PENGARUH KOMPETENSI GURU, PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP
MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IX DI MTsN LUBUK BUAYA PADANG
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1)
Oleh:
HISA MAHARANI NPM: 12090176
\
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2016
HAT,AM AN PENGESAflAITI flJRNAL
PENGARUTT KOMPETENST GURU, PEN6€$![A*IY rrprOnE PEMBELAJARAN DAN FASILITAS BELAJAR TERIIADAP hH}TTVASI BELAJAR SISWA
I(F-#,AS D( DI MTsN LUBTIX(WAYA PADAI\G
GM:
Nama
NPM
Program Studi Institusi
I{isa}ffiarani 12€ffitffi
Se{<o&i1h:T.&{$!'
Ikm Feastitlikan
$ffim} SmI
SuurmraBuat
Disetujui
Pernbimbing I
,*
hfuig,
i M September 2016(Drs. Alftirmeq M.Si)
PENGARUH KOMPETENSI GURU, PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA
KELAS IX DI MTsN LUBUK BUAYA PADANG Oleh :
Hisa Maharani
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP-PGRI Sumbar Jl. Gunung Pangilun No. 1, Padang Sumatera Barat
Email :[email protected] Drs. Akhirmen, M.Si, Sumarni, M.Pd
Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP-PGRI Sumbar Jl. Gunung Pangilun No. 1, Padang Sumatera Barat
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi guru, penggunaan metode pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap motivasi belajar siswa kelas IX di MTsN Lubuk Buaya Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi guru terhadap motivasi belajar hal ini dibuktikan dengan nilai thitung4,688 > ttabelsebesar 1,98. 2) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penggunaan metode pembelajaran terhadap motivasi belajar ini dibuktikan dengan nilai thitung4,183 > ttabel 1,98. 3) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara fasilitas belajar terhadap motivasi belajar hal ini dibuktikan dengan nilai thitung, 5,051 > ttabel sebesar 1,98. 4) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi guru, penggunaan metode pembelajaran dan fasilitas belajar secara bersama-sama terhadap motivasi belajar hal ini dapat dibuktikan dengan Fhitung114,479 > Ftabel2,67 dengan taraf signifikan sebesar 0,000
< = 0,05. Hal ini berarti Haditerima dan H0ditolak.
Kata Kunci: Kompetensi Guru, Penggunaan Metode Pembelajaran, Fasilitas Belajar, dan Motivasi Belajar Siswa.
ABSTRACT
This study aimed to analyze the influence of teachers' competencies, learning method and learning facilities on the motivation of students of class IX in Lubuk Buaya MTsN Padang. The results showed that: 1) there are significant positive and significant correlation between teacher competence on motivation to learn this is evidenced by the tvalue4.688 > ttable is 1.98. 2) there are significant positive and significant correlation between the use of learning methods on motivation to learn is evidenced by the tvalue 4.183 > ttable 1.98, 3) there is a positive and significant influence between learning facility on motivation to learn this is evidenced by the tvalue 5.051 > ttable is 1.98. 4) there are significant positive and significant correlation between teacher competence, learning method and learning facilities together on motivation to learn this can be proved by 114.479 Fvalue > Ftable 2,67 with a significant level of 0.000 <α = 0.05 , This means Ha accepted and H0 is rejected.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Institusi sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi dimana siswa sebagai pihak yang mengajar. Proses itu sendiri merupakan mata rantai yang menguhubungkan antara guru dan siswa sehingga terbina komunikasi yang memiliki tujuan yaitu tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar siswa akan berhasil dalam belajar kalau dalam dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, keinginann atau dorongan inilah yang disebut motivasi. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2011:75).
Motivasi sangat penting untuk mendorong siswa dalam belajar baik itu motivasi intrinsik maupun ekstrinsik. Bagi siswa yang mempunyai motivasi intrinsik kemauan belajarnya lebih kuat karena tidak tergantung pada faktor dari luar dirinya. Tugas gurulah untuk mengarahkan dan merubah agar siswa belajar bukan karena adanya faktor dari luar, karena kebutuhan akan
belajar sehingga hal itu bisa menjadi motivasi intrinsik. Ada banyak faktor yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, diduga diantaranya guru harus mempunyai kompetensi yang baik, menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dan fasilitas yang memadai di sekolah tersebut sehingga siswa bersemangat dalam belajar.
Dari permasalahan tersebut dapat dilihat bahwa ada beberapa siswa yang sengaja menciptakan keributan sehingga membuat suasana belajar tidak menyenangkan. Hal ini menyebabkan terganggunya konsentrasi siswa yang lain.
Sebenarnya ini dapat diatasi oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dan bervariasi. Semuanya itu menuntut seorang guru untuk dapat meningkatkan keterampilan yang dimilikinya. Menurut pengamatan penulis hal semacam inilah yang belum peneliti temukan pada saat mengobservasi dilapangan.
Permasalahan kurangnya motivasi belajar siswa biasa dilihat dari hasil ujian siswa tersebut. Berikut tabel yang menggambarkan rata-rata hasil Ujian Nasional siswa MTsN Lubuk Buaya Padang tahun ajaran 2015/2016:
Tabel 1.
Rata-Rata Hasil Ujian Nasional Siswa MTsN Lubuk Buaya Padang Tahun Ajaran
2015/2016 Nilai
Mata Pelajaran
JML Bhs UN
Indo Bhs
Ing Mat IPA
Kategori B C C C C
Rata-
Rata 78,15 67,07 57,22 67,06 269,50 Terendah 38,0 26,0 22,5 25,0 146,0 Tertinggi 98,0 96,0 97,5 92,5 360,0 Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota
Padang, 2016
Dari tabel di atas terlihat bahwa secara rata-rata jumlah ujian
nasional siswa MTsN Lubuk Buaya Padang tahun ajaran 2015/2016 dikategorikan C dengan rata-rata yaitu sebesar 269,50 dan didapatkan nilai terendah sebesar 146,0 serta nilai tertinggi sebesar 360,0. Jika dilihat secara rinci permata pelajaran didapatkan rata-rata nilai ujian nasional mata pelajaran bahasa indonesia sebesar 78,15 dengan kategori B, sedangkan rata-rata nilai ujian nasional bahasa inggris adalah sebesar 67,07 dengan kategori C, rata- rata nilai ujian nasional matematika sebesar 57,22 dengan kategori C dan rata-rata nilai ujian nasional IPA sebesar 67,06 dengan kategori C. Jadi rata-rata nilai yang terendah ada pada mata pelajaran matematika yaitu sebesar 57,22 dengan kategori C dan didapatkan nilai terendahnya sebesar 22,5 serta nilai tertinggi sebesar 97,5.
Dari hasil ujian nasional tersebut terlihat masih rendahnya motivasi siswa di MTsN Lubuk Buaya Padang untuk belajar. Rendahnya motivasi belajar siswa ini diduga dipengaruhi oleh kompetensi guru yang rendah, penggunaan metode pembelajaran yang tidak sesuai dan fasilitas belajar yang kurang mendukung pembelajaran.
Dalam dunia pendidikan bukan hanya siswa yang dituntut untuk mengembangkan potensi diri, akan tetapi peran guru juga dituntut untuk memiliki kompetensi. Kompetensi menurut (Uzer, 2005:5) Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru.
Pendapat lain dari (Sagala, 2004:120) bahwa guru secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Kewibawaan dan keberadaan guru sangat diperlukan
masyarakat. Menurut (Undang- Undang RI No.14 Tahun 2005) tentang guru dan dosen dan PP No. 74 tahun 2008, kompetensi guru meliputi:
kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.
Motivasi siswa untuk belajar sering naik turun sesuai dengan kondisi psikologi siswa. Penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi dalam setiap sesi pelajaran akan sangat membantu siswa mengatasi rasa bosan untuk belajar, sehingga motivasi siswa untuk belajar akan selalu muncul karena siswa merasa pelajaran yang disampaikan guru sangatlah menarik. Menurut (Sudjana, 2005:76) “Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”.
Selain kompetensi guru dan penggunaan metode pembelajaran keberhasilan dalam proses pembelajaran juga sangat ditentukan dengan fasilitas belajar yang mendukung dalam proses pembelajaran. Kelengkapan fasilitas belajar siswa sangat penting dalam upaya memotivasi siswa untuk tetap giat belajar. Dengan lengkapnya fasilitas belajar akan dapat menunjang kegiatan belajar itu sendiri sehingga siswa giat untuk belajar. Fasilitas belajar menurut (Djamarah, 2002:150) merupakan kelengkapan belajar yang harus dimiliki oleh sekolah-sekolah yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan suatu usaha, ini dapat berupa benda-benda maupun uang. Menurut pendapat (Dimyati dan Mudjiono, 2009:244) Fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana pembelajaran. Prasarana meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olahraga, ruang ibadah, ruang kesenian dan peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi
buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboraturium sekolah dan berbagai media pembelajaran yang lain.
KAJIAN PUSTAKA Teori Motivasi Belajar
(Purwanto, 2007:71) mendefinisikan motivasi adalah
”pendorongan” yaitu suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai tujuan atau hasil tertentu. Motivasi juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang (Sardiman, 2011:75). faktor yang mempengaruhi motivasi belajar dapat digolongkan menjadi dua: 1) Faktor Internal meliputi: faktor fisik yaitu nutrisi (gizi), kesehatan, dan fungsi- fungsi fisik (terutama panca indera) dan faktor Psikologis yang berhubungan dengan aspek-aspek yang mendorong atau menghambat aktivitas belajar pada siswa. 2) Faktor Eksternal meliputi: faktor non sosial dan faktor sosial. Menurut (Sardiman A.M., 2011:83) indikator motivasi belajar yaitu: 1) Tekun menghadapi tugas, 2) Ulet menghadapi kesulitan, 3) Tidak membutuhkan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin, 4) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam hal atau masalah, 5) Lebih senang bekerja mandiri, 6) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin, 7) Dapat mempertahankan pendapatnya, 8) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini,
9)Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Teori Kompetensi Guru
Kompetensi (Rastodio, 2009) adalah karakteristik dasar seseorang yang berkaitan dengan kinerja berkriteria efektif dan atau unggul dalam suatu pekerjaan dan situasi tertentu. Menurut (Sarimaya, 2009:17) kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diwujudkan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
Kepmendiknas No.
045/U/2002 (Sarimaya, 2009:17) menyebutkan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan pekerjaan tertentu.
Jadi, kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.
Dalam (Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005) tentang Guru Dan Dosen dan (Permendiknas No.16 Tahun 2007) Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dinyatakan bahwa kompetensi guru terdiri dari empat kompetensi, yaitu: 1) Kompetensi Profesional, 2) Kompetensi Pedagogik, 3) Kompetensi Kepribadian, 4) Kompetensi Sosial
Teori Penggunaan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan
guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsung pembelajaran (Sudjana, 2005:76). Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama.
Dalam menghadapi perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan. Strategi belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan siswa dalam kegiatan mewujudkan kegiatan belajar mengajar (Hasibuan, 2009:3). Menurut Ahmadi dalam (Asih, 2007:20) indikator penggunaan metode pembelajaran adalah: 1) Membangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa, 2) Menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa, 3) Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya, 4) Merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi, 5) Mendidik murid dalam teknik belajar sendiri, 6) Meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas,
7) Menanamkan dan
mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Teori Fasilitas Belajar
Fasilitas adalah sarana dan prasarana yang harus tersedia untuk melancarkan kegiatan pendidikan di sekolah. Sarana adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara lagsung digunakan untuk proses pendidikan disekolah, meliputi gedung, ruang belajar/kelas, media belajar, meja dan kursi. Sedangkan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, meliputi halaman sekolah, taman sekolah, dan jalan menuju sekolah
(Sopiatin, 2010:73). Menurut (Sarjaya, 2009:55) indikator fasilitas belajar yaitu: 1) Sarana, 2) Prasarana.
Hipotesis
Berdasarkan dari uraian landasan teori dan kerangka konseptual maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga kompetensi guru berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas IX di MTsN Lubuk Buaya Padang.
2. Diduga penggunaan metode pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas IX di MTsN Lubuk Buaya Padang.
3. Diduga fasilitas belajar berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas IX di MTsN Lubuk Buaya Padang.
4. Diduga kompetensi guru,
penggunaan metode
pembelajaran dan fasilitas belajar berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap motivasi belajar siswa kelas IX di MTsN Lubuk Buaya Padang.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah bersifat asosiatif.
Penelitian ini dilaksanakan di MTsN Lubuk Buaya Padang yaitu pada kelas IX. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2016. Adapun yang menjadi populasi yang akan diteliti adalah seluruh siswa kelas IX yang berjumlah 212 orang. Mengingat jumlah populasi yang cukup besar, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik
proportional random sampling dengan menggunakan rumus slovin dengan menggunakan nilai kritis
5%. maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 139 orang siswa.
Tabel 2: Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
No Variabel Indikator No Item Sumber
1 Motivasi Belajar (Y)
1) Tekun menghadapi tugas.
2) Ulet menghadapi kesulitan.
3) Tidak membutuhkan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin.
4) Menunjukkan minat terhadap
bermacam-macam hal atau masalah.
5) Lebih senang bekerja mandiri.
6) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin.
7) Dapat mempertahankan pendapatnya.
8) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
9) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
1,2,3 4,5,6 7,8,9 10,11 12,13,14
15,16 17,18 19,20 21,22,23
Sardiman (2011:83)
2 Kompetensi Guru (X1)
a. Kompetensi Profesional b. Kompetensi Pedagogik c. Kompetensi Kepribadian d. Kompetensi Sosial
1,2,3 4,5,6,7
8,9,10 11,12
Undang- Undang RI tentang Guru Dan Dosen No
14 tahun 2005 dan Permendiknas No. 16 Tahun
2007 3 Metode
Pembelajaran (X2)
a. Membangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa.
b. Menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
c. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya.
d. Merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi
e. Mendidik murid dalam teknik belajar sendiri.
f. Meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas.
g. Menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
1,2,3 4,5,6 7,8 9,10,11
12,13 14,15 16.17,18
Asih (2007:20)
4 Fasilitas Belajar (X3)
1) Sarana 2) Prasarana
1,2,3,4 5,6,7,8,9,
10,11
Wina Sarjaya (2009:55)
Sebelum angket diedarkan kepada responden, terlebih dahulu dilakukan uji coba. Uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas. Validitas adalah Suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahitan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Arikunto, 2010:213). Kriteria untuk menentukan valid atau
tidaknya angket tersebut adalah dengan membandingkan dengan koefisien korelasi yang dihasilkan dengan kriteria kritis pada = 0,05dari = 0,361. Jika
≤ maka angket
dikatakan valid. Menurut Nunnally (Ghozali, 2011:48) suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha
> 0,70.
Tabel 3: Hasil Uji Validitas
Variabel Keterangan
Valid Tidak Valid
Y 23 2
X1 12 3
X2 18 3
X3 11 1
Tabel 4: Hasil Uji Reliabilitas Variabel Jumlah Item
Pernyataan
Cronbach’s Alpha
Nilai
Kritis Kesimpulan Motivasi
Belajar (Y) 25 0,891 0,70 Reliabel
Kompetensi
Guru (X1) 15 0,789 0,70 Reliabel
Penggunaan Metode Pembelajaran (X2)
21 0,868 0,70 Reliabel
Faslitas
Belajar (X3) 12 0,805 0,70 Reliabel
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tingkat Capaian Responden (TCR) variabel X
Berdasarkan TCR dari masing-masing variabel bahwa skor rata-rata variabel kompetensi guru adalah sebesar 3,99 dengan tingkat capaian responden (TCR) sebesar 79,81% dengan kategori
cukup. Skor rata-rata variabel penggunaan metode pembelajaran adalah sebesar 4,09 dengan tingkat capaian responden (TCR) sebesar 81,88% dengan kategori baik. Skor rata-rata variable fasilitas belajar adalah sebesar 4,05 dengan tingkat capaian responden (TCR) sebesar 80,99% dengan kategori baik.
Koefisien Determinasi ( )
Berdasarkan hasil
pengolahan data yang dapat dilihat pada tabel model summary diperoleh hasil nilai R square sebesar 0,718 yang artinya 71,80%
perubahan pada variabel dependen (motivasi belajar) dapat dijelaskan oleh variabel independen (kompetensi guru, penggunaan metode pembelajaran, fasilitas belajar) sedangkan sisanya sebesar 28,20% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Hasil Uji Hipotesis Hasil Uji t
Berdasarkan hasil uji t dari pengaruh masing-masing variabel bebas yang mempengaruhi motivasi belajar adalah:
a. Hipotesis 1, terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetensi guru (X1) terhadap motivasi belajar (Y)
Untuk variabel kompetensi guru diperoleh nilai thitung
sebesar 4,688> ttabel sebesar 1,98 dengan nilai signifikan 0,000 <
= 0,05, berarti Haditerima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kompetensi guru terhadap motivasi belajar. Hal ini berarti semakin baik kompetensi guru, maka akan semakin baik pula motivasi belajar siswa.
b. Hipotesis 2, terdapat pengaruh yang signifikan antara
penggunaan metode
pembelajaran (X2) terhadap motivasi belajar (Y)
Untuk variabel penggunaan metode pembelajaran diperoleh
nilai thitung sebesar > 4,183 ttabel
sebesar 1,98 dengan nilai signifikan 0,000 < = 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara penggunaan metode pembelajaran terhadap motivasi belajar. Hal ini berarti semakin tinggi penggunaan metode pembelajaran maka akan semakin meningkat motivasi belajar siswa.
c. Hipotesis 3, terdapat pengaruh yang signifikan antara fasilitas belajar (X3) terhadap motivasi belajar (Y)
Untuk variabel fasilitas belajar diperoleh nilai thitung
sebesar 5,051 > ttabel sebesar 1,98 dengan nilai signifikan 0,000 < = 0,05 berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara fasilitas belajar terhadap motivasi belajar. Hal ini berarti semakin tinggi fasilitas belajar maka akan semakin meningkat pula motivasi belajar siswa.
Hasil Uji F
Dari hasil
pengolahan data dengan menggunakan program SPSS versi 16.0, dapat dilihat pada tabel 33 di atas menunjukkan bahwa nilai Fhitung 114,479 >
Ftabel 2,67 dan nilai signifikan 0,000 < = 0,05. Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kompetensi guru, penggunaan metode pembelajaran dan fasilitas belajar berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa,
artinya semakin baik kompetensi guru, penggunaan metode pembelajaran dan fasilitas belajar, maka motivasi belajar siswa juga akan semakin baik.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan kepada permasalahan dan pertanyaan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kompetensi guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar . Dimana ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,516. Nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung4,688
> ttabel sebesar 1,98. Artinya apabila kompetensi guru meningkat sebesar 1 satuan, maka motivasi belajar akan meningkat sebesar 0,516 satuan.
2. Penggunaan metode pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar. Dimana ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,363. Nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung4,183
> ttabel 1,98. Artinya, apabila penggunaan metode pembelajaran meningkat sebesar 1 satuan, maka motivasi belajar akan meningkat sebesar 0,363 satuan.
3. Fasilitas belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar. Dimana ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,793. Nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung, 5,051 > ttabel sebesar 1,98.
Artinya, apabila fasilitas belajar meningkat sebesar 1 satuan, maka motivasi belajar akan meningkat sebesar 0,793 satuan.
4. Kompetensi guru, penggunaan metode pembelajaran dan fasilitas
belajar secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar. Dimana diperoleh nilai Fhitung 114,479 >
Ftabel 2,67 dengan taraf
signifikansi sebesar 0,000 < α = 0,05. Hal ini berarti Ha diterima dan H0ditolak.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah penulis uraikan, maka untuk meningkatkan motivasi belajar lebih baik untuk masa yang akan datang penulis menyarankan:
1. Untuk kompetensi guru, guru harus meningkatkan kompetensi profesionalnya berupa guru harus memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia disekolah dan guru harus meningkatkan kompetensi sosialnya berupa guru harus bisa memperlakukan semua siswa secara adil.
2. Untuk penggunaan metode pembelajaran, guru harus meningkatkan kemampuan mendidik siswa dalam teknik belajar sendiri dengan cara menggunakan metode pembelajaran yang mampu mendidik siswa untuk mengerjakan soal ulangan dengan kemampuan sendiri dan guru harus lebih bisa meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata.
3. Untuk fasilitas belajar, sekolah harus meningkatkan sarana seperti memperhatikan setiap kelas yang memiliki sarana kurang baik misalnya alat-alat pembelajaran yang kurang
lengkap sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan membuat siswa termotivasi untuk belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Depdiknas. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Jakarta: Depdiknas.
Dimyati & Mudjiono. (2009). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful. Bahri. (2002).
Psikologi Belajar. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Ghozali, Imam. (2011). Aplikasi Analisis Multivariat dengan SPSS. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Hasibuan & Mudjiono. (2009). Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Ngalim. (2007). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rastodio. (2009). Kompetensi Guru.
Diambil dari: http://rastodio.com/
pendidikan/pengertian-kompetensi- guru. html
Sagala. (2004). Kemampuan Professional Guru Dan Tenaga Kependidikan.
Bandung: Alfabeta.
Sardiman. (2011). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sarimaya, Farida. (2009). Sertifikasi Guru : Apa Dan Bagaimana?
Bandung: CV. Yrama Widya.
Sarjaya, Wina. (2009). Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Sopiatin, Popi. (2010). Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Sudjana. (2005). Metode Statistik.
Bandung: Transiti.
Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005.
(n.d.). Guru dan Dosen. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar Offset.
Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003.
Uzer. M, Usman. (2005). Menjadi Guru Professional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.