• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe paired

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe paired"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

i

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

oleh

Saputri Kadam Ningsih NIM.160106137

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2020

(2)

ii

NURUL QUR’AN TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh

Saputri Kadam Ningsih NIM. 160106137

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2020

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. ” (al- Mujadillah: 11)1

1 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya ( Jakarta: Focus Media, 2010), hlm. 543.

(7)

viii skripsi ini ku persembahkan untuk :

1. Bapakku tercinta (H.Genep, S.Pd) serta ibuku terkasih dan tersayang (Kaye Asti) yang selalu memberikan dorongan semangat beserta motivasi untuk terus belajar dan tidak pantang menyerah dengan hal apapun sebagai kendala dalam setiap langkah ku demi mencapai gelar sarjana. Semua ini berkat doa tulusnya.

2. Adek-adekku yang tersayang ( Isnaini Khurul Ain, M. Sunanul Huda dan Najla Zahwa) beserta keluarga besarku yang tetap memberikan dukungan serta tetap menanti keberhasilanku untuk mencapai cita-cita yang aku impikan.

3. Teman-teman seperjuanganku kelas E yang tidak pernah lupa untuk saling menyemangati satu sama lain untuk terus berjuang demi mencapai gelar sarjana.

4. Sahabat beserta teman-temanku yang tetap meluangkan waktu memberi nasehat serta membantu dalam hal apapun. Terimakasih atas waktunya.

5. Almamaterku tercinta

(8)

ix

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikutnya yang setia mengikuti beliau sampai akhir zaman.

Tanpa bantuan dari beberapa pihak, peneliti yakin skripsi ini tidak akan terselesaikan. Maka Pada kesempatan ini, peneliti ingin mengucapakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Muammar, M. Pd selaku dosen pembimbing 1 dan Ahmad Khalakul Khairii, M. Ag selaku dosen pembimbing II, yang telah banyak memberikan pengarahan, bimbingan dan motivasi.

2. Bapak dan ibu dosen jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan tanpa mengenal lelah.

3. Bapak Dr. Ahmad Sulhan, M.Pd selaku ketua jurusan PGMI yang selalu memberikan motivasi untuk terus semangat tanpa pernah menyerah.

4. Ibu Dr.Hj. Lubna, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram.

5. Bapak Prof. Dr.H.Mutawalli, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberikan tempat untuk penulis menuntut ilmu serta memberikan bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.

(9)

x

dimiliki peneliti, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.

Mataram, 2020 Peneliti

Saputri Kadam Ningsih

(10)

xi

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan dan Batasan Masalah ... 4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Definisi Operasional ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 9

A. Kajian Pustaka ... 9

1. Kajian Penelitian Yang Relevan ... 9

2. Kajian Teoretis ... 11

a. Model Pembelajaran Kooperatif ... 11

1) Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif... 11

2) Jenis-Jenis Pembelajaran Kooperatif ... 12

b. Type Paired Storytelling ... 13

1) Pengertian Type Paired Storytelling ... 13

(11)

xii

3) Langkah-Langkah Model Pembelajaran Paired Storytelling

... 15

c. Keterampilan Berbicara ... 17

1) Pengertian Keterampilan Berbicara ... 17

2) Jenis-Jenis Berbicara ... 18

3) Fungsi Berbicara ... 20

4) Tujuan Berbicara ... 20

5) Faktor Penunjang Keefektivan Berbicara Yang Santun ... 22

6) Keterampilan Yang Diperlukan Dalam Berbicara ... 22

7) Ciri-Ciri Berbicara Yang Santun ... 23

8) Ciri-Ciri Pembicara Yang Ideal ... 24

9) Hubungan Antara Berbicara dan Membaca... 25

10) Langkah-Langkah Dalam Merencanakan Suatu Pembicaraan ... 25

B. Kerangka Berpikir ... 26

C. Hipotesis Penelitian ... 27

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian... 29

B. Populasi dan Sampel... 29

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 31

D. Variabel Penelitian ... 31

E. Desain Penelitian ... 32

F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian ... 33

G. Teknik Pengumpulan Data/ Prosedur Penelitian ... 34

H. Teknik Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Hasil Penelitian ... 40

(12)

xiii

b. Sejarah Berdirinya MI Nurul Qur’an ... 42

c. Jumlah Guru dan Siswa MI Nurul Qur’an ... 42

d. Struktur Organisasi Beserta Visi dan Misi MI Nurul Qur’an ... 44

2. Penyajian Data Penelitian ... 47

a. Data Nilai Pre Test Siswa ... 47

b. Data Nilai Post Test Siswa ... 48

3. Analisis Data Penelitian ... 50

a. Hasil Uji Prasyarat ... 50

b. Hasil Uji Hipotesis ... 51

B. Pembahasan ... 53

BAB V PENUTUP ... 56

A. Kesimpulan ... 56

B. Saran ... 56

DAFTAR PUSTAKA... 58 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(13)

xiv Tabel 3.2 : Ikhtisar Keterampilan Berbicara, 36.

Tabel 4.3 : Tabel Data Guru MI Nurul Qur’an, 43

Tabel 4.4 : Tabel Data Jumlah Siswa Siswi MI Nurul Qur’an, 44.

Tabel 4.5 : Output SPSS Nilai Rata-Rata (Pretest), 47.

Tabel 4.6 :Output SPSS Nilai Standar Deviasi (Pretest), 48.

Tabel 4.7 : Output SPSS Nilai Rata-rata (Posttest), 48

Tabel 4.8 : Output SPSS Nilai Standar Deviasi (Posttest), 48.

Tabel 4.9 : Output SPSS Uji Normalitas Data, 50.

Tabel 4.10 : Output SPSS Uji Paired Sample Test, 52.

(14)

xv

(15)

xvi

Lampiran 2 : Penilaian Keterampilan Berbicara Pre test

Lampiran 3 : Data Nilai Pretest Siswa kelas V MI Nurul Qur’an Lampiran 4 : Penilaian Keterampilan Berbicara Post test

Lampiran 5 : Data Nilai Post Test Siswa kelas V MI Nurul Qur’an Lampiran 6 : Instrumen Tes 1

Lampiran 7 : Instrumen Tes 2

Lampiran 8 : Output SPSS 24 Uji Normalitas Data Lampiran 9 : Output SPSS 24 Uji Paired Sample T test Lampiran 10 : Dokumentasi Poto

Lampiran 11 : Pedoman Observasi Awal Keterampilan Berbicara Siswa Lampiran 12 : Pedoman Penggunaan Model Pembelajaran Paired Storytelling Lampiran !3 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

(16)

xvii

NURUL QUR’AN TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Oleh :

Saputri Kadam Ningsih NIM. 160106137

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perhatian peneliti yang dimana keadaan siswa pada saat ini yang beranggapan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang membosankan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran kooperatif type paired storytelling terhadap keterampilan berbicara siswa pada muatan pelajaran Bahasa Indonesia tahun pelajaran 2019/2020.

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian ekperimen yang desainnya menggunakan One Group Pretest-Posttest. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan lembar pedoman observasi beserta tes. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dengan mengumpulkan data-data yang relevan, wawancara dan beserta tes yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji prasyarat dan uji hipotesis menggunakan penghitungan statistic dengan bantuan computer melalui SPSS 24.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran kooperatif type paired storytelling terhadap keterampilan berbicara siswa yang dapat dibuktikan dengan nilai sig (2-tailed) lebih kecil dari taraf signifikansi (0,00 ≤ 0,05) dan nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel ( 4,042 ≥ 2,060). Berdasarkan pembuktian hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Kata Kunci : Model, Pembelajaran Kooperatif, Type Paired Storytelling, Keterampilan Berbicara.

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah hal yang sangat mutlak diperlukan oleh manusia.

Pendidikan sangat dibutuhkan oleh setiap manusia agar dapat melakukan aktivitas social di masyarakat tempatnya berada. Untuk itu, guru perlu melatih diri dan terus belajar berbagai model pembelajaran yang tepat agar bisa mewujudkan tujuan pendidikan serta mengembangkan potensi siswa.

Bahasa memiliki peran penting dalam perkembangan pengetahuan, sosial, dan emosional siswa dalam mempelajari semua bidang studi.Untuk berbahasa dengan baik dan benar, diperlukan pendidikan dan pembelajaran Bahasa Indonesia. Kedudukan Bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa resmi negara, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dikukuhkan sehari setelah kemerdekaan Indonesia. Bab XV Pasal 36 dalam UUD 1945 menegaskan bahwa bahasa Negara adalah bahasa Indonesia, yang berfungsi sebagai bahasa dalam penyelenggaraan pendidikan dan sebagainya. 2

Pendidikan dan pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada siswa di sekolah. Oleh karena

2 Sujinah & Idhoofiyatul Fatin, Buku Ajar Bahasa Indonesia , (2018), hlm. 8.

(18)

itu, pemerintah membuat kurikulum bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai pelajaran yang wajib untuk diajarkan kepada siswa pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Dalam suatu proses pembelajaran, seorang guru sangat membutuhkan model pembelajaran yang cocok untuk diaplikasikan didalam ruang kelas agar proses pembelajaran lebih efektif.

Model pembelajaran adalah suatu model yang dipilih dalam rencana pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan dilaksanakan dengan suatu sintaks (langkah-langkah yang sistematis dan urut) tertentu.3

Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan suatu tantangan tersendiri bagi seorang guru,mengingat bahasa ini merupakan bahasa pengantar yang dipakai untuk menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia berfungsi membantu peserta didik untuk mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut. Selain itu, mempelajari Bahasa Indonesia akan mempermudah dan melatih mental siswa untuk berbicara, baik itu berbicara dengan teman sebaya maupun guru dan sebagainya menggunakan Bahasa Indonesia.Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan juga untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik dan benar dalam Bahasa Indonesia, baik itu dalam bentuk pengucapan lisan maupun tertulis dengan teman-teman sebaya maupun orang-orang sekitar.

3Suryono & Harianto, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 23

(19)

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen-komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.yangbias mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.4

Kenyataan saat ini di kelas V MI Nurul Qur’an Pagutan masih belum mencapai kondisi ideal tersebut. Mata pelajaran Bahasa Indonesia sering diremehkan oleh sebagian besar siswa, bahkan dianggap sebagai pelajaran yang membosankan, khususnya dalam aspek membaca dan menulis permulaan. Siswa selalu beranggapan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang selalu menulis dan membaca. Menurunnya motivasi siswa tersebut berakibat pada rendahnya keterampilan berbicara maupun pada prestasi belajar (hasil belajar) siswa yang secara langsung berakibat kepada kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan teman maupun orang sekitarnya menggunakan Bahasa Indonesia.

Berdasarkan wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di MI Nurul Qur’an Pagutan, sebagian besar siswa memiliki nilai dibawah KKM Bahasa Indonesia dengan nilai 75 dikarenakan kurangnya motivasi belajar siswa dan kurangnya rasa percaya diri terhadap siswa untuk berbicara didepan kelas apabila diberikan tugas untuk menceritakan kembali teks bacaan yang sudah dibaca. 5

Model pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang mengacu pada suatu kegiatan pembelajaran yang dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar.pembelajaran kooperatif umumnya melibatkan kelompok

4Rosalina Rizki Pratiwi, “Penerapan Metode Storytelling untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas II SDN S4 Bandung” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol. 1 No. 1, Desember 2016, hlm. 200.

5 MI Nurul Qur’an, Observasi, 05 November 2019

(20)

yang terdiri dari 4 siswa dengan kemampuan yang berbeda dan ada pula yang menggunakan kelompok dengan ukuran yang berbeda- beda. Pembelajaran kooperatif biasanya menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil selama beberapa minggu atau bulan kedepan untuk kemudian diuji secara individual pada hari ujian yang telah ditentukan.6

Model pembelajaran kooperatif juga dapat menciptakan suasana ruang kelas yang terbuka. Hal ini disebabkan pembelajaran ini mampu membangun keberagaman dan mendorong koneksi antar siswa. Jadi, pembelajaran ini tidak hanya cocok untuk siswa-siswa yang berkemampuan, melainkan juga sesuai bagi siswa-siswa yang diidentifikasi beresiko gagal, berdwibahasa, berbakat, dan normal.7 Lie membedakan pembelajaran kooperatif dalam beberapa tipe, yaitu make a match, Think-Fair-Share, Two Stay Two Stray, Talking chips, Roundtable, Paired Storytelling, Three Steps Interview dan Jjigsaw.8

Model pembelajaran type paired storytelling merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dilandasi oleh teori belajar kontruktivisme yang mengutamakan peran individu atau siswa dalam belajar. Siswa dituntut untuk belajar dengan menggunakan semua indera dan juga siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.9

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih mendalam dengan melakukan penelitian dan mengangkat judul

“Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Type Paired Storytelling

6Miftahul Huda, Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 32.

7 Ibid, hlm.59-60

8 H. Darmadi, Pengembangan Model, Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa, (2017), hlm. 102.

9Eva Rosdiana,“Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Paired Storytelling Berbantuan Media Audio Visual Terhadap Keterampilan Menyimak Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD “, (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia), hlm. 2

(21)

Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V MI Nurul Qur’an Tahun Pelajaran 2019/2020.

B. Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah

Berdasarkan judul dan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah ada Pengaruh Pengggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Type Paired Storytelling terhadap Keterampilan Berbicara pada Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Nurul Qur’an Tahun Pelajaran 2019/2020 ”.

2. Batasan Masalah

Batasan masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah Pengaruh Pengggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Type Paired Storytelling terhadap Keterampilan Berbicara pada Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Nurul Qur’an Tahun Pelajaran 2019/2020”. Penggunaan model pembelajaran kooperatif type paired storytelling yang dimaksud peneliti yaitu mengenai apakah ada perubahan atau pengaruh pada siswa dengan menerapkan strategi ini dalam proses pembelajaran. Keterampilan berbicara yang dimaksud peneliti yaitu keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi teks cerita dengan menerapkan model pembelajaran type paired storytelling pada siswa kelas V MI Nurul Qur’an.

(22)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif type paired storytelling terhadap keterampilan berbicara pada muatan pelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Nurul Qur’an Tahun Pelajaran 2019/2020.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua manfaat yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Untuk lebih jelasnya dijelaskan sebagai berikut :

a. Manfaat Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan di bidang pendidikan.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi guru, siswa dan madrasah. Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi guru terkait tentang model pembelajaran yang baik dan cocok untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dalam muatan berbahasa Indonesia. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat mengurangi tingkat rendahnya keterampilan siswa dalam berbicara pada muatan Bahasa Indonesia.

(23)

2) Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pembelajaran sehingga siswa lebih termotivasi untuk dapat memahami dan meningkatkan keterampilan berbicaranya melalui model pembelajaran type paired storytelling.

3) Bagi Madrasah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang pengetahuan terkait dengan pengaruh model pembelajaran kooperatif type paired storytelling terhadap keterampilan berbicara siswa

D. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah bagian yang mendefinisikan sebuah konsep/ variabel agar dapat diukur, dengan cara melihat pada dimensi (indikator) dari suatu konsep/ variabel. Dimensi (indikator) dapat berupa : perilaku, aspek, atau sifat/karakteristik. Dengan demikian, definisi operasional tidak boleh mempunyai makna yang berbeda dengan definisi konseptual.10 1. Pengertian Model Kooperatif PembelajaranType Paired Storytelling

Model pembelajaran type paired storyteliling adalah suatu model pembelajaran yang menekankan kepada kegiatan bekerjasama antar siswa untuk mencapai suatu tujuan dengan cara membentuk kelompok kecil untuk melakukan kegiatan bekerjasama dalam proses pembelajaran.

10 Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 97

(24)

Pembelajaran ini juga memberikan kesempatan pada siswa untuk tampil berbicara dihadapan teman-temannya secara berpasangan.

2. Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara yaitu salah satu keterampilan yang digunakan sehari-hari oleh manusia untuk berkomunikasi sesama lawan bicaranya melalui lisan dan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh lawan bicaranya. Dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan yang digunakan sehari-hari oleh manusia untuk berkomunikasi sesame lawan bicaranya melalui bentuk lisan dan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh lawan bicaranya.

(25)

9

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

1. Kajian Penelitian yang Relevan

Beberapa hasil penelitian sebelumnya yang ada hubungannya dengan skripsi ini diantaranya, yaitu :

a. Dina Lestari dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Penerapan Tekhnik Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Hijriyah Palembang”. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa keterampilan siswa setelah diterapkan metode paired storytelling memperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen yaitu 94,91 kategori tertinggi berjumlah 4 siswa (12,90%), nilai sedang 66,27 s/d 94,91 berjumlah 23 siswa (74,20%) dan nilai rendah 66,27 berjumlah 4 siswa (12,90%). Sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol yaitu 89 dengan kategori tinggi berjumlah 7 siswa (21,875%), nilai sedang 43 s/d 89 berjumlah 17 siswa (53,125%) dan nilai rendah 43 berjumlah 8 siswa (25%).11

11Dina Lestari, “Pengaruh Penerapan Teknik Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Hijriyah Palembang”, (Skripsi, FITK UIN Raden Fatah Palembang, Palembang, 2017), hlm. 112-113

(26)

Adapun persamaan dan perbedaan dalam penelitian saya yaitu : persamaannya adalah menggunakan paired storytelling dan mengukur keterampilan berbicara siswa. Perbedaannya adalah dalam penelitian ini paired storytelling termasuk kedalam teknik sedangkan penelitian saya termasuk pada model.

b. Heni Rakhmawati dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Paired Storytelling dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di MI Ma’arif NU Ajibarang Kulon Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas”. Hasil penelitian membuktikan bahwa model pembelajaran paired storytelling lebih efektif dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas V pada mata pelajaran Bahasa Indonesia MI Ma’arif NU Ajibarang Kulon. Hal itu dapat terlihat dari hasil rata-rata pre-test kelas kelas eksperimen 13,82 dan rata-rata post-test 21,70 sedangkan kelas kontrol rata- rata pre-test 13,53 dan rata-rata post-test 19,22. Sehingga dapat diketahui peningkatan rata-rata dari kelas eksperimen lebih signifikan antara pre-test dan post-test dibandingkan kelas kontrol.

Dan hasil N-Gain kelas eksperimen berada pada klasifikasi tinggi dan kelas kontrol berada pada klasifikasi sedang sehingga diketahui N-Gain kelas ekperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol. Dapat dikatakan model pembelajaran paired

(27)

storytelling dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V di MI Ma’arif NU Ajibarang Kulon.12

Adapun persamaan dan perbedaan dalam penelitian saya yaitu : persamaanya adalah menggunakan paired storytelling.

Perbedaannya adalah dalam penelitian ini menggunakan pre-test posttest kelas eksperimen dan kontrol sedangkan penelitian saya menggunakan one group pretest-posttest design yang hanya menggunakan satu kelas tanpa kelas kontrol.

c. Melinia Intan Pratiwi dalam penelitiannya yang berjudul

“Pengaruh Teknik Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IV SDN 03 Karangsari Kendal “. Hasil penelitian membuktikan bahwa, dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan bahwa teknik pembelajaran Paired Storytelling dapat dterapkan dalam pembelajaran berbicara siswa kelas IV SDN 03 Karngsari Kendal. Hal ini diperkuat dengan analisis hasil uji t yang menunjukkan bahwa hasil dari hitung uji t diperoleh thitung sebesar 11,894, dengan db=25-1 pada taraf signifikan 5% diperoleh ttabel sebesar 2,064. Selanjutnya dilakukan perbandingan nilai thitung sebesar 11,894 dengan ttabelsebesar 2,064, maka nilai thitung > ttabel. Jadi, H0 ditolak, artinya terdapat perbedaan dalam pembelajaran berbicara siswa kelas IV

12Heni Rakhmawati, “Pengaruh Model Pembelajaran Paired Storytelling Dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di MI Ma’arif NU Ajibarang Kulon Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas”, (Skripsi, FITK IAIN Purwokerto, Purwokerto, 2018), hlm. 82-83

(28)

SDN 03 Karangsari Kendal setelah menggunakan teknik pembelajaran paired storytelling.13

Adapun persamaan dan perbedaan dalam penelitian saya yaitu : persamaannya adalah menggunakan paired storytelling dan mengukur keterampilan berbicara siswa. Perbedaannya adalah pada penelitian ini paired storytelling termasuk kedalam metode sedangkan pada penelitian saya paired storytelling termasuk kedalam model.

2. Kajian Teoretis

a. Model Pembelajaran Kooperatif

1) Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara social antara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan anggota-anggota yang lain.

14

Model pembelajaran kooperatif yaitu suatu model yang pembelajaran yang saat ini banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar disekolah-sekolah yang berpusat pada siswa terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran ini juga merupakan model

13Meilina Intan Pratiwi, “Pengaruh Teknik Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IV SDN 03 Karangsari Kendal”, (Skripsi, FPI Universitas PGRI Semarang, 2017), hlm. 489

14Miftahul Huda,” Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Terapan”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011),hlm. 29

(29)

pembelajaran yang didalamnya siswa bekerja bersama- sama untuk menyelesaikan sebuah tugas.15

Model pembelajaran kooperatif juga dapat diartikan sebagi struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan diantara sesama kelompok. Pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok. 16

Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif yaitu suatu aktivitas kelompok yang dilakukan oleh siswa dengan cara bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugasnya. Selain itu, dapat diartikan bahwa model pembelajaran ini sangat mengutamakan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

2) Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif. Empat diantaranya yaitu :

a) Formal Cooperative Learning Group. Siswa bekerja sama untuk satu atau beberapa sesi pertemuan dan dibentuk berdasarkan prosedur-prosedur pembelajaran kooperatif pad umumnya.

b) Informal Cooperative Learning Group. Siswa bekerja sama untuk satu kali pertemuan saja. Kelompok pembelajaran ini dibentuk untuk memfokuskan perhatian siswa pada materi yang dipelajari, menciptakan setting dan mood yang kondusif untuk belajar, memperharikan siswa memproses materi yang sudah diajarkan, dan mejadi kegiatan penutup diakhir pelajaran.

15Nurming Saleh, “Efektivitas Model Pembelajaran Type Paired Storytelling dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman Siswa Kelas XI SMAN 11 Makassar”, (Skripsi, Fakultas Bahasa dan Sastra, UNM, 2017), hlm. 258-259.

16Ade Purnama Sari Sinaga, Pengaruh Penggunaan Metode StorytellingTerhadap Kemampuan Berbicara Pada Peserta Didik Kelas VII di SMPN 2 Padangsidimpuan”, Jurnal Telangkai Bahasa dan Sastra, Vol 9. No 1, Januari 2015, hlm. 59

(30)

c) Cooperative Base Group. Kelompok kooperatuf jangka panjang untuk satu semester atau satu tahun dengan keanggotaan stabil yang tanggung jawab utamanya adalah saling memberikan dukungan, dorongan, dan bantuan antarsesama anggota agar bias berkembang secara akademik, kognitif dan social.

d) Integrated Use of Coopertive Learning Groups. Gabungan tiga jenis kelompok kooperatif dibuat untuk mengefektifkan dan memaksimalkan pembelajaran siswa untuk satu materi pembelajaran atau tugas akademik tertentu. 17

b. Type Paired Storytelling

1) Pengertian Type Paired Storytelling

Model pembelajaran type paired storytelling (cerita berpasangan) adalah salah satu metode yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antar siswa, pengajar, dan materi pelajaran. Metode ini dapat diterapkan untuk pengajaran menulis, membaca, mendengarkan dan berbicara.18

Type paired storytelling juga merupakan kegiatan mengajar yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa dan pengajarnya dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran dengan tujuan untuk merangsang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasinya.19

Jadi, model pembelajaran kooperatif type paired storytelling adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses cerita berpasangan yang diterapkan pada siswa dengan cara melakukan kegiatan membaca, menulis

17Miftahul Huda,” Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Terapan”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 87-88

18Nurkholis & Anisyah Wulandari, “Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Paired Storytelling dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD IT Muhammadiyah Kota Cirebon, Jurnal Hadhariyah ,Vol 4. No 1, Oktober 2018. hlm, 43.

19Isna Amaliya,“Keefektivan Model Pembelajaran Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Siswa SD Kelas V “, (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, 2016), hlm, 15

(31)

dan berbicara dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

2) Kelebihan dan Kekurangan Paired Storytelling

Menurut Lie ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari type Paired Storytelling, diantaranya yaitu :

Kelebihan :

a) Memberikan peluang untuk satu ke satu interaksi peserta didik diseluruh tugas-tugas sekolah dan memberikan peserta kesempatan untuk menggunakan bahasa yang komunikatif.

b) Metode kooperatif meningkatkan hubungan kelompok dan meningkatkan percaya diri, peserta didik akan termotivasi dan bekerja sama untuk tampil bercerita, dalam kelompok tersebut, peserta didik harus bekerja sama untuk mendapatkan nilai yang terbaik.

c) Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih dalam bercerita akan memotivasi peserta didik lain yang kurang terampil berbicara didepan kelas.

d) Meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran.

e) Setiap peserta didik memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berkontribusi dalam kelompoknya.

f) Interaksi dalam kelompok mudah dilakukan pembentukan kelompok menjadi lebih cepat dan mudah.

Kekurangan :

a) Banyaknya kelompok yang dimonitor sehingga pendidikan harus dapat membagi kesempatan kepada kelompok-kelompok tersebut

b) Lebih sedikit ide yang muncul karena satu kelompok hanya terdiri dari 2 orang, jadi tiap kelompok hanya dapat berinteraksi dan bediskusi dengan satu anggota kelompok yang lain sebelum akhirnya di adakan diskusi

(32)

c) Jika ada perselisihan antara anggota kelompok, maka tidak akan ada penengah.20

Dari poin-poin di atas tentang kelebihan dan kekurangan pada type paired storytelling dapat di jelaskan bahwa pada teknik ini model pembelajaran berpusat pada peserta didik dan di tuntut lebih aktif dalam proses pembelajaran. Kelebihannya, model ini dapat mendorong peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dengan bahasanya sendiri. Sedangkan kekurangannya yaitu lebih sedikitnya ide-ide yang muncul dikarenakan satu keolompok hanya terdiri dari 2 orang dan hanya bisa berinteraksi dengan satu anggota kelompok.

3) Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif type paired storyetelling menurut Miftahul Huda didalam buku karangannya yaitu :

a) Guru membagi bahan/topic pelajaran menjadi dua bagian.

b) Sebelum subtopik-subtopik itu diberikan, guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas pada pertemuan hari itu. Guru bias menuliskan topic ini dipapan tulis dan bertanya kepada siswa apa yang mereka ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengklasifikasi kemampuan siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran baru.

20Siti Holisah, “Penerapan Metode Paired Storytelling Untuk Meningkatkan Historical Comprehension dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI MIPA 1 SMA Negeri Rambipuji Tahun Ajaran 2018/2019” (Skripsi, Fakultas Kependidikan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember), hlm.16.

(33)

c) Dalam kegiatan ini, guru perlu menekankan bahwa siswa tidak perlu memberikan prediksi yang benar- benar tepat. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.

d) Siswa berkelompok secara berpasangan.

e) Bagian/subtopik pertama diberikan kepada siswa 1, sedangkan siswa 1 menerima subtopik yang kedua.

f) Siswa diminta membaca atau mendengarkan (jika tempat pengajarannya bertempat di laboratorium bahasa) bagian mereka masing-masing.

g) Sambil membaca/mendengarkan, siswa diminta mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang terdapat dalam bagian mereka masing-masing. Jumlah kata/frasa bias disesuaikan dengan panjangnya teks bacaan.

h) Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.

i) Sambil mengingat-ingat/ memperhatikan bagian yang telah dibaca / didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/ didengarkan (atau yang sudah dibca/

didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata atau frasa-frasa kunci dari pasangannya.

j) Siswa yang telah membaca/ mendengarkan bagian yang pertama berusaha memprediksi dan menulis apa yang terjadi selanjutnya, sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menulis apa yang terjadi sebelumnya.

k) Tentu saja, versi karangan masing-masing siswa ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya.

Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalammemprediksi suatu kisah/

bacaan. Setelah selesai menulis, beberapa siswa bias diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.

l) Kemudian, guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.

m) Kegiatan ini bias diakhiri dengan diskusi mengenai topic pembelajaran pada pertemuan hari itu. Diskusi ini

(34)

bias dilakukan antarpasangan atau bersama seluruh siswa.21

c. Keterampilan Berbicara

1) Pengertian Keterampilan Berbicara

Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilaksanakan manusia dalam kegiatan berbahasa setelah aktivitas menyimak. Berbicara pada hakikatnya adalah proses komunikasi secara lisan antara pembicara dengan lawan bicara.

Dengan demikian, berbicara itu lebih dari sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata, yaitu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar dan penyimak. Ada beberapa pengertian berbicara dibawah ini diantaranya yaitu :

Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi- bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.selanjutnya, berbicara merupakan tanda-tanda yang didengar (audible) dan kelihatan (visible).22

Bygte (1987) berpendapat didalam buku yang berjudul

Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktek

mengatakan bahwa interaksi lisan dapat ditandai dengan rutinitas, yang merupakan cara konvensional dalam menyajikan informasi yang bias berfokus pada informasi atau interaksi. Rutunitas ini mengandung jenis-jenis struktur informasi yang sering muncul, baik yang bersifat ekspositori (narasi, deskrpsi, instruksi,

21Miftahul Huda, “ Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 152

22Yusuf Zainal Abidin, Pengantar Retorika, (Bandung: CV. Pustaka Setia ,Maret 2013), hlm.96-97.

(35)

dan komparasi) atau evaluative (eksplanasi, justifikasi, prediksi, dan keputusan).23

Lary King juga menyatakan bahwa berbicara merupakan bentuk komunikasi manusia yang paling esensial, yang membedakan manusia dengan yang lainnya sebagai suatu spesies.sebagai makhluk social, manusia selalu melakukan komunikasi agar dapat berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu, keterampilan berbicara telah dijadikan bagian yang esensial dalam kehidupan manusia agar dapat melancarkan komunikasi dengan orang lain. 24

Keterampilan berbicara juga merupakan keterampilan yang dimiliki seseorang dalam melakukan pengucapan kata melalui mulut agar terdengar baik dan benar serta jelas, sehingga informasi yang disampaikan dapat dipahami oleh pendengarnaya (menyimak). Jadi, dengan adanya keterampilan berbicara, siswa akan lebih mudah dalam melakukan interaksi dengan teman sebaya maupun masyarakat sekitarnya. 25

Linguis berkata bahwa “speaking is language”.

Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.26

Jadi, keterampilan berbicara adalah suatu kemampuan untuk menyampaikan pikiran, ide, gagasan dengan bahasa lisan kepada orang lain atau diri sendiri.

23Furqanul Azies, & Chaedar Alwasilah, “ Pengantar Bahasa Komunikatif Teori Dan Praktek ”, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm.92

24 Nazarudin,” Bahasa Indonesia”, (Mataram : CV. Sanabil, 2015), hlm,147.

25Nurkholis dan Anisyah Wulandari, “Peningkatan Keterampilam Berbicara Melalui Metode Paired Storytelling Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SDIT Muhammadiyah Kota Cirebon, Jurnal Handayani, Vol 4. No 1, Oktober 2018. hlm,42.

26 Henry Guntur Tarigan, “Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa”, (Bandung : CV.Angkasa, 2013), hlm.3

(36)

2) Jenis-jenis Berbicara

Ada beberapa jenis berbicara, antara lain diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato, ceramah dan sebagainya.Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi dan lingkungan tertentu.Situasi dan lingkungan dapat bersifat formal dan dapat pula bersifat informal.

Jenis kegiatan berbicara dalam situasi formal yaitu meliputi : a) Ceramah

b) Perencanaan dan penilaian c) Interview

d) Prosedur dan parlementer e) Bercerita.

Sedangkan jenis-jenis kegiatan berbicara dalam situasi informal yaitu :

a) Tukar pengalaman b) Percakapan

c) Menyampaikan berita

d) Menyampaikan pengumuman e) Percakapan telepon

f) Memberi petunjuk.27

Jadi, didalam melakukan komunikasi dengan proses berbicara dapat dibedakan jenisnya menjadi dua tergantung suasana dan keadaan lingkungan sekitar. Didalam melakukan aktivitas berbicara dapat dibedakan jenisnya menjadi dua yaitu dalam situasi yang formal dan informal. Jenis berbicara dengan situasi formal biasanya bersifat resmi seperti contoh yang telah disebutkan diatas, sedangkan berbicara jenis

27Yusuf Zainal Abidin, Pengantar Retorika, (Bandung :CV. Pustaka Setia, Maret 2013), hlm. 103.

(37)

informal lebih bersifat santai, pembahasannya tidak terlalu tegang dan cenderung bersifat humoris.

3) Fungsi Berbicara

Sebagai makhluk social, berbicara adalah salah satu aktivitas terpenting untuk melakukan kegiatan komunikasi agar interaksi sesama terjalin lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, berbicara merupakan salah satu kebutuhan terpenting dan mutlak bagi manusia untuk bermasyarakat selaku sebagai makhluk social.Hal itu dikarenakan sebab, berbicara adalah suatu kegiatan untuk berkomunikasi dengan sesama makhluk sosialnya.

Hal ini dikuatkan lagi dengan pendapat dari Haryadi, bahwa ada beberapa fungsi berbicara, yaitu :

a) Pemenuhan hajat hidup manusia sebagai makhluk sosial b) Alat komunikasi untuk berbagai urutasan atau

keperluan

c) Ekspresi sikap dan nilai demokrasi

d) Alat pengembangan dan penyebarluasan ide

e) Peredaman ketegangan, kecemasan, dan kesedihan.28 Jadi, sebagai makhluk social, berbicara adalah salah satu aktivitas terpenting untuk melakukan kegiatan komunikasi agar interaksi sesama makhluk sosial terjalin lebih baik. Komunikasi yang baik akan lebih dapat cepat dipahami oleh lawan bicaranya apabila berbicara menggunakan bahasa yang baik pula.

4) Tujuan Berbicara

Tujuan utama berbicara adalah berkomunikasi, untuk menyampaikan informasi dengan efektif, pembicara harus memahami isi pembicaraannya, disamping dapat mengevalusi efek komunikasinya terhadap pendengar.29

28 Yusuf Zainal Abidin, Pengantar Retorika, (Bandung: CV. Pustaka Setia,Maret 2013), hlm.105

29 Nazarudin, Bahasa Indonesia, (Mataram : CV. Sanabil,2015), hlm. 148

(38)

Pada dasarnya, berbicara mempunyai mempunyai lima tujuan umum, yaitu :

a) Berbicara untuk menghibur

Tujuan berbicra untuk menghibur biasanya dilakukan oleh pelawak, pemain dagelan seperti srimulat dan sebagainya.Suasana pembicara biasanya santai, relaks, penuh canda dan menyenangkan untu menghibur pendengar.

b) Berbicara untuk menginformasi

Berbicara untuk tujuan menginformasi banyak sekali dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara dengan tujuan menginformasi dilakukan apabila pembicara ingin melaporkan, menjelaskan suatu proses, menguraikan, menafsirkan atau menanamkan suatu pengetahuan, menjelaskan kaitan atau hubungan antara benda-benda, hal atau peristiwa.

c) Berbicara untuk mensimulasikan

Dalam berbicara dengan tujuan mensimulasikan, pembicara berusaha membangkitkan inspirasi, kemauan, atau minat pendengar untuk melakukan sesuatu.Dalam tujuan berbicara untuk mensimulasikan, pembicara harus memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai.Pembicara harus benar- benar mengetahui minat,kemauan, inspirasi, kebutuhan dan cita-cita pendengar.

d) Berbicara untuk meyakinkan

Dalam berbicara untuk meyakinkan, pembicara berupaya meyakinkan pendengar akan sesuatu.

Melalui pembicaan yang meyakinkan, sikap pendengar dapat diubah, dari sikap menolak menjadi menerima.

e) Berbicara untuk menggerakkan

Tujuan ini berupaya agar mampu menggerakkan pendengar untuk mau berbuat, bertindak, atau beraksi seperti yang dikehendaki oleh pembicara.Berbicara dengan tujuan menggerakkan merupakan kelanjutan atau perkembangan dari berbicara dengan tujuan meyakinkan, karena untuk menggerakkan pendengar

(39)

agar berbuat atau bertindak, pembicara harus mampu meyakinkan pendengar terlebih dahulu.30

Jadi terdapat kesimpulan bahwa, tujuan utama dalam berbicara juga agar dapat menyampaikan pikiran yang efektif, pembicara harus memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan terhadap pada pendengarnya.

5) Faktor Penunjang Keefektifan Berbicara yang Santun

Berbicara merupakan suatu keterampilan.Untuk memilik keterampilan berbicara, maka diperlukan beberapa persyaratan.Agar dapat meyampaikan informasi secara efektif, pembicara harus memahami isi pembicaraannya.Pembicara juga harus harus mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar. Dengan kata lain, kegiatan berbicara tidak hanya menyangkut aspek kebahasaan, tetapi juga aspek nonkebahasaan.untuk menilai kepemilikan kemampuan seseorang dalama berbicara dengan baik dan efektif, aspek kebahasaan dan non kebahasaan menjadi kriteria.31 Jadi faktor penunjang dari keefektifan berbicara yaitu pembaca harus benar-benar memahami apa yang akan dibicaran dengan pendengar dan mampu menguasai isi pembicaraan dengan menggunakan bahasa penyampaian informasi yang efektif.

6) Keterampilan yang diperlukan dalam berbicara

Palman mengemukakan bahwa ada beberapa keterampilan yang diperlukan dalam berbicara, diantaranya yaitu :

a) Mengucapkan bunyi bahasa dengan baik dan jelas

30Ibid, hlm. 149-150

31Ibid, hlm. 150

(40)

b) Mengucapkan kata-kata dengan betul

c) Mengucapkan sesuatu dengan jelas, sehingga jelas perbedaannya dengan pernyataan yang lain

d) Bersikap berbicara yang baik

e) Memiliki nada berbicara yang menyenangkan f) Menggunakan kata-kata secara tepat sesuai dengan

maksud yang dinyatakan

g) Menggunakan kalimat yang efektif

h) Mengorganisasi pokok-pokok pikiran dengan baik i) Mengetahui waktu harus berbicara dan waktu

mendengarkan lawan bicara

j) Berbicara dengan bijaksana dan mendengarkan pembicaraan dengan sopan.32

Dari kesepuluh keterampilan yang diperlukan dalam berbicara, ada 4 keterampilan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu : (1), Menggunakan kata-kata secara tepat sesuai maksud yang dinyatakan, (2), Menggunakan kalimat yang efektif, (3), Mengorganisasikan pokok pikiran dengan baik, (4), Mengucapkan sesuatu dengan jelas. Dengan keempat keterampilan ini siswa MI kelas V Nurul Qur’an diharapkan terampil berbicara.

7) Ciri-ciri Berbicara yang Santun

Kegiatan berbicara mempunyai ciri-ciri tertentu, yang akan dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:

a) Adanya perhatian yang merupakan perwujudan rasa cinta yang tercermin didalam perilaku pembaca yang berusaha memahami minat, situasi, kondisi ataupun respons pendengar serta berusaha menyesuaikan diri.

b) Menggunakan bunyi-bunyi ujaran lingual sebagai alatnya untuk menyampaikan gagasan dengan

32 Ibid, hlm.151

(41)

diperkaya aspek gerak dan mimik, baik dalam berkomunikasi searah maupun dua arah.

c) Adanya tahap-tahap yang dipersiapkan pembicara sebelum melakukan kegiatan berbicara.

d) Adanya semangat pembicara dalam menyampiakan suatu gagasan sebagai salah satu kekuatan yang tumbuh dari suatu keterlibatan pembicara dengan gagasan yang ditampilkan, ataupun pandangannya serta kedalaman emosi pembicara itu sendiri, sehingga lebih dapat menarik minat pendengarnya.

e) Menggunakan prinsip-prinsip kesantunan dalam berbahasa.33

8) Ciri-ciri Pembicara yang Ideal (Efektif dan Santun)

Sebagai seorang pembicara, terdapat sejumlah ciri-ciri ideal sebagai seorang pembicara yaitu sebagai berikut :

a) Memilih topik yang tepat merupakan penentu dalam keberhasilan seorang pembicara. Topic pembicaraan juga menentukan antusias tidaknya pendengar mengikuti pembicaraan tersebut.

Pembicara yang baik selalu dapat memilih materi atau topik pembicaraan yang menarik, actual, dan bermanfaat bagi pendengarnya.

b) Menguasai materi yang akan disampaikan. Sebelum pembicaraan berlangsung, pembicara sudah mempelajari, memahami, menghayati dan menguasai materi pembicaraan.

c) Memahamai pendengar. Sebelum pembicaraan berlangsung, pembicara yang baik berusaha mengumpulkan informasi yang berkenan dengan pendengarnya, misalnya tentang jumlah pendengar, minat pendengar maupun jenis kelamin pendengar dan sebagainya. Semua data tentang pendengar beserta sikap mereka harus dipahami oleh pemebicara serta dijadikan dasar atau landasan d) Memahami situasi dan mengetahui yang menaungi

pembicaraan. Seorang pembicara akan mengidentifikasi ruang, waktu, peralatan penunjang berbicara dan suasana.

e) Merumuskan tujuan dengan jelas. Seorang pembicara yang baik selalu mempunyai tujuan yang

33 Ibid, hlm, 148

(42)

ingin dicapai. Bila tujuan berbicara sudah ditentukan, pembicaraan yng dilakukan akan f) menjadi jelas dan terarah.

g) Penjalin kontak dengan pendengar. Pendengar yang merasa diperhatikan dan dihargai oleh pembicara akan bersikap positif terhadap pembicara dan memperhatikan pembicaraannya.

h) Memiliki kemampuan linguistik yang berkaitan dengan bahasa berup kata, ungkapan, kalimat, paragrap ataupun wacana yang digunakan.34

9) Hubungan Antara Berbicara dan Membaca

Ada beberapa hal yang memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara bidang kegiatan lisan dan membaca telah dapat diketahui dari beberapa telaah penelitian, antara lain :

a) Performansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.

b) Pola-pola ujaran yang tuna-aksara mungkin mengganggu pelajaran membaca bagi anak-anak.

c) Kalau pada tahun awal sekolah, ujaran membentuk suatu dasar bagi pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi turut membantu meningkatkan bahasa lisan mereka; misalnya : kesadaran linguistic mereka terhadap istilah-istilah baru, struktur kalimat yang baik dan efektif, serta penggunaan kata-kata yang tepat.

d) Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Seandainya muncul kata- kata baru dalam buku bacaan siswa, maka sang guru hendaknya mendiskusikannya dengan siswa agar memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya. 35

10) Langkah-langkah Dalam Merencanakan Suatu Pembicaraan Terdapat beberapa langkah-langkah dalam merencanakan suatu pembicaraan yang akan disampaikan, antara lain yaitu :

34 Ibid, hlm. 151-152

35 Henry Guntur Tarigan, “Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa”, (Bandung : CV. Angkasa, 2013), hlm.5-6

(43)

a) Memilih pokok pembicaraan yang menarik hati kita.

Kebanyakan orang akan lebih cenderung mendengarkan suatu pembicaraan yang baik mengenai suatu pokok atau judul yang disenangi oleh sang pembicara daripada suatu pembicaraan yang membosankan mengenai suatu hal yang diketahui oleh pembicara.

b) Membatasi pokok pembicaraan. Dengan jalan membatasi pokok pembicaraan mak mungkinlah kita mencakup suatu bidang tertentu secara baik dan menarik.

c) Mengumpulkan bahan-bahan. Bila kita memerlukan bahan tambahan, kita dapat mengumpulkannya dari berbagai sumber, misalnya dari buku-buku, ensiklopedia, majalah, makalah, dan lain-lain.

d) Menyusun bahan. Pembicaraan yang hendak disampaikan terdiri dari tiga bagian, yaitu : a) pendahuluan, b) isi, c) simpulan. 36

B. Kerangka Berpikir

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keefektivan dari penggunaan model pembelajaran kooperatif type paired storytelling dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Berbicara merupakan suatu keterampilan yang mendasar karena mulai dipelajari saat anak belum memasuki sekolah dasar.Oleh karena itu, berbicara merupakan alat komunikasi paling utama dan sering dilakukan manusia saat berinteraksi antar sesama.Pada dasarnya, kelancaran berbicara sangat dipengaruhi oleh keterampilan berbicara, karenanya, siswa harus mampu menguasai keterampilan berbicara untuk mendukung kelancaran berbicara siswa dan keberhasilan pada pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada aspek berbicara.

36Ibid, hlm. 32

(44)

Dapat dilihat pada kenyataan sekarang ini bahwa pembelajaran yang biasanya dilakukan oleh guru yaitu siswa hanya diminta untuk membaca teks bacaan atau percakapan.Lalu siswa diminta untuk memahami isi teks bacaan.Setelah itu, secara individu siswa maju didepan kelas untuk menceritakan kembali isi teks bacaan yang ia pahami.

Berdasarkan hal tersebut, guru diharapkan mampu membangkitkan motivasi siswa untuk belajar dan meningkatkan kemampuan berbicara melalui model pembelajaran kooperatif type paired storytelling. Hal ini dilakukan sebagai usaha guru untuk menggali potensi siswa guna mengasah mental siswa untuk tampil berbicara tanpa ada rasa malu dan takut. Dengan melakukan proses pembelajaran cerita berpasangan ini, siswa juga tidak akan merasa malu ataupun takut untuk berbicara didalam kelas karena proses pembelajaran ini dilakukan secara berpasangan untuk menyajikan cerita secara lisan.

C. Hipotesis Penelitian

Dalam sebuah penelitian, hipotesis adalah bagian penting untuk mengarahkan kita dalam suatu proses penelitian yang dimana hipotesis membutuhkan proses penelitian agar mendapat jawaban teoritis yang relevan.

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.Jadi hipotesis juga dapat

(45)

dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.37

Melalui penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah hasil jawaban sementara yang harus dibuktikan kebenarannya dengan melakukan analisis data-data baik dilakukan melalui angket maupun wawancara dan sebagainya untuk mendapatkan jawaban yang valid.

Berdasarkan pengertian diatas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah : Ha:“Terdapat Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Type Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V MI Nurul Qur’an Tahun Pelajaran 2019/2020”.

37Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2014 ), hlm. 96.

(46)

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif.Penelitian dengan metode kuantitaif yaitu penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.38

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan desain one group pre test- post test yang terdapat pretest, sebelum diberikan perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah diberi perlakuan. 39

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Dimana dalam penelitian ini, yang dijadikan populasi oleh peneliti yaitu seluruh siswa kelas V di MI Nurul Qur’an yang berjumlah 25

38Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2015 ), hlm. 8

39 Ibid, hlm. 110

(47)

orang. Adapun perincian populasi yang akan digunakan peneliti pada siswa kelas V MI Nurul Qur’an akan dijelaskan didalam tabel berikut :

Tabel 3.1

Perincian Jumlah Populasi

Kelas Jumlah Siswa

V Laki-laki Perempuan Jumlah

10 15 25

2. Sampel

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel dengan sampling jenuh.Sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel apabila anggota populasi digunakan sebagai sampel. Teknik ini biasa dilakukan apabila jumlah populasi relative kecil yaitu jumlahnya kurang dari 30 orang atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.40

Peneliti mengambil sampel dari semua populasi yang akan diteliti, yang jumlah populasinya sebanyak 25 orang, lalu semua populasi tersebut seluruhnya dijadikan sebagai sampel. Pada penelitian ini banyak siswa kelas V MI Nurul Qur’an yang akan diteliti kurang dari 30 orang yaitu berjumlah 25 siswa.

40 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2017), hlm. 124

(48)

C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada waktu semester genap tahun pelajaran 2019/2020.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di kelas V MI Nurul Quran Pagutan Mataram.

D. Variabel Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, variabel menjadi ketetapan peneliti terhadap apa yang akan diteliti, sebagaimana yang dikutip dalam bukunya Sugiyono bahwa “variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. 41

Jadi, dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa variable adalah suatu objek penelitian yang menjadi sebuah patokan dalam proses penelitian atau lebih tepatnya menjadi sebuah titik perhatian suatu penelitian.

Macam-macam variable ada dua macam yaitu variable independen (bebas) dan variable dependen (terikat).Variable independen yaitu variable bebas yang mempengaruhi sebab terjadinya perubahan atau timbulnya variable dependen (terikat), sedangkan variable dependen yaitu variable terikat

41 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung, Alfabeta, 2017), hlm. 60

(49)

yang dipengaruhi ataupun menjadi akibatdari variabel bebas (independen).

Agar lebih spesifiknya lagi adalah bentuk variable bebas (X) yaitu

“Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Type Paired Storytelling” dan variable terikat (Y) berarti “Keterampilan Berbicara Siswa”. Variable X merupakan variable yang berpengaruh, sedangkan variable Y merupakan variable yang terpengaruh.

Variabel X Variabel Y

E. Desain Penelitian

Untuk menentukan keseluruhan proses penelitian terlebih dahulu peneliti membuat desain penelitian yang akan diteliti agar apa yang akan diteliti terstruktur dan lebih mudah sebagaimana menurut Margono

“desain penelitian pada dasarnya merupakan keseluruhan proses dan penentuan matang tentang hal yang dilakukan”.42Desain penelitian juga didefinisikan sebagai strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis.

Penelitian ini dilakukan dengan jenis kuantitatif yang menggunakan eksperimen. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini peneliti menggunakan sebuah tes dan juga dokumentasi untuk mendapatkan perilaku siswa disekolah. Jadi yang akan dianalisis dalam

42 Margono , Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), hlm.109

Pengaruh Model pembelajaran Kooperaif Type Paired

Storytelling

Keterampilan Berbicara Siswa

(50)

penelitian ini adalah hasil tes dari hasil keterampilan berbicara siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis uji prasyarat dan analisis uji hipotesis untuk mengetahui Ha (adakah pengaruh model pembelajaran kooperatif type paired storytelling terhadap ketereampilan berbicara siswa pada muatan pelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Nurul Qur’an tahun pelajaran 2019/2020).

F. Instrumen/ Alat dan Bahan Penelitian

Instrumen penelitian dalah suatu alat yang digunakan untuk memperoleh, mengolah, dan menginterpretasikan informasi yang diperoleh dari para responden yang dilakukan dengan menggunakan pola ukur yang sama. 43

Jadi, dengan adanya instrumen akan memudahkan peneliti mendapatkan data yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan penelitiannya dengan cara mengukur variable-variabel yang akan diteliti.

Maka akan mudah bagi peneliti untuk mendapatkan data yang objektif mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif type paired storytelling terhadap kemampuan berbicara pada siswa kelas V MI Nurul Qur’an Pagutan.

Adapun instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

43 Sofyan Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif, (Jakarta : KENCANA, 2017), hlm.48

(51)

1. Tes

Tes adalah alat bantu yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian.44 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tes lisan pokok bahasan teks cerita. perlakuan.

Instrument tes disajikan dengan menggunakan lembar teks bacaan.

2. Pedoman Observasi

Pedoman observasi digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi yang dilakukan siswa dan guru selama pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan model kooperatif paired storytelling. Pedoman observasi dibuat oleh peneliti untuk mengamati siswa dan guru selama proses pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan model kooperatif paired storytelling.

G. Teknik Pengumpulan Data/ Prosedur Penelitian 1. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, kalau wawancara dan koesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam lainnya.45 Tujuan menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan

44 Anas Sudijono, PengantarEvaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hlm,66

45Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung : Penerbit Alfabeta, 2017). hlm, 203

Gambar

tabel  yang  terlampir,  maka  selanjutnya  menghitung  nilai  rata-rata  dan  nilai standar deviasi melalui program computer SPSS 24  sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Penilaian Kinerja Terhadap Kinerja Organisasi Dengan Kepuasan Kerja Karyawan Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada PT. Indomarco Prismatama Cabang