berdasarkan peluang di masa depan.
Meskipun merupakan pembelian yang mungkin tidak dilakukan di masa mendatang, niat membeli biasanya diukur untuk memaksimalkan prediksi pembelian sebenarnya. Human interest muncul karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi seperti variasi produk, desain produk, serta fitur produk dan layanan (Kotler dan keller, 2016).
Minat beli merupakan pendapat konsumen yang mengungkapkan keinginannya untuk membeli suatu produk. Pemasar perlu memiliki pengetahuan khusus tentang niat membeli konsumen untuk memprediksi secara akurat perilaku konsumen di masa depan (Halim dan Iskandar, 2019). Selain itu, minat beli konsumen merupakan perilaku konsumen yang terjadi sebagai respon terhadap suatu barang sehingga menimbulkan keinginan konsumen untuk membeli. Minat beli juga merupakan tahap evaluasi dalam proses keputusan pembelian, konsumen mungkin tertarik untuk membeli suatu produk yang paling mereka sukai, inginkan atau butuhkan (Harahap, A. et al, 2021).
faktor mempengaruhi minat beli konsumen terhadap produk, yang membentuk model hierarki berdasarkan reaksi konsumen (McDaniel Jr. dkk. 2007 ) Model hierarki ini terdiri dari empat tahap, yaitu:
1) Awarness (Kesadaran)
Pada tahap ini konsumen belum menyadari keberadaan produk atau merek.
Tugas utama perusahaan pada tahap ini adalah meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produknya melalui berbagai inisiatif pemasaran seperti periklanan, promosi, dan hubungan masyarakat.
2) Interest (Minat)
Ketika konsumen mengetahui keberadaan suatu produk, mereka mungkin tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang produk tersebut. Tugas utama perusahaan pada tahap ini adalah membangkitkan minat konsumen dengan memberikan informasi yang relevan dan menarik tentang produk, seperti keistimewaan, keunggulan dan keunggulan dibandingkan produk lainnya.
3) Desire (Keinginan)
Pada tahap ini konsumen tertarik terhadap produk dan ingin memilikinya.
Tugas utama perusahaan pada tahap ini adalah meyakinkan konsumen bahwa produknya merupakan pilihan terbaik dan memenuhi kebutuhan mereka.
Perusahaan dapat melakukannya dengan memberikan bukti sosial, seperti testimoni dari pelanggan yang puas, dan menawarkan penawaran menarik.
4) Action (Tindakan)
Pada tahap ini konsumen memutuskan untuk membeli produk. Tugas utama perusahaan pada tahap ini adalah memfasilitasi proses pembelian konsumen, misalnya dengan menawarkan berbagai pilihan pembayaran dan pengiriman yang mudah.
b. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli
Faktor yang mempengaruhi preferensi pembelian berkaitan dengan perasaan dan emosi. Apabila seseorang merasa senang dan puas terhadap pembelian suatu barang atau jasa maka akan meningkatkan minat beli, ketidakpuasan seringkali menghilangkan minat Swastha dan Irawan (2012).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat (Lidyawatie, 2008), yaitu : 1) Perbedaan pekerjaan, yaitu dengan adanya perbedaan profesi seseorang,
maka dimungkinkan untuk menilai tingkat ketertarikannya terhadap tingkat pekerjaan yang ingin dicapainya, kegiatan yang dilakukannya, penggunaan waktu luangnya, dan lain-lain.
2) Perbedaan sosioekonomi, artinya seseorang yang berlatar belakang sosioekonomi tinggi akan lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkannya dibandingkan orang yang berlatar belakang sosioekonomi rendah.
3) Perbedaan minat atau hobi, yaitu cara seseorang menghabiskan waktu luangnya.
4) Perbedaan gender, artinya preferensi perempuan akan berbeda dengan laki- laki, misalnya kebiasaan berbelanja,
5) Perbedaan umur berarti anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua akan mempunyai minat yang berbeda terhadap suatu benda, suatu kegiatan, suatu benda dan seseorang.
Selain itu terdapat Ada dua faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang pada saat proses keputusan pembelian, yaitu situasi yang tidak terduga (unexpected situasi) dan sikap terhadap orang lain (Respect for other). (Kotler, Bowen dan Makens, 2014).
c. Indikator Minat Beli
Ada beberapa ciri yang dapat menunjukkan kecenderungan seseorang untuk menunjukkan minat terhadap suatu produk atau jasa. Ciri-ciri ini termasuk kecenderungan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang produk atau jasa tersebut dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana spesifikasi produk atau jasa tersebut digunakan sebelum menggunakannya (kotler, 2012:235).
Beberapa faktor memengaruhi kesediaan konsumen untuk membeli barang atau jasa tertentu. Konsumen yang memiliki minat terhadap produk yang ditawarkan harus mempertimbangkan apa yang harus mereka korbankan untuk mendapatkan barang atau jasa tersebut. Konsumen yang cenderung memiliki minat tertentu terhadap produk tertentu biasanya lebih bersedia untuk membelinya dengan tujuan agar konsumen yang berminat tersebut dapat menggunakan barang atau jasa tersebut. yang memiliki minat yang besar terhadap suatu produk atau jasa, jika ditanya oleh orang lain, mereka secara otomatis akan menceritakannya
kepada orang lain. Selain itu, mereka akan merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain di sekitar mereka.
Ferdinand (2012:129) menyatakan bahwa ada tiga jenis minat beli yang dapat diidentifikasi:
1) minat transaksional, yang menunjukkan kecenderungan seseorang untuk membeli produk
2) minat refrensial, yang menunjukkan kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain
3) minat preferensial, yang menunjukkan perilaku seseorang yang memiliki minat utama pada produk tersebut; preferensi ini hanya dapat diubah jika terjadi sesuatun dengan produk tersebut
4) Minat eksploratif: jenis minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi tentang barang yang diminatinya dan mencari tahu tentang.
5. Tinjauan Empiris
Penelitian terdahulu didalam penelitian ini memuat kesamaan variable penelitian dan metode analisis, sehingga relevan untuk menjadi pendukung hepotesis . Adapun penelitian terdahulu dapat dilihat pada table di bawah ini N
o
Nama Peneliti Judul Penelitian Metode Analisis Data 1. Juniar Ayu
Tantilofa (2023)
Pengaruh Influencer Marketing dan Social Media Terhadap Minat Beli Produk Fashion
Wanita
Analisis regresi berganda
2. Ertika Br Tarigan(2024)
Pengaruh Influencer Marketing terhadap Minat Beli Produk Skincare Ms Glow: Studi Pada
Mahasiswa S1 Universitas Sriwijaya Kampus Indralaya
Analisis deskriptif, uji f, uji t, analisis regresi linier berganda, dan
analisis koefisien determinasi.
3. Aisyah Fitri Pasaribu (2023)
Pengaruh Content Creator Marketing, Viral Marketing dan Influencer terhadap Minat
Beli produk skincare Pada Mahasiswa
Analisis regresi berganda
4. Nurul Agustin (2022)
Pengaruh Influencer Marketing dan Presepsi Harga terhadap
Minat Beli Skincare pada Tiktok Shop
Analisis regresi berganda
5. sutantio Hilton Imawan (2023
Pengaruh Influencer Marketing Raffinagita Terhadap Purchase Intention Produk MS Glow Men dengan
Behavior Control Sebagai Variabel Moderating Di
Analisis deskriptif dan kauslistik
6. Fatdilla Andarista
(2022)
Pengaruh Brand Ambassador Dan Promosi Terhadap Minat
Beli Brand Erigo Melalui Brand Image Sebagai Variabel
Intervening 7. Zainuddin D
(2018)
Pengaruh Kualitas Produk dan Brand Image terhadap Minat
Beli Motor Matik 8. Wijaya (2019) Pengaruh Brand Image E-
Commerce Terhadap Minat Beli Konsumen
9. Andini P
(2021)
Pengaruh Brand Ambassador Dan Brand Image Terhadap Minat Beli Pengguna Aplikasi
Tokopedia 10. Tarigan P
(2023)
Pengaruh Digital Marketing dan Brand Image Terhadap Minat Beli Produk Kosmetik
Make Over
11. Aziz M (2020) Pengaruh Sikap Konsumen, Periklanan, dan Brand Image
Terhadap Minat Beli Konsumen The Jungleland
Adventure Theme Park 12. Jannah, N., &
Agus Alfianto, E. (2023).
Pengaruh Promosi Word Of Mouth, Brand Image, Influencer Marketing, Terhadap Minat Beli Skincare
Pada Produk Kecantikan Drw
Skincare.
13. Tamrin. (2023). Pengaruh Influencer
Marketing, Green Marketing, dan Brand Image Terhadap Minat Beli Konsumen Produk Avoskin. Skripsi
14. Adaby, O. C.,
& Nurhadi.
(2022).
Pengaruh Promosi Media Sosial, Electronic Word of Mouth (E-Wom) Dan Brand Image Terhadap Minat Beli Produk Erigo Apparel.
15. Hardiyanah, T., Hidayati, R., Nasution, A.
H., Muslikh, M., &
Marhamah, S.
(2023).
Pengaruh Content Marketing, Sales Promotion, Personal Selling Dan Brand Image Terhadap Minat Beli Pada CV Laditri Karya.
B. Kerangka Pikir
Kerangka berpikir adalah konseptualisasi mengenai bagaiamana suatu teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai variabel penting dalam penelitian (Noor, 2017:76). Dalam hal ini, peneliti harus menguraikan konsep secara teoritis dan memvalidasinya secara empiris dengan cara yang lebih terperinci. Adapun kerangka pikir pada penelitian ini berikut ini:
Influencer Marketing (X1)
Minat Beli Brand Image (Y)
(X2)
C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah Pada bab sebelumnya dan penelitian terdahulu, maka hepotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1: Influencer marketing media sosial berpengaruh positif terhadap minat beli produk fashion pada generasi z
H2: Brand Image berpengaruh posistif terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z
H3: Influencer Marketing dan brand Image berpengaruh positif terhadap minat beli produk fashion pada generasi Z