• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kualitas Pelayanan Fiskus terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Muslim di KPP Pratama Kolaka

N/A
N/A
IRVAN AL FAUZI

Academic year: 2024

Membagikan "Pengaruh Kualitas Pelayanan Fiskus terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Muslim di KPP Pratama Kolaka"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK MUSLIM

(Studi Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Muslim yang Terdaftar di KPP Pratama Kolaka)

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan Untuk Melakukan Penelitian dan Penilusan Skripsi

Oleh:

LUSIANA LUKMAN NIM: FEBI 11.20.008

1. Asst. Prof. Dr. Muhammad Asra, S. Hum., M.A 2. Asst. Prof. Dr. Abd Haris Nasution Zakariah, M. Si

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SAINS ISLAM AL MAWADDAH WARRAHMAH KOLAKA

2024

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal Penlitian : PENGARUH KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP PERILAKU KEPATUHAN WAJIB PAJAK MUSLIM (Studi Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Muslim yang Terdaftar di KPP Pratama Kolaka)

Yang ditulis oleh :

Nama : Lusiana Lukman

Nim : FEBI. 11.20.008

Program Studi : S1 Ekonomi Syariah

Fakultas : Agama Islam

Disetujui untuk diujikan pada seminar proposal Demikian untuk proses selanjutnya

Kolaka, Juni 2024

Pembimbing I, Pembimbing II,

Asst. Prof. Dr. Muhammad Asra, S. Hum., M.A

NIDN. 2102028002

Asst. Prof. Dr. Abd Haris Nasution Zakariah, M. Si NIDN. 2129079301

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL...i

HALAMAN JUDUL...ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING...iii

DAFTAR ISI...iv

DAFTAR GAMBAR...vi

DAFTAR TABEL...vii

DAFTAR BAGAN...viii

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...6

C. Tujuan Penelitian...7

D. Manfaat Penelitian...7

E. Batasan Masalah...8

F. Tinjauan Pustaka...9

1. Kajian Teori...9

a. Sosial Cognitive Theory (Teori Kognitif Sosial)...9

b. Teori Kepatuhan...10

c. Pajak...11

d. Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak...18

e. Pelayanan Fiskus...19

2. Penelitian yang Relevan...20

3. Kerangka Pikir...28

4. Hipotesis Penelitian...29

G. Metode Penelitian...30

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian...30

2. Lokasi dan Waktu Penelitian...31

(4)

3. Desain Penelitian...32

4. Variabel Penelitian...33

5. Definisi Operasional...34

6. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel...36

7. Data dan Sumber Data...38

8. Metode Pengumpulan Data...39

9. Instrumen Penelitian...39

10. Teknik Analisis Data...40 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(5)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Target dan Realisasi Pajak Periode 2019-2023...3

Tabel 2. Penelitian yang Relevan...20

Tabel 3. Operasional Variabel Kualitas Pelayanan Fiskus...34

Tabel 5. Operasional Variabel Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak...36

(6)

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 1. Kerangka Pikir...28 Bagan 2. Desain Penelitian...32 Bagan 3. Variabel Penelitian...33

(7)
(8)

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP PERRILAKU KEPATUHAN WAJIB PAJAK MUSLIM (Studi Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Muslim yang Terdaftar di

KPP Pratama Kolaka) A.Latar Belakang Masalah

Mengacu pada definisi pajak menurut UU menitikberatkan pajak sebagai indikator tercapainya kemakmuran rakyat. Oleh sebab itu, kesadaran akan pentingnya peranan pajak sebagai sumber pendapatan terbesar negara, maka pemerintah terus melakukan upaya peningkatan kas negara dengan dibentuknya kebijakan di sektor perpajakan guna menunjang pertumbuhan ekonomi nasional.1 Pajak adalah iuran wajib kepada Negara yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan dan bersifat memaksa menurut Undang-Undang, tanpa imbalan langsung, digunakan untuk keperluan Negara untuk keperluan rakyat.2 Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dipahami, bahwa pajak merupakan indikator kemakmuran rakyat dan sumber pendapatan terbesar negara, sehingga pemerintah berupaya meningkatkan kas negara melalui kebijakan tersebut guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Pajak juga merupakan suatu kewajiban warga negara dengan melakukan pembayaran sejumlah uang kepada negara yang didasari atas peraturan yang bersifat mengikat dan penggunaan sepenuhnya diperuntukan bagi penciptaan kesejahteraan masyarakat rakyat.

Pajak merupakan salah satu pendapatan negara terbesar yang mempunyai peran penting bagi kesejahteraan rakyat. Seiring dengan hal tersebut maka pemerintah terus melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kepatuhan wajib

1 Olivia Laurencia Halim, “Pengaruh Kebijakan Pajak Dalam Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak di Masa Pandemi Covid-19”, Indonesia Journal of Business Law, Vol 2 No 1, 2023, hlm. 17.

2 Silda Labibi, dkk., “Efektivitas Sistem E-Registration Terhadap Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasuruan”, Neraca Manajemen, Ekonomi, Vol 3 No 9, 2024, hlm. 2.

(9)

pajak, karena dengan meningkatnya kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya maka penerimaan pajak akan semakin meningkat pula.3 Negara Indonesia yang sebagian besar sumber pendapatan negara adalah melalui penerimaan pajak. Penerimaan uang dari sektor perpajakan sangat berpengaruh terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) setiap tahunnya.

Pajak mempunyai 2 fungsi utama, ialah fungsi budgeter serta fungsi regulasi. fungsi budgeter berkaitan dengan fungsi pajak selaku perlengkapan untuk mengumpulkan dana dari warga yang setelah itu digunakan buat membiayai administrasi pemerintahan serta kegiatan- kegiatan pembangunan. Sebaliknya fungsi regulasi merupakan fungsi pajak yang berkaitan dengan kedudukan pajak dalam mengendalikan perekonomian, alokasi sumber energi, redistribusi pemasukan, mengkonsumsi serta investasi publik. Dengan memandang 2 fungsi diatas hingga telah jelas bahwasanya perpajakan ialah produk kebijakan pemerintah di bidang fiskal/ keuangan.4

Salah satu upaya pemerintah untuk memaksimalkan penerimaan perpajakan adalah dengan melakukan reformasi perpajakan, yaitu mengubah sistem perpajakan dari official assessment system menjadi self-assessment system. 5 Perubahan sistem perpajakan agar meningkatkan kesadaran dalam membayar pajak juga telah dilakukan dalam rangka memberikan kepercayaan penuh terhadap wajib pajak untuk melakukan perhitungan, penyetoran sampai dengan kegiatan pelaporan terhadap pajak yang menjadi kewajibannya. Penerapan sistem tersebut

3 Lia Septriliani dan Ismet Ismatullah, “Sistem Administrasi Perpajakan Modern Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi”, Jurnal Akuntansi dan Ekonomi, Vol 6 No 1, 2021, hlm.

92.

4 Dhestiani Amara Putri, dkk., “Reformasi Perpajakan di Indonesia”, Jurnal Hukum POSITUM, Vol 6 No 2, 2021, hlm. 169-170.

5 Nabila Karlinda Raharjo, dkk.,“ Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Tarif Pajak, Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Kasus pada Wajib Pajak Orang Pribadi Non Karyawan di KPP Pratama Cibinong Periode 2020), E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, hlm. 672.

(10)

dilakukan antara lain melalui perubahan dari official assessment system yaitu dengan memberikan wewenang kepada otoritas dalam penetapan beasaran pajak yang terutang oleh wajib pajak (WP), kemudian diubah menjadi self-assessment system yaitu seseorang dapat melakukan perhitungan secara mandiri secara penuh, penyetoran sampai dengan kegiatan pelaporan terhadap seluruh pajak yang menjadi kewajibannya.6

Berikut target dengan realisasi pajak pada data periode 2019-2023:

Tabel 1

Targer dan Realisasi pajak periode 2019-2023 Tahu

n

Target Realisasi

2019 1.55,5 T 1.332,7 T

2020 1.198.8 T 1.072,1 T

2021 1.229.6 T 1.278,6 T

2022 1.485 T 1.716,8 T

2023 1.718 T 1,818,2 T

Sumber : Pajakku & CNBC indonesia

Pandemi COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan, berpengaruh signifikan tidak hanya pada kesehatan masyarakat dan tingkat kematian, tetapi juga pada aktivitas sosial-ekonomi masyarakat di seluruh dunia.7 Penerimaan pajak mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2019-2020. Pada tahun 2020, penerimaan pajak sebesar Rp 1.072,1 tercatat turun 19,55% dari tahun 2019 sebesar Rp 1.332,7 triliun. Penurunan ini terjadi akibat dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan tekanan ekonomi pada semua sektor usaha.

6 Erwin Bahtiar dan Sihar Tambunan, “ Pengaruh Pemahaman Fungsi Pajak dan Manfaat Pajak Terhadap Sikap Nasionalisme Serta Dampaknya Terhadap Niat Menjadi Wajib Pajak yang Patuh”, Media Akuntansi Perpajakan, Vol 5 No 2, 2020, hlm. 63.

7 Rasidin Karo-Karo Sitepu, dkk., Kajian Terhadap Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan belanja negara Tahun 2023, (Cet I; Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung, 2022), hlm. 8.

(11)

Pandemi COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan, berpengaruh signifikan tidak hanya pada kesehatan masyarakat dan tingkat kematian, tetapi juga pada aktivitas sosial-ekonomi masyarakat di seluruh dunia. Bahkan mentri keuangan menjelaskan dalam laporan belanja perpajakan 2022 bahwa; pada tahun 2022 situasi ekonomi dunia masih dalam kondisi pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya usai dan ketegangan geopolitik di beberapa kawasan dunia.

Pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina menyebabkan disrupsi perekonomian global yang luar biasa pada tahun 2022.8

Meskipun mengalami penurunan pada tahun 2020, penerimaan pajak kembali mengalami pertumbuhan pada tahun 2021, meningkat sebesar 19,26%

dari tahun sebelumnya, menunjukkan adanya pemulihan ekonomi setelah dampak awal pandemi. Sejak itu, kinerja pendapatan negara terus meningkat pada tahun 2022, dengan penerimaan pajak mencapai Rp 1.716,8 triliun. Jumlah itu menunjukkan kenaikan sebesar 34,3% dibandingkan realisasi penerimaan pajak tahun sebelumnya.9 Sedangkan pada tahun 2023 mencapai Rp 1.818,24 triliun.10

Meskipun terjadi pertumbuhan yang baik dalam penerimaan pajak, pemerintah tetap waspada terhadap kondisi ekonomi global dan berbagai indikator lainnya. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan tren penerimaan pajak yang tinggi. Pembahasan mengenai kepatuhan wajib pajak adalah topik yang sering dibicarakan, termasuk di indonesia. Kepatuhan wajib pajak merujuk pada seseorang memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam mendukung kepatuhan wajib pajak, kepuasan wajib pajak atas pelayanan perpajakan juga harus dirasakan oleh wajib pajak. Wajib pajak

8 Badan Kebijakan Fiskal, Laporan Belanja Perpajakan 2022, (Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan).

9https://www.cnbcindonesia.com/research/20230104120125-128-402700/penerimaan- pajak-ri-2014-rp985-t-pada-2022-tembus-rp1716-t

10https://www.pajakku.com/read/a30efa68-41aa-46e4-9692-107950315fe1/Penerimaan- Pajak-Per-12-Desember-2023-Capai-Rp17-Triliun

(12)

merupakan pelanggan yang harus dijaga hubungan baiknya. Kepuasan wajib pajak tergantung pada kualitas pelayanan yang diterima serta adanya pemeriksaan dari petugas pajak. Peningkatan kualitas pelayanan perlu dilakukan secara terus menerus dalam rangka menjaga kepuasan wajib pajak. Peningkatan kualitas pelayanan dapat dilakukan dengan cara peningkatan kualitas dan kemampuan teknis pegawai dalam bidang perpajakan, perbaikan dan infrastruktur seperti perluasan tempat pelayanan terpadu (TPT), pengguna sistem informasi dan teknologi dapat memberikan kemudahan kepada wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajaknnya. Peningkatan pemeriksaan perpajakan juga perlu ditingkatkan seperti pemeriksaan SPT agar wajib pajak lebih mematuhi peraturan perpajakan dalam membayar pajak. Apabila wajib pajak merasa puas atas pelayanan yang diberikan dan juga pemeriksaan yang dilakukan maka akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, baik dalam menyampaikan SPT maupun dalam mengisi SPT.11 Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE09/PJ/2013 tentang Panduan Pelayanan Prima Dirjen Pajak. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan pelayanan yang berkualitas yang nantinya mampu meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak

Rasio kepatuhan wajib pajak di Indonesia meningkat dari 61% pada tahun 2016 menjadi 73% pada tahun berikutnya, dengan peningkatan setiap tahunnya.

Namun, belum ada rasio kepatuhan 100%, sehingga pemerintah perlu melakukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan ketaatan dalam membayar pajak.12

Berkaitan dengan tingkat kepatuhan wajib pajak ada beberapa permasalahan yang menjadi tugas bagi Direktorat Jendral Pajak yakni masih banyak wajib pajak baik badan maupun orang pribadi yang belum taat dan patuh dalam pelaksanaan perpajakan, meskipun sudah ada Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai identitas mereka, namun hal itu bukan menjadikan mereka takut untuk

11 Maria Nona Dince dan Hildatary Nona Desy, “Pengaruh Kualitas Pelayanan, Pemeriksaan Pajak dan Sanksi Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak pada KPP Pratama Maumere”, Vol 7 No 1, 2023, hlm. 2037.

12 Virda Ariesta dan Eka Febrianni, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi dengan Sosialisasi Perpajakan sebagai Pemoderasi, Jurnal Buana Akuntansi, Vol 9 N0 1, 2024, hlm. 2.

(13)

mendapatkan sanksi. Upaya yang telah dilakukan oleh petugas pajak dan sebagainya tidak begitu memberikan efek jika wajib pajak tidak merasakan adanya manfaat yang timbul dari kegiatan perpajakan.13 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kolaka yang meliputi wilaya kerja Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur dan Kabupaten Bombana terus melakukan kegiatan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak terkait pelaporan tahunan.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti menguji kembali pengaruh kualitas pelayanan fiskus terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak (Studi pada Wajib Pajak Orang pribadi muslim yang terdaftar di KPP Pratama Kolaka).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang duiraikan diatas, maka calon peneliti menguraikan rumusan masalah sebagai yakni apakah kualitas pelayanan fiskus berpengaruh terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak?

C.Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan fiskus terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak.

D.Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang diuraikan di atas, maka manfaat penelitian yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis dalam penelitian ini diharapkan mampu menjadi pengembangan Sosial Cognitive Theory (Teori Kognitif Sosial) oleh Bandura.

Sosial Cognitive Theory memandang perilaku manusia merupakan komponen dari suatu model yang berintegrasi saling mempengaruhi dengan komponen

13 Arni Karina, dkk., “Tingkat Pendapatan, Tarif Pajak, dan Sanksi Pajak pengaruhnya Terhadapnya Wajib Pajak Orang Pribadi dengan Pemeriksaan Pajak Sebagai Variabel Moderasi”, Jurnal Economics and Digital Business Review, Vol 5 No 1, 2024, hlm. 360.

(14)

situasi lingkungan, serta komponen personal manusia yang meliputi efeksi/emosi dan kognitif individu. Sifat timbal balik penentuan pada fungsi manusia ini dalam teori kognitif sosial memungkinakan untuk menjadi terapi dan usaha konseling yang diarahkan pada personal, lingkungan, dan tingka laku. Juga menjadi pengembangan Compliance Theory oleh Milgram.

Compliance Theory menjelaskan kondisi di mana seseorang taat terhadap perintah atau aturan yang ditetapkan. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan antara lain persepsi tentang status lokasi, tanggung jawab personal, dukungan rekan, ligitimasi figur otoritas, status figur otoritas dan kedekatan figure otoritas.

2. Manfaat praktis dalam penelitian ini sebagai kontribusi dalam usaha peningkatan perilaku kepatuhan wajib pajak dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan wajib pajak yang dalam penelitian ini adalah pengaruh kualitas pelayanan fiskus dan pemahaman peraturan perpajakan. Adapun juga sebagai solusi dalam persoalan perpajakan dan hasil dari penelitian ini dapat disajikan sebagai salah satu acuan dalam membuat perencanaan pajak yang lebih baik dan pelayanan pajak sebagai solusi tepat untuk menjawab permasalahan pajak yang dihadapi.

E. Batasan masalah

Pembatasan suatu masalah bertujuan agar terhindar dari pembahasan yang di luar dari topik utama, pembatasan masalah menerangkan fokus atau bahasan bahasan pokok yang terlibat dengan penelitian ini agar lebih terarah dengan baik.

Adapun batasan masalah dari penelitian ini yakni sebagai berikut:

(15)

1. Batasan Data

Batasan data dalam penelitian ini diperoleh dari angket atau kuesioner yang akan disebar pada wajib pajak muslim yang berada di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara.

2. Batasan Lapangan

Peneliti melakukan penelitian di lingkup Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara atau sekitaran kantor pos pelayanan pajak.

3. Batasan Aspek

Aspek yang diteliti adalah Pengaruh Kualitas Pelayanan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Muslim.

F. Tinjauan Pustaka 1. Kajian Teori

a. Sosial Cognitive Theory (Teori Kognitif Sosial)

Teori Kognitif Sosial didasarkan atas proposisi bahwa proses sosial dan proses kognitif adalah sentral bagi pemahaman mengenai motivasi, emosi, dan tindakan manusia. Perspektif teori ini memandang perilaku manusia merupakan komponen dari sebuah model yang berinteraksi saling memperngaruhi dengan komponen situasi lingkungan, serta komponen personal manusia yang meliputi afeksi/emosi dan kognitif individu. Tidak hanya menempatkan manusia mempunyai kemampuan kognitif yang berkontribusi pada proses motivasi manusia, afeksi dan aksi/tindakan, tetapi juga bagaimana mereka memotivasi dan

(16)

meregulasi perilaku mereka dan membuat sistem-sistem sosial untuk mengorganisasi dan menstrukturisasi kehidupan mereka.14 Dari perspektif sosial kognitif, individu dipandang mampu menjadi proaktif dan mengatur diri sendiri dari pada menjadi reaktif dan dikendalikan oleh kekuatan biologis atau lingkungan. Selain itu, individu juga dipahami sebagai kepercayaan diri yang memungkinkan mereka untuk mengukur kontrol atas pikiran, perasaan dan tindakan mereka. Menurut Bandura dalam jurnal yang ditulis oleh Kumalasari, dkk; menunjukkan bahwa individu menciptakan dan mengembangkan persepsi diri tentang keterampilan yang sangat penting untuk tujuan mereka bekerja dan kontrol yang mereka gunakan terhadap lingkungan mereka. Atas dasar persepsi Bandura tentang reciprocal determinism, ia meyakini bahwa (a) faktor personal berupa peristiwa kognitif, afektif dan biologis, (b) perilaku, (c) faktor lingkungan menciptakan interaksi yang bermuara pada triadic reciprocality. Saling ketergantungan fungsi manusia dalam teori kognitif sosial memungkinkan upaya terapeutik dan konseling yang menargetkan faktor pribadi, lingkungan dan perilaku.15 Banduran dalam jurnal yang ditulis oleh Indri Kesuma Ningrum dan Kamsih Astuti menjelaskan bahwa; teori kognitif sosial berakar pada pandangan tentang human agency bahwa individu merupakan agen yang secara proaktif mengikutsertakan dalam lingkungan mereka sendiri dan dapat membuat sesuatu terjadi dengan tindakan mereka.16 Adapun pendapat dari mukhid dalam jurnal yang di tulis oleh Andi Widyanti, dkk; mengenai kunci pengertian agensi adalah kenyataan bahwa di antara faktor personal yang lain, individu memiliki

14 Sri Muliati Abdullah, “Social Cognitive Theory : A Bandura Thought Review published in 1982-2012” , PSIKODIMENSIA, Vol 18 No 1, 2019, hlm. 85-86.

15 Kumalasari, dkk., “Pengaruh Love of Money dan Ketidakpercayaan Kepada Fiskus Terhadap Tax Evasion dengan Iman Islam Sebagai Variabel Moderasi (Studi pada Wajib Pajak Orang Pribadi Muslim yang Terdaftar di Kanwil DJP Sulselbartra), Accounting, Accountability and Organization System (AAOS), Vol 4 No 2, 2023, hlm. 183.

16 Indri Kesuma Ningrum, “ Kontrol Diri Dan Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Bullying Pada Siswi”, Jurnal Psikologi, Vol 19, No 1, 2023, hlm. 29.

(17)

self-beliefs yang memungkinkan mereka melatih mengontrol atas pikiran, perasaan, dan tindakan mereka, bahwa apa yang dipikirkan, dipercaya, dan dirasakan orang mempengaruhi bagaimana mereka bertindak17

b. Teori Kepatuhan (Compliance Theory)

Kepatuhan (compliance theory) Teori Kepatuhan (compliance theory) pertama kali dikemukakan oleh Stanley Milgram. Pada teori kepatuhan ini dikatakan mengenai sebuah keadaan atau kondisi dimana seseorang taat terhadap perintah atau aturan yang telah ditetapkan.18 Menurut Tahar dan Rachman dalam jurnal yang dituis oleh Ni Komang Ayu Juliantari, dkk; menyatakan bahwa kepatuhan mengenai perpajakan merupakan tanggung jawab kepada Tuhan, bagi pemerintah dan rakyat sebagai wajib pajak untuk memenuhi semua kegiatan kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya.19 Kepatuhan wajib pajak merupakan perilaku yang didasarkan pada kesadaran seorang wajib pajak terhadap kewajiban perpajakannya dengan tetap berlandaskan pada peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan antara lain persepsi tentang status lokasi, tanggung jawab personal, dukungan rekan, ligitimasi figure otoritas, status figure otoritas dan kedekatan figur otoritas.

Kesadaran itu sendiri merupakan bagian dari motivasi instrinsik yaitu motivasi yang datangnya dalam diri individu itu sendiri dan motivasi ekstrinsik

17 Andita Widyanti, dkk., “Efektivitas Konseling Kognitif Sosial Teknik Bermain Peran Untuk Meningkatkan Self Afiliasi”, hlm 74

18Aldo Kristona Bangun dan Maria Goreti Kentris Indarti, “Pengaruh Self Assessment System Dan Penerapan E-Filing Terhadap Kesadaran Wajib Pajak Dan Dampaknya Pada Kepatuhan Pajak Orang Pribadi”, Management Studies and Entrepreneurship Journal, Vol 5 No 1, 2024, hlm. 2959.

19 Ni Komang Ayu Juliantari, dkk.,” Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral, Sanksi Pajak, dan Sosialisasi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Kendaraan Bermotor di Kantor Samsat Gianyar, JURNAL KHARISMA,VOL 3 No 1, 2021, hlm 130.

(18)

yaitu motivasi yang datangnya dari luar individu, seperti dorongan dari aparat pajak untuk meningkatkan kepatuhan perpajakan.20

c. Pajak

1) Definisi Pajak

Pajak merupakan salah satu wujud kemandirian suatu bangsa atau negara dalam pembiayaan pembangunan yaitu menggali potensi dalam negeri. Pengertian pajak secara awam merupakan iuran dalam bentuk uang (bukan barang) yang dipunggut oleh pemerintah (negara) dengan suatu peraturan tertentu (tarif tertentu) dan selanjutnya digunakan untuk pembiayaan kepentingan umum.21 Sedangkan menurut Roochmat Sumitro dalam buku yang ditulis oleh Akhmad Syarifuddin menjelaskan bahwa; pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU (dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat kontraprestasi yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan tentang ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak:

a. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun daerah

b. Pajak dapat dipaksakan berdasarkan Undang-Undang dan aturan pelaksanaanya

c. Pembayaran pajak tidak mendapat kontaprestasi langsung dari Pemerintah

20Rara Gustiana, dkk., “Pengaruh Sosialisasi Perpajakan dan Kinerja Account Representative Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan Pada KPP Madya Banjarmasin,”

DINAMIKA EKONOMI Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol 16 No 2, 2023, hlm. 523-524.

21Nik Amah, Opsi Kepatuhan Pajak: Modernisasi Admistrasi & Moral Pajak, (Cet I;

Medium Jawa Timur: UNIPMA Press Universitas PGRI Madium, 2021), hlm 10

(19)

d. Diperuntukkan bagi pengeluaran rutin Pemerintah dalam menyelenggarkan pemerintahan secara umum dan jika surplus digunakan untuk Public Invesment.

e. Pajak juga memiliki fungsi mengatur (non budgetair)

f. Pajak dipungut oleh sebab suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu pada seseorang.22

Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pajak dikatakan sebagai iuran dalam bentuk uang yang dipungut oleh pemerintah dengan suatu peraturan tertentu yang kemudian digunakan untuk pembiayaan kepentingan umum dan pembayaran pajak tidak mendapat kontraprestasi langsung dari pemerintah, menekankan bahwa pajak ialah kewajiban murni dan tidak berhubungan dengan penerimaan langsung dari pemerintah.

2) Pajak Dalam Persepsi Syariah

Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Adh-Dharibah atau bisa juga disebut Al-Maks, yang artinya adalah; “Pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak.” Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutupi biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum. Terdapat beberapa istilah lain yang mirip dengan pajak atau Adh-Dharibah diantaranya adalah:

a. al-Jizyah

Yaitu upeti yang harus dibayarkan ahli kitab kepada pemerintahan islam.

Dasar hukum ini terdapat dalam QS. At-Taubah ayat 29 yaitu sebagai berikut:

22 Akhmad Syarifudin, Perpajakan, (Cet II; Kebumen: STIE Putra Bangsa, 2021), hlm. 2.

(20)

ُهّٰٰٰللا َمّرَٰٰح اَٰٰم َنْوُٰٰمّرَحُي َلَو ِرِخٰ ْلا ِمْوَيْلاِب َلَو ِهّٰللاِب َنْوُنِمْؤُي َل َنْيِذّلا اوُلِتاَق

َةَيْزِجْلا اوُطْعُي ىّٰتَح َبٰتِكْلا اوُتْوُا َنْيِذّلا َنِم ّقَحْلا َنْيِد َنْوُنْيِدَي َلَو ٗهُلْوُسَرَو ࣖ َنْوُرِغٰص ْمُهّو ٍدّي ْنَع ٢٩

Artinya:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak mengharamkan (menjauhi) apa yang telah diharamkan (oleh) Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengikuti agama yang hak (Islam), yaitu orang-orang yang telah diberikan Kitab (Yahudi dan Nasrani) hingga mereka membayar jizyah) dengan patuh dan mereka tunduk.23

Ayat ini memerintahkan menindak/ memerangi kelompok Yahudi dan Nasrani yang berniat buruk terhadap islam serta bermaksud memerangi islam.

Mereka itu dinilai tidak melaksanakan tuntutan agama dengan baik. Ayat ini memerintahkan menindak/ mereka sampai mereka bersedia membayar jizyah/

pajak dalam keadaan tunduk dan patuh.24 b. al-Kharaj

Yaitu pajak bumi yang dimiliki oleh negara Islam. Adapun dasar kharaj ini terdapat surat al-Mukminun ayat 72:

َنْيِقِزّٰرلا ُرْيَخ َوُهّوٌرْيَخ َكّبَر ُجاَرَخَف اًجْرَخ ْمُهُلْٰٔسَت ْمَا ۖ ٧٢

Artinya:

Ataukah engkau (Nabi Muhammad) meminta imbalan kepada mereka, sedangkan imbalan dari Tuhanmu lebih baik karena Dia sebaik-baik pemberi rezeki? QS. Al-Mukminun:72).

Kharaj dibebankan atas tanah tanpa membedakan apakah pemiliknya anak- anak atau orang dewasa, merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, muslim

23 Mushaf Aisyah Al-Quran dan terjemahan untuk Wanita, (Bandung: JABAL)

24 M. Quraish Shihab, Al-Lubab Makna, Tujuan dan Pelajaran dari Surah-Surah Al- Quran, (Cet I; Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2012), hlm. 553-554.

(21)

atau nonmuslim. Tarif kharaj itu bisa berubah-ubah, namun pada zaman sekarang ini jarang dipungut lagi.

c. al-Usyur

Yaitu bea cukai bagi para pedagang non muslim yang masuk ke negara Islam. Usyr dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham. Tingkat bea orang-orang yang dilindungi adalah 5% dan pedagang muslim 2,5%.

3) Fungsi Pajak

a) Fungsi Anggaran (Fungsi Budgeter)

Pajak merupakan sumber pemasukan keuangan negara dengan cara mengumpulkan dana atau uang dari wajib pajak ke kas negara untuk membiayai pembangunan nasional atau pengeluaran negara lainnya. Sehingga fungsi pajak merupakan sumber pendapatan negara yang memiliki tujuan menyeimbangkan pengeluaran negara dengan pendapatan negara.25 Fungsi anggaran merupakan Suatu fungsi di mana pajak digunakan sebagai alat untuk memperoleh dana yang sebesarbesarnya guna pembiayaan penyelenggaraan negara berdasarkan Undang- Undang. Fungsi Budgeter ini merupakan fungsi utama dari pajak yang digunakan oleh semua pemerintahan di seluruh dunia untuk mendapatkan dana guna membiayai kegiatan penyelenggaraan negara, baik di tingkat pemerintah pusat maupun di tingkat pemerintah daerah.26

b) Fungsi Mengatur (Fungsi Regulasi)

25 Sotarduga Sihombing dan Susy Alestriani Sibagaring, Perpajakan Teori dan Aplikasi, (Cet I; Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung, 2020), hlm. 4.

26 Setiadi Alim Lim, dkk, Hukum Pajak Menggunakan PTKP 2015, (Cet I; Surabaya:

Universitas Surabaya, 2015), hlm. 5.

(22)

Pajak merupakan alat untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan negara dalam lapangan sosial dan ekonomi. Fungsi mengatur tersebut antara lain:

- Pajak berefungsi menghambat laju inflasi.

- Pajak berfungsi sebagai alat untuk mendorong kegiatan ekspor, seperti:

pajak ekspor barang.

- Pajak berfungsi memberikan perlindungan terhadap barang produksi dari dalam negeri, contohnya: Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

- Pajak berfungsi mengatur dan menarik investasi modal yang membantu perekonomian negara agar semakin produktif.27

4) Asas Pemungutan Pajak a) Asas domisili

Adalah cara pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara berdasarkan tempat tinggal wajib pajak. Menurut asas ini, wajib pajak yang bertempat tinggal di Indonesia akan dikenakan pajak atas segala penghasilan baik yang didapat di Indonesia maupun didapat dari luar negeri.

b) Asas sumber

Adalah cara pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara berdasarkan sumber pendapatan tanpa melihat tempat tinggal. wajib pajak menurut asas ini adalah siapapun yang memperoleh penghasilan di Indonesia akan dikenakan pajak sekalipun tempat tinggalnya di luar negeri. Contoh: Tenaga kerja asing bekerja di

27 Mohammad Taufik, Pengantar Hukum Pajak, (Cet II; Yogyakarta: TAB Yogyakarta, 2019), hlm. 12.

(23)

Indonesia maka dari penghasilan sektor apapun yang didapat di Indonesia akan dikenakan pajak juga oleh pemerintah Indonesia.

c) Asas kebangsaan

Adalah pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara berdasarkan atas hubungan kebangsaan wajib pajak. Contoh: setiap warga negara asing yang bertempat tinggal di Indonesia harus membayar pajak kepada negara asalnya.28

5) Sistem Pemungutan Pajak a) Official Assessment

Menurut sistem perpajakan ini, besarnya pajak yang terutang ditetapkan sepenuhnya oleh institusi pemungut pajak. Wajib pajak dalam hal ini bersifat pasif dan menunggu penyampaian utang pajak yang ditetapkan oleh institusi pemungut pajak. Sistem pemungutan pajak ini memiliki kekuarangan, yaitu karena wajib pajak memiliki wewenang menghitung sendiri besaran pajak terutang yang perlu dibayarkan, maka wajib pajak biasanya akan berusaha untuk menyetorkan pajak sekecil mungkin dengan membuat laporan palsu atas pelaporan kekayaan.29

b) Self Assesment System

Merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung,

28 Mustaqiem, Perpajakan Dalam Konteks Teori Dan Hukum Pajak di Indonesia, (Cet I;

Yogyakarta: Buku Litera Yogyakarta, 2014), hlm. 42.

29 Khalimi dan Moch Iqbal, Hukum Pajak Teori dan Praktik, (Cet I; Bandar Lampung:

CV. Anugrah Utama Raharja, 2020), hlm. 35.

(24)

memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.30 Adapun ciri-ciri Self Assessment System adalah:

- Wewenang untuk menentukan besar pajak yang terutang ada pada Wajib Pajak

- Wajib Pajak aktif (mulai dari mendaftarkan diri untuk mendapat NPWP, menghitung, membayar dan melaporkan pajak yang terutang)

- Aparatur pajak (fiskus) hanya bertindak sebagai pengawas31 c) With Holding System

With Holding System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan Fiscus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Ciri-ciri dari with holding system adalah wewenang menentukan besarnya pajak terutang ada pada pihak ketiga, selain fiskus dan wajib pajak. Dapat pula dikatakan bahwa ia sebagai salah satu metode pengumpulan pajak penghasilan yang merupakan bagian dari seluruh penghasilan yang diterima oleh subjek pajak dalam satu tahun yang dihitung, dipotong, disetor dan dilaporkan oleh si pemberi penghasilan.32

6) Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak

30 Anastasia Diana dan Lilis Setiawan, Perpajakan Teori dan Peraturan Terkini, (Cet I;

Yogyakarta: CV. Andi Offet, 2014), hlm. 1.

31 Nur Wahyuning Sulistyowati, dkk., Pertambahan Nilai Teori & Praktik, (Cet I; Jawa Timur: UNIPA PRESS, 2018), hlm. 8.

32 Suparnyo, Hukum Pajak, (Cet III; Semarang: Pustaka Magister Semarang, 2012), hlm.

30.

(25)

Perilaku merupakan respons atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.33 Menurut Nurmantu dan jurnal yang ditulis oleh Winny Aprilia Nurita Ujur Agun, dkk; mendefinisikan kepatuhan perpajakan sebagai Suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak dan perpajakannya. Terdapat dua macam kepatuhan, yakni kepatuhan formal dan kepatuhan material.

Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakannya secara formal sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang perpajakan.34 Dalam hal ini kepatuhan formal meliputi:

a) Wajib pajak membayar pajak dengan tepat waktu b) Wajib pajak membayar pajak dengan tepat jumlah.

c) Wajib pajak tidak memiliki tanggungan pajak bumi dan bangunan.35

Kepatuhan material adalah suatu keadaan dimana wajib pajak secara subtansi/hakekat memenuhi semua ketentuan perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa undangundang perpajakan. Pengertian kepatuhan material dalam hal ini adalah:

a) Wajib pajak bersedia melaporkan informasi tentang pajak apabila petugas membutuhkan informasi.

33 Putu dan Sulfan, ”Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pekerjaan Bebas di Kota Denpasar” ,Jurnal Pajak dan Keuangan Negara Vol. 03, No. 02, 2022, hlm 296.

34 Winny Aprilia Nurita Ujur Agun, dkk.,” Kepatuhan Wajib Pajak dalam Memenuhi Kewajiban Perpajakan Orang Pribadi, Wicaksana, Jurnal Lingkungan & Pembangunan, Vol 6 No 1, 2022, hlm. 26.

35 Hilmi Juandi, dkk., “Efektivitas Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Oleh Pemungut Pajak Di Desa Cikondang Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya”, hlm 667-668

(26)

b) Wajib pajak berikap kooperatif (tidak menyusahkan) petugas pajak dalam pelaksanaan proses administrasi perpajakan

c) Wajib pajak berkeyakinan bahwa melaksanakan kewajiban perpajakan merupakan tindakan sebagai warga negara yang baik.36

Rahayu dalam jurnal menjelaskan bahwa kriteria wajib pajak patuh menurut keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK 04/2000 wajib pajak patuh adalah sebagai berikut.

a) Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam dua tahun terakhir;

b) Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak;

c) Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir;

d) Dalam dua tahun terakhir menyelenggarakan pembukan dalam hal terhadap wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang terakhir untuk tiap-tiap jenis pajak yang terutang paling banyak lima persen.37 7) Kualitas Pelayanan Fiskus

Pelayanan adalah cara melayani (membantu mengurus atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang). Sementara itu fiskus adalah petugas

36 Mecky Wurangian, dkk., “Motivasi dan Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Pasca Tax Amnesty (Studi Empiris Pada KPP Pratama Manado), Jurnaal Riset Akuntansi dan Auditing

“GOODWILL”, Vol 12 No 2, 2021, hlm. 268.

37 Dipa Teruna Awaludin, dkk., “Analisis Penggunaan E-Faktur Dan Kepatuhan Pengusaha Kena Pajak Dalam Pelaporan Spt Masa Ppn 2016-2018”, Ilmu dan Budaya, Vol 42 No 2, 2021, hlm. 229.

(27)

pajak. Sehingga pelayanan fiskus dapat diartikan sebagai cara petugas pajak dalam membantu mengurus menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang.38 Menurut Lupiyoadi dalam jurnal yang ditulis oleh Martha Rianty dan Riza Syahputera; terdapat beberapa indikator kualitas pelayanan fiskus, yaitu:

a) Tangibles, atau berwujud yaitu seluruh bentuk penampilan fisik dari pemberi pelayanan meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi.

b) Reliability, atau kehandalan yaitu kemampuan kantor pelayanan pajak untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.

c) Responsiveness, atau ketanggapan yaitu seberapa tanggap kantor pelayanan pajak terhadap suatu persoalan yang timbul pada wajib pajak dan keinginan para staf untuk membantu para wajib pajak serta memberikan pelayanan yang baik.

d) Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para WP (wajip pajak) dengan berupaya memahami keinginan WP.39

1. Penelitian yang relevan

Tabel 2

Penelitian yang relevan No Identitas

Penelitian

Tujuan Penelitian Hasil Penelitian Persamaan dan perbedaan

38 Intan Nurul Muslimah, “ Pengaruh Persepsi Kemudian dan Pelayanan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dengan Variabel Intervening Kepuasan Wajib Pajak” Prisma (Platform Riset Mahasiswa Akuntansi), Vol 1 No 1, 2020, hlm. 89.

39 Rianty dan Riza Syahputera, “Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan Fiskus, dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, hlm 16

(28)

1 Penulis:

Alifah Khaerunnisa, Afifudin dan Siti Amanah Anwar

Judul:

“Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Kualitas Pelayanan Fiskus, Sanksi Perpajakan dan Tax Amnesty Terhadap

Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (studi kasus

pada KPP

Pratama Siduarjo Selatan)”.

Tahun: 202140

tujuan yang ingin dicapai penulis

adalah untuk

mengetahui apakah pemahaman

peraturan perpajakan,

kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan dan tax amnesty

berpengaruh

terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi di kpp pratama sidoarjo selatan.

Penelitian tersebut memperoleh

bahwa: 1) variabel pemahaman

peraturan perpajakan,

kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan, dan tax amnesty secara simultan

berpengaruh

terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. 2) Hasil penelitian

menunjukkan bahwa variabel pemahaman

peraturan

perpajakan dan variabel kualitas pelayanan fiskus secara parsial tidak berpengaruh

terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. 3) Hasil

Terdapat persamaan antara penelitian Alifah Khairunnisa dkk, dan proposal penulis yakni sama-sama menjadikan variabel kualitas pelayanan fiskus sebagai variabel independent dan menjadikan kepatuhan wajib pajak orang pribadi sebagai sebagai variabel dependen dalam penelitiannya.

Sedangkan untuk perbedaannya dapat dilihat dari variabel penelitiannya.

Penilitian yang ditulis oleh Afifah Khairunnisa dkk, mempunyai 4 variabel independen diantaranya pemahaman peraturan perpajakan, kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan, dan tax amnesty. Sedangkan

40 Alifah Khairunnisa, dkk., “Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Kualitas Pelayanan Fiskus, Sanksi Perpajakan dan Tax Amnesty Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (studi kasus pada KPP Pratama Siduarjo Selatan)”, E-JRA, Vol 10 No 7, 2021.

(29)

penelitian menunjukkan bahwa variabel sanksi perpajakan dan variabel tax amnesty secara parsial berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

proposal penulis hanya menggunakan variabel kualitas pelayanan fiskus sebagai variabel independen.

2 Penulis:

Ni Nyoman Sulistya Yunita,

I Nyoman

Kusuma AMP dan I Made Sudiartana.

Judul:

Pengaruh Pemahaman Peraturan Pajak, Kualitas

Pelayanan Fiskus, Sanksi Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak dan Penurunan Tarif Pajak UMKM PP No. 23

Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara pemahaman

peraturan pajak, kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan,

kesadaran wajib

pajak dan

penurunan tarif pajak umkm pp no.

23 tahun 2018 terhadap kepatuhan wajib pajak dengan preferensi risiko sebagai variabel moderasi

Hasil menunjukkan

bahwa dalam

penelitian ini pada variabel

independen yakni pemahaman

peraturan pajak, kualitas pelayanan fiskus, sanksi pajak, kesadaran wajib pajak dan penurunan tarif pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan variabel preferensi risiko sebagai variabel moderasi meyatakan bahwa, pemahaman

Persamaan antara penelitian Ni Nyoman Sulistya Yunita dkk, dan proposal penulis terletak pada variabel independennya yakni kualitas fiskus dan kepatuhan wajib pajak sebagai variabel dependennya. Tidak lupa terdapat kesamaan dalam pemilihan teori yakni sama-sama menggunakan teori kepatuhan dalam penelitiannya.

Sedangkan

perbedannya antara penelitian Ni Nyoman Sulistya Yunita dkk, dan proposal penulis

(30)

Tahun 2018 Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dengan

Preferensi Risiko Sebagai Variabel

Moderasi.

Tahun: 202141

peraturan

perpajakan dan kualitas pelayanan fiskus dengan preferensi risiko sebagai variabel moderasi

berpengaruh secara positif dan mampu memoderasi

hubungan antara dua variabel yakni, pemaham peraturan perpajakan dan kualitas pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak. Tetapi berbanding terbalik terhadap ketiga variabel lainnya

yakni sanksi

perpajakan,

kesadaran wajib

pajak dan

penurunan tarif tidak berpengaruh terhadap kepatuhan

selain dari pada variabel nya yang lebih banyak dibanding proposal penulis, juga terdapat variabel baru yakni preferensi risiko sebagai variabel moderasinya, tidak hanya itu teori yang digunakan juga berbeda yakni penelitian Ni Nyoman Sulistya Yunita dkk, mengambil Theory Off Planned Behavior (TPB), Teori Atribusi dan Teori Prospek yang tidak dimiliki oleh proposal penulis.

41 Ni Nyoman Sulistya Yunita, dkk., “Pengaruh Pemahaman Peraturan Pajak, Kualitas Pelayanan Fiskus, Sanksi Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak dan Penurunan Tarif Pajak UMKM PP No. 23 Tahun 2018 Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dengan Preferensi Risiko Sebagai Variabel Moderasi”, Jurnal Kharisma, Vol 3 No 1, 2021

(31)

wajib pajak dengan preferensi risiko sebagai variabel moderasi

3 Penulis:

Jesica Anngareani Siringoringo, Lorina Siregar Sudjiman dan Lenita Waty.

Judul:

Pengaruh Religiusitas, Pelayanan

Fiskus dan

Sanksi Pajak Terhadap

Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Cianjur.

Tahun: 202442

Adapun tujuannya

ialah untuk

mengetahui apakah terdapat pengaruh antara religiusitas, pelayanan fiskus dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi di cianjur.

Hasil dari

penelitian ini menunjukkan

bahwa secara

parsial tingkat religiusitas tidak memiliki pengaruh

positif dan

signifikan.

Sebaliknya

pelayanan fiskus dan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan

wajib pajak.

Sedangkan hasil penelitian secara simultan bahwa religiusitas,

pelayanan fiskus dan sanksi pajak memiliki pengaruh

Persamaan dalam penelitian ini dengan proposal penulis adalah sama-sama mengambil kualitas pelayanan fiskus sebagai variabel independenya dan menjadikan kepatuhan wajib pajak orang pribadi sebagai variabel dependennya.

Sedangkan perbedaanya adalah penelitian Jesica Anngareani

Siringoringo tidak memasukkan teori dalam penelitiannya, berbanding terbalik dengan proposal

penulis yang

mengambil sosial cognitive theory (teori kognitif sosial) dan

42 Jesica Anngareani Siringoringo, dkk., “Pengaruh Religiusitas, Pelayanan Fiskus dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Cianjur”, Jurnal Ekonomika 45, Vol 11 No 2, 2024.

(32)

positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib

pajak orang

pribadi.

teori kepatuhan (compliance theory) dalam peelitiannya.

4 Penulis:

Yusdin, Lince Bulutoding, Suhartono Judul:

Akhlakul Karimah Sebagai Pemoderasi Faktor- Faktor Penentu

Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Tahun: 202043

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peraturan

perpajakan,

pelayanan fiskus dan penegakan

hukum pajak

berpengaruh

terhadap perilaku kepatuhan wajib

pajak dengan

akhlakul karimah sebagai variabel moderasi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemahaman peraturan

perpajakan,

kualitas pelayanan

fiskus dan

penegakan hukum pajak berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak. Sedangkan berdasarkan hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa akhlakul karimah

memperkuat

hubungan antara penegakan hukum pajak terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak. Akan

Persamaannya adalah sama-sama menjadikan variabel kualitas pelayanan fiskus sebagai variabel independent.

Sedangkan

perbedaannya Yusdin dkk, menggunakan tiga variabel independen dalam penelitiannya sedangkan proposal

penulis hanya

memasukkan satu variabel indenpenden.

Tidak hanya itu perbedaan yang sangat mencolok ialah terdapat variabel akhlakul karimah sebagai variabel moderasi.

43 Yusdin, dkk., ”Akhlakul Karimah Sebagai Pemoderasi Faktor- Faktor Penentu Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak”, Islamic Accounting and Finance Review, Vol 1 No 2, 2020.

(33)

tetapi berbanding terbalik terhadap variabel

pemahaman peraturan

perpajakan dan kualitas pelayanan fiskus tidak dapat memoderasi dan memperkuat kedua

variabel itu

terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak.

5 Penulis:

Arif Sulistyo Wibowo, Siti Nurlela dan Yuli Chomsatu Judul:

Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Penelitian ini dilakukan unutuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kesadaran

perpajakan, sanksi perpajakan,

kualitas pelayanan pajak, sosialisasi perpajakan,

pengetahuan

perpajakan dan insentif pajak berpengaruh

terhadap kepatuhan

Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan terhadap variabel-variabel yang

mempengaruhi Kepatuhan Wajib

Pajak Orang

Pribadi pada KPP Pratama Surakarta, dapat ditarik Kesimpulan bahwa Kualitas Pelayanan

Pajak dan

Pengetahuan Perpajakan

Persamaan dalam penelitian ini sama- sama memasukkan variabel independennya

yakni kualitas

pelayanan fiskus serta kepatuhan wajib pajak sebagai variabel dependen. Tidak hanya itu penelitian ini dengan proposal penulis sama- sama menjadikan wajib pajak orang pribadi sebagai objek pajaknya.

Sedangkan

perbedaannya ialah

(34)

Surakarta) Tahun: 202244

wajib pajak orang pribadi.

Perpajakan berpengaruh terhadap

Kepatuhan Wajib

Pajak Orang

Pribadi yang

terdaftar di KPP Pratama Surakarta.

Sedangkan Kesadaran

Perpajakan, Sanksi Perpajakan,

Sosialisasi

Perpajakan dan Insentif Pajak tidak berpengaruh

terhadap

Kepatuhan Wajib

Pajak Orang

Pribadi yang

terdaftar di KPP Pratama Surakarta.

terletak dari banyaknya

variabel yang

digunakan dari

penelitian Arif Sulistyo

Wibowo dkk,

berbanding terbalik dengan proposal penulis.

44 Arif Sulistyo Wibowo, dkk.,” Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta), Riset & Jurnal Akuntansi, Vol 6 No 2, 2022.

(35)

2. Kerangka Pikir

Variabel independen dalam penelitian ini adalah kualitas pelayanan fiskus (X1). Variabel dependen adalah perilaku kepatuhan wajib pajak (Y). Maka dari itu kerangka pikir penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 1 Kerangka Pikir

(36)

3) Hipotesis Penelitian

Berdasarkan later belakang dan rumusan masalah yang telah di kemukakan, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

a) Kualitas pelayanan fiskus terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak

Berdasarkan teori kepatuhan bahwa faktor yang mempengaruhi kepatuhan berasal dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik yang datangnya dari luar individu, seperti dorongan dari aparat pajak untuk meningkatkan kepatuhan.

45Teori kognitif sosial juga menjelaskan bahwa perilaku manusia merupakan komponen dari suatu model yang berinteraksi saling mempengaruhi dengan komponen situasi lingkungan. Jika dikaitkan dengan pelayanan fiskus, wajib pajak memiliki harapan terhadap petugas pajak dimana jika pelayanan yang baik dari petugas pajak dan sistem perpajakan yang efesien dan efektif maka memberikan motivasi kepada wajib pajak agar patuh membayar pajak. Pelayanan yang diberikan kepada wajib pajak juga harus adil, sederhana dan tidak berbelit belit agar wajib pajak nyaman melakukan pembayaran pajaknya.

Aparat pajak yang memberikan kualitas pelayanan yang baik kepada wajib pajak, berhubungan erat dengan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Pelayanan yang berkualitas yaitu pelayanan yang memberikan secara maksimal dan memperoleh hasil kepuasan yang baik oleh wajib pajak dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan serta harus dilakukan secara terus menerus.

Berikut sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Ni Nyoman Sulistya Yunita dkk, Jesica Anngareani Siringoringo dkk, Yusdin dkk dan Arif Sulistyo Wibowo; bahwa variabel kualitas pelayanan fiskus berpengaruh positif terhadap

45 Rara Gustiana, dkk., op.cit, hlm. 523-524.

(37)

perilaku kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasil penelitian Alifah Khaerunnisa ddk; bahwa pelayanan fiskus tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1: Kualitas pelayanan fiskus berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak muslim.

G.Metode Penelitian

1. Pedekatan dan Jenis Penelitian a. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, penelitian kuantitatif adalah penelitian yang didasarkan pada filsafat positivistic, yakni suatu ajaran filsafat yang memandang realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkret, teramati, terukur dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Dengan demikian, penelitian ini mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan, atau penelitian yang melibatkan diri pada perhitungan, angka-angka, atau kuantitas.46

b. Jenis penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif, penelitian asosiatif yaitu penelitian yang mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Oleh karena itu, dalam penelitian ini minimal harus terdapat dua variabel yang akan dihubungkan.47Bentuk hubungan penelitian asosiatif yang digunakan

46 Bahaking Rama dan Dr. h. Muzakkir, Metodologi Penelitian, (Cet I; Yogyakarta, CV>

Anugrah, 2019), hlm. 128.

47 Rifa’i Abubakar, Pengantar Metodologi Penelitian, (Cet I; Yogyakarta: SUKA-Press UIN Sunan Kalijaga, 2021), hlm. 6.

(38)

pada penelitian ini yaitu hubungan kausal. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab-akibat. Dua jenis variabel dapat diartikan sebagai variabel bebas dan variabel terikat48

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini akan dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kolaka yang memiliki wilayah kerja Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka Timur. Penelitian ini mulai pada bulan juni.

48 Andi Ibrahim, dkk, Metodologi Penelitian, (Cet I; Gunadarma Ilmu, 2018), hlm. 95.

(39)

3. Desain Penelitian

Bagan 2 Desain Penelitian

(40)

4. Variabel Penelitian

Bagan 3 Variabel Penelitian

(41)
(42)

5. Definisi operasional a. Variabel Independen

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, input, prediktor, dan antecedent. Dalam bahasa indonesia sering disebut sebagai variabel bebas.

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (variabel terikat). Jadi variabel dependen adalah variabel yang mempengaruhi.49

1) Kualitas pelayanan fiskus

Menurut Areum dalam jurnal yang ditulis oleh Rianty dan Riza Syahputera; bahwa pelayanan fiskus dapat diartikan sebagai cara petugas pajak dalam membantu, mengurus, atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang yang dalam hal ini adalah wajib pajak.50

Tabel 3

Operasional Variabel Kualitas Pelayanan Fiskus

Variabel Indikator Skala

1. Tangibles, atau berwujud yaitu seluruh bentuk penampilan fisik dari pemberi pelayanan meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi.

1-4 Skala likert

2. Reliability, atau kehandalan yaitu kemampuan kantor

pelayanan pajak untuk memberikan pelayanan sesuai 1-4 Skala

49 Riduwan, Dasar-Dasar Statistika, (Cet III; Jawa Barat, ALFABETA, 2003), hal. 3.

50 Rianty dan Riza Syahputera, “Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan Fiskus, dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, hlm 16

(43)

Kualitas Pelayana

n Fiskus (X1)

yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. likert 3. Responsiveness, atau ketanggapan yaitu seberapa

tanggap kantor pelayanan pajak terhadap suatu persoalan yang timbul pada wajib pajak dan keinginan para staf untuk membantu para wajib pajak serta memberikan pelayanan yang baik.

1-4 Skala likert

4. Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para WP (wajip pajak) dengan berupaya memahami keinginan WP.

1-4 Skala likert

b. Variabel Dependen

Sering disebut sebagai variabel respon, output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa inidonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

1) Perilaku kepatuhan wajib pajak

Perilaku kepatuhan wajib pajak menjadi variabel dependen dalam penelitian ini, perilaku kepatuhan wajib pajak mengarah pada penjelasan bahwa wajib pajak mempunyai kesediaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi seksama, peringatan ataupun ancaman dan penerapan sanksi baik hukum maupun administrasi.51

Tabel 4

Operasional Variabel Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak

51 Aida Nur Hasanah dan Aidil Susanti, “Implementasi dan Kendala Self Assessment System dalam Pemungutan Pajak Indonesia”, Jurnal Syariah dan Hukum, Vol 5 No 2, 2023, hlm.

103.

(44)

Variabel Indikator Skal a

Perilaku Kepatuhan

Wajib Pajak (Y)

1. Kewajiban kepemilikan NPWP 1-4

Skala likert 2. Selalu mengisi formulir pajak dengan benar 1-4

Skala likert 3. Selalu menghitung pajak dengan jumlah yang

benar

1-4 Skala likert 4. Selalu membayar pajak tepat waktu52 1-4

Skala likert 6. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

a. Populasi

Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian).

Objek atau nilai disebut unit analisis atau elemen populasi. Unit analisis dapat berupa orang, perusahaan, hasil produksi, rumah tangga, dan tanah pertanian.53 Populasi dalam penelitian ini adalah wajib pajak orang pribadi muslim yang terdaftar di KPP Pratama Kolaka. Untuk mengifisienkan waktu dan menghemat biaya, maka tidak semua wajib pajak tersebut dijadikan objek penelitian ini. Oleh karena itu, dilakukan pengambilan sampel.

b. Sampel

52 Marni Sulisyowati, dkk.,” Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan, Sanksi Perpajakan Dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Yang Terdaftar Di SAMSAT Kabupaten Tebo)”, Jurnal Ilmiah Akuntansi & BIsnis, Vol 1 No 1, 2021, hlm. 33.

53Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensif), (Cet I; Bandung, Widina Bhakti Hati, 2008), hlm. 84.

(45)

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karekteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.54 Sampel adalah subset dari populasi, terdiri dari beberapa anggota populasi. Subset ini diambil karena dalam banyak kasus tidak mungkin peneliti meneliti seluruh populasi.55 Pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling, yaitu pemilihan sampel karena secara kebetulan wajib pajak dan orang yang dikenal berada di tempat penelitian tersebut.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan rumus slovin yaitu:

Keterangan:

n : Jumlah sampel N : Populasi

e : Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel dalam penelitian ini di ambil nilai e = 10%

Perhitungan sampel :

n = 99,484 n = 100 (dibulatkan)

54 Dr. Karimuddin Abdullah., dkk, Metodologi Penelitian kuantitatif, (Cet I; Aceh:

Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2012), hlm. 80.

55 Ratna Wijayanti Daniar., dkk, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Cet I; Kebumen:

STIE Putra Bangsa, 2021), hlm. 60.

(46)

Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Kolaka.

7. Data dan Sumber Data

a. Data 1) Data primer

Menurut Kuncoro dalam buku karya Karimuddin Abdullah, dkk;

menyatakan bahwa populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek, transaksi atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek penelitian.56

2) Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang didapat secara tidak langsung dari objek penelitian. Penulis mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Data yang didapat tersebut lalu digunakan sebagai pendukung atau penguat yang berupa teori-teori atau konsep-konsep sebagai landasan teori.57 Data sekunder dalam penelitian ini meliputi buku, jurnal, atau artikel yang dijadikan rujukan atau referensi teori.

3) Sumber data

Adapun data primer dalam penelitian ini diperoleh langsung dari wajib pajak musim yang terdaftar di KPP Pratama Kolaka. Dalam pengumpulan data

56Karimuddin Abdullah, dkk, Metodoligi Penelitian Kuantitatif, op. cit, hlm. 79-80.

57Ahmad Ashifuddin Aqham, dkk., ”Metode Enterprise Architecture Planning dalam sistem informasi pengelolaan data inventaris”, Jurnal Ilmia Teknologi Informasi dan Komunikasi (JTIK), Vol 14, No 01, 2023, hlm. 203

(47)

primer dalam penelitian ini adalah survei langsung dengan memberikan kuesioner kepada responden yaitu wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Kolaka.

8. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah studi lapangan yaitu pengumpulan data menggunakan kuesioner, keusioner yaitu fakta yang diungkap merupakan fakta aktual yaitu data yang diperoleh dari kuesioner yang berbentuk daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan jawaban berkaitan dengan penelitian ini.

9. Instrumen Penelitian

Menurut Purwanto dalam buku yang di tulis oleh Slamet Widodo, dkk;

menjelaskan bahwa instrumen penelitian pada dasarnya alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian.58 Intrumen penelitian dapat dikatakan bersifat sangat menunjang keberhasilan dari penelitian. Pada penelitian ini sendiri, menggunakan kuesioner dalam mengumpulkan data yang diperlukan yang disebar pada responden untuk dapat mengukur tingkat perilaku kepatuhan wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Kolaka, juga untuk bertujuan untuk membuktikan variable independen (kualitas pelayanan fiskus) yang digunakan dalam penelitian ini mampu mempengaruhi variabel Y (perilaku kepatuhan wajib pajak).

Untuk mengukur pendapat responden digukanan skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang maupun sekelompok orang tentang fenomena sosial. Pada penelitian ini, fenomena sosial tersebut telah ditentukan secara spesifik oleh peneliti, yang kemudian disebut sebagai variable penelitian.59

58 Slamet Widodo, dkk., Buku Ajar Metodologi Penelitian, (Cet I; CV> Science Techno Direct, 2023), hlm. 70.

59 Benny S. Pasaribu, dkk., Metodologi Penelitian untuk Ekonomi dan Bisnis, (Cet. I;

Banten: Media Edu Pustaka, 2022), hlm. 80.

(48)

Pada skala likert, variabel nantinya akan diukur melalui penjabaran berupa indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.

Maka dari itu untuk mengukur pendapat responden digunakan skala likert yaitu sebagai berikut:

Angka 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Angka 2 = Tidak Setuju (TS)

Angka 3 = Setuju (S)

Angka 4 = Sangat Setuju (SS)

10. Teknik Analisis Data a. Uji Validitas

Ghonzali dalam jurnal yang ditulis oleh Musrifah Mardiani Sanaky;

menyatakan bahwa uji validitas digunakan untuk mengukur sah, atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.60 Suatu tes atau instrumen pengukuran dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurannya sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Uji validitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya. Kriteria pengujian validitas penelitian:

1) Jika r hitung > r tabel, maka item soal angket tersebut valid 2) Jika r hitung < r tabel, maka item soal angket tersebut tidak valid61

b. Uji Reliabilitas

60 Musrifah Mardiani Sanaky, dkk., “Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan pada Proyek Pembangunan Gedung Asrama MAN 1 Tulehu Maluku Tengah”, Jurnal Simetrik Vol 11, No 1, 2021, hlm. 433.

61 Deffi Haryani, “ Pengaruh Kualitas SDM Terhadap Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Merdeka di Kota Palembang”, Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol 1 No 10, 2023, hlm. 723.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Pelayanan Fiskus dan Sanksi Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang pribadi Yang Melakukan Kegiatan UMKM (Studi empiris pada KPP

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris pengaruh kesadaran wajib pajak, pelayanan fiskus dan pengetahuan wajib pajak berpengaruh terhadap kepatuhan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh kualitas pelayanan fiskus dan sikap Wajib Pajak terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak Orang Pribadi di

Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh secara parsial terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Pratama Semarang Barat karena

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sanksi pajak, kualitas pelayanan fiskus dan kesadaran perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi

Pengaruh Persepsi Wajib Pajak Tentang Kualitas Pelayanan Fiskus, Sanksi Pajak, Tax Amnesty, dan Pemeriksaan Pajak Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK STUDI PADA WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG TERDAFTAR DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MALANG SELATAN Oleh: Cevin

Pengaruh Tingkat Kesadaran, Pengetahuan dan Pemahaman Pajak, Pelayanan Fiskus terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Studi Empiris pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang Terdaftar di KPP Pratama