• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Jumat Ibadah di MI Al Abrar Makassar

Penanaman nilai merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik, sebab dengan nilai yang tertanam dalam diri peserta didik, mereka memiliki sikap maupun sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang memengaruhi dirinya. Menurut Chabib Thoha dalam bukunya Kapita Selekta Pendidikan Islam, penanaman nilai adalah suatu tindakan, perilaku atau proses menanamkan suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan di mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan.4 Penanaman nilai yang baik kepada individu akan memengaruhinya dalam bertindak, dengan adanya nilai yang baik maka individu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, semakin baik nilai yang ditanamkan pada setiap individu atau peserta didik maka semakin bijak mereka dalam mengambil langkah untuk menjalani kehidupan yang akan datang, sebab individu tersebut mengambil langkah sesuai kepercayaan dan sesuatu yang diyakini dalam dirinya masing- masing.

Dalam proses penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah di MI Al-Abrar ada tiga nilai pendidikan yang ditanamkan dan diharapkan dapat diamalkan oleh peserta didik, yaitu: (1) Nilai I‟tiqodiyah, merupakan nilai yang memuat tentang hubungan manusia dengan Tuhannya dan berkaitan dengan Pendidikan keimanan, meliputi percaya kepada Allah, Malaikat, kitab, Rasul, Hari akhir, dan Takdir yang bertujuan untuk meningkatkan kadar keimanan. Islam berdasar pada keyakinan tauhid, pada dasarnya aqidah berpokok pada ajaran yang terkandung dalam rukun iman; (2) Nilai Khuluqiyah, merupakan

4Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam , h. 61.

nilai yang menyangkut tentang tingkah laku (akhlak), moral dan etika bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku tercela dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji. Nilai ini meliputi tolong menolong, kasih sayang, syukur, sopan santun, pemaaf, disiplin, menepati janji, jujur, tanggung jawab, dan perilaku terpuji lainnya; (3) Nilai Amaliyah, merupakan nilai yang berkaitan dengan Pendidikan tingkah laku sehari hari, meliputi Pendidikan ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, nazar yang bertujuan untuk aktualisasi nilai ubudiyah. Nilai ibadah ini biasa dikenal dengan rukun islamyaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. dan muamalah.5 Ketiga nilai pendidikan Islam di atas sangat penting, karena jika ketiga aspek telah terlaksana maka cita-cita utama yakni membentuk insan kamil akan terbentuk.

Anak yang memiliki perilaku baik dan santun sesuai nilai moral agama adalah dambaan setiap orang tua, masyarakat dan pemerintah. Orang tua rela mengorbankan apa saja demi untuk kepentingan pendidikan anak agar lebih baik untuk masa depannya. Begitu penting penanaman nilai-nilai pendidikan Islam untuk membentuk moral yang sesuai dengan agama kepada anak sejak kecil hingga dewasa, tidak lain dikarenakan bahwa anak di usia dini lebih mudah dan sebagai waktu yang tepat untuk mengokohkan dasar-dasar nilai agama dan moral menjadi lebih baik.6 Sasaran yang hendak dicapai dalam penanaman nilai-nilai pendidikan Islam pada peserta didik adalah mewarnai pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dengan nilai-niai pendidikan Islam sehingga tercipta moral religius yang baik pada diri peserta didik. Misalnya seorang anak terbiasa

5Bekti Taufik Ari Nugroho dan Mustaidah, “Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PNPM Mandiri” , h. 75-76.

6Zainuddin, Sulaiman W., Musriaparto Musriaparto, & Muhammad Nur. "Solusi Pembentukan Perilaku Nilai Moral Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Islam." Jurnal Obsesi:

Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6.5 (2022). h. 4336.

dalam hal kedisiplinan, memiliki sikap jujur, peduli terhadap sesama, menghormati orang tua dan guru.

Hal tersebut sejalan dengan kegiatan jumat ibadah yang rutin dilaksanakan di MI Al Abrar Makassar. Dalam kegiatan ini terjadi proses penanaman nilai-nilai Pendidikan Islam yang meliputi aspek tauhid, akhlak, maupun ibadah.

Berdasarkan hasil rekapitulasi angket, proses penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah di MI Al Abrar Makassar berada pada kategori tinggi. Hal tersebut dikarenakan kegitan jumat ibadah di MI Al Abrar Makassar rutin dilaksanakan setiap hari jumat pagi di lapangan madrasah sebelum memulai proses pembelajaran.

Kegiatan jumat ibadah merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada setiap hari jumat pagi sekitar pukul 07.30 oleh pihak Madrasah Ibtidaiyah Al Abrar Makassar dalam rangka memenuhi salah satu program keagamaan di Madrasah tersebut. Kegiatan-kegiatan dalam pelaksanaan jumat ibadah di MI Al Abrar mencakup praktek salat, penyampaian nasihat-nasihat oleh kepala madrasah, dan penyampaian pidato-pidato keagamaan oleh peserta didik yang tergabung dalam ekstrakurikuler pidato. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini banyak hal-hal baik yang dapat diperoleh peserta didik yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan moral religiusnya.

Adapun analisa dan data observasi pada kegiatan jumat ibadah di MI Al Abrar Makassar.

Tabel 4. 16 Data Observasi Kegiatan Jumat Ibadah di MI Al Abrar Makasssar

No Aspek Keterangan Deskriptif

1 Kegiatan jumat ibadah rutin dilaksanakan setiap

Kegiatan jumat ibadah di MI Al-Abrar Makassar rutin dilaksanakan setiap hari

pekannya. jumat pagi yang berlokasi di lapangan madrasah dan cuaca mendukung, jika cuaca tidak mendukung seperti hujan maka kegaiatan ini dialihkan ke 76ecan selanjutnya.

2 Guru terlibat langsung dalam kegiatan jumat ibadah di MI Al-Abrar Makassar.

Pihak kepala madrasah dan seluruh jajaran guru, baik guru wali kelas hingga guru mata pelajaran agama semua ambil peran agar kegiatan jumat ibadah ini dapat terlaksana sesuai yang diharapkan.

3 Seluruh peserta didik antusias mengikuti kegiatan jumat ibadah.

Peserta didik terlihat antusias mengikuti kegiatan jumat ibadah, dapat dilihat jika bel sudah berbunyi dan pihak guru memberi arahan, maka seluruh peserta didik berbondong-bondong keluar dari kelas dan menuju ke lapangan untuk mengambil tempat sesuai dengan tingkatan kelasnya.

4 Seluruh peserta didik fokus saat kegiatan jumat ibadah berlangsung.

Didapati masih ada beberapa peserta didik yang tidak fokus, seperti berbicara dengan teman, mengganggu teman dan sebagainya. Biasanya hal tersebut didapati pada kelas bawah yaitu kelas 1, 2, dan 3.

5 Terdapat penanaman nilai- Kegaiatan jumat ibadah di MI Al-Abrar

nilai pendidikan Islam dalam kegiatan jumat ibadah.

Makassar dirangkaikan dengan kegiatan praktek salat, penyampaian nasihat- nasihat dari kepala madrasah atau guru mata pelajaran agama, dan penyampaian pidato keagamaan dari peserta didik yang tergabung dalam ekstrakurikuler pidato.

Dari berbagai aspek di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan jumat ibadah di MI Al Abrar Makassar terlaksana dengan baik, dan terdapat penenaman nilai-nilai pendidikan Islam yang dapat memengaruhi perkembangan moral religius peserta didik.

Dari hasil analisis data yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap variabel penanaman nilai-nilai pendidikan Islam dengan jumlah responden 73 orang menggunakan angket atau kuesioner terdiri dari 10 pernyataan dengan skor tertinggi setiap pernyataan adalah 4. Hasil yang didapatkan, yaitu nilai nilai minimum 35 dan nilai maksimum 40. Setelah melakukan kategorisasi terhadap hasil analisis data deskriptif penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah didapatkan hasil sebanyak 27 responden (37%) pada kategori tinggi. Jawaban responden pada kategori sedang sebanyak 24 responden (33%). Serta 22 (30%) responden menjawab pada kategori rendah. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kecenderungan jawaban peserta didik di MI Al Abrar Makassar terhadap penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah berada pada kategori tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata peserta didik di MI Al Abrar Makassar mengaggap penanaman nilai-nilai pendidikan Islam sudah terlaksana dengan maksimal.

2. Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar

Dalam mengarungi kehidupan, moral menjadi semacam rambu atau aturan yang berfungsi untuk mengontrol dan mengarahkan perjalanan manusia untuk mencapai tujuannya. Untuk mengetahui tingkatan moral seseorang selalu diperlukan suatu alat ukur yang sesuai guna mengukur moral orang tersebut, dan jenis alat ukur tersebut tentunya haruslah berhubungan dengan definisi moral yang dipahami oleh si pengukur. Untuk mengetahui tingkatan moral seseorang dengan pengertian moral mereka yakni moral sebagai suatu bentuk tindakan atau perilaku pastilah sulit untuk dapat menemukan alat ukur yang sesuai. Hal ini dikarenakan perilaku seseorang sangat luas dan sulit dikategorikan dan dirumuskan sehingga sangatlah sulit untuk menyimpulkan suatu perilaku seseorang. Oleh karena itu, peneliti menggunakan angket atau kuesioner untuk mengukur moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar.

Dalam mengukur moral religius peserta didik melalui angket atau kuesioner, peneliti berlandaskan pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg yang dikutip oleh Laila Maharani dalam jurnal Bimbingan dan Konseling yang terdapat tiga tingkatan, yaitu: 1) Tingkat 1:

Prakonvensional. Pada tingkat ini aturan berisi aturan moral yang dibuat berdasarkan otoritas. Anak tidak melanggar aturan moral karena takut ancaman atau hukuman dari otoritas. Tingkat ini dibagi menjadi dua tahap: (1) Tahap orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman pada tahap ini anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan ini ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Anak harus menurut, atau kalau tidak, akan mendapat hukuman.

(2) Tahap relativistik hedonoime pada tahap ini anak tidak lagi secara mutlak tergantung pada aturan yang berada di luar dirinya yang ditentukan orang lain yang memiliki otoritas. Anak mulai sadar bahwa setiap kejadian mempunyai

beberapa segi yang bergantung pada kebutuhan (relativisme) dan kesenangan seseorang (hedonisme); 2) Tingkat 2: Konvensional. Pada tingkatan ini anak mematuhi aturan yang dibuat bersama agar diterima dalam kelompoknya. Tingkat ini juga terdiri dari dua tahap: (1) Tahap orientasi mengenai anak yang baik. Pada tahap ini anak mulai memperlihatkan orientasi perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain atau masyarakat. Sesuatu dikatakan baik dan benar apabila sikap dan perilakunya dapat diterima oleh orang lain atau masyarakat. (2) Tahap mempertahankan norma sosial dan otoritas. Pada tahap ini anak menunjukkan perbuatan baik dan benar bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakat di sekitarnya, tetapi juga bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan dan norma/nilai sosial yang ada sebagai kewajiban dan tanggung jawab moral untuk melaksanakan aturan yang ada; 3) Tingkat 3: Pasca Konvensional. Pada tingkat ini anak mematuhi aturan untuk menghindari hukuman kata hatinya. Tingkat ini juga terdiri dari dua tahap: (1) Tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dan masyarakat.

Seseorang menaati aturan sebagai kewajiban dan tanggung jawab dirinya dalam menjaga keserasian hidup masyarakat. (2) Tahap universal. Pada tahap ini selain ada norma pribadi yang bersifat subjektif ada juga norma etik (baik/buruk, benar/salah) yang bersifat universal sebagai sumber menentukan sesuatu perbuatan yang berhubungan dengan moralitas.7 Dari tiga tahapan perkembangan moral di atas, maka dapat disimpulkan bahwa moral adalah kemampuan peserta didik membedakan benar atau salah berdasarkan agama dianutnya. Dalam Islam, ketika seseorang bertindak, mereka menerima dua konsekuensi, yaitu pahala dosa.

7Laila Maharani, “Perkembangan Moral Pada Anak” Jurnal Bimbingan Dan Konseling, h. 95

Orang yang berbuat baik akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, orang berbuat buruk akan mendapatkan dosa.

Berdasarkan teori yang dijelaskan, maka hal tersebut sejalan dengan hasil analisis data yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap variabel moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar dengan jumlah responden 73 orang menggunakan angket atau kuesioner terdiri dari 10 pernyataan dengan skor tertinggi setiap pernyataan adalah 4, dengan nilai minimum 35 dan nilai maksimum 40. Setelah melakukan kategorisasi terhadap hasil analisis data deskriptif moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar terdapat 28 responden (38%) pada kategori tinggi. Jawaban responden pada kategori sedang sebanyak 27 responden (37%). Serta 18 (25%) responden menjawab pada kategori rendah. Hal ini mengartikan bahwa kecenderungan moral religius peserta di MI Al Abrar Makassar berada pada kategori tinggi, ini berbanding lurus dengan maksimalnya proses penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah, sehingga berpengaruh pada meningkatnya moral religius peserta didik. Dapat diisimpulkan bahwa rata-rata peserta didik MI Al Abrar Makassar memiliki moral yang baik.

3. Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al Abrar Makassar

Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam adalah sesuatu yang patut dilakukan oleh orang tua maupun guru di sekolah kepada anak sejak dini, sebab dengan adanya penanaman nilai-nilai pendidikan Islam yang baik pada anak pasti akan menghasilkan moral yang baik pada anak. Sebagian orang kadang menganggap penanaman nilai-nilai pendidikan Islam pada anak tidak penting dilakukan. Oleh karena itu, peran guru atau pendidik di sekolah sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam.

Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian di MI Al Abrar Makassar pada tanggal 5 Mei sampai dengan 9 Juni 2023. Dengan nilai koefisien yang bernilai positif sebesar 0,159, memiliki nilai thitung 1,611 < ttabel 1,669, serta nilai signifikan sebesar 0,116 > 0,05 yang membuktikan bahwa H0 ditolak dan H1

diterima. Hal ini mengartikan bahwa variabel penanaman nilai Pendidikan Islam memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap moral religius peserta didik.

Berdasarkan hasil nilai koefisien determinasi yang dinyatakan dengan nilai r-square dalam penelitian ini sebesar 0,069 atau 69%. Jadi, pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar sebesar 69%, sedangkan sisanya sebesar 31% dijelaskan oleh variasi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

82 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka pada penelitian ini diperoleh kesimpulan, sebagai berikut:

1. Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah di MI Al Abrar Makassar didapatkan hasil sebanyak 27 responden (37%) pada kategori tinggi. Jawaban responden pada kategori sedang sebanyak 24 responden (33%). Serta 22 (30%) responden menjawab pada kategori rendah.

2. Moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar menunjukkan terdapat 28 responden (38%) pada kategori tinggi. Jawaban responden pada kategori sedang sebanyak 27 responden (37%). Serta 18 (25%) responden menjawab pada kategori rendah.

3. Terdapat pengaruh penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan jumat ibadah terhadap moral religius peserta didik di MI Al Abrar Makassar berdasarkan hasil uji regresi pada kolom (sig) 0,116 > 0,05 dengan thitung 1,611 < ttabel 1,669 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima.

B. Implikasi Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan dengan keterbatasan yang dimiliki oleh penulis dalam melakukan penelitian, maka penulis mengemukakan beberapa implikasi dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagi sekolah yang diteliti, Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan kedepannya dalam memaksimalkan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui kegiatan Jumat Ibadah di MI Al Abrar Makassar.

2. Guru atau pendidik, guru adalah teladan bagi anak didiknya di sekolah, sehingga diharapkan penelitian ini bisa memberikan informasi kepada guru untuk terus menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam kepada peserta didik.

3. Bagi peneliti selanjutnya, tentunya penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, namun diharapkan dengan penelitian ini dapat menjadi rujukan kepada peneliti selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yang serupa atau dengan faktor-faktor lainnya.

84

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja; Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012.

al-Zuhaily, Wahbah. Tafsir al-Munir fi al-„Aqidah wa al-Shari‟ah wa al-Manhaj, Vol. IX, Damaskus : Darul Fikr, 2005.

Amriani. “Strategi Guru PAI Dalam Menumbuhkan Sikap Religiusitas Peserta Didik di SDI 140 Kalumpang Lompoa Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto”. Skripsi. Makassar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin, 2021.

Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:

Rineka Cipta, 2011.

Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Cet. V; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013.

Ferdinand, A. (2014). Structural Equation Modeling dalam Penelitian Manajemen Edisi 5. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Firliani, Nurul. “Penanaman Nilai-Nilai Keislaman Melalui Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Nur Huda Nawangan”. Skripsi. IAIN Ponorogo, 2020.

Hamengkubowono, Ilmu Pendidikan dan Teori-Teori Pendidikan, Curup: LP2 STAIN, 2016.

Hasan, M. Iqbal. Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensial), Jakarta:

Bumi Aksara, 2008.

Hasan, M. Iqbal. Pokok-Pokok Materi Statistik, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Hidayat, Rahmat dan Abdillah. Ilmu Pendidikan Konsep, Teori dan Aplikasinya, Medan: LPPI, 2019.

Idris, Saifullah. Internalisasi Nilai dalam Pendidikan, Yogyakarta: Darussalam Publishing, 2017.

Jamal, Misbahuddin. “Konsep Al-Islam dalam Al-Qur’an”, Jurnal Al-Ulum, Vol.

11. No. 2, (2011).

Kementerian Agama RI, Al-Qur‟anulkarim : Al-Qur‟an Hafalan Perkata, Jakarta : Al-Qosbah, 2020.

Kurniyawan, Firman Adhi. “Penanaman Nilai-nilai Religius Melalui Kegiatan Keagamaan”. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Agama Universitas Islam Indonesia, 2021.

Machmud, Hadi. “Urgensi Pendidikan Moral Dalam Membentuk Kepribadian Anak”. Jurnal Al-Ta‟dib, Vol. 7. No. 2 (2014).

Maharani, Laila. “Perkembangan Moral Pada Anak”. Jurnal Bimbingan Dan Konseling, Vol. 1, No. 2, (2014).

Mulyadi. Implementasi kebijakan, Jakarta: Balai Pustaka, 2015.

Nugroho, Bekti Taufik Ari dan Mustaidah “Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PNPM Mandiri”. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, (2017).

Nurhabibah. ”Penanaman Nilai-Nilai Keislaman Dalam Keluarga di Lingkungan Lokalisasi Pasar Kembang Yogyakarta”, Tadris, Vol. 13 No. 2, (2018).

Parasnia, Ayu. “ Penanaman Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Model Full- Day School di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto”. Skripsi. IAIN Purwokerto, 2018.

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012.

Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : 2006.

Retnawati, Heri. “Teknik Pengambilan Sampel”, FMIPA Pend. Matematika, Yogyakarta, 2017.

Riyanto, Agus. Statistik Deskriptif untuk Kesehatan, Cet. I; Yogyakarta: Nuha Medika, 2013.

Saat, Sulaiman dan Sitti Mania. Pengantar Metodologi Penelitian, Gowa : Pusaka Almaida, 2019.

Setiawan, Guntur. Implementasi dalam Birokrasi Pembangunan, Jakarta: Balai Pustaka, 2004.

Siregar, Syarifuddin. Statistik Terapan Untuk Penelitian, Cet. I; Jakarta: Grasindo, 2005.

Sudjana, Nana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Cet. XIII; Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2014.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Cet. XXIII; Bandung: Alfabeta, 2016.

Sugiyono. Statistik Penelitian, Cet. X; Bandung: Alfabeta, 2006.

Supangat, Andi. Statistika dalam Kajian Deskriptif, Inferensi dan Nonparametrik, Cet. IV; Jakarta: Prenandamedia Group, 2014.

Supangat. “Penanaman Nilai Moral Melalui Pendidikan Agama Pada Anak di Madrasah Diniyah Babussalam Mojopahit Punggur Lampung Tengah”.

Tesis. Lampung: Program Pasca Sarjana IAIN Metro, 2017.

Thoha, Chabib. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.

Umar, Husein. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Cet. I; Jakarta:

Rajawali Press, 2008.

Umro, Jakaria. “Penanaman Nilai-Nilai Religius di Sekolah yang Berbasis Multikultural”. Jurnal Al-Makrifat, Vol. 3, No. 2, (2018).

Usman, Nurdin. Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum Jakarta: Grasindo, 2002.

Wasmawati, “Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurjalin Pesangahan Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap”. Skripsi. IAIN Purwokerto, 2016.

Yusuf, A. Muri. Metode Penelitian kuantitatif, kualitatif dan Penelitian Gabungan, Cet. I; Jakarta: Presadamedia Group, 2014.

Yusuf, Munir. Pengantar Ilmu Pendidikan, Palopo: Lembaga Penerbit IAIN Palopo, 2018.

Zainuddin, S. W., Musriaparto, M & Nur, M. (2022) Solusi Pembentukan Perilaku Nilai Moral Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Islam. Jurnal Obsesi:

Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6.(5), 4335-46.

Zubaedi, M. A. (2015). Desain Pendidikan Karakter. Prenada Media.

87 LAMPIRAN A. Lembar Angket

ANGKET/KUESIONER PENELITIAN

Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Jumat Ibadah terhadap Moral Religius Peserta Didik di MI Al-Abrar Makassar Nama :... Hari/Tanggal :……….

Kelas :………. No. Absen :...

Petunjuk Pengisian Angket

1. Perhatikan dan cermati setiap pernyataan sebelum memilih jawaban.

2. Jawablah pernyataan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sesuai dengan kegiatan jumat ibadah.

3. Berilah tanda centang () pada salah satu kolom jawaban yang telah tersedia.

4. Kriteria pilihan jawaban.

a. 4 = Sangat Sesuai (SS) b. 3 = Sesuai (S)

c. 2 = Tidak Sesuai (TS)

d. 1 = Sangat Tidak Sesuai (STS) No

Pernyataan Alternatif Jawaban

A. Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam

Melalui Kegiatan Jumat Ibadah SS S TS STS 1 Guru saya selalu menjadwalkan kegiatan jumat

ibadah setiap pekannya.

2 Guru saya tidak memberi arahan kepada semua peserta didik untuk mengikuti kegiatan jumat ibadah.

3 Guru saya selalu mengingatkan untuk beriman kepada Allah swt., dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

4 Guru saya tidak menegur jika ada peserta didik yang tidak mendengarkan arahannya.

88

5 Guru saya selalu mengingatkan untuk menghormati orang tua, guru, dan teman.

6 Guru saya tidak memberi contoh perilaku menghormati orang tua, guru, dan teman.

7 Guru saya tidak mengarahkan untuk menghormati orang yang lebih muda usianya.

8 Guru saya selalu menjelaskan pentingnya salat.

9 Guru saya selalu memberi contoh gerakan salat yang benar pada saat kegiatan jumat ibadah.

10 Guru saya tidak mengarahkan untuk berzikir setelah salat.

No B. Moral Religius Peserta Didik SS S TS STS 1 Saya selalu disiplin datang tepat waktu ke

sekolah agar tidak dihukum karena terlambat.

2 Saya berusaha berpartisipasi pada setiap kegiatan keagamaan di sekolah seperti maulid nabi, isra mikraj dan sebagainya.

3 Saya pernah berbohong agar tidak dihukum oleh guru.

4 Saya selalu membantu teman yang kesusahan, seperti meminjamkan pulpen, pensil dan sebagainya.

5 Saya selalu mengingatkan teman-teman untuk salat berjamaah di masjid.

6 Saya tidak suka ditegur oleh teman jika melakukan kesalahan.

7 Saya selalu mengucapkan salam ketika memasuki kelas.

8 Saya selalu bertutur kata yang baik jika berbicara dengan orang tua, guru dan teman.

9 Saya tidak berpamitan kepada orang tua saat ingin berangkat ke sekolah.

10 Saya tidak membaca doa saat keluar rumah karena terburu-buru.

Dokumen terkait