4
A. Latar Belakang Masalah
Menurut catatan sejarah, pengenalan Islam oleh Sayyidina Muhammad Rasulullah (saw) memiliki dampak yang signifikan terhadap bagaimana masyarakat secara keseluruhan berperilaku, terutama penduduk Mekah dan daerah sekitarnya. Bahkan sebelum pindah ke Yastrib, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mush'ab bin Umair untuk mendorong orang-orang Yastrib untuk menerima Islam dan untuk menanamkan prinsip-prinsip pendidikan Islam kepada orang-orang di sekitarnya. Ini terjadi di masa lalu, ketika Nabi (saw) adalah pemimpin bangsa Islam Madinatul Munawwaroh, dan dia sering mengirim beberapa utusan ke suatu daerah untuk menyebarkan Islam.
Di setiap daerah, poros pendidikan agama Islam adalah pada para sahabat yang berpengetahuan tentang Islam dan terampil dalam membimbing daerah. Sejak saat ini, Tabi'in mewarisi pengetahuan di setiap daerah dari para sahabat, dan seterusnya. Mereka adalah keturunan Nabi (saw), yang kemudian disebut sebagai ulama.
Salah satu ulama terkemuka di Indonesia yang mewarisi ilmu, kebiasaan ibadah, adab, akhlak dan perilaku Rasulallah saw adalah K.H.
Hasyim Asy'ari. keluarga beliau bernasab dan bersanad keilmuannya hingga Nabi Muhammad saw, ia dilahirkan di Desa Gedang, sebuah desa sebelah timur Jombang. Beliau dilahirkan dari keluarga kyai Jawa yang sangat terpandang pada tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H atau 14 Febuari 1871 M.
Beliau juga termasuk diantara para pahlawan negara yang membela negaranya dari para penjajah. K.H. Hasyim Asy'ari merupakan seorang ulama yang mengemukakan gagasan indah Hubbul Wathan Minal Iman untuk
menyikapi keberagaman negara. Keterkaitan agama dan negara dalam forum NKRI kini lengkap karena adanya ijtihad.1
Selain itu, K.H. Hasyim Asy'ari mempunyai gagasan tentang pendidikan karakter dalam kepedulian sosial. Etika seorang guru terhadap muridnya adalah salah satunya. Seorang guru harus bertindak dengan kasih sayang, kebaikan, cinta, dan kepekaan seolah-olah dia sedang berbicara kepada anaknya sendiri. Sebagaimana disarankan dalam hadits, seorang guru hendaknya juga menjauhi hal-hal yang menjijikkan dan membimbing murid- muridnya menuju sesuatu yang terpuji. Guru memberikan nasihat yang penuh hormat dan tidak agresif kepada siswanya mengenai kekasaran dan kelemahan mereka. Penegasan yang disampaikan oleh K.H. Hasyim Asy'ari dalam karyanya:
Artinya;
“…menjauhkan siswa dari apa yang dianggap menjijikkan oleh guru dan membimbing mereka menuju apa yang diyakini guru terpuji, seperti anjuran hadis. Kesejahteraan siswa harus diperhatikan, dan ia harus diperlakukan dengan kebaikan dan kelembutan yang sama seperti guru memperlakukan anak kesayangannya. Hal ini mencakup bersabar terhadap kekasaran dan kekurangannya karena suatu saat manusia tidak dapat menghindarinya, menerima secara terbuka alasan atas tindakannya yang masih dianggap dapat diterima, dan berusaha mengurangi perilaku kasarnya dengan memberikan nasihat dan bersikap. lembut daripada kasar.
Guru berusaha untuk meningkatkan perilaku siswa, mempercantik moral mereka, dan memberikan mereka pendidikan yang berkualitas. Teguran
1“Jamal Ma’mur Asmani, Tasawuf Sosial K.H. MA. Sahal Mahfudh: Tasawuf Kajen Menghadirkan Solusi (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2019), hlm. 70.”
tidak diberikan dengan kata-kata yang keras jika siswa cukup cerdas untuk memahami isyarat tersebut.2
Pada tahun 2013, UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) melakukan survey terhadap kualitas pendidikan di negaranegara berkembang khususnya di Asia Pasifik. Dari 14 negara yang menjadi objek penelitian, Indonesia menempati peringkat ke 10 dari segi kualitas pendidikannya. Sedangkan kualitas guru menempati peringkat ke 14.
Jika diperhatikan pada dekade akhir-akhir ini, seringkali terdapat berita di media bahwa terjadi pemukulan siswa terhadap guru, bullying, siswi hamil, sakit hati hingga membunuh, dan kasus lainnya dimana hal ini mencerminkan bahwa generasi muda Indonesia, khususnya pada usia sekolah telah mengalami krisis moralitas (karakter) dan intelektual (ilmu) yang cukup parah.
Selain dilihat dari perspektif siswa, krisis tersebut juga berdampak pada pendidik atau lingkungan sekolah, terbukti dengan banyaknya laporan berita yang menggambarkan pelecehan seksual oleh anggota staf dan guru, pemukulan siswa oleh guru, guru yang gagal memberikan contoh yang baik, dan insiden lainnya. Hal ini disesalkan karena sekolah berfungsi sebagai pilar pendidikan yang mendukung pertumbuhan pengetahuan dan karakter. Buku Adabul ‘Alim Wal Muta’alim yang isinya banyak menjelaskan keagungan adab, ilmu, ibadah, mujahadah yang seharusnya sangat diperlukan di zaman ini mengingat peserta didik di era ini Tengah mengalami krisis karakter dan ilmu pengetahuan.
Oleh sebab latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penulis cukup tertarik untuk meneliti lebih lanjut bagaimana Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim.
B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah
Pembatasan Masalah bertujuan agar peneliti tidak terlalu panjang lebar dan menimbulkan banyak penafsiran yang tidak perlu dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti memberikan batasan masalah yang akan di fokuskan pada Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim.
2. Rumusan Masalah
Dengan adanya pembatasan masalah yang telah terindentifikasi di atas, maka degan ini rumusan masalah yang dapat disimpulkan, yaitu
2“M. Hasyim Asy’ari, Adabul Alim Wal Muta’alim (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2020), hlm. 84.”
sebagai berikut: Apa saja Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim dan menganalisa relevansi konsep pendidikan karakter K.H Hasyim Asy’ari dengan dunia pendidikan saat ini.
D. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini selesai, peneliti berharap hasil penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pemikiran yang dimiliki K.H Hasyim Asy’ari dalam hal konsep pendidikan karakter.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis, sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Strata 1 (S1) dan dapat mengetahui dan mengajarkan informasi mengenai pengetahuan tentang Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim.
b. Bagi Lembaga Pendidikan, diharapkan dapat memberikan kontribusi baik dan positif untuk meningkatkan mutu dan nilai pendidikan.
c. Bagi Pembaca, dapat dijadikan acuan bagi pembaca umumnya dan khususnya para pihak yang lainnya didunia pendidikan. Serta hasil penelitian ini merupakan langkah awal dan dapat ditindak lanjuti oleh penulis.
E. Kerangka Pemikiran
Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk kepribadian Muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan Masyarakat. Sedangkan secara umumnya,
tujuan pendidikan karakter adalah mencapai kebahagiaan di akhirat (Ukhrawi) yang merupakan tujuan akhir kehidupan manusia.
Esensinya sudah tentuk untuk memperoleh ilmu pengetahuan, seseorang harus mempunyai ilmu pengetahuan dengan adanya ilmu pengetahuan manusia dapat membedakan suatu hal yang baik ataupun hal yang tidak baik. Kemudian setelah itu, dapat mengambil kesimpulan dan memilih yang baik tersebut dan meninggalkan yang tidak baik.
Sedangkan tujuan pembelajaran pendidikan karakter dalam perspektif K.H Hasyim Asy’ari untuk mengetahui apa saja konsep pendidikan karakter perspektif K.H Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim dan relevansinya terhadap dunia pendidikan saat ini.
Nur Zaini menguraikan bagaimana mengembangkan pendidikan karakter melibatkan lebih dari sekadar mengajarkan keterampilan tertentu atau memberikan pengetahuan. Pengembangan karakter membutuhkan prosedur, model, dan kebiasaan atau budaya lingkungan, termasuk yang ditemukan di rumah, komunitas, dan lingkungan pendidikan serta yang dipengaruhi oleh media. Maka dari itu dalam penelitian ini akan membahas Pendidikan Karakter Perspektif KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’alim. Diantaranya adalah sebagai berikut:
F. Metode Penelitian
Mengingat pentingnya metode dalam suatu penelitian, maka dalam usaha menyusun penelitian ini digunakan cara-cara berpikir dalam rangka membahas pokok-pokok permasalahan yang dirumuskan agar penelitian ini
1. Akhlak Pelajar Terhadap Dirinya Sendiri.
2. Akhlak Pelajar Terhadap Gurunya.
3. Akhlak Pelajar Dalam Belajar.
4. Akhlak Guru Terhadap Dirinya Sendiri.
5. Akhlak Guru Terhadap Pelajar.
6. Akhlak Guru Dalam Mengajar.
dapat terlaksana secara obyektif, ilmiah, dan mencapai hasil yang optimal.
Maka dari itu, penelitian ini perlu beberapa hal berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dikaji dari berbagai sumber tertulis. Oleh karena itu, sumber rujukan penelitian ini berupa kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data yang diperlukan melalui berbagai informasi yang bersifat tertulis seperti buku, majalah, dan dokumen-dokumen lainnya.3 Guna mendapatkan data-data yang dibutuhkan, peneliti akan melakukan penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua hal, yaitu:
a) Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan mengunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subyek sebagai informasi yang dicari4. Adapun data yang akan didapat adalah data yang berkaitan dengan Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim.
b) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang tiak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi.
5 Oleh karena itu, dalam penelitian ini data sekunder yang diperoleh dari dokumen, artikel, dokumentasi, dan catatan-catatan mengenai Konsep Pendidikan Karakter Perspektif K.H Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adabul Alim Wal Mutha’alim.
3 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2000, hlm. 125.
4 Saifudin Azwar, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 90
5 Ibid, hlm. 36.
3. Metode Pengumpulan Data
Sebagai sebuah penelitian kepustakaan, teknik pengumpulan data pada penelitian ini terfokuskan pada penelusuran dan telaah dokumen atau sumber data tertulis, baik dari sumber data primer maupun sekunder yang berkaitan dengan pembahasan ini.6 Setelah data diperoleh selanjutnya penulis melakukan pengolahan data yang meliputi pengorganisasian dan peninjauan kembali (verifikasi) kemudian diakhiri dengan analisis data secara menyeluruh.
4. Metode Analisis Data
Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dedikatif, yaitu pendeskripsian data yang dilakukan dengan cara menumpulkan data-data penelitian lalu diinterprestasikan menurut pemahaman peneliti sehingga mendapatkan hasil analisis yang tepat. Setelah semua data terkumpul penulis berusaha mencari Kesimpulan dari data yang bersifat umum ke khusus, agar penyajian dalam penelitian ini dapat dengan mudah dimengerti.
G. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Penulis Penulis menemukan beberapa buku dan penelitian yang dapat dijadikan sebagai tinjauan pustaka untuk menghindari terjadinya plagiarisme dan untuk membedakan dengan hasil penelitian yang lain, diantaranya adalah:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Yusuf dalam skripsinya yang berjudul “Konsep Pendidikan Islam KH, Hasyim Asy’ari” Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (Tahun 2023). Hasil penelitian ini membahas tentang aspek Pendidikan Islam Versi KH. Hasyim Asy’ari.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Afifah Zahro’ dalam skripsinya yang berjudul “Konsep Pendidikan Karakter Dalam Perspektif KH. Hasyim Asy’ari” Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam
6 Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif-Analisis Data, Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm. 65.
Negeri Jember (Tahun 2021). Hasil penelitian ini membahas tentang aspek Pendidikan Karakter Perspektif KH. Hasyim Asy’ari.
3. Penelitian yang dilakukan oleh M. Munir dalam jurnalnya yang berjudul
“Manajemen Pendidikan Karakter Perspektif Kitab Adab Al-Alim Wa Al- Muta’allim Karya KH. Hasyim Asy’ari” Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Nganjuk (Tahun 2021). Hasil penelitian ini membahas tentang aspek Manajemen Pendidikan Karakter Perspektif Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Moh. Anang Abidin dalam Tesisnya yang berjudul “Studi Komparasi Konsep Pendidikan Karakter Menurut KH.
Hasyim Asy’ari dan Ki Hajar Dewantara” Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang (Tahun 2019). Hasil dari penelitian ini membahas tentang aspek Pendidikan Karakter Menurut KH. Hasyim Asy’ari dan Ki Hajar Dewantara.
Tabel 1.1: Persamaan dan Perbedaan hasil penelitian yang relevan
NO. Penulis Judul Persamaan Perbedaan
1. Muhammad Yusuf
Konsep Pendidikan Islam KH, Hasyim Asy’ari
Menggunakan metode kualitatif.
Berfokus kepada Pendidikan Islam
Lebih Berfokus kepada Pendidikan Karakter
2. Afifah Zahro’ Konsep Pendidikan Karakter Dalam Perspektif KH.
Hasyim Asy’ari
Berfokus kepada Pendidikan Karakter menurut KH.
Hasyim
Fokus peneliti hanya kepada Pendidikan Karakter
Asy’ari dalam Kitab Adab Al- Alim Wa Al- Muta’allim 3. M. Munir Manajemen
Pendidikan Karakter Perspektif Kitab Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim Karya KH. Hasyim Asy’ari
Berfokus kepada Manajemen Pendidikan Karakter
Lebih berfokus dalam Konsep Pendidikan Karakter
4. Moh. Anang Abidin
Studi Komparasi Konsep Pendidikan Karakter Menurut KH. Hasyim Asy’ari dan Ki Hajar Dewantara
Membahas Tentang Pendidikan Pendidikan Karakter dan Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari
lebih membahas Pendidikan Karakter dalam Kitab Adab Al- Alim Wa Al- Muta’allim H. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca dalam memahami penelitan skripsi ini.
Penulis menyusun sistematika sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan. Pada bab ini terdiri dari latar belakamg, masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori. Pada bab ini peneliti mengungkapkan mengenai Pengertian Pendidikan Karakter, Tujuan Pendidikan Karakter, Metode Pendidikan Karakter, Fungsi Pendidikan Karakter.
Bab II Objek Penelitian. Pada bab ini peneliti mengungkapkan Objek penelitian mengenai Biografi K.H Hasyim Asy’ari dan Karya- karya nya.
Bab IV Hasil Penelitian. Pada bab ini terdiri dari latar belakamg, masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan
Bab V Penutup. Pada bab ini peneliti akan membahas kesimpulan yang dipadat serta saran dari hasil penelitian ini.