• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of The Pengaruh Pengelolaan Aset Desa, Optimalisasi Pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dan Profesionalisme Aparatur Desa Terhadap Peningkatan Pendapatan Desa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of The Pengaruh Pengelolaan Aset Desa, Optimalisasi Pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dan Profesionalisme Aparatur Desa Terhadap Peningkatan Pendapatan Desa"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Indonesian Accounting Research Journal Vol. 3, No. 3, June 2023, pp. 270 – 280

©Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Bandung

Pengaruh Pengelolaan Aset Desa, Optimalisasi Pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dan Profesionalisme Aparatur Desa Terhadap Peningkatan Pendapatan Desa

The Influence Of Village Asset Management, Optimization Of The Utilization Of Village Owned Enterprises (Bumdes), and The Professionalism Of Village Apparatus On Increasing Village Income

Resty Ditha Handayani

Program Studi D4 Akuntansi Manajemen Pemerintahan, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Arie Apriadi Nugraha

Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Abstract: The objective of this research is to gather empirical evidence on the impact of village asset management, optimizing the utilization of Village Owned Enterprises (BUMDes), and the professionalism of village officials on the increase of village income. The study population consists of the Village Government in Parongpong District, comprising a total of seven villages. The sampling technique employed is saturated sampling, where all villages were included in the study. Primary data was collected through the use of a questionnaire. A sample size of 35 respondents was selected using saturated sampling, covering the entire population. The research methodology adopted is descriptive statistics with a quantitative approach. The data analysis results indicate that the professionalism of village officials has a positive but not statistically significant impact on increasing village income. On the other hand, managing village assets and optimizing the utilization of village-owned enterprises (BUMDes) have a positive and statistically significant impact on increasing village income.

Keywords: Management of village assets, maximizing Village Owned Enterprises (BUMDes), professionalism of village officials, enhancing village income.

1. Pendahuluan

Seiring dengan semakin derasnya perkembangan zaman secara global, penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia pun ikut berubah, ditandai dengan sistem pemerintahan yang dahulunya sentralistik dan sekarang menjadi desentralisasi. Desentralisasi berarti pemerintah pusat membagi kekuasaannya kepada pemerintah daerah sesuai dengan asas otonomi (Akbal, 2016). Akan tetapi, saat ini otonomi daerah bukan saja dimiliki pemerintah daerah saja melainkan pemerintah desa pun memiliki otonomnya sendiri untuk meningkatkan pembangunan dari hasil pendapatan Seperti yang diatur dalam UU No. 6 Tahun 2014.

Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, sumber pendapatan bagi desa dapat berasal diantaranya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN, bagian dari hasil pajak dan daerah retribusi kabupaten/kota, alokasi dana desa sebagai bagian dari dana perimbangan, bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota, hibah serta sumbangan, dan penda Patan dari usaha, aset, swadaya dan

(2)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

partisipasi, gotong royong, dan lain-lain yang sah.

Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi diketahui total pendapatan desa Kecamatan Parongpong tahun 2022 adalah sebesar Rp.19.795.330.633 dengan alokasi dana desa sebesar Rp.9.807.249.000. dan mengalami penurunan setiap tahunnya hal ini disebabkan akibat beberapa kendala dalam menyalurkan dana desa seperti keterlambatan penyaluran, desa yang menolak dana desa juga memengaruhi dana desa yang tidak tersalurkan. Maka dari itu Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 diterbitkan agar pemerintah desa dapat membangun, mengurus, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk desa sendiri secara seluas-luasnya dengan berlandaskan sesuai asas ekonomi dalam pengentasan kemiskinan, pengembangan potensi desa sebagai upaya pergerakan utama pembangunan, dan dengan diiringi oleh kualitas sumber daya manusia yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi desa, dimana salah satu caranya yaitu dengan mengelola barang milik desa atau aset.

Diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 tentang pengelolaan aset desa. Menurut (Firmansyah, 2018) aturan perundang- ini dirancang supaya fungsi desa dapat berjalan sesuai dengan tujuan dan dapat digunakan sebagai tambahan pendapatan desa.

Oleh sebab itu, pengelolaan aset harus dikelola oleh sumber daya yang ahli dan kompeten di bidang mereka. Sehingga, mampu menanganinya secara profesional agar dapat menghasilkan sumber pendapatan bagi desa. Dimana, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah satu contoh dari hasil usaha yang ada di desa. Pendapat ini dipertegas (Ashfihisa, 2019) BUMDes adalah lembaga yang didirikan untuk mengelola aset, jasa, dan pelayanan desa.

Menurut (Pada et al., 2017) pengelolaan pendapatan desa ini masih menimbulkan banyak masalah, mulai dari kemampuan aparatur yang tidak profesional hingga pendirian BUMDes yang didirikan untuk memanfaatkan aset desa wajib dioptimalkan agar lebih bermanfaat bagi masyarakat contohnya seperti meningkatkan pembangunan, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, serta menghasilkan pendapatan yang mampu menopang peningkatan pendapatan desa pada akhirnya, karena dengan meningkatnya pendapatan desa, pemerintahan desa akan memiliki kemampuan untuk mensejahterakan masyarakat, memungkinkan desa untuk menjadi desa yang mandiri.

Hasil wawancara pra-penelitian dengan Kepala Desa dan Sekretaris Desa di beberapa Desa di Kecamatan Parongpong memperkuat fenomena tersebut. Wawancara tersebut mengindikasikan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh desa-desa di Kecamatan Parongpong memiliki pola yang serupa, yaitu terkait kendala permodalan yang mengakibatkan pengalokasian dana dari pemerintah pusat ke desa mengalami perubahan kebijakan atau refocusing untuk mengatasi dampak dari pandemi Covid-19. Didukung hasil penelitian terdahulu seperti penelitian terdahulu oleh (Bafa, et al., 2021) mendukung temuan bahwa BUMDes dan profesionalisme pengelolaan aset desa oleh sumber daya memiliki pengaruh terhadap pendapatan asli desa. Sebaliknya, penelitian yang dilakukan oleh Ashfihisa (2019) menunjukkan bahwa walaupun optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli desa, pengelolaan aset desa dan peran kinerja manajemen pemerintah desa tetap berpengaruh terhadap pendapatan desa.

Dengan demikian, kedua penelitian tersebut memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan desa.

2. Kajian Pustaka

2.1. Pengelolaan Aset Desa

Pengelolaan aset desa adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh kepala desa dan aparaturnya, termasuk perencanaan, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan, pemeliharaan, penghapusan, penatausahaan, pelaporan, penilaian, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian aset desa dengan menggunakan potensi yang ada di desa tersebut untuk mencapai

(3)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

tujuan. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa, terdapat beberapa prinsip pengukuran dasar yang harus diperhatikan dalam pengelolaan aset desa. Prinsip-prinsip tersebut meliputi prinsip fungsional, prinsip kepastian hukum, prinsip transparansi dan keterbukaan, prinsip efisiensi, prinsip akuntabilitas, dan prinsip kepastian nilai.

2.2. Optimalisasi Pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Optimalisasi ialah suatu usaha untuk mewujudkan kondisi paling menguntungkan (Balaghuddin, 2019). BUMDes, yang merupakan singkatan dari Badan Usaha Milik Desa, adalah sebuah entitas usaha yang beroperasi di tingkat desa dan dikelola oleh pemerintah desa serta warga masyarakat desa. Menurut Pasal 2 dari Peraturan Menteri Desa No. 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa, terdapat enam prinsip pengukuran yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan BUMDes. Prinsip-prinsip tersebut meliputi prinsip kooperatif, prinsip partisipatif, prinsip emansipatif, prinsip transparan, prinsip akuntabel, dan prinsip sustainabel.

2.3. Profesionalisme Aparatur Desa

Profesionalisme dapat diartikan sebagai perilaku, tujuan, atau kualitas-kualitas yang mencirikan suatu profesi atau pekerjaan tertentu. Dalam konteks aparatur desa, profesionalisme merujuk pada sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh para pegawai desa yang bertugas sebagai pelayan masyarakat desa. Menurut Siagian (Tumangkeng, 2015), konsep pengukuran sikap profesional seorang aparatur pemerintahan desa dapat dilihat dari segi kreatifitas, inovasi, dan responsifitas.

2.4. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Sunarti et al., 2019), pendapatan desa merujuk pada dana yang diterima oleh desa dan termasuk dalam pendapatan selama satu tahun anggaran.

Pendapatan ini tidak diwajibkan untuk dikembalikan oleh desa. Menurut (Sinaga, 2017), indikator- indikator pendapatan desa meliputi pendapatan per kapita, kegiatan ekonomi utama, ketersediaan modal, pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk, keadaan sosial budaya, kemajuan teknologi, dan pemanfaatan teknologi.

3. Metode Penelitian

Penelitian ini mengadopsi pendekatan penelitian kuantitatif kausalitas dengan menggunakan populasi sebagai objek penelitian yaitu Pemerintah Desa di wilayah Kecamatan Parongpong dengan jumlah 7 (tujuh) desa, desa-desa tersebut diantaranya adalah Desa Ciwaruga, Cihideung, Cigugurgirang, Sariwangi, Cihanjuang, Cihanjuang Rahayu, dan Karyawangi. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel dengan teknik sampling jenuh. Oleh karena itu, sampel dalam penelitian ini yaitu 7 desa di Kecamatan Parongpong dimana sampel diwakili oleh satu (1) responden untuk setiap kriterianya.

Skala yang digunakan adalah skala ordinal yang ditransformasikan ke skala ordinal. Analisis data diuji dengan analisis deskriptif, uji kualitas data seperti uji validitas dan uji reliabilitas, uji asumsi klasik seperti uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas, analisis linier berganda, dan uji hipotesis seperti uji t atau parsial, uji f atau simultan, dan uji koefisien determinasi.

4. Hasil dan Pembahasan

Berikut adalah hasil penyebaran kuesioner kepada responden, yang diantaranya adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Sekretaris Desa, Bendahara Desa, Kepala Umum/Bagian, dan Kepala Desa pada 7 Pemerintah Desa di Kecamatan Parongpong dengan jumlah 5 buah kuesioner setiap desa. Data yang diperoleh oleh peneliti sebanyak 35 adalah valid dan reliabel. Data-data tersebut diolah menggunakan Microsoft Excel dan alat bantu statistika yaitu software IBM SPSS

(4)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

Versi 25.

4.1. Analisis Deskriptif

Dalam penyebaran kuesioner yang kembali 100% dengan jumlah 35 kuesioner tersebut, setelah memperoleh data dari penyebaran kuesioner maka telah disediakan beberapa informasi mengenai data responden yang berisi keterangan berdasarkan jabatan, jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan lama bekerja. Berikut merupakan karakteristik data dari kuesioner yang dibagikan kepada responden :

Hasil dari penyebaran kuesioner, mendapatkan hasil dimana setiap indikator dalam setiap variabel rata-rata mempunyai rentang kualifikasi yang baik. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis atau menggambarkan keadaan berdasarkan tanggapan dan jawaban responden atas kuesioner yang telah disebarkan kepada 7 Pemerintah Desa dengan 35 responden. Secara keseluruhan 7 Pemerintahan Desa di Kecamatan Parongpong rata-rata mampu mengelola aset desanya dengan baik, mengoptimalkan pemanfaatan badan usaha milik desanya, dan aparatur yang bersikap profesional untuk meningkatkan pendapatan desa dilihat dari analisis deskriptif yang telah penulis lakukan. Desa-desa di Kecamatan Parongpong memprioritaskan program pembangunan

(5)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

desa utamanya pada kegiatan perekonomian utama di bidang pertanian. Dengan memanfaatkan potensi ekonomi di tingkat desa, yang tercermin dari peningkatan pendapatan masyarakat, dapat menciptakan peluang kerja yang lebih luas dan mengurangi biaya transportasi. Kondisi ini dapat meningkatkan produktivitas masyarakat desa sehingga dapat meningkatkan pendapatan bagi desa.

4.2. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Data dari penelitian yang menunjukkan bahwa asimp. sig. (2-tailed) adalah 0,200 dan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) > 0,05 ini mempunyai distribusi yang normal. Selain itu untuk memastikan data berdistribusi normal tidaknya pada suatu model regresi adalah dengan melihat normality probability plot seperti dibawah ini :

2. Uji Multikolinieritas

a. Nilai tolerance untuk variabel Pengelolaan Aset Desa adalah 0,865 > 0,10. Sementara nilai VIF nya adalah 1,156 < 10.

b. Nilai tolerance untuk variabel Optimalisasi Pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah 0,644 > 0,10. Sementara nilai VIF nya adalah 1,553 < 10.

c. Nilai tolerance untuk variabel Profesionalisme Aparatur Desa adalah 0,670 > 0,10.

Sementara nilai VIF nya adalah 1,492 < 10.

Karena tidak ada hubungan yang saling terkait antara variabel independen, dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak mengalami masalah multikolinearitas.

3. Uji Heteroskedastisitas

Nilai signifikansi Unstandardized Residual X1 yaitu 0,459, X2 yaitu 0,996 dan X3 yaitu 0,920

> 0.05, ada kemungkinan bahwa gejala heterokedastisitas tidak terjadi pada model regresi ini. Namun, terjadi kesamaan koefisien korelasi antara variabel X2 dan X3 yaitu 0,613.

Berdasarkan data yang ada, terdapat indikasi yang kuat bahwa kedua variabel independen memiliki korelasi positif satu sama lain.

Selain itu, untuk mendeteksi terjadi atau tidaknya gejala heteroskedastisitas digunakan atau pola khusus yang menunjukkan hubungan tertentu terlihat pada grafik scatterplot

(6)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

antara Studentized Residual (SRESID) dan Standardized Predicted Value (ZPRED) seperti berikut ini :

4.3. Analisis Regresi Linier Berganda

Persamaan regresi yang digunakan adalah Y = 5,413 + 0,324X1 + 0,320X2 + 0,110X3. Nilai konstanta 5,413 menyatakan Jika tidak ada peningkatan nilai dari variabel X1 yaitu pengelolaan aset desa, variabel X2 yaitu optimalisasi pemanfaaatan badan usaha milik desa dan variabel X3 yaitu profesionalisme aparatur desa, maka nilai dari variabel Y yaitu peningkatan pendapatan desa adalah sebesar 5,413.

4.4. Uji Hipotesis 1. Uji Parsial (T)

a. Nilai thitung untuk variabel Pengelolaan Aset Desa adalah sebesar 2,327 > ttabel yaitu 1,695. Sementara nilai signifikansi nya adalah sebesar 0,27 < 0,05. Artinya, H01 ditolak

(7)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

dan Ha1 diterima. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pengelolaan aset desa memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa.

b. Nilai thitung untuk variabel Optimalisasi Pemanfaatan BUMDes adalah sebesar 2,137>

ttabel yaitu 1,695. Sementara nilai signifikansi nya sebesar 0,41 < 0,05. Artinya, H02

ditolak dan Ha2 diterima. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa optimalisasi pemanfaatan bumdes berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa.

c. Nilai thitung untuk variabel Profesionalisme Aparatur Desa adalah sebesar 0,883<ttabel

yaitu 1,695. Sementara nilai signifikansi nya adalah sebesar 0,384 kurang dari 0,05.

Artinya, Ha3 ditolak dan Ho3 diterima. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa profesionalisme aparatur desa berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa.

2. Uji Simultan (F)

Nilai fhitung adalah sebesar 7,996 > ftabel yaitu 2,911. Sementara nilai signifikansinya adalah 0,000, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Ini mengindikasikan penolakan terhadap H04 dan penerimaan terhadap Ha4. Maka dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang positif secara bersama-sama (simultan) antara pengelolaan aset, optimalisasi pemanfaaatan bumdes dan profesionalisme aparatur desa terhadap peningkatan pendapatan desa.

3. Uji Koefisien Determinasi

Tabel tersebut menunjukan bahwa koefisien determinasi atau R-square memiliki nilai sebesar 0,436 jika di presentase kan menjadi 43,6% ini menunjukkan bahwa 43,6% dari peningkatan pendapatan desa dapat dijelaskan oleh variabel pengelolaan aset, optimalisasi pemanfaaatan bumdes dan profesionalisme aparatur desa. Sisanya yaitu sebesar 56,4% dipengaruhi oleh variabel – variabel lainnya yang tidak dibahas pada penelitian ini seperti Pemberdayaan Masyarakat, Peran Kinerja Manajerial, dan lain-lain.

4.5. Pembahasan

Hasil secara keseluruhan dari pengujian hipotesis yang telah dilakukan dapat dilihat di tabel berikut:

(8)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

1. Pengaruh Pengelolaan Aset Desa terhadap Peningkatan Pendapatan Desa

Besar pengaruh dari variabel pengelolaan aset desa terhadap peningkatan pendapatan desa dapat dilihat dari tabel perhitungan thitung 2,327 > ttabel 1,695 yang menunjukan bahwa memiliki pengaruh positif dan terlihat pada nilai signifikansi nya yaitu 0,041 kurang dari tingkat signifikansi 0,05 ini menunjukan jika memiliki pengaruh yang signifikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan aset desa berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa. Artinya, jika semakin baik pengelolaan aset desa dapat semakin meningkat pula pendapatan desa. Berdasarkan dari penyebaran kuesioner, mendapatkan hasil dimana setiap indikator dalam dalam variabel pengelolaan aset desa rata- rata mempunyai rentang kualifikasi yang baik. Dengan skor dimensi tertinggi yaitu dimensi fungsional. Pemerintah desa di Kecamatan Parongpong mengelola aset desa dengan mengelola penghitungan, mengatur urusan, menyelenggarakan kegiatan, mencatat informasi, dan membuat laporan aset desa nya yang dilaksanakan secara fungsional lalu pengelolaan aset dijalankan berdasarkan dengan hukum dan peraturan perundang- undangan, dan semua dapat berpartisipasi dalam proses tersebut, pengelolaan aset yang digunakan juga sudah sesuai dengan kebutuhan, kegiatan pengelolaan aset desa hasilnya dapat dipertanggungjawabkan pada semua pihak, serta ketepatan jumlah dan nilai barang dalam mengelola aset desa dapat mendorong peningkatan pendapatan desa.

2. Pengaruh Optimalisasi Pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) terhadap Peningkatan Pendapatan Desa

Besar pengaruh dari variabel optimalisasi pemanfaaatan bumdes terhadap peningkatan pendapatan desa dilihat dari pada perhitungan thitung 2,127 > ttabel 1,695 yang menunjukan bahwa memiliki pengaruh yang positif dan dari nilai signifikansi nya yaitu 0,027 kurang dari 0,05 yang menunjukan bahwa memiliki pengaruh signifikan. Sehingga, hasil dari penelitian ini dapat membuktikan bahwa optimalisasi pemanfaaatan bumdes berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa. Artinya, jika semakin optimal aparatur memanfaatkan bumdes dapat semakin meningkat pula pendapatan desa. Berdasarkan dari penyebaran kuesioner, mendapatkan hasil dimana setiap indikator dalam optimalisasi pemanfaaatan bumdes rata-rata mempunyai rentang kualifikasi yang baik. Pemerintah desa di Kecamatan Parongpong sejauh ini telah melakukan upaya untuk dapat meningkatkan kerjasama sinergis antara aparatur atau pemerintah desa, masyarakat dan instansi terkait. Dengan Kerjasama dan keterlibatan semua komponen dalam BUMDes, dukungan dan kontribusi, diperlakukan secara adil tanpa membedakan suku, agama, atau kelas sosial, seluruh jenis kegiatan dapat dipertanggung jawabkan,

(9)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

aktivitas yang dilakukan secara terbuka oleh masyarakat, serta usaha yang dibuat dan dikelola oleh masyarakat untuk mengoptimalkan pemanfaatan bumdes ini mampu mendorong peningkatan pendapatan desa.

3. Pengaruh Pengelolaan Aset Desa terhadap Peningkatan Pendapatan Desa

Besar pengaruh dari variabel profesionalisme aparatur desa terhadap peningkatan pendapatan desa dapat dilihat dari tabel perhitungan thitung 2,327 > ttabel 1,695 yang menunjukan bahwa memiliki pengaruh yang positif dan dari nilai signifikansi nya yaitu 0,384 lebih dari tingkat signifikansi 0,05 ini menunjukan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Sehingga, hasil dari penelitian ini dapat membuktikan bahwa profesionalisme aparatur desa berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa.

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner, mendapatkan hasil dimana setiap indikator dalam profesionalisme aparatur desa rata-rata mempunyai rentang kualifikasi yang baik.

Profesionalisme aparatur desa di Kecamatan Parongpong mampu membaca dengan baik permasalahan apa yang terjadi di desa, memberikan ide-ide atau gagasan baru dalam pemecahan masalah, dan mengubah ide tersebut menjadi sebuah produk nyata tetapi masih ada beberapa keterbatasan seperti kondisi SDM nya yang sebagian besar pengelola yang hanya berasal dari lulusan SMA/SLTA dan belum terdatanya seluruh aset desa.

Mayoritas aparatur desa di Kecamatan Parongpong menduduki bangku pendidikan terakhir pada tingkat SMA/SLTA yaitu sebanyak 16 dari 35 responden, atau sekitar 45,7%.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemerintah desa memerlukan sumber daya manusia yang memiliki kualifikasi latar belakang yang tinggi. Dengan adanya sumber daya manusia yang profesional, peningkatan pendapatan desa dapat ditangani dengan baik, yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan masyarakat. Aparatur desa perlu memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu, inovasi dalam pelaksanaan tugas juga menjadi hal yang penting untuk proaktif dalam mencari, menemukan, dan menerapkan inovasi dan metode baru. Aparatur juga memiliki kemampuan adaptif yang baik untuk menjawab tuntutan, perkembangan, dan pengetahuan yang muncul dengan sigap supaya tidak tertinggal dalam menjalankan tugas.

Maka, melalui sikap profesional yang dimiliki aparatur desaakan mendorong peningkatan pendapatan desa.

4. Pengaruh Pengelolaan Aset Desa terhadap Peningkatan Pendapatan Desa

Besar pengaruh dari variabel independen yaitu pengelolaan aset desa, optimalisasi bumdes, dan profesionalisme aparatur desa terhadap variabel dependen yaitu peningkatan pendapatan desa dapat dilihat dari tabel perhitungan fhitung 7,966 > ftabel 2,911 yang menunjukan bahwa memiliki pengaruh yang positif dan dapat dilihat dari nilai signifikansi nya yaitu 0,000 kurang dari 0,05 yang menunjukan bahwa memiliki pengaruh signifikan.

Sehingga, hasil dari penelitian ini dapat membuktikan bahwa pengelolaan aset desa, optimalisasi pemanfaatan badan usaha milik desa (bumdes), dan profesionalisme aparatur desa berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa.

Berdasarkan dari penyebaran kuesioner, mendapatkan hasil dimana setiap indikator dalam peningkatan pendapatan desa rata-rata mempunyai rentang kualifikasi yang baik. Dengan skor dimensi tertinggi yaitu dimensi pendapatan per kapita, responden yang terlibat di dalam BUMDes sebagai perwakilan untuk memperkuat ekonomi pedesaan dapat diindikasikan dengan tingkat kemiskinan dan pendapatan per kapita. BUMdes bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat desa yang akan bermuara pada meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat, khususnya masyarakat desa di Kecamatan Parongpong.

(10)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

5. Kesimpulan

1. Pengelolaan Aset Desa berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa. Maka, semakin baik pengelolaan aset desa dapat meningkatkan pendapatan desa.

2. OptimalisasiPemanfaatanBadanUsahaMilikDesa(BUMDes)berpengaruhpositifdan signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa. Maka, Semakin baik dan optimal pemanfaatan badan usaha milik desa yang dilakukan dapat meningkatkan

pendapatan aset desa.

3. Profesionalisme Aparatur Desa berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa. Maka, semakin baik sikap profesionalisme aparatur desa, pendapatan desa dapat semakin meningkat tetapi tidak signifikan.

4. PengelolaanAsetDesa,OptimalisasiPemanfaatanBadanUsahaMilikDesa(BUMDes), dan Profesionalisme Aparatur Desa terhadap Peningkatan Pendapatan Desa.

Maka, semakin baik aparatur mengelola aset, mengoptimalkan pemanfaatan bumdes dan bersikap profesional dapat meningkatkan pendapatan desa.

Daftar Pustaka

Akbal, M. (2016). Harmonisasi Kewenangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Jurnal Supremasi, XI (2), 99–107.

http://103.76.50.195/supremasi/article/view/2800/1505

Ashfihisa. (2019). Pengaruh Optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), Pengelolaan Aset Desa Dan Peran Kinerja Manajerial Pemerintah Desa Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) (Studi Empiris Pada Pemerintah Desa di Kabupaten Gunungkidul), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. https://www.ptonline.com/articles/how-to-get- better-mfi-results

Bafa, et al., H. (2021). Pengaruh badan usaha milik desa (BUMDES) dan profesionalisme pengelolaan aset desa terhadap pendapatan asli desa di Desa Wunlah Kecamatan Wuarlabobar Kabupaten Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 13(April), 15–38.

Balaghuddin, U. (2019). Peran badan usaha milik desa dalam meningkatkan pendapatan asli desa.

In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat Bps-Statistics of Bandung Barat Regency Kabupaten Bandung Barat Dalam Angka Tahun 2021.

Firmansyah, A. (2018). Pengelolaan Aset Desa di Kabupaten Tangerang. Jurnal Ilmiah Akuntansi Kesatuan, 6(1), 001–008. https://doi.org/10.37641/jiakes.v6i1.58

Hagy. (2021). optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Desa. https://www .ptonline.com/articles/how-to-get-better-mfi-results

Handayani, Ani (2019) Pengelolaan Aset Desa Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Desa (Studi Pada Desa Tejoasri Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya. http://repository.ub.ac.id/id/eprint/172408/.

Hutapea, R. S., Gunawan, A., Mai, M. U., Sudradjat, Putra, S. S., & Djuwarsa, T. (2022). Village Financial Management Training Equipped with SisKeuDes Supporting Application Design in Parongpong District, West Bandung Regency. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari, 1(8),

(11)

Resty Ditha Handayani, Arie Apriadi Nugraha

869–894. https://doi.org/10.55927/jpmb.v1i8.1722

Maudina, Yuni., Nugraha, A. (2022). Pengaruh Penatausahaan Aset Tetap Tanah Terhadap Pengamanan Aset Tetap Tanah (Survei Pada Opd Pemerintah Kabupaten Bandung Barat).

Indonesian Accounting Research Journal, 2(2), 143–151.

https://jhttps://pdfs.semanticscholar.org/fd4a/b369255aa262d3a839a3cdc7c14a3c5adebd .pdf

Pada, E., Wanita, K., Sari, T., Witajati, B. D., Selat, D., Suriadianto, P. R., Sinarwati, N. K., &

Purnamawati, I. G. A. (2017). SUKASADA, KABUPATEN BULELENG e-journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha. 8(1).

Sholeha, A. (2022). Optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Dan Pengelolaan Aset Desa Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Desa (Pades) (Studi Empiris Pada Desa Di Kecamatan Bayat Dan Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten). Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sinaga. (2017). Jurnal implementasi ekonomi dan bisnis fe-univa medan. Jurnal Ilmiah Bussiness Progres, Vol.8 No.

Sunarti, N., Lestari, N. N. Y., Yanti, P. P., Asty, L. G. W., Uzlifah, U., & Mayuni, N. K. L. (2019).

Pengelolaan Keuangan Desa Dan Sistem Akuntansi Keuangan Desa Dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Pemerintah Desa Pacung. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika, 8(1), 42–50. https://doi.org/10.23887/jinah.v8i1.19860

Tumangkeng, M. R. (2015). Profesionalisme Aparatur Desa dalam Pelaksanaan Pemerintahan di Desa Wolaang Kecamatan Langowan Timur Kabupaten Minahasa. Politico: Jurnal Ilmu Politik, 1(7), 1131. https://core.ac.uk/download/pdf/297682395.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Lembaga yang diberikan hak pengelolaan Hutan Desa berdasarkan Peraturan Desa Namo Nomor ...Tahun... adalah Badan Usaha Milik Desa selanjutnya di singkat BUMDes

Peranan Badan Usaha Milik Desa sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Asli Desa (Studi Kasus Bumdes Bumi Raharjo Kecamatan Ratu Nuban Lampung Tengah).. Jurnal

2 BAB I PENDAHULUAN Tujuan awal pembentukan Badan Usaha Milik Desa BUMDes dimaksudkan untuk mendorong atau menampung seluruh kegiatan peningkatan pendapatan masyarakat, baik yang

https://ojs.stkippgri-lubuklinggau.ac.id/index.php/JPM 366 PENDAMPINGGAN APARATUR DESA DALAM PENINGKATAN SDM BADAN USAHA MILIK DESA BUMDES BERBASIS WEB MOBILE PADA DESA PETUNANG

Tujuan penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui bagaimana strategi yang digunakan badan usaha milik desa BUMDes Bertuah di desa Sungai Sebesi Kecamatan Kundur dengan menggunakan

e-ISSN: 2684-8317 DOI: https://doi.org/10.31539/jomb.v5i2.6284 OPTIMALISASI BADAN USAHA MILIK DESA BUMDes MELALUI AKUNTABILITAS DAN ALOKASI DANA DESA DI KECAMATAN SUMBERPUCUNG,

Kata Kunci: Pengelolaan, Akuntabilitas, Laporan Keuangan,BUMDes PENDAHULUAN Badan Usaha Milik Desa BUMDes merupakan perekonomian masyarakat sebagai tiang perekonomian desa, yang

Warga tidak paham tentang pengelolaan, aset, hasil, dan kegiatan BUMDes”37 Mengenai Pengembangan Badan Usaha Milik Desa BUMDes desa Ulak Pandan, adapun pendapat dari masyarakat desa