PIHAK PERTAMA
Klaster Eksakta
Skema Dasar
USULAN
PENELITIAN INTERNAL UNISSULA
Pengaruh Pemberian Deferasirox Terhadap Terjadinya Fibrosis Hati Pada Mencit Balb-C Model Overload Besi
TIM PENGUSUL
1. KETUA: dr. Ulfah Dian Indrayani, M.Sc (NIDN. 0606097901) 2. ANGGOTA: dr. Hadi Sarosa, M.Kes. (NIDN. 0617026301)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG APRIL 2020
HALAMAN SAMPUL
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ... 2
Ringkasan ... 4
BAB I ... 5
PENDAHULUAN ... 5
Latar Belakang ... 5
Tujuan Penelitian ... 5
Urgensi Penelitian ... 5
Spesifikasi Khusus ... 5
BAB II ... 6
TINJAUAN PUSTAKA ... 6
Fibrosis Hati ... 6
Kelasi Besi ... 6
BAB III ... 9
METODE PENELITIAN ... 9
Desain Penelitian ... 9
Subjek Uji ... 10
Variabel Penelitian ... 10
Alur Penelitian ... 11
BAB 4 : BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 12
1.1 Anggaran Biaya ... 12
1.2 Jadwal Penelitian ... 13
Daftar Pustaka ... 14
Lampiran 1 : Susunan Organisasi tim Peneliti dan Pembagian Tugas ... 16
Lampiran 2 : Biodata Ketua ... 16
Ringkasan
Overload besi masih merupakan maslah pada kelainan secondary iron overload.
Komplikasi akibat overload besi ialah timbunan besi intra sel yang mengakibatkan kerusakan organ dalam yakni fibrosis hati. Timbunan besi akan meningkatkan prooksidan radikal hidroksil, yang mengakibatkan peningkatan radikal hidroksil, peroksidase, kerusakan lipid, protein dan DNA. Kerusakan hati akan meningkatkan beberapa growth factor (TGF β, PDGF), sitokin (TNF α, IL1β, IL6), matrik ekstrasel dan menyebabkan diferensiasi fibroblas menjadi miofibroblas.
Miofibroblast hanya terbentuk dalam keadaan patologis dan dapat meningkatkan protein matrik ekstra sel.
Fibrosis hati terjadi karena akumulasi fibroblas dan timbunan matrik ekstrasel yang berlebihan yang membentuk jaringan sikatrik. Sampai saat ini pengelolaan overload besi plasma dengan pemberian obat kelasi besi. Deferasirox merupakan salah satu obat kelasi besi yang mempunyai bentuk cukup stabil dan mempunyai kemampuan untuk menembus membran sel dan mengikat besi intrasel.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh deferasirox terhadap terjadinya fibrosis hati pada mencit balb-c model overload besi. Luaran penelitian ini berupa satu artikel publikasi.
Kata kunci : deferasirox, fibrosis hati
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Overload besi plasma disebabkan oleh gangguan homeostasis metabolisme besi dalam tubuh. Non tranferin bound iron (NTBI) adalah sebagian besi yang tidak dapat diikat transferin oleh karena keterbatasan kapasitas tranferin (Wood 2010; Maggio et al. 2011;
Gardenghi et al. 2015). Non tranferin bound iron dapat sebagai labil plasma iron (LPI) di plasma dan labil iron pool (LIP) di intra selular, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan melalui proses stress oksidatif (Wijarnpreecha, Kumfu, Chattipakorn, & Chattipakorn, 2015)
Peningkatan kadar besi plasma masih merupakan komplikasi yang terpenting pada secondary iron overload, salah satu kelainan yang banyak tersebar di dunia ialah β Thalassemia (Gardenghi, Grady, & Rivella, 2010; Gardenghi et al., 2015; Higgs, Thein, &
Wood, 2001). Overload besi dapat mengakibatkan penimbunan besi di intrasel yang akan mengakibatkan kerusakan organ dalam, yakni defisiensi endokrin, gagal jantung (Gujja, Rosing, Tripodi, & Shizukuda, 2010; Murphy & Oudit, 2010) maupun cirrhosis hepatis (Toledano et al., 2009). Sampai saat ini pengelolaan overload besi plasma dengan pemberian obat kelasi besi (Mokhtar, Gadallah, El Sherif, & Ali, 2013). Ion besi mempunyai 6 ikatan elektrokimia dimana ketika ke 6 ikatan elektrokimia diikat maka akan menonaktifkan ion besi bebas dan menghilangkan kemampuan untuk mengkatalisis reaksi redoks sehingga sel dapat terlindungi dari kerusakan (Prabhu, Prabhu, & Prabhu, 2009). Deferasirox merupakan salah satu obat kelasi besi yang mempunyai bentuk cukup stabil dan mempunyai kemampuan untuk menembus membran sel dan mengikat besi intrasel
Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh pemberian deferasirox terhadap terjadinya fibrosis hati pada mencit Balb-c model overload besi.
Urgensi Penelitian
Penelitian ini diperlukan untuk memberikan sumbangan ilmiah mengenai pengaruh pemberian deferasirox terhadap terjadinya fibrosis hati pada mencit Balb-c model overload besi.
Spesifikasi Khusus
Penelitian ini merupakan penelitian dasar bidang kesehatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Fibrosis Hati
Kadar besi dalam keadaan fisiologis diatur secara ketat, yakni dengan mengatur masuk dan keluarnya. Pengaturan ini untuk memenuhi kebutuhan fungsi metabolisme dan mencegah akumulasi/kelebihan besi yang bersifat toksik. Besi dalam sirkulasi berikatan dengan protein, hal ini untuk melindungi sel dari kerusakan oksidatif besi bebas. Terdapat 3 kompleks protein yang berperan mengikat besi yakni transferin, heme dan ferritin. Pada keadaan overload besi oleh karena keterbatasan transferin, ada sebagian besi yang tidak dapat diikat yakni sebagai non transferin bound iron (NTBI) (Gardenghi et al., 2015; Wood, 2010) Non transferin bound iron dapat sebagai labil plasma iron di plasma dan labil iron pool di intra selular yang menyebabkan kerusakan oksidatif (Wijarnpreecha et al., 2015)
Timbunan besi mengakibatkan kerusakan organ dalam yakni penurunan fungsi endokrin, kerusakan jantung maupun cirhosis hepatis (Toledano et al., 2009). Timbunan besi akan meningkatkan prooksidan radikal hidroksil, yang mengakibatkan peningkatan radika hidroksil, peroksidase, kerusakan lipid, protein dan DNA (Kaur, Sharma, Dhingra, & Singal, 2006). Kerusakan sel akan memicu untuk inflamasi dan menimbulkan fibrosis.
Sel fibroblast dapat berasal dari sel stelat hati, atau perubahan dari sel mesenchym yakni sel ephitelial dan endhothelial. Perubahan sel mesenchymal menjadi fibroblas dirangsang terutama oleh periostin dan tranforming growth factor betha (TGF β), yang akan merangsang epithelial-mesenchyma transformation (EMT) dan endothelial mesenchymal transformation (EndMT). Dalam keadaan patologis fibroblast selain berasal dari sel mesenchym dapat juga berasal dari penarikan sel dari sumsum tulang melalui sirkulasi darah (monosit, fibrosit sel progenitor). Fibrosis hati terjadi karena akumulasi fibroblast dan timbunan matrik ekstrasel yang berlebihan yang membentuk jaringan sikatrik (Van Linthout, Miteva, & Tschope, 2014). Kerusakan hati akan meningkatkan beberapa growth factor (TGF β, PDGF), sitokin (TNF α, IL1β, IL6), matrik ekstrasel dan menyebabkan deferensiasi fibroblast menjadi miofibroblast. Miofibroblast hanya terbentuk dalam keadaan patologis dan dapat meningkatkan protein matrik ekstra sel.
Kelasi Besi
Pengelolaan overload besi plasma dengan pemberian obat kelasi besi (Mokhtar et al., 2013). Ion besi mempunyai 6 ikatan elektrokimia dimana ketika ke 6 ikatan elektrokimia
diikat maka akan menonaktifkan ion besi bebas dan menghilangkan kemampuan untuk mengkatalisis reaksi redoks sehingga sel dapat terlindungi dari kerusakan (Prabhu et al., 2009)
Tiga bentuk ikatan elektrokimia kelasi besi dengan molekul besi. Deferoxamine mengikat 1 ikatan elektrokimia ion Fe membentuk ikatan hexadentate (1:1) yang paling stabil. Deferasirox mengikat 3 ikatan elektrokimia ion Fe (tridentate) membentuk 2 ikatan elektrokimia besi (2:1) yang stabil, sedangkan deferiprone berikatan dengan 2 ikatan elektrokimia ion Fe (bidentate) membentuk 3 ikatan ektrokimia besi (3:1) yang kurang stabil.
Ikatan elektrokimia kelasi besi dengan molekul besi yang tidak stabil membentuk kompleks ikatan yang tidak sempurna yang ikut berperan dalam pembentukan radikal bebas (Gammella, Recalcati, Rybinska, Buratti, & Cairo, 2015)
Deferoxamine merupakan obat standar kelasi besi yang aman dan efektif pada tahun 1970-an. Molekul Dfo sulit di absorpsi melalui traktus digestivus, dan pemakaiannya secara parenteral perlu waktu yang lama oleh karena waktu paruh yang pendek (20-30 menit) dan diekskresi melalui urin dan feses (Neufeld, 2006). Kelemahan kelasi dengan Dfo adalah harganya mahal, kepatuhan pemakaian yang rendah oleh karena waktu, secara parenteral dan waktu pemberian yang lama, serta komplikasi seperti gangguan pendengaran sensorineural.
Deferiprone yang pertama kali digunakan pada manusia tahun 1987. Deferiprone diberikan secara oral dengan waktu paruh 53-166 menit (Gatot, Amalia, Sari, & Chozie, 2007). Deferiprone mampu menembus membran sel dengan baik. Meskipun Dfp mempunyai efektifivitas yang baik dalam penurunan akumulasi besi di jantung, namun dapat menyebabkan komplikasi serius yakni agranulositosis, neutropenia, penurunan kadar Zn plasma, peningkatan transaminase hati, dan mengakibatkan fibrosis hati yang mungkin oleh karena masuknya besi ke dalam sel hati atau hepatitis C (Gatot et al., 2007; Olivieri &
Brittenham, 2013; Pepe et al., 2011). Amerika dan Canada tidak merekomendasikan penggunaan Dfp (Brittenham, 2011). adalah Dfx merupakan molekul tridentat, membentuk 2 ikatan elektrokimia ion Fe (2:1) yang cukup stabil, diberikan secara oral sekali sehari karena mempunyai waktu paruh yang lama 8-16 jam (Neufeld, 2006).
Obat kelasi besi yang terakhir dikembangkan Dfx mempunyai kemampuan yang setara dengan Dfo dalam menurunkan besi plasma (Pennell et al. 2014; Gammella et al. 2015).
Penelitian pada cell line kardiomiosit tikus (H9C2), makrofag mencit (J774) dan sel hati manusia (HEPG2), menunjukan Dfx mempunyai kemampuan yang lebih tinggi untuk menembus membran sel dan mengikat besi intra sel dibandingkan dengan deferiprone (Glickstein, El, Shvartsman, & Cabantchik, 2005). Penelitian dengan kelinci mongolian
jantan dewasa diberi iron dextran subkutaneus dosis 100 mg/kg, Dfx peroral dosis tunggal 100 mg/kg menurunkan besi intrasel di jantung, aktifitas apoptosis dan kadar caspase 3 (Wang et al., 2011). Efek samping Dfx yakni gangguan gastrointestinal, kemerahan pada kulit (Cappellini, 2006; Gatot et al., 2007; Poggiali, Cassinerio, Zanaboni, & Cappellini, 2012). Deferasirox mempunyai bentuk cukup stabil dan mempunyai kemampuan untuk menembus membran sel dan mengikat besi intrasel.
ROADMAP
2019 :
Efek deferasirox pada jantung (aktivitas apoptosis )
2020 :
Efek deferasirox pada hati (fibrosis hati)
2021 EFEK DEFERASIROX PADA MENCIT BALB-C MODEL OVERLOAD BESI
BAB III
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan pendekatan randomized posttest-only control group design. Desain penelitian dipilih untuk membandingkan dua kelompok atau lebih yang dialokasikan secara random dengan pengujian yang dilakukan sesudah perlakuan
Desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :
4 Mencit Balb/C : Diberikan Na Cl intraperitoneal intermiten
hari selama 8 minggu
Mencit Balb/C 12 ekor
4 mencit Balb-C Jantan diberikan Fe intra peritoneal 1,5 mg/hr secara intermiten hari
selama 8 minggu
4 mencit Balb-C diberikan Fe intra peritoneal 1,5 mg/hr secara intermiten hari selama 8 minggu dan
deferasirox 30 mg/kgbb/hari
O1
O2
O3
Subjek Uji
Subyek penelitian adalah mencit Balb/c jantan dan betina, umur 6-8 minggu, sehat, tanpa kelainan anatomi, berat badan 30-40 gram, diperoleh dari Unit Pemeliharaan Hewan Percobaan Universitas Gadjah Mada Jogyakarta. Kriteria inklusi untuk mendapatkan subyek yang setara antar kelompok:
1. Berat badan mencit Balb/c : 30 -40 gram
2. Kondisi sehat, bulu mengkilap, aktif bergerak dan tidak ada kelainan anatomi
Subjek uji dilakukan random alokasi untuk menentukan kelompok perlakuan. Penelitian dibagi menjadi 3kelompok, yakni:
- kelompok I yakni kelompok control dengan pemberian NaCl 0,9% intra peritoneal secara intermiten,
- kelompok II diberikan 1,5 mg dalam 75 µL Fe2+ sukrosa di injeksi secara intra peritoneal intermiten hari dan secara peroral pelarut obat/hari.
- Kelompok III diberikan 1,5 mg dalam 75 µL Fe2+ sukrosa di injeksi secara intra peritoneal intermiten hari dan secara peroral deferasirox dosis tunggal 20 mg/kgbb/hari Drop out Tikus dikeluarkan dari pengamatan jika selama perlakuan mengalami sakit/gejala tidak sehat (tidak bergerak aktif, bulu kusam), tidak mau makan
Variabel Penelitian
Jenis Variabel Definisi Operasional Unit Skala
Variabel Bebas Masukan Besi injeksi intra peritoneum iron-sukrose dengan dosis 1,5 mg besi dalam 75 µL besi sukrose, diberikan alterna/selang- seling hari selama 12 minggu (Italia et al., 2015)
mg Nominal
deferasirox Diberikan tiap hari dengan dosis 20 mg/Kg BB/hari
mg
Variabel terikat Fibrosis Hati Fraksi Area dari hasil pengecatan sirrius red dihitung pada 5 lapangan pandang secara acak dengan pembesaran 400 X . fraksi area positif fibrosis yakni area yang positif / seluruh area yang tidak positif
A.U Ratio
dinilai dengan software image J Alur Penelitian
Subyek penelitian sebanyak 12 ekor mencit Balb/c dibagi menjadi 3 kelompok dengan random alokasi untuk menentukan subyek dalam kelompok perlakuan. Tiap kelompok terdiri dari 4 ekor mencit Balb/c Mencit Balb/c. Sebelum perlakuan mencit diadaptasi selama 1 minggu
Kelompok 1 pertama diberikan injeksi NaCl 0,9 % intra peritoneum secara alternan selama 12 minggu dan peroral pelarut obat 2 cc/hari. Kelompok 2 dan 3 diberikan injeksi intra peritoneum iron-sukrose dengan dosis 1,5 mg, alternan hari selama 10 minggu, diberikan peroral pelarut obat 2 cc/hari dan deferasirox 30 mg/kgbb/hr.
BAB 4 : BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN 1.1 Anggaran Biaya
No Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan
(Global)
1 Honorarium pelaksana Rp 3.000.000,-
2 Bahan Habis pakai dan peralatan Rp 4.480.000,-
3 Perjalanan Rp. 1.020.000,-
4 Publikasi Rp. 1.500.000,-
Total Rp. 10.000.000,-
Justifikasi
1. Honorarium
Item Honor Volume Satuan Honor Jumlah
Peneliti Utama 55 Jam Rp 30.000,- Rp. 1.650.000,-
Anggota Peneliti 46 Jam Rp 25.000,- Rp. 1.150.000,-
Teknisi/laboran 20 Jam Rp 10.000,- Rp. 200.000,-
Sub Jumlah 1 Rp. 3.000.000,-
2. Bahan Habis Pakai Bahan dan
Peralatan
Volume Satuan Harga Jumlah
Pembuatan Preparat
12 Preparat Rp 20.000,- Rp. 240.000,-
Pengecatan sirrius red
12 Preparat Rp.20.000,- Rp.240.000,-
Mencit Balb c 20 Ekor Rp.20.000,- Rp. 400.000,-
Deferasirox 8 tab Rp. 150.000,- Rp. 1.200.000,-
Fe Sukrose 3 Ampul Rp. 200.000,- Rp. 600.000,- NaCL, Pelarut 4 500 cc/botol Rp. 75.000,- Rp 300.000,- Pemeliharaan
hewan coba
10 Minggu Rp. 200.000,- Rp.1.500.000,-
Sub Jumlah 2 Rp. 4.480.000,-
3. Perjalanan dan lain2
Perjalanan Volume Satuan harga Jumlah
Pembacaan preparat
16 preprat Rp 50.000,- Rp 600.000 ,-
perjalanan 1 paket Rp. 420.000,- Rp. 420.000,-
Sub Jumlah 3 Rp. 1.020.000,-
4. Lain-lain Publikasi dan Ethical clearance
1 unit Rp. 1.500.000,- Rp 1.500.000,-
Sub Jumlah 4 Rp. 1.500.000,-
1.2 Jadwal Penelitian
No Jenis kegiatan
Bulan ke
I II III IV V VI 1 Pembuatan ethical clearence
2 Persipan penelitian dan subye penelitian 3 Pelaksanaan Penelitian
4 Analisis hasil
5 Penyusunan laporan dan publikasi
Daftar Pustaka
Brittenham, G. M. (2011). Iron-chelating therapy for transfusional iron overload. The New England Journal of Medicine, 364(15), 1475–1476; author reply 1477.
https://doi.org/10.1056/NEJMct1004810
Cappellini, M. D. (2006). A phase 3 study of deferasirox (ICL670), a once-daily oral iron chelator, in patients with beta-thalassemia. Blood, 107(9), 3455–3462.
https://doi.org/10.1182/blood-2005-08-3430
Gammella, E., Recalcati, S., Rybinska, I., Buratti, P., & Cairo, G. (2015). Iron-Induced Damage in Cardiomyopathy : Oxidative-Dependent and Independent Mechanisms.
Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2015.
Gardenghi, S., Grady, R. W., & Rivella, S. (2010). Anemia, ineffective erythropoiesis, and hepcidin: interacting factors in abnormal iron metabolism leading to iron overload in β- thalassemia. Hematology/Oncology Clinics of North America, 24(6), 1089–1107.
https://doi.org/10.1016/j.hoc.2010.08.003
Gardenghi, S., Marongiu, M. F., Ramos, P., Guy, E., Breda, L., Chadburn, A., … Rivella, S.
(2015). Ineffective erythropoiesis in  -thalassemia is characterized by increased iron absorption mediated by down-regulation of hepcidin and up-regulation of ferroportin.
109(11), 5027–5036. https://doi.org/10.1182/blood-2006-09-048868.The
Gatot, D., Amalia, P., Sari, T. T., & Chozie, N. A. (2007). Pendekatan Mutakhir Kelasi Besi pada Thalassemia. Sari Pediatri, 8(4), 78–84.
Glickstein, H., El, R. Ben, Shvartsman, M., & Cabantchik, Z. I. (2005). Intracellular labile iron pools as direct targets of iron chelators: A fluorescence study of chelator action in living cells. Blood, 106(9), 3242–3250. https://doi.org/10.1182/blood-2005-02-0460 Gujja, P., Rosing, D. R., Tripodi, D. J., & Shizukuda, Y. (2010). Iron overload
cardiomyopathy: better understanding of an increasing disorder. Journal of the American College of Cardiology, 56(13), 1001–1012.
https://doi.org/10.1016/j.jacc.2010.03.083
Higgs, D. R., Thein, S. K., & Wood, W. (2001). The pathophysiology of the thalassaemias. In D. J. Weatherall & B. Clegg, J (Eds.), The Thalassaemia Syndromes (6th ed., pp. 192–
236). victoria: Blackwell Science.
Italia, K., Colah, R., & Ghosh, K. (2015). Experimental animal model to study iron overload and iron chelation and review of other such models. Blood Cells, Molecules, and Diseases, 55(3), 194–199. https://doi.org/10.1016/j.bcmd.2015.06.003
Kaur, K., Sharma, A. K., Dhingra, S., & Singal, P. K. (2006). Interplay of TNF-alpha and IL- 10 in regulating oxidative stress in isolated adult cardiac myocytes. Journal of Molecular and Cellular Cardiology, 41(6), 1023–1030.
https://doi.org/10.1016/j.yjmcc.2006.08.005
Maggio, A., Filosa, A., Vitrano, A., Aloj, G., Kattamis, A., Ceci, A., … Gluud, C. (2011).
Iron chelation therapy in thalassemia major: A systematic review with meta-analyses of 1520 patients included on randomized clinical trials. Blood Cells, Molecules, and Diseases, 47(3), 166–175. https://doi.org/10.1016/j.bcmd.2011.07.002
Mokhtar, G. M., Gadallah, M., El Sherif, N. H., & Ali, H. T. (2013). Morbidities and mortality in transfusion-dependent Beta-thalassemia patients (single-center experience).
Pediatr Hematol Oncol, 30(2), 93–103. https://doi.org/10.3109/08880018.2012.752054 [doi]
Murphy, C. J., & Oudit, G. Y. (2010). Iron-overload cardiomyopathy: pathophysiology, diagnosis, and treatment. Journal of Cardiac Failure, 16(11), 888–900.
https://doi.org/10.1016/j.cardfail.2010.05.009
Neufeld, E. J. (2006). Oral chelators deferasirox and defefiprone for transfusional iron overload in thalassen a major: new data, new questions. Blood, 107(9), 3436–3441.
https://doi.org/DOI 10.1182/blood-2006-02-002394
Olivieri, N. F., & Brittenham, G. M. (2013). Management of the thalassemias. Cold Spring
Harbor Perspectives in Medicine, 3(6), 1–35.
https://doi.org/10.1101/cshperspect.a011767
Pennell, D. J., Porter, J. B., Piga, A., Lai, Y., El-Beshlawy, A., Belhoul, K. M., … Aydinok, Y. (2014). A 1-year randomized controlled trial of deferasirox vs deferoxamine for myocardial iron removal in β-thalassemia major (CORDELIA). Blood, 123(10), 1447–
1454. https://doi.org/10.1182/blood-2013-04-497842
Pepe, A., Meloni, A., Capra, M., Cianciulli, P., Prossomariti, L., Malaventura, C., … Maggio, A. (2011). Deferasirox, deferiprone and desferrioxamine treatment in thalassemia major patients: Cardiac iron and function comparison determined by quantitative magnetic
resonance imaging. Haematologica, 96(1), 41–47.
https://doi.org/10.3324/haematol.2009.019042
Poggiali, E., Cassinerio, E., Zanaboni, L., & Cappellini, M. D. (2012). An update on iron chelation therapy. Blood Transfusion, 10(4), 411–422.
https://doi.org/10.2450/2012.0008-12
Prabhu, R., Prabhu, V., & Prabhu, R. S. (2009). IRON OVERLOAD IN BETA THALASSEMIA – A Review. Journal of Bioscience Technology, 1(1), 20–31.
Toledano, M., Kozer, E., Goldstein, L. H., Abu-Kishk, I., Bar-Haim, A., Siman-Tov, Y., … Berkovitch, M. (2009). Hepcidin in acute iron toxicity. The American Journal of Emergency Medicine, 27(7), 761–764. https://doi.org/10.1016/j.ajem.2008.06.003 Van Linthout, S., Miteva, K., & Tschope, C. (2014). Crosstalk between fibroblasts and
inflammatory cells. Cardiovascular Research, 102(2), 258–269.
https://doi.org/10.1093/cvr/cvu062
Wang, Y., Wu, M., Al-rousan, R., Liu, H., Fannin, J., Paturi, S., … Blough, E. R. (2011).
Iron-Induced Cardiac Damage : Role of Apoptosis and Deferasirox Intervention. J Pharmacol Exp Ther, 336(1), 56–63. https://doi.org/10.1124/jpet.110.172668.of
Wijarnpreecha, K., Kumfu, S., Chattipakorn, S. C., & Chattipakorn, N. (2015).
Cardiomyopathy Associated with Iron Overload: How Does Iron Enter Myocytes and What are the Implications for Pharmacological Therapy? Hemoglobin, 39(1), 9–17.
https://doi.org/10.3109/03630269.2014.987869
Wood, J. C. (2010). Cardiac iron across different transfusion-dependent diseases. 48(Suppl 2), 1–6. https://doi.org/10.1097/MPG.0b013e3181a15ae8.Screening
Lampiran 1 : Susunan Organisasi tim Peneliti dan Pembagian Tugas No Nama, NIK, Fakultas Alokasi
Waktu
(Jam/ Minggu)
Uraian Tugas
1 dr. Ulfah Dian Indrayani, M.Sc.
55 - Menyiapkan proposal
- Melaksanakan penelitian - Melakukan penulisan hasil
dan laporan
- Menyiapkan publikasi 2 dr. Hadi Sarosa, M.Kes 46 - Melaksanakan penelitian
- Melakukan penulisan hasil dan laporan
- Menyiapkan publikasi
3 Ami Oktaviani 20 - Membantu melaksanakan
penelitian
Lampiran 2 : Biodata Ketua 1. Biodata Ketua Peneliti A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap (dengan gelar) dr. Ulfah Dian Indrayani, M.Sc
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Jabatan Fungsional Lektor 4 NIP/NIK/Identitas lainnya 210204081
5 NIDN 0606097901
6 Tempat dan Tanggal Lahir Semarang, 06 September 1979
7 E-mail [email protected] / [email protected] 9 Nomor Telepon/HP 082227786234
10 Alamat Kantor Jalan Raya Kaligawe Km. 4 Semarang 50112 11 Nomor Telepon/Faks 0246583584
12 Lulusan yang Telah Dihasilkan S-1 = 40 orang; S-2 = … orang; S-3 = … orang
13. Mata Kuliah yg Diampu
1 Histologi
2 Modul Urogenitalia 3 Modul Enterohepatika Dst.
2. RiwayatPendidikan
S-1 S-2
Nama Perguruan Tinggi Universitas Islam Sultan Agung
Universitas Gajah Mada
Bidang Ilmu Kedokteran umum Ilmu Kedokteran Dasar dan biomedis
Tahun Masuk-Lulus 1997-2003 2007-2010
Judul Skripsi/Tesis/Disertasi Pengaruh pemberian daun tapak dara terhadap kadar glukosa darah tikus jantan galur wistar
Status metilasi promoter gena RASSF1A, RAR2, dan BRCA1 pada DNA plasma kanker payudara, lesi jinak payudara dan individu sehat
Nama
Pembimbing/Promotor
Dra. Atina Hussana, Apt, M.Si
dr. Muhtarom, M.Kes
Dra. Dewajani Purnomosari, M.Si, Phd
dr. Irianiwati, SpPA
3. Pengalaman Penelitian Dalam 5 TahunTerakhir (Bukan Skripsi, Tesis, dan Disertasi)
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta Rp) 1 2012 Aktivitas Anti Proliferasi Ekstrak Melia azedarach
terhadap Kultur Kanker Payudara MCF-7 secara In- Vitro
YBWSA 15.000.000
2 2012 Pengaruh Formula Jamu Penurun Tekanan Darah
Tinggi terhadap Fungsi Hati dan Ginjal. Studi Eksperimental pada Tikus yang Diinduksi Adrenalin Intraperitoneal
YBWSA 50.000.000
3 2012 Pengaruh Pemberian Ekstrak Aliumsativum terhadap Luas Area Glomerular Tuft pada Ginjal Tikus Spraque Dawley Jantan yang Diinduksi dengan Streptozotocin
YBWSA 10.000.000
4 2013 Aktivitas Antiproliferasi Ekstrak Melia Azadirachta Terhadap Kultur Kanker Payudara MCF-7 Secara Invitr
YBWSA 15.000.000
5 2013 Pengaruh Ekstrak Alium Sativum Terhadap Diameter
Glomerulus Ginjal Tikus Sparaque Dawley Jantan Yang Diinduksi Dengan Streptozotocin
YBWSA 10.000.000
6 2014 Aktivitas antiproliferasi Ekstrak Melia azadirachta Terhadap Kultur Kanker Payudara MCF-7 Secara Invitro
YBWSA 15.000.000
7 2014 Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Ekspresi
Insulin Pada Tikus diabetes Yang Diinduksi Alloxa
YBWSA 10.000.000
8 2015 Efek Ekstrak Etil Asetat Melia Azedarach terhadap Aktivitas Proliferasi Lini Sel Kanker Payudara
YBWSA 10.000.000
9 2015 Pengaruh Lendir Belut terhadap Ekspresi TGF a Pada Luka Sayat
YBWSA 10.000.000
10 2015 Pengaruh Penggunaan Sub Kronik Jamu Penurun
Tekanan Darah terhadap Inflamasi pada Ginjal Tikus Putih Galur Wistar
YBWSA 50.000.000
11 2015-2016 Uji Klinik Formula Jamu Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Ringan
PTUPT DIKTI
62.000.000
12 2017-2018 Efek Antianemia Kombinasi Ekstrak Daun Katuk dan Daun Kelor
YBWSA 50.000.000
* Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema penelitian DRPM maupun dari sumber lainnya.
4. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 TahunTerakhir
No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan
Sumber* Jml (Juta Rp)
1 2015 Pengenalan 6 Langkah Cuci Tangan yang benar YBWSA 2.500.000
2 2016 Kesehatan Reproduksi Remaja YBWSA 2.000.000
3 2017 Gangguan Cemas Mandiri 500.000
Dst.
*TuliskansumberpendanaanbaikdariskemapengabdiankepadamasyarakatDRPMmaupun dari sumberlainnya.
5. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal dalam 5 TahunTerakhir
No. Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/
Nomor/Tahu 1 Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Kadar n
Malondialdehyde (MDA) Plasma Darah pada Tikus yang Diinduksi Alloxan Studi Experimental pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar
Sains Medika Vol 5, No 2 (2013)
2 Pengaruh Ekstrak Alium sativum terhadap Diameter Glomeruli Ginjal Tikus Sprague Dawley Jantan yang Diinduksi Streptozotocin
Sains Medika Vol 5, No 1 (2013) 3 The Correlation between Duration of Employment,
Body Posture and Smoking Habit on Low Back Pain Incidence An Analytic Observational Study Among Taxi Driver in Semarang Municipality
Sains Medika Vol 6, No 1 (2015)
4 Formula Jamu Antihipertensi and captopril are equally effective in patients with hypertension
Universa Medicina
Vol.35, No.2 (2016) 5 The Effects Comparisons of Sauropus androgynous,
Moringa oleiefera alone and in combination on iron deficiency in anemia rats
Bangladesh Journal of Medical Science pISSN : 2223- 4721 eISSN 2076-0299 Ibn Sina Trust Vol 18, No 1 (2019) Hal:
136-140
Indexed by
Vol 18, No 1 (2019) Hal: 136- 140
6 Plasma DNA as a potential biomarker for breast cancer detection
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)
Vol 48, No 4, Oktober ,2018, hal. 200-205 7 Hypoxia-preconditioned MSCs Have Superior Effect in
Ameliorating Renal Function on Acute Renal Failure Animal Mode
Macedonian Journal of Medical Sciences
Vol 7, No 3, Februari (2019) Hal: 305-310
6. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 TahunTerakhir No Nama Temu ilmiah /
Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Tempat 1 International on human’s
health aging dan sciences
The Effect Of Subchronic Treatment Of Antihypertensive Herbal Formula On The Hepatic And Renal Histopathology Of Wistar Strain White Rats
Semarang, 2015
7. Karya Buku dalam 5 TahunTerakhir
No Judul Buku Tahun Jumlah
Halaman Penerbit 1
2 3 Dst.
8. Perolehan HKI dalam 10 TahunTerakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1 2 3 Dst.
9. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya dalam10 TahunTerakhir
No. Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Lainnya
yang Telah Diterapkan Tahun Tempat Penerapan
Respon Masyarakat 1
2 3 Dst.
10. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atauinstitusi lainnya)
No. Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan Tahun 1
2 3 Dst.