• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh latar belakang pendidikan, pengalaman kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh latar belakang pendidikan, pengalaman kerja"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LATAR BELAKANG PENDIDIKAN, PENGALAMAN KERJA, MOTIVASI, DAN PELATIHAN KERJA TERHADAP KUALITAS AUDIT (STUDI EMPIRIS PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK RSM INDONESIA)

OLEH:

IHSAN SMARTDYANDA

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Abstrak

Kasus PT Great River (2002) dan Hambalang (2014) adalah beberapa kasus yang memperlihatkan hasil kualitas audit yang buruk. Buruknya kualitas audit yang dihasilkan dipengaruhi oleh banyak faktor dan dalam penelitian ini meneliti beberapa faktor saja yang mempengaruh kualitas audit tersebut. Mengetahui pengaruh pengaruh latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja terhadap kualitas audit adalah tujuan dari penelitian ini. Latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja merupakan variabel independen dalam penelitian ini dan variabel dependennya adalah kualitas audit. Kuisioner disebarkan dalam penelitian ntuk mendapatkan data primer yang merupakan data yang digunakan dalam penelitian ini. Kuisioner yang disebar sebanyak 77 buah kepada auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia dan semua kuisioner dapat diolah. Metode simple random sampling merupakan metode pengambilan sampling dalam penelitian. Penganalisisan data menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dan pelatihan kerja tidak berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan, sedangkan pengalaman kerja dan motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan pada Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia dan penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas audit di Indonesia.

Kata kunci: Latar Belakang Pendidikan, Pengalaman Kerja, Motivasi, Pelatihan Kerja, Kualitas Audit

(2)

PENDAHULUAN

Pengujian keandalan atau reliabilitas dari laporan keuangan memerlukan pihak ketiga untuk pemeriksaaan laporan keuangan tersebut yaitu auditor. Auditor dituntut untuk bekerja secara profesional dan melakukan pekerjaan mereka sesuai dengan kode etik yang berlaku. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memenuhi kepuasaan stakeholder terhadap laporan keuangan yang diterbitkan, sehingga perusahaan harus menggunakan jasa auditor yang memuaskan agar hasil dari pemeriksaannya bisa memberikan kualitas audit yang memadai.

Namun pada era sekarang ini, persaingan antar kompetitor ataupun rekan profesi sangat berat sehingga auditor dihadapkan pada situasi yang dilematis. Di satu sisi, pihak klien ingin opini yang mereka dapatkan unqualified opinion agar citra mereka dimata para stakeholder mereka bagus dan di sisi yang lain stakeholder ingin diperlihatkan keadaan sebenarnya dari perusahaan agar mereka bisa mengambil keputusan sesuai keadaan sebenarnya dari perusahaan tersebut. Posisinya yang unik inilah yang membuat posisi auditor serba salah sehingga dapat mempengaruhi kualitas auditnya.

Karena posisi unik inilah pernah terjadi beberapa kasus yang auditor terlibat didalamnya berkaitan dengan kualitas audit yang dihasilkan, pada beberapa kasus tersebut auditor tidak dapat menemukan kecurangan dalam laporan keuangan atau kecurangan tersebut ditemukan auditor tetapi tidak dilaporkan, misalnya pada kasus PT Great River dan Kasus Hambalang. Pada kasus PT Great River di tahun 2002, auditor tidak mengungkapkan keadaan laporan keuangan konsolidasi PT Great River yang sebenarnya sehingga dapat menyesatkan stakeholder. KAP yang melakukan audit pada saat itu adalah KAP Johan, Molanda, dan Rekan (Sumber: Majalah Tempo, 5 Januari 2005). Selain itu, pada kasus Hambalang menyebutkan permasalahannya yaitu draft hasil pemeriksaan audit berbeda dengan laporan audit yang dikeluarkan. (Sumber: www.nasional.kontan.co.id, 25 Februari 2014).

Penjabaran kasus diatas menggambarkan banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan seperti sikap independensi, kompetensi

(3)

auditor, latar belakang pendidikan yang memadai, pengalaman kerja yang cukup, motivasi untuk menghasilkan kualitas audit yang baik, pelatihan kerja yang memadai, dan dapat menggunakan keahliannya dengan cermat serta menjunjung tinggi kode etik profesi akuntan publik untuk memberikan audit yang berkualitas.

Berdasarkan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa hasil audit sangat mempengaruhi pengambilan keputusan stakeholder, jika terjadi penyimpangan atau audit yang dihasilkan tidak berkualitas, maka akan terjadi hal-hal yang merugikan para stakeholder. Mengukur kualitas audit adalah hal yang tidak mudah dilakukan karena sulit diukur secara objektif. Banyak penelitian mencoba mengukur kualitas audit. De Angelo (1981) menyatakan bahwa kualitas audit adalah kemungkinan dimana seorang auditor menemukan tentang adanya kesalahan dan pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mendefenisikan berbeda yaitu audit yang berkualitas adalah audit yang memenuhi standar auditing dan pengendalian mutu.

Latar belakang pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas audit seperti yang dikemukakan oleh Nasrullah (2003) dalam penelitiannya, ia menyatakan bahwa probabilitas menemukan adanya penyelewengan tergantung pada kemampuan teknikan auditor tergantung pada kemampuan teknikal auditor yang dapat dilihat pada pengalaman auditor, pendidikan, profesionalisme, dan struktur audit perusahaan. Faktor lain yang menentukan kualitas audit adalah pengalaman auditor. Nataline (2007) dalam penelitiannya menyatakan adanya pengaruh positif antara pengalaman kerja dengan kualitas audit. Auditor yang kurang berpengalaman akan lebih banyak melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaannya dibandingkan dengan auditor yang sudah lama berkecimpung dalam dunia audit Faktor selanjutnya yang tidak kalah penting selain latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja adalah motivasi dan pelatihan kerja. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja memang sudah banyak dibahas mengenai pengaruhnya terhadap kualitas audit, tetapi ada faktor yang secara umum mempengaruhi kinerja seseorang yaitu motivasi. Husin dan Bayu Umbara (2015) menjelaskan dalam kesimpulan

(4)

penelitian mereka bahwa kinerja auditor dipengaruhi oleh motivasi kerja auditor tersebut. Hasil penelitian ini mencerminkan dengan adanya motivasi kerja yang tinggi maka seorang akuntan pemeriksa akan mempunyai semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar yang ada (Goleman, 2001). Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA seksi 210 (PSA No.4) menegaskan perlunya pendidikan yang memadai dalam bidang auditing sebagai syarat utama dalam melakukan audit.

Auditor yang harus mengikuti pelatihan teknis yang cukup sebagai syarat untuk menjadi auditor professional (IAI 2004). Hal ini dikuatkan oleh Penelitian yang dilakukan oleh Maarif et al. (2017) yang menyatakan bahwan pelatihan atau pendidikan berpengaruh parsial terhadap kualitas hasil pemeriksaan audit.

Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia merupakan subjek penelitian. Alasan mengapa peneliti memilih subjek ini adalah karena KAP RSM Indonesia ini adalah salah satu KAP terbesar di Indonesia dengan menempati peringkat 5 terbesar se Indonesia dan peringkat 6 secara global yang memiliki auditor dengan latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja yang beragam (RSM, 2017). KAP big 4 sebenarnya juga memiliki karakteristik yang sama dengan KAP RSM Indonesia ini dan pada awalnya juga menjadi subjek penelitian penulis, tetapi penulis tidak mendapatkan akses untuk mendapatkan data dari KAP big 4, sehingga memutuskan KAP RSM Indonesia saja yang menjadi subjek penelitian.

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Audit

Agoes (2014:2) menyatakan audit adalah pernyataan mengenai kewajaran laporan keuangan yang bisa dinilai setelah dilakukan pemeriksaan yang kritis dan sistematis. Menurut Arens, Beasley, Elder, dan Jusuf (2011:10) audit adalah keseluruhan bukti yang berkaitan dengan informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat keseuaian antara informasi tersebut sesuai dengan batas wajar yang ditentukan auditor. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.

(5)

Kualitas Audit

De Angelo (1981) menyatakan bahwa kualitas audit merupakan kemungkinan seorang auditor menemukan tentang adanya kesalahan dan pelanggaran dalam sistem akuntansi klien yang diaudit. Kualitas audit berkaitan dengan kinerja auditor. Kinerja auditor adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan auditor dalam rentang waktu tertentu (Wardina, 2015). Kinerja auditor juga bisa berarti auditor yang melaksanakan tugasnya secara objektif terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui apakah laporan keuangan tesebut telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dalam hal semua yang material, posisi keuangan, dan hasil usaha perusahaan (Mulyadi, 2008 : 8-9 dalam Wardina : 2015).

Latar Belakang Pendidikan

Latar belakang pendidikan adalah dasar atau background dari pengajaran dan pelatihan yang telah ditempuh seseorang. Latar belakang pendidikan memiliki pengaruh terhadap tingkat dan pengetahuan dan kepribadian seseorang. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang sesuai dengan profesi yang digeluti didunia kerja. Dengan pendidikan yang dimiliki, seseorang akan mampu menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapi yang berkaitan dengan profesinya. Hal ini dikarenakan pada jenjang pendidikan seseorang memperoleh pengajaran secara rutin, bahkan terkadang dituntut untuk mengetahui keadaan-keadaan tersebut (Ramadhan, 2015). Hal ini dikuatkan oleh teori yang dinyatakan oleh Sagala (2006) dalam teori pendidikan tradisionalnya, ia menyatakan bahwa pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Sesuai dengan teori ini pendidikan yang benar akan memgembangkan pengetahuan dari peserta didiknya, semakin tinggi pendidikan seseorang atau semakin sesuai pendidikan seseorang dengan profesinya maka semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman yang semakin kompleks (Meinhard

(6)

et al., 1987 dalam Dharmawan, 2014). Berdasarkan pemaparan diatas, maka hipotesis yang dibangun adalah:

H1: Latar belakang pendidikan berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

Pengalaman Kerja

Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan penambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa juga diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Pengalaman kerja juga merupakan salah satu atribut personal (internal) dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi tingkah laku. Semakin berpengalaman seseorang maka akan semakin matang keahlian dan kecakapan yang dimiliki (Knoers dan Haditono, 1999) dalam Dharmawan (2014).

Teori diatas menjelaskan bahwa pengalaman kerja auditor menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Pengetahuan auditor akan semakin berkembang seiring bertambahnya pengalaman melakukan tugas audit (Wiratama dan Budiartha, 2015). Kebanyakan orang memahami bahwa semakin banyak jumlah jam terbang seorang auditor, tentunya dapat memberikan kualitas audit yang lebih baik daripada seorang yang baru memulai kariernya, dengan kata lain auditor yang berpengalaman diasumsikan dapat memberikan kualitas audit yang lebih baik dibandingkan dengan auditor yang belum berpengalaman. Hal ini dikarenakan pengalaman akan membentuk keahlian seseorang baik secara teknis maupun secara psikis (Singgih dan Bawono, 2010). Seakan membantah penjabaran diatas, Aini (2009) dan Ayuningtyas (2012) memberikan kesimpulan penelitian yang berbeda berkaitan dengan pengaruh pengalaman kerja terhadap kualitas audit yang dihasilkan, dalam penelitian mereka menyimpulkan pengalaman kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Sesuai dengan mayoritas penjelasan diatas, maka hipotesis yang dibangun adalah:

H2: Pengalaman kerja berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

(7)

Motivasi

Teori yang berkaitan dengan motivasi adalah teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow (1943). Teori ini beranggapan bahwa tindakan manusia pada hakikatnya untuk memenuhi kebutuhannya yaitu pshiological needs, social needs, estem needs, dan self actualization. Jika suatu pekerjaan bisa memenuhi kebutuhannya, maka seseorang akan melaksanakan pekerjaannya semaksimal mungkin dan sebaliknya (Efendy, 2010). Husin dan Bayu Umbara (2015) menjelaskan dalam kesimpulan penelitian mereka bahwa motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja seorang auditor. Hasil penelitian ini mencerminkan dengan adanya motivasi kerja yang tinggi maka seorang auditor akan mempunyai semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar yang ada (Goleman, 2001). Banyak juga penelitian lain yang mendukung hasil penelitian yang berkaitan dengan motivasi ini, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Efendy (2010) yang menyatakan adanya hubungan positif antara motivasi dengan kinerja yang dihasilkan. Hasil riset diatas belum mencerminkan konsistensi dari pengaruh motivasi terhadap kualitas audit yang dihasilkan karena dalam penelitian Anton dan Bambang (2014) serta penelitian Lestari (2013) menyimpulkan motivasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan apalagi jika seseorang tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam profesinya sebagai auditor (Anton dan Bambang, 2014). Dari pendapat dan penjelasan myaoritas diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Hipotesis yang dibangun sesuai dengan pemaparan ini adalah:

H3: Motivasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

Pelatihan Kerja

Pelatihan kerja merupakan atribut personal (internal) dan atribut lingkungan (eksternal). Pelatihan kerja disebut atribut personal karena seseorang dengan pelatihan kerja yang cukup akan memiliki kemampuan yang lebih berkembang daripada seseorang yang mengikuti pendidikan tradisional tanpa pelatihan dan dapat

(8)

mempengaruhi perilaku (hasil kualitas audit) (Bonner, 1994) serta disebut atribut lingkungan karena pelatihan kerja terhadap auditor merupakan peraturan yang merupakan syarat bagi auditor untuk turun ke lapangan (SPAP SA Seksi 210 PSA No.4). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Maarif et al. (2017) yang menyatakan bahwan pelatihan atau pendidikan berpengaruh parsial terhadap kualitas hasil pemeriksaan audit. Mashar (2015) juga menjelaskan bahwa Pelatihan membantu auditor dalam memahami pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan, dan sikap yang diperlukan oleh organisasi dalam usaha mencapai tujuan. Teori diatas seakan dibantahkan oleh penelitian Putra (2015) yang menghasilkan kesimpulan penelitian pelatihan kerja tidak berpengaruh secara parsial terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Berdasarkan penjelasan dan teori diatas, dapat dibuat hipotesis bahwa:

H4: Pelatihan kerja berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

METODE PENELITIAN

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode kuisioner.

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2013:142). Prosedur metode kuisioner adalah peneliti akan memberikan sejumlah pernyataan kepada auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia dengan menggunakan media kuisioner dan auditor tersebut diminta untuk menjawab pernyataan-pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat mereka. Dalam penilaian metode ini peneliti menggunakan skala likert. Skala likert bertujuan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2013:93).

Populasi dalam penelitian ini adalah auditor atau pemeriksa yang bekerja di Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia, Jakarta Selatan yang berjumlah 326 orang.

Dipilihnya Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia sebagai lokasi penelitian dikarenakan peneliti ingin mengembangan penelitian sebelumnya dengan melakukan

(9)

penelitian di tempat berbeda, dan memasukkan variabel tambahan, serta Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia adalah salah satu Kantor Akuntan Publik Big 10 yang memiliki auditor dengan latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pengalaman pelatihan kerja yang berbeda sehingga cocok dengan topik penelitian. Untuk efisiensi waktu dan biaya, maka tidak semua auditor yang akan dijadikan obyek dalam penelitian ini. Oleh karena itu akan dilakukan pengambilan sampel. Metode sampling yang dipakai adalah pengambilan sampel berbasis pada probabilitas dengan menggunakan metode simple random sampling yaitu metode pengambilan sampel yang dilakukan secara acak terhadap kumpulan individu dalam populasi (Sekaran, 2013:247) dan penentuan jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Regresi Linier Berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya dan dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja sedangkan variabel terikatnya (dependen) adalah kualitas audit.

Berikut hasil analisis regresi disajikan dalam tabel.

Tabel 4.10

Hasil Analisis Regresi

Variabel Bebas B Beta T Sig. T Keterangan

Konstanta 15,434 3,417 0,001 Signifikan

Latar Belakang Pendidikan (X1)

0,198 0,055 0,514 0,609 Non Signifikan Pengalaman Kerja (X2) 0,544 0,281 2,369 0,021 Signifikan Motivasi (X3) 0,295 0,251 2,027 0,046 Signifikan Pelatihan Kerja (X4)

0,852 0,185 1,570 0,121 Non Signifikan t tabel = 1.992

Sumber: Data primer yang diolah.

Dari tabel 4.10 diatas dapat dibentuk persamaan regresi sebagai berikut:

(10)

Y = 15,434 + 0.198 X1 + 0.544 X2 + 0.295 X3 + 0.852 X4 + e Keterangan:

Y = Kualitas Audit

X1 = Latar Belakang Pendidikan X2 = Pengalaman Kerja

X3 = Motivasi X4 = Pelatihan Kerja

e = Variabel pengganggu/ error

Pengaruh Latar Belakang Pendidikan terhadap Kualitas Audit

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara parsial (Uji T) variabel latar belakang pendidikan mempunyai nilai t hitung yang lebih kecil dari t tabel (0,514

< 1,992) dan nilai signifikansi lebih besar dari alpha 5% (0,609 > 0,05) sehingga dapat disimpulkan variabel kualitas audit tidak dipengaruhi oleh variabel latar belakang pendidikan. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ayuni (2008) yang menguji pengaruh pendidikan, pelatihan, dan pengalaman terhadap kualitas audit yang dihasilkan dengan objek penelitian Kantor Akuntan Publik di daerah Jakarta Selatan yang menunjukkan kualitas audit tidak dipengaruh oleh latar belakang pendidikan seseorang. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Batubara (2008) yang melakukan penelitian pada Bawasko Medan, juga menunjukkan hasil kualitas audit tidak dipengaruhi latar belakang pendidikan seseorang.

Hasil penelitian ini menunjukkan auditor yang memiliki latar belakang pendidikan formal audit atau akuntansi tidak menjamin auditor tersebut memiliki kemampuan dan tingkat pemahaman yang memadai dalam pelaksanaan prosedur audit di lapangan. Karena setiap auditor memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang pelaksanaan tugas audit yang mereka dapat di pendidikan formal, sehingga pengaplikasian di lapanganpun juga berbeda-beda (Ayuni, 2008). Sejalan dengan pendapat Ayuni (2008), Batubara (2008) juga menjelaskan dalam penelitiannya,

(11)

bahwa latar belakang pendidikan tidak berpengaruh secara parsial atau nyata terhadap kualitas audit, karena latar belakang pendidikan akuntansi ternyata hanya mampu untuk menilai suatu tindakan tidak etis bukan untuk keseluruhan menghasilkan hasil audit yang berkualitas daripada latar belakang pendidikan yang lain. Hal ini sejalan juga dengan hasil penelitian ini, dimana jika dilakukan Uji F, maka keseluruhan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen (nilai F tabel 11,659 > 2,49 dan nilai signifikansinya 0,000 < 0,05), dapat disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan tidak berpengaruh nyata atau parsial jika berdiri sendiri untuk mempengaruhi kualitas audit, tetapi berpengaruh jika digabungkan dengan variabel-variabel lain dalam penelitian.

Pengaruh Pengalaman Kerja terhadap Kualitas Audit

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara parsial (Uji T) variabel pengalaman kerja mempunyai nilai t hitung lebih besar dibandingkan dengan nilai t tabel (2,369 > 1,992) dan nilai signifikansinya lebih kecil dari alpha (0,021 <

0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas audit dipengaruhi oleh pengalaman kerja seseorang. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nataline (2007) dalam jurnal Dewi (2016) dengan Kantor Akuntan Publik di Semarang sebagai objek penelitian. Penelitiannya menunjukkan adanya pengaruh positif antara pengalaman kerja dengan kualitas audit. Auditor yang kurang berpengalaman akan lebih banyak melakukan kesalahan dalam melaksanakan pekerjaannya dibandingkan dengan auditor yang sudah berkecimpung lebih dahulu dalam bidang audit. Auditor lebih banyak pengalaman dinilai kinerjanya lebih baik serta lebih mampu mendeteksi, memahami, bahkan mencari penyebab dari munculnya kecurangan-kecurangan daripada auditor yang tidak berpengalaman, sehingga kualitas audit yang dihasilkan pun akan lebih baik daripada auditor yang tidak berpengalaman. Tubbs (1992) juga mengemukakan pendapat yang sama dengan menyatakan ketika auditor lebih berpengalaman maka

(12)

auditor menjadi lebih sadar terhadap kesalahan yang dibuat oleh pembuat laporan keuangan dan miss komunikasi yang lebih sedikit mengenai kesalahan tersebut.

Pengaruh Motivasi terhadap Kualitas Audit

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara parsial (Uji T) variabel motivasi mempunyai nilai t hitung yang lebih besar dari t tabel (2,027 > 1,992) dan nilai signifikansinya lebih kecil dari alpha 5% (0,046 < 0,05), sehingga kesimpulannya variabel motivasi secara signifikan memiliki pengaruh terhadap kualitas audit. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Husin dan Bayu Umbara (2015) yang menunjukkan bahwa motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja auditor di Kota Kendari. Goleman (2001) juga menjelaskan hal yang sama dengan Husin dan Bayu Umbara (2015), ia mengatakan hanya dengan adanya motivasi maka seseorang akan mempunyai semangat kerja yang tinggi pula untuk memenuhi standar dan tujuan perusahaan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi motivasi kerja seorang auditor maka semakin baik pulalah kinerja yang dihasilkan atau kualitas audit yang dihasilkan.

Pengaruh Pelatihan Kerja terhadap Kualitas Audit

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara parsial (Uji T) variabel pelatihan kerja mempunyai nilai t hitung yang lebih kecil dari t tabel (1,570 < 1,992) dan nilai signifikansi lebih besar dari alpha 5% (0,121 > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pelatihan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel kualitas audit. Hal ini konsisten dengan hasil penelitian Putra (2015) dan Ayuni (2008) yang menunjukkan pelatihan kerja tidak berpengaruh secara parsial terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Ketidaksignifikan bisa timbul dari beberapa faktor yaitu adanya sistem mutasi yang membuat auditor tidak mendapatkan jatah pelatihan, pelatihan terhadap auditor masih bersifat umum sehingga auditor tidak mendapatkan ilmu yang spesifik untuk

(13)

meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan, atau memang pelatihan kerja saja tidak cukup untuk menghasilkan audit yang berkualitas.

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jika berdiri sendiri pelatihan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit, tetapi jika secara bersama-sama dengan variabel penelitian yang lain, pelatihan kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Hal ini sesuai dengan uji F yang dilakukan yang hasilnya keseluruhan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen (nilai F tabel 11,659 > 2,49 dan nilai signifikansinya 0,000 <

0,05).

PENUTUP Kesimpulan

Latar belakang pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan dengan objek penelitian di Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa, latar belakang pendidikan formal yang memadai dan jenjang pendidikan yang tinggi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Pengalaman kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan pada Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa semakin berpengalaman seorang auditor maka semakin baik kualitas audit yang dihasilkan. Motivasi berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan dengan objek penelitian Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa dengan motivasi yang yang tinggi akan menghasilkan hasil audit yang berkualitas. Pelatihan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit yang dihasilkan dengan objek penelitian Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa pelatihan kerja secara parsial tidak berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Alasannya terdiri dari beberapa faktor yaitu sistem mutasi yang membuat auditor tidak mendapatkan jatah pelatihan, pelatihan terhadap auditor masih bersifat umum sehingga auditor

(14)

tidak mendapatkan ilmu yang spesifik untuk meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan, atau memang pelatihan kerja saja tidak cukup untuk menghasilkan audit yang berkualitas.

Implikasi Penelitian

Implikasi teoritis dari hasil penelitian mengenai pengaruh latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja terhadap kualitas audit dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa pengalaman kerja dan motivasi merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas audit.

2. Penelitian yang akan datang disarankan untuk mengkaji pengaruh variabel lain yang ada dalam diri auditor seperti independensi, integritas auditor, due professional care, dan kompetensi serta diluar diri auditor seperti lingkungan kerja auditor, pressure, dan kompleksitas tugas.

Implikasi praktis dari hasil penelitian mengenai pengaruh latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja terhadap kualitas audit adalah kualitas audit seharusnya menjadi perhatian bersama pimpinan KAP, lembaga profesi audit (IAPI), dan pemerintah. Belum meratanya auditor berpengalaman dalam KAP, motivasi yang rendah dari auditor untuk menghasilkan audit yang berkualitas dan rendahnya ketaatan auditor terhadap kode etik profesi audit harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan (stakeholder)

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan-keterbatasan penelitian yaitu:

1. Sulitnya penulis untuk mendapatkan akses data dari KAP big 4 menyebabkan subjek penelitian hanya bisa diambil dari KAP RSM Indonesia saja.

(15)

2. Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan dari penelitian Ramadhan (2015) dengan menambahkan pelatihan kerja sebagai salah satu variabel independen yang berpengaruh terhadap kualitas audit dan perbedaan subjek yang diteliti. Variabel independennya hanya berkaitan dengan atribut personal auditor yaitu latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, motivasi, dan pelatihan kerja

Saran

Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan dari penelitian ini, beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan adalah:

1. Menggunakan surat resmi dari kampus untuk mempermudah mendapatkan akses data dari KAP big 4 dan usahakan mengambil data dari KAP big 4 pada masa low season (Mei-Agustus) agar lebih memudahkan akses data.

2. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat menambah atau menggunakan variabel- variabel lain yang berkaitan dengan faktor eksternal seperti lingkungan kerja auditor, pressure, dan kompleksitas tugas agar factor yang mempengaruhi kualitas audit merupakan kombinasi dua faktor: internal dan eksternal.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2014. Auditing : Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan Publik. Jakarta : Salemba Empat.

Alim et al. 2007. Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi. Simposium Nasional Akuntansi X UNHAS Makassar

Aini, Kurrotul. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Audit (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik yang terdapat di Jakarta). Skripsi.

Jakarta : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Ashadhi, Satoto. 2015. Pengaruh Pelatihan Teknis, Tekanan Waktu terhadap Kualitas Audit dengan Motivasi sebagai Variabel Moderating (Studi pada BPKP Kantor Perwakilan V di Semarang). Jurnal STIE Dharmaputra.

Ayunigtyas. 2012. Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Obyektivitas, Integritas, dan Kompetensi terhadap Kualitas Hasil Audit. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.

Ayuni, Nurul Dwi. 2008. Pengaruh Pendidikan, Pelatihan, dan Pengalaman Auditor terhadap Kualitas Audit atas Sistem Informasi Berbasis Komputer. Skripsi.

Jakarta : Fakultas Ekonomi UIN Jakarta.

Batubara, Rizal Iskandar. 2008. Analisis Pengaruh Latar Belakang Pendidikan, Kecakapan Profesional, Pendidikan Berkelanjutan dan Independensi terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan (Studi Empiris pada Bawasko Medan). Tesis.

Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Bonner, S.E. 1994. A Model of The Effects of Audit Task Complexity. Accounting, Organizations and Society. 19 (3), 213-234.

Boynton, Johnson., and Kell. 2002. Modern Auditing. Hoboken: John Wiley & Son.

Chandrarin, Grahita. 2017. Metode Riset Akuntansi: Pendekatan Kuantitatif. Jakarta:

Salemba Empat.

Cholifah, Wahidah Rizqi. 2010. Pengaruh Supervisi dan Pelatihan Terhadap Kinerja Auditor Junior. Skripsi. Jakarta : UIN.

DeAngelo, L.E. 1981a. Auditor Independence, “Low Balling”, and Disclosure Regulation. Journal of Accounting and Economics. August. pp. 113—127.

(17)

DeAngelo, L.E. 1981b. Auditor Size and Audit Quality. Journal of Accounting and Economics. December. pp. 183—199.

Dharmawan, Nyoman Ari Surya. 2014. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pengalaman Pemeriksa terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan (Studi Empiris pada Kantor Inspektorat Kabupaten Klungkung dan Karangasem). Bali : Universitas Pendidikan Ganesha.

Efendy, Muh. Taufiq. 2010. Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Motivasi terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris pada Pemerintah Kota Gorontalo). Tesis. Semarang : Magister Sains Akuntansi Universitas Diponegoro.

Goleman, Daniel. 2001. Working White Emotional intelligence. (terjemahan Alex Tri Kantjono W). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Ghozali, I, 2011. Aplikasi Analisis Multivarite dengan SPSS, Cetakan Kelima, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Husin, Bayu Umbara. 2015. Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Auditor (Studi pada Inspektorat Kota Kendari). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UHO.

Lestari, Anindya Widya. 2013. Pengaruh Indpendensi, Kompetensi, Motivasi, Objektifitas, dan Integritas terhadap Kualitas Aparat Inspektorat dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris pada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah). Skripsi. Semarang : Universitas Katolik Soegijapranata.

Maarif et al. 2017. Pengaruh Kompetensi Teknis, Pendidikan, dan pelatihan berkelanjutan, komite organisasi, dan pengalaman kerja terhadap kualitas hasil pemeriksaan pada aparat pengawas internal pemerintah inspektorat kabupaten Aceh Barat. Jurnal Magister Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, 75-85.

Mashar, Widyawaty. 2015. Pengaruh Pelatihan terhadap Prestasi Kerja Pegawai pada Inspektorat Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Pasir Pengaraian.

Messier, Glover, Prawitt. 2005. Auditing & Assurance Services: A Systematic Approach 8th Edition. McGraw-Hill College.

(18)

Mulyono, Agus. 2009. Analisis Fakto-Faktor Kompetensi Aparatur Inspektorat dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Inspektorat Kabupaten Deli Serdang. Tesis.

Sumatera Utara : Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

Mulyadi. 2008. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Mustami, Adinda Ade. (2014, 04, Juni). Hambalang Rugikan Negara Rp 464 Miliar.

Majalah Kontan (online), halaman 1. Tersedia:

https:m.kontan.co.id/news/hambalang-rugikan-negara—rp-464-miliar (25 Mei 2018).

Nasrullah, Djamil. 2003. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Audit pada Sektor Publik dan Beberapa Karakteristik untuk Meningkatkannya. Skripsi.

Banjarmasin : STIE Nasional Banjarmasin.

Nataline. (2007). “Pengaruh Batasan Waktu Audit, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, Bonus serta Pengalaman terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan Publik di Semarang”. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi UNNES.

Nugraha, I Wayan Ramantha, 2015. Pengaruh Profesionalisme, Etika Profesi dan Pelatihan Auditor terhadap Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik di Bali. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana

Panjaitan, Bambang Jatmiko. 2014. Pengaruh Motivasi, Stres, dan Rekan Kerja terhadap Kinerja Auditor (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di DKI Jakarta). Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol.5, No 1, Juni 2014, 1-18.

Putra, Wawan Purnama. 2015. Pengaruh Integritas, Independensi, dan Pelatihan, terhadap Kualitas Audit Laporan Keuangan Pemerintah (Studi Empiris pada BPK-RI Perwakilan Provinsi Kepualuan Riau). Skripsi. Riau : Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Ramadhan, Dhuhril. 2015. Pengaruh Latar Belakang Pendidikan, Pengalaman Kerja.

dan Motivasi terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris pada BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan). Skripsi. Makassar : Universitas Hasnuddin.

Rumengan, Sri Rahayu. Pengaruh Kompentensi, Independensi, dan Pengalaman Kerja terhadap Kualitas Audit (Survei terhadap Auditor KAP di Bandung).

Bandung : Universitas Telkom.

Rahayu, Bambang Suryono. 2016. Pengaruh Independensi Auditor, Etika Auditor, dan Pengalaman Auditor terhadap Kualitas Audit. Surabaya : STIESA Surabaya.

(19)

RSM Indonesia. 2017. Employee Handbook RSM Indonesia (Updated Oktober 2017).

Sagala, S. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta.

Sanusi, Anwar. 2011. Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.

Sekaran, Uma. 2014. Research Method for Business. John Wiley & Sons Ltd.

Setyadi, Pebryanto. 2013. Pengaruh Tingkat Pendidikan Formal, Pengalaman Kerja, Tingkat Kualifikasi Pendidikan, Continuing Professional Development terhadap Kualitas Audit di Badan Pemeriksa Keuangan RI Perwakilan Sulawesi Selatan.

Skripsi. Makassar : Universitas Hasanuddin.

Singgih, Elisha Muliani dan Icuk Rangga. Bawono. 2010. Pengaruh Independensi, Pengalaman, Due Professional Care dan Akuntabilitas terhadap Kualitas Audit.

Purwokerto: SNA XIII UJSP.

Subhan. 2012. Pengaruh Latar Belakang Pendidikan, Kompetensi Tehnis, Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutandan Pengalaman Kerja terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan (studi pada Inspektorat Kabupaten Pamekasan), (Online), (http://fe.unira.ac.id/wp-content/uploads/2012/11/Makalah-I.pdf, diakses pada 16 April 2015).

Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualiltatif, dan R&D, Cetakan Kedelapan Belas. Alfabeta.

Tubbs, Richard M. 1992. The Effect of Experience on the Auditor’s Organization and Amount of Knowledge. The Accounting Review (1992) : 783-801.

Wardina. 2015. Analisis Pengaruh Independensi, Etika, dan Pengalaman Auditor terhadap Kualtas Audit (Studi Empiris pada Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan di Makassar. Skripsi. Makassar : Universitas Hasanuddin.

Wiratama, Ketut Budiartha. 2015. Pengaruh Independensi, Pengalaman Kerja, Due Profesional Care, dan Akuntabilitas terhadap Kualitas Audit. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 91-106.

Yuliawati. (2005, 05, Januari). Bapepam Bentuk Dua Tim Pemeriksa Kasus Great River. Majalah Tempo (online), halaman 8. Tersedia:http://www.tempo.co/re ad/news/2005/01/05/05654380/Bapepam-Bentuk-Dua-Tim-Pemeriksa- Kasus-Great-River (25 Mei 2018)

Referensi

Dokumen terkait

Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar guru berpengaruh secara signifikan terhadap etos kerja guru PKN di SMA Negeri Kabupaten