• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh pelaksanaan corporate governance perbankan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh pelaksanaan corporate governance perbankan"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH PELAKSANAAN CORPORATE GOVERNANCE PERBANKAN TERHADAP TINGKAT FRAUD YANG TERJADI PADA BANK UMUM DI

INDONESIA

Nerissa Arviana Hardianto

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana [email protected]

PENDAHULUAN

Berkembangnya sebuah perusahaan harus diiringi dengan corporate governance yang baik. Corporate governance akan mempermudah mengatur setiap aspek di dalam perusahaan agar tidak terjadi konflik kepentingan. Konflik kepentingan terjadi karena adanya permasalahan antara pemilik dan pengelola, seperti hasil penelitian dari Kaihatu (2006) menyebutkan bahwa :

Isu corporate governance dilatar belakangi karena adanya agency theory yang menyatakan bahwa permasalahan muncul ketika kepemimpinan perusahaan terpisah dari pemiliknya sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara pemilik dengan pengelola. Konflik tersebut dapat diminimalkan dengan mekanisme yang mampu mensejajarkan kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, mekanisme tersebut dikenal sebagai good corporate governance.

Corporate governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian wewenang. Terjadinya penyimpangan-penyimpangan di dalam perusahaan dapat memicu masalah-masalah internal dan memungkinkan terjadinya fraud. Corporate governance dilakukan oleh manajemen dan dirancang untuk menyelesaikan masalah-masalah internal yang timbul dan mengurangi kemungkinan terjadinya fraud.

Corporate governance dapat digunakan sebagai alat pencegah fraud seperti hasil penelitian dari Cattrysse (2002) yang menjelaskan bahwa terdapat 3 alat pencegahan kecurangan yaitu 1) tata kelola perusahaan, 2) pimpinan organisasi yang baik, dan 3) penerapan pengendalian internal. Sejalan dengan penelitian

(2)

2

tersebut maka pelaksanaan corporate governance yang buruk akan menimbulkan adanya fraud, hal ini didukung dengan penelitian Besari (2009) yang menyebutkan bahwa corporate governance yang buruk dapat menyebabkan terjadinya fraud sebagaimana yang terjadi pada beberapa bank di Indonesia. Pentingnya pelaksanaan corporate governance untuk mengurangi tingkat fraud juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Maya dan Ifada (2011) yang menyebutkan bahwa kualitas corporate governance berpengaruh negatif terhadap fraud atau semakin tinggi kualitas corporate governance semakin rendah terjadinya fraud khususnya pada jumlah nominalnya.

Menurut UU RI No 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah “ Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak “. Kebutuhan untuk menerapkan prinsip corporate governance juga menjadi bagian penting dalam setiap transaksi perbankan, karena bank adalah lembaga kepercayaan masyarakat. Hal ini ditanggapi oleh Forum Corporate Governance Indonesia (2008) yang menyatakan bahwa Bank Indonesia selaku regulator lembaga perbankan telah mengeluarkan banyak peraturan yang terkait langsung dengan upaya penerapan corporate governance salah satunya dengan mengeluarkan peraturan No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) bagi bank umum yang selanjutnya diubah dengan peraturan No. 8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan GCG bagi Bank Umum.

Dwiwarningrum (2015) mengatakan bahwa fraud dalam dunia perbankan adalah tindakan yang sengaja melanggar ketentuan internal yaitu : 1) Kebijakan, 2) Sistem, dan 3) Prosedur yang berpotensi merugikan bank baik material maupun moril. Perhimpunan Bank Umum Nasional (2011) menyatakan bahwa 60% fraud yang terjadi di dalam perbankan disebabkan oleh orang dalam. Dibuktikan dengan terjadinya beberapa kasus yang dikutip melalui koran elektronik Kompas sebagai berikut :.

Badan Reserse Kriminal Mabes Polri mengatakan bahwa terdapat beberapa kasus dari internal bank terkait kecurangan dalam perbankan. Pertama, pada 31 Januari 2011 terdapat pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif pada

(3)

3

Bank Internasional Indonesia (BII), melibatkan account officer BII Cabang Pangeran Jayakarta hingga total kerugian mencapai 3,6 miliar. Kedua, pada 9 Maret 2011 PT. Bank Danamon yang di mana modusnya head teller menarik uang kas nasabah berulang-ulang sebesar Rp 1.900.000.000,00 dan USD 110.000. Ketiga, pada 25 April 2011 terdapat kecurangan dalam bentuk deposito senilai 111miliar untuk kepentingan pribadi Kepala Cabang Bank Mega Jabadeka dan Direktur Keuangan PT. Elnusa Tbk (Sumber : Erlangga, kompas 3 Mei 2011).

Penelitian ini berfokus pada bank karena bank adalah lembaga kepercayaan masyarakat yang highly regulated dan mempunyai lembaga otoritas perbankan, yang secara khusus melakukan pengawasan dan pembinaan. Perbankan juga memiliki ketentuan pedoman corporate governance yang dapat dijabarkan melalui 5 prinsip CG yaitu 1) Keterbukaan 2) Akuntabilitas, 3) Pertanggungjawaban, 4) Independensi, 5) Kewajaran dimana jika bank sudah menjalankan prinsip-prinsip tersebut akan mengurangi terjadinya pelanggaran internal yang jika berkelanjutan dapat memicu terjadinya internal fraud. Namun demikian masih banyak terjadi kasus fraud di beberapa perbankan umum yang melibatkan pihak-pihak internal.

Penelitian ini berfokus pada jumlah kasus internal fraud karena melihat besarnya potensi dari internal fraud walaupun dengan nominal yang rendah jika dibiarkan akan merugikan perusahaan. Oleh karena itu penelitian ini akan meneliti pengaruh pelaksanaan corporate governance terhadap tingkat fraud yang terjadi pada bank umum di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris pengaruh pelaksanaan corporate governance terhadap tingkat fraud yang terjadi di bank umum di Indonesia periode tahun 2013 - 2015. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan informasi ke bank umum tentang pelaksanaan corporate governance terhadap fraud dalam rangka mengurangi tingkat fraud yang terjadi selain itu bagi Bank Indonesia penelitian ini bermanfaat sebagai pertimbangan untuk mengambil kebijakan yang terkait dengan corporate governance.

(4)

4 KERANGKA TEORITIS

Teori Keagenan

Teori keagenan merupakan teori yang mendefinisikan tentang hubungan antara prinsipal dengan agen dimana dalam dunia perbankan deposan selaku prinsipal, sedangkan manajemen bank selaku agen. Teori tersebut menggambarkan hubungan antara satu orang atau lebih yang terikat dengan kontrak antara pemilik selaku prinsipal dan orang lain sebagai agen untuk beberapa jasa yang harus dilakukan atas nama pemilik. Jensen dan Meckling (1976) mengatakan bahwa baik prinsipal maupun agen diasumsikan sebagai orang ekonomi rasional dan semata- mata termotivasi oleh kepentingan pribadi. Hal ini dapat memicu terjadinya konflik keagenan.

Berdasarkan penjabaran dari pengertian teori keagenan maka masalah keagenan di perbankan tidak hanya sebatas prinsipal dan agen tetapi juga mengungkapkan beberapa hubungan keagenan yang menurut Beasley (1996) yaitu : 1) Antara deposan, bank dan pemerintah, 2) Antara pemilik, bank dan pemerintah, 3) Antara debitur, manajer, dan pemerintah.

Menurut Midiastuty, Mas, dan Machfoedz (2003), teori keagenan digunakan untuk mengatasi masalah ketidakselarasan kepentingan antara prinsipal dan agen, yang dapat dilakukan melalui pengelolaan perusahaan yang baik. Dimana dalam perbankan deposan selaku prinsipal dan manajemen bank selaku agen. Hayati dan Gusnardi (2012) mengatakan bahwa corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada teori agensi, yang diharapkan bisa berfungsi untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas hasil yang sudah diinvestasikan.

Corporate Governance pada Perbankan

Pembahasan mengenai corporate governance dari waktu ke waktu dapat berevolusi. Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) (2008) mendefiniskan Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur

(5)

5

hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.

Menurut Khairandy, Ridwan, dan Malik (2007), corporate governance secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholders. Ada lima prinsip utama yang diperlukan dalam konsep CG yaitu transparency (keterbukaan), accountability (akuntabilitas), responsibility (tanggung jawab), independency (independensi), fairness (kewajaran). Kelima prinsip tersebut penting karena dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan dan performa perusahaan secara keseluruhan.

Menurut Komite Nasional Kebijakan Goverance (KNKG) (2004) prinsip- prinsip tata kelola yang baik akan memberikan kontribusi yang strategis untuk: 1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat, 2) menciptakan iklim yang sehat, 3) meningkatkan kemampuan daya saing, 4) sangat efektif mengindari penyimpangan- penyimpangan dan mencegah terhadap korupsi dan suap.

Tujuan utama dari corporate governance menurut KNKG (2004) yaitu meningkatkan nilai perusahaan, mengelola sumber daya dan resiko secara lebih efektif dan efisien, meningkatkan disiplin dan tanggung jawab dari organ perusahaan, meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap perekonomian, dan meningkatkan investasi nasional.

Untuk menerapkan prinsip corporate governance, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga dari masing-masing organ di dalam perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Corporate governance merupakan suatu sistem yang ada di dalam organisasi dan diterapkan dalam rangka mencapai kinerja organisasi semaksimal mungkin dengan cara-cara yang tidak merugikan stakeholders organisasi.

Bank sebagai lembaga intermediasi dan lembaga kepercayaan masyarakat, dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut lima prinsip dasar menurut Nomor 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan good corporate governance bagi bank umum. Prinsip corporate governance :

(6)

6

Pertama, keterbukaan (transparency) yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan. Kedua, akuntabilitas (accountability) yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban organ bank sehingga pengelolaanya berjalan secara efektif. Ketiga, pertanggungjawaban (responsibility), yaitu kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan bank yang sehat. Keempat, independensi (independency) yaitu pengelolaan bank secara profesional tanpa pengaruh/tekanan dari pihak manapun. Kelima, kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam rangka menerapkan kelima prinsip dasar tersebut di atas, bank wajib berpedoman pada berbagai ketentuan dan persyaratan minimum serta pedoman yang terkait dengan pelaksanaan good corporate governance. Menurut KNKG tentang pedoman umum Corporate Governance perbankan (2004) :

Bank harus mengungkapkan informasi secara akurat yang dapat diakses dengan mudah oleh stake holders, dalam perjalanannya bank harus bisa meyakini semua organisasi yang ada di dalam bank telah bertanggung jawab pada peranan masing-masing dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Bank harus mengambil keputusan untuk memberi masukan atau pendapat bagi stake holders.

Pasal 5 Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/4/PBI/2006 tentang corporate governance menjelaskan bahwa :

(1) Dewan Komisaris terdiri atas Dewan Komisaris dan Komisaris Independen (2) Paling kurang 50% dari jumlah anggota dewan komisaris adalah Komisaris Independen. Pasal 12 ayat 1 dijelaskan bahwa dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris wajib membentuk paling kurang : a) Komite Audit, b) Komite Pemantau, c) Komite Remunerasi dan Nominasi.

Fraud

Menurut Karyono (2013):

Fraud dapat diistilahkan sebagai kecurangan yang mengandung makna suatu penyimpangan dan perbuatan melanggar hukum (ilegal act) yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu misalnya menipu atau memberikan gambaran keliru (misslead) kepada pihak-pihak yang lain, yang dilakukan oleh orang-orang baik dari dalam maupun dari luar organisasi. Kecurangan dirancang untuk memanfaatkan peluang-peluang secara tidak jujur, yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan pihak lain.

(7)

7

Bank Indonesia (2010) mendefinisikan internal fraud adalah penyimpangan / kecurangan yang dilakukan oleh pengurus, pegawai tetap dan tidak tetap terkait dengan proses kerja dan kegiatan operasional bank yang mempengaruhi kondisi keuangan bank secara signifikan. Yang dimaksud dengan mempengaruhi secara signifikan adalah apabila dampak penyimpangannya lebih dari Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Arens, Elder dan Beasley (2008) menyebutkan bahwa seseorang dapat melakukan kecurangan karena 3 faktor yaitu 1) kesempatan (opportunity), 2) tekanan (pressure), 3) pembenaran (rationalization).

Pada penelitian ini fokus pada internal fraud karena melihat tipe kecurangan tersebut seharusnya bisa diatasi oleh pihak internal namun berbanding terbalik dengan beberapa kasus yang sudah dijabarkan terlihat kasus kecurangan yang terjadi justru dilakukan pihak internal.

Menurut Simanjuntak (2008) pelaku kecurangan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu manajemen dan karyawan / pegawai. Pihak manajemen melakukan kecurangan biasanya untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting). Sedangkan karyawan pegawai melakukan kecurangan bertujuan untuk keuntungan individu, misalnya salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva (misstatements arising from misappropriation of assets).

Menurut Rashidah dan Anwar (2014), tidak ada organisasi yang kebal terhadap penipuan. Kehendak penipuan terus terjadi tidak peduli seberapa keras kita mencoba untuk mencegah dan menguranginya. Nurhayanto (2015) mengatakan bahwa kelemahan utama mengapa fraud perbankan seringkali terlambat dikenali dan dideteksi, umumnya karena pelaku bisnis beranggapan bahwa industri perbankan merupakan sektor bisnis yang sarat dengan pagar pengaman (regulasi).

Pihak-pihak yang terkait dengan bisnis ini, terutama manajemen bank selama ini mereka memiliki keyakinan yang sangat tinggi bahwa fraud tidak atau kecil kemungkinan terjadi lingkungan bisnis mereka.

Wilopo (2006) menyatakan bahwa upaya pencegahan fraud dapat dilakukan dengan cara 1) mengefektifkan pengendalian internal termasuk penegakan hukum, 2) perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian, 3) pelaksanaan Corporate Governance, 4) memperbaiki moral dari pengelola perusahaan yang diwujudkan dengan mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara, dan

(8)

8

masyarakat. Husnan (2008) mengatakan bahwa implementasi corporate governance berpengaruh negatif terhadap fraud. Hal ini karena penerapan Corporate Governance berdampak pada fokusnya pengelolaan perusahaan dalam pembagian tugas, tanggung jawab, dan pengawasan yang lebih jelas.

Menurut peraturan menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/15/ M.PAN/7/2008 tentang Pedoman Umum Reformasi Birokrasi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, salah satu tujuan dari Corporate Governance adalah birokrasi yang bersih yaitu birokrasi yang sistem dan aparaturnya bekerja atas dasar aturan dan koridor nilai-nilai yang dapat mencegah timbulnya berbagai tindak penyimpangan dan perbuatan tercela seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pengaruh pelaksanaan corporate governance terhadap tingkat fraud pada bank umum

Antara prinsipal dan agen memiliki tujuan masing-masing. Prinsipal ingin mendapatkan pengembalian investasi yang tinggi, di lain pihak para agen ingin mendapatkan kompensasi yang besar dari hasil kerjanya. Perbedaan tujuan itulah yang mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan di antara prinsipal dan agen.

Informasi yang lebih banyak dari principal menimbulkan kesempatan untuk melakukan kecurangan.

Corporate Governance (CG) memiliki 5 (lima) prinsip yaitu : keterbukaan, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, kewajaran. Penerapan prinsip CG membuat pengelolaan perusahaan menjadi lebih fokus dan lebih jelas dalam pengambilan keputusan, pengembalian hak stake holders, pembagian tugas, tanggung jawab dan pengawasan yang dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Meningkatnya nilai perusahaan adalah salah satu tujuan utama CG, jika ini tercapai maka dapat diyakini terjadinya pelanggaran internal sangat kecil karena berbanding terbalik dengan meningkatnya nilai perusahaan. Perbankan yang melaksanakan prinsip-prinsip CG dapat mengurangi terjadinya fraud, karena dengan menerapkan prinsip-prinsip CG berarti perbankan telah menunjukan tanggung jawabnya kepada

(9)

9

publik terkait dengan kegiatan operasional bank, dan telah mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan untuk menjaga nama baiknya.

Bentuk pertanggung jawaban kepada publik dapat direalisasikan ke dalam 5(lima) prinsip CG yang dimulai dengan prinsip pertama CG transparansi yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang relevan dan material, serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan. Dengan melaksanakan prinsip ini masyarakat dan stake holders dapat memperoleh informasi menyangkut tentang keuangan, pengelolaan perusahaan, dan kepemilikan perusahaan yang dilaporkan dalam laporan tahunan. Bank akan mengungkapkan kinerjanya, salah satunya dengan mengungkapkan jumlah internal fraud yang terjadi selama 1 periode di bagian jumlah penyimpangan internal pada laporan CG atau di bagian tata kelola perusahaan pada laporan tahunan. Prinsip kedua CG akuntabilitas yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban manajemen bank sehingga pengelolaanya berjalan secara efektif. Bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari manajemen agar selaras dengan visi, misi, sasaran, dan strategi perusahaan. Dalam hal ini dibutuhkan adanya pengawasan dan pengendalian yang efektif terhadap manajemen untuk bertindak sesuai dengan kepentingan stake holders untuk menghindari adanya konflik kepentingan yang dapat menjadi pemicu internal fraud. Prinsip ketiga CG responsibilitas yaitu kesesuaian pengelolaan bank dengan ketentuan internal yang berlaku dan prinsip pengelolaan bank yang sehat. Responsibilitas diperlukan agar dapat menjamin terpeliharanya kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai perusahaan sehat yang tidak melakukan pelanggaran internal yang menjadi pemicu terjadinya fraud. Prinsip keempat CG independensi yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan. Bank harus menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stake holders dan tidak boleh terpengaruh oleh kepentingan sepihak yang bisa membuat bank melakukan pelanggaran internal. Prinsip kelima CG kewajaran yaitu perlakuan yang adil dan setara bagi seluruh pemegang saham dan memberikan kesempatan yang sama sesuai proporsinya. Bank harus memperhatikan kepentingan seluruh stake holders berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran, tetapi juga

(10)

10

memberikan kesempatan pada stake holders untuk memberi masukan. Dengan adanya masukan dari stake holders maka akan mengurangi adanya penguasaan wewenang dari pihak manajemen yang dapat memicu konflik kepentingan dan menjadi awal dari penyimpangan internal.

Dengan berlangsungnya prinsip-prinsip CG yang baik, maka akan kecil peluang untuk terjadinya fraud oleh pihak internal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maya dan Ifada (2011) yang menyatakan bahwa kualitas CG berpengaruh negatif terhadap fraud atau semakin tinggi kualitas CG maka semakin rendah terjadinya fraud khususnya pada jumlah nominalnya. Maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah :

H1 : Pelaksanaan corporate governance berpengaruh negatif terhadap tingkat fraud pada bank umum

MODEL PENELITIAN

Berdasarkan rancangan hipotesis yang telah dirumuskan dan dijelaskan di atas, maka dibuatlah model penelitian sebagai berikut.

H1

Gambar 01. Model Hipotesis

Corporate governance (CG)

Tingkat Fraud

(11)

11 METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah semua bank umum yang terdaftar di Bank Indonesia tahun 2013 - 2015. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria : (1) Memiliki Laporan GCG periode tahun 2013 – 2015, (2) Memiliki kelengkapan data penelitian.

Berdasarkan kriteria tersebut maka diperoleh sampel sebanyak 118 Bank Umum dari data statistik di website Bank Indonesia per Agustus 2015 (www.bi.go.id).

Tabel 1 Pemilihan Sampel

Kriteria-kriteria yang digunakan Jumlah Perusahaan

1. Perbankan yang tercatat pada data statistik di Bank Indonesia Agustus 2015.

2. Perbankan yang tidak memiliki laporan good corporate governance periode tahun 2013 – 2015.

3. Perbankan yang tidak memiliki data jumlah kecurangan internal pada laporan good corporate governance periode tahun 2013 – 2015.

118

(30)

(12)

12

Jumlah perbankan yang digunakan berjumlah 84 atau 252 data. Data bersumber dari data sekunder yang diakses melalui Bank Indonesia (www.bi.go.id) dan website masing-masing perbankan.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data pada penelitian ini adalah data sekunder berupa Laporan Corporate Governance yang diperoleh dari website Bank Indonesia (www.bi.go.id).

Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel dependen pada penelitian ini adalah tingkat fraud yang akan menggunakan jumlah kecurangan internal yang dilaporkan dalam laporan corporate governance yang dilakukan oleh anggota dewan komisaris dan anggota direksi, pegawai tetap dan tidak tetap. Variabel independen penelitian ini adalah pelaksanaan corporate governance yang akan diukur berdasarkan self assesment pada laporan GCG bank umum periode tahun 2013 – 2015.

Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan. Semakin besar asset perusahaan maka semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut. Pihak agen yang memiliki informasi lebih banyak dapat memiliki kesempatan untuk berfokus pada kepentingan pribadi yang dapat menyebabkan internal fraud yang tinggi karena dilakukan pada ukuran perusahaan yang besar. Pengukuran variabel dan skala pada penelitian ini disajikan dalam tabel 2 berikut ini.

Tabel 2

Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel Ukuran Skala

(4)

Jumlah sampel yang dipakai 84

(13)

13 X = Corporate Governance

Y = Fraud

Kontrol = Ukuran Perusahaan

- Diukur dengan score self assessment pada laporan corporate governance periode 2013 – 2015.

- Diukur dengan jumlah internal fraud yang terjadi pada laporan corporate governance periode 2013 – 2015.

- Diukur dengan logaritma natural dari total asset yang terdapat pada laporan keuangan tahunan periode 2013 – 2015.

- Rasio

- Rasio

- Rasio

Teknik dan Langkah Analisis

Teknik analisis pada penelitian ini menggunakan regresi linier berganda dengan persamaan sebagai berikut :

TF = α - β1GCG + β2UP + ɛ Keterangan :

TF = Tingkat Fraud

α = Konstanta

β1GCG = Tingkat pelaksanaan good corporate governance β2UP = Ukuran Perusahaan

ɛ = Error

Selanjutnya langkah analisis yang dilakukan sebagai berikut : 1. Uji Statistik Deskriptif

Uji ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, minimum, sum,

(14)

14

range kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) dengan bantuan software SPSS.

2. Uji Asumsi Klasik

Uji multikolinieritas menurut Ghozali (2006) dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas.

Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai variance inflation factor (VIF). Bila nilai VIF lebih dari 10 maka terjadi multikolinearitas, sebaliknya kalau VIF di bawah 10 maka hal tersebut tidak terjadi.

Uji Normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal.

Uji Heteroskedatisitas dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi layak dipakai untuk memprediksi variabel terikat dipengaruhi oleh variabel bebas dengan menggunakan uji Glejser.

3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda seperti yang sudah dijabarkan dengan fomula di bagian sebelumnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif

Hasil analisis statistik deskriptif yang meliputi pengukuran rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum dan standar deviasi dari masing-masing variabel yang diteliti disajikan dalam tabel 3 berikut ini :

Tabel 3 Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation

Score_Self_Assessment 252 1.00 4.00 480.84 1.9081 .52547

Internal_Fraud 252 0 92 1054 4.18 10.451

(15)

15 Sumber : Hasil olah SPSS (2017)

Berdasarkan data pada tabel 3 (tiga), nilai variabel independen untuk corporate governance minimal sebesar 1 dan maksimal sebesar 4, dengan rata- rata 1,90. Peringkat komposit CG memiliki nilai yang baik jika nilainya semakin kecil seperti yang dikategorikan sebagai berikut :

Tabel 4

Klasifikasi Peringkat Komposit Pelaksanaan CG

No Nilai Komposit Predikat Komposit

1 Nilai Komposit < 1,5 Sangat Baik

2 1,5 ≤ Nilai Komposit < 2,5 Baik

3 2,5 ≤ Nilai Komposit < 3,5 Cukup Baik

4 3,5 ≤ Nilai Komposit < 4,5 Kurang Baik

5 4,5 ≤ Nilai Komposit < 5 Tidak Baik

Sumber : Surat Edaran Bank Indonesia No. 9/12/DPNP Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum dan lampiran

Maka rata-rata untuk pelaksanaan CG pada penelitian ini tergolong dalam peringkat baik. Untuk variabel dependen tingkat internal fraud memiliki nilai minimal 0 dan maksimal sebesar 92, serta nilai rata-rata 4,18, dengan nilai tengah (46 > 4.18) yang berarti bahwa jumlah internal fraud yang terjadi secara menyeluruh diasumsikan rendah karena lebih sedikit dari pada nilai tengah tingkat fraud. Kemudian variabel kontrol ukuran perusahaan menggunakan perhitungan ln untuk membantu normalitas data. Ukuran perusahaan memiliki nilai minimal 2,35, nilai maksimum 3,03, serta nilai ln rata-rata 2,7865. Nilai rata-rata ukuran perusahaan dikatakan besar karena lebih besar dari nilai tengah data (2,7865 >

2,69). Dari ketiga variabel tersebut yang memiliki kualitas data yang baik yaitu corporate governance dan ukuran perusahaan karena memiliki nilai rata-rata yang melebihi standar deviasi. Menurut Ghozali (2006) nilai rata-rata yang melebihi standar deviasi menunjukkan standar eror yang kecil dari variabel tersebut.

Ln Ukuran_Perusahaan 252 2.35 3.03 702.19 2.7865 .13123

Valid N (listwise) 252

(16)

16

Hasil perbandingan score CG dan Internal fraud yang diwakili oleh 10 Bank Tertinggi pada penelitian ini disajikan dalam tabel 5 berikut ini :

Tabel 5

Hasil Perbandingan Score CG dan Internal Fraud 10 Bank Tertinggi

Tabel 5 menunjukan perbandingan skor CG dengan nilai internal fraud yang terjadi pada sampel penelitian, menunjukan bahwa CG yang baik adalah kurang dari 2 namun berbanding terbalik dengan jumlah praktik internal fraud.

No Nama Bank Nilai Komposit

CG

Jumlah Praktik Internal Fraud

1 PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO), Tbk 1.43 54

2 PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) 2.61 30

3 PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO), Tbk 1.17 29

4 PT. BPD PAPUA 2.18 22

5 PT. BANK SYARIAH MANDIRI, Tbk 2.04 18

6 PT. BPD JAWA TIMUR 1.83 14

7 PT. BANK TABUNGAN PENSIUNAN NASIONAL TBK 2.28 14

8 PT. BANK BUKOPIN 1.73 13

9 PT. BANK BRI SYARIAH d/h DJASA ARTHA 1.78 12

10 PT. BANK MEGA SYARIAH(dh B MG SY IND/TUGU) 2.12 12

(17)

17 Uji Asumsi Klasik

Hasil uji asumsi klasik meliputi uji multikolinieritas, uji normalitas, dan uji heteroskedatisitas yang disajikan dalam tabel 6 berikut ini :

Tabel 6

Ringkasan Hasil Asumsi Klasik

Model Collinearity Statistics T Sig.

Tolerance VIF

(Constant) -0.068 0.946

CG 0.997 1.003 1.888 0.060

UP 0.997 1.003 0.769 0.442

Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.25

Hasil uji normalitas menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh nilai asymp. sig. sebesar 0.25 yang menunjukan bahwa data normal. Pada penelitian juga ditemukan bahwa data bebas dari multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hal ini ditunjukan dengan nilai tolerance > 0.10 atau nilai VIF

< 10.00 serta nilai signifikansi lebih dari 0.05.

Uji Hipotesis

Hasil uji deskriptif meliputi uji r square, uji statistik t dan uji statistik f yang disajikan dalam tabel 7 berikut ini :

Tabel 7

Ringkasan Hasil Hipotesis H1

Variabel Koefisien T Sig

(Constant) 0.550 2.367 0.019

CG -0.34 -1.656 0.099

UP 0.027 0.325 0.745

R2 = 0.016; F = 2.003; Sig.(F) = 0.137b

(18)

18

Berdasarkan tabel 6, nilai dari R square adalah sebesar 0.016 yang berarti bahwa variabel independen dalam penelitian ini yaitu corporate governance memiliki pengaruh terhadap variabel dependen yaitu tingkat fraud sebesar 1,6%

dan sisanya dipengaruhi variabel lain di luar penelitian ini. Nilai sig.(F) lebih besar dari 0.05 (0.137 > 0.05) yang berarti bahwa hipotesis yang diajukan ditolak. Hasil ini menunjukkan bahwa secara simultan corporate governance tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat fraud. Nilai t hitung pada variabel Corporate Governance lebih kecil dari nilai t tabel (-1.656 < 1.993) dan nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 (0.099 > 0.05) sehingga hipotesis 1 ditolak. Hasil uji t untuk variabel kontrol yaitu ukuran perusahaan memiliki nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (0.325 <

1.993) dan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (0.745 > 0.05). Dengan demikian variabel kontrol yaitu ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat fraud yang terjadi.

(19)

19 PEMBAHASAN

Pelaksanaan Corporate Governance berpengaruh negatif terhadap Tingkat Fraud pada Bank Umum

Berdasarkan hasil uji hipotesis secara bersama-sama menunjukkan bahwa variabel corporate governance tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat fraud dan berdasarkan hasil uji yang dilakukan secara parsial menunjukkan bahwa variabel corporate governance tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat fraud. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa corporate governance yang baik tidak dapat mempengaruhi untuk menekan tingkat fraud.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Besari (2009), Maya dan Ifada (2011) yang mengatakan bahwa pelaksanaan corporate governance berpengaruh negatif terhadap tingkat fraud yang terjadi. Hal ini dapat disebabkan karena pengukuran penerapan prinsip corporate governance hanya diproksikan pada score self assessment dari hasil rata – rata 11 faktor penilaian yang salah satu indikatornya yaitu penerapan fungsi kepatuhan, pada bank yang menjadi sampel telah menunjukan hasil yang baik. Selain itu data penelitian menunjukkan bahwa beberapa perusahaan dengan nilai CG yang tinggi ternyata memiliki nilai internal fraud yang juga tinggi.

Mengacu pada penelitian Cattrysse (2002) terdapat 3 alat pencegahan kecurangan yaitu 1) tata kelola perusahaan, 2) pimpinan organisasi yang baik, 3) penerapan pengendalian internal, sehingga untuk melihat terjadinya internal fraud ternyata tidak hanya dilihat dari penerapan CG tetapi juga dari faktor pimpinan organisasi dan penerapan pengendalian internal.

(20)

20

KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan di atas, kesimpulan dari penelitian ini adalah pelaksanaan corporate governance pada perbankan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat fraud yang terjadi di bank umum Indonesia.

Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan penelitian yang mungkin dapat mempengaruhi hasil yaitu pada jumlah tingkat internal fraud kemungkinan angka yang disajikan tidak sesuai dengan kebenarannya, karena tidak dilaporkan untuk menjaga nama baik perbankan tersebut.

Implikasi dan Saran penelitian mendatang

Berdasarkan hasil penelitian, bagi pemerintah / stake holders disarankan tidak hanya melihat CG untuk memprediksi tingkat fraud perusahaan dan bank umum disarankan agar tidak hanya memberikan informasi terkait terjadinya internal fraud tapi juga latar belakang pimpinan bank dan penerapan pengendalian internalnya.

Untuk penelitian berikutnya diharapkan dapat mengukur pelaksanaan corporate governance dari sudut pandang yang lebih spesifik dengan variabel latar belakang pendidikan dan pengalaman pimpinan (misal : dewan komisaris, direksi, presiden direktur, direktur) dan penerapan sistem pengendalian internal pada perusahaan agar mendapatkan hasil yang lebih obyektif dan akurat. Selain itu pengukuran jumlah internal fraud bisa dirinci dengan membagi antara yang dilakukan pegawai tetap dan pegawai non tetap, mengganti populasi penelitian menjadi perbankan umum, syariah, dan BPR, agar memberikan variasi hasil jenis perbankan yang berbeda.

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006

Sejalan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum, keberadaan Komite Renumerasi dan

Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 Perubahan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Islamic Corporate Governance memiliki pengaruh positif terhadap indikasi terjadinya fraud pada Bank Umum Syariah, Shariah

Sehubungan dengan rumusan penelitian ini variabel kinerja diharapkan merupakan fungsi dari mekanisme corporate governance sebagai berikut: Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat mengenai relevansi dari pengungkapan Good Corporate Governance (GCG) dalam laporan

Sehingga dalam rangka untuk menguji apakah corporate governance yang efektif akan meningkatkan tingkat pengungkapan kinerja lingkungan, maka penelitian ini akan

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perusahaan, khususnya mengenai pengaruh penerapan corporate governance terhadap manajemen laba pada industri