• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LEADING INDICATOR SISTEM PEMBAYARAN TERHADAP UANG BEREDAR (M2) DI INDONESIA (PERIODE 2010:01-2015:08)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PENGARUH LEADING INDICATOR SISTEM PEMBAYARAN TERHADAP UANG BEREDAR (M2) DI INDONESIA (PERIODE 2010:01-2015:08)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LEADING INDICATOR SISTEM PEMBAYARAN TERHADAP UANG BEREDAR (M2)

DI INDONESIA

(PERIODE 2010:01-2015:08)

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Devi Pusfita Sari 125020400111046

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2016

(2)
(3)

Pengaruh Leading Indicator Sistem Pembayaran Terhadap Uang Beredar (M2) di Indonesia (Periode 2010:01-2015:08)

Devi Pusfita Sari

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh laeding indicator sistem pembayaran terhadap uang beredar (M2) di Indonesia. Variabel yang termasuk dalam leading indicator yaitu nilai Real Time Gross Settlement (RTGS), volume kliring, dan volume ATM/Debit. Dalam model digunakan pula variabel kontrol yaitu GDP riil dan nilai tukar. Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel leading indicator yaitu nilai RTGS, volume kliring, dan volume ATM/Debit berpengaruh terhadap uang beredar (M2). Tetapi, data variabel yang bersifat time series ini menunjukkan hasil pengujian tidak stasioner pada tingkat level sehingga tidak dapat menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS), sehingga kemudian dilanjutkan pada pengujian derajat integrasi, kointegrasi dan Error Correction Model (ECM). Berdasarkan hasil pengujian tersebut menunjukkan adanya pengaruh jangka pendek dan jangka panjang antara variabel leading indicator terhadap uang beredar (M2) di Indonesia.

Perkembangan variabel leading indicator sistem pembayaran berpengaruh terhadap meningkatnya uang beredar (M2) di Indonesia, dapat diartikan nilai RTGS, volume kliring dan volume ATM/Debit memiliki peran dalam mendukung peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non tunai seperti demand deposit dan time deposit. Tetapi, tidak berlaku pada komponen uang tunai (M0).

Kata kunci : leading indicator sistem pembayaran, uang beredar (M2), RTGS, kliring, ATM/Debit, Error Correction Model (ECM)

A. PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi yang cepat memberikan dampak pada perkembangan alat pembayaran non tunai. Pada triwulan I 2015, perkembangan pembayaran non tunai mengalami penurunan dikarenakan penurunan pada operasi moneter. Penurunan ini bisa dikarenakan adanya penguatan ekonomi Amerika Serikat yang membuat nilai tukar Indonesia terdepresiasi sehingga stabilitas makroekonomi sedikit terganggu. Bank Indonesia selaku otoritas moneter menjaga stabilitas negara dengan transmisi kebijakan moneter. Sasaran akhir penerapan transmisi kebijakan moneter adalah inflasi yang berhubungan dengan jumlah uang beredar (JUB). Salah satu faktor yang mempengaruhi JUB adalah biaya transaksi yang berkaitan dengan teknologi sistem pembayaran non tunai.

Perkembangan pembayaran non tunai mengalami kenaikan setiap tahunnya, hal ini memerlukan perhatian yang besar karena stabilitas sistem pembayaran dapat menjadi indikator dari stabilitas sistem keuangan yang berdampak terhadap kegiatan makroekonomi. Bank Indonesia dalam kajiannya pada tahun 2014 menemukan terdapat tiga variabel pembayaran non tunai antara lain nilai RTGS, volume kliring, dan volume atm/debit yang dapat menjadi sinyal awal pergerakan makroekonomi yang diproksikan dengan Indeks Produksi Industri (IPI).

Perkembangan teknologi keuangan dapat mempengaruhi JUB dalam perekonomian. Negara yang sudah maju cenderung memiliki financial development yang lebih baik dibandingkan negara berkembang. Perbedaan financial development ditunjukkan dengan perbedaan M2 per GDP nominal masing-masing negara.

.

(4)

Gambar 1 : Grafik Perbandingan M2/GDP nominal ASEAN 4, Australia dan Inggris Tahun 2014

Sumber : data diolah dari World Bank Tahun 2015

Grafik diatas menunjukkan bahwa negara dengan financial development yang lebih baik akan memiliki proporsi M2/GDP nominal yang tinggi seperti Malaysia, Thailand, Singapore, Australia, dam Inggris. Sedangkan Indonesia memiliki proporsi yang rendah sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia masih memiliki financial development yang rendah.

Penelitian mengenai pengaruh teknologi sistem pembayaran menjadi salah satu topik hangat bagi para ekonom untuk melihat pengaruhnya terhadap uang beredar dalam aktivitas perekonomian negara.

Penggunaan kartu debit sebagai transaksi non tunai berdampak terhadap berkurangnya transaksi uang tunai di beberapa negara OECD dikarenakan banyak konsumen yang banyak beralih memilih membayar menggunakan kartu debit dari pada menggunakan uang tunai dalam transaksi pembeliannya (Amronim dan Chakravorti, 2007).

Reid (2008) juga menyatakan adanya pengaruh pembayaran non tunai terhadap permintaan uang di jamaika. Uang disubstitusikan oleh variasi dari alternatif media pembayaran, meskipun pengaruhnya tidak terlalu besar, karena merchant dan konsumen mengadopsi peralihan kebiasaan pembayaran secara perlahan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Odularu dan Okunrinboye (2008), memiliki hasil yang berbeda mengenai implikasi pembayaran non tunai terhadap permintaan uang. Dalam penelitian tersebut tidak ditemukan adanya pengaruh pembayaran non tunai terhadap permintaan uang di Nigeria.

Adanya perkembangan pembayaran non tunai memang dapat mempercepat pembayaran dengan risiko yang kecil dan mengurangi biaya transaksi tunai, dikarenakan masih dalam tahap perkembangan. Jadi efeknya masih belum dirasakan pada aspek ekonomi secara keseluruhan.

Dengan adanya kesenjangan dalam penelitian tersebut. Penelitian ini mencoba menambahkan khasanah literatur dan melihat pengaruh leading indicator sistem pembayaran terhadap uang beredar (M2) di Indonesia. Perkembangan teknologi sistem pembayaran non tunai dapat digambarkan melalui variabel yang menjadi leading indicator sistem pembayaran. Uang beredar di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi transaksi, melainkan juga variabel lain yang menjadi kontrol seperti GDP Rill dan nilai tukar.

Untuk itu, permasalahan yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh leading indicator sistem pembayaran yang diproksikan dengan variabel nilai RTGS, volume kliring, dan volume ATM/Debit terhadap uang beredar (M2) di Indonesia selama periode 2010:01-2015:08.

0.00 50.00 100.00 150.00

Indonesia Malaysia Thailand Singapore Australia United Kingdom

M2/GDP NOMINAL (%)

NEGARA

(5)

B. KERANGKA PEMIKIRAN

Dalam penelitian ini yang menjadi dasar pemikiran adalah untuk melihat pengaruh antar variabel-variabel yang terdapat dalam kerangka konsep berikut ini :

Gambar 2 : Kerangka Konsep Penelitian

Sumber: Peneliti (2015)

Kerangka konsep pada penelitian ini dapat dijelaskan menggunakan teori interaksi antara penawaran uang dan permintaan uang. Proses interaksi antara permintaan dan penawaran uang menghasilkan keseimbangan di pasar uang atau bisa dikatakan money demand sama dengan money supply (Md=Ms). Jadi dapat dikatakan bahwa proses penawaran uang beredar bisa ditentukan oleh proses atau teori permintaan uang.

Dari beberapa model permintaan uang, variabel teknologi pembayaran, seperti ATM, kliring, RTGS, dan berbagai media pembayaran non-tunai lainnya belum diakomodasi pada fungsi permintaan uang. Hanya inventory model dari Baumol dan Tobin yang dinilai tepat untuk digunakan dalam memperhitungkan dampak dari penggunaan media pembayaran non-tunai tersebut, yakni dengan diakomodasinya variabel transaction cost di samping tingkat suku bunga. Namun tentunya perlu dilakukan penyesuaian, mengingat dengan pembayaran non-tunai masyarakat dapat menyimpan uangnya dalam bentuk demand dan saving deposit tanpa harus menghadapi trade-off, yakni memperoleh return tanpa harus dikenai biaya transaksi dalam pencairannya (tingkat likuiditasnya sangat tinggi).

Rumusan model diatas dapat menurunkan permintaan uang kartal. Namun untuk kategori M2 tidak terlihat perubahannya, mengingat ada demand deposit dan time deposit yang dalam bentuk non tunai sehingga peningkatan pembayaran non tunai bisa juga diikuti oleh peningkatan pada komponen M2 dalam bentuk non tuani seperti demand dan saving deposit, tetapi tidak berlaku pada komponen uang tuani (M0). Analisis permintaan uang M2, perlu ditekankan kembali adanya perbedaan dengan model awal Baumol dan Tobin, yang mengasumsikan bahwa dengan memegang uang masyarakat tidak memperoleh return. Saat ini dengan menempatkan dananya demand/saving deposit dengan fasilitas kliring, RTGS, autodebet, dan ATM-nya masyarakat tetap dapat menikmati fungsi uang kartal dan dapat memperoleh return. Selain itu, dengan semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat dan tingkat suku bunga dari jenis simpanan yang mempunyai fasilitas pembayaran non-tunai (dalam hal ini tingkat suku bunga rekening giro dan/atau tabungan assets lainnya (dalam hal ini tingkat suku bunga saving/time deposit dan/atau yield obligasi), semakin banyak pula alat non-tunai yang diminta dan diperlukan untuk transaksi.

Setelah melihat teori yang menghubungkan pengaruh adanya variabel pembayaran non tunai terhadap uang beredar (M2), maka bisa dilihat pengaruh antar variabel-variabel independen yaitu nilai RTGS, volume kliring, dan volume ATM/Debit dengan adanya dukungan dari penelitian-penelitian terdahulu. Variabel nilai RTGS merupakan salah satu variabel leading indicator sistem pembayaran di Indonesia (Untoro, dkk, 2014), dalam sistem RTGS, tiap transaksi diselesaikan pada rekening bank

Nilai RTGS (X1)

Uang Beredar (M2) (Y)

Volume Kliring (X2)

Volume ATM/Debit (X3)

GDP Riil (X4)

Nilai Tukar (X5)

(6)

yang bertransaksi yang berada di bank sentral secara gross dan berkesinambungan. Setelmen dalam sistem RTGS bersifat segera dan final. Selain itu risiko kredit karena adanya tenggang waktu menjadi tidak ada. RTGS merupakan salah satu inovasi dalam sistem pembayaran yang dapat berdampak pada kebijakan moneter khususnya permintaan uang. Keterkaitan langsung antara adanya inovasi sistem pembayaran dan pengendalian kebijakan moneter adalah karena pelaksanaan sistem pembayaran dapat berpengaruh terhadap penggunaan uang di masyarakat (M1). Selain mempengaruhi uang beredar yang dipegang masyarakat, sistem RTGS ini merupakan pemindahan dana yang dapat dilakukan secara seketika, sehingga apabila instruksi pembayaran dikirim, pemindahan dana dilakukan dengan waktu yang sama, yang dapat mempengaruhi saldo rekening di bank-bank yang melakukan transaksi.

Sehingga sistem RTGS ini juga mempengaruhi uang beredar dalam bentuk M2.

Berkaitan dengan hal itu, salah satu penelitian empiris yang dilakukan oleh Syarifuddin, dkk (2009) menemukan bahwa RTGS yang merupakan salah satu proxy dari teknologi sistem pembayaran memiliki efek terjadinya peningkatan M1 dan M2.

Variabel volume kliring juga merupakan salah satu variabel leading indicator sistem pembayaran di Indonesia (Untoro, dkk), Sistem kliring yang mengakomodir sistem pembayaran non tunai berbasis warkat, juga akan dapat mempengaruhi permintaan akan uang tunai karena adanya kemudahan dalam pembayaran dalam jumlah yang besar misalnya melalui cek, atau bilyet giro. Selain itu pemindahan dana dari rekening tabungan dalam jumlah besar juga bisa langsung melaui proses transfer sehingga tidak melalui pengeluaran uang tunai dalam tabungan atau dengan kata lain dapat mempengaruhi permintaan uang beredar (M2). Berkaitan dengan hal itu, salah satu penelitian empiris yang dilakukan oleh Istanto (2013) juga memasukkan variabel Kliring sebagai salah satu variabel dalam pembayaran non tunai yang dapat berpengaruh dalam jangka pendek dan tidak memiliki pengaruh jangka panjang terhadap uang beredar (M2).

Variabel volume ATM/Debit juga merupakan salah satu dari tiga variabel leading indicator sistem pembayaran di Indonesia (Untoro, dkk, 2014), Perkembangan sistem pembayaran menggunakan kartu seperti ATM dan kartu Debit dengan tabungan sebagai acuan dibawahnya menyebabkan terjadinya pergeseran fungsi tabungan dari simpanan yang tidak bisa ditarik sewaktu-waktu, yang dapat mempengaruhi permintaan uang dalam bentuk uang tunai langsung (M1) dan ditambahkan dengan dalam bentuk tabungan (M2).Berkaitan dengan hal itu, salah satu penelitian empiris yang dilakukan oleh Syarifuddin (2009) menemukan bahwa kartu Debit yang termasuk dalam inovasi system pembayaran berpengaruh jangka panjang terhadap uang beredar (M2).

Dalam penelitian ini turut menyertakan variabel kontrol. Tujuan disertakannya variabel kontrol adalah untuk mengendalikan agar hubungan yang terjadi pada variabel dependen tersebut murni dipengaruhi oleh variabel independen bukan oleh faktor-faktor lain. Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel GDP Riil dan Nilai tukar dikarenakan permintaan uang banyak dipengaruhi oleh pendapatan dan pada akhir 2014 sampai awal 2015 nilai tukar Indonesia sedang bergejolak.

Pengaruh pendapatan terhadap uang beredar dijelaskan oleh teori permintaan uang Keynes dengan motif transaksi, menjelaskan bahwa permintaan uang yang digunakan untuk transaksi dipengaruhi oleh pendapatan orang itu sendiri. Semakin banyak pendapatan yang didapat atau dimiliki maka akan semakin banyak uang yang ingin dipegang untuk proses transaksi. Dengan kata lain permintaan uang yang yang dikarenakan motif transaksi dipengaruhi positif dengan pendapatan. Pada beberapa penelitian empiris juga melihat adanya pengaruh pendapatan nasional (GDP) terhadap uang beredar seperti dalam Blankson (2004), Oldaru (2009) serta Sahabat (2009) dan Syarifuddin (2009).

Sedangkan untuk nilai tukar dalam hubungannya dengan permintaan uang, perubahan nilai tukar merupakan fungsi positif dari perubahan permintaan uang. Begitu juga dengan uang kuasi, hubungan antara uang kuasi (M2) dengan nilai tukar adalah positif menurut hasil penelitian Boorman (dalam Azis, 2002), Jika terjadi peningkatan nilai tukar terhadap dollar, kurs dalam negeri terdepresiasi terhadap kurs dollar maka uang kuasi akan mengalami peningkatan, apabila faktor lain tetap.

Masyarakat akan cenderung menukarkan rupiah yang mereka miliki dengan valuta asing ke bank, dengan demikian akan meningkatkan jumlah uang kuasi dalam bentuk valuta asing. tabungan masyarakat meningkat dalam bentuk valuta asing (Sukirno, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh Reid (2008) memasukkan nilai tukar sebagai variabel kontrol dalam melihat pengaruhnya terhadap uang beredar di Jamaika.

(7)

C. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian yang diangkat dalam skripsi ini “Pengaruh Leading Indicator Sistem Pembayaran Terhadap Uang Beredar (M2) di Indonesia (2010 : 01 – 2015 : 08)” yang bertujuan untuk melihat pengaruh jangka pendek dan jangka panjang variabel-variabel nilai transaksi RTGS, volume transaksi kliring, dan volume transaksi kartu ATM/debit terhadap variabel dependen yaitu uang beredar dalam arti luas yaitu M2 dengan menggunakan data-data berbentuk angka-angka yang diperoleh dari berbagai sumber maka jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian kuantitatif.

B. Definisi Operasional Variabel

Variabel Terikat (Depandent Variabel) yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel uang beredar (M2) di Indonesia. Uang beredar (M2) merupakan definisi uang beredar dalam arti luas yaitu meliputi M1 (uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi Rupiah) ditambah uang kuasi (mencakup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik.

Variabel Bebas (Independent Variabel) yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai RTGS, Volume Kliring, dan Volume ATM/Debit. Nilai Real-Time Gross Settlement (RTGS) nominal/nilai dari transaksi secara real time “seketika” pada periode tertentu. Transaksi yang termasuk dalam RTGS meliputi: transfer kredit, transaksi menggunakan central bank money, lebih ditamakan untuk transaksi nilai besar dan bersifat penting seperti transaksi pengelolaan moneter, transaksi pemerintahan, transaksi pasar uang antar bank, transaksi setelmen hasil kliring antar bank dan kliring pasar modal, setelmen untuk transaksi surat berharga (SBI dan SUN) yang setelmennya dilakukan pada sistem Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS). Volume kliring adalah jumlah transaksi yang diproses dalam pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan dalam waktu tertentu. Transaksi yang termasuk dalam kliring meliputi: transfer kredit untuk transaksi ritel dengan nilai di bawah Rp 100 Juta, Kliring warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet lainnya). Volume ATM/Debit adalah jumlah transaksi ATM/Debit yang diproses dalam pembayaran. ATM/Debit termasuk jenis Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK). Apabila digunakan untuk bertransaksi di mesin ATM, maka kartu tersebut dikenal sebagai kartu ATM. Namun apabila digunakan untuk transaksi pembayaran dan pembelanjaan non tunai dengan menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture), maka kartu tersebut dikenal sebagai kartu debit.

Variabel kontrol dilibatkan agar hasil analisis lebih menjelaskan fenomena dengan optimal karena variabel-variabel bebas lain yang mempengaruhi variabel terikat pengaruhnya terputus, selain variabel bebas yang ditentukan. Analisis ini akan memiliki kekuatan statistik yang lebih tinggi. Syarat variabel kontrol adalah variabel selain variabel bebas (X) yang turut mempengaruhi variabel terikat (Y), tentunya dukungan teori dibutuhkan untuk menjelaskannya (Widhiarso, 2011). Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel GDP Riil dan Nilai tukar dikarenakan permintaan uang banyak dipengaruhi oleh pendapatan dan pada akhir 2014 sampai awal 2015 nilai tukar Indonesia sedang bergejolak. GDP Riil atau GDP konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa dihitung menngunakan harga yang berlaku pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. GDP Riil juga digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun atau pertumbuhan ekonomi yang tidak ipengaruhi faktor harga. Nilai tukar menunjukkan tingkat pertukaran antara mata uang suatu negara dengan negara lain. Nilai tukar adalah harga satu satuan mata uang asing dalam uang dalam negeri. Dengan kata lain kurs adalah harga suatu mata uang jika ditukarkan dengan mata uang lainnya. Nilai tukar yang sering digunakan adalah nilai tukar rupiah terhadap dollar. Karena dollar adalah mata uang yang relatif stabil dalam perekonomian.

(8)

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data runtut waktu (time series) adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan perkembangan suatu kegiatan. Data runtut waktu digunakan untuk melihat pengaruh perubahan dalam rentang waktu tertentu.Berdasarkan sumbernya, Pada penelitian ini menggunakan data skunder. Data skunder mengacu pada informasi yang dikumpulkan dari sumber data yang telah ada. Data yang peneliti peroleh bersumber dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik(BPS).

Tabel 1: Nama, Satuan, dan Sumber data Penelitian Determinan Uang Beredar (M2) di Indonesia Periode 2010:01-2015:08

Sumber: diolah dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (2016) D. Metode Analisis Data

Metode penelitian yang digunakan adalah Error Correction Model (ECM) sesuai dengan tujuannya untuk mengetahui hubungan jangka pendek dan jangka panjang variabel independen yaitu nominal transaksi kartu debet/ATM, nominal transaksi kartu kredit, dan nominal transaksi electronic money terhadap variabel dependen (variabel terikat) adalah kebutuhan uang tunai masyarakat yang tercermin dari jumlah uang tunai yang diedarkan Bank Indonesia (di luar uang tunai yang ada di bank).

Metode Error Correction Model (ECM) dalam penelitian ini yaitu :

DLM2t = α + β1DLRTGSNt + β2DLKLRGVt + β3DLATM/DVt + β4DLGDPRt + β5DLKURSt + yECT + εt

Keterangan :

LM2 = logaritma dari jumlah uang beredar (M2) (Ribu) LRTGSN = logaritma dari nilai RTGS (Ribu Rupiah) LKLRGV = logaritma dari volume Kliring (Ribu Transaksi) LATM/DV = logaritma dari volume ATM/Debit (Ribu Tansaksi) LGDPR = logaritma dari GDP Riil (Ribu Rupiah)

LKURS = logaritma dari nilai tukar (Rupiah per Dollar US) DLnM2 = LM2t - LM2t-1

DLRTGSN = LRTGSNt - LRTGSNt-1 DLKLRGV = LKLRGVt - LKLRGVt-1 DLATM/DV = LATM/DVt - LATM/DVt-1 DLGDPR = LGDPRt - LGDPRt-1 DLKURS = LKURSt - LKURSt-1 α = konstanta/intercept β1, β2, β3, β4, β5 = koefisien/slope ECM y = speed of adjustment

ECT = residual/ error pada persamaan jangka panjang ε = residual/ error pada persamaan jangka pendek

t = Waktu

Variabel Satuan Sumber Data

Jumlah Uang Beredar (M2) Milyar Rupiah Bank Indonesia

Nilai RTGS Triliun Rupiah Bank Indonesia

Volume Kliring Ribu Transaksi Bank Indonesia

Volume ATM/Debit Juta Transaksi Bank Indonesia

GDP Riil Milyar Rupiah Badan Pusat Statistik

Nilai Tukar IDR/USD Bank Indonesia

(9)

koefisien y merupakan kecepatan residual pada periode sebelumnya untuk mengoreksi perubahan variabel y menuju keseimbangan pada periode selanjutnya. Untuk menyatakan apakah model ECM yang digunakan telah valid, koefisien y harus bertanda negatif dan signifikan yaitu p- value < α (5%).

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Uji Stasioneritas Data dan Uji Derajat Integritas

Hasil pengujian akar-akar unit memperlihatkan bahwa data uang beredar (M2), nilai transaksi RTGS, volume transaksi kliring, volume transaksi kartu ATM/debit, GDP riil dan nilai tukar stasioner pada tingkat 1st difference.

Uji Kointegrasi

Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji Engle-Granger. Secara ekonomi, variabel yang terkointegrasi adalah kondisi di mana terdapat hubungan jangka panjang antara variabel tersebut.

Tabel 2: Hasil Pengujian Stasioneritas Residual Variabel Signifikansi

(Level) Keterangan Residual (Res) 0.0160 Stasioner Level Sumber: Data diolah dengan Eviews 7 (2016)

sebesar 0,0160 dimana nilai tersebut lebih kecil dari alpha 5%. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa antar variabel bebeas dan terikat terdapat kointegreasi. Hal ini mengindikasikan variabel tersebut dikatakan dalam kondisi keseimbangan jangka pangjang (long-run equilibrium).

Error Correction Model

Tabel 2: Hasil Estimasi Regresi denganError Correction Model (ECM)

Dependent Variable : M2

No. Variabel Coefficient t-statistic Probabilitas Keterangan

1. Nilai RTGSN 0.029651 2.783128 0.0072 Berpengaruh

Positif

2. Volume Kliring 0.038862 2.498862 0.0152 Berpengaruh

Positif 3.

Volume

ATM/Debit 0.056951 2.128211 0.0374 Berpengaruh

Positif

4. GDP Riil -0.052466 -0.406801 0.6856 Tidak

Berpengaruh

5. Nilai tukar 0.167904 2.186602 0.0327 Berpengaruh

Positif

6. ECT -0.119694 -1.966623 0.0539 Signifikan

7. Konstanta 0.003972 5.802413 0.0000 Signifikan

R-squared 0.514873

F-statistic 10.61317

Prob (F-statistic) 0.000000< (0.05) Signifikan

(10)

Sumber: Data diolah dengan Eviews 7 (2016)

Pada tabel 2 terlihat nilai R-squared sebesar 0.514873, artinya dalam jangka pendek kemampuan variabel independen yaitu nilai RTGS, volume kliring, volume ATM/Debit, dan variabel kontrol yaitu GDP Riil dan nilai tukar dalam mempengaruhi uang beredar (M2) di Indonesia sebesar 51,49%.

Sedangkan sisanya dijelaskan oleh error, dalam hal ini adalah variabel diluar penelitian. Hasil estimasi jangka pendek didapati nilai Prob. (F- statistic) sebesar 0.000000 yang nilainya < ɑ (0.05) yang artinya signifikan. Dapat dinyatakan bahwa secara simultan variabel independen dan variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini secara bersama-sama mampu mempengaruhi uang beredar (M2) di Indonesia dalam jangka pendek pada periode januari 2010 sampai Agustus 2015.

Secara parsial untuk variabel independen nilai RTGS memiliki nilai t-statistic I2.783128I yang nilainya > t-table (1.671) maka H0 ditolak, dan memiliki coefficient yang positif. Sehingga dalam jangka pendek, terjadi kenaikan 1 satuan perubahan nilai RTGS pada satu periode sebelumnya yang akan menyebabkan uang beredar (M2) meningkat 0.029651. Untuk variabel volume kliring memiliki nilai t-statistic I2.498862I yang nilainya >t-table (1.671) maka H0 ditolak, dan memiliki coefficient yang positif.Sehingga dalam jangka pendek, terjadi kenaikan 1 satuan perubahan volume transaksi kliring pada satu periode sebelumnya yang akan menyebabkan uang beredar (M2) meningkat 0.038862. Untuk variabel volume ATM/Debit memiliki nilai t-statistic I2.128211I yang nilainya >t- table (1.671) maka H0 ditolak, dan memiliki coefficient yang positif. Sehingga dalam jangka pendek, terjadi kenaikan 1 satuan perubahan volume transaksi ATM/Debit pada satu periode sebelumnya yang akan menyebabkan uang beredar (M2) meningkat 0.056951.

Sedangkan untuk variabel kontrol, yaitu variabel GDP Riil dalam jangka pendek tidak berpengaruh signifikan karena t-statistic I-0.406801I yang nilainya < t-table (1.671) maka H0 diterima. Untuk variabel volume nilai tukar memiliki nilai t-statistic I2.186602I yang nilainya > t- table (1.671) maka H0 ditolak, dan memiliki coefficient yang positif. Sehingga dalam jangka pendek, terjadi kenaikan 1 satuan perubahan nilai tukar pada satu periode sebelumnya yang akan menyebabkan uang beredar (M2) meningkat 0.167904.

Pada penelitian ini, nilai ECT/Res adalah -0.119694 dengan probabilitas 0.0539 ≤ 5% dan t- statistic I-1.966623I yang nilainya > t-table (1.671) yang berarti signifikan. Nilai nilai koefisien ECT/Res bertanda negatif dan signifikan secara statistik yang berarti model spesifikasi ECM yang digunakan dalam penelitian ini valid (Shochrul dkk, 2011). Nilai koefisien ECT/Res dapat mempengaruhi seberapa cepat atau lambat keseimbangan dapat tercapai kembali. Nilai koefisen ECT/Res sebesar -0.119694 mempunyai makna bahwa perbedaan antara nilai aktual variabel uang beredar (M2) dengan nilai keseimbangan -0.119694 akan disesuaikan dalam waktu 12 bulan. Dapat diartikan juga bahwa -0.119694% dari ketidaksesuaian yang dapat dikoreksi jangka pendek terhadap jangka panjang selama 12 bulan.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Perkembangan Nilai transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) Meningkatkan Uang Beredar (M2) di Indonesia.

Menurut hasil estimasi yang dilakukan, secara empiris dalam jangka pendek dan jangka panjang variabel nilai transaksi RTGS mempunyai pengaruh terhadap uang beredar (M2) di Indonesia.

Hubungan tersebut bersifat positif yang artinya apabila terjadi kenaikan jumlah nilai transaksi RTGS akan membuat kenaikan pula pada uang beredar (M2). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syarifuddin (2009) bahwa peningkatan pembayaran non tunai memiliki efek komplementer yang mengakibatkan meningkatnya M2.

Jumlah nilai transaksi RTGS digunakan untuk mengukur perkembangan penggunaan transaksi RTGS di Indonesia sebagai salah satu leading indicator sistem pembayaran dan sebagai alat pembayaran non tunai. Bank Indonesia sebagai regulator tunggal dalam sistem pembayaran, melakukan peningkatan kehandalan dititikberatkan pada pengembangan lanjutan sistem BI-RTGS generasi II. Pada sistem baru akan dilengkapi fitur-fitur penghemat likuiditas sehingga mampu

(11)

memitigasi risiko likuiditas dan meningkatkan efisiensi bagi peserta pada saat kebutuhan meningkat (Bank Indonesia, 2012). Secara empiris, dengan melihat kenaikan nilai transaksi RTGS menyebabkan kenaikan pula pada uang beredar (M2) di Indonesia. Hasil ini didukung oleh data jumlah uang beredar (M2) yang mengalami kenaikan sejalan dengan naiknya penggunaan nilai transaksi RTGS.

Di Indonesia, penggunaan jumlah nilai transaksi RTGS merupakan transaksi pemindahan dana yang berlangsung sangat cepat (same day). Hal ini dapat mempengaruhi saldo rekening yang ada di bank sentral. Uang beredar (M2) akan naik, mengingat semakin banyak uang yang masuk ke dalam sistem perbankan. Disisi lain komponen transaksi dalam nilai RTGS sangatlah banyak dan penting sebagai setelmen akhir serta semakin luasnya cakupan wilayah pelaksanaan RTGS yang mungkin membuat kenaikan pada nilai RTGS, diikuti oleh kebutuhan uang beredar (M2) masyarakat yang meningkat.

Penelitian yang dilakukan oleh Reid (2008) di Jamaika menyatakan bahwa dampak dari penggunaan non tunai akan mengurangi penggunaan uang tunai dalam bertransaksi. Hal ini dikarenakan Bank of Jamaica (BOJ) dapat mengurangi inflasi secara perlahan sehingga uang tunai juga cenderung menurun pada tahun 2006 sekitar 19,7% sampai 2008 menurun menjadi 12,3% dan transaksi pemindahan dana mulai meningkat pada kisaran pertengahan tahun 2006 di Jamaika. Uang disubstitusikan oleh variasi dari alternatif media pembayaran secara perlahan di Jamaika.

Berbeda dengan hasil penelitian ini, menunjukkan tren yang searah atau positif dimana uang beredar (M2) yang terus meningkat tiap tahunnya dan nilai RTGS sebagai transaksi non tunai juga terus meningkat. Hal ini dikarenakan komponen yang digunakan tidak hanya uang tunai, namun uang beredar (M2) yang didalamnya tidak hanya uang tunai saja namun juga akumulasi dari uang non tunai juga seperti demand deposit dan time deposit yang tidak dipegang langsung oleh masyarakat namun masuk ke dalam sistem perbankan dan jumlahnya semakin meningkat.

Perbedaan hasil yang dilakukan peneliti terdahulu di Indonesia dengan penelitian sekarang dikarenakan perbedaan variabel yang digunakan, tahun penelitian dan metode yang digunakan.

Berbeda tahun mengindikasikan perbedaan kondisi perekonomian Indonesia serta perbedaan fluktuasi data. Penggunaan nilai RTGS dalam jangka pendek dan jangka panjang dapat diartikan memiliki peran dalam mendukung peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non tunai seperti demand deposit dan time deposit. Tetapi, tidak berlaku pada komponen uang tunai (M0).

Perkembangan Volume Transaksi Kliring Meningkatkan Uang Beredar (M2) di Indonesia.

Menurut hasil estimasi yang dilakukan dalam jangka pendek volume transaksi kliring memiliki pengaruh yang positif terhadap uang beredar (M2) yang artinya peningkatan volume transaksi kliring sejalan dengan meningkatnya uang beredar (M2) di Indonesia, sedangkan dalam jangka panjang tidak ada pengaruh yang signifikan antara keduanya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Istanto (2013) yang juga menyatakan bahwa dalam jangka panjang ada pengaruh positif. Namun tidak berpengaruh signifikan dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan penyempurnaan sistem kliring yang semakin meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan jasa pembayaran tersebut.

Volume transaksi kliring digunakan untuk mengukur perkembangan penggunaan transaksi kliring di Indonesia sebagai salah satu leading indicator sistem pembayaran dan sebagai alat pembayaran non tunai. Bank Indonesia sebagai regulator tunggal dalam sistem pembayaran, melakukan penguatan infrastruktur dan peningkatan keamanan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) melalui penyempurnaan grand desain pengembangannya dan meningkatkan efisiensi bagi peserta pada saat kebutuhan meningkat (Bank Indonesia, 2012). Secara empiris, dengan melihat kenaikan volume transaksi kliring menyebabkan kenaikan pula pada uang beredar (M2) di Indonesia. Hasil ini didukung oleh data jumlah uang beredar (M2) yang mengalami kenaikan sejalan dengan naiknya penggunaan volume transaksi kliring.

Layanan kliring masih terbatas pada transaksi yang bersifat konvensional yaitu transaksi Cek dan Bilyet Giro (BG) serta transfer individual. Kliring belum dapat mengakomodir transaksi pembayaran yang bersifat rutin (billing payment) dan transaksi pembayaran yang bersifat jamak (bulk payment).

Disisi lain untuk kliring debet, masih terjadi ketidakefisienan penyediaan likuiditas oleh bank peserta

(12)

kliring. Hal itu karena perhitungan mekanisme Failure to Settle (FtS) melalui penyediaan prefund dilakukan secara gross sehingga penyediaan dana menjadi lebih besar dari yang dibutuhkan (setelah dilakukan netting), bisa jadi ini yang membuat kenaikan pada volume transaksi kliring, diikuti oleh kebutuhan uang beredar (M2) masyarakat yang meningkat.

Penelitian yang dilakukan oleh Reid (2008) di Jamaika menyatakan bahwa dampak dari penggunaan non tunai akan mengurangi penggunaan uang tunai dalam bertransaksi. Hal ini dikarenakan Bank of Jamaica (BOJ) dapat mengurangi inflasi secara perlahan sehingga uang beredar juga cenderung menurun pada tahun 2006 sekitar 19,7% sampai 2008 menurun menjadi 12,3% dan transaksi pemindahan dana mulai meningkat pada kisaran pertengahan tahun 2006 di Jamaika. Uang disubstitusikan oleh variasi dari alternatif media pembayaran secara perlahan di Jamaika.

Berbeda dengan hasil penelitian ini, menunjukkan tren yang searah atau positif dimana uang beredar (M2) yang terus meningkat tiap tahunnya dan volume kliring sebagai transaksi non tunai juga terus meningkat. Hal ini dikarenakan komponen yang digunakan tidak hanya uang tunai, namun uang beredar (M2) yang didalamnya tidak hanya uang tunai saja namun juga akumulasi dari uang non tunai juga seperti demand deposit dan time deposit yang tidak dipegang langsung oleh masyarakat namun masuk ke dalam sistem perbankan dan jumlahnya semakin meningkat.

Perbedaan hasil yang dilakukan peneliti terdahulu di Indonesia dengan penelitian sekarang dikarenakan perbedaan variabel yang digunakan, tahun penelitian dan metode yang digunakan.

Berbeda tahun mengindikasikan perbedaan kondisi perekonomian Indonesia serta perbedaan fluktuasi data. Volume transaksi kliring menunjukkan pengaruh signifikan positif terhadap uang beredar (M2) dalam jangka pendek, dapat diartikan bahwa adanya peningkatan volume kliring langsung dapat direspon oleh peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non tunai yaitu demand deposit dan time deposit. Tetapi dalam jangka panjang tidak memiliki pengaruh yang signifikan, hal ini bisa jadi dikarenakan penggunaan layanan kliring masih terbatas pada transaksi yang bersifat konvensional yaitu transaksi Cek dan Bilyet Giro (BG) serta transfer individual. Kliring belum dapat mengakomodir transaksi pembayaran yang bersifat rutin (billing payment) dan transaksi pembayaran yang bersifat jamak (bulk payment).

Perkembangan Volume Transaksi ATM/Debit Menaikkan Uang Beredar (M2) di Indonesia.

Menurut hasil estimasi yang dilakukan, secara empiris dalam jangka pendek dan jangka panjang variabel volume transaksi ATM/Debit mempunyai pengaruh terhadap uang beredar (M2) di Indonesia.

Hubungan tersebut bersifat positif yang artinya apabila terjadi kenaikan volume transaksi ATM/Debit akan membuat kenaikan pula pada uang beredar (M2). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syarifuddin (2009) bahwa peningkatan pembayaran non tunai memiliki efek komplementer yang mengakibatkan meningkatnya M2.

Volume transaksi ATM/Debit merupakan salah satu leading indicator sistem pembayaran dan sebagai transaksi alat pembayaran non tunai di Indonesia. peningkatan volume transaksi menggunakan kartu ATM/Debit digunakan untuk mengukur perkembangan penggunaan alat pembayaran non tunai dengan menggunakan kartu ATM/Debit. Hasil empiris penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan volume transaksi kartu ATM/Debit juga meningkatkan jumlah uang beredar (M2). Hal tersebut didukung dengan data peningkatan volume transaksi kartu ATM/debit yang diikuti peningkatan kebutuhan uang beredar (M2) di Indonesia.

Perkembangan volume transaksi kartu ATM/Debit dan pertumbuhan uang beredar (M2).

Peningkatan penggunaan alat pembayaran non tunai (kartu ATM/Debit) ternyata diikuti dengan peningkatan jumlah uang beredar (M2). Penarikan tunai menggunakan kartu ATM/Debit masih mendominasi dibandingkan penggunaan kartu ATM/Debit sebagai alat pembayaran non tunai.

Saat ini terlihat terjadi pergeseran definisi demand deposit. Penarikan demand deposit bisa dilakukan dengan begitu mudah, terlebih dengan berkembangnya fasilitas ATM. Meskipun masih terdapat pembatasan atas maksimal jumlah penarikan dalam satu hari, namun kebebasan penarikannya hampir menyamai demand deposit. Hal ini yang menyebabkan semakin meningkatnya volume transaksi kartu ATM/Debit.

Bank Indonesia juga menggalakkan program tahunan GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai) pada Agustus 2014 lalu dan itu merupakan waktu yang belum lama jika dibandingkan dengan negara-negara

(13)

ASEAN yang lain, penggunaan transaksi pembayaran berbasis elektronik yang dilakukan masyarakat Indonesia relatif masih rendah, sementara dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar, masih terdapat potensi yang cukup besar untuk perluasan skema akses layanan sistem pembayaran di Indonesia (Siaran Pers Bank Indonesia Agustus, 2014).

Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rinaldi (2011) di belgium, menyatakan bahwa dampak dari penggunaan non tunai akan mengurangi penggunaan uang tunai dalam bertransaksi. Hal tersebut dikarenakan, transaksi non tunai sudah mencapai 93% sehingga dampak dari transaksi non tunai dapat mengurangi transaksi tunai. Sedangkan di Indonesia, hanya sebesar 0,6%

transaksi non tunai retail sehingga adanya penggunaan non tunai masih belum bisa menurunkan kebutuhan uang tunai di Indonesia.

Berbeda dengan hasil penelitian ini, menunjukkan tren yang searah atau positif dimana uang beredar (M2) yang terus meningkat tiap tahunnya dan volume ATM/Debit sebagai transaksi non tunai juga terus meningkat. Hal ini dikarenakan komponen yang digunakan tidak hanya uang tunai, namun uang beredar (M2) yang didalamnya tidak hanya uang tunai saja namun juga akumulasi dari uang non tunai juga seperti demand deposit dan time deposit yang tidak dipegang langsung oleh masyarakat namun masuk ke dalam sistem perbankan dan jumlahnya semakin meningkat.

Perbedaan hasil yang dilakukan peneliti terdahulu di Indonesia dengan penelitian sekarang dikarenakan perbedaan variabel yang digunakan, tahun penelitian dan metode yang digunakan.

Berbeda tahun mengindikasikan perbedaan kondisi perekonomian Indonesia serta perbedaan fluktuasi data. Penggunaan volume transaksi ATM/Debit dalam jangka pendek dan jangka panjang dapat diartikan peningkatan budaya penggunaan kartu ATM/Debit untuk tarik tunai dan pembayaran non tunai memiliki peran dalam mendukung peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non tunai seperti demand deposit dan time deposit. Tetapi, tidak berlaku pada peningkatan komponen uang tunai (M0).

E. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bab empat, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel leading indicator yaitu nilai RTGS, volume kliring, dan volume ATM/Debit berpengaruh terhadap uang beredar (M2). Tetapi, data variabel yang bersifat time series ini menunjukkan hasil pengujian tidak stasioner pada tingkat level sehingga tidak dapat menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS), sehingga kemudian dilanjutkan pada pengujian derajat integrasi, kointegrasi dan Error Correction Model (ECM). Berdasarkan hasil pengujian tersebut menunjukkan adanya pengaruh jangka pendek dan jangka panjang antara variabel leading indicator terhadap uang beredar (M2) di Indonesia.

2. Nilai transaksi RTGS menunjukkan pengaruh signifikan positif terhadap uang beredar (M2) dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini memiliki implikasi bahwa kenaikan nilai transaksi RTGS diikuti oleh meningkatnya uang beredar (M2), maka dapat diartikan kenaikan nilai transaksi RTGS sebagai salah satu bagian dari sistem pembayaran non tunai memiliki peran dalam mendukung peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non tunai seperti demand deposit dan time deposit. Tetapi, tidak berlaku pada komponen uang tunai (M0).

3. Volume transaksi kliring menunjukkan pengaruh signifikan positif terhadap uang beredar (M2) dalam jangka pendek, dapat diartikan bahwa adanya peningkatan volume kliring langsung dapat direspon oleh peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non

(14)

tunai yaitu demand deposit dan time deposit. Tetapi dalam jangka panjang tidak memiliki pengaruh yang signifikan, hal ini bisa jadi dikarenakan penggunaan layanan kliring masih terbatas pada transaksi yang bersifat konvensional yaitu transaksi Cek dan Bilyet Giro (BG) serta transfer individual. Kliring belum dapat mengakomodir transaksi pembayaran yang bersifat rutin (billing payment) dan transaksi pembayaran yang bersifat jamak (bulk payment).

4. Volume transaksi ATM/Debit menunjukkan pengaruh signifikan positif terhadap uang beredar (M2) dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini memiliki implikasi bahwa kenaikan volume transaksi ATM/Debit diikuti oleh meningkatnya uang beredar (M2), maka dapat diartikan peningkatan budaya penggunaan kartu ATM/Debit untuk tarik tunai dan pembayaran non tunai memiliki peran dalam mendukung peningkatan komponen uang beredar M2 dalam bentuk non tunai seperti demand deposit dan time deposit. Tetapi, tidak berlaku pada peningkatan komponen uang tunai (M0).

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah : 1. Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif dari perkembangan

variabel nilai RTGS, volume kliring, dan volume ATM/Debit terhadap peningkatan uang beredar (M2). Semakin meluasnya penggunaan oleh masyarakat, maka Bank Indonesia perlu adanya upaya-upaya peningkatan perbaikan sistem dari ketiga variabel tersebut sehingga dapat mengantisipasi adanya resiko terhadap pengembangan inovasi sistem pembayaran non tunai yang dapat berdampak pada kelancaran likuiditas perekonomian negara.

2. Peningkatan pembayaran non tunai berdampak pada peningkatan uang beredar (M2), peningkatan ini juga harusnya mampu diimbangi oleh Pemerintah dan sektor perbankan dengan peningkatan perbaikan pembiayaan pada pada sektor riil agar kegiatan ekonomi tumbuh dan adanya uang beredar yang semakin meningkat tidak mendorong adanya inflasi.

3. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan menggunakan tahun penelitian yang lebih panjang untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan memasukkan seluruh variabel alat pembayaran non tunai yang ada di Indonesia agar dapat diketahui variabel mana yang lebih dominan mempengaruhi uang beredar (M2) di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ajija, Shochrul R. dkk. 2011. Cara cerdas menguasai EViews. Jakarta: Salemba Empat.

Amronim, G., Chakravorti, S. 2007. Debit Card and Cash Usage: A Cross-Country Analysis. Federal Reserve Bank of Chicago Working Paper, 1-45.

Bank Indonesia. 2012. Laporan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Utang 2012. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia. 2015. Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2015. Jakarta: Bank Indonesia.

Blankson, Theresa M., Belnye, Franklin. 2004. Financial Innovation and the Demand for Money in Ghana. Bank of Ghana Working Paper.

Boediono. 1980. Teori Moneter. Yogyakarta: BPFE.

Bungin, B. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. 1rd ed. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Cooper, Donald R., Schindler, Pamela. 2008. Bussiness Research Methods. New York: McGraw-Hill Companies Inc.

Creswell, John W.2009. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Terjemahan Oleh Achmad Fawaid. 2010. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran. 2006. Laporan Seminar Internasional “Towards a Less Cash Society in Indonesia”. Jakarta: Bank Indonesia.

Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran. 2012. Menguak Potensi Sistem Pembayaran bagi Perekonomian. Jakarta: Bank Indonesia.

(15)

Gilarso, T .2002. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Yogyakarta: KANISIUS.

Gujarati, Damodar. 2006. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jakarta: Erlangga.

Hasan, I., et all. 2012. Retail Payment and Economic Growth. Discussion Papers 19, Bank of Finland Research.

Hiroshi.,F., Migiwa, T. 2010. Currency Demand, New Technology, and the Adoption of Electronic Money: Evidance Using Individual Household Data. Bank of Japan Working Paper. 1-40.

Istanto, L., Fauzie, S. 2013. Analisis Dampak Pembayaran Non Tunai Terhadap Jumlah Uang Beredar di Indonesia. Jurnal Ekonomi Keuangan. Vol. 2, No. 10.

Kuncoro, M. 2009. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi Bagaimana Meneliti & Menulis Tesis, 3rd ed. Jakarta: Erlangga.

Lahiri, K., Moore, G.H. 1991. Leading Economic Indicators, New Approaches and Forecasting Records. Cambridge University Press, Cambridge.

Lippi, Francesco., Secchi, A. 2009. Technological Change and the Households’ Demand for Currency.

Journal of Monetary Economics 56. 222-230.

Manurung Jonni J., dan Adler H. Manurung, 2009. Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Moneter.

Cetakan Pertama. Jakarta: Salemba Empat.

Mastercard. 2012, Mastercard Advisors’ Cashless Journey Indonesia. Cashless Journey Spotlight.

Mishkin, Frederic S. 2010. Ekonomi uang, perbankan, dan pasar keuangan buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

Mohanty J., et all. 2003. Business Cycles and Leading Indicators of Industrial Activity in India. MPRA Paper No.12149, Reserve Bank of India.

Odalaru, G., Okunrinboye, O. 2009. Modelling the Impact of Financial Innovation on the Demand for Money in Nigeria. African Journal of Business management. Vol. 3, (No.2): 39-51.

Pramono, Bambang, dkk. 2006. Dampak Pembayaran Non Tunai terhadap Perekonomian dan Kebijakan Moneter. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jakarta: Bank Indonesia.

Reid, K. A. 2008. Estimating the Impact of the Alternative Means of Payment on Currency Demand in Jamaica. Bank of Jamaica Working Paper.

Rinaldi, Laura. 2001. Payment Cards and Money Demand in Belgium. Center for Economics Studies Discussions Paper Series (DPS) 01.06.

Sahabat, imaduddin. 2009. Pengaruh Inovasi Pembayaran Terhadap Permintaan Uang di Indonesia.

Tesis. Depok: Program Pascasarjana Ekonomi Universitas Indonesia.

Sekaran, U. 2007. Research Methods for Business. Terjemahan oleh Kwan Men Yon. 4rd ed. Jakarta:

Salemba Empat.

Sheppard, David. 1996. Handbook in Central Banking No.8: Payment System. London: Bank of England.

Sindonews. 2014, 8 November. Budaya Transaksi Non Tunai Masih rendah.

www.eksis.sindonews.com. Diakses pada 11 Januari 2016.

Subari, Sri M., Ascarya. 2003. Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

Sukirno, Sadono. 2003. Makroekonomi Teori Pengantar, Edisi Ketiga. Jakarta: Rajawali Pers.

Supranto, J. 2008. Statistik: Teori dan Aplikasi. 7rd ed. Jakarta: Erlangga.

Syarifuddin, dkk. 2009. Dampak Peningkatan Pembayaran Non-Tunai Terhadap Perekonomian dan Implikasinya Terhadap Pengendalian Moneter di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jakarta: Bank Indonesia.

Tribunnews, 2014, 3 September. Transaksi Non Tunai Belum Populer di jambi. www.tribunnews.com.

Diakses pada 11 Januari 2016.

Untoro., dkk. 2014. Kajian Penggunaan Instrumen Sistem Pembayaran sebagai Leading Indicator Makroekonomi. Working Paper Bank Indonesia.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang. Jakarta: Bank Indonesia.

Warjiyo, Perry. 2004. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

Widhiarso, Wahyu. 2011. Analisis Data Penelitian dengan Variabel Kontrol. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Referensi

Dokumen terkait