JUDUL METODE PENELITIAN
Tujuan Penelitian INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN
UNTUK MENGUKUR
HASIL PENELITIAN
KESIMPULAN
1 Pengaruh Mirror Theraphy
terhadap pemenuhan activity daily living pada pasien pasca storke (di poli saraf RSUD NGANJUK)
(Puspandari, Wilda, 2019)
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian
Pra-experimental, dengan pendekatan one-group pre-post test design yaitu rancangan mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek (Nursalam, 2016).
Penelitian ini dilakukan dengan cara kelompok subjek
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Mirror Theraphy terhadap pemenuhan activity daily living pada pasien pasca storke (di poli saraf RSUD NGANJUK)
UJI WILCOXON Bathel indeks
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 11 responden sebelum diberikan mirror therapy hampir setengahnya yaitu 5 responden (45,46%) memiliki interpretasi Activity Daily Living
ketergantungan sedang dan sesudah diberikan mirror therapy sebagian besar yaitu 6 responden
(54,55%) memiliki interpretasi Activity
Pemenuhan Activity Daily Living
sebelum diberikan mirror therapy dari 11responden hampir setengahnya yaitu 5 responden (45,46%) memiliki intepretasi ketergantungan sedang dan sesudah diberikan mirror therapy sebagian besar
yaitu 6 responden (54,55%) memiliki intepretasi
ketergantungan sedang.Dari 11 responden yaitu 1
diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam, 2016).
Penelitian
dilaksanakan pada tanggal 26 Maret – 6
Mei 2016.
Daily Living ketergantungan sedang. Dari 11 responden yaitu 1 responden (9,09%) sebelum diberikan mirror therapy memiliki intepretasi ketergantungan total meningkat menjadi
ketergantungan berat, dan 2 responden
(18,18%) sebelum diberikan mirror therapy dengan ketergantungan ringan meningkat menjadi mandiri sesudah diberikan Mirror Therapy.
responden (9,09%) sebelum diberikan mirror therapy memiliki intepretasi
ketergantungan total meningkat
menjadi
ketergantungan berat, dan 2
responden (18,18%) sebelum diberikan mirror therapy dengan
ketergantungan ringan meningkat menjadi mandiri sesudah
diberikan mirror therapy. Ada pengaruh mirror therapy terhadap pemenuhan Activity Daily Living pada pasien pasca
stroke di Poli Saraf RSUD Nganjuk. Hal ini
dibuktikan dengan nilai signifikan ρ value =
0,020≤ α = 0,05.
2 Efektifitas Mirror Therapy terhadap Kekuatan Otot dan Status
Fungsional Pasien Stroke Non Hemoragik (Istianah et al., 2021)
Desain penelitian ini
menggunakan pra eksperiment dengan
pendekatan One Group Pre Test and Post Test Design.
Populasi penelitian ini adalah semua
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui efektifitas mirror therapy terhadap kekuatan otot dan status fungsional pasien stroke dengan hemiparese.
barthel index uji Willcoxon
rata-rata status fungsional sebelum intervensi 42,5 dan setelah intervensi menjadi 72,5. Hasil analisis dengan uji willcoxon diperoleh nilai p value untuk kekuatan otot 0,000<0,05 dan
Kekuatan otot dan status fungsional pasien stroke setelah dilakukan intervensi mirror therapy mengalami
peningkatan. Status fungsional pasien stroke setelah diberikan intervensi
pasien stroke yang dirawat inap di RSUD Kota
Mataram berjumlah 108 orang. Sampel penelitian adalah pasien stroke non hemoragik dengan hemiparese
berjumlah 16 responden yang dipilih dengan tekhnik purposive sampling.
Instrumen
penelitian: lembar observasi kekuatan otot, barthel indeks,
dan cermin. Data dianalisis dengan univariat dan bivariate.
status fungsional 0,001<0,05.
mirror therapy dapat menurukan tingkat ketergantungan pasien dimana sebelum diberikan intervensi, pasien memiliki
ketergantungan berat dan setelah diberikan intervensi pasien memiliki tingkat ketergantungan sedang. Dengan demikian maka ada pengaruh yang signifikan intervensi mirror therapy terhadap kekuatan otot.
3 Efektivitas Mirror
Kuantitatif dengan Quasy eksperimen
Penelitian ini bertujuan untuk
MMST, Hand dan Leg Dynamometer
terdapat perbedaan tingkat kekuatan
Terdapat pengaruh dan
Therapy Integrasi Dengan Rom Pada
Ekstremitas Atas Dan Bawah Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pasien Stroke Di Rawat Jalan Rsud Dr.
DorisSylvanus Palangka Raya
(Rawat et al., 2018)
pretest-postest control group terhadap 87 sampel, 20 kontrol dan 67 intervensi.
Terapi cermin diberikan 4 kali seminggu selama 3 minggu
selama 30 menit, alat
ukur MMST, Hand dan leg
Dynamometer, metode pengambilan sampel dengan purvosif
sampling. Variabel confunding jenis kelamin, usia, lama stroke. Uji
menggunakan paired
t-tes, independen
Mengetahui efectivitas Mirror Therapy integrasi dengan ROM dalam meningkatan
Kekuatan Otot pada pasien stroke.
Rsud Dr.
DorisSylvanus Palangka Raya
otot sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi secara MMST, Hand dan Leg Dynamometer 0,000 < 0,05.
Terdapat perbedaan tingkat kekuatan otot pada kelompok kontrol dan
intervensi secara MMST, hand dan leg
dynamometer 0,000 <
0,05. Terdapat pengaruh mirror terapi terhadap peningkatan kekuatan otot dengan MMST, Hand dan Leg Dynamometer dengan p value 0,000 < 0,05. Tidak
perbedaan rerata tingkat kekuatan otot sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi dan kontrol secara MMST, hand dan leg dynamometer 0,000 < 0,05. Jenis kelamin, usia dan lama stroke tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kekuatan otot.
ttes
dan regresi linier berganda.
terdapat pengaruh nilai kekuatan otot secra MMST untuk jenis kelamin p value 0,448, usia p value 0,669, lama stroke p value 0,265.
Dengan hand dynamometer Jenis kelamin p value 0,198, usia
p value 0,462, lama stroke p value 0,112. Dengan leg dynamometer jenis kelamin p value 0,804,
usia p value 0,921, lama stroke p value 0,783.
4 Mirror Therapy in chronic stroke survivors with severely Impaired
Dua puluh empat sesi intervensi dilakukan untuk kedua kelompok.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
Wolf Motor
Function Test, Fugl- Meyer Assessment, dan Nottingham
Peningkatan fungsi motorik diamati pada kedua kelompok pada subskala kemampuan
Dibandingkan dengan mobilisasi pasif, MT pada penderita stroke kronis dengan
Upper Limb Function
(Colomer et al., 2016)
Setiap sesi termasuk periode 45 menit MT (kelompok eksperimen) atau mobilisasi pasif (kelompok
kontrol), diberikan tiga hari seminggu.
Peserta dinilai sebelum dan sesudah intervensi dengan Wolf Motor Function Test, Fugl-Meyer Assessment, dan Nottingham Sensory Assessment.
efektivitas terapi cermin pada penderita stroke kronis dengan gangguan ekstremitas atas yang parah dibandingkan dengan mobilisasi pasif
Sensory Assessment. (p = 001) dari Tes WMF dan tiga kali (p = 0,002). Dalam sensasi sentuhan yang terutama diamati sebagai peningkatan kepekaan terhadap sentuhan ringan dalam kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan yang signifikan.
gangguan fungsi ekstremitas atas yang parah dapat
memberikan efek terbatas tetapi positif pada sensitivitas sentuhan ringan sambil memberikan peningkatan motorik yang serupa.
5 Recovery in the Severely Impaired Arm Post-Stroke After Mirror Therapy
single-blind randomized controlled design 41 px
pasien dengan gangguan lengan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas terapi cermin terhadap pemulihan pada lengan dengan
Fugl-Meyer Assessment dan Wolf Motor Function Test
(p = 0.676) Skala Kemampuan WMFT dan (p = 0.867) pada FMA memiliki pemulihan lengan signifikan yang
Terapi cermin atau terapi kontrol, yang melibatkan latihan secara bersamaan untuk lengan yang paretic dan tidak
(Corbetta et al., 2018)
berat dalam 1 bulan pasca stroke ditugaskan untuk menerima terapi cermin (n = 20) atau terapi kontrol (n = 21), 30 menit dua kali sehari selama 4 minggu dalam Selain rehabilitasi konvensional.
Selama terapi cermin dan terapi kontrol, subjek mempraktikkan latihan terstruktur serupa di kedua lengan, kecuali bahwa pantulan cermin dari lengan yang tidak
terpengaruh adalah umpan balik visual untuk terapi
gangguan berat pasca stroke.
serupa (MT dan CT) terpengaruh selama stroke subakut, mendorong
pemulihan motorik yang serupa pada lengan yang
mengalami gangguan berat.
cermin, tetapi cermin tidak ada untuk terapi kontrol sehingga subjek dapat menonton kedua lengan dalam latihan.
6 Mirror Therapy Enhances Upper Extremity Motor Recovery in Stroke Patients (Lee et al., 2012)
A single-blinded Trial 15 pasien post stroke berusia 56- 68 tahun
Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek terapi cermin pada pemulihan motorik ekstremitas atas dan fungsi motorik pada pasien dengan
stroke akut.
1. Fugl-Meyer Assessment score
2. Brunnstrom motor recovery stages scores 3. Changes in
Manual Function Test scores of upper- limb motor functions
Dalam pemulihan motorik ekstremitas atas, skor Penilaian Fugl-Meyer
(berdasarkan item bahu/siku/lengan bawah, 9,54 vs. 4,61;
item pergelangan tangan, 2,76 vs. 1,07;
item tangan,
masing-masing 4,43 vs. 1,46) dan
Brunnstrom tahap untuk ekstremitas atas dan tangan
(masingmasing 1,77 vs 0,69 dan 1,92 vs
program terapi cermin merupakan intervensi yang efektif untuk pemulihan motorik ekstremitas atas dan peningkatan fungsi motorik pada pasien stroke akut.
Penelitian tambahan tentang komponen program terapi cermin, intensitas, waktu aplikasi, dan durasi dapat
membuatnya digunakan sebagai
0,50,) lebih meningkat pada kelompok eksperimen dibandingkan
pada kelompok kontrol (PG 0,05).
Pada fungsi motorik ekstremitas atas, skor Tes Fungsi Manual (berdasarkan item bahu, 5,00 vs 2,23;
item tangan, 5,07 vs 0,46, masing-masing) meningkat
secara signifikan pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol (PG 0,01).
Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kelompok untuk item koordinasi dalam Penilaian Fugl Meyer.
bentuk standar rehabilitasi tangan di klinik dan rumah.
7 PENGARUH MIRROR THERAPY TERHADAP KEKUATAN OTOT
EKSTREMITAS PADA PASIEN STROKE DIRSUD dr.
MOEWARDI (Setiyawan et al., 2019)
Desain penelitian adalah quasy experiment pre post test with control group design. Populasi adalah pasien stroke iskemik dengan teknik consecutive sampling berjumlah 30 responden
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mirror therapy terhadap kekuatan otot ekstremitas.
Wilcoxon Signed Ranks Test dan Mann Whitney-U Test
Hasil analisa Wilcoxon
Testmenunjukkan terdapat perbedaan kekuatan otot ekstremitas sebelum dan sesudah diberi mirror therapy dan latihan ROM yaitu pada ekstremitas atas didapatkan nilai p=0,008 kelompok kontrol sedangkan kelompok intervensi p=0,002. Pada ekstremitas bawah didapatkan nilai p=0,083 kelompok kontrol sedangkan kelompok intervensi p=0,003. Uji statistik Mann Whitney pada ekstremitas atas diperoleh nilai p=0,004 sedangkan
ada pengaruh mirror therapy terhadap kekuatan otot pada pasien stroke sehingga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu tambahan tindakan keperawatan untuk meningkatkan kekuatan otot dan memperbaiki fungsi motorik.
pada ekstremitas bawah diperoleh nilai p=0,001.
8 PENGARUH
MIRROR THERAPY TERHADAP UJI KEKUATAN OTOT PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DI RSUD CURUP TAHUN
2022(Robinson et al., 2023)
kuantitatif, menggunakan penelitian quasy eksperiman dengan pendekatan pre post test one group design. Sampel dalam penelitian berjumlah 16 responde
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mirror therapy terhadap uji kekuatan otot pasien stroke Non
Hemoragik di RSUD Curup Tahun 2022.
Wilcoxon Test. Hasil penelitian ini didapatkan nilai mean kekuatan otot sebelum dilakukan intervensi adalah 2,19 dan nilai mean kekuatan otot setelah dilakukan intervensi adalah 3,06. Hasil uji statistic Wilcoxon Test didapat nilai ρ value = 0,000H0 ditolak dan Ha diterima
mirror therapy dapat digunakan untuk pasien stroke non hemoragik yang mengalami masalah kekuatan otot. Saran dalam penelitian ini adalah pasien dan keluarga dapat menggunakan mirror therapy sebagai intervensi
keperawatan mandiri dirumah.
DAFTAR PUSTAKA
Colomer, C., Noé, E., & Llorens, R. (2016). function : A randomized controlled trial Mirror therapy in chronic stroke survivors with severely impaired upper limb function : A randomized controlled trial. February.
Corbetta, D., Sarasso, E., Agosta, F., Filippi, M., & Gatti, R. (2018). Mirror therapy for an adult with central post- stroke pain: a case report. Archives of Physiotherapy, 8(1), 4–9. https://doi.org/10.1186/s40945-018-0047-y Istianah, I., Arsana, I. G., Hapipah, H., & Arifin, Z. (2021). Efektifitas Mirror Therapy terhadap Kekuatan Otot dan
Status Fungsional Pasien Stroke Non Hemoragik. The Indonesian Journal of Health Science, 12(2), 158–168.
https://doi.org/10.32528/ijhs.v12i2.4872
Lee, M. M., Cho, H. Y., & Song, C. H. (2012). The mirror therapy program enhances upper-limb motor recovery and motor function in acute stroke patients. American Journal of Physical Medicine and Rehabilitation, 91(8), 689–700. https://doi.org/10.1097/PHM.0b013e31824fa86d
Puspandari, Wilda, R. (2019). PENGARUH MIRROR THERAPY TERHADAP PEMENUHAN ACTIVITY DAILY LIVING PADA PASIEN PASCA STROKE (DI POLI SARAF RSUD NGANJUK). Jurnal Sabhanga, 1(1), 74–82. http://e-
journal.stikessatriabhakti.ac.id/index.php/sbn1/article/view/21/21
Rawat, S., Rsud, J., Sylvanus, D., & Raya, P. (2018). EFEKTIVITAS MIRROR THERAPY INTEGRASI DENGAN ROM PADA EKSTREMITAS ATAS DAN BAWAH TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PASIEN STROKE RAWAT JALAN RSUD DR. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA.
Robinson, D. P., Pansori, H. M., & Hermiati, D. (2023). Pengaruh Mirror Therapy Terhadap Uji Kekuatan Otot Pasien Stroke Non Hemoragik Di Rsud Curup Tahun 2022. KOLONI: Jurnal Multidisiplin Ilmu, 2(1), 287–295.
https://koloni.or.id/index.php/koloni/article/view/447
Setiyawan, S., Nurlely, P. S., & Harti, A. S. (2019). PENGARUH MIRROR THERAPY TERHADAP KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS PADA PASIEN STROKE DI RSUD dr. MOEWARDI. JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama, 6(2), 49. https://doi.org/10.31596/jkm.v6i2.296