• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM MELALUI KEGIATAN JUMAT IBADAH TERHADAP

MORAL RELIGIUS PESERTA DIDIK DI MI AL-ABRAR MAKASSAR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Jurusan Pendidikan Agama Islam pada

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

MUHAMMAD SYAHRUL NIM: 20100120076

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2024

(2)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Syahrul

NIM : 20100120076

Tempat/Tgl. Lahir : Laerung, 07 Februari 2001 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Alamat : Jl. Deppasawi Dalam RT 011/RW 003

Judul :Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al-Abrar Makassar

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar merupakan hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat oleh orang lain sebagaian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Samata, 11 Januari 2024 Penyusun,

Muhammad Syahrul NIM: 20100120076

(3)

ii

(4)

iv

KATA PENGANTAR

ِميِحهرلٱ حۡمَٰنِهرلٱ ِ هللَّٱ بِسۡمِ

لعو نيلس رملاو ءايبن لأا فرشأ ىلع ملاسلاو ة لاصلاو نيمل اعلا بر الله دمحلا دعب اما نيعمجا هبحصو هلا

Puji syukur kehadiran Allah telah memberikan nikmat kesempatan, kesehatan dan kemudahan pada penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Pesera Didik di MI Al Abrar Makassar”. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah saw, kepada para sahabat, sahabiya, tabi’in, dan orang-orang yang senantiasa beriman hingga takdir berlaku atas diri-diri mereka.

Dalam proses penyelesaian skripsi, penyusun telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakannya. Skripsi ini disusun guna untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana. Dengan demikian penyusun menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada kedua orangtua, ayahanda Muh. Yunus dan ibunda Darmawati atas segala cinta, kasih sayang serta doa dan dukungan yang diberikan kepada anaknya. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada saudara Arman, S.Pd. dan Muhammad Yusril atas segala doa serta motivasi yang selalu diberikan sehingga sampai pada tahapan ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam proses penyelesaian studi hingga mencapai tingkat tertinggi pendidikan formal, khususnya dalam penyelesaian skripsi penelitian ini, telah melibatkan banyak pihak, maka dari itu penyusun menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., Rektor UIN Alauddin Makassar beserta Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M.Ag., Wakil Rektor II, Dr. H. Andi Aderus Lc., M.Ag., Wakil Rektor III, Prof. Dr. H.

(5)

Muhammad Khalifah Mustami, M.Pd., dan Wakil Rektor IV, Prof. Dr. H.

Muhammad Amri, Lc., M. Ag., yang telah membina dan memimpin UIN Alauddin Makassar menjadi tempat bagi peneliti untuk memperoleh ilmu baik dari segi akademik maupun ekstrakurikuler.

2. Dr. H. A. Achruh AB Pasinringi., M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, Wakil Dekan I, Dr. H.

Muh Rapi, M.Pd., Wakil II, Dr. M. Rusdi T., M.Ag., dan Wakil III, Dr.

Ridwan Idris, S.Ag., M.Pd., yang telah membina penyusun selama proses penyelesaian masa studi.

3. Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A. dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I., selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Alauddin Makassar yang telah memberikan petunjuk dan arahannya selama penyelesaian kuliah

4. Dr. Nuryamin, M.Ag. dan Rofiqah Al Munawwarah, S.Pd.I., M.Pd., pembimbing I dan II yang telah bersedia dan bersabar meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing dan mengarahkan penyusun dari awal hingga selesainya skripsi ini.

5. Dr. H. Syamsul Qamar., M.Th.I., dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I., penguji I dan penguji II yang telah memberikan arahan, koreksi dan pengetahuan baru dalam penyusunan skripsi ini, serta membimbing penyusun sampai tahap penyelesaian.

6. Andi Harmiah Tannang, S.Pd.I., M.Pd.I., selaku kepala madrasah MI Al Abrar Makassar beserta staf dan seluruh guru-guru yang memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

(6)

7. Seluruh keluarga yang selalu membantu, mendukung serta memberikan semangat dan menghibur selama proses penyusunan skripsi ini hingga selesai.

8. Kerabat yang telah membantu saya saat kesulitan dalam menyusun hasil penelitian, yaitu Akmal Riswandi, S.Pd.

9. Para sahabat terkhusus Khusnul Khatimah, sahabat saya Ahmad Yusuf Nawir, Faisal, Akbar Ayatullah Al-Hamdi, Ahmad Dahlan, Muhammad Syuhufi, Mustari, Muh. Ichsan Malik, Nur Alim, Khaerunnisaa, Dwi Alpina Ramadhani, Hannurjannah Hasanuddin, A. Nurul Rezky Amalya Putri. A yang telah membantu dalam menyelesaikan penyusunan skripsi dengan memberikan motivasi, saran, kritik, dan menjadi tempat berbagi keluh kesah selama penyusunan skripsi.

10. Teman-teman seperjuangan di Jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2020 tanpa terkecuali, khusus kepada teman-teman mahasiswa jurusan PAI C yang telah banyak membantu dan memberikan pengalaman serta kenangan yang tidak akan pernah terlupakan kepada penyusun selama menjalani pendidikan di UIN Alauddin Makassar.

11. Seluruh pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan namanya satu persatu yang telah banyak memberikan uluran bantuan baik bersifat moril dan materi kepada penulis selama kuliah hingga penyusunan skripsi ini.

12. Terakhir untuk diri saya sendiri yang sudah mampu berjuang hingga bisa menyelesaikan skripsi, bertahan sampai saat ini untuk bisa menggapai tujuan dan harapan orang tua untuk menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam serta semoga bisa mencapai hal yang lebih tinggi lagi Aamiin.

(7)

Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu, penyusun berharap akan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.

Samata, 11 Januari 2024 Penyusun,

Muhammad Syahrul

NIM: 20100120076

(8)

ix DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Hipotesis ... 9

D. Definisi Operasional Variabel ... 10

E. Kajian Pustaka ... 11

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 15

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 17

A. Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam ... 17

B. Kegiatan Jumat Ibadah ... 25

C. Moral Religius Peserta Didik ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 35

A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 35

B. Pendekatan Penelitian ... 36

C. Variabel dan Desain Penelitian ... 36

D. Populasi dan Sampel ... 38

E. Metode Pengumpulan Data ... 40

F. Instrumen Penelitian... 41

G. Validitas dan Realibilitas Instrumen ... 44

H. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 46

(9)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 52

A. Hasil Penelitian ... 52

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 73

BAB V PENUTUP ... 82

A. Kesimpulan ... 82

B. Implikasi Penelitian ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

(10)

xi DAFTAR TABEL

Tabel 1. 1 Operasional Variabel ... 10

Tabel 3. 1 Jumlah Populasi Peserta Didik Kelas IV, V dan VI MI Al-Abrar Makassar ... 38

Tabel 3. 2 Jumlah Sampel Peserta Didik Kelas V Zaid bin Haritsah, dan VI Ali bin Abi Thalib MI Al-Abrar Makassar ... 39

Tabel 3. 3 Sistem Penskoran Instrumen Penelitian ... 42

Tabel 3. 4 Kisi-kisi Instrumen Penilaian ... 43

Tabel 4. 1 Rekapitulasi Hasil Angket tentang Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah ... 53

Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi dan Presentase Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah ... 56

Tabel 4. 3 Menghitung Rata-rata (mean) Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah ... 57

Tabel 4. 4 Menghitung Standar Deviasi Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah ... 57

Tabel 4. 5 Analisis Deskriptif Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah ... 58

Tabel 4. 6 Kategorisasi Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan umat Ibadah ... 59

Tabel 4. 7 Rekapitulasi Hasil Angket tentang Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar ... 60

Tabel 4. 8 Distribusi Frekuensi dan Presentase Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar ... 63

Tabel 4. 9 Menghitung Rata-rata (Mean) Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar ... 64

Tabel 4. 10 Menghitung Standar Deviasi Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar ... 64

Tabel 4. 11 Analisis Deskriptif Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar ... 65

Tabel 4. 12 Kategorisasi Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar ... 66

Tabel 4. 13 Uji Normalitas ... 68

Tabel 4. 14 Tabel Model Summary (X-Y) ... 71

Tabel 4. 15 Uji Hipotesis ... 72 Tabel 4. 16 Data Observasi Kegiatan Jumat Ibadah di MI Al Abrar Makasssar . 75

(11)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4. 1 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 68

Gambar 4. 2 Anova ... 69

Gambar 4. 3: Coefficients ... 70

Gambar 4. 4: Model Summary... 71

Gambar 4. 5: Coefficients ... 72

(12)

viii ABSTRAK Nama : Muhammad Syahrul NIM : 20100120076

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul : Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar

Skripsi ini membahas tentang Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar yang bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan pelaksanaan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah pada peserta didik MI Al-Abrar Makassar; 2) Mendeskripsikan gambaran moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar; 3) Menganalisis pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap perkembangan moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif expost facto. Adapun sumber data pada penelitian ini adalah peserta didik MI Al Abrar Makassar kelas V dan VI dengan sampel 73 orang peserta didik. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala likert untuk mengetahui skala pengaruh penanaman nilai- nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah dan skala moral religius peserta didik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi linear sederhana.

Berdasarkan hasil penelitian pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah berada pada kategori tinggi sebanyak 27 responden dengan presentase 37%, sedangkan hasil moral religius peserta didik berada pada kategori tinggi sebanyak 28 responden dengan presentase 38%. Dari hasil uji signifikansi maka menunjukkan bahwa variabel penanaman nilai Pendidikan Islam memiliki nilai koefisien yang bernilai positif sebesar 0,159, memiliki nilai thitung sebesar 1,611 < ttabel 1,669, serta nilai signifikan sebesar 0,116

> 0,05 yang berarti H1 diterima sedangkan H0 ditolak. Artinya ada pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar.

Implikasi dari penelitian ini, yaitu Bagi sekolah yang diteliti, Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan kedepannya dalam memaksimalkan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan Jumat Ibadah di MI Al Abrar Makassar. Guru atau pendidik, guru adalah teladan bagi anak didiknya di sekolah, sehingga diharapkan penelitian ini bisa memberikan informasi kepada guru untuk terus menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam kepada peserta didik.

Bagi peneliti selanjutnya, tentunya penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, namun diharapkan dengan penelitian ini dapat menjadi rujukan kepada peneliti selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yang serupa atau dengan faktor-faktor lainnya.

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pesatnya perkembangan zaman tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengimbangi perkembangan tersebut. Untuk menghasilkan sumber daya yang berkualitas salah satunya, yaitu menempuh pendidikan, karena pendidikan adalah sebuah proses untuk menggali potensi yang ada di dalam diri setiap individu, mempelajari sesuatu yang awalnya tidak diketahui menjadi diketahui. Oleh karena itu, orang yang berpendidikan tinggi tentunya memiliki potensi lebih untuk menghadapi realita kehidupan dibandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan.

Tidak sedikit orang yang menyepelekan pendidikan, bahkan sampai ada yang menganggap pendidikan itu tidak penting, sebab hanya membuang waktu dan biaya. Pemikiran seperti inilah yang membuat kualitas sumber daya manusia tidak berkembang dan tentu pemikiran seperti ini harus dihilangkan. Sesuai yang tertuang dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II, berbunyi :

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokrasi dan bertanggungjawab.1

Berdasarkan Undang-undang di atas, jelas menegaskan bahwa pendidikan itu sangatlah penting karena berfungsi sebagai ajang untuk mengembangkan potensi diri dengan tujuan menjadi manusia yang bisa memberi impact yang baik terhadap bangsa dan negara.

1Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta : 2006), h. 76.

(14)

Pendidikan adalah satu upaya yang dilakukan secara sadar, terencana untuk terwujudnya proses belajar dan pembelajaran untuk mengembangkan potensi jasmani, rohani dan potensi lainnya, sehingga dapat berkembang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor serta dapat hidup secara harmonis dalam kehidupan.2 Dalam pendidikan terjadi proses pembelajaran yang terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri, salah satunya mengembangkan secara optimal setiap potensi yang dimiliki peserta didik.

Pada hakikatnya, sejarah manusia tidak dapat dipisahkan dari pendidikan.

Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama, Allah swt telah menginformasikan bahwa Adam diajarkan berbagai hal termasuk berbagai nama- nama benda. Setelah diajarkan nama-nama benda, Allah swt kemudian menguji kemampuannya dengan meminta Adam menyebutkan semua nama-nama benda tersebut.3 Firman Allah swt dalam QS al-Baqarah/2: 31.

ِبنۢ َ

أ َلاَقَف ِةَمِئَٰٓ َلَهألٱ َ َعَل أمله َضَرَع هملث اَهه لكُ َءٓاَهأسَ ألۡٱ َمَداَء َمهلَعَو نِإ ِء ٓ َلَلؤَٰٓ َه ِءٓاَهأسَأِة ِنِولٔ ٔ

َيِقِدَٰ َص أملتن لل (

١٣ )

Terjemahnya :

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada- Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”.4

Ayat di atas, mengindikasikan dua hal: Pertama, bahwa sejarah pendidikan lahir seiring dengan pengangkatan manusia sebagai khalifah. Manusia disebut hayawanun nathiq (homo sapiens/memiliki kecerdasan) dan ada hayawanun

2Hamengkubowono, Ilmu Pendidikan dan Teori-Teori Pendidikan (Curup: LP2 STAIN, 2016), h. 5.

3Munir Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan (Palopo: Lembaga Penerbit IAIN Palopo, 2018), h. 1.

4Kementerian Agama RI, Al-Qur‟anulkarim : Al-Qur‟an Hafalan Perkata (Jakarta : Al- Qosbah, 2020), hal. 6.

(15)

ghairu nathiq (homo erectus). Kedua, pendidikan inheren dengan kehidupan manusia. Dalam perspektif teori pendidikan modern, ayat di atas, juga menjelaskan lima unsur pokok dalam dalam proses pendidikan dan pembelajaran, yaitu: (1) pendidik, yaitu Allah swt, (2) peserta didik, yaitu Adam a.s, (3) materi pendidikan yaitu pembelajaran tentang nama-nama benda, (4) metode yaitu bagaimana Allah swt mengajarkan Adam tentang nama-nama benda tersebut, (5) evaluasi, yaitu Adam diuji kemampuannya dengan menyebutkan nama-nama benda yang telah diajarkan kepadanya.5 Kelima unsur tersebut tentunya sangat penting dalam proses pendidikan, karena apabila ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi maka akan terjadi kepincangan dan tidak tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan merupakan suatu kesatuan yang memiliki berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Apabila menginginkan pendidikan secara terstruktur dan terencana maka berbagai elemen harus saling terkoneksi dan mengenali satu sama lainnya. Hakikat Pendidikan tidak saja merupakan usaha membangun dan mewariskan nilai-nilai yang akan menjadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan, tetapi juga untuk memperbaiki nasib dan peradabannya. Pendidikan adalah proses usaha manusia untuk mengembangkan potensi diri, baik fisik maupun mental.

Pendidikan menjadi salah satu wadah dalam menimba ilmu pengetahuan, membentuk nilai-nilai sikap dan kepribadian yang lebik baik serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Salah satu tempat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan adalah sekolah.

Bentuk pendidikan di Indonesia sangat beragam, mulai dari Pendidikan formal sampai ke pendidikan nonformal, pemerintah telah menetapkan program 12 tahun

5Munir Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, h. 2.

(16)

(SD, SMP, SMA) untuk menyelesaikan pendidikan formal. Sedangkan pendidikan nonformal tidak ditetapkan waktu yang pasti untuk menyelesaikannya, contohnya Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan di Indonesia. Berbicara mengenai pendidikan tidak lepas dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam ini sudah mulai diajarkan mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai ke tingkat tertinggi yakni Sekolah Menengah Atas (SMA). Tujuannya ialah agar para peserta didik bisa menanamkan nilai-nilai keislaman sejak usia dini.6 Setiap individu memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan baik secara formal maupun nonformal, namun jika ingin mendapatkan pendidikan secara sistematis dan terstruktur, maka hal itu bisa didapatkan dalam lembaga pendidikan formal yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam pendidikan terjadi proses mendidik. Mendidik bukanlah hal yang mudah, bukan hanya sebatas transfer ilmu, melainkan lebih dari itu. Mendidik adalah upaya membentuk karakter peserta didik, suatu peradaban akan maju apabila manusianya terdidik. Juga sebaliknya, buruknya karakter manusia juga berdampak pada mundurnya suatu peradaban. Bagi sebagian orang, mendidik hanya pada seputar membaca, menulis, kerja tugas. Namun sejatinya pendidikan adalah upaya menghantarkan manusia dari lembah gelap menuju terangnya cahaya ilmu, dengan kata lain mengajarkan peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu, tentu dengan memperhatikan aspek penunjang lainnya, seperti aspek jasmani, aspek rohani, aspek diri, aspek sosial, aspek kognitif, aspek afektif dan psikomotor, serta hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

6Bekti Taufik Ari Nugroho dan Mustaidah, “Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PNPM Mandiri” Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, (2017), h. 75.

(17)

Mendidik seorang anak hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kelembutan, karena seorang anak adalah peniru yang baik, jadi dia akan meniru dan merekam segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya ke dalam memorinya. Oleh karena itu, dengan melihat betapa pentingnya lingkungan terhadap tumbuh kembang seorang anak, maka orang tua atau pendidik hendaknya bisa memberikan contoh dan teladan yang baik agar nantinya akan diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Dalam rangka membentuk peserta didik yang paham akan nilai-nilai keislaman, maka dalam dunia pendidikan sangat diperlukan adanya penanaman nilai-nilai pendidikan Islam. Nilai-nilai yang dimaksud ada tiga, (1) Nilai i’tiqodiyah, yakni nilai yang memuat hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan berkaitan dengan pendidikan keimanan meliputi percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan takdir. (2) Nilai khuluqiyah yakni nilai yang memuat tentang tingkah laku (akhlak), moral, dan etika bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku tercela dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji. (3) Nilai amaliyah, merupakan nilai yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari hari, meliputi pendidikan ibadah dan muamalah.7 Tentu diharapkan nilai-nilai pendidikan tersebut bisa tertanam dalam diri peserta didik sehingga menghasilkan pribadi yang bertakwa.

Untuk membentuk generasi Islami di era sekarang ini, sangat wajib memperhatikan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam baik di bangku sekolah maupun dalam kesehariannya di rumah. Nilai-nilai pendidikan Islam ini sudah memuat hal yang diperlukan peserta didik sebagai bentuk pembelajaran yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang disebutkan di atas akan menjadi indikator dalam penelitian ini.

7Bekti Taufik Ari Nugroho dan Mustaidah, “Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PNPM Mandiri” h. 75-76.

(18)

Selain menanamkan nilai pendidikan Islam, guru di sekolah juga hendaknya memperhatikan aspek moral peserta didik. Moral adalah tingkah laku baik dalam menjalani kehidupan yang didasarkan pada pandangan agama tertentu, sehingga dapat membedakan antara baik dan buruk yang menjadi pedoman dalam mengambil keputusan. Istilah lain dari moral adalah akhlak, bisa juga disebut dengan etika. Oleh karena itu, moral yang baik menjadi hal penting untuk dimiliki oleh setiap individu, sebagaimana Allah swt mengutus nabi Muhammad saw untuk memperbaiki akhlak seluruh umatnya. Sesuai firman Allah dalam QS al- Anbiya/21: 107.

َيِه َلََٰعألِ ل ٗةَ أحَۡر هلَِإ َكََٰنألَسأرَأ ٓاَنَو (

٣٠١ )

Terjemahnya:

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.8

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tujuan pengutusan nabi Muhammad, yakni sebagai rahmat bagi seluruh alam, baik dalam masalah agama ataupun duniawi. Dalam masalah agama, nabi Muhammad membebaskan manusia dari jerat kesesatan dan kebodohan, sedangkan dalam masalah duniawi, nabi Muhammad memberi mereka pertolongan dan kemuliaan di bawah naungan Islam serta membebaskan mereka dari lembah kehinaan,dan pertikaian panjang.9 Jelas diterangkan dalam ayat tersebut bahwa nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat yang dimaksud di sini adalah orang yang terhindar dari berbagai macam penyakit hati, seperti iri, dengki, riya dan sebagainya. Orang-orang yang masuk dalam kategori terhindar dari penyakit hati adalah orang-orang yang sabar, tawakkal, dan ikhlas. Orang-orang yang memiliki ketiga sifat tersebut tentunya adalah orang-orang yang beriman dan sudah pasti

8Kementerian Agama RI, Al-Qur‟anulkarim : Al-Qur‟an Hafalan Perkata (Jakarta : Al- Qosbah, 2020), hal. 331.

9Wahbah al-Zuhaily, Tafsir al-Munir fi al-„Aqidah wa al-Shari‟ah wa al-Manhaj (Vol.

IX; Damaskus : Darul Fikr, 2005), h. 156.

(19)

terhindar dari penyakit hati dan mereka termasuk orang-orang yang mendapat rahmat. Nabi Muhammad memiliki ketiga sifat tersebut dan tentu masuk dalam kriteria terhindar dari penyakit hati, hal tersebut menjadi alasan nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ditinjau dari tafsir QS al-Anbiya/21: 107 dapat disimpulkan bahwa moral menjadi sebuah urgensi dalam menjalani sebuah kehidupan, terlebih lagi di kehidupan sekarang yang sudah serba modern, tentu diperlukan perkembangan moral yang baik bagi setiap indvidu sejak usia dini untuk menghadapi arus globalisasi kedepannya yang tidak menutup kemungkinan akan terjadi krisis moral.

Sedangkan religius adalah suatu sifat keagamaan yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai keagamaan yang ditandai dengan ketaatan dalam menjalankan suatu ibadah sesuai dengan keyakinan agama yang dianut. Jadi, religius di sini menekankan kepada relasi yang baik seorang hamba dengan Tuhannya.

Maka moral religius adalah ajaran tentang baik buruknya tingkah laku individu (peserta didik) berdasarkan kepercayaan atau agama yang dianutnya, yakni agama Islam. Agama dijadikan sebagai pedoman hidup dan alat untuk mencegah seseorang melakukan sesuatu yang dilarang dalam agama dan kepercayaan yang dianutnya. Orang yang beragama hidupnya tidak akan kacau selagi ia membawa nilai-nilai keagamaan dalam dirinya, karena ia diikat oleh aturan agama yang dianutnya.

Penanaman nilai-nilai keislaman pada anak merupakan modal utama untuk kehidupan yang mendatang, untuk menumbuhkan generasi Qur’ani, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Dalam hal ini, agama memiliki peran yang sangat penting. Maka selain guru, ustadz maupun ustadzah, keluarga memiliki peran yang penting juga. Orang tua juga harus memiliki kesadaran

(20)

beragama yang kuat dan kokoh sehingga bisa memberikan teladan yang baik bagi anaknya. Hal-hal yang jauh dari nilai-nilai moral dan bimbingan agama akan mempengaruhi proses perkembangan anak dan kepribadian anak di masa depannya.10 Maka penanaman nilai-nilai pendidikan Islam sejak usia dini sangatlah penting untuk menghiasi perkembangannya agar bisa memiliki kepribadian yang bermoral.

Pada observasi awal calon peneliti, diketahui bahwa penanaman nilai-nilai pendidikan Islam di MI Al-Abrar Makassar telah berjalan dengan baik. Bentuk penanaman ini dilakukan melalui kegiatan jumat ibadah yang dirangkaikan dengan ceramah atau pidato agama dan dibawakan oleh guru ataupun peserta didik yang masuk dalam ekstrakurikuler pidato. Dalam kegiatan ini terjadi proses penanaman nilai-nilai pendidikan Islam yang mencakup tiga nilai mendasar, yaitu ketauhidan, akhlak, dan ibadah. Secara umum, peserta didik di MI Al-Abrar Makassar sudah sadar akan ketiga nilai yang telah dijelaskan di atas. Namun, meskipun begitu masih ada beberapa peserta didik yang belum paham atau belum mengaplikasikan nilai-nilai yang didapatkan dalam kegiatan jumat ibadah ini.

Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam sangat erat kaitannya dengan moral religius peserta didik. Perkembangan moral yang dimaksud di sini adalah peserta didik melakukan sesuatu karena takut hukuman, peserta didik melakukan sesuatu hanya agar ia diterima oleh kelompoknya, dan peserta didik sudah sadar bahwa kegiatan tersebut memang baik untuk dirinya, sehingga ia melakukannya.

Berdasarkan fakta-fakta yang telah dijelaskan di atas guna megetahui efek dari kegiatan jumat ibadah terhadap perkembangan moral religius peserta didik, maka peneliti mengangkat judul penelitian, “Pengaruh Penanaman Nilai-nilai

10Nurhabibah, ”Penanaman Nilai-Nilai Keislaman Dalam Keluarga di Lingkungan Lokalisasi Pasar Kembang Yogyakarta” Tadris, Vol. 13 No. 2, (2018), h. 212.

(21)

Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al-Abrar Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam pada kegiatan jumat ibadah di MI Al-Abrar Makassar ?

2. Bagaimana moral religius peserta didik di MI Al-Abrar Makassar ?

3. Apakah penanaman nilai-nilai pendidikan Islam berpengaruh terhadap moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar ?

C. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban teoritis yang bersifat sementara terhadap rumusan masalah. Dikatakan sementara, karena jawaban itu baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empirik yang diperoleh melalui pengumpulan data di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa perumusan hipotesis harus bersumber dari teori-teori yang telah ada sebelumnya. Teori itu dapat ditemukan dalam hasil-hasil penelitian yang hipotesisnya telah dibuktikan melalui data empirik.11

Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti mengemukakan hipotesis dalam penelitian ini, bahwa terdapat pengaruh antara penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap perkembangan moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar.

11Sulaiman Saat dan Sitti Mania, Pengantar Metodologi Penelitian (Gowa : Pusaka Almaida, 2019), h. 42.

(22)

D. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel didasarkan pada variabel yang terdapat dalam judul penelitian ini. Variabel dalam penelitian ini mencakup penanaman nilai- nilai Pendidikan islam dan perkembangan moral religius peserta didik kelas MI Al-Abrar Makassar. Penulis memberikan definisi operasional variabel pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam (Variabel X)

Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam adalah proses menanamkan dalam diri peserta didik 3 (tiga) nilai dasar pendidikan Islam yang mencakup nilai i’tiqodiyah/ketauhidan (percaya adanya Allah), nilai khuluqiyah/akhlak (sikap saling menghormati), dan nilai amaliyah/ibadah (salat).

2. Moral Religius Peserta Didik (Variabel Y)

Moral religius yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ajaran tentang baik buruknya suatu perbuatan berdasarkan kepercayaan atau agama yang dianut oleh peserta didik, yakni agama Islam. Meliputi mengucapkan salam ketika masuk ke suatu ruangan, tidak berkata kasar, membiasakan membaca doa sebelum dan sesudah kegiatan dan sebagainya.

Tabel 1. 1 Operasional Variabel

No Variabel Indikator

1

Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam Melalui

Kegiatan Jumat Ibadah (Variabel X)

a. Guru menjadwalkan pelaksanaan kegiatan jumat ibadah.

b. Menanamkan nilai-nilai ketauhidan dalam diri peserta didik melalui kegiatan jumat ibadah.

c. Mencerminkan akhlak yang baik kepada peserta didik melalui kegiatan jumat ibadah.

d. Mewajibkan peserta didik untuk senantiasa melaksanakan ibadah yang dibiasakan melalui praktek salat.

2 Moral Religius Peserta Didik

a. Peserta didik mematuhi aturan dan

(23)

(Variabel Y) bertanggung jawab.

b. Peserta didik memiliki kepedulian terhadap sesama.

c. Peserta didik memiliki sikap sopan santun dan saling menghormati.

Berdasarkan variabel yang telah didefinisikan secara operasional di atas, maka ruang lingkup penelitian mencakup pembahasan tentang penanaman nilai- nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah pada peserta didik MI Al- Abrar Makassar, moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar serta pengaruh penanaman nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar.

E. Kajian Pustaka

Hadirnya penelitian ini tentu mempunyai rujukan atau acuan dari hasil penelitian sebelumnya. Berangkat dari penelitian terdahulu juga sebagai faktor pendukung peneliti mengangkat judul penelitian ini. Di bawah ini merupakan penelitian-penelitian yang relevan dan digunakan sebagai acuan, yang bertujuan agar penelitian yang dilakukan bisa terlaksana dengan baik dan bisa diselesaikan tepat waktu. Berikut penelitian yang relevan dengan judul ini diantaranya, yaitu : 1. Skripsi yang disusun oleh Amriani dengan judul “Strategi Guru PAI dalam

Menumbuhkan Sikap Religiusitas Peserta Didik di SDI 140 Kalumpang Lompoa Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto”. Penelitian ini menguraikan strategi guru PAI dalam menumbuhkan sikap religius peserta didik dengan berbagai macam strategi, yaitu : 1) Membiasakan sebelum pembelajaran dimulai guru selalu memberikan penjelasan tentang sikap beragama terutama tentang akhlak. 2) Memberikan contoh yang baik yang dapat ditiru langsung oleh peserta didik. 3) Menjelaskan pentingnya akhlak yang baik. 4) Menyadari pentingnya menghormati guru, orang tua, teman dan

(24)

lingkungan. 5) Penerapan aturan dan pemberian sanksi. 6) Memberikan pembinaan di luar pembelajaran formal. Sehingga ada perubahan kehidupan religius peserta didik setelah dibina oleh guru PAI dalam hal ini, ialah terbiasa menerapkan kegiatan-kegiatan keagamaan, taat pada aturan, dan peserta didk berahlak berakhlak mulia kepada guru, orang tua, sesama teman dan lingkungannya.12

Persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan adalah keduanya sama-sama berfokus pada aspek religius peserta didik. Dalam hal ini melihat perkembangan atau perubahan aspek religius pada peserta didik, seperti melakukan sesuatu karena takut hukuman, peserta didik melakukan sesuatu hanya agar ia diterima oleh kelompoknya, dan peserta didik sudah sadar bahwa kegiatan tersebut memang baik untuk dirinya, sehingga ia melakukannya yang berakhir pada pembiasaan untuk senantiasa melakukan dan menerapkan kegiatan-kegiatan keagamaan atau ibadah. Perbedaannya terletak pada peneliti sebelumnya hanya fokus mengkaji aspek religius dan tidak mengkaji mengenai aspek moral pada peserta didik.

2. Skripsi yang disusun oleh Firman Adhi Kurniyawan dengan judul

“Penanaman Nilai-nilai Religius Melalui Kegiatan Keagamaan di Dusun Candirejo Sardonoharjo Ngaglik Sleman DIY”. Dalam skripsi ini diuraikan hambatan yang dialami dalam kegiatan penanaman nilai-nilai religius adalah anak yang sulit diatur dan beberapa orangtua yang kurang peduli mengenai kegiatan keagamaan yang diadakan untuk anaknya, hambatan tersebut terjadi karena beberapa faktor yang timbul yaitu dari orangtua, metode yang dipakai dalam mengajar dan dari anak itu sendiri, dalam menanggulangi hambatan itu

12Amriani, “Strategi Guru PAI Dalam Menumbuhkan Sikap Religiusitas Peserta Didik di SDI 140 Kalumpang Lompoa Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto” Skripsi (Makassar : Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin, 2021), h. 6-7.

(25)

beberapa pihak yang terkait telah melakukan suatu kegiatan seperti kegiatan pengajian untuk orang tua yang isinya mengenai pembelajaran anak lalu mengikut sertakan beberapa pengajar dari TPQ untuk mengikuti seminar pembelajaran yang diadakan oleh pihak luar. Dampak dari penanman nilai- nilai religius melalui kegiatan keagamaan terhadap perilaku sosial dapat dilihat dari beberapa indikator yang sudah tercapai dari tujuan diadakannya kegiatan tersebut, seperti terbiasanya anak mengikuti kegiatan keagamaan yang diadakan, melaksanakan shalat tepat waktu, anak berperilaku sopan santun baik kepada orang yang lebih tua ataupun teman sebaya dan terbiasanya bersikap disiplin dalam semua hal.13

Persamaan skiripsi hasil penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu mempunyai korelasi dalam hal penanaman nilai religius yang ditanamkan dalam kegiatan keagamaan. Perbedaannya terletak pada kegiatan keagamaannya yakni pada penelitian di atas melalui kegiatan berupa TPQ dan buka puasa bersama. Sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan kegiatan keagamaannya berupa jumat ibadah. Perbedaan lainnya terletak pada lokasi penelitian yang dilakukan di sebuah dusun, sedangkan penelitian yang akan dilakukan berlokasi pada sekolah jenjang madrasah ibtidaiyah.

3. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ayu Parasnia dalam skripsi yang berjudul “ Penanaman Nilai-nilai Agama Dalam Pendidikan Model Full-Day School Di SMP Al-Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto”. Dalam penelitian ini penulis menjelaskan bahwa perwujudan budaya religius yang ditemukan di sekolah ini yaitu: a. penciptaan suasana religius, b. penanaman nilai-nilai yang

13Firman Adhi Kurniyawan, “Penanaman Nilai-nilai Religius Melalui Kegiatan Keagamaan” Skripsi (Yogyakarta: Fak. Ilmu Agama Universitas Islam Indonesia, 2021). h. 73-74.

(26)

meliputi pemberian pemahaman dan nasehat, c. keteladanan, d. pembiasaan, e.

pembudayaan.14

Persamaan skripsi ini dengan penelitian yang akan dilakukan penulis adalah sama-sama meneliti tentang penanaman nilai agama namun terdapat perbedaan metode dalam prosesnya dan juga penelitian ini dilakukan pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

4. Skripsi yang disusun oleh Wasmawati dengan judul “Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurjalin Pesahangan Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap”.

Persamaan skripsi tersebut dengan judul yang akan penulis teliti yaitu sama-sama membahas tentang penanaman nilai-nilai pendidikan Islam, nilai yang ditanamkan meliputi nilai aqidah, syariah, dan akhlak. Sedangkan metode yang digunakan adalah dengan cara keteladanan seperti berbicara sopan dan santun, berbusana rapih, datang ke sekolah tepat waktu, ikut melaksanakan sholat dhuha berjamaah, dan sholat dzuhur berjamaah.15 Dan yang membedakannya adalah peneliti terdahulu hanya membahas bagian nilai-nilai agama Islam tanpa mengaiktannya dengan perkembangan moral religius peserta didik.

5. Skripsi yang ditulis oleh Nurul Firliani dengan judul “Penanaman Nilai-nilai Keislaman Melalui Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) Nur Huda Wawangan”.

Memiliki persamaan dengan skripsi yang penulis teliti. Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa ada beberapa hambatan dalam proses pelaksanaannya yaitu minimnya sumber daya pengajar di TPA ini, serta sikap anak-anak yang masih

14Ayu parasnia, “Penanaman Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Model Full-Day School di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto” Skripsi, (IAIN Purwokerto, 2018), h. 92.

15Wasmawati, “Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurjalin Pesangahan Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap” Skripsi, (IAIN Purwokerto, 2016), h. 71.

(27)

menganggap gurunya sebagai teman sepermainan dan tidak sopan.16 Diantara persamaannya yaitu terletak pada nilai yang ditanamkan yakni akidah, akhlak dan ibadah. Namun penelitian ini dilakukan di taman pendidikan al-Qur’an sedangkan lokasi penelitian yang akan dilakukan penulis berada di madrasah ibtidiyah.

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan tentunya memiliki tujuan dan kegunaan, baik ditujukan kepada penulis itu sendiri, pembaca, dan pihak manapun yang terkait dalam penelitian ini. Adapun tujuan dan kegunaan dari penelitian ini yaitu, sebagai berikut :

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk mendeskripsikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan pada rumusan masalah. Tujuan penelitian ini dirumuskan, sebagai berikut :

a. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah pada peserta didik MI Al-Abrar Makassar.

b. Untuk mendeskripsikan gambaran moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar.

c. Untuk menganalisis pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap perkembangan moral religius peserta didik MI Al-Abrar Makassar.

2. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini yaitu, sebagai berikut : a. Teoritis

1) Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis yang berkaitan erat dengan Pendidikan Agama Islam, terkhusus penanaman nilai-nilai

16Nurul Firliani, “Penanaman Nilai-Nilai Keislaman Melalui Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Nur Huda Nawangan” Skripsi, (IAIN Ponorogo, 2020), h. 80.

(28)

pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap perkembangan moral religius peserta didik.

2) Dapat menjadi referensi terhadap penelitian yang akan datang.

3) Menambah pemahaman baru bagi semua pihak dalam bidang pendidikan khususnya perkembangan moral religius peserta didik.

b. Praktis

1) Bagi peneliti, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman secara langsung dalam melakukan penelitian mengenai pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap perkembangan moral religius peserta didik.

2) Bagi pendidik, diharapkan dapat mengembangkan moral religius peserta didik.

3) Bagi orang tua, dapat melihat perkembangan moral religius peserta didik melalui kegiatan jumat ibadah yang dilakukan di sekolah/madrasah.

(29)

17 BAB II

TINJAUAN TEORETIS A. Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam

1. Pengertian Implementasi

Implementasi adalah suatu kegiatan atau suatu tindakan dari sebuah rencana yang dibuat secara terperinci untuk mencapai suatu tujuan. Implementasi mulai dilakukan apabiila seluruh perencanaan sudah dianggap sempurna.

Implementasi menurut teori Jones yang dikutip oleh Mulyadi dalam bukunya yang berjudul Implementasi Kebijakan mengatakan bahwa “Proses mewujudkan program hingga memperlihatkan hasilnya. Jadi Implementasi adalah tindakan yang dilakukan setelah suatu kebijakan ditetapkan. Implementasi merupakan cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya”.1 Implementasi di sini menekankan pada suatu perbuatan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang baik terhadap pribadi sendiri maupun kelompok.

Pengertian implementasi menurut Nurdin Usman dalam bukunya yang berjudul Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum menjelaskan mengenai implementasi yang mengatakan bahwa “Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan”.2 Jadi implementasi dapat dikatakan sebagai suatu aktivitas atau kegiatan yang sistematis untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Pengertian implementasi di atas menjelaskan bahwa implentasi bukan sekedar aktivitas saja, tetapi juga kegiatan terencana yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh berdasarkan acuan-acuan yang direncanakan dengan sungguh-

1Mulyadi, Implementasi kebijakan (Jakarta: Balai Pustaka, 2015), h. 45.

2Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum (Jakarta: Grasindo, 2002), h.

170.

(30)

sungguh. Oleh karena itu implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya yaitu terlaksananya suatu program. Adapun menurut Guntur Setiawan dalam bukunya Implementasi dalam Birokrasi Pembangunan mengatakan bahwa “Implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif”.3 Implementasi dalam teori ini adalah proses menerapkan suatu tujuan agar mendapatkan hasil yang maksimal dan tepat sasaran.

Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan implementasi adalah suatu kegiatan yang terencana, bukan hanya suatu aktifitas dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma-norma tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, implementasi tidak berdiri sendiri namun tetap diperngaruhi objek berikutnya yaitu pada program kurikulum yang ada di sekolah atau sebuah lembaga.

2. Pengertian Nilai

Secara etimologi, nilai berasal dari kata valere, berasal dari bahasa Latin, yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku dan kuat. Dalam bahasa Inggris disebutkan dengan istilah value, dan secara terminologi, ada beberapa pengertian mengenai nilai, yaitu: harkat, keistimewaan, dan ilmu ekonomi. Yang dimaksudkan dengan harkat adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat di sukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek kepentingan.

Keistimewaan artinya, apa yang dihargai, dinilai tinggi, atau dihargai sebagai suatu kebaikan. Lawan dari suatu nilai positif adalah tidak bernilai atau juga sering disebut dengan nilai negatif. Sedangkan yang dimaksudkan dengan ilmu ekonomi adalah yang bergelut dengan kegunaan dan nilai tukar benda-benda

3Guntur Setiawan, Implementasi dalam Birokrasi Pembangunan (Jakarta: Balai Pustaka,2004), h. 39.

(31)

material, pertama sekali menggunakan secara umum kata nilai.4 Jadi, nilai adalah sesuatu yang memiliki kualitas sehingga membuatnya dihargai.

Secara sosiologis, nilai dapat diartikan sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif. Norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku manusia. Maka di sini proses pertimbangan nilai adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat.

Sedangkan secara psikologis, nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Keyakinan ditempatkan sebagai wilayah psikologis yang lebih tinggi dari wilayah lainnya seperti hasrat, motif, sikap, keinginan, dan kebutuhan. Oleh karena itu, keputusan benar salah, baik- buruk, indah atau tidak indah pada wilayah ini merupakan hasil dari serentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya.5 Dalam ranah psikologis ini dapat dikatakan bahwa nilai merupakan suatu aktivitas yang dilakukan atas dasar keyakinan terhadap apa yang diyakininya benar.

Dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sumber rujukan dan keyakinan yang memiliki harkat, keistimewaan dan mempunyai pertimbangan-pertimbangan filosofis, psikologis, dan sosiologis dalam menentukan pilihannya. Sumber rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan tersebut dapat berupa norma, etika, peraturan undan-gundang, adat kebiasaan, aturan agama, dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang. Nilai bersifat abstrak, berada di belakang fakta, melahirkan tindakan, melekat dalam moral

4Saifullah Idris, Internalisasi Nilai dalam Pendidikan (Yogyakarta: Darussalam Publishing, 2017), h. 17.

5Saifullah Idris, Internalisasi Nilai dalam Pendidikan, h. 19.

(32)

seseorang, muncul sebagai ujung proses psikologis, dan berkembang ke arah yang lebih kompleks.

Selain itu kita juga bisa menyimpulkan bahwa nilai adalah patokan dari segala sesuatu, baik itu benda maupun perbuatan. Nilai juga bisa digambarkan sebagai sebuah harga dari sesuatu, sesuatu yang memiliki nilai yang baik maka akan memiliki harga yang baik juga, sebaliknya sesuatu yang memiliki nilai yang rendah maka akan memiliki harga yang rendah juga.

Nilai berfungsi sebagai pendorong bagi individu untuk mewujudkan apa yang ia inginkan. Bahkan saat sesuatu itu masih berupa tekad dalam diri, nilai yang mendorong untuk merealisasikannya melalui perbuatan. Jika menginginkan nilai yang baik (diterima di masyarakat) tentu harus melakukan sesuatu yang baik pula. Karena apabila seseorang melakukan perbuatan yang buruk, di mata orang- orang (masyarakat) yang melihatnya maka akan menghasilkan pandangan buruk terhadapnya.

3. Macam-macam Nilai

Jika diklasifikasikan, nilai terdiri atas beberapa macam, diantaranya : a. Dilihat dari segi komponen utama agama Islam sekaligus sebagai nilai

tertinggi dari ajaran agama Islam, para ulama membagi nilai menjadi tiga bagian, yaitu nilai keimanan, nilai ibadah (syari’ah), dan akhlak.

Penggolongan ini didasarkan pada penjelasan nabi Muhammad saw., kepada malaikat Jibril mengenai arti Iman, Islam, dan Ihsan yang esensinya sama dengan akidah, syari’ah dan akhlak.

b. Dilihat dari segi sumbernya maka nilai terbagi menjadi dua, yaitu nilai yang turun bersumber dari Allah swt., yang disebut dengan nilai ilahiyyah dan nilai yang tumbuh dan berkembang dari peradaban manusia sendiri yang disebut dengan nilai insaniah. Kedua nilai tersebut selanjutnya membentuk norma-

(33)

norma atau kaidah-kaidah kehidupan yang dianut dan melembaga pada masyarakat yang mendukungnya.6

Segala sesuatu yang Allah ciptakan di bumi ini mengandung nilai, semua nilai harus mengacu pada etika. Tidak ada satupun yang Allah ciptakan di bumi ini tanpa mengandung nilai. Semua itu bergantung pada manusia itu sendiri sebagai khalifah di muka bumi.

Achamadi dalam bukunya Ideologi Pendidikan Islam yang dikutip oleh Supangat mengatakan bahwa Islam memandang adanya nilai mutlak dan nilai intrinsik yang berfungsi sebagai pusat dan muara semua nilai.Nilai-nilai tersebut bersifat tauhid (uluhiyah dan rububiyyah) yang menjadi tujuan seluruh aktivitas kehidupan umat Islam. Semua nilai lainnya, termasuk amal saleh dalam Islam, merupakan nilai instrumental yang berfungsi sebagai alat dan prasyarat untuk mencapai nilai tauhid. Nilai-nilai tersebut, yaitu : 1) Nilai-nilai yang banyak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an dan Hadis yang semuanya terangkum dalam ajaran akhlak yang meliputi akhlak dalam hubungannya dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam dan makhluk lainnya.

2) Nilai-nilai universal yang diakui dan dibutuhkan oleh semua umat manusia, seperti cinta damai, penghormatan terhadap hak asasi manusia, keadilan, demokrasi, kesejahteraan sosial, kemanusiaan, dll, karena pada hakekatnya sesuai dengan sifat dasar manusia.7

6Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), h. 250.

7Supangat, “Penanaman Nilai Moral Melalui Pendidikan Agama Pada Anak di Madrasah Diniyah Babussalam Mojopahit Punggur Lampung Tengah” Tesis, (Lampung: Prog. Pasca Sarjana IAIN Metro, 2017), h. 49-50.

(34)

Al-Quran sebagai sumber nilai memuat tiga nilai Pendidikan islam, diantaranya: (1) Nilai I‟tiqodiyah, merupakan nilai yang memuat tentang hubungan manusia dengan Tuhannya dan berkaitan dengan Pendidikan keimanan, meliputi percaya kepada Allah, Malaikat, kitab, Rasul, Hari akhir, dan Takdir yang bertujuan untuk meningkatkan kadar keimanan. Islam berdasar pada keyakinan tauhid, pada dasarnya aqidah berpokok pada ajaran yang terkandung dalam rukun iman; (2) Nilai Khuluqiyah, merupakan nilai yang menyangkut tentang tingkah laku (akhlak), moral dan etika bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku tercela dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji. Nilai ini meliputi tolong menolong, kasih sayang, syukur, sopan santun, pemaaf, disiplin, menepati janji, jujur, tanggung jawab, dan perilaku terpuji lainnya; (3) Nilai Amaliyah, merupakan nilai yang berkaitan dengan Pendidikan tingkah laku sehari hari, meliputi Pendidikan ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, nazar yang bertujuan untuk aktualisasi nilai ubudiyah. Nilai ibadah ini biasa dikenal dengan rukun islamyaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. dan muamalah, meliputi pendidikan syakhsiyah dan madaniyah.8

Ketiga nilai pendidikan Islam di atas sangat penting, karena jika ketiga aspek telah terlaksana maka cita-cita utama yakni membentuk insan kamil akan terbentuk. Nilai tidak perlu sama bagi seluruh masyarakat. Dalam masyarakat terdapat kelompok yang berbeda atas dasar sosial, ekonomi, politik, agama dan etnis masing-masing mempunyai sistem nilai yang berbeda. Nilai yang tertanam pada diri setiap individu ditanamkan melalui sumber-sumber yang berbeda.

8Bekti Taufik Ari Nugroho dan Mustaidah, “Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PNPM Mandiri” Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, (2017), h. 75-76.

(35)

4. Pendidikan Islam

Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata “paedagogie” dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “paes” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing.

Jadi paedagogie berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Romawi pendidikan berasal dari kata “educate” yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada dari dalam. Sedangkan dalam bahasa Inggris pendidikan diistilahkan dengan kata “to educate” yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni: membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu: memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian: proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.9Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.10

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengarahkan atau mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang

9Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Cet. V; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 326.

10Rahmat Hidayat dan Abdillah, Ilmu Pendidikan Konsep, Teori dan Aplikasinya (Medan:

LPPI, 2019), h. 23.

(36)

diberikan kepada anak didik oleh orang dewasa untuk mendewasakan dan mencapai cita-citanya, sehingga anak didik dapat secara mandiri menunaikan tugas hidupnya.

Pendidikan sebagai tuntutan dalam hidup hendaknya memberikan pedoman seseorang dalam menjalani kehidupan. Dalam proses pendidikan, seseorang akan memperoleh ilmu dari seorang pendidik, selain itu tugas seorang pendidik bukan hanya mentransfer ilmu melainkan membenahi apa yang kurang dari peserta didik tersebut, termasuk dalam hal ini akhlak sehingga cita-cita utama dalam proses pendidikan dapat tercapai yakni akhlakul karimah.

Sedangkan Islam secara istilah adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah swt., kepada Nabi Muhammad saw., sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, Kapan dan di mana saja, ajarannya mencakup semua aspek kehidupan manusia. Wahyu yang diurunkan oleh Allah swt., kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. Suatu sistem keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala kehidupan manusia dalam berbagai hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.11

Jadi, pendidikan Islam adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia manusia seutuhnya, beriman dan bertaqwa kepada Allah swt., serta mampu mewujudkan keberadaannya sebagai khalifah di muka bumi dengan berpedoman pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Sejatinya manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah kepadanya, bahkan semua makhluk diciptakan dengan tujuan yang sama, hanya saja bentuk penyembahan tiap makhluk berbeda beda, oleh karenanya manusia yang tidak menjalani perintah Allah adalah manusia yang mengingkari janjinya yakni untuk menyembah dan beribadah

11Misbahuddin Jamal, “Konsep Al-Islam dalam Al-Qur’an”, Jurnal Al-Ulum, Vol. 11.

No. 2, (2011). h. 287.

(37)

kepada Allah. Sehingga, pendidikan Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam.

5. Teori Penanaman Nilai

Penanaman nilai merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik, sebab dengan nilai yang tertanam dalam diri peserta didik, mereka memiliki sikap maupun sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang memengaruhi dirinya. Menurut Chabib Thoha dalam bukunya Kapita Selekta Pendidikan Islam, penanaman nilai adalah suatu tindakan, perilaku atau proses menanamkan suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan di mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan.12 Penanaman nilai yang baik kepada individu akan memengaruhinya dalam bertindak, dengan adanya nilai yang baik maka individu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, semakin baik nilai yang ditanamkan pada setiap individu atau peserta didik maka semakin bijak mereka dalam mengambil langkah untuk menjalani kehidupan yang akan datang, sebab individu tersebut mengambil langkah sesuai kepercayaan dan sesuatu yang diyakini dalam dirinya masing- masing.

B. Kegiatan Jumat Ibadah

Jumat ibadah yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan kegiatan keagamaan yang dilakukan pada hari jumat dalam rangka membentuk karakter serta moral peserta didik, meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt.

Kegiatan jumat ibadah ini, memberi dampak dan pengaruh positif terhadap diri guru dan peserta didik. Kegiatan jumat ibadah dirangkaikan dengan ceramah agama atau pidato dan dibawakan oleh guru ataupun peserta didik yang masuk

12Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), h. 61.

(38)

dalam ekstrakurikuler pidato. Pada kegiatan jumat ibadah ini juga dirangkaikan dengan kegiatan praktek salat dengan tujuan agar peserta didik memiliki kesadaran dalam melaksanakan ibadah.

Kegiatan jumat ibadah merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada setiap hari jumat pagi sekitar pukul 07.30 oleh pihak Madrasah Ibtidaiyah Al- Abrar Makassar dalam rangka memenuhi salah satu program keagamaan di Madrasah tersebut. Kegiatan-kegiatan dalam pelaksanaan jumat ibadah di MI Al- Abrar mencakup praktek salat, penyampaian nasihat-nasihat oleh kepala madrasah, dan penyampaian pidato-pidato keagamaan oleh peserta didik yang tergabung dalam ekstrakurikuler pidato. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini banyak hal-hal baik yang dapat diperoleh peserta didik yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan moral religiusnya.

C. Moral Religius Peserta Didik 1. Moral

Moral berasal dari kata latin “mores” yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, kebiasaan. Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Moral merupakan kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu nilai-nilai sosial budaya di mana individu sebagai anggota sosial. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Perilaku moral diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan.13 Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta suatu perbuatan yang dinilai

13Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja; Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012). h. 136.

(39)

tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan salah, dengan demikian moral mendasari dan mengendalikan seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku.

Moral dibutuhkan pada kehidupan masyarakat dalam bersosialisasi.

Individu memandang individu atau kelompok lain berdasarkan moral. Mengenai perilaku, kesopanan, bersikap baik merupakan beberapa sikap dari moral yang dipandang masyarakat.mMoral dapat memandang masyarakatnya memiliki nilai sosial yang baik atau buruk.kKepribadian seseorang sangat erat kaitannya dalam kegiatan sehari-hari, moral diperlukan demi kehidupan yang damai dan harmonis sesuai dengan aturan. Dapat dipahami bahwa moral adalah keseluruhan aturan, kaidah atau hukum yang berbentuk perintah dan larangan yang mengatur perilaku manusia dan masyarakat di mana manusia itu berada.kKarena moral merupakan pengatur perilaku individu dalam bersosialisasi dengan kelompok masyarakat.

Moral baik yang tumbuh di masyarakat, maka kehidupan sosial akan tampak damai. Hal ini harus dipatuhi karena moralitas berfungsi mengatur, memelihara ketertiban dan kerukunan antar manusia dalam suatu pranata sosial.

Ada beberapa kata lain yang memiliki arti yang dekat dengan kata moral antara lain akhlak, etika, budi pekerti, dan nilai. (1) Akhlak berasal dari bahasa Arab yang diartikan budi pekerti atau menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Akhlak mengajarkan bagaimana seseorang berhubungan dengan Allah swt., dan bagaimana manusia berhubungan dengan sesama manusia, serta cara memperlakukan alam dan lingkungan sekitar. (2) Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang nilai dan norma yang menentukan manusia dalam hidupnya. Etika mempunyai tiga arti, pertama etika dalam arti nilai atau norma yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur

(40)

tingkah lakunya. Kedua, etika sebagai kumpulan nilai atau yang selalu disebut sebagai kode etik. Ketiga, etika sebagai ilmu baik dan buruk. (3) Budi pekerti, berasal dari bahasa Sansekerta dan memiliki makna yang sama dengan tata krama.

(4) Nilai adalah rujukan dan keyakinan yang menentukan pilihan. Dalam nilai terdapat norma, keyakinan, cara, tujuan, sifat, dan ciri suatu pola piker, tingkah laku, dan sikap.14 Keempat istilah tersebut tentu merupakan hal yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula dengan penerapan moral yang baik.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas moral di kalangan peserta didik adalah keteladanan dari guru, orang tua, dan masyarakat.tTerjadinya berbagai perilaku negatif yang dilakukan oleh anak bangsa, salah satunya disebabkan oleh krisis keteladanan di kalangan pemimpin bangsa. Kondisi ini menjadikan anak tidak lagi peduli pada nasihat guru karena contoh perlaku buruk yang dipertontonkan oleh elit politik yang diperoleh anak dari luar kelas melalui media massa jauh lebih berpengaruh terhadap pembentukan pribadinya.

Akibatnya, sekolah khusunya guru tidak mampu lagi membendung budaya negatif itu.

Jika seseorang memiliki kualitas moral intelektual dan emosional yang baik, mereka kemungkinan melakukan tindakan yang menurut pengetahuan dan perasaan mereka adalah tindakan yang benar. Namun terkadang orang bisa berada dalam keadaan dimana mereka mengetahui apa yang harus dilakukan, mereka harus melakukannya, tetapi masih belum bisa menerjemahkan perasaan dan pikiran tersebut dalam tindakan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa agama memiliki hubungan yang erat dengan moral.dDalam menjalani kehidupan, moral menjadi semacam rambu atau aturan

14Hadi Machmud, “Urgensi Pendidikan Moral Dalam Membentuk Kepribadian Anak”

Jurnal Al-Ta‟dib, Vol. 7. No. 2 (2014). h. 78.

Gambar

Tabel 1. 1 Operasional Variabel
Tabel 3. 1 Jumlah Populasi Peserta Didik Kelas IV, V dan VI MI Al-Abrar  Makassar
Tabel 3. 3 Sistem Penskoran Instrumen Penelitian  Pernyataan Positif
Tabel 3. 4 Kisi-kisi Instrumen Penilaian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penanaman Program Pendidikan Karakter Religius Peserta Didik furudul ‘ainiyah sudah berjalan dengan baik sesuia dengan aturan prosedur dan langkah-langkah yang telah ditetapkan

Mengingat pentingnya penanaman nilai-nilai religius untuk peserta didik pendidikan di Indonesia haruslah mempunyai suatu cara yang dapat menanamkan nilai religiusitas kepada

Upaya guru dalam mengembangkan potensi nilai moral peserta didik di kelas I MI. Irsyaduth Thullab Tedunan dan MI. Mabda’ul Huda Kedungkarang dengan melalui metode observasi,

Penanaman nilai-nilai religius dapat dilakukan dengan membentuk budaya religius multikultural sehingga pada akhirnya peserta didik akan terbiasa mengamalkan nilai-nilai

Evaluasi Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan dalam Menanamkan nilai Religius Peserta didik di MI Jati Salam Gombang Pakel Tulungagung. Evaluasi merupakan suatu proses menilai

Terkait dengan metode penanaman nilai-nilai agama Islam dalam membangun karakter religius kepada Allah Bapak Djiwo menyatakan bahwa, Kalau bicara masalah metode penanaman

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tiga hal, yaitu nilai moral religius yang ditanamkan, kurikulum nilai moral religius, dan proses

Dengan begitu, dalam penanaman pendidikan karakter di MI Miftahun Najah Karanglo I Jombang, pihak madrasah menggunakan metode pembiasaan ibadah dengan harapan dapat mendorong peserta